Strategi Impression Management (Pilar Politik, Hukum, dan Hankam)
4.5.5 Strategi Impression Management Sandiaga
Berikut adalah penjabaran terkait hasil perhitungan strategi impression management Sandiaga pada akun Instagram @sandiuno secara keseluruhannya:
Keterangan: Ex = Exemplification; Ing = Ingratiation; S-P = Self-Promotion; Int
= Intimidation; Sup = Supplication
Tabel 4.2 di atas menunjukkan hasil pengkodingan dan perhitungan dalam penelitian ini secara menyeluruh, baik dari tiap kategori pilar maupun secara keseluruhannya. Adapun jumlah koding yang tampak dari setiap strategi impression management dalam tiap kategori pilar menunjukkan jumlah caption di mana sub indikator dari setiap strategi muncul, dan dalam satu caption dapat muncul beberapa sub indikator sekaligus. Melalui hasil perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa dari total sampel yang diteliti dalam penelitian ini yakni sebanyak 755 caption, peneliti mendapati hasil bahwa strategi exemplification tampak paling dominan jika dibandingkan dengan keempat strategi impression management lainnya, yakni dengan perolehan jumlah persentase tertinggi sebesar 45,85%. Kemudian, tampak adanya strategi ingratiation dengan persentase
Strategi Impression Management
Ex Ing S-P Int Sup
Tabel 4.2 Strategi Impression Management Sandiaga
Kategori Pilar
Universitas Kristen Petra
sebesar 23,28% dan dilanjut dengan strategi self-promotion dengan perolehan persentase yang tidak terpaut jauh yakni sebesar 20,98%. Pada urutan berikutnya, terdapat strategi intimidation dengan jumlah persentase yang terbilang kecil yakni sebesar 8,57%, dan terakhir, tampak pula adanya strategi supplication yang meskipun hanya dengan persentase sebesar 1,32% saja.
Tingginya perolehan jumlah persentase pada strategi exemplification (45,85%) menunjukkan bahwa dalam mengomunikasikan keempat pilar
“Menyejahterakan Indonesia” selama berkampanye dalam Pilpres 2019, Sandiaga melakukan upaya untuk mendapatkan kesan sebagai Cawapres 2019 yang berintegritas dan layak secara moral dibandingkan kesan yang lainnya. Menurut Goffman (1959, p. 4), setiap individu menggunakan komunikasi secara sengaja untuk membentuk kesan yang diinginkan dari orang lain terhadap dirinya. Selain itu, seorang individu juga akan membuat perhitungan dalam menentukan tingkah lakunya dengan tujuan untuk menciptakan atau memelihara kesan tertentu, sehingga dapat membedakan seorang individual dengan cara tertentu (Goffman, 1959, p. 6). Demikian halnya pada Sandiaga, ia melakukan kampanye untuk mengomunikasikan keempat kategori pilarnya melalui berbagai tindakan-tindakan yang telah diaturnya sedemikian rupa melalui akun Instagram-nya sehingga dapat tercipta suatu kesan tertentu yang diinginkannya dan dapat membedakan dirinya dengan kandidat politik lainnya, seperti Joko Widodo dan Ma’ruf Amin yang merupakan pasangan Pilpres 2019 dengan nomor urut pertama.
Menurut Rosenfeld, Giacalone, & Riordan (1995), impression management adalah proses di mana seseorang berupaya untuk mempengaruhi image mereka di mata orang lain (dalam Bolino & Turnley, 1999, p. 187). Maka dari itu, dalam hal ini Sandiaga, tentu akan memilih menggunakan strategi tertentu yang disesuaikan dengan image yang ingin ia dapatkan dari orang lain terhadap dirinya. Adapun kelima strategi impression management milik Jones &
Pittman yang dipisahkan dalam taksonomi bukan untuk memisahkan tipe kepribadian atau perilaku, namun untuk membedakan tujuan atribusi tertentu, yang ditampilkan “diri” dalam tindakan strategis (Jones & Pittman, 1982, p. 250).
Jadi, setiap strategi ini dapat melahirkan image yang berbeda-beda tergantung pada tindakan yang ditunjukkannya dan kelima strategi impression management
ini tidak dapat dipisahkan satu per satu karena perpaduan antara strategi yang satu dengan yang lainnya dimungkinkan terjadi. Namun, tidak menutup kemungkinan apabila sebuah strategi lebih ditonjolkan, sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh seseorang (Jones & Pittman, 1982, p. 260). Berkaitan dengan hal tersebut, maka tampak dalam penelitian ini bahwa Sandiaga, sebagai aktor politik, menunjukkan adanya penggunaan strategi impression management dalam komposisi yang berbeda-beda di dalam setiap kategori pilar “Menyejahterakan Indonesia” dan tampak adanya satu strategi yang lebih ditonjolkan yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapainya. Selain itu, terlihat adanya strategi yang tidak dimunculkan dan ada pula perpaduan antara strategi impression management yang satu dan lainnya di dalam setiap kategori pilar.
Dalam mengomunikasikan keempat kategori pilar “Menyejahterakan Indonesia” dalam akun Instagram-nya @sandiuno, Sandiaga terlihat dominan menunjukkan strategi exemplification yaitu upaya untuk mendapatkan kesan sebagai Cawapres 2019 yang berintegritas dan layak secara moral. Terbukti dari jumlah koding pada strategi exemplification yang menunjukkan angka relatif tinggi pada keempat kategori pilar (658 koding atau setara 45,85%). Adapun sub indikator yang muncul dan memiliki jumlah koding tertinggi dalam strategi ini adalah menyatakan tindakan yang dilakukannya adalah untuk kepentingan masyarakat (475 koding).
Dalam aktivitas kampanye yang dilakukannya melalui akun Instagram miliknya, tampak bahwa Sandiaga selalu menyatakan tindakan yang dilakukannya adalah untuk kepentingan masyarakat. Berdasarkan temuan peneliti, hampir di setiap caption-nya yang dituliskannya, Sandiaga selalu menyatakan komitmen, keinginan/ harapan, atau mengupayakan/ melakukan aksi yang mengutamakan kepentingan rakyat. Hal ini pun tampak jelas pada janji ataupun komitmen yang diungkapkan di mana ia bersama Prabowo jika terpilih pada Pilpres 2019, maka mereka akan mewujudkan adanya perbaikan dalam bidang ekonomi yang menjadi fokus utamanya, seperti menciptakan harga terjangkau, penciptaan lapangan kerja, peluang usaha, menghentikan praktik impor, menolak reklamasi, dan lainnya.
Tidak hanya itu, Sandiaga juga sangat peduli dengan masalah-masalah di bidang pendidikan seperti permasalahan upah minimum guru dan pendidikan yang
Universitas Kristen Petra
berkualitas untuk anak-anak Indonesia, hingga pada bidang kesehatan seperti terkait masalah sistem BPJS yang masih belum maksimal. Maka dari itu, di setiap kampanyenya, terlihat bahwa Sandiaga selalu mencanangkan berbagai program-program, kebijakan, dan upaya-upaya yang akan dilakukannya untuk mengentaskan masalah rakyat tersebut.
Keseriusan Sandiaga dalam mengutamakan kepentingan rakyat ini, didukung dengan pernyataan dari pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo yang menilai Sandiaga sebagai sosok yang negarawan dalam Pilpres 2019 (Munir, April 19, 2019). Menurut Yudi Latif, pengamat politik Reform Institute, negarawan adalah orang yang memberikan jiwa raganya untuk negara, sehingga dapat menjadi pahlawan (“Ini perbedaan politikus”, November 24, 2016). Dengan demikian, fakta dan temuan yang ada memang memperlihatkan bahwa Sandiaga merupakan sosok negarawan atau mengutamakan kepentingan rakyatnya dibandingkan kepentingan pribadinya dan mampu menjadi contoh dalam teladan moral. Karakteristik ini pun sesuai dengan yang ada pada strategi exemplification, sehingga menjadi wajar apabila strategi exemplification tampak paling dominan dibandingkan strategi impression management yang lainnya.
Adapun dominannya jumlah persentase pada strategi exemplification ini juga diperkuat dengan keaktifan dirinya yang melakukan kampanye blusukan ke masyarakat secara langsung guna mendengarkan aspirasi rakyat sebagai wujud mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia. Metode blusukan ini diadaptasi oleh Sandiaga dari Joko Widodo saat masih menjadi Wali Kota Solo dan Basuki Tjahja Purnama saat masih menjadi Gubernur DKI Jakarta guna mendekati rakyat (Adam, March 18, 2019). Bahkan berkat keseriusannya tersebut, Sandiaga pun menerima penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas blusukan terbanyak ke 1.500 titik di Indonesia (Idris, April 10, 2019). Selain itu, terlahir dari orang tua yang penuh dengan ketegasan dan kedisiplinan sejak kecil semakin menguatkan karakter Sandiaga yang mengutamakan integritas dan moralitas dalam setiap perilakunya. Ditambah lagi dengan pernyataan Sandiaga bahwa dirinya masuk ke dunia politik agar dapat membantu dalam menentukan dan mengambil kebijakan yang membantu sebanyak-banyaknya rakyat atau
dengan kata lain terlihat keseriusannya untuk mengabdi pada rakyat (Awan, February 14, 2017). Hal ini pun didukung oleh Anies Baswedan yang menceritakan kesannya mengenai sosok Sandiaga yang dikenalnya sebagai orang yang dinamis, sangat aktif, selalu memikirkan banyak orang, dan selalu terlibat dalam urusan masyarakat (Tambun, August 10, 2018). Dengan demikian, jelas terbukti bahwa fakta yang ada mendukung temuan penelitian ini di mana dalam mengomunikasikan keempat pilar “Menyejahterakan Indonesia” pada masa kampanye Pilpres 2019, Sandiaga memang ingin menunjukkan dirinya dengan kesan yang berintegritas dan layak secara moral, melalui tindakannya yang selalu mengutamakan kepentingan masyarakat.
Sementara itu, tampak pula bahwa Sandiaga juga menunjukkan adanya strategi ingratiation (23,28%) dan self-promotion (20,98%) dalam mengomunikasikan keempat kategori pilar tersebut, dengan persentase keduanya yang tidak terpaut jauh. Munculnya strategi ingratiation ini pun diperkuat dengan pernyataan dari Ridha, selaku Tenaga Ahli Reporter Seksi Pelayanan Hubungan Media (PHM) Diskominfotik Pemprov DKI Jakarta bahwa Sandiaga dinilainya sebagai sosok yang yang ramah, rendah hati, dan bersahabat (Maulana, August 13, 2018). Sementara itu, Sandiaga juga dikenal sebagai sosok yang berprestasi atau berkompeten, baik dari sisi pengalaman hidupnya dalam berbisnis maupun saat dirinya masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Sandiaga dikenal sebagai pebisnis sukses yang dibuktikan dengan keberhasilannya dalam mendirikan berbagai perusahaan yang pada akhirnya membuat dirinya memperoleh berbagai penghargaan, seperti penghargaan Indonesian Enterpreneur of The Year dari Enterprise Asia tahun 2008 dan sempat beberapa kali terdaftar sebagai orang terkaya di Indonesia (“Profil: Sandiaga Salahuddin”, 2019). Selain itu, dikutip dari liputan6.com, selama 100 hari pertama masa kerja Anies-Sandiaga sebagai Gubernur dan Wagub DKI Jakarta, terdapat sebanyak 29 program yang telah berhasil diwujudkannya, beberapa di antaranya seperti Rumah DP 0 rupiah, penutupan hotel Alexis, OK Ocare (One Kelurahan Outstanding Care), OKE OCE, OKE OTRIP, dan lainnya (Hatta, January 26, 2018). Dengan demikian, fakta yang ada mendukung temuan penelitian ini bahwa Sandiaga
Universitas Kristen Petra
memang ingin mendapat kesan disukai (ingratiation) sekaligus tampak berkompeten (self-promotion) di mata rakyat.
Berbeda halnya dengan strategi intimidation dan supplication yang muncul namun termasuk ke dalam dua kategori dengan perolehan jumlah persentase yang tergolong rendah (8,57% dan 1,32%). Terlihat pada tabel 4.2 di halaman 137 bahwa jumlah koding pada kedua strategi ini pada keempat kategori pilar relatif rendah dibandingkan ketiga strategi lainnya. Kedua strategi ini memang jarang diperlihatkan oleh Sandiaga, kecuali pada situasi-situasi tertentu dan terutama dalam bidang ekonomi yang menjadi perhatian utama dalam kampanye Sandiaga (terlihat dari jumlah koding pada strategi intimidation dan supplication dalam pilar ekonomi yang lebih unggul dibandingkan ketiga pilar lainnya yakni sebanyak 103 koding dan 13 koding). Dalam strategi intimidation, seringkali Sandiaga memberikan kritikan terhadap kinerja pihak lain yang dirasanya kurang optimal untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, seperti lebih mengutamakan impor, harga bahan pangan yang tidak stabil, kesulitan dalam perizinan, pembangunan infrastruktur yang tidak tepat sasaran, dan masih banyak lainnya. Sementara dalam strategi supplication, tampak Sandiaga beberapa kali meminta bantuan kepada pihak lain, seperti memohon doa dan dukungan agar ia dapat amanah dalam memperjuangkan harapan rakyat Indonesia.
Munculnya strategi exemplification dengan jumlah persentase tertinggi (45,85%) yang kemudian diikuti dengan strategi ingratiation (23,28%) dan self-promotion (20,98%) menjadi hal yang wajar terjadi. Seperti yang diutarakan oleh Jones & Pittman (1982, p. 260), pengalaman dan sumber daya personal tertentu dapat menyebabkan sebuah strategi jauh lebih menonjol daripada yang lainnya serta salah satu strategi dapat mendahului atau membuka jalan bagi strategi lainnya di mana secara khusus hal ini dapat terjadi pada ingratiation, self-promotion, dan exemplification. Terkait hal tersebut, sesuai dengan temuan penelitian ini di mana strategi exemplification tampak sangat unggul yang kemudian diikuti dengan strategi ingratiation dan self-promotion. Dengan demikian, yang utama, Sandiaga ingin dilihat sebagai orang yang berintegritas
dan layak secara moral, dan selanjutnya ia juga ingin disukai dan terlihat berkompeten.
Di sisi lain, rendahnya angka persentase pada strategi intimidation (8,57%) ini terjadi karena memang pada dasarnya strategi ini merupakan kebalikan dari strategi ingratiation yakni untuk mendapatkan kesan disukai. Ketika seseorang ingin disukai, maka menjadi wajar jika kesan untuk ditakuti menjadi rendah.
Sebab, gerakan tubuh yang bersifat intimidasi cenderung membuat pelaku intimidation kurang menarik dan membuat orang-orang semakin terpisah (Jones
& Pittman, 1982, p. 240).
Tidak hanya itu, tidak unggulnya strategi intimidation ini dapat dikatakan sebagai upaya Sandiaga untuk mengimbangi image pasangannya, Prabowo Subianto. Menurut pengamat politik Indo Riset, Bawono Kumoro, gaya politik Prabowo belum mengalami perubahan. Image Prabowo sangat erat dengan sosok yang penuh dengan ketegasan, kerap berpidato berapi-api soal bangsa, dan dikenal suka melontarkan kritikan tajam terhadap lawan politiknya (“The new Prabowo”, October 17, 2018). Hal ini pun didukung oleh pernyataan Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Chaniago bahwa Prabowo kerap memancing berbagai sentimen negatif yang di mana hal ini tidak disukai oleh pemilih milenial dan justru akan mempersulit dirinya dalam meraih suara milenial apabila dirinya tidak mampu mengelola isu dengan baik di hadapan generasi milenial (Rachman, April 7, 2018). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Sandiaga dipilih menjadi pasangan Prabowo dan melakukan pendekatan ke milenial (“The new Prabowo”, October 17, 2018). Dengan demikian, menjadi hal yang wajar jika caption-caption Sandiaga tidak banyak atau unggul dalam menunjukkan karakteristik-karakteristik terkait strategi intimidation, misalnya seperti menyatakan ancaman, marah, kekuasaan, dan lainnya, sebab dirinya menghindari image yang tidak disukai oleh milenial.
Sementara itu, strategi supplication juga mendapati persentase yang rendah (1,32%) karena karakteristik-karakteristik yang menunjukkan berkompeten (strategi self-promotion) dan integritas dan layak secara moral (strategi exemplification) jauh lebih tinggi, sehingga kesan untuk menyatakan ketidakberdayaannya tidak tampak. Menyatakan ketergantungan adalah strategi
Universitas Kristen Petra
yang penuh risiko dan kemungkinan akan menjadi salah satu pilihan terakhir.
Mungkin ada kerugian besar terhadap harga diri seseorang dalam mengakui keadaan tidak berdaya dan ketidakmampuan seseorang (Jones & Pittman, 1982, p.
247). Dengan demikian menjadi wajar apabila strategi supplication menjadi strategi terendah yang ingin ditunjukkan Sandiaga, karena dengan menunjukkan kesan yang lemah akan membuat Sandiaga terlihat tidak mampu sebagai calon Wakil Presiden 2019 dalam memimpin bangsa Indonesia.
Hasil temuan dalam penelitian ini tampak berbeda dengan penelitian terdahulu serupa yang meneliti terkait strategi impression management Sandiaga pada masa Pilkada DKI Jakarta 2017 melalui akun Instagram @sandiuno (Satrio, 2017). Dalam masa kampanye Pilpres 2019 ini, peneliti mendapati hasil bahwa Sandiaga terlihat dominan dalam menggunakan strategi exemplification untuk mendapatkan kesan sebagai calon Wakil Presiden 2019 yang berintegritas dan layak secara moral. Sementara itu, temuan peneliti terdahulu memperoleh hasil bahwa Sandiaga tampak unggul dalam menggunakan strategi ingratiation untuk mendapatkan kesan sebagai calon Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 yang disukai oleh orang lain. Adanya perbedaan strategi ini disebabkan karena adanya perbedaan konteks yaitu kampanye Pilgub dan kampanye Pilpres serta perbedaan saingan kandidat yaitu Ahok & Djarot saat Pilgub 2017 dan Jokowi & Amin saat Pilpres 2019, sehingga Sandiaga tentu akan menyesuaikan strategi impression management yang akan digunakannya. Tidak hanya itu, perbedaan temuan ini juga membuktikan bahwa seorang aktor politik yang sama apabila dalam berkampanye nyatanya belum tentu menggunakan strategi impression management yang sama sebab akan disesuaikan dengan tujuan akhir yang diinginkannya di benak publik. Hal ini pun sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Jones & Pittman bahwa setiap strategi dapat melahirkan image yang berbeda-beda tergantung pada tindakan yang ditunjukkannya dan sebuah strategi dapat lebih ditonjolkan yang disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai oleh seseorang (Jones & Pittman, 1982, p. 260).
Berdasarkan hasil temuan peneliti pada konten kampanye Sandiaga dalam akun Instagram @sandiuno selama masa kampanye Pilpres 2019, tampak bahwa Sandiaga sangat fokus dalam mengomunikasikan kategori pilarnya yang pertama
yaitu ekonomi dibandingkan ketiga pilar lainnya. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah caption yang diteliti dalam penelitian ini yakni sebanyak 567 caption dari total sebanyak 755 caption. Tingginya jumlah caption tersebut didukung dengan latar belakang Sandiaga yang memang seorang pebisnis sukses. Sandiaga dikenal sebagai pebisnis yang berhasil merintis banyak perusahaan dalam berbagai bidang, di antaranya seperti perusahaan PT. Recapital Advisors (bidang jasa konsultan keuangan), perusahaan Saratoga Investama Sedaya Tbk (perusahaan holding untuk berinvestasi), dan masih banyak perusahaan di bidang lainnya.
Selain itu, Sandiaga juga memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi di mana ia menempuh pendidikan S1 dan S2 di luar negeri di bidang business administration dan lulus dengan memperoleh nilai summa cumlaude pada saat S1 dan cumlaude pada saat S2. Di samping itu, Sandiaga pun juga memperoleh berbagai penghargaan berkat kesuksesan dan kegigihannya dalam berbisnis (“Profil: Sandiaga Salahuddin”, 2019). Dengan demikian, melalui fakta-fakta tersebut, memperlihatkan bahwa tidak mengherankan jika Sandiaga sangat fokus dalam mengkampanyekan pilar ekonomi tersebut, sebab ia memang terbukti memiliki latar belakang yang matang dalam bidang ekonomi.
Terkait dengan impression management, maka elemen ini menjadi sangatlah penting untuk dibentuk oleh Sandiaga di awal, terutama pada masa kampanye Pilpres 2019. Sebab, singkatnya waktu Sandiaga bergelut dalam dunia politik mulai dari tahun 2015 hingga menjadi Cawapres 2019 (Anazella &
Tamtomo, August 9, 2018), membuat dirinya belum banyak dikenal oleh masyarakat luas sebagai aktor politik, lain halnya dengan identitas pebisnis sukses yang melekat erat pada dirinya. Dalam pemilihan di British tahun 2011, pembentukan image pada kandidat pemimpin politik sebagai political PR dalam kampanye menjadi hal yang penting untuk dapat memperoleh dukungan publik (Strömbäck & Kiousis, 2011, p. 122). Adapun pembentukan kesan ini termasuk ke dalam salah satu pengembangan strategi kampanye yang dinamakan positioning. Strategi ini berbicara mengenai pentingnya penanaman kesan dan kekonsistenan dalam penciptaan image politik di benak publik, salah satunya terkait image kandidat seperti Caleg, Capres atau Cawapres, untuk dapat membedakan antara image kandidat yang satu dengan yang lainnya (Heryanto,
Universitas Kristen Petra
2018, pp. 93-94). Dengan demikian, hal tersebut memperlihatkan betapa pentingnya Sandiaga untuk dapat membentuk kesan yang baik dan positif, khususnya pada masa kampanye Pilpres 2019 agar dirinya dapat memperoleh dukungan dan elektabilitas publik, serta membedakan dirinya dari kandidat pesaingnya yakni pasangan Pilpres nomor urut satu.
Pentingnya pembentukan impression management di awal ini mampu mendukung terciptanya reputasi yang positif. Seperti yang dikemukakan oleh L’Etang (2008, p. 60), impression management menjadi dasar yang penting bagi Public Relations dalam manajemen reputasi. Pada dasarnya, impression management berbicara mengenai perangkat yang digunakan dan simbol yang dipilih untuk menciptakan karakter tertentu dengan tujuan untuk mempengaruhi persepsi atau gambaran dari diri kita dan perilaku terhadap kita (L’Etang, 2008, p.
61). Demikian halnya jika diterapkan dalam ranah political Public Relations, maka impression management menjadi sangat penting untuk dibangun oleh Sandiaga selaku Cawapres 2019 sejak awal agar dapat terbentuk kesan tertentu yang mempengaruhi gambaran dan perilaku terhadap Sandiaga, sekaligus menciptakan reputasi yang baik di mata publiknya, meliputi voters dan calon voters.
Secara konsep, impression management dapat diterapkan dalam ranah Public Relations sebab membahas tiga konsep penting dalam ranah Public Relations yaitu relasi, identifikasi, dan citra (Kriyantono, 2014, p. 216). Demikian halnya jika impression management diterapkan dalam ranah political Public Relations, sebab Public Relations menjadi bagian dari political PR. Dari segi definisi, political Public Relations berkaitan dengan penggunaan strategi dan taktik Public Relations, namun dalam konteks politik dan untuk tujuan politik (Strömbäck & Kiousis, 2011, p. 8). Oleh karena itu, impression management pun juga dapat diterapkan oleh Sandiaga selaku aktor politik yang menjalankan peran political Public Relations, sehingga memudahkan dirinya dalam mencapai tujuan politiknya.
Political Public Relations adalah proses manajemen yang dilakukan baik oleh organisasi ataupun aktor individual untuk tujuan politik, melalui komunikasi dan tindakan yang bertujuan, berupaya untuk mempengaruhi dan menciptakan,
membangun, dan mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan, meliputi reputasi yang dibangun dengan publik utama untuk mendapatkan dukungan dalam membantu tercapainya misi dan tujuan yang telah ditetapkan (Strömbäck & Kiousis, 2011, p. 8). Berkaitan dengan reputasi, maka impression management menjadi hal yang penting bagi Public Relations (L’Etang, 2008, p.
60). Oleh karenanya, tidak mengherankan jika Sandiaga selaku aktor politik menggunakan berbagai macam strategi impression management yang tentu telah dipertimbangkan dan diatur sedemikian rupa melalui komunikasi dan tindakan-tindakan yang ditunjukkannnya, agar tercipta reputasi yang positif dan dapat memperoleh dukungan melalui hubungan yang tercipta dengan publik serta membantu tercapainya misi dan tujuannya, terutama dalam kaitannya dengan keempat pilar “Menyejahterakan Indonesia” dan untuk memenangkan Pilpres 2019.
Ketika political PR dikaitkan dengan aktivitas kampanye politik, maka hal ini berhubungan dengan tujuan untuk memperoleh dukungan dari publik. Untuk dapat memperoleh dukungan, maka partai politik dan kandidat akan berusaha untuk mewakili pandangan dan opini dari voters dan citizens agar mereka dapat terpilih, sehingga kandidat biasanya akan melangsungkan komunikasi berupa memberikan janji-janji dan melakukan hal-hal baik (favors) agar voters bersedia memberikan dukungannya tersebut (Strömbäck & Kiousis, 2011, p. 116).
Unggulnya penggunaan strategi exemplification oleh Sandiaga selama masa kampanye ini memiliki keterkaitan dengan proses komunikasi Political PR yang diutarakan oleh Strömbäck & Kiousis tersebut. Jika diperhatikan, melalui perilaku kandidat yang mewakili pandangan dan opini voters dan citizens, serta memberikan janji ataupun melakukan hal-hal baik, maka semua hal tersebut pada dasarnya mengacu pada tindakan yang mengutamakan kepentingan masyarakat yang menjadi bagian dari karakteristik dalam strategi exemplification. Dalam artian, untuk mendapatkan dukungan masyarakat melalui kampanye, maka kandidat perlu untuk meyakinkan rakyat bahwa dirinya berpihak pada rakyat, seperti halnya yang ditunjukkan Sandiaga melalui berbagai tindakannya semasa kampanye dalam akun Instagram-nya, terutama dalam mengomunikasikan keempat pilar.
Universitas Kristen Petra
Kampanye politik memungkinkan seseorang aktor politik untuk melakukan impression management di dalamnya. Menurut Richard A. Joshlyn,
Kampanye politik memungkinkan seseorang aktor politik untuk melakukan impression management di dalamnya. Menurut Richard A. Joshlyn,