“Struktur yang Mengikuti Arsitektural“
Struktur dan Arsitektur merupakan sebuah bagian dalam perancangan yang tidak dapat terpisahkan antara satu dengan lainnya. Struktur merupakan hal yang berkaitan sangat erat dengan konstruksi dari suatu bangunan. Hal ini dikarenakan struktur menjadi bagian utama dan terpenting dalam suatu bangunan sehingga bangunan tersebut dapat
tetap berdiri dan bertahan dari gaya – gaya yang akan mempengaruhinya. Pada umumnya,
struktur dapat berupa bagian dalam dari suatu sistem rangka utama yang tertutup. Dalam pengertiannya, struktur tersebut tidak dapat terlihat dari luar bangunan atau tersembunyi oleh elemen – elemen arsitektural, tetapi terkadang struktur tersebut sengaja diperlihatkan sebagai bagian dari estetika, yang artinya struktur tersebut tidak di sembunyikan melainkan sengaja digunakan sebagai suatu elemen arsitektural.
Pada masa kini banyak arsitek yang takut terhadap bentuk bangunan yang lebih berani atau ekstrim. Bentuk bangunan yang dirancang pada masa kini pada umumnya berprinsip arsitektur mengikuti struktural sehingga terciptalah bentuk bangunan yang biasa – biasa saja seperti berbentuk kotak, bulat ataupun segitiga. Hal ini tidak lain dikarenakan dalam merancang bangunannya yang akan berkaitan erat dengan struktur yang mengikutinya, semakin rumit desain dari suatu bangunan maka semakin sulit juga struktur dan konstrusinya. Hal ini membuat arsitek merasa terikat atau takut, sehingga membuat mereka tidak dapat berekspresi lebih atau memberikan ide – ide desain yang lebih maju karena mereka merasa kesulitan dengan perhitungan struktur, material yang dipakai, dan sistem konstruksinya. Struktur sendiri mempunyai pengertian yang berbeda diantara satu profesi tertentu dengan profesi lainnya. Dalam dunia arsitektur pada
umumnya struktur disebut sebagai “structural engineering” jika diartikan dalam Bahasa
keahlian tersebut adalah orang yang ahli dalam rekayasa struktur. Rekayasa struktur adalah bidang dari teknik yang berhubungan dengan analisa dan desain struktur yang saling mendukung atau dapat diartikan menjadi menahan beban. Dalam teori rekayasa
struktural didasarkan pada hukum – hukum fisika serta pengetahuan empiris dari kinerja
struktur lansekap dan bahan atau material – material yang berbeda.
Dalam pengaplikasian terhadap bangunan tinggi yang melibatkan aplikasi teknologi serta sistem bangunan yang terpadu, terdapat beberapa strategi yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan bangunan tinggi yang lebih peduli terhadap lingkungan. Dalam proyek bangunan tinggi dengan fungsi hotel dan mall yang akan dirancang oleh
penulis, terdapat beberapa hal – hal yang harus diperhatikan seperti metode membangun,
sistem struktur yang akan dipakai, material, serta sistem mekanikal elektrikal yang akan
diterapkan dalam perancangan fungsi bangunan mix used. Hal yang penting pada struktur
bangunan tinggi adalah stabilitas dan kemampuan dari bangunan tersebut untuk menahan gaya lateral, baik yang dapat disebabkan oleh angin atau gempa bumi. Beban dari angin akan lebih terpengaruh dalam ketinggian dari bangunan sehingga ketika suatu bangunan semakin tinggi bangunan tersebut akan memiliki kekuatan angin yang semakin kuat atau kencang, sedangkan beban gempa lebih terkait pada massa bangunan. Kolom pada sistem bangunan tinggi perlu diperkokoh dengan sistim pengaku agar dapat menahan gaya lateral agar deformasi yang terjadi akibat dari gaya horizontal tidak melampaui kententuan – ketentuan yang telah berlaku. Pada umumnya pengaku gaya lateral yang sering digunakan yaitu dinding geser atau rangka pengaku. Sedangkan pada rancangan bangunan yang akan penulis rancang ini menggunakan dinding geser sebagai pengaku gaya lateral. Dinding geser memiliki pengertian sebagai komponen struktur vertikal yang relatif sangat kaku. Dalam dinding geser bukaan maksimal hanya diperbolehkan 5% agar
tidak mengurangi kekakuannya. Fungsi dinding geser ini akan menjadi dinding penahan
beban (bearing wall) jika dinding geser ini menerima beban tegak lurus dinding geser.
Pada dasarnya setiap sistem struktur dari suatu bangunan merupakan penggabungan dari beberapa elemen struktur secara tiga dimensi yang sangat rumit.
Fungsi utama dari sistem struktur yaitu untuk memikul secara aman dan efektif beban –
beban yang akan bekerja pada bangunan yang terdiri atas beban vertikal, horizontal, perbedaan temperatur, getaran, dan sebagainya. Dikarenakan ketinggian bangunan yang akan dirancang berkisar 25 lantai, pengaplikasian dalam sistem bangunan tinggi ini akan
menggunakan sistem rigid frame yang turut dipadukan dengan shear wall dengan tujuan
untuk menambah ketahanan dari beban hidup dan beban mati yang akan mempengaruhinya. Beban angin dan beban gempa merupakan bagian dari beban hidup, sedangkan beban mati merupakan berat dari semua bagian dalam suatu bangunan yang
sifatnya menetap, termasuk segala unsur tambahan seperti beban gravitasi, mesin – mesin
serta peralatan tetap (fixed equipment) yang termasuk bagian yang tak terpisahkan dari
bangunan itu. Beban gravitasi merupakan beban yang berasal dari beban mati struktur dan beban hidup yang besarnya disesuaikan dengan fungsi dari bangunan yang akan dirancang. Struktur lantai yang akan diterapkan oleh penulis menggunakan kombinasi dari pelat dengan balok induk (girder), anak balok (beam) atau rusuk (rib atau joint),
yang ketebalanya akan bergantung pada bentang, beban, dan kondisi tumpuannya.
Dengan sistem pelat dua arah (two ways slab on beam) pada pelat lantai yang menahan
beban biasa, sedangkan pada bagian kolam renang, yang menahan beban yang sangat berat penulis menggunakan sistim pelat rusuk dua arah (waffle slab) karena pelat ini
memberikan kekakuan yang cukup besar sehingga dapat menahan atau memikul beban dari air untuk bentang lantai yang lebar. Bangunan dirancang dengan menggunakan struktur berbahan beton (beton bertulang) dikarenakan bangunan dengan struktur beton
dapat digunakan untuk maksimal ketinggian 80 lantai sedangkan bangunan yang dirancang oleh penulis hanya berkisar 23 lantai.
Panjangnya bangunan yang dirancang oleh penulis dikarenakan bentuknya seperti huruf L memerlukan sistim dilatasi atau biasanya disebut sebagai pemisah bangunan. Hal ini disebabkan karena bangunan yang sangat panjang tidak dapat menahan deformasi akibat dari penurunan pondasi, muai atau susut, gempa, akumulasi gaya yang sangat besar pada dimensi bangunan yang panjang, dan menyebabkan adanya retakan atau keruntuhan struktural. Oleh karena hal tersebut, saat penulis merancang bangunan yang besar perlu dibagi menjadi beberapa bangunan yang lebih kecil dimana pada tiap bangunan dapat bereaksi secara kaku dalam menghadapi pergerakan bangunan yang terjadi. Dilatasi baik digunakan pada pertemuan diantara bangunan yang rendah dengan bangunan yang tinggi dan antara podium bangunan dengan tower. Sistem dilatasi yang diterapkan pada bangunan dari penulis menggunakan sistem dilatasi dengan dua buah kolom. Pemisahan struktur dengan dua kolom terpisah merupakan hal yang paling lazim digunakan, terutama pada bangunan yang memanjang (linear). Daerah yang terkena dilatasi akan memiliki bentangan yang lebih kecil sehingga lokasi dimana daerah tersebut dilatasi akan berubah menjadi lebih kecil.
Dalam merancang sistem struktur bangunan tinggi terdapat beberapa metode –
metode yang perlu diperhatikan diawali dengan pekerjaan persiapan pada lahan dan pondasi. Persiapan dilakukan dengan pembersihan terhadap lahan yang akan dirancang dengan menggunakan shovel ataupun alat pembersih lahan lainnya. Setelah melakukan
pembersihan dibangunlah rumah bedeng atau gudang tempat penyimpanan bahan – bahan
struktur. Pondasi pada bangunan tinggi, dapat berupa pondasi dalam (pondasi tiang) atau
pondasi rakit (berupa basement) dan dapat digabungkan dengan pondasi dalam dengan
yang pelaksanaanya dilakukan dengan menggunakan alat pancang (drop hammer) yang
dipasang pada mobil derek atau tiang bor. Pekerjaan galian dimulai dengan menggunakan berbagai alat. Pada daerah yang muka airnya tinggi, perlu disiapkan sumuran untuk
menampung air yang kemudian dipompa keluar (dewatering). Dikarenakan site yang
akan dirancang oleh penulis ini terletak pada tepi kawasan sungai Deli, maka ketika
melakukan penggalian dapat digunakan 2 cara yaitu menggunakan besi – besi untuk
dipadatkan agar air tidak dapat masuk ke dalam site atau menggunakan dinding basement
secara langsung untuk menahan air. Kemudian bahaya dari longsor di sekeliling daerah yang akan digali dapat menggunakan struktur dinding penahan tanah atau turap. Struktur ini dapat berupa sheet pile, profil baja yang ditanam mengelilingi daerah pada area galian
atau dapat berupa soldier pile, tiang pancang yang diletakkan berimpitan satu dengan
lainnya. Pengecoran dasar basement, kolom – kolom dan balok serta pelat lantai baru dikerjakan secara bertahap dari lantai terbawah ke atas secara berurutan setelah seluruh pekerjaan bangunan selesai.
Setelah pekerjaan pondasi/basement selesai, barulah penulis memulai pekerjaan
struktur pada bagian atas, yang diawali dengan pekerjaan pada tahapan lantai dasar yang
secara bertahap dilanjutkan pada lantai – lantai di atasnya yang diawali dengan pekerjaan
lantai dasar yang secara bertahap dilanjutkan dengan lantai – lantai di atasnya. Pada bangunan tinggi yang dirancang oleh penulis, digunakan struktur beton bertulang yang memerlukan cetakan beton / perancah dan struktur sementara pendukung cetakan beton (steiger atau scaffolding). Steiger ini akan dibongkar setelah 2 – 3 minggu ketika beton dianggap sudah dapat memikul beban bagi pekerjaan di atasnya. Pada masa yang modern
ini, penulis menggunakan obat dalam cetakan dari beton tersebut sehingga tidak perlu 2 –
3 minggu untuk membongkarnya dan dapat dipercepat dengan menggunakan obat untuk mengeringkan semen sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk
membongkarnya. Agar pekerjaan dapat dilakukan secara berkesinambungan, perlu
dipersiapkan sejumlah steiger dan kebutuhan perancah untuk tiga lantai.
Pengecoran pada bangunan tinggi biasanya dilakukan dengan mengangkut adukan beton dari bawah ke elevasi lantai yang dicor dengan ember semen (bucket)
ukuran besar. Bucket (ember) ini diangkut dengan bantuan alat penggerak tower crane
untuk bangunan yang mempunyai jumlah lantai lebih dari 24 meter. Beberapa jenis
tower crane yang akan dipakai oleh penulis yaitu static tower crane, travelling tower
crane, supported tower crane, dan climbing tower crane. Perencanaan pada posisi
peletakan tower crane ini telah ditentukan oleh penulis dalam konsep perancangannya
sehingga tidak mengganggu daerah yang berada di sekitar proyek yang akan dirancang.
Dengan panjang tower crane 59.7 m dan menggunakan travelling tower untuk
memindahkan bahan bangunan yang tidak dapat dicapai oleh static tower crane. Adukan
beton diangkut dari lokasi pembuatan adukan beton (concrete mixing plant) dengan truk
pengangkut adukan beton yang dicampur pada lokasi proyek dengan menggunakan adukan beton berukuran besar. Setelah semua ini selesai kemudian akan dilakukan pemasangan sistem utilitas pada bangunan yang akan penulis jabarkan secara lebih mendetail. Seluruh prestasi dari kemajuan pekerjaan ini biasanya dapat dipantau dengan menggunakan Grafik Kurva S.
7.1 gambar Static Tower Crane dan Traveller Crane
Gambar 7.1 Static Tower Crane dan Traveller Crane
Pada awal abad ke -19, tambang dan katrol sering kita gunakan sebagai alat transportasi untuk mengangkut orang dan barang pada bangunan bertingkat tinggi. Peralatan ini digerakkan oleh tenaga air atau uap. Namun pada saat yang semakin maju dan berkembang ini, katrol tidak digunakan lagi sejak ditemukannya alat bernama motor listrik. Pada tahun 1852, William Otis mendemonstrasikan sistem tansportasi vertikal atau
lift untuk pertama kali dengan memperhatikan beberapa aspek – aspek keselamatan pada
manusia dan gedung – gedung pencakar langit yang pertama menggunakan lift dengan
mesin traksi terletak pada puncak bangunan yang dibangun di New York tahun 1914
bernama gedung Woolworth. Pada masa yang modern ini terdapat 2 jenis lift yang paling
umum digunakan yaitu seperti sistem dengan motor penggerak (traction lift) dan jenis
dengan dongkrak hidrolik (hydarulic lift). Untuk lift dengan motor penggerak, perletakan
mesin – mesin dapat diletakan pada bagian atas ruang luncur atau di basement.
Pada bangunan yang akan dirancang, sistem transportasi vertikal yang menggunakan motor traksi yang diletakkan pada bagian atas lantai terakhir lift tersebut
berhenti. Kecepatan pada lift yang akan penulis rancang menggunakan sistem penggerak
motor antara 2,5 sampai 9 m/s. Pergerakan lift tipe ini juga akan sangat halus dan sangat
efisien dalam penggunaan energi listrik pada bangunan yang penulis rancang ini. Perhitungan jumlah lift yang dibutuhkan untuk fungsi bangunan hotel dengan satu zona
pelayanan.
T = ( 2h + 4s ) ( n – 1 ) + s ( 3m + 4 ) / s detik
Dimana : h adalah jarak lantai ( m )
s adalah kecepatan rata – rata lift ( m/s ) n adalah jumlah lantai yang dilayani lift m adalah daya angkut / kapasitas lift ( orang )
WT = T / N
Dimana : WT adalah waktu tunggu
N adalah jumlah lift
T adalah waktu yang dibutuhkan
N = T / WT ( 70 detik merupakan waktu ideal untuk hotel ) N = 177 / 70 = 2.5 lift atau = 3 lfit untuk perhitungan yang ideal
Dapat juga digunakan dengan pertimbangan untuk setiap 100 kamar perlu disediakan satu
buah lift barang. Untuk pelayanan yang maksimal, setiap 75 kamar dilayani oleh satu lift
dengan kapasitas yang digunakan minimal untuk 16 orang dan lift yang digunakan harus mampu mengangkut barang bawaan tamu yang berat (koper atau meja saji makanan)
serta tidak diperbolehkan berdekatan antara ruang kamar dengan ruang mesin lift. Selain
lift dalam transportasi vertikal untuk mempermudah kebutuhan manusia, pentingnya
safety atau keamanan dari pengunjung juga harus sangat diperhatikan sehingga dalam
konsep perancangan yang baik berupa tangga kebakaran maupun pintu darurat dimaksudkan untuk memberikan akses bagi penghuni atau pengguna bangunan untuk dapat menuju tempat yang aman dengan selamat. Tempat perletakan tangga kebakaran ini
juga diharapkan dapat menahan api sekurang – kurangnya 1.5 jam sehingga penulis
memposisikan tangga kebakaran ini pada bagian core. Pada bangunan yang dirancang oleh penulis ini, bagian tower hotel yang bertingkat tinggi untuk kepentingan umum, perlu disediakan tangga kebakaran minimal dua buah untuk sirkulasi manusia dengan lebar minimal 1.20 m menurut standar keamanan. Sedangkan pada bagian podium bangunan atau mall dengan ketinggian di bawah 8 lantai, disediakan sebuah tangga kebakaran pada bentangan 25 m , dan tangga sirkulasi juga dapat digunakan sebagai pengganti tangga kebakaran.
Mengingat akan tingginya bangunan yang penulis rancang ini dan pentingnya letak akan sirkulasi vertikal yang memudahkan manusia dalam mencapai suatu tujuan serta jaringan utilitas dan elektrikal, ada baiknya seluruh elemen – elemen tersebut ditempatkan pada satu area untuk optimasi dan efisiensi dari penggunaan ruangan. Pada umumnya, letak dari keseluruhan sistem tersebut diletakkan pada inti bangunan atau biasa disebut dengan istiliah core. Bentuk dari sebuah inti bangunan dapat beragam jenis,
namun dalam kasus ini penulis menerapkan bentuk memanjang dikarenakan bentuk memanjang akan sangat efisien ketika diterapkan pada bangunan berbentuk L dan pada
umunya bentuk core yang memanjang banyak diterapkan untuk bangunan fungsi hotel.
Dalam merancang inti bangunan yang digunakan sebagai struktur untuk memperkaku bangunan yang khusunya untuk menahan gaya lateral seperti tiupan angin ataupun
goncangan akibat dari gempa bumi, ruangan – ruangan yang dibutuhkan untuk
transportasi vertikal dan distribusi arah vertikal bagi jaringan – jaringan mekanikal dan elektrikal perlu dirancang sejalan dengan rancangan struktural dan optimasi ruangan yang dapat dimanfaatkan untuk fungsi bangunan. Dengan bentuk bangunan menyerupai huruf
L, perletakan core atau inti bangunan diletakkan pada bagian tengah bangunan di bagian
pertemuan dari garis vertikal dan horizontal. Terdapat beberapa pertimbangan dalam
peletakkan core bangunan yang akan dirancang ini antara lain apakah dengan peletakan
core pada bagian tengah memberikan dampak baik atau buruk. Adapun dampak baik
yang dapat diperoleh seperti fleksibilitas ruang yang cukup nyaman, ruang pada sisi keliling bangunan yang sangat baik, pemanfaatan lantai dasar yang cukup efisien, jejak dari inti kejelasan pola sirkulasi yang baik, hubungan utilitas antara dasar dan atap pada bangunan juga sangat baik, dan kekakuan dari struktur atau penahan dari gaya lateral juga
akan sangat baik. Namun kekurangan akan perletakan core di bagian tengah yaitu
buatan. Dengan mempertimbangkan dampak baik dan buruknya dalam peletakan core,
membuat penulis kemudian menjatuhkan pilihan dengan meletakkan core pada bagian
tengah dikarenakan benefit dan sisi efisiensi lebih banyak dan tinggi dibandingkan
dengan perletakan pada bagian lainnya.
Dalam inti bangunan yang penulis rancang ini, terdapat sejumlah ruangan yang diatur sedemikian rupa sehingga jumlah keseluruhan inti dari bangunan tidak melebihi 20% dari luas tipikal yang ada. Di samping itu, 80% dari luas tipikal masih perlu dikurangi dengan jalur sirkulasi horizontal (koridor) sehingga luas efektif dari bangunan menjadi berkurang. Pada umunya, 4% dari luas tipikal digunakan sebagai lubang utilitas bagi sistem Mekanikal dan Elektrikal yang pada umunya dibagi atas 2 zona distribusi. Pemisahan ini dimaksudkan untuk ventilasi dan pengkondisian udara agar tidak terjadi
konflik atau persilangan antar saluran udara (ducting). Perancangan lubang utilitas untuk
hasil yang maksimal biasanya perbandingan lebar dan panjangnya adalah 1 : 2 hingga 1 : 4 dan setiap dinding bagi ruangan ini harus menggunakan dinding yang tahan terhadap api sekurang – kurangnya untuk kurun waktu 1, 5 hingga 2 jam. Pada bagian tower
bangunan, sistem utilitas menerapkan fungsi shaft dari setiap kamar di salurkan ke bawah
menuju tiap lantai dan pada lantai terbawah dari tower disambungkan menuju core.
Sistem pengkondisian pada bangunan yang penulis rancang ini menggunakan sistem
central yaitu pada unit pendingin atau chiller menganut sistem kompres uap
komponennya terdiri compressor, condensor, evaporator, dan alat ekspansi. Pada chiller
biasanya menggunakan kondensor berjenis water cooled condensor. Air yang digunakan
untuk mendinginkan kondensor dialirkan melalui pipa yang kemudian bagian outputnya
didinginkan kembali dengan cara evaporative cooling pada cooling tower. Pada
komponen evaporator, penulis menggunakan sistem indirect cooling sehingga fluida
yang didinginkan kemudian air dialirkan melalui AHU (Air Handling Unit). Disinilah
terjadi pendinginan udara. Lebih jelasnya terdapat pada diagram sederhana berikut.
7.2 Gambar ilustrasi skema chiller
Pada evaporator terjadi penarikan kalor. Heat Exchanger dapat berupa pipa yang
didalamnya terdapat sebuah pipa. Di pipa yang lebih besar mengalir air sedangkan pipa yang lebih kecil mengalir refrigerant (bagian evaporator siklus refrigerasi). Agar lebih
jelasnya, dapat diilustrasikan dengan gambar berikut.
Di Heat Exchanger tersebut terjadi pertukaran kalor antara refrigeran dengan air. Kalor
dari air ditarik ke refrigeran sehingga setelah melewati Heat Exchanger air menjadi lebih
dingin. Kemudian air dingin ini dialirkan ke AHU (Air Handling Unit) yang digunakan Gambar 7.2 Ilustrasi Skema Chiller
Sumber : http://cvastro.com
Gambar 7.3 Ilustrasi Heat Exchanger Chiller
berupa pipa – pipa dengan kisi – kisi di mana tempat terjadi pertukaran kalor antara air dingin dengan udara. Air dingin yang telah melewati AHU suhunya menjadi naik dikarenakan mendapatkan kalor dari udara. Kemudian setelah melewati AHU air akan
mengalir kembali ke Chiller ( bagian Evaporator ) untuk didinginkan kembali
dikarenakan aspek keberlanjutan dari desain penulis dan upaya dalam penghematan terhadap air panas sehingga ketika air panas yang melewati chiller sebelum menuju ke
cooling tower untuk didinginkan, penulis menampung air panas tersebut ke dalam sebuah
tangki dengan tujuan penghematan penggunaan mesin boiler dikarenakan adanya sistem
Heat Exchanger ini pada kondensor untuk mendapatkan air panas sehingga kinerja dari
sistem boiler dapat berkurang banyak dan kinerja dari sistem boiler ini hanya untuk
menjaga tingkat kepanasan dari air tersebut. Siklus air panas dalam tangki tidak boleh berhenti. Hal ini dikarenakan ketika air panas yang mengalir ini berhenti dapat terjadi pertukaran kalor, sehingga siklusnya ini harus terus menerus berjalan. Apabila air panas
ini kurang panas dapat dipanasi lagi dengan melalui siklus chiller yang kemudian dapat
ditampung dan dikirim menuju tiap kamar yang ingin menggunakan air panas. Seperti
yang telah penulis jelaskan sebelumnya, dalam chiller juga terdapat perangkat refrigerasi
yang sistemnya terdapat bagian – bagian yang menarik kalor dan membuang kalor.
Dalam hal ini, sistem pembuangan kalor chiller menggunakan perantara air untuk media
pembuangan kalornya, yang dapat dijelaskan dengan ilustrasi berikut.
7.4
Siklus tersebut hampir sama dengan Chilled
water, dengan pertukaran kalor chiller pada
kondensornya yang juga melalui perantara air. Air ini dialirkan melalui kondensor. Kondensor
ini kemudian juga dapat berupa Heat Exchanger
berupa pipa yang didalamnya terdapat pipa yang lebih besar yang digunakan untuk aliran air dan pipa yang lebih kecil digunakan untuk aliran
refrigeran. Pada Heat Exchanger ini terjadi
pertukaran dari kalor dimana kalor yang dibuang kondesor diambil oleh air. Akibatnya, air yang telah melewati kondensor ini akan menjadi lebih hangat dan air hangat inilah
yang akan penulis tampung dengan tujuan sebagai penghematan penggunaan boiler.
Sebagian air yang panas ini kemudian dialirkan ke cooling tower untuk didinginkan
dengan udara luar. Setelah air ini menjadi lebih dingin, kemudian dialirkan kembali ke
kondensor untuk mengambil kalor yang dibuang kondensor. Dalam sistim Chiller yang
telah penulis jelaskan diatas dapat dijadikan sebagai satu kesatuan sistem yang dapat terdiri dari 3 buah siklus yaitu, Siklus refrigerasi (Chiller), siklus Chilled Water, dan
siklus Cooling Water.
Kebutuhan akan air bersih yang diperlukan oleh bangunan juga harus