Wakil Presiden 2019 yang berintegritas dan layak secara moral (moral worthiness).
9
3 3
19
0 0
5 10 15 20
Ingratiation Intimidation Self-Promotion Exemplification Supplication
Strategi Impression Management (Pilar Budaya dan Lingkungan Hidup)
Jumlah Koding
Grafik 4.13 Strategi Impression Management Sandiaga dalam Kategori Pilar Budaya dan Lingkungan Hidup
Sumber: Olahan Peneliti, 2019
Hasil perhitungan di atas memperlihatkan bahwa hasil jumlah koding tertinggi terletak pada strategi exemplification. Strategi exemplification adalah strategi impression management yang dilakukan untuk mendapatkan kesan berintegritas dan layak secara moral (moral worthiness) dari pihak lain (Jones &
Pittman, 1982, p. 245). Jumlah koding setiap sub indikator pada grafik 4.14 di bawah ini menunjukkan jumlah caption di mana sub indikator tersebut muncul, dan di dalam satu caption, dapat muncul beberapa sub indikator sekaligus. Berikut adalah jumlah koding strategi impression management exemplification secara khusus:
Strategi exemplification dalam penelitian ini, terbagi menjadi beberapa sub indikator, yaitu: mengajak masyarakat untuk berbuat baik kepada sesama;
menyatakan tindakan yang dilakukannya adalah untuk kepentingan masyarakat;
menyatakan kejujurannya dalam bekerja; menyatakan kedisiplinannya dalam bekerja; mengajak masyarakat untuk bertindak positif; dan menunjukkan sikap kedermawanan dirinya (Jones & Pittman, 1982; Bolino & Turnley, 1999; Lee et al., 1999). Pada grafik 4.14 di atas, terlihat bahwa sub indikator dalam strategi exemplification yang tampak dan relevan dengan teori adalah menyatakan
0
9 1
0
9 0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Kedermawanan Ajakan bertindak positif Kedisiplinan dalam bekerja Kejujuran dalam bekerja Kepentingan masyarakat Ajakan berbuat baik
Exemplification
Jumlah Koding
Grafik 4.14 Strategi Impression Management: Exemplification
Sumber: Olahan Peneliti, 2019
Universitas Kristen Petra
tindakan yang dilakukannya adalah untuk kepentingan masyarakat dan mengajak masyarakat untuk bertindak positif dengan perolehan jumlah koding yang sama yakni sebanyak 9 koding (masing-masing setara dengan 47,37%) serta menyatakan kedisiplinannya dalam bekerja sebanyak 1 koding (5,26%). Dari keseluruhan sub indikator dalam strategi exemplification yang tampak ini, sub indikator yang memperoleh jumlah koding tertinggi adalah menyatakan tindakan yang dilakukannya adalah untuk kepentingan masyarakat dan mengajak masyarakat untuk bertindak positif, yakni masing-masing muncul di dalam 9 caption dari total 19 caption atau masing-masing setara dengan perolehan persentase sebesar 47,37%.
Menurut Jones & Pittman (1972, p. 245), para pelaku exemplification, secara khas menampilkan dirinya dengan jujur, disiplin, dermawan, dan tidak mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Mengutamakan kepentingan bersama atau orang lain, dalam hal ini masyarakat sama halnya dengan tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri yang menjadi salah satu karakteristik dari pelaku exemplification. Karakteristik ini pun tampak dalam pernyataan Sandiaga di caption Instagram-nya @sandiuno, seperti dalam kutipan berikut:
“Prabowo-Sandi berkomitmen untuk memajukan dan mengembangkan potensi di industri kreatif Indonesia sehingga mampu membuka luas lapangan kerja, khususnya untuk anak-anak muda kreatif yang ingin menjadikan hobinya sebagai profesi.” (Caption Sandiaga terkait “Acara launching merchandise Sandiaga Uno bersama …”, 4 Februari 2019).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Sandiaga mengutamakan kepentingan masyarakat, dalam hal ini anak-anak muda Indonesia, terutama di bidang industri kreatif. Ia ingin memperlihatkan bahwa dirinya perhatian dalam mengutamakan kebutuhan anak-anak muda Indonesia yang ingin berkreasi. Seperti pernyataan di atas, ia menyatakan komitmennya untuk memajukan dan mengembangkan industri kreatif Indonesia di mana hal ini menunjukkan bahwa Sandiaga berpihak kepada anak-anak muda Indonesia dengan menyediakan wadah agar mereka dapat menyalurkan hobinya menjadi sebuah profesi atau untuk menciptakan lapangan kerja. Dengan menyatakan tindakannya yang mengutamakan kepentingan anak-anak muda Indonesia ini, Sandiaga telah menunjukkan adanya strategi exemplification yakni upaya untuk mendapatkan kesan sebagai calon Wakil Presiden 2019 yang berintegritas dan layak secara moral (moral worthiness).
Di samping itu, terdapat pula sub indikator lainnya yang tampak dari strategi exemplification dengan perolehan jumlah koding atau persentase yang sama yaitu mengajak masyarakat untuk bertindak positif. Menurut Jones &
Pittman (1982, p. 245), pelaku exemplification harus mampu memberikan teladan moral dan tidak hanya mengakuinya begitu saja. Pelaku dapat mempengaruhi orang lain dengan cara menunjukkan keberhasilannya dalam merefleksikan normal-norma sosial tersebut. Salah satu karakteristik yang mencerminkan strategi exemplification adalah dengan mengajak orang lain untuk bertindak positif seperti yang dilakukannya (Lee et all., 1999, p. 720). Karakteristik ini pun tampak dalam pernyataan Sandiaga di caption Instagram-nya @sandiuno, seperti dalam kutipan berikut:
“Yuk kita dukung pengurangan pemakaian plastik demi mengurangi sampah plastik yang ada di laut. Kita mulai dari diri kita sendiri. Kalau saya contoh kecilnya dengan selalu membawa botol minum ini kemana-mana.” (Caption Sandiaga terkait “Yuk kita dukung pengurangan pemakaian plastik demi …”, 1 Desember 2018).
Kutipan di atas jelas menunjukkan bahwa secara eksplisit, Sandiaga mengajak masyarakat untuk bertindak positif dalam hal mengurangi pemakaian plastik. Tampak pada pernyataan di atas, ia mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik guna membantu menjaga kelestarian alam laut dan ia ingin masyarakat memiliki kesadaran dari dalam diri. Tidak hanya sekedar mengajak, namun ia ingin mempengaruhi orang lain dengan cara memperlihatkan keberhasilannya dalam merefleksikan tindakan positif yang telah dilakukannya, di mana hal ini ditunjukkannya melalui penggunaan botol minum kemanapun ia pergi sebagai pengganti kemasan plastik air mineral yang tidak ramah lingkungan.
Dengan mengajak masyarakat untuk melakukan tindakan positif tersebut, maka Sandiaga telah menunjukkan adanya strategi exemplification, yakni upaya untuk mendapatkan kesan sebagai calon Wakil Presiden 2019 yang berintegritas dan layak secara moral.
Di sisi lain, terlihat pada grafik 4.14 di halaman 107 bahwa terdapat tiga sub indikator yang tidak dimunculkan dalam strategi exemplification ini. Ketiga sub indikator yang dimaksud adalah mengajak masyarakat untuk berbuat baik kepada sesama, menyatakan kejujurannya dalam bekerja, dan menunjukkan sikap kedermawanan dirinya. Menurut Jones & Pittman (1972, p. 245), para pelaku
Universitas Kristen Petra
exemplification secara khas menampilkan dirinya dengan jujur, disiplin, dermawan, dan tidak mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Tidak hanya itu, pelaku exemplification juga akan memberikan contoh sikap mengenai kebaikan atau kelayakan (worthiness) di depan target orang (Jones & Pittman, 1982, p.
259). Farida Agus Setiawati (2006, p. 43) menjelaskan bahwa perilaku yang bermoral adalah perilaku manusia yang baik yang sesuai dengan harapan, aturan, dan kebiasaan yang diterima suatu kelompok masyarakat tertentu (dalam Khaironi, 2017, p. 7). Dengan demikian, ajakan berbuat baik yang termasuk ke dalam tindakan bermoral, kemudian menyatakan kejujuran dan menunjukkan sikap dermawan menjadi bagian dari karakteristik yang menggambarkan strategi exemplification. Akan tetapi, temuan penelitian ini tidak mendapati adanya ketiga sub indikator tersebut pada keseluruhan caption Sandiaga dalam kategori pilar ketiga ini. Hal ini tentu sangat disayangkan dan akan jauh lebih baik jika keseluruhan sub indikator dalam strategi exemplification ini dimunculkan untuk semakin memperkuat penunjukan kesan berintegritas dan layak secara moral.
Tidak hanya strategi exemplification, tampak bahwa Sandiaga juga menunjukkan adanya strategi ingratiation dengan jumlah koding sebanyak 9 koding atau setara dengan persentase sebesar 26,48%. Strategi ingratiation adalah strategi impression management yang dilakukan untuk mendapatkan kesan disukai dari pihak lain (likeable) (Jones & Pittman, 1982, p. 235). Jumlah koding setiap sub indikator pada grafik 4.15 di halaman 111 menunjukkan jumlah caption di mana sub indikator tersebut muncul, dan di dalam satu caption, dapat muncul beberapa sub indikator sekaligus. Berikut adalah jumlah koding strategi impression management ingratiation secara khusus:
Strategi ingratiation dalam penelitian ini, terbagi menjadi beberapa sub indikator, yaitu: menunjukkan sifat-sifat positif yang dimiliki; menyatakan persetujuan atas sesuatu hal yang dikemukakan oleh pihak lain; memberikan pujian kepada pihak lain; mengucapkan salam; menyatakan simpati kepada pihak lain, baik dalam bentuk ucapan selamat, belasungkawa, ataupun melalui tindakan bersimpati lainnya; menyatakan sesuatu yang bersifat humor; mengucapkan terima kasih kepada pihak lain atas sesuatu hal yang telah mereka lakukan/
berikan; dan memberikan motivasi kepada pihak lain (Jones & Pittman, 1982;
Bolino & Turnley, 1999; Lee et al., 1999). Pada grafik 4.15 di atas, terlihat bahwa hanya terdapat tiga sub indikator dalam strategi ingratiation yang tampak dan relevan dengan teori, di antaranya yaitu memberikan pujian kepada pihak lain sebanyak 6 koding (66,67%), menyatakan sesuatu yang bersifat humor sebanyak 1 koding (11,11%), dan mengucapkan terima kasih kepada pihak lain atas sesuatu hal yang telah mereka lakukan/ berikan sebanyak 2 koding (22,22%). Dari keseluruhan sub indikator dalam strategi ingratiation yang tampak ini, sub indikator yang memperoleh jumlah koding tertinggi adalah memberikan pujian kepada pihak lain, yakni muncul di dalam 6 caption dari total 9 caption atau setara dengan perolehan persentase sebesar 66,67%.
0
Grafik 4.15 Strategi Impression Management: Ingratiation
Sumber: Olahan Peneliti, 2019
Universitas Kristen Petra
Menurut Jones & Pittman (1982, p. 259), target orang dari pelaku ingratiation memiliki keinginan untuk memercayai ketulusan dari pujian atau persetujuan yang ia terima, tepatnya di dalam situasi di mana ia ingin paling disukai. Dengan demikian, melalui pemberian pujian kepada pihak lain, misalnya atas sesuatu yang mereka lakukan atau capai, dapat menunjukkan upaya seseorang untuk mendapatkan kesan disukai dari pihak lain (DeVito, 2013, pp. 74-75).
Karakteristik ini pun tampak dalam pernyataan Sandiaga di caption Instagram-nya @sandiuno, seperti dalam kutipan berikut:
“Di tengah kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi, Fariz Wibisono adalah contoh milenial yang melakukan terobosan melalui ekonomi kreatif berbasis budaya. Selain menjaga nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal, ia memberikan edukasi dan juga membuka lapangan kerja untuk masyarakat di sekitarnya. Fariz adalah milenial yang bukan mencari kerja, tapi menciptakan lapangan kerja.” (Caption Sandiaga terkait “Sebagai bangsa yang besar Indonesia bukan hanya kaya …”, 30 Januari 2019).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Sandiaga secara tidak langsung memberikan pujian terhadap seorang anak milenial atas hal yang dilakukannya.
Tampak pada pernyataan di atas, Sandiaga menjadikan Fariz Wibisono sebagai contoh milenial yang inspiratif bagi orang lain di mana milenial tersebut tidak hanya menjaga kebudayaan, namun juga memberikan edukasi dan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Pada kalimat akhir pernyataan, terlihat bahwa Sandiaga memuji Fariz sebagai milenial yang tidak hanya mengutamakan diri sendiri untuk menghasilkan uang melalui bekerja namun juga orang lain melalui lapangan kerja yang diciptakannya. Dengan menyatakan pujiannya kepada milenial tersebut, Sandiaga telah menunjukkan adanya strategi ingratiation yakni upaya untuk mendapatkan kesan sebagai calon Wakil Presiden 2019 yang disukai.
Di samping unggulnya sub indikator memberikan pujian kepada pihak lain dalam strategi ingratiation ini, muncul pula sub indikator menyatakan sesuatu yang bersifat humor meskipun dalam jumlah persentase yang hanya sebesar 11,11% atau sebanyak 1 koding, seperti terlihat pada grafik 4.15 di halaman 111.
Menurut Jones & Pittman (1982, p. 235), pelaku ingratiation berupaya untuk mencapai sifat disukai dan untuk dapat disukai oleh orang lain, maka seseorang perlu memiliki karakteristik seperti kehangatan, humor, dapat dipercaya, mempesona, dan daya tarik fisik. Humor tampak menjadi salah satu karakteristik
yang dapat ditunjukkan oleh seseorang yang ingin mendapatkan kesan disukai dari pihak lain. Karakteristik ini pun tampak dalam pernyataan Sandiaga di caption Instagram-nya @sandiuno, seperti dalam kutipan berikut:
“Tidak penting apa yang kamu makan, tapi dengan siapa kamu makan.
Begini nih korban film Aruna & Lidahnya. Yaa.. sebelas dua belas lah ya sama Aruna & Bono.” (Caption Sandiaga terkait “Tidak penting apa yang kamu makan, tapi dengan siapa …”, 9 Oktober 2018).
Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Sandiaga menyatakan humornya dalam bentuk kalimat yang membuat masyarakat menjadi terbawa perasaannya atau dikenal dengan istilah ‘baper’. Melalui ungkapannya tersebut, tentu dapat membuat publik menjadi tertawa. Hal ini pun dilakukan oleh Sandiaga sema-mata agar dirinya disukai oleh orang lain. Tidak hanya itu, melalui tindakan humor yang ditunjukkannya dalam kategori pilar budaya dan lingkungan hidup ini, Sandiaga juga terlihat berupaya untuk mematahkan pandangan atau persepsi publik akan dunia perpolitikan, dalam hal ini kontestasi Pilpres 2019 yang cenderung dianggap sebagai sesuatu hal yang serius dan menegangkan. Karyono Wibowo, selaku pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI), mengatakan bahwa kontestasi elektoral atau pemilihan tidak terlepas dari adanya segresasi (pengucilan) dan konflik sosial, sehingga masalah politik merupakan masalah yang serius dan juga menegangkan (Sidebang, November 27, 2018). Dengan demikian, hal ini tentu menjadi keunikan tersendiri bagi Sandiaga, sebab melalui tindakan humornya, ia ingin menunjukkan dirinya sebagai calon pemimpin yang mampu membawakan suasana yang berbeda dalam ajang demokrasi Pilpres 2019.
Di sisi lain, terlihat pada grafik 4.15 di halaman 111 bahwa terdapat lima sub indikator yang tidak dimunculkan dalam strategi ingratiation ini. Kelima sub indikator yang dimaksud adalah menunjukkan sifat-sifat positif yang dimiliki, menyatakan persetujuan atas sesuatu hal yang dikemukakan oleh pihak lain, mengucapkan salam, menyatakan simpati kepada pihak lain, baik dalam bentuk ucapan selamat, belasungkawa, ataupun melalui tindakan bersimpati lainnya, serta memberikan motivasi kepada pihak lain. Menurut Lee et al (1999, p. 719), untuk mencapai sifat disukai, maka seseorang dapat memberitahu orang lain tentang kualitas dirinya yang positif dan mengekpresikan persetujuan atas pendapat orang lain. Selain itu, terdapat pula beberapa subkelas yang menonjol terkait perilaku
Universitas Kristen Petra
ingratiation yang berhasil dirangkum oleh Jones & Wortman (1973) dari beberapa riset terkait ingratiation. Salah satunya adalah berbuat hal baik (doing favors) (Jones & Pittman, 1982, p. 236). Prinsip yang melekat pada doing favors ini adalah bahwa seseorang yang berlaku baik akan disadari sebagai seseorang yang peduli, ramah, dan penuh perhatian (Schokker, 2007, p. 24). Tindakan mengucapkan salam, menyatakan simpati, dan memberi motivasi termasuk dalam doing favors yang menjadi karakteristik ingratiation. Sebab, melalui ucapan salam dan simpati yang ditujukan kepada orang lain, maka seseorang telah menunjukkan sikap ramah di hadapan orang lain. Kemudian, melalui pemberian motivasi kepada orang lain maka seseorang telah menunjukkan bentuk perhatian nya kepada orang yang lain pula (Riyadi, October 10, 2018). Berdasarkan temuan penelitian, peneliti tidak mendapati adanya kelima sub indikator tersebut pada keseluruhan caption Sandiaga dalam kategori pilar budaya dan lingkungan hidup ini. Hal ini tentu sangat disayangkan dan akan jauh lebih baik jika keseluruhan sub indikator dalam strategi ingratiation ini dimunculkan untuk semakin memperkuat penunjukan kesan disukai oleh pihak lain.
Berikutnya, tampak bahwa Sandiaga menggunakan strategi self-promotion, yaitu sebanyak 3 koding atau setara dengan persentase sebesar 8,82%.
Strategi self-promotion adalah strategi impression management yang dilakukan untuk mendapatkan kesan kompeten dari pihak lain (Jones & Pittman, 1982, p.
241). Jumlah koding setiap sub indikator pada grafik 4.16 di halaman 115 menunjukkan jumlah caption di mana sub indikator tersebut muncul, dan di dalam satu caption, dapat muncul beberapa sub indikator sekaligus. Berikut adalah jumlah koding strategi impression management self-promotion secara khusus:
Strategi self-promotion dalam penelitian ini, terbagi menjadi beberapa sub indikator, yaitu: menunjukkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki yang mendukung kinerjanya sebagai pemimpin; menyatakan optimisme dalam bekerja;
menyatakan pengalaman masa lalu yang mendukung; dan menceritakan prestasi yang pernah diraih/ dalam bekerja sebagai pemimpin (Jones & Pittman, 1982;
Bolino & Turnley, 1999). Pada grafik 4.16 di atas, terlihat bahwa hanya terdapat satu sub indikator dalam strategi self-promotion yang tampak dan relevan dengan teori yaitu menyatakan optimisme dalam bekerja sebanyak 3 koding (100%).
Jones & Pittman (1982, p. 241) mengemukakan bahwa strategi self-promotion merupakan strategi impression management yang menekankan pada kompetensi. Pelaku self-promotion pada umumnya akan berusaha untuk meyakinkan target orang bahwa mereka kompeten di dalam satu bidang atau lebih. Untuk memperoleh kepercayaan dari target orang akan kompetensi yang dimiliki, seseorang dapat menunjukkan kepribadiannya yang positif (DeVito, 2013, pp. 76-77). Karakteristik ini pun tampak dalam pernyataan Sandiaga di caption Instagram-nya @sandiuno, seperti dalam kutipan berikut:
“Oleh karena itu kami yakin dengan memberdayakan UMKM akan membangkitkan perekonomian bangsa Indonesia.” (Caption Sandiaga
Sumber: Olahan Peneliti, 2019
Grafik 4.16 Strategi Impression Management: Self-Promotion
0 0
3 0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Prestasi Pengalaman Optimisme Kemampuan
Self-Promotion
Jumlah Koding
Universitas Kristen Petra
terkait “Siang tadi saya berkesempatan melihat tiap sudut …”, 6 Maret 2019).
Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Sandiaga optimis dengan apa yang dilakukannya maka ia dapat mencapai apa yang diinginkannya. Terlihat pada pernyataan di atas, Sandiaga menyatakan kata “kami” yang mewakili dirinya bersama Prabowo bahwa dengan upaya atau solusi yang dihadirkannya yaitu memberdayakan UMKM, maka ia bersama Prabowo dapat membangkitkan perekonomian bangsa Indonesia yang menjadi keinginan untuk dicapainya.
Melalui keyakinan yang ditunjukkannya, memperlihatkan bahwa Sandiaga percaya diri akan kemampuannya untuk dapat berhasil mencapai keinginannya dan dengan kepribadian positifnya tersebut, ia sekaligus ingin menunjukkan pada masyarakat luas bahwa dirinya berkompeten dan bisa dipercaya untuk dapat mewujudkan harapan rakyat Indonesia terutama dalam hal perbaikan ekonomi bangsa. Dengan menyatakan keoptimisannya tersebut, Sandiaga telah menunjukkan adanya strategi self-promotion yakni upaya untuk mendapatkan kesan sebagai calon Wakil Presiden 2019 yang berkompeten.
Di sisi lain, terlihat pada grafik 4.16 di halaman 115 bahwa terdapat tiga sub indikator yang tidak dimunculkan dalam strategi self-promotion ini. Ketiga sub indikator yang dimaksud adalah menunjukkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki yang mendukung kinerjanya sebagai pemimpin, menyatakan pengalaman masa lalu yang mendukung, dan menceritakan prestasi yang pernah diraih/ dalam bekerja sebagai pemimpin. Adapun ketiga sub indikator ini telah digunakan dalam penelitian milik Bolino & Turnley (1999, p. 1999) dalam menunjukkan strategi self-promotion yang erat dengan kesan berkompeten di mata target orang. Akan tetapi, temuan penelitian tidak mendapati adanya ketiga sub indikator tersebut pada keseluruhan caption Sandiaga dalam kategori pilar budaya dan lingkungan hidup ini. Hal ini tentu sangat disayangkan dan akan jauh lebih baik jika keseluruhan sub indikator dalam strategi self-promotion ini dimunculkan untuk semakin memperkuat penunjukan kesan berkompeten di mata pihak lain.
Terakhir, dalam jumlah koding yang sama banyaknya dengan strategi self-promotion, tampak bahwa Sandiaga juga menunjukkan adanya strategi intimidation yakni sebanyak 3 koding atau setara dengan persentase sebesar 8,82%. Strategi intimidation adalah strategi impression management yang
dilakukan untuk mendapatkan kesan ditakuti dari pihak lain (Jones & Pittman, 1982, p. 238). Jumlah koding setiap sub indikator pada grafik 4.17 di bawah ini menunjukkan jumlah caption di mana sub indikator tersebut muncul, dan di dalam satu caption, dapat muncul beberapa sub indikator sekaligus. Berikut adalah jumlah koding strategi impression management intimidation secara khusus:
Strategi intimidation dalam penelitian ini, terbagi menjadi beberapa sub indikator, yaitu menyatakan ancaman yang ditujukan kepada pihak lain;
menyatakan perasaan marah; menyatakan kekuasaan sebagai pemimpin yang menimbulkan pengaruh negatif kepada pihak lain; menyatakan keputusan yang bersifat menekan dan menakuti pihak lain; dan menyatakan kritikan yang ditujukan kepada pihak lain (Jones & Pittman, 1982; Bolino & Turnley, 1999; Lee et al., 1999). Pada grafik 4.17 di atas, terlihat bahwa hanya terdapat satu sub indikator dalam strategi intimidation yang tampak dan relevan dengan teori yaitu menyatakan kritikan yang ditujukan kepada pihak lain sebanyak 3 koding (100%).
Menurut Jones & Pittman (1982, p. 238), pelaku intimidation ingin menerima posisi bahwa ia memiliki sumber daya untuk mengakibatkan rasa sakit dan tekanan serta cenderung melakukan hal tersebut jika ia tidak mendapatkan
Grafik 4.17 Strategi Impression Management: Intimidation
Sumber: Olahan Peneliti, 2019
3 0
0 0 0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Kritikan Keputusan Kekuasaan Marah Ancaman
Intimidation
Jumlah Koding
Universitas Kristen Petra
apa yang diinginkannya. Ia ingin ditakuti dan dipercaya. Melalui kritikan yang ditujukan kepada target orang, maka dapat mengakibatkan orang yang ditarget menjadi tersinggung atau tersakiti hatinya (Wicaksono, July 31, 2018).
Karakteristik ini pun tampak dalam pernyataan Sandiaga di caption Instagram-nya @sandiuno, seperti dalam kutipan berikut:
“Tadi saya mendengar berbagai keluhan dari para pengrajin, dari menurunnya daya beli serta mahalnya biaya produksi karena bahan baku batik yang masih impor. Pembangunan infrastruktur yang masif belum bisa mendatangkan keuntungan langsung dan berdampak signifikan bagi pengrajin batik sebagai pelaku ekonomi mikro.” (Caption Sandiaga terkait
“Sentra Batik Pekalongan selama ini telah berhasil …”, 25 September 2018).
Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Sandiaga menyatakan kritikannya terhadap tindakan atau kinerja pihak tertentu yang justru tidak menguntungkan masyarakat, dalam hal ini para pengrajin batik. Tampak pada pernyataan di atas, secara tidak langsung, ia menegur pihak yang masih mengutamakan impor dan pihak yang berperan dalam pembangunan infrastruktur. Hal ini dilakukannya sebab Sandiaga ingin masyarakat melihat bahwa dirinya memiliki sumber daya yang jauh lebih baik dan mampu untuk menghadirkan keuntungan dan dampak yang signifikan bagi masyarakat di bawah kepemimpinannya mendatang. Secara tidak langsung, melalui kritikannya tersebut, Sandiaga telah membuat target yang dikritik menjadi tersinggung dan tersakiti hatinya sebab kinerjanya dinilai kurang baik yang pada akhirnya membuat target menjadi lemah atau dibuat tidak mampu di mata masyarakat. Dengan menyatakan kritikannya kepada pihak lain, Sandiaga telah menunjukkan adanya strategi intimidation yakni upaya untuk mendapatkan kesan sebagai calon Wakil Presiden 2019 yang ditakuti.
Di sisi lain, terlihat pada grafik 4.17 di halaman 117 bahwa terdapat empat sub indikator yang tidak dimunculkan dalam strategi intimidation ini. Keempat
Di sisi lain, terlihat pada grafik 4.17 di halaman 117 bahwa terdapat empat sub indikator yang tidak dimunculkan dalam strategi intimidation ini. Keempat