BAB V PENUTUP
Bagan 3.1 Struktur Organisasi SLB Wantuwirawan Salatiga
Struktur Organisasi SLB Wantuwirawan Salatiga
PENDIRI 1.Sigit Margono,M.Pd 2. H. Ir. Soebito KETUA UMUM Retno Adiwati,SH BENDAHARA H Ismawati Prabandari SEKRETARIS Enik M Mawarni,S.Pd KETUA III Bag. Kesehatan BENDAHARA PENDIDIKAN Susilaningsih,S.Pd KETUA II Bag. Rumah Tangga KETUA I
Bag. Pendidikan
RUMAH TANGGA Wahyu Joko W,S.Pd
43
Siswa yang belajar di sekolah SLB Wantuwirawan diantaranya adalah:
1. Tunanetra
Tunanetra merupakan gangguan penglihatan kedua mata atau sebagian. Anak tunanetra yang ada di SLB Wantuwirawan terdapat keduanya yaitu anak dengan buta total dan anak buta sebagian atau low vision. Dilihat dari jumlahnya antara buta total dan low vision itu sama (fifty -fifty). Terdiri dari empat buta total dan empat low vision.
2. Tunadaksa
Tunadaksa ialah seseorang yang memiliki kekurangan secara fisik atau ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya. di SLB Wantuwirawan terdapat anak dengan tunadaksa berjumlah 11 anak yang terdiri laki – laki maupun perempuan.
2. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah a. Visi
Visi dari sekolah SLB A-D Wantuwirawan adalah terwujudnya pelayanan secara optimal bagi PK – LK agar beriman, bertakwa, cerdas, terampil supaya bisa mandiri.
44 b. Misi
Misi yang diterapkan di SLB A-D Wantuwirawan adalah
1) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan efektif
sehingga setiap siswa mengenali potensi dirinya dan dapat berkembang secara optimal
2) Menumbuhkan rasa percaya diri untuk menjadikan
pengetahuan sebagai jendela menguak kegelapan dan percaya diri serta menjadikan keterampilan sebagai sarat untuk bekal hidup.
c. Tujuan
Tujuan dari sekolah SLB A-D Wantuwirawan adalah :
1) Dapat menggunakan ajaran agama hasil proses pembelajaran
serta meraih prestasi akademik maupun non akademik.
2) Membentuk anak hidup mandiri.
3. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan di SLB A-D Wantuwirawan ini masih menggunakan kurikulum KTSP tapi juga sedikit demi sedikit menggunakan kurikulum 2013. Sekolah luar biasa Wantuwirawan mulai tahun 2017 keseluruhan sudah menggunakan kurikulum 2013 dan menyeseuaikan dengan kemampuan siswa sendiri karena keterbatasan yang dimiliki. Dengan kurikulum tersebut bertujuan menjadikan pserta didik dapat mengembangkan prestasinya.
45
4. Guru SLB AD Wantuwirawan Salatiga
Guru yang mengajar di SLB (A) (D) Wantuwirawan Salatiga berjumlah 10 yang terdiri dari PNS, guru tetap, dan guru tidak tetap.
Tabel 3.2
Daftar Guru SLB Wantuwirawan Salatiga
No Nama / NIP Jenis Kepegawai an Jabatan Mapel yang diajarkan/ Guru kelas 1 Sigit margono, M. Pd 19621228 198403 1 005 PNS Kepala Sekolah PKN 2
Dra. Ida Priyanti 19601128 198703 2 004 PNS Guru Bahasa Inggris 3 Susilaningsih, S.Pd 19610404 198903 2 001
PNS Guru Guru kelas
4
Wahyu Joko .W, S.Pd 19700407 199403 1 004
46 5
Huru Tyastri, S. Sos.I 19800930 200604 2 004
PNS Guru PAI
6
Anggun Triraka Aji 1979012301001 GTY Guru Kesenian TIK 7 Tentrem.S, S.Pd.SD 1974120102002
GTY Guru Guru kelas
8
Said Kamal, S.Pd I 1977080801003
GTY Guru IPS
9
Yudiono
1968011001004
GTTY Guru Massage
10
Ika Yulianti, S.Pd 1990072102005
GTY Guru Guru kelas
5. Guru dan siswa a. Guru
Guru yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB Wantuwirawan Salatiga adalah
Nama : Huru Tyastri, S.sos.I
NIP : 19800930 200604 2 004
47
Golongan : III/C
Alamat : Perumahan Argomas Timur no 253
b. Siswa
Siswa tunanetra yang diteliti oleh penulis adalah siswa dengan jenjang SMA kelas X dan XI yaitu :
1) Nama : Aditya Pratama
Kelas : XI
TTL : Salatiga, 09 April 1999
Alamat :Surawangsan RT 02/02 , Kauman Kidul, Salatiga
2) Nama : MM Kurniawan
Kelas : X
TTL : Salatiga, 10 Oktober 1999
Alamat : Cebongan, Argomulyo, Salatiga
6. Sarana dan Prasarana Sekolah
SLB (A) (D) Wantuwirawan Salatiga yang menempati lahan 1090 dengan luas bangunan kurang lebih 900 dan halaman 17 x 11 . Sarana dan prasarana yang dimiliki SLB A-D Wantuwirawan Salatiga yaitu :
48 a. Gedung dan Ruang
Terdiri dari ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang ruang tamu, ruang ibadah, ruang kelas,ruang perpustakaan, ruang keterampilan, gudang, ruang terapi, kamar mandi, dan ruang sirkulasi.
b. Barang / Perkakas
Barang / perkakas sebagai penunjang proses kegiatan belajar mengajar
Tabel 3.3
Daftar Barang / Perkakas SLB Wantuwirawan Salatiga
No Nama Barang
1 Meja kursi kepala sekolah
2 Meja kursi guru
3 Meja kursi tamu
4 Meja kursi siswa
5 Almari
6 Komputer
7 Mesin ketik
8 Papan pajang
9 Rak hasil karya siswa
49
11 Alat peraga IPA
12 Alat peraga IPS
13 Alat peraga Bahasa
14 Alat peraga Berhitung
15 Alat peraga Terapi
16 Buku teks pelajaran
17 Buku penunjang
18 Buku referensi
19 Buku perpustakaan
Tabel 3.4
Sarana Ibadah
No Nama barang Jumlah
1 Mushola 1 2 Tempat wudhu 3 Tikar 4 Mukena 6 5 Pecis 6 6 Sajadah 10
7 Al Quran braille 2 set
50 B. Temuan Penelitian
1. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran Baca Tulis Al Quran pada Anak Tunanetra
Pada bagian ini akan dipaparkan hasil penelitian yang menunjukkan strategi guru pendidikan agama Islam berkebutuhan khusus dengan keterbatasannya dalam melihat (low vision) di SLB Wantuwirawan Salatiga.
Berdasarkan wawancara dengan guru PAI dan siswa, strategi yang dilakukan ketika memberikan pembelajaran baca tulis Al Quran menggunakan prinsip individual, seperti yang telah dijelaskan oleh HT selaku guru pendidikan agama Islam :
Saya mengajarinya sendiri-sendiri mba, gantian gitu. Kalau awal mengajari Al Quran braille, biar siswa juga lebih ngerti
(W/G/HT/9-06-2016/09:10).
Hal serupa juga disampaikan salah satu siswa yang berinisial MK:
Kalau ibu Tyas itu, diajari satu-satu, gantian gitu. Apa lagi
kalau praktek baca sama nulis (W/S/MK/17-06-2016/10:00).
Alasan menggunakan prinsip individual karena HT selaku guru PAI berkebutuhan khusus bisa lebih leluasa memberikan materi, sesuai dengan paparan guru sebagai berikut:
Kalau mengajari sendiri-sendiri kan lebih enak mba, jadi lebih
fokus ke materi (W/G/HT/9-06-2016/09:15).
Selain dekat dengan siswa, dengan prinsip individual juga membantu dalam memantau siswa dalam proses pembelajaran
51
Saya kan juga kurang menguasai kelas mba, jadi ya lebih memilih dekat dengan siswa, karena bisa membantu saya untuk
memantau siswa, memperhatikan atau tidak
(W/G/HT/9-06-2016/09:15).
Untuk metode yang digunakan dalam penyampaian materi, HT lebih menggunakan metode ceramah, karena siswa tunanetra selain mengandalkan indera peraba juga indera pendengaran, sesuai dengan pemaparan guru PAI, sebagai berikut :
Biar materi bisa sampai ke siswa, ya dengan metode ceramah itu to mba, saya terangkan dulu materinya. Anak tunanetra kan selain indera peraba juga mengandalkan indera pendengaran
sebagai alat untuk memperoleh informasi
(W/G/HT/9-06-2016/09:15).
Hal serupa juga dipaparkan oleh MK selaku siswa, sebagai berikut:
Caranya bu Tyas ngajar ya menerangkan materi dulu
(W/S/MK/17-06-2016/10:00).
Selain menggunakan metode ceramah, juga menggunakan metode praktek dan diskusi, seperti yang dipaparkan HT selaku guru PAI sebagai berikut:
Selanjutnya, setelah menyampaikan materi saya suruh praktek dengan menggunakan Al Quran braille biar siswa langsung tahu. Saya juga mengadakan diskusi di tengah jam pembelajaran biar
siswa tidak jenuh (W/G/HT/9-06-2016/09:15).
Media yang digunakan guru PAI dalam pembelajaran BTA meliputi Al Quran braille, buku braille, dan reglet sebagai alat menulis, sebagaimana pemaparan HT selaku guru, sebagai berikut:
Kalau medianya, ya seperti yang dibutuhkan siswa mba, yang bisa membantu siswa ketika pembelajaran, ada Al Quran braille, buku braille, ada buku bicara tapi saya lebih suka menggunakan
52
buku braille,terus reglet buat nulisnya
(W/G/HT/9-06-2016/09:30).
Sebagai acuan pembelajaran mengikuti kurikulum yang digunakan sekarang. Di SLB Wantuwirawan saat ini adalah kurikulum KTSP dan sedang menjalankan kurikulum 2013, sebagai tujuan dan harapan menunjang hasil belajar siswa dengan menyesuaikan kebutuhan siswa. Penjelasan tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh guru Pendidikan Agama Islam ibu HT:
Saat ini kurikulum yang digunakan di SLB Wantuwirawan ialah KTSP dan Kurikulum 2013 mba, tetapi tetap menyesuaikan
kebutuhan anak (W/G/HT/9-06-2016/09:30)
Hal serupa juga disampaikan oleh kepala sekolah SLB Wantuwirawan pak SM:
Untuk menunjang kualitas sekolah juga siswa sendiri kami mengikuti kurikulum dari pemerintah tapi saat ini masih menggunakan kurikulum KTSP juga kurikulum 2013 tapi tetap
menyesuaikan kemampuan anak - anak .
(W/KS/SM/27-05-2016/11:10).
Guru PAI juga mempersiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan menyesuaikan kondisi siswa meliputi bahan, metode maupun sistem penilaiannya. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan oleh guru Pendidikan Agama Islam ibu HT:
Ada beberapa yang perlu dipersiapkan ketika akan melaksanakan pembelajaran, yaitu RPP yang dirancang sesuai kondisi dan kebutuhan siswa, seperti bahan atau materi, metode, dan penilaiannya, karena tidak mungkin persiapan untuk anak dengan memiliki ketunaan disamakan dengan anak
53
Strategi yang paling ditekankan kepada anak tunanetra
dalam pembelajaran BTA ini adalah pemberian motivasi kepada siswa sebagai penyemangat agar siswa tidak malas ketika belajar membaca maupun menulis Al Quran. Sebagaimana penjelasan ibu HT, sebagai berikut:
Ketika pembelajaran BTA kepada anak – anak saya lebih
memberikan motivasi supaya mereka terus memiliki
semangat dalam belajar mba.(W/G/HT/09-06-2016/ 09
:45)
Selain motivasi guru PAI juga memberlakukan reward atau
penghargaan kepada anak, salah satunya ketika anak berhasil dalam mengikuti pembelajaran seperti pujian kepada siswa tersebut. Guru
lebih cenderung memberikan reward dan motivasi daripada
hukuman atau punishment dikarenakan siswa menjadi semakin
down dan malas ketika diberikan hukuman. Penjelasan tersebut sesuai dengan penjelasan guru PAI sebagai berikut:
Saya lebih memberikan reward dalam membimbing siswa, karena dengan memberikan penghargaan akan menjadi semangat tersendiri kepada siswa. Ketika anak memiliki semangat maka dalam proses belajar pun menjadi lebih baik. Sedangkan punishment atau hukuman saya tidak berlakukan karena pernah siswa yang diberi hukuman cenderung menjadi
54
2. Pelaksanaan, Problematika, dan Solusi dalam Pembelajaran Baca Tulis Al Quran pada Anak Tunanetra di SLB Wantuwirawan
Pertama yang dilakukan guru dalam membimbing siswa tunanetra ketika pembelajaran BTA seperti biasanya membuka kegiatan pembelajaran diawali dengan salam kemudian dilanjutkan doa. Kegiatan tersebut setiap hari dilakukan khususnya untuk pembelajaran
BTA. Pada awal pembelajaran BTA siswa masing – masing memegang
Al Quran Braille, setelah itu guru mulai mengenalkan huruf hijaiyah terlebih dahulu, dilanjutkan dengan syakal dan tajwid, selanjutnya siswa praktek membaca Al Quran secara individual terlebih dahulu kemudian membaca secara bersamaan. Setelah siswa memahami huruf hijaiyah dan bisa membaca dengan lancar maka guru membiasakan kegiatan tadarus Al Quran setiap awal kegiatan pembelajaran BTA. Penjelasan tersebut sesuai dengan pemaparan dari Guru PAI ibu HT sebagai berikut
Begini mba, pada awalnya kegiatan pembelajaran BTA ini siswa saya kenalkan dengan huruf hijaiyah, itu merupakan kunci utama untuk bisa membaca Al Quran, tetapi siswa harus sudah faham huruf abjad dalam Braille karena huruf hijaiyah sendiri dalam Al Quran Braille prinsipnya hampir sama dengan huruf abjad hanya saja ada penambahan tanda dalam huruf hijaiyah. Setelah itu dilanjutkan dengan mengenalkan anak dengan syakal dan tajwid.
Dilanjtukan dengan praktek membaca Al Quran.
(W/G/HT/09-06-2016/10:00)
Siswa tunanetra untuk bisa membaca perlu ketlatenan karena harus mengasah indera peraba mereka supaya dapat membaca dengan baik, masing-masing siswa membutuhkan waktu yang berbeda untuk bisa
55
membaca dan menulis dengan menggunakan huruf braille. Seperti yang dikemukakan AP, sebagai berikut:
Saya mulai belajar Al Quran braille mulai kelas empat, dan kelas lima saya sudah lancar, untuk nulisnya saya sehari sudah
lumayan (W/S/AP/17-16-2016/11:00).
Beda dengan MK, berikut pemaparannya:
Saya kalau bacanya butuh waktu hampir setengah tahun, kalau
nulis saya sebulan baru bisa (W/S/MK/17-16-2016/11:00).
Pembelajaran BTA kepada anak tunanetra ini menggunakan beberapa metode yang digunakan guru PAI supaya kegiatan pembelajaran membaca Al Quran khususnya menjadi lebih aktif. Salah satu cara metode yang dilakukan oleh guru PAI yaitu menggunakan
metode “simakan”. Dengan simakan siswa cenderung lebih
memperhatikan dengan cara salah satu anak membaca dari kata per kata yang tidak lepas dari bimbingan oleh guru itu sendiri kemudian yang lainnya menyimak dan bergantian membaca. Jika dalam satu kelas ada banyak siswa maka membaca dilakukan secara bergantian dengan teman tapi jika hanya ada satu anak maka hanya disimak oleh guru itu sendiri. Sesuai dengan apa yang dikemukakan guru PAI ibu HT sebagai berikut
Kegiatan BTA yang saya laksanakan untuk anak tunanetra ialah dengan cara menyuruh salah satu anak membaca dan yang lainnya mendengarkan kemudian melanjutkan bacaan tersebut.
kalau tidak menyimak ya ketinggalan bacaannya.
(W/G/HT/09-06-2016/10:15).
Setelah kegiatan simakan secara bergantian siswa diminta untuk mengomentari bacaan temannya sendiri, jadi anak tidak hanya sekedar
56
menyimak, dan memperhatikan bacaan teman tapi juga memberikan pendapat bagaimana hasil bacaan dari teman. Karena keterbatasan guru PAI dalam penglihatan ketika kegiatan simakan guru duduk didekat siswa yang sedang menyimak agar lebih bisa memperhatikan siswa supaya tidak mengobrol dengan teman sebelahnya. Hal tersebut dijelaskan Ibu HT guru PAI di SLB AD Wantuwirawan, sebagai berikut:
Biasanya saya duduk didekat siswa mba, untuk lebih memantau siswa. Beda dengan guru yang awas bisa melihat dan memantau secara jelas dari jauh karena keterbatasan saya dalam melihat jadi saya duduk didekat anak. InsyaAllah saya paham mba kalau
anak itu memperhatikan atau tidak. (W/G/HT/09-06-2016/10:10).
Baca tulis Al Quran (BTA) pembelajaran yang tidak hanya membaca Al Quran tetapi juga menulis Al Quran. Kegiatan menulis dilaksanakan setelah kegiatan membaca siswa praktek menulis menggunakan alat khusus yang namanya reglet. Dengan bimbingan dari guru, siswa berlatih menulis Al Quran secara perlahan. Kegiatan
menulis Al Quran pertama – tama guru mendikte kepada siswa simbol
titik yang menunjukkan huruf hijaiyah, kemudian disuruh membaca hasil tulisannya, sebagaimana penjelasan HT selaku guru PAI:
Untuk membimbing siswa dalam menulis Al Quran, saya mendiktekan huruf hijaiyah kemudian saya suruh baca hasil tulisannya, jadi selesai teori siswa bisa langsung praktek
(W/G/HT/09-06-2016/10:10).
Sedangkan untuk pemahaman mengenai tajwid, terlebih dahulu guru memberikan materi mengenai hukum tajwid dengan menggunakan buku braille, siswa disuruh untuk membaca materi kemudian dibimbing
57
untuk mempraktekan bagaimana letak dan pengucapannya.
Sebagaimana penjelasan guru sebagai berikut:
Pengenalan tajwid saya gunakan buku braille mba, tapi juga saya bimbing, karena kadang dalam buku braille masih kurang penjelasan. Baru saya suruh praktek cara membaca sesuai tajwid
(W/G/HT/09-06-2016/10:10).
Supaya siswa lebih paham, guru meminta siswa untuk mencari hukum tajwid di dalam Al Quran, berikut penjelasan dari HT :
Biar siswa lebih paham, saya suruh mencari hukum tajwid dalam
Al Quran braille, terus ditulis (W/G/HT/09-06-2016/10:10).
Mengenai pembelajaran BTA di SLB Wantuwirawan Salatiga tidak hanya sekedar membaca dan menulis, ada tambahan yaitu dengan menghafal khususnya untuk surat – surat pendek dari surat An Nas sampai Ad Duha. Kegiatan hafalan untuk siswa tunanetra satu ayat bisa dalam sehari, tapi juga ada yang bisa sampai berminggu sesuai kemampuan siswa. Hasil hafalan siswa disetorkan kepada guru tiap kali masuk pembelajaran BTA, sebagaimana penjelasan ibu HT:
Setiap pelajaran BTA, biasanya kan ada tadarus bareng mba,
sebelumnya siswa setor hafalan dulu, semampunya
(W/G/HT/09-06-2016/10:10).
Pelaksanaan dengan menggunakan metode hafalan ini siswa tunanetra ada yang sudah hafal surat-surat pendek khususnya juz tiga puluh, seperti yang dikemukakan oleh MK selaku siswa, sebagai berikut:
Alhamdulilah saya sudah hafal juz tiga puluh, sekarang dirumah mau menghafal juz dua puluh sembilan. Dalam sehari bisa hafal
58
Menurut HT selaku guru PAI, metode yang diterapkan kepada siswa sudah cukup efektif, karena siswa yang awalnya belum bisa sampai saat ini sudah mengalami kemajuan yang baik, berikut penjelasannya:
Saya rasa dengan metode tersebut, ya sudah mba ya, karena saya lihat anak-anak mempunyai kemajuan yang begitu baik seperti MK dan AP, mereka sudah lancar bacanya, bahkan mereka juga sering
ikut lomba (W/G/HT/09-06-2016/10:10).
Pada pembelajaran BTA menurut guru PAI anak tunanetra cenderung lebih fokus dan memperhatikan karena kondisi anak yang tidak bisa melihat lingkungan sekitar. Selain lebih fokus anak tunanetra juga lebih semangat dalam belajar terbukti ketika pembelajaran berlangsung siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, jadi sering bertanya kepada guru mengenai materi yang disampaikan kepada siswa.
Setelah kegiatan pembelajaran BTA guru memberikan masukan hasil siswa, bertujuan supaya siswa bisa memperbaiki kesalahannya, berikut penjelasan guru PAI:
Pasti saya kasih masukan mba, kamu masih kurang ini, kamu sebaiknya begitu. kalau ga gitu ya nanti siswa malah ngerasa bener terus. Padahal kan masih ada kesalahan kalau ga lupa
materi (W/G/HT/09-06-2016/10:10).
Guru juga mengadakan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana anak memahami materi yang disampaikan guru. Diantaranya sistem evaluasi yang diterapkan guru PAI adalah diadakan test dengan model nilai angka, ada jadwal khusus untuk UTS dan UKK, seperti yang sudah dijelaskan tadi setelah kegiatan pembelajaran diadakan diskusi. Karena pembelajaran BTA merupakan kegiatan ekstra dan diluar jam
59
pelajaran jadi sistem penilaiannya digabung dengan materi agama Islam yang lainnya seperti sholat berjamaah, sholat dhuha, dan materi lainnya.
Setiap kegiatan pembelajaran berlangsung tentu terdapat beberapa problem atau hambatan yang dihadapi baik siswa maupun guru itu sendiri. Pertama hambatan atau problem yang dihadapi siswa ketika pembelajaran adalah masih adanya kesulitan dalam perabaan ketika membaca Al Quran Braille, selain itu dalam hal penulisan anak masih kurang karena tangan yang kadang kurang kuat untuk menulis menggunakan alat riglet. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan guru PAI ibu HT, sebagai berikut :
Ketika pembelajaran kesulitan yang biasanya dihadapi anak masih kurangnya perabaan mba, apalagi anak yang masih awal belajar huruf braille. Padahal huruf Al Quran prinsipnya hampir sama dengan huruf abjad jadi itu menjadi hambatan tersendiri bagi siswa mba. Selain itu ketika menulis anak yang tangannya kurang kuat dalam menekan paku dikertas juga menjadi hambatan mba karena jika tekanannya paku masih kurang maka hasil tulisannya juga kurang bisa dibaca.
(W/G/HT/09-06-2016/10:15).
Sebagaimana AP salah satu siswa juga memaparkan kesulitan ketika pembelajaran baca tulis Al Quran, sebagai berikut:
Kalau dalam pembelajaran BTA, saya merasa kesulitan pas
belajar nulisnya (W/S/AP/17-06-2016/11:05)
Sedangkan MK memaparkan kesulitannya, sebagai berikut:
Kesulitan saya di pelajaran BTA ini, ketika belajar huruf
hijaiyah dan cara pengucapannya
60
Selain menulis dan pengucapan siswa juga masih sering kurang faham akan tajwid, sebagaimana yang disampaikan guru, sebagai berikut:
Siswa yang masih kurang dalam pemahaman tajwid juga menjadi problematika, karena membaca Al Quran kan harus
sesuai tajwid (W/G/HT/09-06-2016/10:20).
Selanjutnya yang menjadi problem ketika pembelajaran BTA karena kurangnya waktu untuk belajar. Jadwal yang digunakan untuk pembelajaran BTA hanya seminggu sekali pada hari jumat sebelum waktu duhur dan pembelajaran berlangsung kurang lebih satu setengah jam saja. Kemudian ada lagi yang menjadi problem yaitu kurangnya bimbingan di rumah dikarenakan orang tua yang cukup sibuk dengan pekerjaan menjadikan anak mudah lupa dengan materi yang disampaikan guru. Dari penjelasan tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh guru PAI, sebagai berikut :
Ada lagi mba yang menjadi hambatan bagi anak, ketika kurang dalam perabaan untuk memahami tajwid anak jadi kesuitan memahami tajwid mba, selain tajwid juga kurangnya waktu untuk pembelajaran BTA sendiri karena hanya seminggu sekali dan hanya kurang lebih satu setengah jam pembelajaran. Untuk orang tuanya yang cukup sibuk maka anak masih kuarng bimbingan
dirumah jadi anak mudah lupa.(W/G/HT/09-06-2016/10:15).
Segala problematika yang dihadapi tentunya ada jalan untuk dijadikan solusi Dalam pembelajaran BTA pada anak tunanetra solusi yang diberlakukan guru untuk mengatasi problem siswa yang masih memiliki kesulitan dalam hal perabaan, tajwid maupun cara menulis ialah dengan memperbanyak latihan baik baca maupun menulis dengan
61
memanfaatkan waktu luang atau jam kosong. Karena selain sebagai solusi untuk memperbanyak latihan juga sebagai solusi kurangnya waktu pembelajaran BTA. Jam pelajaran yang kosong dimanfaatkan guru untuk mengajak siswa – siswinya untuk belajar membaca dan menulis Al Quran Braille. Penjelasan tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan guru PAI, sebagai berikut :
Karena waktu pembelajaran yang masih kurang maka saya manfaatkan waktu luang seperti waktu usai tes misalnya kan ada waktu luang sampai pengambilan raport mba, saya gunakan untuk mengajak siswa belajar baca tulis Al Quran
(W/G/HT/09-06-2016/11:00).
Selain jam kosong, guru PAI juga mengadakan bimbingan sendiri mengenai materi yang belum dipahami. Berikut penjelasannya:
Kalau ada siswa yang belum bisa, saya adakan bimbingan sendiri mba ke siswa, jadi bisa membutuhkan waktu lebih dari
teman-temannya (W/G/HT/09-06-2016/11:00).
Guru PAI juga mengadakan lomba di pesantren kilat ketika bulan ramadhan. Walaupun hadiah yang diberikan nilainya tidak seberapa namun bisa menjadikan siswa lebih bersemangat dalam belajar karena siswa bersaing dalam hal yang positif, sebagaimana yang dikemukakan oleh HT:
Pas puasa itu to mba, kan ada pesantren kilat, saya punya inisiatif buat mengadakan lomba buat anak-anak. hadiahnya ya ga seberapa mba tapi bisa menjadi motivasi tersendiri buat siswa. Selain itu saya bisa punya waktu lebih untuk memberi
masukan materi kepada siswa (W/G/HT/09-06-2016/11:00).
Selain bimbingan, lomba dan memanfaatkan waktu luang guru PAI