1. Analisis Faktor Internal dan Faktor Eksternal Agroindustri Jamu Instan di Kabupaten Karanganyar
Analisis faktor internal bertujuan untuk mengidentifikasi faktor- faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan di dalam pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Sedangkan analisis faktor eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman bagi pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Identifikasi faktor internal dan faktor eksternal dalam mengembangkan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar menggunakan analisis SWOT. Data untuk analisis faktor internal dan faktor eksternal didapat melalui wawancara dengan responden.
Faktor internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Kekuatan yang dimiliki oleh agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar antara lain adalah produk jamu instan yang berkualitas, sebagian bahan baku dari lahan sendiri, bahan baku tdk tergantung musim, produk berkhasiat dan mempunyai manfaat, proses produksi mudah, peralatan produksi tersedia dan mudah didapat, sudah ada kelembagaan (klaster biofarmaka), dan harga terjangkau,. Sedangkan kelemahan yang dimiliki oleh agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar antara lain adalah modal kecil, kemasan konvensional, peralatan produksi sederhana/tradisional, produk belum ada lisensi atau ijin dari pom, kemampuan sdm belum memadai, masa kadaluarsa produk belum dapat teridentifikasi dan pemasaran belum optimal.
Faktor eksternal meliputi peluang dan ancaman yang dimiliki agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Peluang yang dimiliki oleh agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar antara lain adalah masyarakat semakin memperhatikan produk herbal (tren back to nature),
commit to user
potensi daerah penghasil empon-empon (biofarmaka), potensi permintaan tinggi dan perhatian pemerintah terhadap pengembangan agroindustri jamu instan. Sedangkan ancaman yang dimiliki oleh agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar antara lain adalah berkembang produk jamu instan diluar wilayah, persaingan dengan produk jamu instan yang lain, dan harga bahan baku fluktuatif.
2. Perumusan Strategi Pengembangan Agroindustri Jamu Instan di Kabupaten Karanganyar
Strategi pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar dirumuskan dengan menggunakan Matriks SWOT. Matriks SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman dari faktor eksternal yang dihadapi oleh suatu agroindustri dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Hasil dari analisis SWOT agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar kemudian diolah menggunakan Matriks SWOT. Strategi pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada Tabel 24 berikut.
Tabel 24. Matriks SWOT Strategi Pengembangan Agroindustri Jamu Instan di Kabupaten Karanganyar, 2011.
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Kekuatan-S (Strengths)
1. Produk jamu instan yang
berkualitas
2. Sebagian bahan baku dari
lahan sendiri
3. Bahan baku tidak tergantung
musim
4. Produk berkhasiat dan
mempunyai manfaat
5. Proses produksi mudah
6. Peralatan produksi tersedia
dan mudah didapat
7. Sudah ada kelembagaan
(klaster biofarmaka)
8. Harga produk terjangkau
Kelemahan-W (Weaknesses)
1. Modal kecil
2. Kemasan konvensional
3. Peralatan Produksi
sederhana/tradisional
4. Produk Belum ada lisensi
atau ijin dari POM
5. Kemampuan SDM belum
memadai
6. Masa kadaluarsa produk
belum dapat teridentifikasi
7. Pemasaran belum optimal
Peluang-O (opportunities)
1.Masyarakat semakin
memperhatikan produk herbal (Tren back to nature)
2.Potensi daerah penghasil
empon-empon (biofarmaka)
3.Potensi permintaan tinggi
4.Perhatian pemerintah
terhadap pengembangan Agroindustri Jamu Instan
Strategi S-O
1. Meningkatkan dan
mempertahankan kualitas dan kuantitas produk jamu instan
serta efisiensi penggunaan
sarana dan prasarana produksi. (S1,S2,S3,S4,S5,S6,S8,O1, O2,O3,O4)
2. Memperkuat serta
mengembangkan kelembagaan
yang sudah ada (Klaster
Biofarmaka) (S7,O1,O2,O3,O4)
Strategi W-O
1. Penguatan modal dan adopsi
teknologi modern untuk menunjang proses produksi yang efisien.
(W1,W3,W5,O1,O2,O3,O4)
2. Peningkatan promosi untuk
meningkatkan pemasaran produk jamu instan (W2,W4,W5,W6,W7, O1,O3)
Ancaman-T (threats)
1. Perkembangan produk
jamu instan diluar wilayah
2. Persaingan dengan
produk jamu instan yang lain
3. Harga bahan baku
fluktuatif
Strategi S-T
1. Peningkatan akses bahan baku
lokal yang berkualitas dengan
harga yang terjangkau
(S2,S3,S7,T1,T2,T3)
2. Peningkatan kemampuan
produsen dalam inovasi produk jamu instan dengan harga yang
terjangkau pasar.
(S1,S2,S3,S4,S5,S6, T1,T2,T3)
Strategi W-T
1. Meningkatkan kualitas
pengusaha agroindustri jamu instan melalui kegiatan pembinaan untuk
memaksimalkan produksi dan daya saing produk jamu instan. (W2,W3,W5,W7,T1,T2,T3)
2. Membuat lisensi atau ijin dari
badan POM dan membuat kemasan yang menarik. (W2,W4,W6, T1,T2)
Sumber : Analisis data Primer, 2011.
Matriks SWOT pada Tabel 24 menghasilkan beberapa alternatif strategi yang dapat digunakan untuk pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Setelah mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dalam mengembangkan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar dengan menggunakan matriks SWOT, maka diperoleh beberapa alternative strategi yang dapat dipertimbangkan untuk pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar, antara lain adalah sebagai berikut:
commit to user
a. Strategi S-O
Strategi S-O (Strength-Opportunity) atau strategi kekuatan- peluang adalah strategi yang menggunakan kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang eksternal. Alternatif strategi S-O yang dapat dirumuskan adalah :
1) Meningkatkan dan mempertahankan kualitas dan kuantitas produk jamu instan serta efisiensi penggunaan sarana dan prasarana produksi.
Kualitas dan kuantitas produksi jamu Instan merupakan hal yang sangat penting bagi agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar karena sangat berkaitan dengan kepercayaan pelanggan, jika pelanggan merasa tidak puas maka dengan mudah pelanggan tersebut berpindah ke produsen lain. Dengan demikian, perlu adanya strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produksi jamu Instan di Kabupaten Karanganyar.
Kualitas produk merupakan salah satu pertimbangan suatu produk dapat diterima pasar. Agar produk tersebut dapat bersaing di pasar, maka kualitas harus menjadi perhatian setiap pengusaha. Dalam upaya mempertahankan usahanya pengusaha harus mampu menjaga kualitas produk jamu instan sehingga dapat menjaga loyalitas konsumen. Untuk itu, pengusaha perlu melakukan seleksi dalam memilih bahan baku yang akan digunakan. Pengusaha harus menetapkan standar atau kriteria bahan baku yang baik agar tetap dapat mempertahankan kualitas jamu instan yang dihasilkan. Sebagai contoh, kriteria yang baik sebagai bahan baku untuk tanaman rimpang – rimpangan (jahe, kunyit, kunir dll) adalah rimpang besar, tua (umur 8 – 10 bulan), bagus tidak rusak atau busuk dan tidak terkena cemaran bahan asing (pasir, kerikil, dll).
Pengusaha agroindustri jamu instan juga dapat bekerja sama dengan lembaga akademik terdekat (Universitas Sebelas Maret)
untuk membantu dalam menetapkan standar mutu produk jamu instan. Karena dalam menetapkan standar mutu dan kandungan produk diperlukan uji laboratorium yang membutuhkan biaya mahal. Universitas Sebelas Maret sebagai lembaga akademik terdekat dapat membantu dalam permasalahan tersebut karena memiliki fasilitas laboratorium. Selain membantu dalam menetapkan standar mutu, Universitas Sebelas Maret sebagai lembaga akademik juga dapat membuat program pembinaan dan pendampingan agroindustri jamu instan Kabupaten Karanganyar sehingga dapat membantu dalam pengembangan agroindustri tersebut.
Pengusaha harus mampu menjaga kuantitas produksi jamu instan. Kuantitas produksi jamu instan berhubungan dengan kontinyuitas produk jamu instan. Kontinyuitas produksi jamu instan sangat penting karena kepercayaan konsumen yang sudah terbentuk dapat hilang ketika konsumen mendapatkan kekecewaan ketika produk jamu instan tidak selalu tersedia. Tanaman biofarmaka tidak tergantung musim sehingga dapat ditanam setiap saat baik saat musim hujan maupun musim kemarau, namun waktu tanam tanaman biofarmaka membuat pengusaha harus dapat menerapkan manajemen persediaan bahan baku guna mempertahankan bahkan meningkatkan kuantitas produk jamu instan. Langkah – langkah yang perlu dilakukan antara lain adalah menjalin kemitraan dengan petani tanaman biofarmaka dan kluster biofarmaka untuk menunjang ketersediaan bahan baku selain itu pengusaha perlu membuat persediaan bahan baku, persediaan sebaiknya sudah dalam bentuk serbuk sehingga lebih tahan lama.
Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi jamu Instan tidak terlepas dari adanya efisiensi penggunaan sarana dan prasarana produksi. Sarana dan prasarana produksi yang efisien adalah yang tepat guna sehingga dapat menekan biaya dan akan meningkatkan
commit to user
pendapatan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Salah satu kekuatan yang dimiliki agroindustri jamu instan adalah peralatan produksi tersedia dan mudah didapat contohnya antara lain adalah alat parut, lilin untuk mengemas, wajan, kompor dll. Efisiensi dalam proses produksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan sarana produksi yang lebih modern dan juga mudah didapatkan antara lain adalah dengan menggunakan parut listrik sehingga lebih cepat dalam proses memarut dan dalam proses pengemasan dapat menggunakan alat pengemas dari listrik yang menggunakan panas sehingga kemasan lebih rapi dan kerapatan kemasan dapat terjaga.
2) Memperkuat serta mengembangkan kelembagaan yang sudah ada (Klaster Biofarmaka).
Petani tanaman biofarmaka di Kabupaten Karanganyar memiliki sebuah lembaga yaitu klaster tanaman biofarmaka. Kabupaten Karanganyar memiliki 6 kluster tanaman biofarmaka antara lain yaitu di Kecamatan Jumantono, Mojogedang, Kerjo, Jatipuro, Jumapolo dan Ngargoyoso. Kelompok tani yang tergabung dalam anggota klaster antara lain adalah kelompok tani Sumber Rejeki (Jumantono), Aneka Karya Lestari (Mojogedang), krido Tani (Kerjo), Ngudi Mulyo (Kerjo), Sedyo Tekad (Jatipuro), Tani Waras I (Jatipuro), Tani Waras V (Jatipuro), Trisno Asih (Jumapolo), Krismo Mulyo (Jumapolo), dan Madusari II (Ngargoyoso). Tujuan klaster biofarmaka selain untuk mensejahterakan petani tanaman biofarmaka juga untuk membantu mengembangkan home industry yang menggunakan bahan baku tanaman biofarmaka yang salah satunya adalah agroindustri jamu instan.
Klaster biofarmaka dalam pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyardapat berperan dalam hal membantu menyediakan bahan baku, mempromosikan dan
memasarkan produk jamu instan dan memfasilitasi pengusaha agroindustri jamu instan untuk mendapatkan berbagai informasi dan bantuan dari pemerintah maupun swasta untuk pengembangan agroindustri jamu instan. Melihat peran yang dapat dilakukan, keberadaan kluster biofarmaka menjadi sangat penting untuk membantu mengembangkan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Oleh karena itu, Kluster biofarmaka perlu diperkuat kelembagaannya baik dalam hal sumberdaya manusia, sarana dan prasana serta dana anggaran untuk menunjang pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganayar.
Langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat kluster biofarmaka antara lain adalah mengadakan pelatihan dan pembinaan untuk pengurus kluster mengenai kelembagaan, pendampingan yang berkesinambungan oleh pemerintah daerah sehingga kluster biofarmaka dapat terus terpantau perkembangannya, melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan baik administrasi dan teknis sehingga dapat menunjang dan memperlancar kinerja pengurus kluster biofarmaka, selain itu perlu dilakukan sosialisasi dan pembinaan bagi para pengusaha agroindustri jamu instan untuk bergabung, bekerjasama dan menjalin kemitraan dengan klaster biofarmaka.
b. Strategi W-O
Strategi W-O (Weakness-Opportunity) atau strategi kelemahan- peluang adalah strategi untuk meminimalkan kelemahan yang ada untuk memanfaatkan peluang eksternal. Alternatif strategi W-O yang dapat dirumuskan adalah :
1) Penguatan modal dan adopsi teknologi modern untuk menunjang proses produksi yang efisien.
Penguatan modal dan adopsi teknologi modern sangat diperlukan dalam pengembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar. Permasalahan yang terjadi adalah
commit to user
pengusaha agroindustri jamu instan memiliki modal kecil dan peralatan yang digunakan masih sederhana atau tradisional. Permasalahan tersebut tentu saja menghambat perkembangan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar.
Permasalahan-permasalahan tersebut dapat diatasi, solusi yang dapat dilakukan antara lain adalah perlu adanya dukungan permodalan yaitu bekerjasama dengan perbankan yang dapat membantu dalam permodalan, pemerintah bekerjasama dengan lembaga akademik terdekat (Universitas Sebelas Maret) serta pihak bank dapat melakukan pelatihan kepada para pengusaha tentang cara untuk mendapatkan pinjaman dari bank, bagaimana membuat bisnis plan, syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mendapatkan pinjaman dll. Selain itu pemerintah dapat membuat program kredit bunga ringan untuk para pengusaha agroindustri jamu instan melalui bank daerah (BPD Karanganyar).
Adopsi teknologi modern perlu dilakukan sehingga proses produksi dapat lebih cepat dan efisien. Permasalahan yang dihadapi oleh agroindustri jamu instan adalah peralatan yang digunakan dalam proses produksi masih sederhana/tradisional, contohnya dalam proses memarut masih menggunakan parutan manual sehingga proses lama. Oleh karena itu Pemerintah bekerjasama dengan lembaga akademik terdekat (Universitas Sebelas Maret) dapat melakukan pelatihan untuk mengenalkan teknologi – teknologi baru yang dapat menunjang dalam proses produksi pembuatan jamu instan misalkan alat parutan listrik, mesin pengemas, mesin pengering, mesin pengolah jamu instan dll. Dalam pelatihan juga menghadirkan pihak yang memproduksi atau yang menjual alat tersebut sehingga para pengusaha bisa mendengarkan penjelasan secara langsung mengenai cara kerja alat. Selain itu bagi para pengusaha yang berminat untuk membeli dapat langsung membicarakannya dengan penjual tersebut.
2) Peningkatan promosi untuk meningkatkan pemasaran produk jamu instan.
Salah satu kelemahan agroindustri jamu instan yaitu dalam pemasaran jamu instan terutama adalah keterbatasan promosi yang dilakukan. Promosi produk sangat berpengaruh dalam pemasaran produk. Dengan promosi yang baik diharapkan masyarakat dapat mengetahui manfaat dan keunggulan produk jamu instan sehingga dapat meningkatakan pemasaran.
Adanya berbagai media yang ada terkait promosi produk yang diantaranya adalah event pameran dan perkembangan teknologi informasi diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang promosi produk jamu instan Kabupaten Karanganyar. Selain itu agroindustri jamu instan dapat menjalin kerjasama dengan klaster biofarmaka untuk membantu dalam mempromosikan dan memasarkan prosuk jamu instan. Pemerintah juga dapat membantu mempromosikan produk jamu instan melalui
website resmi pemerintah daerah. Oleh karena itu, keterbatasan
dalam hal promosi dapat dikendalikan dengan penggunaan media- media promosi yang saat ini berkembang. Pengusaha agroindustri jamu instan juga harus berupaya mempererat jejaring kemitraan, meningkatkan relasi dan jaringan promosi serta pelanggan untuk memperluas dan memperkuat pemasaran jamu instan.
c. Strategi S-T
Strategi S-T (Strength-Threat) atau strategi kekuatan-ancaman adalah strategi untuk mengoptimalkan kekuatan internal yang dimiliki dalam menghindari ancaman. Alternatif strategi S-T yang dapat dirumuskan adalah :
1) Peningkatkan akses bahan baku lokal yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar masih mengandalkan bahan baku lokal untuk memproduksi jamu instan.
commit to user
Permasalahan yang terjadi adalah harga bahan baku lokal yang berfluktuasi tergantung waktu panen. Upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan agroindustri jamu instan dalam mengakses bahan baku yang berkulitas dengan harga yang terjangkau adalah dengan melalui program kemitraan dengan lembaga atau kelompok tani yang berperan dalam penyediaan dan distribusi bahan baku jamu instan dalam hal ini adalah kluster biofarmaka. Selain itu perlu dilakukan juga upaya penanaman varietas unggul bahan baku jamu seperti jahe, kunir, kunyit dan lain – lain yang berkualitas (produktifitas lebih baik dan kandungan rendemen lebih banyak). Pemerintah bekerjasama dengan Dinas pertanian dan lembaga akademik dapat melakukan penelitian untuk mendapatkan benih tanaman biofarmaka yang unggul. Sehingga dapat menunjang agroindustri jamu instan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk jamu instan. Peningkatan kualitas dan kuantitas produk jamu instan tentu saja merupakan sebuah keunggulan sehingga produk jamu instan Kabupaten Karanganyar dapat bersaing dengan produk jamu instan dari daerah lain.
2) Peningkatan kemampuan produsen dalam inovasi produk jamu instan dengan harga yang terjangkau pasar.
Permasalahan yang mengancam agroindustri jamu instan diantaranya adalah perkembangan produk jamu instan diluar wilayah, persaingan dengan produk jamu instan yang lain, dan harga bahan baku fluktuatif. Selain itu, kondisi pengusaha agroindustri jamu instan yang secara umum berskala mikro membuat pengusaha belum berani berinovasi secara mandiri dan masih memerlukan peran pemerintah dalam pengembangan usahanya.
Pelatihan dan pembinaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan produsen dalam inovasi produk jamu instan perlu dilakukan. Pemerintah daerah bekerja sama dengan lembaga
akademik terdekat (Universitas Sebelas Maret) dapat melakukan pelatihan dan pembinaan mengenai inovasi produk jamu instan. Lembaga akademik tentu saja dapat melakukan dan telah banyak melakukan riset inovasi produk jamu, sehingga dalam pelatihan tersebut lembaga akademik dapat mengenalkan dan menjelaskan hasil inovasinya kepada para pengusaha agroindustri jamu instan. Sebagai contoh inovasi yang dapat dilakukan antara lain adalah pembuatan permen jamu dan minuman jamu instan. Selain itu, inovasi juga dapat dilakukan dengan membuat jamu instan yang diramu dari beberapa tanaman biofarmaka, khusus untuk menyembuhkan suatu penyakit misalkan diabetes, stroke, jantung, dll.
Setelah mengikuti pelatihan tersebut pengusaha diharapkan mampu menerapkan ilmu yang sudah didapatkan selama pelatihan pada usaha mereka. Pengusaha agroindustri jamu instan dapat lebih kreatif dalam memanfaatkan kekuatan yang dimiliki sehingga dapat membuat inovasi dan meningkatkan nilai lebih pada produk jamu instan mereka. Agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar diharapkan mampu bersaing dengan agroindustri jamu instan di kabupaten lain, dengan produk jamu instan yang lebih kreatif dan inovatif.
d. Strategi W-T
Strategi W-T (Weakness-Threat) atau strategi kelemahan- ancaman adalah strategi defensif untuk meminimalkan kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal. Alternatif strategi yang dapat dirumuskan adalah :
1) Meningkatkan kualitas pengusaha agroindustri jamu instan melalui kegiatan pembinaan untuk memaksimalkan produksi dan daya saing produk jamu instan.
Meningkatkan kualitas pengusaha dalam pengembangan agroindustri jamu instan meliputi bidang manajemen usaha dan
commit to user
mental pengusaha. Dalam rangka meningkatkan kualitas pengusaha agroindustri jamu instan Pemerintah bekerjasama dengan lembaga akademik terdekat (Universitas Sebelas Maret) dapat melakukan pelatihan dan pembinaan mengenai manajemen keuangan, manajemen persediaan, manajemen sumberdaya manusia, pemasaran, kepemimpinan dan motivation training. Dengan mengikuti pembinaan dan pelatihan tersebut secara aktif diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan pengetahuan pengusaha.
Pelatihan dan pembinaan mengenai manajemen usaha diperlukan untuk menunjang pengembangan usaha agroindustri jamu instan. Pengusaha agroindustri jamu instan perlu mengetahui mengenai bagaimana cara mengelola keuangan usaha, mengelola persedian baik bahan baku maupun produk jadi, mengelola pekerja, bagaimana cara memasarkan produk secara efektif, dan bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam usaha. Motivation training
diperlukan agar pengusaha lebih kebal, tanggap dan kritis terhadap permasalahan yang terjadi dalam perkembangan usaha. Dengan demikian, diharapkan pengusaha lebih tanggap terhadap permasalahan dan peluang usaha jamu instan. Kualitas SDM yang baik akan berpengaruh pada kemampuan manajemen usaha yang lebih baik sehingga mampu menghasilkan produk dengan daya saing tinggi.
2) Membuat lisensi atau ijin dari badan POM dan membuat kemasan yang menarik.
Adanya perhatian pemerintah terhadap pemberdayaan UMKM merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan pengusaha agroindustri jamu instan dalam meningkatkan kualitas usaha mereka. Kelemahan agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar antara lain adalah kemasan produk yang masih sederhana dan produk belum memiliki sertifikasi dari Badan POM.
Kelemahan tersebut menghambat dalam pemasaran produk jamu instan karena konsumen lebih memilih produk jamu instan yang memiliki kemasan yang menarik dan telah memiliki sertifikasi dari Badan POM.
Solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain adalah pemerintah bekerjasama dengan lembaga akademik terdekat (Universitas Sebelas Maret) dan Badan POM dapat melakukan pelatihan mengenai prosedur untuk mendapatkan lisensi dari Badan POM. Dalam pelatihan tersebut pengusaha agroindustri bisa mendapatkan penjelasan langsung dari Badan POM mengenai prosedur untuk mendapatkan lisensi. Setelah pelatihan para pengusaha dapat memenuhi prosedur tersebut untuk mendapatkan lisensi. Selain itu di dalam pelatihan juga diberikan materi mengenai pembuatan kemasan yang menarik, mengenalkan berbagai macam kemasan, cara membuat dan cara mengemas produk yang baik. Dengan produk yang memiliki kemasan yang menarik dan telah memiliki sertifikasi dari badan POM, maka produk jamu instan Kabupaten Karanganyar dapat bersaing dengan produk jamu instan yang lain, selain itu pemasaran produk dapat lebih luas, sehingga agroindustri jamu instan di Kabupaten Karanganyar dapat terus berkembang menjadi lebih baik.
E. Rantai Nilai (Value Chain) Agroindustri Jamu instan di Kabupaten