• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DESKRIPSI TEORI DAN HIPOTESISI PENELITIAN

2.1.2 Stres

2.1.2.1 Pengertian Stres

Mengenai pengertian stres kerja, peneliti akan mengemukakan pengertian Stres terlebih dahulu. Stres merupakan kondisi dimana seseorang mengalami tekanan karena suatu kondisi tertentu, situasi dan karena pekerjaan yang dirasa memberatkan dan menguras tenaga dan pikiran. Seseorang yang mengalami stres dapat terlihat dari sikap, tingkah laku dan hasil dari apa yang dikerjakan.

Menurut Hasibuan (2008:204) Stres adalah : “Suatu kondisi

ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir, dan kondisi seseorang. Orang–orang yang mengalami stres menjadi nerveus dan merasakan kekhawatiran kronis. Mereka sering menjadi marah-marah, agresif tidak dapat rilaks, ataupun memperlihatkan sikap yang tidak kooperatif.”

Dalam Umam (2010: 203-204) memuat pendapat tentang stres menurut para ahli yaitu :

a) Menurut Morgan dan King dalam stres adalah : “....As an internal state which can be caused by physical demands on the body (disease conditions, extremes of temperature, and the like) or by

enviornmental and social situations which are evaluated as potentially harmful, uncontrollable, or exceeding our resources for coping)

b) Menurut Cooper, stres adalah : “Keadaan yang bersifat internal,

yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan) atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol. Stres juga didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subjek.”

c) Menurut Hager stres adalah : “Stres sangat bersifat individual dan

pada dasarnya bersifat merusak apabila tidak ada keseimbangan antara daya tahan mental individu dengan beban yang dirasakannya. Namun, berhadapan dan suatu stressor (sumber stres) tidak selalu mengakibatkan gangguan secara psikologis maupun fisiologis, terganggu atau tidaknya individu bergantung

pada persepsinya terhadap peristiwa yang dialaminya.”

d) Menurut Diana, faktor kunci dari stres adalah :“Persepsi seseorang dan penilaian terhadap situasi dan kemampuannya untuk menghadapi. Dengan kata lain, reaksi terhadap stres dipengaruhi bagaimana pikiran dan tubuh individu mempersepsikan atau peristiwa.

Dalam Priansa (2011:255) Ivancevich dan Matterson mengatakan bahwa :

”Stress an adaptive response, moderated by individual differences, that is a consequences of any axternal (environmental) action, situasion or event thst places excessive psychological and/or physical demand upon a person”. Artinya : stres merupakan respon adaptif, ditengahi oleh perbedaan individu yang merupakan suatu konsekuesi dari tindakan, situasi dan kejadian eksternal (lingkungan) yang menempatkan tuntutan fisik dan psikologi yang berlebihan terhadap seseorang.

Sopiah (2008:85) dalam bukunya yang berjudul Perilaku Organisasi mengartikan Stres adalah :

“Suatu respon adoptif terhadap situasi yang dirasakan menantang atau mengancam kesehatan seseorang. Kita sering mendengar bahwa stres merupakan akibat negatif dari kehidupan modern. Orang-orang merasa stres karena terlalu banyak pekerjaan, ketidakpahaman terhadap pekerjaan, beban informasi yang terlalu berat atau karena mengikuti perkembangan zaman. Kejadian–

penyimpangan fisik, psikis dan perilaku dari fungsi yang sehat. Stres yang sering terlihat dengan hanya melihat dari stimulus atau

respon yang dialami seseorang.”

Definisi stres dari stimulus terfokus pada kejadian di lingkungan, misalnya bencana alam, kondisi berbahaya, penyakit, atau berhenti bekerja. Definisi ini menyangkut asumsi bahwa situasi demikian memang sangat menekan, tetapi tidak memperhatikan perbedaan individual dalam mengevaluasi kejadian.

Adapun definisi stres menurut Lazarus & Folkman dalam Umam (2010:203) adalah : “Respon mengacu pada keadaan stres, reaksi seseorang terhadap stres, atau berbeda dalam keadaan di bawah stres. Perdebatan tentang arti dari stres di tempat kerja, ada yang cukup mengartikan stres sebagai interaksi seseorang dengan lingkungannya. Namun ada yang lebih detail lagi definisi stres menurut Luthan dalam Umam (2010:203) mengatakan bahwa:

“Stres adalah respon yang adaptif, dimediasi oleh perbedaan -perbedaan individual, dan atau proses-proses psikologis yang merupakan sebuah konsekuensi dari tindakan atau situasi eksternal, atau peristiwa yang menempatkan seseorang pada tuntutan psikologis dan atau fisik secara eksesif. Oleh karena itu, stres lalu didefinisikan sebagai respons yang adaptif pada situasi eksternal yang menghasilkan devinisi-devinisi fisik, psikologis, dan atau

perilaku untuk anggota organisasi.”

Dalam Bob Losyk (2007) Matteson & Ivancevich mengemukakan bahwa :

“Stres dapat dipisahkan menjadi dua kategori : pemicu dan respon,

stres terjadi akibat adanya pemicu, misalnya sebuah situasi atau peristiwa yang terjadi pada kita. Peristiwa tersebut dapat bersifat fisik maupun emosional. Stres juga bisa timbul akibat respon fisik dan psikis kita terhadap peristiwa tersebut, berupa respon terhadap ancaman yang kita rasakan atau yang sebenarnya belum terjadi.”

Berdasarkan pengertian tentang stres diatas, dapat disimpulkan bahwa stres merupakan stimulus, yang memicu/respon pada individu atas peristiwa yang sedang dialami setiap individu, dan stres akan dialami setiap individu itu tidak selamanya akan berdampak negatif tetapi dapat pula berdampak positif bagi individu tersebut sebab stres akan dirasakan tergantung bagaimana individu merspon peristiwa yang telah terjadi. 2.1.2.2 Jenis-Jenis Stres

Jenis stres yang dialami seorang pegawai sesuai dengan situasi, kondisi dan cara pegawai merespon stres: Dalam Umam (2010:204) Quick dan Quick mengkategorikan jenis stres menjadi dua yaitu eustress dan distress:

Eustress, yaitu hasil dari respons terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi dan tingkat performance yang tinggi.

Distress, yaitu hasil dari respons terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi, seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidak hadiran (absenteeisem) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.

Dokumen terkait