• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Struktur dan Desain Padang Golf

   

2.1. Struktur dan Desain Padang Golf

Area permainan suatu lapangan golf terdiri dari fairway, green, hazard, rough, dan teebox (Gambar 2). Fairway adalah daerah rumput antara teebox dan

putting green yang merupakan area yang benar untuk jatuhnya bola sebelum masuk ke green dan atau sesudah memukul dari teebox (Brosnan, 2008). Fairway

berbentuk bulat, lonjong memanjang, berpola organik atau membelok sesuai kondisi tapak dan luasan yang tersedia dengan ketinggian rumput 13-20 mm (Emmons, 2000).

Gambar 2. Desain padang golf (sumber : Beelman, 2004).  

Green merupakan daerah sasaran utama pukulan yang di dalamnya terdapat

hole atau lubang tempat masuknya bola. Green biasanya berbentuk bulat atau berpola organik dengan kemiringan yang disesuaikan dengan tingkat kesulitan.

Green yang baik ditumbuhi rumput yang merata, rapat, berwarna hijau segar, permukaan rumput tegak halus sehingga bola dapat menggelinding dengan baik (Nasrullah dan Tunggalini, 2000). Jenis rumput yang digunakan adalah rumput bermuda yang bertekstur halus, berdaun kecil, cepat merapat dan tahan

kekeringan, tahan terhadap kadar garam tinggi, hama dan penyakit (Emmons, 2000). Ukuran green sangat bervariasi, berkisar antara 465-697 m2 dengan kemiringan sebesar 1-2% dan ketinggian rumput 4-6 mm.

Hazard merupakan suatu rintangan di lapangan, dapat berupa bak pasir (sand bunker), collar, vegetasi yang tumbuh di sepanjang rough dan rintangan air yang berupa danau. Rintangan berupa danau dapat diletakkan di fairway, rough

atau sekitar green, yang dapat berfungsi sebagai tempat akhir pembuangan air, drainase dan bermanfaat sebagai air irigasi.

Rough adalah lapangan rumput yang memisahkan antara area permainan

hole yang satu dengan hole yang bersebelahan atau merupakan area yang berada di luar area permainan. Daerah rough biasanya menggunakan rumput manila (Zoysia matrella) yang mempunyai daun lebih lebar, padat dan agak tegak jika dibandingkan dengan rumput Bermuda (Emmons, 2000). Ketinggian rumput sekitar 30-135 mm sehingga dari jauh penampakan rough akan berbeda dengan

fairway (Nick, 2004). Pada daerah ini dibangun sirkulasi pelayanan dan ditanami pohon yang berfungsi sebagai pembatas. Rough merupakan area yang membutuhkan pemeliharaan yang relatif minimum.

Teebox adalah tempat memulai permainan golf atau suatu area di hole

permainan golf yang khusus disiapkan untuk pemukulan pertama pada setiap hole.

Teebox mempunyai posisi tinggi dengan kemiringan sebesar 1-2 %. Bentuk teebox

bisa bulat, persegi maupun lonjong dan dibuat mengarah ke fairway. Jenis rumput yang biasanya digunakan adalah rumput bermuda dengan ketinggian 7-10 mm (Guntoro et al. 2007). Teebox memerlukan tingkat pemeliharaan yang lebih tinggi dibandingkan fairway namun lebih rendah dibandingkan green (Nurhayati, 2009).

Aspek estetis adalah hal yang utama dalam permainan golf, yang berarti keadaan alam yang sepatutnya dipertahankan sehingga apa yang dilihat oleh pemain dapat dirasakan keunikannya. Menurut Nurhayati (2009) terdapat lima tipe rancangan dasar untuk lapangan golf 18 holes yang dapat menampung kebutuhan-kebutuhan khusus melalui penentuan lokasi dengan cara penelaahan topografi dan sifat khas alamiah tapak (Gambar 3), yaitu :

1. Lapangan 18 holes berjalur tunggal dengan sembilan balikan. 2. Lapangan 18 holes dengan jalur tunggal menerus.

 

3. Lapangan 18 holes berjalur ganda dengan sembilan balikan. 4. Lapangan 18 holes dengan jalur ganda menerus.

5. Lapangan 18 holes yang merupakan lapangan golf inti.

Gambar 3. Desain padang golf 18 holes (sumber: Nurhayati, 2009).  

Lapangan 18 holes berjalur tunggal dengan sembilan balikan dirancang apabila lahan yang tersedia cukup luas dengan letak club house di tengah-tengah. Hal ini akan memudahkan pemain untuk memulai permainan dari hole satu atau

hole sepuluh terlebih dahulu sehingga jika terdapat banyak pemain tidak perlu mengantri terlalu lama.

2.2. Struktur Vegetasi Padang Golf

Lapangan golf tanpa adanya pohon akan terlihat gundul dan pemain akan merasakan pentingnya pohon dan tanaman ornamental. Keberadaan tanaman baik pohon dan ornamental dapat menaikkan kualitas lapangan golf dengan melakukan pemilihan jenis tanaman yang tepat dan mengetahui penempatan yang baik di lapang akan memperlihatkan empat fungsi utama tanaman, yaitu fungsi secara arsitektural, teknik, estetika, dan ekonomi (Nick, 2004).

Fungsi pohon secara arsitektural yaitu:

1. Sebagai rintangan alami bagi pegolf dalam penempatan bola di permainan golf.

2. Sebagai alat penentu jarak yang alami.

3. Referensi point saat bola mendarat pada garis area permainan.

4. Sebagai kontrol dalam penempatan bola agar tidak keluar area permainan dan menciptakan target utama yaitu daerah green serta melindungi pegolf dari sinar matahari yang menyilaukan.

Fungsi pohon secara ekologis yaitu:

1. Mempengaruhi dan mengontrol aliran udara dan sirkulasi.

2. Sebagai alat konservasi seperti pengontrol erosi dan preservasi habitat satwa.

3. Memodifikasi lingkungan contohnya sebagai pemecah angin.

4. Sebagai pengaman dari pukulan yang tidak terarah bagi pegolf maupun properti lainnya.

5. Sebagai pagar dari sesuatu yang mengganggu serta pemberi rasa nyaman bagi pegolf.

Fungsi pohon secara estetika yaitu:

1. Sebagai pemecah kemonotonan di sepanjang daerah permainan.

2. Memberi kesan tertentu seperti menghasilkan kontras, variasi dan menarik perhatian.

3. Sebagai pemberi tekanan terhadap suatu titik yang menjadi pusat perhatian.

4. Sebagai penghubung dari bentukan-bentukan yang ada di lapangan golf. Fungsi pohon secara ekonomi yaitu menghasilkan produk yang ekonomis seperti buah, kayu, kayu bakar, kompos, daun, kacang-kacangan, dan produk lainnya. Jenis tanaman yang tumbuh sesuai iklim setempat akan mempengaruhi jenis produk yang dihasilkan.

Lapangan golf yang baik harus mampu memenuhi dua jenis kualitas yang ditentukan, yaitu kualitas fungsional dan kualitas visual (Nurhayati, 2009). Kualitas fungsional terdiri dari kekakuan (rigidity), elastisitas (elasticity), kekenyalan (resiliency), ketegaran (verdure), perakaran (rooting), dan pemulihan (Beard, 1973). Kualitas visual terdiri dari kerapatan (density), tekstur (texture), keseragaman (uniformity), dan kehalusan (smoothness), dan warna (Nick, 2004).

 

Secara umum berdasarkan daerah sebaran dan daya adaptasinya terhadap suhu lingkungan, ada dua kelompok besar rumput yaitu rumput daerah panas, dan rumput daerah dingin. Rumput daerah panas tumbuh paling baik di daerah yang suhunya antara 27°-35° C, sedangkan rumput daerah dingin lebih baik pertumbuhannya pada suhu antara 15°-24° C. Rumput yang tumbuh di daerah panas yang popular antara lain adalah bermudagrass (Cynodon dactylon),

zoysiagrass (Zoysia matrella), dan carpetgrass (Axonopus compresus) (Nick, 2004).

Pemilihan rumput untuk lansekap termasuk untuk lapangan golf, didasarkan pada berbagai pertimbangan. Ketahanan dan kualitas hamparan yang diinginkan dan kecepatan pertumbuhan/penutupan tanah merupakan kriteria utama. Pertumbuhan dan penutupan yang cepat diinginkan untuk stabilisasi tanah, mengurangi perawatan sesudah tanam dan penggunaan tapak secara keseluruhan

Tingkat kepentingan kriteria ditentukan juga oleh peruntukannya, misalnya kriteria mana yang utama untuk green berbeda dengan teebox maupun fairway. Guntoro et al. (2007) menyatakan jenis rumput yang digunakan untuk area green

harus memiliki persyaratan antara lain :

1. Rendah, tumbuh menjalar, dan berdaun tegak.

2. Toleran terhadap pemangkasan pendek (sampai 0.5 cm), 3. Tajuknya sangat rapat

4. Daunnya bertekstur halus 5. Keseragaman tinggi

6. Bebas dari biji gulma yang berlebihan 7. Mempunyai daya pemulihan yang cepat

Sifat-sifat lain yang juga diinginkan adalah ketahanan terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap deraan lingkungan dan lalu-lintas. Warna hijau tua tidak mempengaruhi kualitas putting tetapi dapat meningkatkan nilai estetikanya.

Sifat penting yang harus diperhatikan untuk daerah teebox antara lain memiliki daya pulih yang tinggi, adaptif untuk pemangkasan 0.8-2 cm, rapat dan kuat, serta toleran terhadap pemadatan tanah. Sifat yang diinginkan untuk daerah

fairway tidak banyak beda dengan untuk green. Perbedaannya terutama dalam tingkat keseragaman, kehalusan dan ketegaran.

Bermudagrass meliputi 10 spesies, termasuk spesies hibrida (Cynodon magennisii). Varietasnya sangat banyak dan beragam misalnya varietas Tifgreen

dan Tifdwarf sangat bagus untuk green, sedangkan Tifway cocok untuk fairway

(Harjanto, 1995). Ketiga contoh varietas tersebut adalah hasil perkawinan antara

C. dactylon dan C. transvaalensis. Zoysiagrass memiliki beberapa spesies dan diantaranya banyak digunakan untuk lansekap, termasuk lapangan golf seperti rumput jepang (Zoysia japonica) dan rumput manila (Zoysia matrella).

Spesies-spesies zoysia dibedakan terutama berdasarkan kecepatan pertumbuhan, tekstur dan toleransinya terhadap suhu rendah. Rumput jepang bertekstur sedang, pertumbuhan lambat, dan toleran terhadap suhu rendah. Varietasnya yang paling banyak ditanam adalah Meyer. Varietas Emerald

merupakan hasil perkawinan antara Z. japonica dengan Z. tenuifolia, memiliki pertumbuhan rapat, berwarna hijau tua dan membentuk hamparan yang indah.

2.3. Pendugaan dan Pengukuran Biomassa serta Karbon  

Penghitungan untuk karbon sequestration harus mencakup seluruh gudang karbon yaitu biomassa hidup bagian atas, biomassa hidup bagian bawah, nekromassa, dan biomassa tanah. Biomassa merupakan jumlah total dari bahan organik hidup yang dinyatakan dalam bobot kering oven ton per unit area. Brown (1997) mengemukakan bagian terbesar gudang karbon (carbon pool) dalam proyek berbasis hutan adalah dalam biomassa hidup, meliputi komponen bagian atas dan bagian bawah (akar), pohon, palma, tumbuhan herba (rumput dan tumbuhan bawah), semak, dan paku-pakuan.

Dalam inventarisasi karbon hutan, terdapat setidaknya ada empat gudang karbon yang diperhitungkan (Hairiah et al. 2001). Keempat gudang karbon tersebut yaitu : biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, bahan organik mati dan karbon organik tanah. Biomassa atas permukaan adalah semua material hidup di atas permukaan. Termasuk bagian dari pool karbon ini yaitu : batang, tunggul, cabang, kulit kayu, biji dan daun dari vegetasi baik dari strata pohon maupun dari strata tumbuhan bawah di lantai hutan.

Biomassa mati meliputi serasah halus, sisa kayu kasar, tanah termasuk mineral, lapisan organik dan gambut. Biomassa bawah permukaan adalah semua

11   

biomassa dari akar tumbuhan yang hidup. Pengertian akar ini berlaku hingga ukuran diameter tertentu yang ditetapkan. Hal ini dilakukan sebab akar tumbuhan dengan diameter yang lebih kecil dari ketentuan cenderung sulit untuk dibedakan dengan bahan organik tanah dan serasah (Cesylia, 2009).

Bahan organik mati meliputi kayu mati dan serasah. Serasah dinyatakan sebagai semua bahan organik mati dengan diameter yang lebih kecil dari diameter yang telah ditetapkan dengan berbagai tingkat dekomposisi yang terletak di permukaan tanah (Hairiah, 2001). Kayu mati adalah semua bahan organik mati yang tidak tercakup dalam serasah baik yang masih tegak maupun yang roboh di tanah, akar mati, dan tunggul dengan diameter lebih besar dari diameter yang telah ditetapkan. Karbon organik tanah mencakup karbon pada tanah mineral dan tanah organik termasuk gambut.

Namun untuk mengukur keseluruhan gudang karbon mengalami banyak kendala dan biaya yang sangat besar serta beberapa komponen gudang karbon dalam vegetasi memiliki perubahan cadangan karbon sangat kecil sehingga tidak perlu diukur. Cessylia (2009) merekomendasikan gudang karbon utama yang dapat diperhitungkan untuk kegiatan proyek karbon yakni biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass), biomassa di bawah permukaan tanah (belowground biomass), serasah, kayu-kayu mati, dan karbon tanah.

Pengukuran biomassa vegetasi dapat memberikan informasi tentang karbon dalam vegetasi secara keseluruhan, atau jumlah bagian-bagian tertentu seperti kayu yang sudah diekstrasi (Langi, 2007). Menurut Sutaryo (2009) metode pendugaan biomassa diatas permukaan tanah secara garis besar dikelompokkan menjadi dua yaitu:

1. Metode pemanenan (destruktif)

a) Metode pemanenan individu tanaman, metode ini digunakan pada kerapatan tanaman individu tumbuhan cukup rendah dan komunitas tumbuhan dengan jumlah yang sedikit. Nilai total biomassa dengan metode ini diperoleh dengan menjumlahkan biomassa seluruh individu dalam suatu unit area contoh.

b) Metode pemanenan kuadrat, metode ini mengharuskan menanam semua individu dalam suatu unit area contoh dan menimbangnya. Nilai total biomassa

diperoleh dengan mengkonversi bobot bahan organik yang dipanen dalam suatu unit area.

c) Metode pemanenan individu pohon yang mempunyai luas bidang dasar, metode ini biasanya diterapkan pada tegakan yang memiliki ukuran individu seragam. Nilai total biomassa diperoleh dengan menggandakan nilai berat rata-rata dari pohon contoh yang ditebang dengan jumlah individu pohon dalam suatu unit area dengan jumlah luas bidang dasar dari semua pohon.

2. Metode pendugaan tidak langsung (non-destruktif)

a) Metode hubungan alometrik, metode ini didasari pada persamaan alometrik dengan mencari korelasi paling baik antara dimensi pohon (diameter dan tinggi) dengan biomassanya. Sebelum pembuatan persamaan pohon-pohon yang mewakili sebaran kelas diameter ditebang dan ditimbang. Nilai total biomassa diperoleh dengan menjumlahkan semua bobot individu pohon dalam suatu unit area.

b) Crop meter, metode pendugaan biomassa ini dilakukan dengan cara menggunakan peralatan elektroda listrik. Menurut Marklund dan Schoene (2006) terdapat dua pendekatan yang digunakan untuk menduga biomassa dari pohon, yakni pertama berdasarkan pendugaan volume kulit sampai batang bebas cabang yang kemudian diubah menjadi kerapatan biomassa (ton/ha), sedangkan pendekatan kedua secara langsung dengan menggunakan persamaan regresi biomassa.

Pendugaan biomassa pada pendekatan pertama menggunakan persamaan : Biomassa di atas tanah (ton/ha) = VOB x WD x BEF (Brown, 1997) dimana VOB = Volume batang bebas cabang dengan kulit (m3/ha)

WD = Kerapatan kayu (biomassa kering oven (ton) dibagi volume biomassa inventarisasi (m3)

BEF = Perbandingan total biomassa pohon kering oven di atas tanah dengan biomassa kering oven hasil inventarisasi hutan.

Pendugaan biomassa dengan pendekatan kedua menggunakan persamaan : Biomassa di atas tanah Y = aDb dimana :

Y = biomassa pohon (kg)

13   

Menurut Ketterings et al. (2001) metode yang paling akurat dalam pengukuran biomassa tegakan di atas permukaan tanah adalah dengan cara menimbang biomassa pohon secara langsung di lapangan. Tetapi metode tersebut membutuhkan banyak waktu, sangat merusak, dan pada umumnya terbatas pada area yang sempit serta ukuran pohon yang kecil.

Pendugaan biomassa meggunakan metode non-destruktifdengan allometrik bisa lebih cepat dilaksanakan dan area yang lebih luas bisa dijadikan contoh. Persamaan allometrik sering digunakan pada studi-studi ekologi dan inventarisasi hutan dalam menduga hubungan antara diameter setinggi dada (DBH) atau variabel-variabel lain yang mudah diukur dengan volume pohon atau biomassa pohon.

Beberapa ahli mengembangkan pendugaan biomassa hubungan alometrik dengan membangun hubungan diameter (DBH) pohon dengan tinggi pohon (Hairiah et al. 2001). Menurut Marklund dan Schoene (2006) analisis dimensional (DBH dan tinggi) suatu pohon telah terbukti dan mampu menjelaskan lebih dari 95% variasi biomassa pohon.

Lebih lanjut Rahayu et al. (2009) mengemukakan bahwa kandungan biomassa dari hutan berbeda-beda tergantung dari tipe hutan, kesuburan tanah, tempat tumbuh, dan bagian-bagian biomassa pohon. Pada bagian batang bobotnya lebih besar daripada bobot akar, cabang dan daun, meskipun demikian bagian tersebut sangat penting dalam inventarisasi hara, dan kandungan hara pada bagian batang cenderung mendominasi semua komponen di dalam hutan.

Pendugaan biomassa juga dapat dilakukan dengan pendekatan volume kayu berdiri mulai dari volume tunggak, batang utama, bebas cabang, cabang beraturan, dan volume total batang dengan mengalikan volume tiap-tiap bagian ini dengan kerapatan kayu. Model matematik merupakan salah satu jenis model yang banyak digunakan pada tanaman. Model ini dicirikan oleh persamaan matematik yang terdiri dari peubah dan parameter serta adanya korespondensi (fungsi) antar peubah (Marklund dan Schoene, 2006).

Para ahli ekologi dan kehutanan mengasumsikan bahwa cadangan karbon dalam pohon diperkirakan 40–50% dari total biomassa, sehingga pendugaan karbon terutama dalam kegiatan pengukuran dan monitoring perdagangan karbon

menggunakan asumsi bahwa 50% dari total biomassa adalah karbon (Brown, 1997).

III. METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di tiga padang golf yaitu Cibodas Golf Park dengan koordinat 6044’18.34” LS dan 107000’13.49” BT pada ketinggian 1339 m di atas permukaan laut (m dpl) (Gambar 4), Bogor Golf Club dengan koordinat 6035’04.58” LS dan 106046’42.87” BT pada ketinggian 230 m dpl (Gambar 5), dan padang golf the Golf Pantai Indah Kapuk dengan koordinat 6006’48.18” LS dan 106044’56.32” BT pada ketinggian 3 m dpl (Gambar 6). Analisis biomassa dan kadar karbon dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian berlangsung dari bulan Januari 2012 sampai dengan Mei 2012.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan untuk analisis laboratorium penentuan kadar karbon rumput golf adalah sampel rumput golf. Alat yang digunakan antara lain timbangan kasar, timbangan analitik, eksikator, oven, tanur, dan cawan aluminium.

Peralatan yang digunakan dalam survei untuk analisis keanekaragaman dan pendugaan biomassa tegakan adalah global positioning system (GPS), tally sheet, tali tambang, hagameter, meteran, pita ukur, kalkulator.

3.3. Peubah Pengamatan

Peubah yang diamati dalam penelitian ini yaitu rumput golf, tegakan pohon, serta komposisi dan jenis vegetasi.

3.3.1. Rumput Golf

Kelompok vegetasi yang diambil sebagai sampel adalah jenis rumput golf yang ditanam pada green, teebox, fairway, dan rough di padang golf tempat penelitian dan masuk dalam sub plot ukuran 0.5 m x 0.5 m dengan kedalaman 0-10 cm. Peubah yang diukur di lapangan adalah bobot basah, sedangkan di laboratorium yang diukur adalah bobot kering, kadar abu, kadar zar terbang, dan kadar karbon.

Gambar 4. Peta lokasi Cibodas Golf Park (sumber: Google earth).

17   

Gambar 6. Peta lokasi the Golf Pantai Indah Kapuk (Sumber: Google earth).

3.3.2. Pohon

Kelompok vegetasi yang diambil sebagai sampel adalah jenis pohon yang dominan ditanam di padang golf tempat penelitian, kemudian diukur dan diamati dengan kriteria sebagai berikut: yakni semua tumbuhan berkayu yang memiliki diameter batang setinggi dada atau diameter at breast height (DBH) > 5 cm. Peubah vegetasi berupa pohon yang diamati terdiri dari nama jenis, jumlah individu, diameter, dan tinggi pohon.

3.3.3. Komposisi dan Jenis Vegetasi

Vegetasi pada area permainan maupun non permainan padang golf diklasifikasikan berdasarkan tingkat pertumbuhannya, yaitu (a) pancang yaitu permudaan yang memiliki diameter mulai dari 2-10 cm, (b) tiang yaitu permudaan yang memiliki diameter mulai dari 10-20 cm, dan (c) pohon yaitu pohon yang telah memiliki diameter > 20 cm (Soerianegara dan Indrawan, 2008).

3.4. Metode Penelitian

3.4.1. Penarikan Contoh Rumput Golf (Destruktif)

Pendugaan Cadangan Karbon rumput golf dilakukan dengan cara destruktif. Menurut Hairiah et al. (2001) untuk sampling destruktif rumput golf yang masuk ke dalam plot dipangkas kemudian ditimbang bobot basahnya di lapangan dan ditimbang bobot keringnya setelah dioven.

Pengambilan sampel rumput golf pada bagian fairway, teebox, dan green,

dan rough dilakukan secara komposit dan random masing-masing sebanyak tiga ulangan (Gambar 7). Biomassa total rumput golf adalah total biomassa setiap sortimen dari rumput tersebut. Setelah penimbangan bobot basah, diambil sub sampel sebanyak 250 g dan dimasukkan ke dalam paper bag serta diberi kode untuk dianalisis di laboratorium.

Gambar 7. Posisi sampling rumput golf.

3.4.2. Penentuan Petak Ukur Permanen Pohon

Penentuan petak ukur permanen dilakukan dengan menggunakan petak contoh berupa bujur sangkar dengan beberapa ukuran. Bagian petak contoh yang besar berukuran 20 m x 20 m untuk vegetasi yang berupa pohon, bagian petak contoh yang kecil berukuran 10 m x 10 m untuk tiang, petak contoh ukuran 5 m x 5 m untuk pancang. Untuk mengetahui karbon stok pada pohon maka sebelumnya dilakukan tahapan yaitu: inventarisasi dan pengukuran fisik pohon yang bertujuan untuk mengetahui jumlah dan jenis pohon yang terdapat di lokasi penelitian.

Pengukuran fisik pohon dilakukan untuk memperoleh data mengenai diameter batang. Pengukuran DBH dilakukan pada ketinggian 130 cm dari atas permukaan tanah dengan menggunakan meteran. DBH dibagi 4 kategori, yaitu: < 10 cm, 10-19.9 cm, 20-29.9 cm, 30-39.9 cm, dan > 40 cm.

19   

3.4.3. Analisis Keanekaragaman Vegetasi

Penentuan titik sampling di dalam setiap area lapangan golf dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi penelitian secara sengaja yang dianggap representatif.

Pengambilan contoh vegetasi dilakukan dengan menggunakan petak contoh berupa bujur sangkar dengan beberapa ukuran. Bagian petak contoh yang besar berukuran 20 m x 20 m untuk vegetasi yang berupa pohon, bagian petak contoh yang kecil berukuran 10 m x 10 m untuk tiang, petak contoh ukuran 5 m x 5 m untuk pancang, 2 m x 2 m untuk semai (Gambar 8).

5 m

2  m 

5 m 

10 m 20 m

Gambar 8. Bentuk plot sampling petak kuadrat.

3.5. Prosedur Analisis

3.5.1. Penentuan Kadar Karbon Rumput Golf  3.5.1.1. Penentuan Biomassa Rumput Golf

Setiap sampel bagian tanaman yang sudah ditimbang dikeringkan dalam oven dengan suhu 800C selama 48 jam dan kemudian ditimbang untuk mengetahui bobot keringnya. Setelah diketahui bobot kering sampel, maka dapat dihitung nilai total bobot kering sampel atau biomassa dari masing-masing bagian yang diukur dengan persamaan :

Bobot kering total kg

m2 = Bobot basah total kg x Bobot kering subsampel (g) Bobot basah subsampel g x Luas area sampling (m2

3.5.1.2. Pengukuran Kadar Air

Pengukuran kadar air contoh uji dari beberapa bagian pohon dilakukan berdasarkan standar TAPPI T 268 OM 88 dengan tahapan sebagai berikut :

a. Sebelum pengujian dimulai, cawan aluminium yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu di dalam oven pada suhu 105⁰ C selama 1 jam. Setelah 1 jam,

cawan aluminium didinginkan ke dalam eksikator, kemudian ditimbang untuk mengetahui berat cawan.

b. Selanjutnya contoh uji sebanyak 1–2 g ditimbang (Bo), kemudian dimasukan ke dalam cawan yang telah diketahui beratnya. Cawan aluminium yang berisi contoh uji tersebut kemudian dimasukan ke dalam oven selama 3 jam pada suhu 105 ± 3o C.

c. Setelah 3 jam, cawan aluminium yang yang berisi contoh uji tersebut dikeluarkan dari oven, kemudian dimasukkan ke dalam eksikator, selanjutnya ditimbang sebagai berat contoh uji dalam cawan aluminium. Contoh uji dalam cawan aluminium dikurangi berat cawan aluminium dan dinyatakan sebagai berat kering oven dari contoh uji (BKT). Nilai kadar air (KA) dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Kadar air = Bo-BKT

BKT × 100%  3.5.1.3. Penentuan Kadar Zat Terbang

Cawan porselen diisi contoh uji berupa serbuk, kemudian cawan ditutup rapat-rapat dengan penutupnya, lalu dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 9500C dengan cara sebagai berikut: mula-mula cawan dimasukkan ke bagian depan pintu tanur dengan suhu 3000C selama 2 menit, kemudian dipindahkan pada sisi tanur dengan suhu 5000C selama 3 menit, dan terakhir cawan dipindahkan pada bagian dalam tanur dengan suhu 9500C selama 6 menit.

Kemudian cawan berisi serbuk yang sudah dipanaskan dalam tanur tersebut kemudian di dinginkan dalam eksikator selama 1 jam dan di timbang. Kadar zat yang mudah menguap dinyatakan dalam persen berat dengan rumus :

Kadar zat terbang = A-BA × 100% 

Dokumen terkait