“Sungai Deli sebagai Pembawa Peradaban Modern Kota Medan“
Mengapa pemilihan gaya arsitektur Art Deco penulis terapkan sebagai konsep
perancangan gaya bangunan ? Hal ini akan terjawab di sejarah singkat terbentuknya kota Medan yang erat kaitanya dengan Sungai Deli sebagai pembawa peradaban yang membuat kota Medan maju dan berkembang. Dari data analisa timeline sejarah dan hubungan perkembangan kota Medan secara lebih detail akan dapat terlihat pada bagian lampiran yang dilampirkan oleh penulis dalam bentuk tabel.
Serangkaian proses ini bermula dari kampung kecil bernama Medan Putri yang terletak sangat strategis di jalur pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli. Hal ini membuat kampung Medan Putri berkembang pesat dikarenakan adanya Sungai Deli dan Sungai Babura yang berperan menjadi jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai dan menjadi pelabuhan transit yang penting pada saat itu. Menurut sejarah kota Medan, Sungai Deli juga berperan dalam peradaban kota Medan dimulai dari datangnya kapal J. Nienhuys, Elliot, dan Van Der Falk yang merupakan pedagang tembakau asal Belanda yang berjasa dalam melambungkan nama Tanah Deli di Eropa sebagai penghasil cerutu terbaik. Kedatangan J. Nienhuys dilandasi karena dulunya pada tahun 1860 kampung Medan Putri ini tidak berkembang hingga ketika penguasa Belanda mulai membebaskan tanah untuk perkebunan tembakau. J. Nienhuys yang sebelumnya berbisnis tembakau di Jawa berpindah ke Deli diajak oleh seorang keturunan Arab Surabaya yang bernama Said Abdullah Bilsagih yang merupakan saudara ipar dari Mahmud Perkasa Alam Deli. Pada tahun 1863, J. Nienhuys datang pertama kali ke Tanah Deli untuk membuka perkebunan pertama di kota Medan. Setahun kemudian, J. Nienhuys mengirim sampel hasil perkebunannya ke Rotterdam, dari hasil sampel tersebut membuktikan bahwa hasil perkebunan tembakau pada Tanah Deli merupakan tembakau yang berkualitas sangat
baik. Karena itu, nama Tanah Deli langsung melambung di daratan Eropa. J. Nienhuys
kemudian mendirikan kantor pertama di daerah labuhan Deli ( Belawan ) pada tahun
1864 dan tepat setelah lima tahun kemudian berpindahtempat ke Kampung Medan Putri.
Beliau juga membangun kantor di pinggir Sungai Deli dengan tujuan untuk mengawasi, menimbang, dan mengatur jalur perdagangan. Dengan perpindahan kantor ini, kota Medan dengan cepat menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan sekaligus menjadi daerah yang paling mendominasi di Indonesia bagian barat. Pesatnya pertumbuhan perekonomian yang mengubah Deli menjadi pusat perdagangan termakmur pernah dijuluki sebagai Het Dollar Land ( Tanah Uang ).
Pada tahun 1866, Jansen, P.W. Clemen, Cremer dan J. Nienhuys mendirikan Deli
Maatschappij di daerah labuhan dan kemudian melakukan ekspansi perkebunan baru di
beberapa daerah, sehingga jumlahnya mencapai 22 perusahaan perkebunan di tahun 1874. Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, J. Nienhuys memindahkan kantor perusahaanya dari labuhan ke Kampung Medan Putri. Dengan perpindahan Beliau ke kampung Medan Putri membuat lingkungan menjadi semakin ramai dan berkembang. Setelah itu, pada tahun 1879, ibukota Asisten residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan dan pada 1 Maret 1887, ibukota Residen Sumatera Timur resmi dipindahkan dari Bengkalis ke Medan.
Berkat kemajuan perekonomian dari perkebunan pada tahun 1918, wilayah tersebut diserahkan oleh Sultan Deli kepada pemerintah Hindia Belanda dan membuat
kota Medan berubah menjadi Gemeente ( Kota Praja ) dengan walikota Baron Daniel
Mackay. Oleh pemerintah Kota Praja, kawasan tersebut ditata ulang dan disusun teratur
sedemikian rupa hingga membentuk sebuah kawasan bernama “ Kesawan “. Sejak saat itu
berdatanglah perusahaan – perusahaan asing untuk membuka berbagai bank, perusahaan
lainya hingga “Kesawan“ dapat menjadi sebuah pusat kota. Daerah Kesawan dulunya
pernah dijuluki sebagai Paris Van Soematra, hal ini dikarenakan dulunya daerah
Kesawan meniru persis kota di Eropa dimana terdapat sebuah lapangan luas yaitu Lapangan Merdeka yang disahkan pada 16 Oktober 1945. Dulunya semasa jajahan Belanda, Lapangan Merdeka ini bernama Waterlooplein dan berubah nama menjadi Fukuraido semasa jajahan Jepang. Bagian depan Lapangan ini adalah gedung Balai Kota dan disekitarnya dapat dijumpai Hotel yang bernama Hotel De Boer (Dharma Deli) , Bank, Kantor Pos, Stasiun Kereta Api, dan pusat perbelanjaan ( Medan’s Warenhuis ) sebagai supermarket pertama di kota Medan yang sangat megah dan mewah pada masanya dan bergaya arsitektur Art Deco yang sekarang telah beralih fungsi menjadi
gedung AMPI. Pada sekeliling Lapangan Merdeka Medan juga dapat dijumpai 60 pohon Trembesi yang didatangkan langsung dari Amerika Latin dan menjadi paru – paru kota yang sangat teduh, hal ini dibuat agar kota Medan menjadi persis seperti kota Paris.
Semua ini dapat terjadi juga dikarenakan peran dari seorang yang berasal dari kantor Deli
Maatschappij yang juga merupakan salah satu suksesor kota Medan selain Jocobus
Nienhuys, yaitu J. T. Cremer yang berperan sebagai manajer perusahaan Deli ( Deli
Maatschappij ).
Setelah kembalinya J. Nienhuys ke Belanda, J. T. Cremer yang menganjurkan
agar jaringan Kereta Api di Deli DSM ( Deli Spoorweg Maatschappij ) sesegera mungkin
dapat dibangun dan direalisasikan mengingat pesatnya perkembangan perusahaan perkebunan Deli. Karena kegiatan ekspor impor melalui transportasi air cenderung lambat
dan kurang layaknya penggunaan jalan raya pos atau dulunya disebut sebagai Groute Pos
Weg, maka dibangunlah jalan Kereta Api sebagai alternatif baru. Perkembangan ekonomi
yang pesat ini mendorong kota Medan berkembang menjadi kota yang lebih modern
yang mengitari Sungai Deli yang sangat berkembang perekonomiannya dikarenakan sering dilalui sebagai jalur perdagangan antara Istana Maimun dengan daerah Tembakau Deli. Peran dari Sungai Deli juga tidak boleh diabaikan karena sebagai sarana transportasi air yang mengubah peradaban kota Medan menjadi lebih baik, ditambah lagi dengan
kedatangan kantor J. Nienhuys De Deli Maatschappij di tepi sungai Deli. Dengan
perubahan ekonomi dan peradaban kota Medan yang berkembang pesat membuat gaya
arsitektur kota Medan yang dulunya bergaya Kolonial Belanda ( Indische Empire )
berubah menjadi gaya arsitektur yang lebih modern, yaitu gaya arsitektur Art Deco.
Kemegahan dan kemewahan dari gaya arsitektur Art Deco merupakan ciri – ciri pesatnya
perkembangan perekonomian kota Medan dalam bidang perdagangan internasional.
Pada masa dulunya dapat dirasakan pada jalur Grote Post Weg yang mengitari
sepanjang Sungai Deli dimana pada saat ini jalur tesebut berganti nama menjadi Jl. Brigjend Katamso hingga terusan jalan Putri Hijau. Dalam proses menganalisa bangunan sekitar, pada Jl. Bridgjend Katamso Medan terdapat sebuah Gedung Mega Eltra yang
dahulunya adalah kantor dagang perusahaan Belanda bernama Lindeteves– Stokvis yang
menjual barang metal dan peralatan perkebunan, terletak beberapa puluh meter saja dari Istana Maimun. Secara historis nilai bangunan Mega Eltra tersebut tidak dapat digantikan. Hal ini dikarenakan bangunan Mega Eltra merupakan sebuah bukti kejayaan kota Medan dalam bidang perdagangan international. Bangunan Mega Eltra ini juga merupakan perpaduan dari gaya arsitektur Eropa dan tropis, yang sangat dipengaruhi oleh gaya Art
Deco dan membuat kesan mewah dan megah dengan penggunaan kaca – kaca patri yang
sangat indah. Kemewahan dari gaya Art Deco dapat terasa pada beberapa bangunan di
daerah Grote Pos Weg. Gaya arsitektur ini juga terdapat pada bangunan AMPI ( Ex.
Depnaker ) dulunya pada masa Belanda bangunan ini berfungsi sebagai supermarket
niet duueder yang berarti lebih bagus tapi tidak mahal. Gedung Medan’s Warenhuis ini dibangun oleh arsitek G. Bos dan disahkan oleh walikota pertama yaitu Baron Daniel Mackay. Bangunan ini menggunakan struktur konstruksi berlantai cor beton, kolom sistim bearing wall dan atap berangka kayu, dan menggunakan bahan bermaterial variatif. Lantainya dicor beton dan ada yang menggunakan kayu, dinding berbahan bata, dan
atapnya dipasang genteng. Dengan gaya bangunan Art Deco, gedung ini dilengkapi
dengan dua buah menara – satu di sudut Jl. Hindu dan satu lagi tepat di seberang Jl. H. A
Syhiba / Jl. Mayor sehingga menghasilkan efek vista bagi warga kota yang melihatnya.
Kejayaan Medan’s Warenhuis pada masa itu memang telah menjadi suatu fakta yang
telah membuktikan pesatnya perekonomian kota Medan yang telah dirancang oleh
Kolonial Belanda untuk menjadikannya sebagai Parijs Van Sumatra. Dalam kurun waktu
yang singkat ini, Medan telah dikarakteristikkan oleh suatu atmosfir international dengan perusahaan Amerika, Belanda, Inggris, Belgia, Perancis, Jerman, dan China. Kota Medan dengan atmosfir kosmopolitan dan sosialitanya yang pluralistic juga telah dikenal oleh kota – kota international sekitarnya sebagai kota yang maju.
Gaya arsitektur Art Deco dalam pengertian tertentu merupakan gabungan dari
berbagai gaya dan gerakan pada awal abad ke – 20, termasuk Konstruktsionisme,
Kubisme, Modernisme, Bauhaus, Art Nouveau, dan Futurisme yang lahir dari perang dunia pertama (World War 1). Dikarenakan dulunya orang tidak ingin mengingat sakitnya, kekejamanya dari kejadian - kejadian perang dunia pertama, terciptalah gaya arsitektur yang merupakan peralihan gaya arsitektur lama menjadi gaya yang
mengadaptasi unsur – unsur modern. Karena menurut gaya arsitektur Modern, “
Ornament Is A Crime “, maka gaya arsitektur Art Deco meggunakan ornament zig zag,
kubisme, aerodinamis atau streamline deco, dan pengulangan – pengulangan. Gaya
berkembangnya peradaban kota pada masa dulunya di kawasan tersebut karena kemegahan, kemewahan, keromantisan dan keanggunan.
Beranjak dari sejarah singkat perkembangan kawasan kota Medan yang sangat dipengaruhi oleh Sungai Deli sebagai pembawa peradaban kota Medan hingga munculnya gaya arsitektur yang melambangkan kejayaan kota Medan dalam perdagangan
internasional yaitu Art Deco dan kaitanya dengan Konteks Preservasi, Modern, dan