BAB IV GAMBARAN UMUM RESPONDEN
C. Struktur Organisasi KPP Pratama Purwokerto
Sistem pengelolaan KPP Pratama Purwokerto didasarkan atas struktur organisasi KPP Pratama Purwokerto sebagai berikut :
Gambar 2. Struktur Organisasi KPP Pratama Purwokerto
Struktur organisasi Ditjen Pajak terdiri atas kantor pusat dan kantor operasional. Pada kantor pusat yaitu menjalankan fungsi perumusan kebijakan dan standardisasi teknis, pembinaan dan dukungan administrasi, dan analisis dan pengembangan, sedangkan pada kantor operasional yaitu menjalankan fungsi teknis operasional dan teknis penunjang.
Kantor pusat Ditjen Pajak merupakan gabungan atas 14 unit direktorat, sekretariat Direktorat Jenderal, dan 4 jabatan tenaga pengkaji. Kantor operasional di lingkungan Ditjen Pajak terdiri atas Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP), Kantor Wilayah Ditjen Pajak (Kanwil Ditjen Pajak), dan Unit Pelaksana Teknis (UPT). UPT sendiri terdiri dari Kantor Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan (KPDDP), Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan (PPDDP), serta Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan (KLIP). Jumlah kantor operasional dapat dirinci sebagai berikut:
1. 4 KPP Wajib Pajak besar 2. 34 kantor wilayah
3. 319 KPP Pratama 4. 29 KPP madya 5. 204 KP2KP 6. 4 UPT
Struktur organisasi setiap jenis kantor secara lebih rinci sebagai berikut:
1. Kantor pusat
2. Kantor operasional
a. Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar dan Jakarta Khusus b. Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan
c. Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Madya, dan Khusus d. Kantor Wilayah DJP
e. Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan f. Kantor Pelayanan Pajak.
62 BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden 1. NPWP Responden
Berdasarkan NPWP, karakteristik yang menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu :
Tabel 1. NPWP Wajib Pajak di KPP Pratama Purwokerto
NPWP Jumlah
Persentase (%)
Memiliki NPWP 100 100
Data Tidak Lengkap 24 24
Diolah 76 76
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 1, menunjukkan bahwa responden yang memiliki NPWP berjumlah 100 orang atau 100%, namun terdapat data yang tidak lengkap berjumlah 24 orang atau 24% sehingga data yang dapat diolah berjumlah 76 orang atau 76%.
2. Usia Responden
Berdasarkan usia, karakteristik yang menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu :
Tabel 2. Usia Wajib Pajak di KPP Pratama Purwokerto Usia
(tahun)
Jumlah responden
Persentase (%)
15 - 24 11 14,5
25 - 35 42 55,3
36 - 45 9 11,8
46 - 55 8 10,5
> 56 6 7,9
Total 76 100
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 2, menunjukkan bahwa responden yang paling banyak berpartisipasi dalam pengisian kuesioner adalah responden yang berusia 15 - 24 tahun, yaitu sebanyak 11 orang atau 14,5%, responden dengan usia 25 - 35 tahun sebanyak 42 orang atau 55,3%, responden dengan usia 36 - 45 tahun sebanyak 9 orang atau 11,8%, responden dengan usia 46 - 55 tahun sebanyak 8 orang atau 10,5%, dan terakhir usia lebih dari 56 tahun sebanyak 6 orang atau 7,9%.
3. Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan jenis kelamin, karakteristik yang menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu :
Tabel 3. Jenis Kelamin Wajib Pajak di KPP Pratama Purwokerto Jenis
Kelamin
Jumlah responden
Persentase (%)
Perempuan 35 46,1
Laki-laki 41 53,9
Total 76 100
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 3, menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 35 orang atau 46,1%, dan yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 41 orang atau 53,9%.
4. Pekerjaan Responden
Berdasarkan pekerjaan, karakteristik yang menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu :
Tabel 4. Pekerjaan Wajib Pajak di KPP Pratama Purwokerto Pekerjaan Jumlah responden Persentase (%)
BUMN 3 3,9
PNS 3 3,9
Wirausaha 8 10,5
Karyawan Swasta 56 73,7
Lainnya 6 7,9
Total 76 100
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 4, menunjukkan bahwa responden yang bekerja di BUMN sebanyak 3 orang atau sekitar 3,9%, responden yang bekerja sebagai PNS sebanyak 3 orang atau 3,9%, responden yang bekerja sebagai Wirausaha sebanyak 8 orang atau sekitar 10,5%, responden yang bekerja sebagai Karyawan Swasta sebanyak 56 orang atau sekitar 73,7%, dan responden yang bekerja lainnya sebanyak 6 orang atau sekitar 7,9%.
5. Lama Bekerja Responden
Berdasarkan lama bekerja, karakteristik yang menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu :
Tabel 5. Lama Bekerja Wajib Pajak di KPP Pratama Purwokerto Lama
Bekerja
Jumlah responden
Persentase (%)
< 1 tahun 19 25
1 – 5 tahun 22 28,9
> 5 tahun 35 46,1
Total 76 100
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 5, menunjukkan bahwa dari 76 responden terdapat 19 responden atau sekitar 25% yang memiliki pengalaman bekerja < 1 tahun, 22 responden atau sekitar 28,9% yang memiliki pengalaman bekerja 1 – 5 tahun, dan 35 responden atau sekitar 46,1% yang memiliki pengalaman bekerja > 5 tahun.
6. Pendidikan Terakhir Responden
Berdasarkan Pendidikan terakhir, karakteristik yang menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu :
Tabel 6. Pendidikan Terakhir Wajib Pajak di KPP Pratama Purwokerto Pendidikan Jumlah responden Persentase (%)
S2 1 1,3
S1 33 43,4
Diploma 7 9,2
SMA 34 44,7
SMP 1 1,3
Total 76 100
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 6, menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan terakhir S2 sebanyak 1 orang atau sekitar 1,3%, responden yang berpendidikan terakhir S1 sebanyak 33 orang atau 43,4%, responden yang berpendidikan terakhir Diploma sebanyak 7 orang atau sekitar 9,2%, responden yang berpendidikan terakhir SMA sebanyak 34 orang atau sekitar 44,7%, dan responden yang berpendidikan terakhir SMP sebanyak 1 orang atau sekitar 1,3%.
B. Analisis Data
1. Penyebaran Kuesioner
Rincian penyebaran kuesioner dalam penelitian ini sebagai berikut :
Tabel 7. Rincian Penyebaran Kuesioner
Sumber : Data diolah
Berdasarkan tabel 7, menunjukkan bahwa kuesioner yang disebar sebanyak 100 kuesioner, yang tidak terpakai sebanyak 24 kuesioner karena terdapat responden yang mengisi kuesioner tidak lengkap, dan yang dapat dipakai sebanyak 76 kuesioner.
2. Pengujian Statistik Deskriptif
Berdasarkan data yang diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada 76 responden, maka data pengolahan statistik yang dapat diperoleh sebagai berikut :
Tabel 8. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Sumber : Data diolah
Berdasarkan hasil dari pengolahan statistik deskriptif pada tabel 8 menunjukkan N dalam tabel yang merupakan jumlah responden yang diolah
Keterangan Jumlah Responden
Kuesioner yang disebar 100
Kuesioner yang tidak terpakai 24 kuesioner yang dapat dipakai 76
N Minimum Maximum Mean Standar
menggunakan SPSS yaitu sebanyak 76 sampel. Variabel pengetahuan tax amnesty memiliki nilai skor minimum sebesar 14 dan nilai skor maksimum sebesar 30, sehingga diperoleh rentang skor nilai terendah dan tertinggi sebesar 16 dengan rata-rata skor sebesar 21,64 dan standar deviasi sebesar 3,144. Variabel persepsi keadilan diperoleh nilai skor minimum sebesar 10 dan nilai skor maksimum sebesar 24, sehingga diperoleh rentang skor nilai terendah dan tertinggi sebesar 14 dengan rata-rata skor sebesar 17,63 dan standar deviasi sebesar 2,678, dan untuk variabel efektivitas pelaksanaan tax amnesty diperoleh nilai skor minimum sebesar 16 dan nilai skor maksimum sebesar 40, sehingga diperoleh rentang skor nilai terendah dan tertinggi sebesar 24 dengan rata-rata skor sebesar 29,80 dan standar deviasi sebesar 4,764.
3. Perhitungan Uji Validitas
Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode korelasi pearson dengan uji 2 sisi dan r tabel dapat diketahui dengan cara menghitung jumlah responden (n)-2, maka diperoleh nilai r tabel sebesar 74 (76-2=74) adalah 0,229. Jika nilai r hitung > r tabel maka item dapat dinyatakan valid, jika r hitung < r tabel maka item dinyatakan tidak valid.
Hasil uji validitas (X1) untuk variabel pengetahuan tax amnesty adalah sebagai berikut:
Tabel 9.1 Hasil Uji Validitas Pengetahuan tax amnesty
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel 9.1 di atas, dapat dilihat bahwa semua nilai r hitung dari setiap item pernyataan memiliki nilai di atas r tabel yaitu sebesar 0,229, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa seluruh item pernyataan untuk variabel pengetahuan tax amnesty dapat dinyatakan valid sebanyak 6 item pernyataan.
Hasil dari uji validitas untuk variabel Keadilan adalah sebagai berikut:
Tabel 9.2 Hasil Uji Validitas Persepsi Keadilan
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel 9.2 di atas, dapat dilihat bahwa semua nilai r hitung dari setiap item pernyataan memiliki nilai di atas r tabel yaitu sebesar 0,229, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa seluruh item pernyataan untuk variabel persepsi keadilan dapat dinyatakan valid sebanyak 5 item pernyataan.
Pernyataan Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan
1 0,602 0,229 Valid
Pernyataan Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan
7 0,669 0,229 Valid
8 0,659 0,229 Valid
9 0,579 0,229 Valid
10 0,661 0,229 Valid
11 0,720 0,229 Valid
Hasil dari uji validitas untuk variabel efektivitas pelaksanaan tax amnesty adalah sebagai berikut:
Tabel 9.3 Hasil Uji Validitas Efektivitas Pelaksanaan Tax Amnesty
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel 9.3 di atas, dapat dilihat bahwa semua nilai r hitung dari setiap item pernyataan memiliki nilai di atas r tabel yaitu sebesar 0,229, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa seluruh item pernyataan untuk variabel efektivitas pelaksanaan tax amnesty dapat dinyatakan valid sebanyak 8 item pernyataan.
4. Perhitungan Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas yang dilakukan dalam penelitian ini untuk mengukur Cronbach Alpha, sehingga dapat menentukan apakah instrumen reliabel atau tidak dengan menggunakan nilai alpha > 0,6. Adapun hasil uji reliabilitas untuk masing-masing variabel adalah sebagai berikut:
Pernyataan Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan
12 0,743 0,229 Valid
13 0,770 0,229 Valid
14 0,701 0,229 Valid
15 0,783 0,229 Valid
16 0,771 0,229 Valid
17 0,730 0,229 Valid
18 0,787 0,229 Valid
19 0,754 0,229 Valid
Tabel 10. Hasil Uji Reliabilitas Variabel Penelitian
Sumber: Data diolah
Pada tabel 10 diatas, menunjukkan hasil perolehan dari uji reliabilitas dengan menggunakan Cronbach Alpha. Berdasarkan hasil yang diperoleh nilai alpha yang dihasilkan > 0,6 sehingga semua item pernyataan dalam penelitian ini dapat dikatakan reliabel.
5. Uji Asumsi Klasik a. Pengujian Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data dapat terdistribusi dengan normal atau tidak dengan melihat residualnya.
Dalam penelitian ini uji normalitas yang digunakan adalah metode Kolmogorov Sminov Z. Berikut hasil uji normalitas sebagai berikut:
Tabel 11. Hasil Uji Normalitas
Unstandardized
Residual
N 76
Asymp. Sig. (2-tailed) 0.200 Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil olah data pada tabel di atas maka diperoleh nilai Kolmogorov Sminov Z sebesar 0,078 dan nilai signifikansi sebesar 0,200 sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal dan uji asumsi normalitas terpenuhi dalam model regresi karena hasil signifikansi > 0,05.
Variabel Nilai Cronbach
Alpha Keterangan
Pengetahuan tax amnesty 0,716 Reliabel
Persepsi Keadilan 0,668 Reliabel
Efektivitas 0,891 Reliabel
b. Pengujian Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui adanya hubungan yang terjadi antara dua variabel independen atau lebih pada model regeresi yang dapat dilakukan dengan membandingkan nilai r2 dengan R2 hasil regresi atau dengan melihat nilai Tolerance dan VIF sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 12. Hasil Uji Multikolinearitas
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji pada tabel 12 di atas, dapat dilihat bahwa nilai Tolerance > 0,1 yaitu sebesar 0,748 > 0,1 dan VIF < 10 yaitu sebesar 1,337 < 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah multikolinearitas.
c. Pengujian Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dengan metode glejser dan melihat nilai signifikansi
> 0,05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Berikut hasil yang diperoleh dari uji heteroskedastisitas :
Model
Collinearity Statistiks Tolerance VIF
1 (Constant)
Pengetahuan tax amnesty
0.748 1.337
Persepsi Keadilan 0.748 1.337
Tabel 13. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber : Data diolah
Berdasarkan hasil dari nilai residual terhadap variabel independen, maka diperoleh hasil yang menunjukkan tidak ada variabel independen (Pengetahuan tax amnesty dan persepsi keadilan) yang berpengaruh signifikansi terhadap nilai residual. Hasil tersebut dapat dilihat dari nilai signifikansi pada tiap variabel > 0,05, oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.
6. Uji Hipotesis
a. Analisis Regresi Linier Berganda
Penelitian analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan yang terjadi diantara variabel independen dengan variabel dependen, apakah variabel independen dapat berhubungan positif atau negatif serta dapat memprediksi nilai variabel dependen yang dapat dilihat dari nilai variabel independen akan mengalami kenaikan atau penurunan. Hasil uji regresi linier berganda dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel dibawah ini sebagai berikut:
Variabel Penelitian Nilai Signifikansi Pengetahuan Tax Amnesty 0.432
Persepsi Keadilan 0.984
Tabel 14. Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Sumber: Data diolah
Berdasarkan pada tabel di atas diperoleh bentuk persamaan regeresi sebagai berikut:
Y= 2,626+0,730X1+0,646X2
Persamaan di atas mengandung arti sebagai berikut:
1) Nilai konstanta (A) positif sebesar 2,626 sehingga menunjukkan besarnya efektivitas pelaksanaan tax amnesty jika tidak dipengaruhi oleh pengetahuan tax amnesty dan persepsi keadilan adalah positif sebesar 2,626 satuan dan akan tetap meningkat sebesar konstanta 2,626 satuan.
2) Nilai koefisien regresi (B1) pengetahuan tax amnesty sebesar 0,730 yang memiliki nilai positif sehingga menunjukkan pengetahuan tax amnesty mempunyai pengaruh yang positif terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty, yang berarti setiap terdapat pengetahuan tax amnesty sebesar 1 satuan akan meningkatkan efektivitas pelaksanaan tax amnesty yaitu sebesar 0,730 satuan.
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Efektivitas Pelaksanaan Tax Amnesty
3) Nilai koefisien regresi (B2) persepsi keadilan sebesar 0,646 yang memiliki nilai positif sehingga menunjukkan persepsi keadilan mempunyai pengaruh yang positif terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty, yang berarti setiap terdapat persepsi keadilan sebesar 1 satuan akan meningkatkan efektivitas pelaksanaan tax amnesty yaitu sebesar 0,646 satuan.
b. Pengujian Statistik F
Uji statistik F dapat digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama. Pada penelitian ini uji F dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya dari pengaruh pengetahuan tax amnesty dan persepsi keadilan terhadap efektivitas kebijkan tax amnesty. Berikut hasil dari analisis uji F :
Tabel 15. Hasil Uji Statistik F
Sumber: Data diolah
Berdasarkan pada tabel di atas diperoleh hasil nilai f hitung sebesar 42,692, nilai F tabel dapat dihitung dengan cara n-k-1 (76-2-1=73) yaitu sebesar 3,12 sehingga diperoleh nilai dari F hitung > F tabel yaitu sebesar 42,692 > 3,12 dan nilai signifikansi lebih kecil daripada alpha yaitu sebesar 0,000 ≤ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat pengaruh pada pengetahuan tax
Variabel Penelitian F
amnesty dan persepsi keadilan terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
c. Pengujian Statistik t
Uji statistik t dilakukan untuk menguji pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Dalam penelitian ini akan mengetahui pengaruh pengetahuan tax amnesty dan persepsi keadilan terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty. Berikut hasil dari analisis uji t menggunakan SPSS:
Tabel 16. Hasil Uji Statistik t
Sumber: Data diolah
Berdasarkan pada tabel di atas nilai t tabel n-k-1 adalah 76-2-1=73 dengan nilai signifikansi 0,05/2=0,025 sehingga diperoleh nilai t tabel sebesar 1,993. Cara yang digunakan untuk uji t pada setiap variabel yaitu sebagai berikut:
1) Hipotesis menunjukkan adanya pengaruh pada pengetahuan tax amnesty terhadap efektivitas kebijkan tax amnesty. Pembuktian hipotesis tersebut dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara t hitung dengan t tabel sehingga diperoleh nilai t hitung > t tabel yaitu sebesar 5,241 > 1,993 dan nilai signifikansi lebih kecil dari alpha
Model t Sig.
1 (Constant) .885 .379
Pengetahuan Tax Amnesty (X1)
5.241 .000 Persepsi Keadilan (X2) 3.949 .000
yaitu sebesar 0.000 ≤ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0
ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat pengaruh pada pengetahuan tax amnesty terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
2) Hipotesis menunjukkan adanya pengaruh pada persepsi keadilan terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty. Pembuktian hipotesis tersebut dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara t hitung dengan t tabel sehingga diperoleh nilai t hitung > t tabel yaitu sebesar 3,949 > 1,993 dan nilai signifikansi lebih kecil dari alpha yaitu sebesar 0,000 ≤ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat pengaruh pada persepsi keadilan terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
d. Pengujian Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar prosentase sumbangan yang diberikan terhadap pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama. Hasil penilaian koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 17. Hasil Uji koefisien determinasi R2
Sumber: Data diolah
Berdasarkan pada tabel di atas diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0.539 yang berarti kontribusi yang diberikan pengetahuan tax
Model R
amnesty dan persepsi keadilan terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty sebesar 53,9%, sedangkan sisanya dapat dipengaruhi oleh variabel yang lain di luar model ini.
C. Pembahasan
1. Pengaruh Pengetahuan Tax Amnesty Wajib Pajak terhadap Efektivitas Pelaksanaan Tax Amnesty
Berdasarkan hasil uji statistik t yang terdapat pada tabel 16, nilai t hitung > nilai t tabel yaitu sebesar 5,241 > 1,993 dan nilai signifikansi lebih kecil daripada alpha yaitu sebesar 0,000 ≤ 0,05, yang memiliki arti bahwa H0 ditolak dan Ha diterima sehingga variabel pengetahuan tax amnesty berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi (2018) yaitu pengetahuan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan tax amnesty, hal ini berarti tingkat pengetahuan perpajakan yang baik dan memadai yang dimiliki oleh Wajib Pajak akan memudahkan bagi Wajib Pajak untuk patuh pada peraturan perpajakan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki oleh Wajib Pajak maka semakin baik efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
2. Pengaruh Persepsi Keadilan Wajib Pajak terhadap Efektivitas Pelaksanaan Tax Amnesty
Berdasarkan hasil uji statistik t yang terdapat pada tabel 16, nilai t hitung > nilai t tabel yaitu sebesar 3,949 > 1,993 dan nilai signifikansi lebih
kecil daripada alpha yaitu sebesar 0,000 ≤ 0,05, yang memiliki arti bahwa H0 ditolak dan Ha diterima sehingga variabel persepsi keadilan berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Matiin (2019) yang menyatakan bahwa persepsi keadilan berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan tax amnesty pada KPP Pratama Kota Bontang, hal ini berarti keadilan pajak merupakan hal yang harus diperhatikan oleh KPP Pratama Kota Bontang karena faktor keadilan adalah hal yang mutlak sehingga harus dipenuhi agar Wajib Pajak mendapatkan suatu persepsi yang baik dan dapat mendukung motivasinya untuk mensukseskan program tax amnesty. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi persepsi keadilan, maka semakin tinggi pula efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Arini (2018) yang menyatakan bahwa persepsi keadilan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas kebijakan pengampunan pajak, hal ini berarti karakter wajib pajak Pekanbaru tidak dipengaruhi oleh faktor persepsi keadilan dan cenderung menjalani kebijakan pemerintah dengan semestinya, maka hal tersebut tidak menjadi penghambat penerimaan negara pada saat pelaksanaan program.
80 PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Pengetahuan tax amnesty yang dimiliki oleh Wajib Pajak berpengaruh terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty sehingga hipotesis tersebut diterima. Hal ini berarti, semakin tinggi pengetahuan tax amnesty yang dimiliki oleh Wajib Pajak maka semakin baik efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
2. Persepsi keadilan Wajib Pajak berpengaruh terhadap efektivitas pelaksanaan tax amnesty sehingga hipotesis tersebut diterima. Hal ini berarti, semakin tinggi persepsi keadilan yang dimiliki oleh Wajib Pajak maka semakin tinggi pula efektivitas pelaksanaan tax amnesty.
B. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan hasil penelitian ini, yaitu :
1. Pada saat pengambilan data ketersediaan waktu dari responden saat meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner cukup singkat dan beberapa responden menolak untuk meluangkan waktunya pada saat mengisi kuesioner.
karena terdapat responden yang menjawab tidak lengkap sehingga jawaban responden tersebut tidak dapat diolah.
C. Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian, peneliti mengajukan saran sebagai berikut:
1. Bagi Pemerintah
Pihak pemerintah maupun Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebaiknya dapat memberikan penyuluhan atau kegiatan yang bersifat edukatif terkait dengan pengetahuan perpajakan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran Wajib Pajak untuk memenuhi kewajibannya agar dapat meningkatan penerimaan pajak sesuai dengan tujuan.
2. Bagi Peneliti selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengusulkan penelitian ini dan menggunakan variabel lain seperti kesadaran membayar pajak, sanksi pajak, pelayanan fiskus, sosialisasi perpajakan, dan derajat kepatuhan Wajib Pajak.
Adeney , B. T. 2000. Etika Sosial Lintas Budaya. Kanisius, Yogyakarta.
Agiviana , A. P. 2015. Analisis Pengaruh Persepsi, Sikap, Pengetahuan dan Tempat Kerja Terhadap Perilaku Keselamatan Karyawan . Skripsi. Universitas Diponegoro, Semarang .
Anggraeni, D. 2013. “Persepsi Keadilan Pajak Terhadap Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP)”. Skripsi. Universitas Diponegoro, Semarang:18.
Anggraeni, T. D. 2016. Keterpenuhan Prinsip Keadilan Dalam UU Pengampunan Pajak. Jurnal Rechts vinding. Vol. 5, No. 2.
Angrayni, L., & D Yusliati, MA. 2018. Efektivitas Rehabilitasi Pecandu Narkotika Serta Pengaruhnya Terhadap Tingkat Kejahatan Indonesia. Uwais Inspirasi Indonesia, Ponorogo.
Arini, R. 2018. "Pengaruh Pengetahuan dan Persepsi Keadilan Wajib Pajak Terhadap Kebijakan Pengampunan Pajak (Studi Kasus Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pekanbaru Tahun 2017)".
Skripsi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Basit, A. 2014. Pengaruh Persepsi Kontrol Perilaku, Pengetahuan Pajak Dan Persepsi Keadilan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak . Jurnal Tekun.
Vol. 5, No. 1.
Basuki, Yoyok Rahayu. 2017. Mengenal Perpajakan:A-Z Perpajakan. Magic enetertainment, Jakarta.
Berutu, D. A., & Harto, P. 2012. Persepsi Keadilan Pajak Terhadap Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) . Diponegoro Journal Of Accounting. Vol. 2, No.2:2.
Brodjonegoro, B. P. 2016. “Amnesti Pajak”. Kementerian Keuangan Indonesia.
https://kemenkeu.go.id/single-page/amnesti-pajak/ Diakses tanggal 23 Agustus 2019.
Fahmi, L. 2017. Prinsip Keadilan dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Ditinjau dari Keadilan Sila Kelima Pancasila. Tesis. Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.
Kepuasan Penilaian Kinerja di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya . Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Kewirausahaan. Vol. 5, No.1:4.
Fhyel, V. G. 2018. Pengaruh Keadilan Pajak, Sistem Perpajakan, Diskriminasi, Kemungkinan Terdeteksinya Kecurangan, Pemeriksaan Pajak, dan Tarif Pajak Terhadap Penggelapan Pajak . Skripsi. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Griffin, R. 2003. Manajemen. Jilid 1. Erlangga, Jakarta.
Hartono, Jogiyanto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Edisi Enam. BPFE, Yogyakarta.
Hasanah, N., & Indriani , S. 2013. Efektifitas Pelaksanaan Self Assessment System Dan Modernisasi Administrasi Pajak Terhadap Kualitas Pelayanan Pajak(Studi Kasus Pada Kpp Kebon Jeruk 1). Jurnal Ilmiah Wahana Akuntansi. Vol 8, No.1:17.
Ismail, F. 2018. Statistika Untuk Penelitian Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Sosial. Edisi Pertama. Kencana, Jakarta.
Ispriyarso, B. 2019. Keberhasilan Kebijakan Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) di Indonesia . Administrative Law & Governance Journal. Volume 2 Issue 1:55.
Jamil, N. A. 2017. Efektivitas Penerapan Tax Amnesty di Indonesia. Journal of Multidisciplinary Studies. Vol. 1, No. 1:61.
Julyano, M., & Sulistyawan , A. Y. 2019. Pemahaman Terhadap Asas Kepastian Hukum Melalui Konstruksi Penalaran Positivisme Hukum . Jurnal Crepido, Vol. 1, No.1.
KBBI. "Persepsi"
https://kbbi.web.id/persepsi Diakses pada tanggal 22 Agustus 2019.
Komputer, Wahana. 2014. Mengolah data statistik hasil penelitian menggunakan SPSS. Penerbit Andi, Semarang.
Kesumasari, N. I., & Suardana, K. A. 2018. Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Kesadaran dan Pengetahuan Tax Amnesty. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana. Vol. 22, No. 2:1523.
ntt-apresiasi-pelaksanaan-tax-amnesty Diakses tanggal 4 Juni 2020
Matiin, N. 2019. "Persepsi Wajib Pajak Pada Keadilan Pajak dan Pengetahuan Pajak Terhadap Keberhasilan Tax Amnesty Pada Kantor Pelayanan Pajak
Matiin, N. 2019. "Persepsi Wajib Pajak Pada Keadilan Pajak dan Pengetahuan Pajak Terhadap Keberhasilan Tax Amnesty Pada Kantor Pelayanan Pajak