• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Landasan Teori

2.2.3 Narasi

2.2.3.2 Struktur Karangan Narasi

Struktur karangan narasi dapat dilihat dari komponen yang memben-tuknya (Keraf, 1985: 145). Komponen-komponen itu adalah perbuatan, penoko-han, latar, alur, sudut pandang dan tema. Setiap karangan narasi memiliki sebuah

plot atau alur yang didasarkan pada kesinambungan peristiwa-peristiwa dalam narasi itu dalam hubungan sebab akibat.

Berikut dijelaskan struktur karangan narasi dilihat dari komponen-komponen yang membentuknya.

1. Perbuatan

Rangkaian perbuatan atau tindakan menjadi landasan utama untuk menciptakan sifat dinamis sebuah narasi, karena membuat kisah itu menjadi hidup. Perbuatan itu sendiri mempunyai komponen-komponen yang membentuk struktur suatu perbuatan.

a. Setiap tindakan harus diungkapkan secara terperinci dalam komponen-komponen yang lebih kecil yang bersama-sama menciptakan perbuatan itu sehingga pembaca merasakan seolah-olah mereka sendiri yang merasakan perbuatan itu. Misalnya yang diceritakan mengenai perbuatan melihat

pemandangan di pegunungan. Perbuatan melihat dapat dikisahkan seperti contoh berikut.

“Aku menoleh ke arah kanan, menatap jauh ke depan. Lalu aku mulai berjalan dan ku pandang sekelilingku yang tapak hanyalah hamparan hijau pepohonan”.

b. Setiap perbuatan dan rangkaian perbuatan harus dijalin satu sama lain dalam hubungan yang logis, sehingga perbuatan atau tindak-tanduk dalam sebuah narasi harus dilihat sebagai suatu arus gerak yang berkesinambungan sepanjang waktu (Keraf, 1985: 156). Hubungan yang logis dalam tindak-tanduk sebuah narasi akan lahir sebagai kausalitas atau hokum sebab akibat.

Contoh:

Dalam bulan Januari 1946, ada sebuah kapal bertolak dari Surabaya menuju Jakarta. Di antaranya ada sejumlah penumpang yang merupakan sekarelawan perang berasal dari Jakarta. Mereka telah dikirim satuannya untuk mempertahankan Surabaya. Tidak jauh dari selat Madura tiba-tiba terjadi suatu ledakan dahsyat. Kapal tadi telah melanggar ranjau laut. Perlahan-lahan di malm yang gelap itu kapal itu tenggelam bersama seluruh isinya. Ada 200 orang yang mati tenggelam. Diantara ke-200 orang yang tewas dalam kecelakaan itu terdapat seorang sukarelawan yang selalu tampak gembira, seorang pegawai perusahaan swasta di Jakarta, rendah hati, berusia 30 tahun, meninggalkan seorang istri dan seorang putri (Keraf, 1985: 159).

2. Penokohan

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman,1991: 16). Karena tokoh-tokoh itu rekaan pengarang, hanyalah pengarang yang mengenal mereka. Oleh sebab itu, tokoh-tokoh perlu digambarkan ciri-ciri lahir dan sifat serta sikap batinya agar wataknya juga dikenal oleh pembaca. Yang dimaksud dengan watak adalah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakan dengan tokoh lain. Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini yang disebut penokohan (Sudjiman, 1991: 23).

Contoh:

Sungguhpun Datuk Maringgih orang yang kaya raya, tetapi tidaklah ia berbangsa tinggi. Khonon kabarnya, takkala mudanya, ia sangat miskin. Bagaimana ia memperoleh kekayaan demikian rupa itu, tiadalah seorang jualah yang tahu, lain dari pada ia sendiri. Suatu sifat yang ada padanya, yang dapat menambah kekayaann yaitu, ialah ia amat sangat kikir. Perkara uang sesen, maulah dibolak-baliknya dahulu uang itu beberapa kali, sebagai tak dapat ia bercerai dengan uang ini, seraya berkata dalam hatinya,” Aku berikan uang ini atau tidak?”. Hanya untuk suatu perkara saja ia tiada bathil, yaitu untuk perempuan ( Siti Nurbaya, 1965: 11).

3. Latar

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang , dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra yang membangun cerita (Sudjiman, 1991: 44). Latar adalah situasi yang mendu-kung dalam sebuah cerita. Latar juga disebut setting atau landasan tumpu. Latar dapat digambarkan secara hidup dan terperinci, dapat pula digambarkan secara sketsa, sesuai dengan fungsi dan peranan dalam tindak tanduk yang berlangsung (Keraf, 1985: 148). Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk menciptakan kesan realistik atau nyata kepada pembaca. Latar menciptakan suasana yang seakan-akan nyata ada, yang mempermudah pembaca dalam berimajinasi. Latar juga memungkinkan pembaca berperan secara kritis berkenaan dengan pengetahuannya mengenai latar tersebut. Hal ini juga menjelaskan tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Berikut dijelaskan secara terperinci macam-macam latar.

a. Latar yang menjelaskan tempat

Dalam sebuah narasi latar tempat harus benar-benar dapat menjelaskan atau menggambarkan tempat di mana suatu peristiwa terjadi.

Contoh:

Aku tak bisa berpura-pura aku tidak merasa takut bertahun-tahun yang lalu, ketika pintu apartemenku di Waldorf Towers ini menutup di belakangku untuk pertama kalinya. Tetapi di New Yoerk kota yang sangat mengggairahkan. Dalam waktu singkat New York terasa bagai rumah sendiri, seperti Gion. Sesungguhnya, saat aku menoleh ke belakang, kenangan akan betapa banyaknya minggu-minggu yang telah aku lewatkan di sini bersama ketua telah membuat hudupku di Amerika Serikat bahkan lebih bermakna dalam hal-hal tertenti daripada hidupku di Jepang. Rumah minum tehku yang

kecil, di lantai dua sebuah klab tua di Fifth Avenue, cukup sukses sejak awal (Memoar Seorang Geisha, 2003: 472).

b. Latar yang menjelaskan waktu

Dalam sebuah narasi latar waktu juga harus dapat menggambarkan waktu kapan peristiwa itu terjadi.

Contoh:

Selama musim panas tahun itu, 1939, aku begitu sibuk dengan tugas-tugas menghibur, pertemuan sesekali dengan jenderal, pentas tari, dan semacamnya sehingga pada pagi hari saat aku berusaha bangun dengan futon-ku, akku sering merasa seperti ember penuh berisi paku. Biasanya menjelang sore aku berhasil mengatasi keletihanku (Memoar Seorang Geisha, 2003: 347).

c. Latar yang menjelaskan lingkungan sosial

Sebuah cerita dapat dilatari oleh lingkungan sosial seperti keadaan masyarakat, sikap, adat kebiasaan, cara hidup, dan bahasa.

Contoh:

Nelayan memang sangat percaya takhayul. Mereka terutama tidak mau perempuan ikut campur dalam hal penangkapan ikan. Salah seorang nelayan di desa kami, Tuan Yamamura, menemukan anak perempuannya sedang bermain di dalam perahunya suatu pagi. Dia menghajar anaknya dengan tongkat, kemudian mencuci perahunya sake dan larutan alkali yang pekat sekali, sampai-sampai warna kayunya memudar. Ini rupanya belum cukup. Tuan Yamamura memanggil pendeta Shinto datang memberkati perahunya. Semua ini Karen anak perempuannya bermain di perahu penangkap ikannya (Memoar Seorang Geisha, 2003: 19).

4. Sudut Pandang

Menurut Keraf (1985: 190) sudut pandang adalah tempat atau titik dari-mana seorang melihat peristiwa. Sudut pandang adalah bagaidari-mana fungsi seorang pengisah (narator) dalam sebuah narasi, apabila ia mengambil bagian secara langsung dalam seluruh rangkaian kejadian sebagai peserta atau sebagai pengamat

terhadap objek dari seluruh aksi atau tindak tanduk dalam narasi. Menurut Keraf (1985: 192-201) sudut pandang dapat dibagi atas dua pola utama.

a. Sudut pandang orang pertama

Dalam sudut pandang ini, penulis membatasi diri pada apa yang dilihat atau apa yang dialami sendiri sebagai pengisah. Sudut pandang orang pertama atau sudut pandang terbatas masih memiliki perbedaan dan variasi kecil. Perbedaan ini didasarkan pada tipe relasi pengisah dengan seluruh gerak dan tindak-tanduk dalam narasi. Sudut pandang orang pertama dibagi menjadi tiga.

1) Narator sebagai tokoh utama, di mana narator menceritakan perbuatan yang melibatkan dirinya sendiri sebagai partisipan utama dari narasi itu. 2) Narator sebagai pengamat, di mana narator terlibat dalam seluruh

tindakan tetapi hanya berperan sebagai pengamat.

3) Narator sebagai pengamat langsung, di mana narator mengambil bagian langsung dalam seluruh rangkaian tindakan dan turut menentukan hasilnya, tetap ia tidak menjadi tokoh utama.

Contoh:

Pada suatu malam di musim semi tahun 1944, ketika aku baru tinggal bersama keluarga Arashinotak lebih dari tiga atau empat bulan, kami menyaksikan serangan udara yang pertama. Bintang-bintangnya begitu jelas, kami bisa melihat siluet-siluet pesawat-pesawat pembom yang melayang di atas, dan juga ledakan bintang, begitu tampaknya bagi kami, yang terbang dari tanah dan meledak di dekat mereka (Memoar Seorang Geisha, 2003: 380).

b. Sudut pandang orang ketiga

Pada sudut pandang orang ketiga, mengisahkan sesuatu secara impresional, maksudnya pengarang tidak tampil sebagai pengisah, tetapi menghadirkan seorang narator yang tidak berbadan yang menyaksikan berlangsungnya gerak dan tindakan dalam seluruh narasi. Hubungan antara pengisah dengan seluruh tindakan adalah semata-mata sebagai penonton. Sudut pandang orang ketiga dapat dibagi menjadi tiga.

1) Sudut pandang panoranik atau serba tahu, di mana pengarang berusaha melaporkan semua segi dari satu peristiwa.

2) Sudut pandang terarah, di mana pengarang memusatkan perhatiannya hanya pada satu karakter saja yang mempunyai pertalian dengan proses yang dikisahkan.

3) Sudut pandang campuran, sudut pandang ini merupakan percampuran dari sudut pandang panoramik dan sudut pandang terarah (Keraf, 1985: 190-201).

Contoh:

Kau mungkin heran untuk apa geisha bersusah-susah belajar main gendang. Jawabnya sangat sederhana. Damal pesta atau pertemuan informal lainnya di Gion, geisha biasanya menari hanya diiringi shamisen dan mungkin seorang penyanyi. Tetapi untuk pertunjukan panggung, seperti Tarian Kotaraja Tua

yang dipentaskan setiap musim semi, enam atau lebih pemain shamisen bergabung dalam ansambel, ditunjang berbagai jenisgendang dan juga seruling Jepang yang kami sebut fue. Jadi, Geisha harus belajar memainkan semua instrument ini, meskipun pada akhirnya kepadanya akan disarankan untuk mendalami secara khusus satu atau dua instrument saja (Memoar Seorang Geisha, 2003: 153).

5. Alur

Alur merupakan kerangka dasar yang sangat penting dalam kisah. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana suatu insiden mempunyai hubungan dengan insiden yang lain, bagaimana tokoh-tokoh harus digambarkan dan berperan dalam tindakan-tindakan itu, dan bagai-mana situasi dan perasaan karakter tokoh yang terlibat dalam tindakan yang terikat dalam satu kesatuan waktu (Keraf, 1985:118).

Contoh:

Tiba-tiba ia tertegun. Di sana, sayup-sayup dari jauh, di arah seberang kali sebelah timur, terdengar suara jeritan orang. Tapi selintas saja, jeritan diputuskan oleh sebuah letusan yang sangat hebat... kemudian hening seketika, desingan yang banyak mulaim reda, tingal satu-satu letusan di sana- sini. Warsiah menegakkan kepala, matanya mulai liar, badannya di hadapkannya ketimur, ke arah tempat jeritan dating, kemudian berbalik menghadap ke barat, tegak bertolak pinggang, lalu lari, lari menurutkan jalan rel, lari kencang sambil mulutnya berkomat-kamit. Dari kamit mulutnya keluar lagi perkataan yang seperti biasa, tiada berjuang tiada berpangkal:...si bengis lagi, si ganas lagi...dan ia lari terus, lari lepas sebagai melancar saja, tiada kaku-kakunya. Dan ketika ia sampai di jalan pertemuan antara jalan kereta dan jalan raya, ia berhenti sebentar, seolah-olah berpikir, kemudian ia membelok menurutkan jalan raya. Dari jauh dalam pandangan kabur sambil berlari, ia melihat benda bergerak, berderet sepanjang jalan, tetapi sebelun ia tahu benar apa yang di lihatnya, sebuah peluru dating menyongsong, tepat menembus tulang dadanya. Warsiah terpelanting, jatuh tersungkur di tengah jalan,. Sebentar merontak-rontak, mengerang, menyumpah-nyumpah, termabur juga dalam sumpah serapahnya: si bengis lagi, si ganas lagi, hitam, kejam...rupanya dalam ia bergulat mempertahankan kehidupannya dengan sakratul maut, kebencian terhadapa si hitam-kejamnya, si bengis-ganasnya, masih sanggup mengatasi renggutan tangan Malaikat pengambil nyawanya yanga menceraikan rohnya dengan badan kasarnya. Warsiah lama merontak-rontak, merentang ke sana-ke amri, kemudian lemah tak berdaya...Warsiah yang sebentar ini masih menjadi kerangka hidup, kini sudah benar-benar menjadi kerangka mati. Mati terhampar di tengan jalan, tiada dihiraukan orang, tiada ada yang menagis meratapi (Gema Tanah Air, 1959: 158-159).

6. Tema

Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang melandasi sebuah cerita (Sudjiman, 1991: 50). Tema akan dijumpai dalam setiap karya sastra atau tulisan.

Dokumen terkait