3 METODOLOG
3.5 Analisis Data
3.5.2 Strategi Pengelolaan Perikanan Karang
Hasil evaluasi tentang status pengelolaan ikan karang merupakan input penting bagi perancangan strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Status pengelolaan ikan karang yang telah sampai pada tahap berkelanjutan memiliki strategi yang berbeda dengan status perikanan yang belum berkelanjutan pada tataran aplikasi strategi.
32
Kekuatan Bobot Peluang Bobot Kelemahan Bobot Ancaman Bobot S1 S2 S3 S4 S5 . . Sn O1 O2 O3 O4 O5 . . On W1 W2 W3 W4 W5 . . Wn T1 T2 T3 T4 T5 . . Tn Peluang Ancaman Kekuatan SO1 SO2 SO3 . . Son ST1 ST2 SO3 . . STn Kelemahan WO1 WO2 WO3 . . Won WT1 WT2 WT3 . . WT4
Rancangan strategi yang akan diterapkan dianalisis menggunakan metoda analisis SWOT (Strengh Weakness Opportunity Threat). Analisis ini didahului oleh proses identifikasi faktor eksternal dan internal pengelolaan sumberdaya ikan karang. Untuk menentukan strategi yang terbaik, dilakukan pembobotan terhadap tiap unsur SWOT berdasarkan tingkat kepentingan. Bobot/nilai yang diberikan berkisar antara 1 - 5. Nilai 1 berarti tidak penting, 2 berarti sedikit penting, 3 berarti cukup penting, 4 berarti penting dan 5 berarti sangat penting. Berikut disajikan matriks pembobotan dari tiap unsur SWOT :
Tabel 5. Pembobotan tiap unsur SWOT
Keterangan:
Nilai 5 = Sangat Penting Nilai 4 = Penting
Nilai 3 = Cukup Penting Nilai 2 = Kurang Penting Nilai 1 = Tidak Penting
Setelah masing-masing unsur SWOT diberi bobot/nilai, unsur-unsur tersebut dihubungkan untuk memperoleh beberapa alternatif strategi (SO, ST, WO, WT) (Tabel 6). Pemilihan alternatif strategi yang diproritaskan untuk dilakukan didasarkan pada rangking dari masing-masing strategi alternatif. Strategi dengan rangking tertinggi merupakan alternatif strategi yang menjadi prioritas.
No Unsur SWOT Keterkaitan Jumlah
Bobot Rangking
Strategi SO
1. SO1 S1, S2, ..Sn , O1, O2, On
SO2 S1,S2, ..Sn, O1, O2, ..On
... ...
SOn S1, S2, S4, Sn, O1, O2,
...On Strategi ST ST1 S1, S2,.. Sn, T1, T2,..Tn ST2 S1, S2,.. Sn, T1, T2,..Tn ... STn S1, S2,.. Sn, T1, T2,..Tn Strategi WO
WO1 W1, W2, ..Wn, O1, O2,
..Wn
WO2 W1, W2, ..Wn, O1, O2, ..On
... ...
WOn W1, W2, ..Wn, O1, O2, ..On
Strategi WT WT1 W1, W2, Wn, T1, T2, ...Tn WT2 W1, W2, ....Wn, T1, T2, ...Tn ... . ... .. ... n WTn W1, W2, ....Wn, T1 , T2,.... Tn
Alternatif strategi pada matriks hasil analisis SWOT (Tabel 7) dihasilkan dari penggunaan unsur-unsur kekuatan untuk mendapatkan peluang yang ada (SO), penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (ST), reduksi kelemahan yang ada dengan memanfaatkan peluang yang tersedia (WO) dan pengurangan kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (WT).
Strategi yang dihasilkan terdiri atas beberapa alternatif strategi. Untuk menentukan prioritas strategi yang harus dilakukan, maka dilakukan penjumlahan bobot yang berasal dari keterkaitan antara unsur-unsur SWOT yang terdapat dalam suatu alternatif strategi. Jumlah bobot tadi kemudian akan menentukan rangking prioritas alternatif strategi pengelolaan perikanan karang.
4 GAMBARAN KONDISI KEPULAUAN AYAU
4.1 Keadaan Geografis, Topografi dan Klimatologi
Kabupaten Raja Ampat merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. Kabupaten ini terdiri atas gugusan pulau besar dan kecil berjumlah 610 buah pulau dengan luas wilayah mencapai 46.108.km2. Dari jumlah tersebut tidak semua pulau-pulau di wilayah ini berpenghuni. Secara geografis hamparan pulau-pulau tersebut terletak pada posisi 00,33” LU – 01 LS dan 124 30,00”BT. Adapun batas- atas wilayah sebagai berikut :
(1) Sebelah utara berbatasan dengan Negara Palau; (2) Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Seram; (3) Sebelah timur berbatasan dengan Kab.Sorong; dan (4) Sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Maluku Utara.
Gugusan kepulauan yang berbatasan langsung dengan Negara Palau di Samudra Pasifik dikenal dengan sebutan Kepulauan Ayau. Kepulauan Ayau terdiri atas 5 distrik, yaitu (1) Distrik Dorekhar, (2) Distrik Meosbekwan, (3) Distrik Yenkawir, (4) Distrik Reni dan (5) Distrik Rutum. Dari kelima distrik tersebut, Distrik Dorekhar memiliki wilayah yang paling luas mencapai 265,2 ha, sedangkan distrik yang wilayahnya paling sempit adalah Distrik Rutum dengan luas wilayah hanya 5,42 ha.
Dilihat dari topografinya, wilayah Kepulauan Ayau merupakan daerah pesisir dengan pantai yang landai dan daerah perbukitan batu yang umumnya digunakan oleh penduduk setempat untuk berkebun. Kondisi tanah di wilayah ini umumnya tanah berongga dan tanah berpasir sehingga tanaman yang dapat tumbuh subur hanyalah tanaman keras seperti kelapa dan sukun. Dengan keterbatasan luas wilayah yang dapat ditanami dengan tumbuhan sebagian penduduk ada yang berinisiatif untuk mengangkut tanah dari bukit yang kemudian diletakkan di ember atau baskom sehingga menjadi wadah tempat menanam berbagai tanaman rempah untuk keperluan masak.
Kepulauan Ayau pada umumnya terletak di garis katulistiwa sehingga daerah ini merupakan daerah tropis dengan udara yang sangat panas serta curah hujan yang cukup tinggi. Iklim daerah ini dipengaruhi oleh lima musim, yang terjadi selama satu sampai empat bulan tiap musimnya. Musim angin
selatan (warn brawe) terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Setelah musim tersebut berlalu dilanjutkan dengan musim angin barat laut selama 4 bulan hingga Desember. Masih pada bulan Desember terjadi musim barat yang berlangsung hanya 8 hari. Pada bulan Januari-Maret angin bertiup dari arah utara sehingga oleh masyarakat sekitar mengenal dengan musim angin utara (wam sios). Setelah periode angin utara berakhir dilanjutkan dengan musim angin timur (wam urem) yang berlangsung pada bulan April-Juni.
4.2 Kependudukan
Penduduk Kepulauan Ayau pada umumnya berasal dari Kepulauan Biak yang datang secara bertahap ke beberapa pulau yang berada disekitarnya; termasuk Kepulauan Ayau yang termasuk wilayah Administrasi Kabupaten Raja Ampat. Berdasarkan hasil kajian sejarah yang diperoleh, penyebab utama migrasi penduduk Kepulauan Biak ke Ayau disebabkan berkecamuknya perang suku di daerah Biak yang menyebabkan tatanan kehidupan menjadi kurang kondusif. Gerakan penduduk yang pertama masuk Kepulauan Ayau merupakan gelombang ke tiga dari empat gelombang migran biak yang masuk ke Kepulauan Raja Ampat. Imigran yang bermukim di Kepulauan Ayau termasuk dalam kelompok Usba.
Pada perkembangan selanjutnya ada dua alasan terjadinya mobilitas penduduk ke Kepulauan Ayau. Pertama, alasan tugas kedinasan yang mengharuskan mereka pindah ke wilayah ini. Kedua, adanya hubungan perkawinan yang secara adat mengharuskan istri masuk ke kelompok suami.
Akhir-akhir ini, mobilitas penduduk Kepulauan Ayau yang keluar cenderung mengalami peningkatan. Tujuan utama perpindahan ini adalah melanjutkan pendidikan di Kota Sorong atau kota-kota lain di Indonesia. Pada umumnya, setelah menyelesaikan pendidikan formal tidak kembali ke daerah asal dengan alasan tuntutan pekerjaan.
Mayoritas penduduk di Kepulauan Ayau bermata pencaharian sebagai nelayan dan beberapa diantaranya PNS dengan profesi sebagai guru dan pegawai kantor desa. Walaupun sebagai PNS, pekerjaan sampingan mereka adalah sebagai nelayan.
36
Pada tahun 2002, jumlah penduduk di kelima distrik tersebut adalah 2.299 jiwa. Penduduk terbanyak bermukim di Distrik Dorekhar sedangkan yang paling sedikit bermukim di Distrik Meosbekwan. Komposisi penduduk didominasi penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 62 % (Tabel 8).
Tabel 8. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kepulauan Ayau
No Distrik Jumlah
KK
Pria Wanita Jumlah
1. Yenkawir 45 130 112 240 2. Reni 75 190 150 340 3. Rutum 115 286 304 590 4. Meosbekwan 46 108 102 210 5. Dorekhar 230 790 679 1 469 Jumlah 511 1 504 1 309 2 299
Sumber : Sinar Sakti Nusaraya, 2002
4.3 Kelembagaan Sosial, Ekonomi dan Budaya
Pada saat ini kelembagaan yang masih berfungsi untuk masyarakat Kepulauan Ayau hanya kelembagaan gereja dan kelembagaan adat sedangkan kelembagaan yang didisain oleh pemerintah-pemerintah seperti lembaga desa atau PKK sudah tidak berjalan dengan semestinya.
Keadaan ini tercermin dari kondisi fisik gedung yang buruk serta kegiatan administratif yang sudah tidak berjalan. Dampak dari kondisi tersebut adalah tidak terdatanya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peran dan fungsi kelembagaan. Salah satu gambaran yang dapat diberikan adalah lebih sulitnya memperoleh data kependudukan di lembaga pemerintah dibandingkan dari lembaga gereja maupun lembaga-lembaga adat
Dari tiga lembaga yang dianggap sebagai motor penggerak di masyarakat desa, yaitu sosial, budaya dan ekonomi, hanya lembaga sosial dan budaya yang berfungsi di Kepulauan Ayau. Lembaga sosial dan budaya dapat dianggap sebagai suatu kesatuan karena dalam konteks pelaksanaan aktivitas berjalan bersama-sama.
1) Lembaga gereja
Lembaga gereja di Pulau Ayau berada bawah organisasi Gereja Kristen Injil. Organisasi ini didirikan sekitar tahun 1934. Secara struktural, gereja ini berada dibawah klasis GKI-Sorong sehingga pendeta didatangkan khusus dari Sorong untuk memberikan bimbingan kepada umat pada acara-acara tertentu.
Aktivitas harian gereja dipimpin oleh ketua dan wakil ketua serta diikuti oleh kelompok anggota gereja. Pengelompokan anggota gereja didasarkan pada kelompok umur ataupun kesaman keret atau marga.
Keberadaan kelompok-kelompok gereja ini menunjukkan hal positif bagi persatuan masyarakat, karena keputusan-keputusan yang ada akan dikaitkan dengan kenyataan masyarakat. Jika terjadi perselisihan antar masyarakat, antar
keret atau desa maka permasalahan tersebut akan diselesaikan oleh gereja. Oleh karena itu, keberadaan kelompok gereja ini dapat dianggap sebagai akses yang cukup signifikan untuk pengembangan program masyarakat yang berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan pengembangan ekonomi.
Salah satu contoh aplikasi peran lembaga gereja dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah sasi atau yang dalam bahasa lokal disebut kabus. . Penetapan dan penggunaan sasi di Kepulauan Ayau serupa dengan sasi yang diterapkan masyarakat di Maluku. Sasi diterapkan dengan tujuan agar pemanfaatan potensi alam dapat dilakukan secara berkelanjutan. Sasi
merupakan aturan dan strategi sosial untuk mengelola lingkungan secara efektif, guna memastikan:
(1) Kesempatan yang adil dan sama bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan hasil dan manfaat dari kawasan laut dan darat yang dijaga;
(2) Kesinambungan pengelolaan sumber daya yang tersedia;
(3) Kesempatan yang sama bagi masyarakat lokal untuk memperoleh mamfaat tambahan dari biota laut.
Dalam sasi dikenal istilah buka dan tutup sasi. Tutup sasi adalah pelarangan mengambil/mengeksploitasi sumber daya yang di sasi selama kurung waktu tertentu. Buka sasi adalah masa untuk mengambil/mengeksploitasi sumber daya yang di sasi secara bersama. Hasil ini digunakan untuk keperluan bersama.
Ada dua macam sasi, yaitu sasi adat dan sasi gereja. Sasi adat adalah sasi yang dibuat oleh kelompok adat, sedangkan sasi gereja adalah sasi yang disahkan oleh gereja. Menurut seorang nara sumber saat ini sasi adat sudah tidak dipergunakan lagi, karena tidak ada sanksi yang mengikat. Jenis sasi yang masih bertahan hingga saat ini hanyalah sasi gereja.
38
2) Lembaga Kerabat “Keret”
Keret yang dalam bahasa umum disebut marga, merupakan suatu kelembagaan sosial yang mempunyai peran yang cukup besar dalam mengatur kehidupan anggotanya. Bahkan secara luas, keret turut berperan dalam pengaturan masyarakat desa, terutama aturan-aturan yang berkaitan dengan hubungan antar masyarakat. Penentuan hak ulayat terhadap tanah dan laut merupakan salah satu contoh wewenang keret dalam masyarakat. Dalam pemanfaatan lahan, setiap anggota keret mempunyai hak yang sama, namun tidak diperbolehkan memilikinya. Sedangkan dalam perkawinan, keret
mempunyai peran yang penting mengingat sistem perkawinan yang berlaku adalah eksogam yaitu incest untuk melakukan perkawinan dalam satu keret.
Kelembagaan keret ini, selain mengatur anggota dalam penggunaan lahan, hasil laut, hubungan kekerabatan dalam perkawinan, dapat juga dimanfaatkan untuk pensosialisasian program yang masuk desa ini. Melalui kelompok keret
akan lebih mudah mengumpulkan masyarakat, karena akan mengikuti anjuran ketua, yang biasanya adalah orang tertua atau yang dituakan dalam kelompok. Keuntungan lain dari eksistensi kelembagaan keret adalah kemampuan meredam konflik sosial yang mungkin terjadi karena adanya hubungan antar
keret karena perkawinan. Sifat hubungan ini meniciptakan hubungan kerabat baru yang harus saling menjaga keharmonisan.
4.4 Sarana-Prasarana dan Aksesibilitas 1) Transportasi
Letak Kepulauan Ayau yang ada di tengah laut menjadikan kapal dan perahu sebagai moda transportasi utama di wilayah tersebut. Untuk mencapai Kota Sorong yang berjarak 130 mil laut diperlukan waktu 8-9 jam perjalanan dengan menggunakan kapal motor 40 PK.
Sarana transportasi dari kampung ke Ibukota kecamatan atau ibukota Kabupaten sangat minim. Pada saat ini tidak ada angkutan laut yang secara reguler melayani penduduk. Akibat kelangkaan sarana transportasi tersebut penduduk secara turun-temurun mengusahakan kapal angkutan secara kolektif. Kapal tersebut terutama digunakan untuk keperluan perdagangan.
Antara tahun 1990 sampai 1999 ada kapal perintis yang dimiliki perusahaan swasta beroperasi melayani pengangkutan penumpang dan barang
ke Sorong. Pada saat itu masyarakat kampung merasa sangat terbantu dengan beroperasinya kapal tersebut, meskipun pelayaran hanya diadakan dua kali dalam sebulan. Setelah kapal perintis tersebut tidak beroperasi lagi, penduduk secara bergotong-royong kembali mengusahakan kapal dengan kapasitas 20-30 orang dan 3 ton barang dengan mesin berkekuatan 40 PK. Paling sedikit sebulan sekali kapal tersebut digunakan oleh penduduk pergi ke Sorong untuk kepentingan perdagangan.
2) Kesehatan
Seperti halnya sarana trasportasi, kondisi sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Kepulauan Ayau sangat terbatas. Puskesmas hanya dapat ditemui di Distrik Dorekhar. Kondisi puskesmas pembantu yang serba terbatas baik peralatan maupun obat-obatan sangat menyulitkan penduduk untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai. Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya transportasi khusus untuk mencapai rumah sakit atau puskesmas di kota distrik sehingga biaya yang dibutuhkan menjadi sangat besar.
Untuk melayani kepentingan kesehatan masyarakat pulau, pengelolaan puskesmas hanya diserahkan pada seorang Mantri. Petugas kesehatan lainnya adalah dukun terlatih yang khusus bertugas membantu ibu-ibu hamil sampai masa kelahiran. Disamping Puskesmas, masyarakat juga mempunyai kegiatan posyandu meski tidak dapat berjalan sesuai jadwal yang direncanakan.
3) Agama
Sarana ibadah yang dapat ditemui di wilayah Kepulauan Ayau adalah gereja yang berada di pusat desa. Bangunan gereja ada dua, yaitu bangunan lama dan bangunan baru. Bangunan lama telah ada sejak pekabaran injil masuk ke Pulau Ayau, namun karena dianggap sudah tidak layak maka dibangun gereja baru sekitar tahun 2001. Pembangunan gereja didanai oleh YKI Silo dan sumbangan penduduk serta pengumpul ikan.
Struktur pengurus gereja terdiri atas ketua dan wakil ketua yang berwenang untuk pengaturan kegiatan gereja dan jemaatnya. Selain kegiatan ibadah yang berlangsung setiap minggu, gereja juga melaksanakan sekolah minggu bagi anak-anak sampai tingkat remaja. Sesuai dengan jumlah keretyang ada, dibentuk pula lima perkumpulan ibadah yang mempunyai kegiatan sembahyang dan doa setiap minggu. Perkumpulan ini berfungsi juga sebagai wadah untuk membantu anggota yang mempunyai hajat.
40
Dalam perkembangannya, kegiatan keagamaan juga merupakan sarana untuk berkumpulnya bapak-bapak, ibu-ibu, dan remaja. Setiap penduduk menjadi anggota berdasarkan kategori golongan/kelompok umur, seperti PWGKI (Persekutuan Wanita Gereja Kristen Injili), PAMGKI (Persektuan Angkatan Muda Gereja Kristen Injili), PKBGKI (Persekutuan Kaum Bapak Gereja Kristen Injili), PARGKI (Persekutuan Anak dan Remaja Gereja Kristen Injili). Kegiatan yang dilakukan oleh berbagai persekutuan di atas berkaitan dengan aktivitas keagamaan dan moral bagi remaja dan kadang-kadang diikuti dengan aktivitas sosial atau sosialisasi program pemerintah untuk masyarakat.
4) Ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat Kepulauan Ayau sebahagian besar terkonsentrasi pada kegiatan perikanan. Kegiatan ekonomi seperti perdagangan hanya bersifat sampingan untuk menunjang kebutuhan rumah tangga. Terbatasnya gerak ekonomi masyarakat tercermin dari keterbatasan sarana dan prasarana ekonomi di wilayah tersebut sehingga mempengaruhi aksesibilitas masyarakat terhadap sarana ekonomi. Sarana dan prasarana yang berkaitan dengan perikanan hanyalah dermaga tambat yang dikelola pengusaha asal Sorong. Fasilitas ekonomi seperti pasar atau tempat pelelangan ikan bahkan belum tersedia.
Sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan perdagangan tidak berdiri secara khusus dalam bentuk toko ataupun warung. Aktivitas jual-beli dilakukan dalam rumah yang lokasinya hanya diketahui penduduk desa. Jenis barang yang diperdagangkan di “warung” sangat bervariasi mulai kebutuhan rumah tangga, sekolah sampai keperluan melaut.
5) Pendidikan
Fasilitas pendidikan yang ada di Kepulauan Ayau hanya tersedia sampai tingkatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, masyarakat harus pergi ke Distrik Waigeo Selatan ataupun Kota Sorong.
Jumlah Sekolah Dasar di wilayah ini hanya 5 buah, dan berada di masing-masing pulau. Pengelolaan sekolah dasar tersebut umumnya dikendalikan oleh Yayasan. Rata-rata tiap kelas dihuni oleh sekitar 7-10 orang murid. Pada tahun 1999 didirikan SLTP 2 Waigeo Utara yang berlokasi di Distrik Dorekhar. Pendirian sekolah ini utamanya untuk menampung anak-anak wilayah
Kepulauan Ayau setelah tamat sekolah dasar. Keberadaan SLTP di wilayah ini merupakan akses yang sangat penting bagi penyebaran informasi bagi generasi muda.
4.5 Kondisi Sumberdaya Alam di Darat
Dibandingkan dengan sumberdaya alam yang berada di laut, Sumberdaya alam di darat tersedia dalam jumlah yang sangat minim. Jenis flora maupun fauna yang dapat hidup di wilayah ini tidak beragam. Jenis tumbuhan hanya terdapat di perkebunan dan pekarangan. Perkebunan umumnya terletak di daerah pegunungan dengan komoditas utama adalah kelapa dan sukun. Hasil tanaman kelapa maupun sukun hanya dikonsumsi oleh penduduk setempat, dan sangat jarang dipasarkan ke Kota Sorong. Hal ini disebabkan jarak daerah pemasaran yang sangat jauh serta sulitnya mendapatkan sarana transportasi sehingga berdampak pada fisibilitas usaha pemasaran hasil bumi yang cukup rendah. Pengecualian pada hasil olahan kelapa yang telah dijadikan minyak dengan teknologi sederhana sering dipasarkan ke Kota Sorong.
Jenis tumbuhan lainnya seperti pepaya, singkong, talas, sukun, pisang, tebu dan jeruk nipis bukan merupakan komoditas utama yang ditanam masyarakat Kepulauan Ayau. Tumbuhan ini hanya sebagai tanaman pekarangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Keterbatasan sumberdaya di darat yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan primer menyebabkan bahan pangan seperti sagu dan beras harus didatangkan dari pulau besar (Pulau Waigeo) maupun dari Kota Sorong.
Tumbuhan spesifik yang banyak terdapat di Kepulauan Ayau adalah akar bore. Oleh penduduk Ayau, tumbuhan ini digunakan sebagai bahan untuk membius saat menangkap napoleon (C. undulatus), kerapu (Epinephelus sp) dan lobster. Menurut penduduk setempat cara penangkapan ikan dengan menggunakan akar bore telah dilakukan sejak zaman dahulu, namun tidak diketahui secara pasti awal penggunaan akar bore untuk menangkap ikan.
Seperti halnya flora yang ada di Kepulauan Ayau, kondisi fauna di darat baik fauna yang spesifik maupun jenis binatang peliharaan tidak beragam. Fauna spesifik adalah beberapa jenis burung kakatua dan burung nuri serta kokus. Kokus adalah binatang yang menyerupai koala, berbulu lembut dan halus serta hidup di pepohonan. Ternak yang biasa dipelihara oleh sebahagian penduduk adalah babi, namun tidak dalam jumlah yang besar. Binatang ini
42
ditempatkan pada kandang di sepanjang pesisir pantai di depan rumah. Ternak lain yang juga dipelihara oleh penduduk adalah ayam, tetapi juga dalam jumlah terbatas.
4.6 Keadaan Umum Perikanan Kepulauan Ayau 4.6.1 Potensi Sumberdaya Perikanan
Kondisi topografi wilayah yang dikelilingi laut menjadikan wilayah Kepulauan Ayau memiliki sumberdaya laut yang relatif besar. Mayoritas penduduk di Kepulauan Ayau menggantungkan hidupnya pada sumberdaya laut khususnya kegiatan penangkapan ikan, walaupun kegiatan pariwisata bahari memiliki prospek untuk dikembangkan.
Jenis sumberdaya laut yang dihasilkan oleh nelayan Ayau dapat dibedakan menjadi 3 ketegori, yaitu ikan karang, ikan pelagis dan sumberdaya selain ikan. Jenis ikan pelagis yang banyak ditangkap oleh nelayan diantaranya lencam (Gulita), bobara (Kuwi), belanak (Mugil cephalus), kulit pasir (Uma), ikan samandar (Inwones). Adapun sumberdaya lain selain ikan yang banyak diusahakan adalah lobster, cacing laut, kerang-kerangan, teripang dan gurita. Penjelasan mengenai komoditas ikan karang dapat dilihat pada Bab 5.
Potensi sumberdaya perairan di kepulauan ayau tidak terbatas pada berbagai komoditas seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Sumberdaya laut lainnya yang banyak diproduksi oleh penduduk adalah cacing tanah, pia-pia dan rumput laut. Budidaya rumput laut di Kepulauan Ayau mulai dilakukan pada tahun 1999. Hanya saja aktivitas ini di beberapa distrik kurang memberikan hasil yang memuaskan baik mutu maupun kuantitasnya, kecuali rumput laut yang dibudidayakan di Distrik Yenkawir . Hal ini terjadi karena kondisi perairan yang kurang sesuai dan kurang tekunnya masyarakat dalam memelihara rumput laut.
Produksi sumberdaya laut, khususnya ikan sangat dipengaruhi musim. Pada saat musim puncak yang berlangsung pada bulan September sampai Desember. Hasil tangkapan nelayan pada periode tersebut dapat meningkat sekitar 200% dari keadaan normal. Pada bulan-bulan tersebut nelayan berusaha keras untuk mendapatkan ikan lebih banyak, yang hasilnya digunakan untuk masa paceklik. Periodisasi penangkapan ikan di Kepulauan Ayau dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9. Periodisasi penangkapan ikan di wilayah Kepulauan Ayau
Musim Bulan Keterangan
Angin Selatan (Wam brawe) Juli- Agustus
Dapat melaut, hasil tidak banyak karena masih ada pengaruh angin timur
Angin Barat Laut (WAm barek) September- Desember
Musim banyak ikan yang diawali pada akhir bulan September
Angin Barat (Wam meres) Desember Ikan mulai sulit diperoleh Angin Utara (Wam sios) Januari-Maret Ikan Sulit diperoleh
Angin Timur (Wam urem) April-Juni
Angin sangat keras, perolehan ikan sedikit bahkan tidak dapat melaut
4.6.2 Metode Penangkapan Ikan
Potensi sumberdaya laut Kepulauan Ayau yang didominasi komoditas ikan karang berpengaruh terhadap variasi metode penangkapan yang digunakan oleh nelayan. Ada sembilan metode penangkapan yang umumnya digunakan oleh nelayan di Kepulauan Ayau, yaitu (1) potasium, (2) akar bore, (3) pancing ulur, (4) pancing tonda, (5) bubu, (6) jaring insang (7) senapan ikan, (8) jerat dan (9) tombak. Dari keseluruhan jenis alat tangkap tersebut hanya jerat dan tombak yang tidak digunakan oleh nelayan sekitar untuk menangkap ikan karang. Berikut penjelasan teknologi penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan di Kepulauan Ayau untuk menangkap komoditas selain ikan karang.