• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Penerapan Transportasi Berkelanjutan

Dalam dokumen ManajeMen transportasi dalaM kajian dan teori (Halaman 101-107)

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menuju transportasi berkelanjutan yaitu:

a. Informasi transportasi dan manajement b. Managemen mobilitas

c. Pembatasan akses d. Promosi angkutan umum e. Distribusi barang dan logistic f. Manajemen parkir

g. Road pricing

2. Menurunkan penggunaan enerji dan emisi gas buang, dapat ditempuh dengan: a. Manajemen mobilitas

b. Promosi penggunaan sepeda dan kendaraan tidak bermotor

c. Ke kantor bareng yang di negara-negara maju dikenal sebagai Car pooling d. Bahan bakar yang bersih dan berwawasan lingkungan seperti penggunaan bahan bakar nabati, bahan bakar gas, kendaraan listrik serta kendaraan yang bersih lainnya seperti hibrida.

e. Promosi angkutan umum yang lebih gencar agar pemakai kendaraan pribadi mau beralih ke angkutan umum.

f. Penerapan retribusi pengendalian lalu lintas serta berbagai kebijakan tarif dan fiskal lainnya.

3. Penurunan emisi local dan peningkatan kualitas hidup dipusat kota, dapat ditempuh dengan:

a. Pembatasan akses

b. Distribusi barang dan logistik c. Manajemen parkir

4. Peningkatan efisiensi transportasi, dapat ditempuh dengan: a. Integrasi angkutan multi modal

b. Manajemen mobilitas c. Promosi penggunaan sepeda d. Bareng ke kantor

e. Pembatasan akses

f. Promosi penggunaan angkutan umum g. Road pricing

5. Meningkatan daya saing angkutan umum terhadap kendaraan pribadi,dapat ditempuh dengan:

a. Sistem informasi transportasi b. Integrasi angkutan multi moda

c. Manajemen mobilitas d. Bareng kekantor e. Pembatasan akses

f. Promosi penggunaan angkutan umum g. Road pricing

6. Kurangi tekanan parkir, dapat ditempuh dengan: a. Dorong penggunaan sepeda

b. Bareng kekantor c. Manajemen mobilitas d. Manajemen parkir

Keberhasilan pembangunan sangat dipengaruhi oleh peran transportasi seba- gai urat nadi kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Sistem jaringan transportasi dapat dilihat dari segi efektivitas, dalam arti selamat, aksesibilitas tinggi, terpadu, kapasitas mencukupi, teratur, lancar dan cepat, mudah dicapai, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib, aman, rendah polusi serta dari segi efisiensi dalam arti beban publik rendah dan utilitas tinggi dalam satu kesatuan jaringan sistem transportasi.

Oleh karena itu, pengembangan transportasi sangat penting artinya dalam menunjang dan menggerakkan dinamika pembangunan, karena transportasi ber- fungsi sebagai katalisator dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengem- bangan wilayah. Transportasi juga memiliki fungsi strategis dalam merekat integri- tas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jika dilihat dari aspek kepentingan publik, sistem transportasi yang meliputi transportasi darat, laut dan udara mengemban fungsi pelayanan publik dalam skala domestik maupun internasional. Pengembangan transportasi harus didasar- kan pada pengembangan yang berkelanjutan (sustainability), yaitu melihat jauh ke depan, berdasarkan perencanaan jangka panjang yang komprehensif dan berwa- wasan lingkungan. Perencanaan jangka pendek harus didasarkan pada pandangan jangka panjang, sehingga tidak terjadi perencanaan ‘bongkar-pasang’.

Transportasi merupakan komponen utama dalam sistem hidup dan kehidu- pan, sistem pemerintahan, dan sistem kemasyarakatan. Kondisi sosial demografis wilayah memiliki pengaruh terhadap kinerja transportasi di wilayah tersebut. Ting- kat kepadatan penduduk akan memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan transportasi melayani kebutuhan masyarakat. Di perkotaan, kecenderungan yang

terjadi adalah meningkatnya jumlah penduduk yang tinggi karena tingkat kelahiran maupun urbanisasi. Realitas transportasi publik dari kota-kota besar di Indonesia sudah menunjukkan kerumitan persoalan transportasi publik.

Kerumitan persoalan itu menyatu dengan variabel pertambahan jumlah pen- duduk yang terus meningkat, jumlah kendaraan bermotor yang bertambah me- lebihi kapasitas jalan, dan perilaku masyarakat yang masih mengabaikan peraturan berlalu lintas di jalan raya. Kegagalan sistem transportasi mengganggu perkemban- gan suatu wilayah atau kota, mempengaruhi efisiensi ekonomi perkotaan, bahkan kerugian lainnya. Isu-isu ketidaksepadanan misalnya, dapat berakibat pada masalah sosial, kemiskinan (urban/rural poverty) dan kecemburuan sosial. Dampak dari kegagalan sistem transportasi antara lain pembangunan jalan yang menyingkirkan masyarakat akibat pembebasan lahan, perambahan ruang-ruang jalan oleh peda- gang kaki lima, penggunaan ruang jalan untuk parkir secara ilegal, dan makin terp- inggirkannya angkutan-angkutan tradisional seperti becak dan semacamnya yang berpotensi menciptakan kemiskinan kota.

Kemiskinan telah menjerat kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akibat dari sistem transportasi yang tidak mampu melindungi mereka. Sistem transportasi merupakan elemen dasar infrastruktur yang berpengaruh pada pola pengemban- gan perkotaan. Pengembangan transportasi dan tata guna lahan memainkan per- anan penting dalam kebijakan dan program pemerintah. Pengembangan infrastruk- tur dalam sektor transportasi pada akhirnya menimbulkan biaya tinggi. Keterlibatan masyarakat dalam pembenahan atau restrukturisasi sektor transportasi menjadi hal yang mendesak.

Perencanaan transportasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah perencanaan wilayah dan kota. Perencanaan kota tanpa mempertimbang- kan keadaan dan pola transportasi yang akan terjadi sebagai akibat dari perenca- naan itu sendiri, nantinya akan menimbulkan keruwetan lalu lintas di kemudian hari, yang dapat berakibat dengan meningkatnya kemacetan lalu lintas, dan akhirnya meningkatnya pencemaran udara. Beberapa upaya dalam rangka penerapan reka- yasa dan pengelolaan lalu lintas, antara lain perbaikan sistem lampu lalu lintas dan jaringan jalan, kebijaksanaan perparkiran, serta pelayanan angkutan umum.

Rencana tataguna lahan dalam perencanaan wilayah dan kota dipengaruhi oleh rencana pola jaringan jalan, yang akan merupakan pengatur lalu lintas. Jadi ada kaitan antara perencanaan kota dengan perencanaan transportasi. Perencanaan kota mempersiapkan kota untuk menghadapi perkembangan dan mencegah tim-

bulnya berbagai persoalan, agar kota menjadi suatu tempat kehidupan yang layak. Perencanaan transportasi mempunyai sasaran mengembangkan sistem transpor- tasi yang memungkinkan orang maupun barang bergerak dengan aman, murah, cepat, dan nyaman. Jelas, bahwa perencanaan sistem transportasi akan berdampak terhadap penataan ruang perkotaan, terutama terhadap prasarana perkotaanUntuk menghindari dampak bersifat negatif, perlu diterapkan sistem perencanaan yang memadai serta sistem koordinasi interaktif dengan melibatkan berbagai instansi yang terkait.dengan meningkatnya kemacetan lalu lintas,dan akhirnya meningkat- nya pencemaran udara.

Kebutuhan transportasi merupakan pola kegiatan di dalam sistem tataguna la- han yang mencakup kegiatan sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya, yang mem- butuhkan pergerakan sebagai penunjang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Transportasi dan tata guna lahan berhubungan sangat erat, sehingga biasanya di- anggap membentuk suatu land use transport system.

Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik, maka kebutuhan transporta- sinya harus terpenuhi dengan baik. Sistem transportasi yang macet tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya. Sebaliknya transportasi yang tidak me- layani suatu tata guna lahan akan menjadi sia-sia, tidak termanfaatkan.

Kondisi angkutan darat di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Sura- baya juga memerlukan penanganan secara komprehensif dengan melibatkan berba- gai pihak terkait. Kota-kota yang dinobatkan sebagai kota yang sedang giat tumbuh dan berkembang maka bisa dipastikan bahwa ke depannya nanti kota tersebut akan dipenuhi oleh kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) sebagai moda angku- tan yang dipilih masyarakat karena sifatnya yang cepat, efisien, dan dapat melam- bangkan status dirinya sebagai seorang yang sukses dalam menjalani kehidupan yang menjalankan nilai-nilai modernitas. Ketika pelayanan bus merosot, orang akan berusaha mendapatkan kendaraan pribadi baik itu mobil maupun motor.

Dengan meningkatnya perjalanan pribadi maka kemacetan semakin meningkat dan perjalanan menjadi lambat atau kecepatan menjadi berkurang. Dengan mero- sotnya kecepatan bus, produktivitas akan merosot dan biaya menjadi lebih besar. Karena biaya naik maka ongkos bus juga harus naik atau pelayanan disubsidi atau dicabut harus disubsidi atau dicabut. Naiknya ongkos angkutan atau dicabutnya pe- layanan akan mengantar pada penurunan yang akan mengantar pada minat naik bus yang akan mengantar pada lebih banyaknya perjalanan dengan kendaraan pribadi dan kemacetan yang lebih parah. Fasilitas yang ada dalam angkutan pub-

lik, bus kota, angkot (mikrolet/bemo) masih belum memberikan kenyamanan bagi penggunanya.

Pergerakan (manusia/barang) ini memerlukan sarana (moda angkutan) maupun prasarana (media tempat moda angkutan dapat bergerak) meliputi jalan raya, jalan rel, terminal bis, setasiun kereta api, pelabuhan udara, dan pelabuhan laut. Inter- aksi antara kebutuhan transportasi dan prasarana transportasi akan menghasilkan pergerakan (manusia dan/atau barang) dalam bentuk lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki, yang untuk pengaturannya diperlukan penerapan sistem rekayasa dan pengelolaan lalu lintas.

Keterpaduan antar moda dapat berupa keterpaduan fisik, yaitu titik simpul per- temuan antar moda terletak dalam satu bangunan, misalnya bandara, terminal bus dan stasiun kereta api merupakan satu bangunan atau terletak berdekatan atau ket- erpaduan sistem, yaitu titik simpul dari masing-masing moda tidak perlu pada satu bangunan, tetapi ada suatu sitem jaringan transportasi yang menghubungkan titik simpul antar moda, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh. Keterpaduan secara sistem juga menyangkut jadual keberangkatan, pelayanan pembelian karcis serta pengelolaannya.

Keterpaduan antarmoda juga akan meningkatkan penggunaan angkutan umum. Dengan keterpaduan tersebut, akan memudahkan perjalanan, walaupun harus ber- ganti moda sampai beberapa kali. Berdasarkan jenis/moda kendaraan, sistem jarin- gan transportasi dapat dibagi atas transportasi darat, laut dan udara. Transportasi darat terdiri dari transportasi jalan, penyeberangan dan kereta api. Kesemua moda tersebut harus merupakan satu kesatuan.

Pemilihan model transportasi pada dasarnya ditentukan dengan mempertim- bangkan salah satu persyaratan pokok, yaitu “pemindahan barang dan manusia di- lakukan dalam jumlah yang terbesar dengan jarak yang terkecil”. Namun, terdapat permasalahan yang paling penting terkait adanya isu global warming, yaitu adanya dampak lingkungan terhadap semakin ketidakteraturannya sistem transportasi yang mengakibatkan semakin tingginya tingkat polusi. Dampak lingkungan akibat aktivitas transportasi baik yang secara langsung maupun tidak secara langsung dira- sakan oleh masyarakat telah mencapai tingkat yang mengkuatirkan apabila tidak dilakukan upaya-upaya penanganan.

Transportasi ramah lingkungan (green transport) atau lebih dikenal dengan sistem transportasi berkelanjutan (sustainable transportation)merupakan suatu gerakan yang mendorong pengurangan kebutuhan perjalanan dan ketergantun-

gan masyarakat terhadap penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Sistem ini lebih mudah terwujud pada sistem transportasi yang berbasis pada penggunaan ang- kutan umum dibandingkan dengan sistem yang berbasis pada penggunaan ken- daraan pribadi. Sistem transportasi berkelanjutan merupakan tatanan baru sistem transportasi di era globalisasi saat ini.

Dalam dokumen ManajeMen transportasi dalaM kajian dan teori (Halaman 101-107)