BAB II KAJIAN TEORI
2. Strategi Perkuliahan Yang Efektif
Proses belajar mengajar terjadi karena adanya interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan perlu diatur sedemikian rupa sehingga timbul reaksi peserta didik kearah perubahan perilaku yang diinginkan. Pengaturan lingkungan tersebut, meliputi analisis kebutuhan peserta didik, karakteristik, perumusan tujuan, penentuan materi pelajaran, pemilihan strategi yang sesuai, serta media pembelajaran yang diperlukan.41
Seorang tenaga pengajar professional dituntut untuk dapat menampilkan keahliannya di depan kelas. Salah satu keahlian tersebut yaitu kemampuan menyampaikan pelajaran kepada peserta didik. Untuk dapat menyampaikan pelajaran dengan efektif dan efesien, seorang tenaga pengajar perlu mengenal berbagai jenis strategi pembelajaran dengan harapan agar dapat memilih strategi yang akan diterapkan untuk mengajar kan suatu bidang studi tertentu.
Dalam perkuliahan dosen dituntut untuk memberikan yang terbaik untuk mahasiswanya, ini yang menjadi pokok utama dalam proses transfer ilmu pengetahuan. Melalui pembelajaran yang menyenangkan dapat diyakini mahasiswa akan merasa betah dan terobsesi untuk mengikuti perkuliahan secara keseluruhan, dengan demikian pemahaman mahasiswa terhadap pelajaran yang diberikan akan dapat diresapi dengan mudah.
40
FX. Suwarto, Perilaku Organisasi,(Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakrta,1999), Cet. Ke 1, h. 3
41
Meski dalam proses pembelajaran dewasa ini peran mahasiswa juga sangat dominan, tetapi dosen tetap saja menjadi penentu suksesnya suatu perkuliahan. Bahkan, seringkali seorang dosen dijadikan salah satu personal yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan perkuliahan.
Dalam konteks pengajaran, strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil.42 Oleh karena itu seorang tenaga pengajar dituntut untuk memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran. Dengan begitu, setidaknya akan terlihat sebuah pembelajaran yang efektif.
Strategi pembelajaran harus selaras dan serasi dengan kompetensi yang akan dicapai. Dapat diambil contoh, kemasan yang menarik untuk suatu barang, seperti kado, memberikan efek yang mendalam pada penerimanya, seperti perasaan gembira dan terharu yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan perasaan. Sebaliknya, kemasan yang kurang rapi dan tidak mempertimbangkan nilai estitika sudah dipastikan akan kurang mendapat perhatian dari si penerimanya. Dari itu perlu diperhatikan kemasan mata kuliah atau mata pelajaran yang sesuai dengan situasi emosi dan tingkat kognisi mahasiswa sehingga akan membekas dalam sistem ingatan.
Walaupun secara teoritis seorang tenaga pengajar telah paham tentang langkah-langkah operasional suatu strategi pembelajaran. Namun, belum tentu seorang tenaga pendidik mampu berhasil menerapkan strategi tersebut dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Keberhasilan seorang tenaga pendidik dalam menerapkan suatu strategi pembelajaran sangat tergantung dari kemampuan tenaga pendidik dalam menganalisis kondisi pembelajaran yang ada. Hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran dapat dijadikan pijakan dasar dalam menetukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.
42
Mager menyampaikan beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
a. Berorientasi pada tujuan pembelajaran
Tipe perilaku apa yang diharapkan dapat dicapai oleh mahasiswa. Misalnya menyusun bagan analisis pembelajaran. Berarti metode yang paling dekat dan sesuai yang dihendaki oleh tenaga dosen adalah latihan praktek lansung.
b. Memilih teknik pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dapat dimilki saat bekerja nanti (dihubungkan dengan dunia kerja). Misalnya setelah bekerja, mahasiswa dituntut untuk pandai memperogram data komputer. Berarti metode yang paling mungkin digunakan adalah praktikum dan analisis kasus/pemecahan masalah (Problem Solving)
c. Menggunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan kepada indra mahasiswa. Artinya, dalam satuan-satuan waktu yang bersamaan peserta didik dapat melakukan aktifitas fisik maupun psikis. Misalnya menggunakan proyektor. Dalam menjelaskan suatu bagan, lebih baik seorang tenaga pendidik mengguankan proyektor dari pada berceramah, karena pengguanaan proyektor memungkinkan mahasiswa sekaligus dapat melihat dan mendengar penjelasan dosen.43
Dalam pemilihan strategi pembelajaran hendaknya dilandasi prinsip efesiensi dan efektifitas dalam mencapai tujuan pembelajaran dan tingkat keterlibatan peserta didik. Untuk itu, pengajar haruslah berfikir strategi pembelajaran manakah yang paling efektif dan efesien dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat diarahkan agar peserta didik dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara optimal.
Secara umum strategi pembelajaran terdiri dari atas 5 (lima) komponen yang saling berinteraksi dengan karakter fungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu:
43
Hamzah B Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif , (Jakarta: PT Bumi Aksara,2008),h. 8
1) Kegiatan pembelajaran pendahuluan 2) Penyampaian informasi
3) Partisipasi peserta didik 4) Tes, dan
5) Kegiatan lanjutan
Pemilihan strategi pembelajaran hendaknya ditentukan berdasarkan kriteria berikut:
1) Orientasi strategi pada tugas pembelajaran 2) Relevan dengan isi / materi pembelajaran
3) Metode dan teknik yang digunakan difokuskan pada tujuan yang ingin dicapai, dan
4) Media pembelajaran yang digunakan dapat merangsang indra peserta didik secara simultan.44
Tentu dalam menyusun strategi pembelajaran membutuhkan ketelitian dan kretifitas dari tenaga pendidik. Sebelum seorang dosen memulia perkuliahannya tentu ia meelakukan persiapan-persiapan dalam beberapa aspek desain mata kuliah atau pelajaran. Persiapan ini dapat dikatakan sebagai satu usaha pembuktian akuntabilitas profesionalisme pembelajaran seorang dosen kepada mahasiswanya yang telah memberikan kepercayaan kepada perguruan tinggi.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendesain suatu mata kuliah. Ada empat elemen yang harus dipersiapkan dalam mendesain satu mata kuliah, yaitu:
1) Elemen materi-materi Perkuliahan.
2) Elemen kompetensi atau tujuan pembelajaran atau hasil belajar. 3) Elemen strategi pembelajaran atau metode pembelajaran. 4) Elemen evaluasi pembelajaran.
Keempat elemen ini memiliki karakter yang bersifat serasi, sekata, dan senada. Meskipun wujud tiap-tiap elemen berbeda tetapi hakikatnya adalah sama.45
Dalam hal ini penting bagi seorang dosen mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan mata kuliah yang akan diampu. Informasi-informasi itu mungkin didapatkan dalam bentuk hard copy atau soft copy melalui perpustakaan,
44
Hamzah B Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif , (Jakarta: PT Bumi Aksara,2008),h. 9
45
Dr. Bermawi Munthe, Desain Pembelajaran, (Pustaka Insan Madani dan Center For Teaching Staf Development,IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, 2009)h. 7
internet, atau konsultasi dari beberapa sumber. Disamping itu juga dosen harus mengetahui kebutuhan dan karakteristik awal mahasiswa, seperti dosen mengetahui kadar pemahaman mahasiswa terhadap pelajaran, sikologis mahasiswa, suasana ruang perkuliahan dll.
Ada baiknya proses pembelajaran mahasiswa merupakan hasil dari penilaian terhadap mereka sendiri. Mungkin pembelajaran dapat menggunakan pendekatan elisitif sebagai yang paling tepat untuk karakter andragogi. Mungkin juga menggunakan pendekatan preskriptif atau satu gabungan di antara kedunya dengan penekanan pada pendekatan elisitif. 46
Pendekatan andragogi mempunyai beberapa asumsi dasar, 1, Kemampuan mengarahkan diri, 2, Pengalaman pembelajar atau mahasiswa, 3, Kesiapan belajar berdasarkan kebutuhan, 4, Orientasi bahwa belajar itu adalah kehidupan.47
Pendekatan juga mutlak didukung oleh sikap dosen yang terbuka, mau mendengarkan pendapat mahasiswa, membiasakan mahasiswa mendengarkan pendapat orang lain, menghargai perbedaan pendapat, mentelorir kesalahan mahasiswa dan mendorong untuk memperbaikinya, menumbuhkan rasa percaya diri, memberikan umpan balik hasil kerja mahasiswa, tidak terlalu cepat membantu, tidak terlalu cepat menanggapi jika mahasiswa salah, tidak kikir untuk memuji, tidak mentertawakan pendapat atau hasil kerja mahasiswa, dan mendorong mahasiswa untuk tidak takut salah.
Belajar efektif setidak akan menyangkut dua komponen, yaitu waktu dan konsentrasi. Belajar yang efektif adalah bagaimana seseorang dengan konsentrasi yang penuh dapat menggunakan waktu untuk belajar secara baik. Dalam banyak kasus telah dijumpai kenyataan tentang banyaknya mahasiswa yang karena kurang konsentrasi terpaksa membuang waktu berjam-jam untuk belajar tetapi hanya sedikit materi pelajaran yang dapat
46
Dr. Bermawi Munthe, Desain Pembelajaran, (Pustaka Insan Madani dan Center For Teaching Staf Development,IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, 2009)h. 76
47
Hisyam Zaini, Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi, (Center For Teaching Staf Development, IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta.2002) h.7
dikuasainya, sebaliknya ada pula mahasiswa yang hanya memerlukan beberapa menit waktu untuk belajar tetapi banyak materi pelajaran yang dapat dikuasainya. Kasus terakhir inilah yang dapat disebut sebagai belajar secara efektif.
Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses pembelajaran.48 Efesiensi dan keefektifan mengajar dalam proses interaksi belajar yang baik adalah segala daya upaya dosen untuk membantu para mahasiswa agar bisa belajar dengan baik. Untuk mengetahui keefektifan mengajar, dengan memberikan tes, dari hasil tes kemudian bisa dipakai untuk mengevalusai berbagai macam aspek proses pengajaran.
Suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama keefektifan pengajaran yaitu :
1. Presentasi waktu belajar yang tinggi dicurahkan di KBM
2. Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi diantara mahasiswa
3. Ketetapan antara kandungan materi ajaran denagan kemampuan mahasiswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan
4. Mengembangkan suasan belajar yang akrab dan positif, mengembangkan struktur kelas yang mendukung butir (2) tanpa mengabaikan butir (4) 49
Dosen yang efektif adalah yang menemukan cara dan selalu berusaha agar peserta didiknya terlibat secara tepat dan penuh dalam suatu mata pelajaran tanpa menggunakan teknik yang memaksa, nagatif atau hukuman. Kemudian bisa menjalin hubungan simpatik, menciptakan lingkungan kelas yang mengasuh, penuh perhatian, menguasai sepenuhnya bidang studi, dan dapat memotivasi mahasiswa untuk bekerja tidak
48
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif Konsep, Landasan, dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan , (Kencana, Jakarta. 2009) h.20
49
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, Landasan, dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kencana, Jakarta. 2009) h.20
sekedar maencapai suatu prestasi namun juga menjadi anggota masyarakat yang pengasih.
Sikap diri yang disebutkan di atas dapat diidentifikasi menjadi lima variabel proses dosen yang memperlihatkan hubungan belajar dengan pencapaian tujuan, yaitu : (1) Kejelasan dalam penyajian, (2) Kegairahan mengajar, (3) Ragam kegiatan, (4) perilaku mahasiswa akan melaksanakan tugas dan kecekatannya, (5) Kandungan bahan pengajaran.50
Untuk dapat belajar secara efektif maka konsentrasi merupakan persyaratan yang mutlak, tetapi dibalik itu ada pula faktor-faktor lain yang dapat mendukung tercapainya efektivitas belajar; yaitu kondisi jasmani, fasilitas, strategi, disiplin, dan lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut di atas maka faktor strategi dan disiplin cukup menarik untuk dicermati dan dikaji secara lebih mendalam. Secara umum belajar secara rutin dan berdisiplin akan membuahkan hasil yang lebih baik dari pada belajar yang dilakukan secara temporer atau pada waktu-waktu tertentu saja.
Sampai saat ini masih banyak didapati dosen di lingkungan perguruan tinggi yang dalam mengajar masih konvensional. Dalam arti, dosen mengajar secara alami sesuai dengan bakat mengajar yang dimiliki.51 Tentu hal ini akan mempengaruhi dalam penyusunan dan penyampaian materi perkuliahan kepada mahasiswa.
Dari uraian berbagai teori tentang efektifitas strategi perkuliahan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa efektifitas strategi perkuliahan adalah upaya pembelajaran yang dilakukan dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar dengan harapan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil. Untuk mengukur tingkat keefektifan startegi perkuliahan dilakukan melalui: (1) Kehadiran mahasiswa secara keseluruhan atau permateri pembelajaran, (2) Pelaksanaan dalam mengerjakan tugas dan
50
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, Landasan, dan implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kencana, Jakarta. 2009) h.21
51
Hisyam Zaini, Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi, (Center For Teaching Staf Development,IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta.2002)h.3
ketapatan pengumpulan tugas yang diberikan oleh dosen, (3) Kesesuaian materi yang diajarkan sesuai tidak dengan kemampuan belajar mahasiswa, (4) Penggunaan dan pengembangan metode pembelajaran.