• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stroke .1 Definisi

Dalam dokumen FEBRINKA ANANDA SITEPU (Halaman 21-28)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stroke .1 Definisi

Stroke adalah suatu episode disfungsi neurologis akut yang diduga disebabkan oleh iskemik atau hemoragik, menetap ≥ 24 jam atau sampai kematian, tetapi tanpa bukti yang cukup untuk diklasifikasikan.

Stroke Iskemik adalah suatu episode disfungsi neurologis akut yang disebabkan oleh infark fokal dari serebral, spinal atau retinal. Sedangkan Stroke Hemoragik dibagi atas stroke yang disebabkan oleh perdarahan intraserebral (PIS) dan perdarahan subaraknoid (PSA).

Stroke yang disebabkan oleh perdarahan intraserebral (PIS) adalah tanda klinis disfungsi neurologis yang berkembang cepat, yang disebabkan oleh penumpukan fokal darah dalam parenkim otak atau sistem ventrikel, yang bukan disebabkan oleh trauma.

Stroke yang disebabkan oleh perdarahan subaraknoid (PSA) adalah tanda klinis disfungsi neurologis dan atau nyeri kepala yang berkembang cepat, yang disebabkan oleh perdarahan ke dalam rongga subaraknoid (rongga diantara membrane araknoid dengan piamater dari otak dan medulla spinalis), yang bukan disebabkan oleh trauma.12 2.1.2 Epidemiologi

Dari data Stroke Statistic (2013) diperkirakan ada 152.000 penderita stroke di UK setiap tahunnya. Lebih dari 1 kasus setiap 5 menit. Stroke menduduki peringkat utama penyebab kecacatan. Lebih dari setengah penderita stroke yang bertahan menjadi bergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.

Hipertensi adalah salah satu faktor resiko utama yang berkontribusi sekitar 50% dari semua kasus stroke. Insidensi stroke diperkirakan 25% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Diperkirakan 85% kasus stroke disebabkan oleh karena

6

adanya blockage (disebut dengan Stroke Iskemik) dan 15% kasus stroke disebabkan oleh karena adanya perdarahan di otak (disebut dengan Stroke Hemoragik) dengan 10% disebabkan perdarahan intraserebral dan 5% disebabkan perdarahan subaraknoid.3

Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7 per mil dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil.

Prevalensi stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi di Sulawesi Utara (10,8%), diikuti DI Yogyakarta (10,3%), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil. Prevalensi Stroke berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan gejala tertinggi terdapat di Sulawesi Selatan (17,9%) , DI Yogyakarta (16,9%), Sulawesi Tengah (16,6%) < diikuti Jawa Timur sebesar 16 per mil.4

2.1.3 Klasifikasi

Menurut Misbach, dikenal bermacam-macam klasifikasi stroke. Adapun klasifikasi stroke antara lain:10

I. Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya:

1. Stroke Iskemik

Menurut National Stroke Association (2014), ada 2 tipe faktor risiko terjadinya stroke:

I. Faktor risiko non modifiable a. Umur

7

Risiko stroke meningkat seiring meningkatnya umur. Perubahan-perubahan yang menjurus ke aterosklerosis yang merupakan penyebab stroke sudah mulai terjadi setelah manusia dilahirkan. Pada umur 30 tahun, lesi aterosklerosis mulai tampak di arteri-arteri intracranial setelah umur 55 tahun, risiko stroke menjadi 2 kali lipat setiap dekadenya.

b. Jenis Kelamin

Wanita lebih banyak memiliki kecacatan setelah stroke dibanding pria.

Wanita juga lebih banyak meninggal setiap tahunnya karena stroke dibandingkan pria. Namun insidensi stroke lebih tinggi pada pria

c. Ras

Amerikan Afrikan berisiko terkena stroke 2 kali lipat dibanding kaukasian. Orang asia pasifik juga berisiko lebih tinggi dari pada kaukasian d. Riwayat Keluarga

Jika dalam keluarga ada yang menderita stroke, maka yang lain memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke dibanding dengan orang yang tidak memiliki riwayat stroke dikeluarganya.11

II. Faktor risiko modifiable

a. Tekanan darah tinggi/hipertensi

Tekanan darah tinggi adalah faktor risiko yang paling penting. Tekanan darah normal pada usia lebih dari 18 tahun adalah 120/80mmHg.

Prehipertensi jika tekanan darah 140/90mmHg atau lebih. Orang yang bertekanan darah tinggi memiliki risiko setengah atau lebih dari masa hidupnya untuk terkena stroke dibanding orang bertekanan darah normal.

Tekanan darah tinggi menyebabkan stress pada dinding pembuluh darah.

Hal tersebut dapat merusak dinding pembuluh darah, sehingga bila kolesterol atau substansi fat-like lain terperangkap di arteri otak akan menghambat aliran peningkatan stress juga dapat melemahkan dinding pembuluh darah sehingga memudahkan pecahnya pembuluh darah yang dapat menyebabkan perdarah otak.

8

b. Fibrilasi atrium

Penderita fibrilasi atrium berisiko 5 kali lipat untuk terkena stroke. Kira-kira 15% penderita stroke memiliki fibrilasi atrium. Fibrilasi atrium dapat membentuk bekuan-bekuan darah yang apabila terbawa aliran ke otak akan menyebabkan stroke.

c. Kolesterol Tinggi

Kolesterol atau plak yang terbentuk di arteri oleh low-density lipoproteins (LDL) dan trigliserida dapat menghambat aliran darah ke otak sehingga dapat menyebabkan stroke.

d. Diabetes

Penderita diabetes berisiko 4 kali lipat untuk terkena stroke. Kerusakan otak akan semakin parah jika kadar gula darah tinggi saat terjadinya stroke.

e. Merokok

Merokok mengurangi jumlah oksigen dalam darah, sehingga jantung bekerja lebih keras dan memudahkan terbentuknya bekuan darah. Merokok juga meningkatkan terbentuknya plak di arteri yang menghambat aliran darah otak, sehingga menyebabkan stroke.

f. Pengguna alkohol

Meminum alkohol lebih dari 2 gelas/hari meningkatkan risiko terjadinya stroke 50%. Namun, hubungan antara alkohol dan terjadinya stroke masih belum jelas

g. Obesitas

Obesitas atau kelebihan berat badan akan mempengaruhi sistem sirkulasi. Obesitas juga menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan memiliki kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes, yang semuanya dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke.11

9

2.1.5 Patogenesis

Stroke Iskemik disebabkan oleh tiga mekanisme dasar, yaitu trombosis, emboli dan penurunan tekanan perfusi. Trombosis merujuk pada penurunan atau oklusi aliran darah akibat proses oklusi lokal pada pembuluh darah. Oklusi aliran darah terjadi karena superimposisi perubahan karakteristik dinding pembuluh darah dan pembentukan bekuan. Patologi vaskular yang menyebabkan trombosis antara lain aterosklerosis, displasia fibromuskular, arteritis, diseksi pembuluh darah, dan perdarahan pada plak aterosklerosis. Patologi vaskular tersering adalah aterosklerosis, dimana terjadi deposisi material lipid, pertumbuhan jaringan fibrosa dan muskular, dan lesi trombosit yang mempersempit lumen pembuluh darah. aterosklerosis dapat terjadi pada pembuluh darah besar dan kecil, baik ekstrakranial maupun intrakranial.

aterosklerosis pembuluh darah intrakranial lebih banyak pada ras Asia dibandingkan Kaukasian dan sebaliknya. Aterosklerosis pada pembuluh darah besar dapat menjadi sumber tromboemboli yang menyebabkan infark luas saat menyumbat cabang utama pembuluh darah intrakranial.15

Stroke hemoragik, mempunyai ciri khas klinisnya, manifestasi klinis tersebut merupakan rentetan proses yang tidak terindikasikan. Darah keluar dari pembuluh darah ke jaringan otak secara tiba-tiba, ruang subaraknoid maupun ke ruang ventrikel.

dua dekade yang lalu banyak ahli akan segera terjadi penghentian perdarahan akibat reaksi proses pembekuan. Ternyata perdarahan otak, khususnya intraserebral, didasari oleh proses yang lebih dinamis dan melibatkan berbagai proses yang sangat kompleks antara lain terjadinya bertambahnya volume hematoma dan inflamasi yang melibatkan seluruh sistem organ tubuh seiring dengan berjalannya waktu. Dalam situasi ini diperlukan secara cepat, tepat dan cermat etiologi serta proses patologis yang mendasarinya.15

Materi yang terbentuk dalam sistem vaskular dapat menyumbat pembuluh darah yang lebih distal. Berbeda dengan trombosis, blokade emboli tidak disebabkan oleh patologi pembuluh darah lokal. Material emboli biasanya terbentuk dari jantung, arteri besar (aorta, karotis, vertebralis) atau vena. Kardioemboli dapat berupa bekuan darah,

10

vegetasi, atau tumor intrakardiak. Materi emboli lainnya adalah udara, lemak, benda asing, atau sel tumor yang masuk sirkulasi sistemik.15

Penurunan tekanan perfusi serebral biasanya disebabkan penurunan cardiac output yang disebabkan oleh kegagalan pompa jantung atau volume intravaskular yang inadekuat. Penurunan tekanan perfusi serebral biasanya menyebabkan iskemik pada area perbatasan daerah suplai darah, yaitu pada perbatasan daerah arteri serebri anterior, media, dan posterior. Iskemik pada area perbatasan memberikan gambaran klinis dan pencitraan yang khas. Man in the Barrel sindrom terjadi pada iskemik antara daerah arteri serebri anterior dan media, sedangkan Sindrom Balint terjadi pada iskemik antara daerah arteri serebri media dan posterior.15

2.1.6 Manifestasi Klinis

Beberapa tanda dan gejala menunjukkan bahwa di dalam otak tidak menerima cukup oksigen. Tanda-tanda dan gejala tersebut sebagai berikut :

- secara tiba-tiba mati rasa atau kelemahan pada muka, lengan, atau kaki terutama pada satu sisi tubuh.

- secara tiba-tiba kebingungan, atau kesulitan dalam berbicara maupun memahami pembicaraan.

- secara tiba-tiba kesulitan melihat pada satu atau kedua mata.

- secara tiba-tiba kesulitan dalam berjalan, pusing atau kehilangan keseimbangan.

- secara tiba-tiba sakit kepala hebat tanpa diketahui penyebabnya.14 2.2 Tekanan Darah

Tekanan darah diukur dengan menggunakan tensimeter (sfigmomanometer), yaitu dengan cara melingkarkan manset pada lengan kanan 1½ cm di atas fossa kubiti anterior, kemudian tekanan tensimeter dinaikkan sambil meraba denyut A. Radialis sampai kira-kira 20mmHg di atas tekanan sistolik, kemudian tekanan diturunkan perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop pada fossa kubiti anterior diatas A.

11

Brakialis atau sambal melakukan palpasi pada A. Brakialis atau A. Radialis. dengan cara palpasi, hanya akan didapatkan tekanan sistolik saja. Dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar denyut nadi korotkov, yaitu :

 Korotkov I, suara denyut mulai terdengar, tapi masih lemah dan akan mengeras setelah tekanan diturunkan 10-15 mmHg; fase ini sesuai dengan tekanan sistolik,

 Korotkov II, suara terdengar seperti bising jantung (murmur) selama 15-20 mmHg berikutnya,

 Korotkov III, suara menjadi kecil kualitasnya dan menjadi lebih keras selama 5-7 mmHg berikutnya,

 Korotkov IV, suara akan meredup sampai kemudian menghilang setelah 5-6 mmHg berikutnya,

 Korotkov V, titik di mana suara menghilang; fase ini sesuai dengan tekanan diastolik.

Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan nadi. bila terdapat kelainan jantung atau kelainan pembuluh darah, maka tekanan darah harus diukur baik pada lengan kanan maupun lengan kiri, bahkan bila perlu tekanan darah tungkai juga diukur. Faktor-faktor yang turut mempengaruhi hasil pengukuran tekanan darah adalah lebar manset, posisi pasien dan emosi pasien. Dalam keadaan normal, tekanan sistolik akan menurun sampai 10 mmHg pada waktu inspirasi. Pada tamponade pericardial atau asma berat, penurunan tekanan sistolik selama inspirasi akan lebih dari 10 mmHg.15 Tabel 2.1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VIII

Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik(mmHg)

Normal < 120 < 80

Pre-Hipertensi 120 – 139 80 – 89

Derajat I 140 – 159 90 – 99

Derajat II ≥ 160 ≥ 100

12

Dalam dokumen FEBRINKA ANANDA SITEPU (Halaman 21-28)

Dokumen terkait