BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
3. Struktur Organisasi
4. Keadaan Santri, Ustadz / Ustadzah
5. Sarana dan Prasarana
B. Pelaksanaan Pendidikan di PIP Tremas Pacitan Jawa Timur
1. Kitab-Kitab yang di pelajari (Materi yang diajarkan).
2. Kurikulum di PIP Tremas Pacitan.
3. Metode – Metode dalam Proses Belajar Mengajar di PIP Tremas Pacitan.
4. Pengembangan Kurikulum mengenai: Pengembang Kurikulum, Artikulasi dan Hambatan, serta Model- Model Pengembangan Kurikulum.
BAB IV : Analisis Relevansi Kurikulum Pesantren dengan Kebutuhan Masyarakat pada Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.
A. Sistem Pendidikan di PIP Termas.
B. Proses Belajar Mengajar di PIP Tremas Pacitan.
C. Perkembangan Kurikulum di PIP dari perspektif Kebutuhan Masyarakat.
BAB V : Penutup
Dalam bab ini merupakan bagian terakhir yang terdiri dari tiga sub bab yaitu:
A. Kesimpulan.
B. Saran-Saran.
3. Bagian Akhir Skripsi
Pada bagian akhir ini berisi : Daftar Pustaka, Lampiran- Lampiran, serta Daftar Riwayat Pendidikan Penulis.
.BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam 1. Pengertian Pondok Pesantren
Pondok Pesantren dalam penyelenggaraan pendidikan berbentuk asrama yang merupakan komunitas khusus dibawah pimpinan kyai dan dibantu oleh ustadz / ustadzah yang berdomisili di pondok bersama dengan santri. Di Pondok Pesantren masjid selain sebagai tempat ibadah digunakan sebagai tempat kegiatan para santri selain itu dilengkapi dengan gedung / madrasah sebagai pusat kegiatan belajar mengajar. Pondok pesantren dilengkapi dengan asrama sebagai tempat tinggal para santri selain itu kehidupan pondok pesantren merupakan kehidupan yang kreatif dan terbentuk satu kesatuan seperti satu keluarga.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam sebagai wahana untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat dalam kehidupan sehari – hari.
Istilah pondok pesantren, merupakan dua istilah yang menunjukkan pada satu pengertian suku jawa biasanya menyebutnya dengan istilah pondok, atau pesantren. Di Madura menyebutnya dengan istilah penyantren, sedang di Pasundan menyebutnya dengan
istilah pondok sedangkan di aceh menyebutnya dengan istilah “surau“
( Team Depag, 1986 :53 ). Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama – asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang terbuat dari bambu, atau barangkali berasal dari
kata “ funduq“ yang berarti hotel atau asrama (Zamakhsyari,1978:18).
Pesantren secara terminologi adalah sebuah pendidikan agama yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar ( Arifin,1991: 99 ). Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seorang guru yang lebih dikenal dengan sebutan “
kyai “. Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam lingkungan
kompleks pesantren di mana kyai bertempat tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan keagamaan yang lain (Zamakhsyari, 1978 : 44 ).
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Agama Islam dengan sistem asrama yang di dalamnya berisikan sekurang – kurangnya ada lima unsur pokok yaitu : pengasuh sekaligus pengajar ( kyai ), ada asrama ( pondok ), masjid sebagai tempat ibadah dan sentral kegiatan, santri, serta ada pembelajran kitab kuning ( Tafsir, 1992 : 191 ).
Dari pengertian diatas, pondok pesantren merupakan totalitas pendidikan agama Islam yang benar – benar menjadi suplemen pokok bagi masyarakat sebagai tiangnya kehidupan. Pondok pesantren
merupakan wadah pendidikan islam yang seutuhnya sebagai subyek mendidik dan mengajar. Sehingga pondok pesantren selalu di kembangkan untuk mendidik dan membina dalam meningkatkan kualitas masyarakat yang terarah sebagai kader masa depan.
2. Tinjauan Sejarah tentang Pondok Pesantren di Indonesia
Pondok pesantren merupakan bapak dari pendidikan Islam di Indonesia, didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman, hal ini bisa dilihat dari perjalanan historisnya, sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah islamiyah, yaitu menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam sekaligus mencetak kader –kader ulama‟ dan da‟i ( Hasbullah, 1999 ; 40 ).
Awalnya pondok pesantren itu masuk ke Indonesia, bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Hindu. Setelah berkembangnya ajaran Islam di Indonesia barulah pondok pesantren mendapatkan isi ajaran Islam ( Team Depag, 1986 : 53 ). Pondok pesantren lahir di Indonesia tidak lepas dari munculnya para tokoh – tokoh islam yang ikut menyiarkan ajaran Islam, baik itu di pondok maupun di langgar atau surau seperti para walisembilan.
Pondok pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaannya dan perkembangannya setelah abad ke – 16. Karya-karya jawa klasik seperti serat cabolek dan serat centini mengungkapkan dijumpai lembaga-lembaga yang mengajarkan berbagai kitab islam klasik dalam
bidang fiqih, tasawuf, dan menjadi pusat-pusat penyiaran islam yaitu pondok pesantren ( Depag, 2003:8).
Pada masa penjajahan kolonial Belanda, nama pesantren merupakan lembaga pendidikan rakyat yang berbobot terutama dalam penyiaran agama islam. Kelahiran pesantren baru, selalu diawali degan cerita perang antara pesantren – pesantren yang akan didirikan dengan masyarakat sekitar dalam kehidupan moral, bahkan dengan kehadiran pesantren dengan jumlah santri yang banyak dan datang dari berbagai masyarakat laian yang ajauh, maka terjadilah semacam kontak budaya antara berbagai suku dan masyarakat di sekitar makain ramai dan makin maju.
Namun semenjak belanda memerintah Indonesia, pendidikan islam dan pesantren mengalami banyak hambatan, bahkan dikatakan mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan kebijaksanaan pemerintah yang cenderung memberatkan, misalnya yang dulunya adalah sebagai tempat belajar dihapuskan dan dijadikan pusat pemerintahan . Pada tahun 1990an Belanda menghilangkan sistem pengajaran pesantren dan diganti dengan system kelas atau sekolah dengan dasar politik ( Wahjoetomo, 1997 : 76 ).
Ilmuan barat yang mereka terima tidak merubah atau melunturkan putra pribumi, justru mempertebal keyakinan agama dan memperkokoh nasionalisme mereka. Politik Islam yang dijalankan oleh pemerintah belanda (membatasi pendidikan bagi pribumi) justru
menggiring masyarakat pribumi pergi ke pondok pesantren. Proses ini disatu pihak justru mendasari kuatnya kepercayaan beragama bagi penduduk pribumi ( Team Depag, 1986 :19 ).
Itulah yang menjadi sebab mengapa sebagian besar pondok pesantren berada di daerah yang jauh dari keramaian kota, untuk menghindari jangakauan Belanda. Dengan cara inilah, pondok pesantren mampu mengembangkan sayap, terbukti sampai sekarang banyak pondok pesantren yang berkembang di tanah air, khususnya di pulau jawa.
3. Unsur – unsur Pondok Pesantren
Kyai , Santri, Pengajian Kitab Klasik, Masjid, Pondok merupakan unsure – unsure dari tradisi pesantren. Hal ini berarti bahwa suatu lembaga pengajian yang telah berkembanga hingga memiliki kelima elemen dasar tadi akan merubah statusnya menjadi pesantren. Demikian perkembangan selalu menampilkan cirri khas sebagai lembaga pendidikan yang ditunjukkan oleh unsur – unsur pokok tersebut serta membedakan dengan lembaga laiannya sebagai berikut :
a. Kyai
Kyai merupakan elemen paling esensial dari suatu pesantren, seorang kyai bahkan seringkali merupakan pendirinya. Sudah sewajarnya bahwa pertumbuhan sebuah pesantren bergantung
kepada kemampuan pribadi kyainya, menurut asal – usulnya, perkataan kyai dalam bahasa jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda :
1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang – barang yang dianggap
keramat, seperti “ Kyai Garuda Kencana “ dipakai untuk sebutan
Kereta Emas yang ada di Kraton Yokyakarta.
2. Gelar kehormatan untuk orang – orang tua umumnya.
3. Gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang ahli agama islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab – kitab islam klasik kepada para santrinya (Dhofier,1980:55).
Selain gelar, kyai sering disebut seorang alim ( orang yang dalam pengetahuan tentang islam). Adanya kyai dalam pesantren merupakan hal yang sangat mutlak bagi sebuah pesantren, sebab seorang kyai merupakan tokoh sentral yang memberikan pengajaran dan bimbingan, karena kyai menjadi satu – satunya yang paling dominan dalam kehidupan suatu pesantren.
a. Santri
Santri merupakan elemen penting dalam suatu lembaga pesantren, menurut tradisi pesantren terdapat dua kelompok santri :
1) Santri mukim yaitu murid – murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren.
2) Santri kalong yaitu murid – murid yang berasal dari desa – desa di sekitar pondok, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang ke rumah masing - masing setiap selesai mengikuti pembelajaran di pondok pesantren ( Dhofier,1980:51-52).
b. Pengajian Kitab Klasik
Kitab – kitab klasik yang sekarang dikenal dengan kitab kuning sebagai karangan ulama terdahulu, mengenai berbagai ilmu pengetahuan agama islam dan bahasa arab. Pada masa lalu, pengajaran kitab-kitab klasik terutama karangan ulama yang menganut faham
syafi‟iyah dan merupakan satu-satunya pengajaran formal yang
diberikan dalam lingkungan pesantren. tujuan utama pengajaran ini adalah untuk mendidik calon – calon ulama yang setia kepada faham islam tradisional ( Dhofier,1980:50).
Para santri dalam mempelajari kitab-kitab klasik ini biasanya menggunakan system pengajaran sorogan dan badongan. Kitab kuning sebagai salah satu unsure mutlak dari proses belajar mengajar di pesantren sangat penting dalam membentuk kecerdasan intelektual dan moralitas kesalehan (kualitas keagamaan) pada diri santri (Yasmadi,2005:68). System pembelajaran seperti ini, oleh para ulama dianggap masih relevan diterapkan dalam suatu pendidikan pada zaman sekarang ini.
c. Masjid
Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sholat lima waktu,
khutbah, dan sholat jum‟at serta pengajaran kitab-kitab klasik.
Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dlam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dasar system pendidikan tradisional. Dengan kata lain, kesinambungan system pendidikan islam yang berpusat pada pada masjid al-Qubba dekat Madinah pada masa nabi Muhammad tetap terpancar dalam system pesantren (Dhofier,1980:49).
Dalam perspektif sejarah Islam, masjid bukanlah sarana kegiatan peribadatan belaka, lebih jauh dari itu masjid menjadi pusat bagi segenap aktifitas nabi Muhammad dalam berinteraksi dengan umat. Masjid, menurut Nurcholish Madjid dapat juga dikatakan sebagai pranata terpenting masyarakat islam serta pembangunan masjid adalah modal utama nabi ketika berjuang menciptakan masyarakat beradap (Yasmadi,2005:65).
Demikian dengan seorang kyai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren biasanya pertama-tama akan mendirikan masjid yang tidak jauh dari lokasi yang akan di buat pondok pesantren. Masjid inilah yang nantinya akan digunakan kyai untuk mengajar santri-
santrinya. Dan disinilah para santri mengenal berbagai ajaran-ajaran agama Islam.
d. Pondok
Pondok pesantren adalah sebuah system yang unik. Tidak hanya unik dalam pendekatan pembelajarannya, tetapi juga unik dalam pandangan hidup dan tata nilai yang di anut, cara hidup yang ditempuh, struktur pembagian kewenangan, dan semua aspek-aspek kependidikan dan masyarakat lainnya. Oleh sebab itu, tidak ada definisi yang secara tepat mewakili seluruh pondok pesantren yang ada (Depag,2003:28).
Setiap pondok pesantren mempunyai keistimewaan sendiri, yang mungkin tidak bisa di miliki oleh pondok-pondok yang lain. Meskipun demikian, dalam hal-hal tertentu pondok pesantren memiliki persamaan. Persamaan- persamaan inilah yang lazim disebut sebagai ciri-ciri pondok pesantren, dan selama ini dianggap dapat mengimplikasi pondok pesantren secara kelembagaan.
4. Pergulatan Pesantren dalam Perkembangan Masyarakat
Perubahan masyarakat terjadi setiap waktu berkenaan dengan proses tingkah laku kalangan masyarakat (pedesaan ataupun kota). Perubahan yang terjadi dalam masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan budaya setempat. Adapun kehadiran pesantren ditengah-tengah
masyarakat ikut memberikan macam-macam corak dalam masyarakat sekitarnya. Karena pada awal berdirinya pesantren telah didukung masyarakat sehingga perubahan yang terjadi di masyarakat pun akan melibatkan keberadaan pesantren.
Perubahan masyarakat berjalan secara kontinyu dan berkesinambungan. Memahami perubahan sosial sangat penting bagi masyarakat terutama generasi muda yang sedang mengembangkan ilmu pengetahuan untuk siap menjadi pewaris pejuang bangsa. Memang dalam kehidupan intelek dan juga hubungan antar masyarakat, ada prinsip-prinsip dasar yang hampir tidak memahami perubahan. Perubahan tersebut bersifat menyempurnakan tidak menghilangkan. Prinsip-prisip dasar itu seperti aqidah atau pendidikan agama islam (syariat, akhlak,dsb).
Pendidikan Islam yang diterapkan di pesantren harus mampu mensikapi, dapat memerangi dan mengatasi perubahan sosial dan kebudayaan yang ada di masyarakat. Pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Qur‟an dan As Sunnah seyogyanyalah mampu melahirkan manusia yang mencapai kesuksesan di dunia dan di akhirat.
Pondok pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap sitiasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah diharapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai-nilai
yang ditawarkan. Kehadiran pondok pesantren bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social ghange), yang selalu melakukan perubahan pembebasan pada masyarakat dari segala keburukan moral, penindasan politik, pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi (Depag, 2003:94).
Peran pesantren dalam kultur masyarakat dapat mengarahkan tujuan perubahan itu ke masa depan yang lebih baik dari pada kehidupan masyarakat sebelumnya, sehingga perubahan masyarakat berpengaruh positif bagi pertumbuhan zaman, sosial dan budaya. Pondok pesantren juga merupakan sarana bagi perkembangan potensi dan pemberdayaan umat, seperti halnya dalam pendidikan atau dakwah islamiyah (Depag,2003:93).
Pesantren juga sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional dalam membentuk manusia muslim yang abik dan sholeh. Oleh karena itu lembaga pendidikan Islam ini berusaha untuk mewujudkan susana yang lingkungannya dalam pesantren. pesantren ingin selalu mengembangkan kurikulum pendidikan agar lebih unggul bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Dikatakan pesantren dapat mencapai kesejahteraan duniawi dan akhirat.
Pada perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan anak didik yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan, kemampuan
berkomunikasi dengan masyarakat secara luas, serta meningkatkan kecerdasan terhadap alam lingkungan.
Terjadinya trasformasi masyarakat Indonesia dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrialis memunculkan berbagai macam jenis jabatan dan pekerjaan. Hal ini sering menimbulkan berbagai benturan antara nilai-nilai sosial yang sudah melekat di masyarakat dan nilai-nilai baru. Oleh karena itu pondok pesantren mampu memberikan sumbangan-sumbangan baik moral maupun pikiran yang sesuai dengan perkembangan masyarakat.
B. Kurikulum dan Kebutuhan Masyarakat
1. Konsep Dasar Kurikulum
Kata kurikulum berasal dari bahasa yunani yang semula digunakan dalam bidang olahraga, yaitu ”currere” yang berrarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start hingga finis. Pengertian ini kemudian diterapkan dalam bidang pendidikan (Muhaimin, 2007:1).
Kurikulum dimaksudkan suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan, dari mulai awal sampai akhir. Kurikulum juga berarti “chariot” semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang membawa seseorang dari start sampai finis. Di samping penggunaan kurikulum semula dalam bidang olahraga,
kemudian dipakai dalam bidang pendidikan yakni sejumlah mata kuliyah di perguruan tinggi (Nasution, 1994:1-2).
Di Indonesia, istilah ”kurikulum” baru menjadi popular sejak tahun
lima puluhan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah kurikulum di kenal orang luar pendidikan. Sebelumnya yang lazim digunakan ialah “ rencana pelajran”. Hilda
Taba, “Curriculum Development, Theory and Practice” mengartikan
sebagai “a plan for learning” yang direncanakan untuk pelajaran anak (Nasution,1994:2).
Kurikulum dalam pendidikan diartikan sejumlah mata pelajran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah. Kurikulum juga merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakat. Kurikulum itu sebagai penyangga untuk mencapai tujuan pendidikan. Beauchamp lebih memberikan tekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran. Pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran (Sukamadinata, 2013:5).
2. Kurikulum dan Masyarakat
Kurikulum sangat penting bagi masyarakat, sekolah / pesantren sebagai hasil kurikulum yang telah mereka jalani dan mutu masyarakat banyak bergantung pada mutu kurikulum. Makin maju masyarakat,
makin banyak yang harus diperoleh anak didik dan karena itu bertmabah lamalah mereka harus bersekolah.
Perubahan dalam masyarakat terutama akhir-akhir ini sangat cepat, sehingga sering sekolah tidak sanggup mengikuti jejak kemajuan masyarakat. Akibatnya sekolah bertambah lama bertambah jauh ketinggalan dan dicap konservatif tradisional, sekolah tidak dapat bergerak secepat masyarakat dan sering sekolah berpegang teguh pada mata pelajaran yang dahulu memang fungsional, akan tetapi dalam masa modern ini sudah tidak lagi memenuhi tuntutan zaman. Hal ini akan selalu timbul dan mengharuskan sekolah untuk meninjau kurikulumnya kembali agar lebih relevan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat (Nasution,1994:153).
Mendidik anak dengan baik hanya mungkin jika kita memahami masyarakat tempat kita hidup. Karena setiap Pembina kurikulum harus senantiasa mempelajari keadaan, perkembangan, kegiatan dan aspirasi masyarakat. Perubahan masyarakat mengharuskan kurikulum senantiasa ditinjau kembali. Kurikulum dapat dikatakan sebagai unsur penting dalam proses pendidikan dalam suatu kesatuan system, untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Kurikulum yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat harus kita rencanakan secara matang agar pelaksanaan pengajarannya dapat
sesuai dengan struktur kurikulum yang diberikan. Dengan demikian, merencanakan suatu kurikulum merupakan usaha yang melibatkan banyak instansi, mulai dari badan tertinggi sampai yang terendah seperti guru, bahkan orang tua.
Oleh karena itu tidak ada alasan untuk menghapus atau menutup pondok pesantren, dengan alasan kuno dan kurikulumnya tertinggal dengan perkembangan zaman. Sementara penciptaan tradisi keilmuan baru membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan tidak seorang pakarpun mampu menjamin bahwa tradisi baru itu akan sama efisien dengan tradisi keilmuan yang dibangun melalui kitab kuning. Banyak ilmuan yang muncul dari kalangan pesantren, baik itu pesantren klasik ( salafy ) maupun pesantren modern ( khalafy ).
Sebagai konsekuensi keikutsertaan pondok pesantren dalam laju kehidupan kemasyarakatan yang bergerak dinamis, di pondok pesantren selain berkembang aspek pokoknya, yaitu pendidikan dan dakwah, juga berkembang hampir semua aspek kemasyarakatan, terutama yang berkaitan dengan ekonomi dan kebudayaan (Depag RI,2003:19).
C. Kurikulum Pondok Pesantren
Yang dimaksud dengan kurikulum pondok pesantren meliputi : tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Cakupan dalam kurikulum seperti ini didasarkan pada pandangan para pakar kurikulum, antara lain Hilda Taba,
sebagaimana dikutip Nasution mengemukakan bahwa “pada hakekatnya
tiap kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar
berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakatnya”
(Nasution,1994:7).
1. Tujuan Kurikulum di Pesantren
Kurikulum tidak lepas dari suatu pembelajaran dalam satuan pendidikan. Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, perasaan dan panca indera. Pendidikan berusaha mengubah keadaan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak bersikap seperti yang di harapkan menjadi bersikap seperti yang diharapkan. Pendidikan membentuk manusia secara keseluruhan yaitu pembentukan kepribadian secara utuh.
Tujuan dalam pendidikan islam ialah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran islam.
Orang yang berkepribadian muslim dalam Al Qur‟an disebut “Muttaqin”. Oleh karena itu pendidikan islam berarti pembentukan
manusia yang bertaqwa. Hal ini sesuai dalam pendidikan mansional yang kita tuangkan dalam tujuan pendidikan nasioanal yang akan membentuk manusia Pancasilais yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Depag,1982:60).
Menurut Al-Ghazali, tujuan umum pendidikan islam tercermin dalam dua segi :
1. Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Insan puran yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.
Kebahagiaan dunia-akherat dalam pandangan Al-Ghazali adalah menempatkan kebahagiaan dalam proporsi yang sebenarnya. Kebahagiaan yang lebih mempunyai nilai universal, abadi, dan lebih hakiki itulah yang diprioritaskan, sehingga pada akhirnya tujuan ini akan menyatu dengan tujuan yang pertama (Muhaimin, Mujib,1993:161).
Dasar pendidikan pesantren yang fundamental yaitu Al-Quran- Hadits sebagai tujuan pendidikan pesantren antara lain menjadikan santri-santri sebagai figur yang berkepribadian muslim serta mengembangkan supaya dapat menjadi sosok muslim yang berkepribadian muhsin. Fakta tersebut sesungguhnya merupakan nilai-nilai yang sudah ada tradisi pada kalangan pesantren, walaupun sebenarnya tidak proposional, yaitu tindakan dan perkataan sang kyai dalam jajaran dasar falsafah pendidikan pesantren (kyai dianggap sebagai pengasuh nilai-nilai mutlak).
Faisal mencanangkan bahwa pendidikan pesantren bertujuan sebagai berikut :
a. Mencetak ulama yang mneguasai ilmu-ilmu agama. Hal ini sesuai dengan Al-Qur‟an Surat At-Taubah:122.
b. Mendidik muslim yang dapat melaksankan syariat agama.
c. Mendidik agar obyek memiliki keterampilan dasar yang relevan dengan terbentuknya masyarakat beragama.
Menurut mastuhu (sebagaimana dikutip Manfred Oepen,1988:288) mengungkapkan bahwa tujuan dari pesantren, antara lain sebagai berikut :
a. Memiliki kebijaksanaan menurut ajaran islam.
b. Memiliki kebebasan yang terpimpin.
c. Berkemampuan mengatur diri sendiri.
d. Memiliki kebersamaan yang tinggi.
e. Bisa menghormati orang tua dan guru.
f. Mempunyai rasa cinta terhadap ilmu.
g. Mandiri dan kesederhanaan (Tafsir,1992:201).
Sedangkan yang menjadi tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim. Tujuan
tersebut mirip dan sama dengan tujuan pendidikan Islam. Muhaimin dan A. Mujib menyadur rumusan tujuan pendidikan Islam dari hasil seminar pendidikan Islam sedunia tahun 1980 di Islamabad sebagai
berikut : “Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan
yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu pendidikan seharusnya memberi pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya yang meliputi aspek spiritual, intelektual, immjinasi, fisik, ilmiah, linguistik baik secara indibidu maupun secara kolektif, di samping memotivasi semua aspek tersebut kearah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan terealisasinya ketundukan kepada Allah SWT, baik dalam level individu, komunitas dan manusia secara luas (Muhaimin, Mujib,1993:163).
Maka dalam tujuan pendidikan dan pengajaran pesantren juga