VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Analisis Aspek Non Finansial
6.1.1.3 Strategi Pasar
Strategi pemasaran meliputi kegiatan menyeleksi dan penjelasan satu atau beberapa target pasar dan mengembangkan serta memelihara suatu bauran pemasaran yang akan menghasilkan kepuasan bersama dengan pasar yang dituju (Lambhair MD 2001). Strategi pemasaran terdiri atas strategi produk, harga, lokasi, dan promosi.
1) Strategi Produk dan Harga
Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian untuk dibeli, untuk digunakan atau dikonsumsi yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan (Kasmir dan Jakfar 2003). Produk yang dihasilkan oleh UPR Citomi adalah benih ikan nila gesit kelas benih sebar dalam fase larva ikan nila gesit berukuran 6-7 mm.
Benih sebar adalah benih keturunan pertama dariinduk pokok, induk dasar atauinduk penjenis yang memenuhi standar mutu kelas benih sebar. Larva adalah tahapan ikan yang masih mengalami perubahan bentuk/ morfologi termasuk organ tubuh dan warna serta berumur sampai dengan 7 hari sejak telur menetas.
Benih yang dijual telah memenuhi mutu standar di pasar atau permintaan dari konsumen. Agar mutu benih selalu terjaga, maka setiap akan melakukan pengiriman UPR Citomi melakukan sortasi terlebih dahulu, sehingga benih-benih tersebut memenuhi kriteria seperti : tidak terdapat cacat fisik, benih sehat, ukuran benih yang seragam sesuai dengan permintaan konsumen.
Sistem pengemasan yang baik juga diperlukan agar benih yang dikirim dapat bertahan sampai di tempat konsumen. Bahan-bahan pengemasan tersebut meliputi plastik pengemasan, oksigen, dan karet gelang sebagai pengikat.
UPR Citomi memsarkan larva yang diproduksinya dengan harga Rp 16,00 per ekor. Sebagai price maker dalam pasar monopoli ditambah memiliki kualitas produk baik dengan permintaan tinggi, UPR Citomi dapat saja menerapkan harga
lebih tinggi, tetapi benih ikan nila gesit yang diproduksinya dipasarkan dengan harga yang sama dengan larva ikan nila jenis lain. Alasan yang diberikan pihak UPR Citomi adalah untuk menjaga pasar yang dimilikinya. Berdasarkan perhitungan harga pokok produksi pun harga jual senilai Rp 16,00 masih layak, karena masih dapat memberikan keuntungan sebesar Rp 6,45 per ekor atau 70 persen dari harga pokok produksi seperti yang tercantum dalam Tabel 11.
Tabel 11. Proyeksi Perhitungan Harga Pokok Produksi
Satuan Nilai 1 Gaji Pimpinan Rp 30.000.000 2 Sekretaris Rp 9.000.000 3 Bendahara/Adm Rp 9.000.000 4 Manajer Produksi Rp 15.000.000 5 Manajer Pemasaran Rp 15.000.000 6 Supervisor Produksi Rp 7.500.000 7
Kepala Divisa Nila Hitam Rp 6.900.000 8 Skupnet Rp 240.000 9 Penyusutan/Tahun Rp 7.180.000 Rp 99.820.000 10 TK Borongan Rp 64.800.000 11 Pakan Ikan Rp 22.873.500 12 Obat Rp 900.000 13 Pestisida Rp 540.000 14 P.Kandang Rp 816.000 15 P.Buatan Rp 152.500 16 Kapur Rp 488.000 17 Plastik Rp 200.000 18 Karet Rp 224.000 19 Oksigen Rp 250.000 Rp 91.244.000 Rp 191.064.000 Ekor 20.892.600 Rp/Ekor 9,15 Rp/Ekor 6,40 Rp/Ekor 15,55 Rp/Ekor 16,00 Marjin keuntungan (70%)
Harga Pokok Penjualan Harga Jual
Biaya Tetap
Total Biaya Variabel Total Biaya Tetap Biaya Variabel
Total Biaya Produksi
Harga Pokok produksi
2) Lokasi (Strategi Saluran Distribusi)
Saluran distribusi adalah suatu jaringan dari organisasi dan fungsi-fungsi yang menghubungkan produsen kepada konsumen akhir (Kasmir dan Jakfar 2003). Benih ikan nila Gesit yang diproduksi UPR Citomi dipasarkan kepada
para petani pendederan ikan nila. Petani pendeder yang sudah jadi pelanggan tetap biasanya telah mempunyai jadwal pemesanan yang baku, sehingga proses produksi didasarkan pada jadwal pesanan tersebut, bagi konsumen baru jadwal tersebut belum ada, sehingga konsumen dapat memberikan informasi pemesanan melalui telepon atau datang langsung ke lokasi produksi.
Benih yang dipesan akan diambil langsung oleh konsumen ke UPR Citomi. Biaya pengangkutan ditanggung oleh pembeli. Strategi ini digunakan dengan tujuan konsumen dapat langsung melihat kondisi benih yang dibeli dan untuk memperkecil biaya pemasaran. Saluran distribusi larva ikan nila gesit yang diproduksi UPR Citomi digambarkan dalam dalam gambar 3.
Gambar 4.Saluran Distribusi Benih Ikan Nila Gesit
Integritas antara subsistem dalam agribisnis ikan nila begitu terlihat. Dalam aspek pasar contohnya, permintaan benih dipengaruhi oleh kondisi di setiap rantai subsistem. Saat awal musim hujan permintaan benih dapat berkurang sampai 50 persen. Hal ini disebabkan karena terjadinya up welling di industri hilir budidaya ikan nila yaitu pembesaran.
Up welling adalah proses perputaran air karena terjadi perubahan suhu di permukaan air sehingga semua materi yang awalnya mengendap di dasar perairan berpindah ke permukaan air, termasuk limbah, sampah beserta zat-zat polutan yang mengganggu proses budidaya. Up welling biasa terjadi di perairan tenang dan dalam seperti rawa, waduk dan danau. Kejadian ini berlangsung berulang setiap tahun, biasanya terjadi antara bulan Oktober sampai Desember. Bagi UPR Citomi fenomena ini tentu mempengaruhi proses pemasaran, karena permintaan berkurang, sehingga mengurangi output yang diproduksi. Untuk mengatasi masalah ini, saat up welling terjadi di sentra pembesaran di Jawa Barat, penjualan produk dialihkan ke pasar lain, yaitu ke luar pulau Jawa (Sumatera dan Kalimantan). Petani Pembenihan Ikan Nila Petani Pembesaran Ikan Nila Petani Pendederan Ikan Nila
3) Strategi Promosi
Dalam pemasaran tidak hanya dibahas mengenai distribusi produk, tetapi hal apa yang dilakukuan selama proses pemasaran prosduk tersebut. Promosi adalah salah satu alat strategi memasarkan produk dengan cara memberikan informasi yang benar dan tepat agar konsumen dapat mengenalnya dan akhirnya diharapkan dapat menjadi konsumen dari produk yang dijual (Prawirosentono S 2002). Dalam memasarkan benih ikan nila gesit, UPR Citomi tidak menemukan masalah yang berarti. Informansi mengenai penemuan varietas baru menyabar cepat dikalangan pembudidaya, sehingga saat benih ikan nila gesit di produksi, pasar untuk produk ini telah terbuka, ditambah dengan image produk UPR Citomi di mata konsumen tergambar baik dengan label ”Ikan Pak Lurah”. Tetapi dalam kondisi seperti ini tidak membuat UPR Citomi menghentikan aktifitas promosinya. UPR Citomi terus memberikan informasi terbaru tentang produk-produk yang dihasilkannya.
Selain promosi yang dilakukan pihak petani, pemerintah daerah pun terus berupaya membantu promosi produk perikanan di Kabupaten Subang, melalui program gerakan gemar makan ikan dan pameran pembangunan.
Untuk menyiasati masalah yang terjadi di hilir industri budidaya ikan nila (saat terjadi up welling) UPR Citomi mengembangkan pasarnya. Saat ini target pasar UPR Citomi tidak hanya pulau Jawa, ekspansi pasar telah sampai Sumatera dan Kalimantan, tepatnya Palembang, Lampung, Medan, Aceh dan Pontianak. Perluasan pasar ini dilakukan apabila pasar di Jawa sedang bermasalah. Promosi yang digunakan untuk meraih pasar baru adalah dengan cara memberikan penawaran langsung melalui media internet, memasang iklan di beberapa situs tentang produk yang diproduksi UPR Citomi.
6.1.2 Analisis Aspek Teknis
Menurut Gittinger JP (1986), Aspek teknis merupakan aspek utama yang perlu diperhatikan, karena dalam aspek ini perhitungan input proyek dan output berupa barang dan jasa dilakukan berdasarkan alur produksi sebenarnya, sehingga aspek-aspek lain dari analisa proyek hanya akan dapat berjalan bila analisa secara teknis dapat dilakukan.
Beberapa pertanyaan utama yang perlu mendapatkan jawaban dari aspek teknis adalah :
1) Lokasi proyek, yakni dimana suatu proyek akan didirikan baik untuk pertimbangan lokasi dan lahan pabrik maupun lokasi bukan pabrik.
2) Seberapa besar skala operasi/ luas produksi ditetapkan untuk mencapai suatu tingkatan skala ekonomis.
3) Bagaimana proses produksi dilakukan (kegiatan budidaya) dan teknologi yang diusulkan cukup tepat, termasuk didalamnya pertimbangan variabel sosial
4) Layout pabrik yang dipilih, termasuk juga layout bangunan dan fasilitas lain. 5) Input apa saja yang digunakan dalam proses produksi.
6.1.2.1Lokasi Proyek
Dalam membahasas lokasi proyek dalam analisis teknis, terdapat variabel-variabel utama yang dibahas, yaitu : ketersediaan bahan mentah, letak pasar yang dituju, supply tenaga kerja dan fasilitas transportasi.
1) Ketersediaan bahan mentah
Ikan merupakan hewan air yang tentu membutuhkan air untuk media hidupnya, untuk itu diperlukan volume dan kualitas air yang memadai untuk menjalankan usaha pembenihan ikan nila gesit. UPR Citomi mendapatkan air dengan volume dan kualitas air yang memadai untuk budidaya ikan nila Gesit. 2) Letak pasar yang dituju
UPR Citomi memiliki lima letak pasar utama yang dituju, yaitu Kabupten Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi dan Indramayu. Lokasi UPR Citomi sendiri berada di antara lima pasar utamanya, sehingga tidak sulit untuk menjangkau lokasi pasar.
3) Supply tenaga kerja
Untuk menjalankan salah satu unit bisnisnya, yaitu pembenihan ikan nila Gesit, UPR Citomi membutuhkan sepuluh aktivitas dalam strukur organisasi dengan jumlah karyawan sebanyak 15 orang. Seluruh karyawan berasal dari warga sekitar dan beberapa orang keluarga pimpinan UPR Citomi.
4) Fasilitas transportasi
Fasilitas transportasi merupakan salah satu penghambat UPR Citomi dalam menjalankan usahanya, lokasi antara pusat administrasi dengan lokasi produksi yang jauh (sekitar 1 km) menyulitkan proses pemantauan, ditambah dengan keadaan fasilitas jalan yang yang buruk sehingga sulit dilalui
6.1.2.2Besar Skala Operasi
Dengan lahan seluas 250 bata atau 3.500 m2, UPR Citomi menghasilkan benih ikan nila gesit rata-rata sebanyak 2,4 juta ekor benih setiap bulan. Menurut supervisi bagian produksi, angka tersebut jauh dari harapan dan perkiraan, periode sebelumnya produksi larva ikan nila dapat mencapai rata-rata 3,5 juta ekor setiap bulan. Penurunan produksi periode sekarang tidak disebabkan menurunnya kapasitas produksi UPR Citomi, melaikan menurunnya permintaan. Untuk melakukan efisiensi, UPR Citomi mengurangi kegiatan produksinya.
Produksi larva ikan nila Gesit tertinggi dicapai saat bulan Januari. Pada bulan ini merupakan puncak produktifitas induk nila. Menurut supervisi bagian produksi, pada bulan ini suhu air dalam kolam mencapai titik maksimum, yaitu 33oC dan sinar matahari dapat menyinari seluruh permukaan kolam, sehingga banyak plankton yang tumbuh. Melimpahnya plankton dapat meningkatkan tingkat hidup larva-larva ikan, sehingga produksi mencapai titik tertinggi. Produksi akan mengalami fluktuasi sampai bulan Agustus, fluktuasi ini terjadi karena siklus pemesanan dari petani pendeder pun berfluktuasi.
Memasuki bulan Oktober suhu mulai menurun, sinar matahari mulai ditutupi awan, sehingga pada bulan Oktober produksi ikan mulai menurun. Penurunan produksi yang terjadi pada industi hulu budidaya ikan nila tidak terlalu signifikan, penurunan produksi terjadi karena kekhawatiran petani pendeder ikan terhadap up welling yang akan terjadi di hilir industri, tepatnya industri pembesaran ikan di waduk Jatiluhur dan Cirata yang menjadi sentra pembesaran ikan nila di Jawa Barat. Titik terendah produksi larva ikan nila terjadi pada bulan berikutnya, yaitu bulan Nopember. Pada bulan Nopember suhu dan tingkat keasaman air bergerak fluktuatif karena hujan mulai turun, atau disebut musim pancaroba.
Gambar
Rencana produksi didasarkan pada produktiv ikan nila. Produktifitas telur
gram setiap kali memijah (24 hari) adalah 1.600 butir. Apabila mortalitas dapat di tekan sampai 10 persen, maka UPR Citomi dapat memproduksi larva sebanyak 1440 ekor larva setiap bulan per ekor induk. Saat
dalam pemijahan nila
mempunyai produktifitas yang sama dengan mortalitas telur 10 persen, maka produksi larva induk betina setiap bulan adalah 3.672.000 ekor
Citomi dapat memenuhi seluruh permintaan larva. induk dapat dilakukan dengan meningkatkan kuali
melakukan pemantauan serta terus melakukan riset di bagian produksi mencoba menggunakan kolam i
fluktuasi suhu.
6.1.2.3Teknologi dan Kegiatan Budidaya
Ikan nila dipijahkan secara alami, saat pemijahan tidak ada campur tangan manusia serta berlangsung secara kelompok dimana sejumlah induk jantan dan betina dipelihara dalam kolam yang sama. UPR Citomi melakukan pembenihan dengan metode pembenihan semi
meski pemijahan dilakukan secara alami, campur tangan manusia masih diperlukan. Kolam pemijahan dan kolam pendederan pada
Gambar 5. Grafik Produksi Larva Ikan Nila gesit
oduksi didasarkan pada produktivitas maksimal induk betina ikan nila. Produktifitas telur maksimal satu ekor induk nila betina berukuran 600 setiap kali memijah (24 hari) adalah 1.600 butir. Apabila mortalitas dapat di tekan sampai 10 persen, maka UPR Citomi dapat memproduksi larva sebanyak 1440 ekor larva setiap bulan per ekor induk. Saat ini induk betina yang digunakan dalam pemijahan nila gesit adalah 2550 ekor. Apabila semua induk betina mempunyai produktifitas yang sama dengan mortalitas telur 10 persen, maka produksi larva induk betina setiap bulan adalah 3.672.000 ekor ini berarti UP
dapat memenuhi seluruh permintaan larva. Untuk meningkatkan produksi induk dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas tenaga kerja dan terus
kukan pemantauan serta terus melakukan riset di bagian produksi
mencoba menggunakan kolam indor untuk menjaga kualitas air dan menghindari
Kegiatan Budidaya
Ikan nila dipijahkan secara alami, saat pemijahan tidak ada campur tangan manusia serta berlangsung secara kelompok dimana sejumlah induk jantan dan lihara dalam kolam yang sama. UPR Citomi melakukan pembenihan tode pembenihan semi-intensif. Dalam pembenihan semi intensif, meski pemijahan dilakukan secara alami, campur tangan manusia masih diperlukan. Kolam pemijahan dan kolam pendederan pada sistem ini tidak dibuat
Produksi Larva
itas maksimal induk betina ila betina berukuran 600 setiap kali memijah (24 hari) adalah 1.600 butir. Apabila mortalitas dapat di tekan sampai 10 persen, maka UPR Citomi dapat memproduksi larva sebanyak ini induk betina yang digunakan esit adalah 2550 ekor. Apabila semua induk betina mempunyai produktifitas yang sama dengan mortalitas telur 10 persen, maka ini berarti UPR Untuk meningkatkan produksi tas tenaga kerja dan terus kukan pemantauan serta terus melakukan riset di bagian produksi, seperti ndor untuk menjaga kualitas air dan menghindari
Ikan nila dipijahkan secara alami, saat pemijahan tidak ada campur tangan manusia serta berlangsung secara kelompok dimana sejumlah induk jantan dan lihara dalam kolam yang sama. UPR Citomi melakukan pembenihan intensif. Dalam pembenihan semi intensif, meski pemijahan dilakukan secara alami, campur tangan manusia masih sistem ini tidak dibuat
secara khusus seperti pada pembenihan ekstensif. Dalam sistem ini larva ditangkap saat diasuh induknya, tanpa mengeringkan kolam pemijahan.
Beberapa kelebihan dari pembenihan semi-intensif adalah ukuran benihnya seragam dan hasil benihnya lebih banyak. Dalam pembenihan ikan nila Gift proses pemihajah sampai kolam dikeringkan memakan waktu 45-50 hari. Dalam pemijahan ikan Nila gesit waktu yang diperlukan sampai pengeringan kolam hanya 24-26 hari. Selama itu, panen larva dapat dilakukan sebanyak tiga kali.
1) Persiapan Kolam
Untuk melakukan pemijahan secara semi-intensif, kolam yang harus disiapkan adalah kolam pemeliharaan induk betina seluas 300 m2, kolam pemeliharaan induk jantan seluas 100 m2 san satu kolam pemijahan seluan 400 m2.
Sebelum digunakan, kolam disiapkan terlebih dahulu. Persiapan kolam meliputi pengeringan kolam selama dua hari, perbaikan pematang dan perbaikan kemalir. Setelah siap, kolam dapat diairi setinggi 40-60 cm.
2) Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara di kolam pemeliharaan induk secara terpisah antara jantan dan betina selama satu minggu. Kepadatan induk dalam kolam adalah 2-4 ekor/ m2. Pemeliharaan induk bertujuan untuk menumbuhkan dan mematangkan gonad (Sel telur dan sperma) ikan. Penumbuhan dan pematangan gonad ikan dapat dipicu melalui pendekatan lingkungan, pakan serta hormonal. UPR Citomi melkukan pendekatan pakan dalam memelihara induk. Selama dipelihara, setiap induk diberi pakan tambahan berupa pelet sebanyat tiga persen dari bobot total tubuhnya.
3) Pemijahan
Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan. Kolam harus sudah disiapkan dengan baik. Bagian-bagian kolam (pematang, kemalir dan dasar kolam) harus berada dalam kondisi baik. Bila sudah siap, kolam dapat diisi induk jantan dan betina yang dilakukan secara bersamaan. Kepadatan kolam sebanyak 1 ekor/ m2. Perbandingan jantan dan betina 1 : 3.
Pemijahan biasanya mulai berlangsung pada hari ke-7 setelah penebaran induk. Ikan nila termasuk jenis ikan parental care, artinya induk menjaga keturunannya (telur, larva atau benih) jadi setelah dierami dalam mulut, induk ikan nila akan menjaga larvanya sampai larva tersebut diangkat oleh petugas. Pemberian pakan mulai dikurangi saat induk sudah seminggu ditebar. Jumlahnya hanya dikurangi 25 persen dari sebelumnya, karena ada sekitar satu per tiga induk betina yang sedang mengerami. Induk yang sedang mengerami biasanya tidak makan atau berpuasa.
4) Pemupukan
Hari ke-12 setelah penebaran induk, kolam pemijahan ditebari pupuk. Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam atau kotoran puyuh. Dosis pupuk sebanyak 500 g/ m2. Saat itu, debit air yang masuk kolam mulai dikurangi, tujuannya agar pupuk tidak terbawa arus air.
Setelah 3-5 hari dari pemupukan, biasanya di kolam mulai tumbuh pakan-pakan alami berupa plankton. Saat itu secara naluri induk yang sedang mengerami akan mengeluarkan anak-anaknya secara serempak dari mulutnya. Anak-anak ikan ini akan tampak pada permukaan kolam.
5) Pemanenan
Bila dikolam sudah tampak banyak larva, pemanenan sudah dapat dimulai. Pemanenan dilakukan pagi hari saat kandungan oksigen dalam air masih rendah. Kondisi ini menyebabkan larva masih berada di permukaan air. Bila terlambat, larva sudah berada di tengah kolam sehingga penangkapan menjadi sulit.
Pemanenan dilakukan dengan cara menjaring menggunakan skup net besar atau waring. Setelah ditangkap, larva dimasukkan dalam ember dan ditampung dalam hapa halus yang dipasang di kolam tersebut. Saat itu juga larva harus ditebar dalam kolam pendederan.
Panen larva biasanya dilakukan selama 2-3 hari bila penangkapannya lebih dari tiga hari, sebaiknya larva dipelihara dalam kolam pendederan berbeda agar ukurannya lebih seragam. Larva yang dipanen biasanya berukuran panjang 10-12 mm dengan berat antara 0,05-0,10 gram. Setelah semua larva ditangkap, kolam pemijahan tidak perlu dikeringkan. Proses pemijahan dibiarkan terus berlangsung. Saat panen terakhir pada hari ke 24-26, kolam dikeringkan. Pada saat yang
bersamaan induk ditangkap dan dipelihara dalam kolam pemeliharaan induk. Setelah satu minggu dipelihara induk kemudian dipijahkan kembali.
6.1.2.4Layout
Kolam yang digunakan terdiri dari kolam pemeliharaan induk, kolam pemijahan, kolam pendederan dan kolam pemeliharaan larva. Semua konstruksi kolam adalah tanah dengan dasar kolam lumpur berpasir. Dasar lumpur berpasir akan digunakan oleh induk ikan untuk membuat sarang. Dalam kolam juga terdapat kubangan dan kemalir yang berfungsi untuk menangkap induk ikan saat dikeringkan. Selain itu dalam kubangan dipelihara lele-lele lokal.
Dalam kolam pemeliharaan induk ditambah waring yang berfungsi untuk memisahkan kelompok-kelompok induk yang akan dipijahkan. Waring yang digunakan dibagi menjadi lima waring. Dua waring untuk induk jantan dan tiga waring untuk induk betina. Waring untuk induk jantan berukuran 7x7x2 meter dan untuk induk betina adalah 10x10x2 meter. Waring yang digunakan mempunyai mata jaring berukuran 2 mm. Kolam pemeliharaan induk berukuran 50 x 20 meter. Kolam ini digunakan juga sebagai kolam pendederan larva yang belum terjual. Larva dipelihara di bagian kolam yang tidak tertutupi waring.
Kolam pemijahan digunakan untuk memijahkan induk nila. Kolam pemijahan tidak menggunakan waring, hanya kolam tanah dengan dasar lumpur berpasir. Kolam yang digunakan untuk pemijahan berjumlah tiga unit, dua kolam berukuran 50 x 20 meter dan satu kolam berukuran 25 x 20 meter.
Kolam yang terakhir adalah kolam pemeliharaan larva, kolam ini adalah kolam yang ukurannya paling kecil yaitu 8 x 5 m. dalam kolam ini dipasang dua hapa atau waring dengan mata jaring kecil yang berukuran 3 x 2 x 1,5 m. kolam pemeliharaan larva adalah kolam dengan kualitas air baik, kolam ini mempunyai jarak paling dekat dengan mata air yang dijadikan sebagai sumber pengairan seluruh kolam.
Air yang digunakan untuk mengairi seluruh kolam, bersumber dari mata air yang letaknya berjarak sekitar 20 meter dari kolam pemeliharaan larva. Air dialirkan melalui selokan kecil ke seluruh kolam, dari selokan tersebut UPR Citomi menggunakan bilah-bilah bambu untuk mengalirkan air ke semua kolam.
6.1.2.5Penggunaan Input
Input yang digunakan dalam pembenihan ikan nila gesit di UPR Citomi terbagi menjadi dua bagian, yaitu input tetap dan input variabel. Input tetap adalah kolam beserta seluruh perlengkapannya, sedangkan input variabel adalah semua bahan yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan produksi. Jenis input tetap dan variabel dapat dilihat dalam Tabel 12.
Tabel 12. Kebutuhan Input Usaha Pembenihan Ikan Nila Gesit
No Jenis Input 1. Input Tetap A. JointCost - Lahan - Komputer - Laptop - Printer - Saung B. Ivestasi
- Induk Nila Gesit
- Induk Nila Hitam (betina) - Waring C. Peralatan - Cangkul - Garpu - Belincong - Golok - Parang - Timbangan - Tabung oksigen - Skup net 2. Input Variabel - Pakan Ikan - Obat - Pestisida - Pupuk Kandang - Pupuk Buatan - Kapur - Plastik - Karet
6.1.3 Analisis Aspek Manajemen
Penelitian pada aspek manajemen mencakup organisasi perusahaan, kebutuhan tenaga kerja dan deskripsi kerja. Struktur organisasi UPR Citomi dapat dilihat pada Gambar 5
Pimpinan S Nana Sulyana Bendahara Yuyun Yustini Sekretaris Widi Laksana Menejer Produksi Dadang Kusdinar Menejer Pemasaran Asep Epi S Menejer Pengandali Mutu S Nana Sulyana Supervisor Produksi Abas S W
Kadiv. Nila Merah
Udin
Kadiv. Nila Hitam
Minah
Staff Operator
Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, bagian-bagian, atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi (Handoko TH 1995). UPR Citomi membutuhkan sepuluh bagian kerja untuk menjalankan usahanya, tenaga kerja tetap yang dibutuhkan sebanyak 12-14 orang, yakni pengisi jabatan pimpinan sampai kepala divisi sebanyak tujuh orang dan bagian staff operator yang merupakan tenaga kerja borongan sebanyak lima sampai tujuh orang. Jumlah staff operator disesuaikan dengan kebutuhan tenaga dalam proses peroduksi. Saat produktifitas induk tinggi, kebutuhan tenaga kerja pada bagian