BAGIAN VII : LEMBAGA KEKARYAAN Pasal 53 : Status
STRUKTUR PIMPINAN
2. Struktur Organisasi Tiap Tingkatan
A. Formatur dan Mide Formatur
Formatur adalah pimpinan HMI pada tingkatannya yang belum memiliki pengurus dalam menjalankan amanah yang diebrikan oleh struktur kekuasaannya. Tugas utama formatur adalah membentuk kepengurusan. Dalam menjalankan tugas ini ia dibantu oleh Mide Formatur. Setelah kepengurusan terbentuk dan dilantik maka formatur dan mide formatur bubar secara sendirinya.
Namun ia memiliki batasan waktu dalam penyelesaian tugas ini. Formatur maksimal harus mampu membentuk suatu kepengurusan (sampai pengurus itu dilantik) selama-lamanya 6 bulan untuk tingkat Pusat dan 3 bulan untuk tingkat cabang, komisariat dan untuk lembaga khusus dan lembaga kekaryaan di tingkatannya. Jika dalam batasan waktu ini formatur tidak dapat membentuk kepengurusan maka satu atau beberapa cabang dapat memulai untuk melakukan
Cabang) atau Rapat Anggota luar biasa (untuk tingkat Komisariat). Dan untuk lembaga khusus dan lembaga kekaryaan diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
Formatur dapat mengambil segala tindakan atas segala hal yang diperlukan untuk menjaga eksistensi lembaga terhadap lingkungan eksternalnya ataupun terhadap lingkungan internalnya. Dengan kata lain formatur dapat melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh Ketua Umum. Namun hal ini tida berlaku bagi mide formatur.
B. Ketua Umum
Pimpinan HMI dikenal sebagai Ketua Umum. Pada Pengurus Besar, Pimpinan HMI adalah ”Ketua Umum HMI”. Bagi pimpinan Lembaga-lembaga HMI disebut dengan ”Ketua”. Ketua Umum HMI, adalah kader yang dipilih melalui Kongres untuk memimpin organisasi HMI secara mnyeluruh. Ia-lah yang akan diminta pertanggung-jawabannya atas gerak organsasi HMI selama satu periode kepengurusan. Pada perjalanan organisasi ia memimpin sebuah tim kerja yang bernama Pengurus Besar untuk menjalankan amanah-amanah Kongres. Tim kerja inilah yang berhak memakai segala perangkat struktur HMI lainnya baik itu cabang atau komisariat untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam Kongres.
Pimpinan Komisi Kebijakan dan Bidang Kerja hanya dapat menggunakan kata ”ketua” saja dalam dokumen organisasi. Karena Pimpinan Komisi Kebijakan merupakan pimpinan HMI yang berada di bawah Ketua Umum. Namun ketua lembaga lainnya menggunakan istilah Ketua Badko (untuk Lembaga Koordinasi tingkat Pusat) dan Istilah Ketua Korkom (untuk Lembaga Koordinasi tingkat cabang). Bagi pimpinan lembaga khusus dan lembaga kekaryaan, mereka dapat menggunakan istilah lain (selain ”Ketua Umum HMI”) sesuai dengan ketetapan lembaganya.
Para Ketua Komisi Kebijakan dan bidang kerja hanya boleh membubuhkan tanda tangan dalam administrasi surat menyurat Kepengurusan HMI ketika di dampingi oleh bubuhan tanda tangan Sekretaris Jenderal HMI disisi kanan Surat. Namun hal ini tidak berlaku bagi Lembaga Koordinasi dan Lembaga Kekaryaan serta Lembaga Khusus yang diberi wewenang dalam kebijakan administrasi kelembagaannya.
Komisariat, harus mendelegasikan kekuasaannya untuk sementara waktu kepada salah satu ketua dibawahnya atau sekretaris (sekjen atau sekum) atau Bendahara Umum, jika ia tidak mampu menjalankan tugas dalam kurun waktu minimal 14 hari sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar) atau 3 bulan (untuk Pengurus Cabang). Ketua yang menerima pendelegasian ini disebut Pejabat Sementara Ketua Umum. Jika lebih dari 6 bulan bagi Ketua Umum PB HMI atau lebih dari 3 bulan bagi Ketua Umum Cabang atau Komisariat tidak mampu menjalankan aktifitas keorganisasian maka Ketua Umum dapat digantikan secara tetap dengan salah satu ketua yang ada dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Ketua Umum ini dinamakan sebagai ”Pejabat Ketua Umum”. Pejabat Ketua Umum dapat meneruskan periode kepengurusan sampai habis dengan segala wewenang dan tanggungjawab yang sama dengan yang dimiliki Ketua Umum.
C. Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum
Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum merupakan bagian dari Struktur Kepemimpinan yang memiliki peran membantu Ketua Umum dalam menjaga kestabilan gerak Struktur Kepemimpinan. Pada tingkat Pengurus Besar skeretaris bernama Sekretaris Jendaral namun pada tingkat Pengurus Cabang dan Pengurus Komisariat seretaris bernama Sekretaris Umum. Peran Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum sendiri ada tiga macam yaitu:
1. 2. 3.
Fasilitator bagi seluruh perangkat HMI dalam menjalankan aktifitasnya Protokol atas semua bagian Struktur Kepemimpinan
Administratur Struktur Kepemimpinan dalam gerak aktifitasnya.
Sekretaris Jendral dan Sekretaris Umum ditentukan dan ditetapkan oleh Formatur dan Mide Formatur. Namun para staf sekretaris ditentukan oleh Sekeretaris Jendral atau Sekretaris Umum dengan Surat Keputusan Ketua Umum Struktur Kepemimpinan HMI. Dengan demikian sekeretaris dan seluruh stafnya bertanggungjawab kepada Ketua Umum. Pada diri mereka selama menjadi (Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum atau staf) melekat kewajiban untuk membantu Ketua Umum saat diminta ataupun tidak diminta.
Sekretaris Jenderal pada tingkat Pengurus Besar dan Sekretaris Umum pada tingkat Cabang, harus mendelegasikan kekuasaannya untuk sementara waktu kepada salah satu ketua dibawahnya jika ia tidak mampu menjalankan tugas
bulan (untuk Pengurus cabang). Ketua yang menerima pendelegasian ini disebut sebagai Pejabat Sementara Sekretaris Jendral (pada Pengurus Besar) atau Pejabat Sementara Sekeretaris Umum (pada Pengurus Cabang atau Pengurus Komisariat).
Jika lebih dari 6 bulan bagi Sekretaris Jenderal Pengurus Besar HMI atau lebih dari 3 bulan bagi Sekretaris Umum Pengurus Cabang atau Komisariat tidak mampu menjalankan aktifitas keorganisasian maka Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum dapat digantikan secara tetap dengan salah satu ketua yang ada dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum ini dinamakan sebagai ”Pejabat Sekretaris Jenderal” bagi Pengurus Besar dan ”Pejabat Sekretaris Umum” bagi Pengurus Cabang dan Komisariat. ”Pejabat Sekretaris Jenderal” dan ”Pejabat Sekretaris Umum” dapat meneruskan periode kepengurusan sampai habis dengan memiliki wewenang dan tanggungjawab yang sama dengan Sekretaris Jendral dan Sekretaris Umum
D. Bendahara Umum
Bendahara Umum merupakan bagian dari Struktur Kepemimpinan yang memiliki peran membantu Ketua Umum dalam wilayah keungan Organisasi. Wewenang Bendahara Umum sendiri ada beberapa yaitu :
1. Melakukan regulasi atas penggunaan segala aset yang dimiliki oleh HMI. 2. Menentukan distribusi keuangan ke tiap elemen struktur Kepemimpinan. 3. Mengontrol penggunaan aset HMI oleh seluruh elemen Struktur Kepemimpinan. 4. Mencari dan mengelola sumber keuangan HMI baik itu dari lingkungan
eksternal dan lingkungan internal HMI.
Bendahara Umum ditentukan dan ditetapkan oleh Formatur dan Mide Formatur. Namun para staf Kebendaharaan ditentukan oleh Bendahara Umum dengan SK Ketua Umum Struktur Kepemimpinan HMI. Dengan demikian Bendahara Umum dan seluruh stafnya bertanggungjawab kepada Ketua Umum.
Sebagaimana halnya Ketua Umum, Bendahara Umumpun baik itu pada tingkat Pusat, Cabang ataupun Komisariat, harus mendelegasikan kekuasaannya untuk sementara waktu kepada salah satu Ketua atau Sekretaris (sekjen atau sekum) jika ia tidak mampu menjalankan tugas dalam kurun waktu minimal 14 hari sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar) atau 3 bulan (untuk Pengurus cabang).
Bendahara Umum”.
Jika lebih dari 6 bulan bagi Bendahara Umum PB HMI atau lebih dari 3 bulan bagi Bendahara Umum Cabang atau Komisariat masih belum mampu menjalankan aktifitas keorganisasian maka Ketua Umum dapat digantikan secara tetap dengan salah satu ketua yang ada dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Ketua Umum ini dinamakan sebagai ”Pejabat Bendahara Umum”. Pejabat Bendahara Umum dapat meneruskan periode kepengurusan sampai habis dengan segala wewenang dan tanggungjawab yang sama dengan yang dimiliki Bendahara Umum. E. Pengurus Harian
1. Komisi Kebijakan
Komisi Kebijakan adalah bagian dari Struktur Kepemimpinan HMI ditingkat pusat yang membantu Ketua Umum dalam menjalankan Amanah Kongres. Komisi Kebijakan berfungsi sebagai pengambil kebijakan pada tubuh HMI dan tidak mengambil fungsi kerja teknis dalam HMI. Dengan demikian Komisi kebijakan menjadi regulator penentu sikap HMI atas dirinya sendiri dan dinamika masyarakat luas.
Pembentukan dan pembagian Komisi Kebijakan dilakukan oleh Formatur dan Mide Formatur. Tiap Komisi Kebijakan dikoordinir oleh Ketua Komisi Kebijakan dan kesemua Ketua Komisi Kebijakan dipimpin oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jendral HMI. Ketua Komisi inilah inilah yang kemudian memilih anggota komisinya dengan ketetapan Ketua Umum Pengurs Besar HMI. Jumlah anggota Komisi Kebijakan ditentukan oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jendral dalam jumlah angka bilangan prima. Anggota Komisi Kebijakan dapat diberhentikan dan diganti serta ditambah atas Keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar.
2. Bidang Kerja
Bidang kerja adalah bagian dari pengurus HMI ditingkat cabang dan komisariat yang mempunyai tugas untuk membantu Ketua Umum dalam menjalankan amanah Konferensi dalam pembagian bidang-bidang kerja. Bidang kerja ini tidak sama halnya Komisi Kebijakan pada Pengurus Besar. bidang kerja memiliki wewenang dalam melakukan aktifitas internal organisasi dan aktifitas eksternal organisasi. Dengan kata lain wewenang kerjanya lebih luas daripada
Pembentukan dan pembagian Bidang Kerja dilakukan oleh Formatur dan Mide Formatur. Bidang-bidang Kerja ini dikoordinir oleh Ketua ketua bidang, dan para ketua bidang dipimpin langsung oleh Ketua Umum. Pemilihan Ketua-ketua bidang ini dilakukan oleh Formatur dan Mide Formatur dan jika ada pergantian maka pergantian dilakukan oleh Presidium Kepengurusan. Ketua-ketua Bidang ditetapkan oleh Ketua Umum dan bertanggungjawab kepada Ketua Umum.
Staf yang dimiliki Bidang Kerja semuanya ditentukan oleh masing-masing Ketua Bidang melalui ketetapan Ketua Umum. Di tingkatan cabang seluruh personel Pengurus Harian diharapkan minimal telah melalui jenjang latihan Kader II. Standar kualitas kader ini diharapakan agar cabang mampu menjalankan aktifitas berupa aktualisasi lembaga atau kader HMI di lingkungan masyarakat lokalnya. Sehingga keberadaan Pengurus Cabang dirasakan manfaatnya pada lingkungan sekitarnya.
3. Unit Aktifitas
Pada tngkat Komisariat Unit Aktifitas adalah bagian dari struktur kepengurusan. Elemen struktur ini mempunyai tugas untuk membantu Ketua Umum dalam menjalankan amanah Rapat Anggota. Bentuk struktur unti aktifitas dapat berupa unit kerja yang memiliki jangka waktu kurang dari satu periode atau bidang kerja yang memiliki waktu satu periode. Fleksibilitas ini untuk menekankan agar beban struktural tidak terlalau berat dipikul pada tingkat Komisariat. Namun yang akan menjadi fokus dari komisariat adalah menjaga kebersamaan kader dalam lingkungan strukturnya.
Sehingga aktifitas organisasi pada tingkat Komisariat tidak memerlukan banyak aktifitas formal dan struktur formal pula. Pengutamaan penciptaan kondisi kebersamaan kader membuat struktur pada tingkatan komisariat tidak perlu baku dan tetap. Ketua Umum Komisariat dapat merancang bentuk struktur yang cocok dalam lingkungan komisariatnya. Mulai dari unit aktifitas yang paling sederhana sampai unit aktifitas dalambentuk bidang kerja.
formatur. Pimpinan unit aktifitas ini dipilih dan ditetapkan oleh Formatur dan Mide Formatur namun para stafnya dapat dipilih langsung oleh para pimpinan Unit Aktifitas dengan Surat Keputusan Ketua Umum. Pergantian pimpinan Unit Aktifitas dan para stafnya dapat dilakukan dalam Rapat Presidium Komisariat namun tetap dengan Surat Keputusan Ketua Umum. Oleh sebab itu para pimpinan Unit Aktifitas beserta para stafnya harus bertanggungjawab pada Ketua Umum atas segala aktifitas keorganisasiannya.
F. Lembaga Koordinasi 1. Badan Koordinasi
Lembaga Koordinasi pada tingkat Pusat dinamakan Badan Koordinasi. Badan Koordinasi ini memiliki sifat yang Semi Otonom dari struktur Pengurus Besar. Semi Otonom artinya:
a. Badan Koordinasi melalui Musyawarah Badan Kordinasi Badan Koordinasi (Musbadko) diberi hak untuk menentukan calon ketuanya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Besar.
b. Ketua Badan Koordinasi diberi hak untuk mengangkat staf kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut memiliki status yang sama sebagai Pengurus Besar.
c. d. e.
f.
Badan Koordinasi diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya diluar forum rapat penentuan agenda kerja Pengurus Besar.
Badan Koordinasi diberi hak penuh dalam mengelola cabang-cabang HMI yang ada dalam wilayah kerjanya.
Ketua Umum PB berhak memveto seluruh bagian yang dilahirkan oleh Badan Koordinasi, Termasuk memberhentikan dan menggantikan posisi Ketua Badan Koordinasi atas persetujuan Rapat Pleno PB. Catatannya, pengganti yang ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain Ketua Badko yang akan diganti) yang diajukan oleh Musbadko terakhir dan untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan. Ketua Badan Koordinasi tetap bertanggungjawab atas segala aktifitasnya kepada Ketua Umum Pengurus Besar.
Awas Bina Sehat Kuat Mapan Perkaderan Latihan Kader Pengader Senior Course Kemandirian + + + + + + + + + + Kepengurusan Regenerasi + + + +
dalam HMI dan membantu pelaksanaan amanah menjadi hal yang membedakan sifat kerjanya dengan lembaga lainnya. Badan Koordinasi juga bertugas melakukan pembentukan dan penyehatan cabang. Tugas ini dilakukan dengan membuat sarana dan prasarana yang memungkinkan cabang hidup dengan baik dan mandiri. Akibatnya ia memiliki kewenangan atas prosesi pelantikan Pengurus Cabang dan menjamin keberlangsungan kesehatan perkaderan di cabang-cabang wilayahnya. Namun SK Pembentukan cabang dan Surat keputusan pelantikan Pengurus Cabang tetap dikeluarkan oleh Ketua Umum dan Sekjen PB HMI.
Selain bertanggungjawab kepada Ketua Umum Pengurus Besar HMI Ketua Badan Koordinasi wajib melaporkan segala aktifitas kepengurusannya ke Musyawarah Daerah dalam sebuah Laporan Pelaksanaan Tugas. Forum Musyawarah Daerah tidak memiliki hak dalam penilaian namun memiliki hak bertanya atas laporan tersebut.
Pada dasarnya tugas utama dari Badan Koordinasi adalah meningkatkan kualitas kesehatan cabang. Pada pelaksanaannya ia perlu melakukan pengidentifikasian terlebih dahulu. Tugas pengidentifikasian kesehatan cabang inilah yang melekat dalam tubuh Badan Koordinasi. Berikut pola kesehatan cabang:
Proses Pengambilan Kebijakan Kesekretariatan dan Kualitas Struktur Laporan + + + + + + Aktifitas Kajian Kepanitian Kegiatan Regional Kegiatan Nasional + + + + + + + + + + Jaringan Pengakuan Intra Kampus Organisasi masyarakat Organisasi keNegaraan + + + + + + + + + + + : Unsur yang harus ada dalam kualifikasi kesehatan cabang.
Dari pengidentifikasian itu lahirlah perlakuan dalam bentuk: 1. Pada status Beku
Petugas : Tugas : Otoritas : Waktu :
Seluruh Pengurus Badan Koordinasi - Menunjuk Ketum, Sekum, Bendum.
- Membubarkan cabang jika dipandang perlu.
Otoritas penuh dari Pengurus Besar. Namun semua Surat Keputusan tetap dari Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PB. Selama masih ada anggota tercatat atau anggota belum semuanya dimutasi ke cabang lain
2. Pada status Pengawasan Petugas :
Tugas :
Seluruh Pengurus Badan Koordinasi. - Melaksanakan rekruitmen anggota.
Otoritas Waktu
: Penuh atas nama Cabang, sepengetahuan Ketum Cabang. : 2 periode kepengurusan cabang.
3. Pada status Pembinaan Petugas
Tugas Otoritas Waktu
: Tim Asistensi Khusus (Ketua Tim tidak boleh rangkap jabatan).
: Melakukan pendampingan dengan memberi bantuan teknis. : Otoritas penuh namun Cabang dapat memveto kebijakan tim. : 2 periode kepengurusan cabang.
4. Pada status Sehat Petugas :
Tugas : Otoritas : Waktu :
1 orang konsultan dapat ditambah tim asistensi saat tertentu. - Memberi konsultasi
- Memberi bantuan teknis jika diminta Terbatas pada permintaan cabang saja. 2 periode kepengurusan cabang.
5. Pada status Kuat Petugas
Tugas Otoritas Waktu
: 1 orang Pemantau
: Memberi motivasi kultural
: Terbatas pada permintaan Pengurus Besar saja. : 2 periode kepengurusan cabang.
6. Pada status Mapan Petugas
Tugas Otoritas Waktu
: Seluruh Pengurus Besar
: menjadikan cabang sebagai model bagi cabang lainnya : tidak ada.
: selama masih berstatus mapan.
Lembaga Koordinasi pada tingkat Cabang dinamakan Koordinator Komisariat. Koordinator Komisariat ini juga memiliki sifat yang Semi Otonom dari struktur Pengurus Cabang. Semi Otonom artinya:
a. Koordinator Komisariat melalui Musyawarah Koordinasi Komisariat (Muskom) diberi hak untuk menentukan calon ketuanya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Cabang.
b.
c.
d.
Ketua Koordinator Komisariat diberi hak untuk mengangkat staf kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut memiliki status yang sama sebagai Pengurus Cabang.
Koordinator Komisariat diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya diluar forum rapat penentuan agenda kerja Pengurus Cabang. Koordinator Komisariat diberi hak penuh dalam mengelola Komisariat-komisariat HMI yang ada dalam wilayah kerjanya.
e. Ketua Umum pengurus HMI berhak memveto seluruh bagian yang dilahirkan oleh Koordinator Komisariat. Ketua Umum Pengurus Cabang juga berhak memberhentikan dan menggantikan posisi Ketua Koordinator Komisariat atas persetujuan Rapat Pleno Pengurus Cabang.
Catatannya, pengganti yang ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain Ketua Korkom terpilih) yang diajukan oleh Muskom terakhir. f. Ketua Koordinator Komisariat tetap bertanggungjawab atas segala
aktifitasnya kepada Ketua Umum Pengurus Cabang.
Sama seperti halnya Badan Koordinasi, sifat kerja Koordinator Komisariat mengambil peran internal antar elemen dalam HMI dan membantu pelaksanaan amanah menjadi hal yang membedakan sifat kerjanya dengan lembaga lainnya. Koordinator Komisariat juga bertugas melakukan pembentukan dan penyehatan Komisariat. Akibatnya ia memiliki kewenangan atas prosesi pelantikan Pengurus Komisariat dan menjamin keberlangsungan kesehatan perkaderan di cabang-cabang wilayahnya. Namun SK Pembentukan Komisariat dan Surat Keputusan pelantikan Pengurus Komisariat tetap dikeluarkan oleh Ketua Umum dan Sekum Pengurus Cabang.
Awas Bina Sehat Kuat Mapan Perkaderan
Forum Perkenalan Latihan Kader I
Rutinitas Silaturahim sesama anggota Pengader + + + + + + + + + + Kepengurusan Regenerasi
Proses Pengambilan Kebijakan Kesekretariatan dan Kualitas Struktur Laporan + + + + + + + + + + Aktifitas Kajian Kepanitian Kegiatan Wilayah + + + + + + + + + Koordinator Komisariat wajid melaporkan segala aktifitas kepengurusan ke Musyawarah Komisariat dalam sebuah Laporan Pelaksanaan Tugas. Forum Musyawarah Komisariat tidak memiliki hak dalam penilaian namun memiliki hak bertanya atas laporan tersebut.
Sama halnya dengan tugas utama Badan Koordinasi, tugas utama Koordinator Komisariat juga adalah meningkatkan kualitas kesehatan Komisariat. Pengidentifikasian perlu dilakukan. Berikut gambaran pengidentifikasian yang menjadi acuan peningkatan kualitas nantinya:
Identifikasi Kesehatan Komisariat
Kegiatan Cabang + Jaringan Pengakuan Intra Kampus Organisasi masyarakat Organisasi keNegaraan + + + + + + + + + + + : Unsur yang harus ada dalam kualifikasi kesehatan komisariat.
Dari pengidentifikasian itu lahirlah perlakuan dalam bentuk: 1. Pada status Beku
Petugas Tugas Otoritas Waktu
: Seluruh Pengurus Koordinator Komisariat. : - Menunjuk Ketum, Sekum, Bendum.
- Membubarkan Komisariat jika dipandang perlu.
: Otoritas penuh dari Pengurus Cabang. Namun semua Surat Keputusan tetap dari Ketum dan Sekum Cabang.
: Selama masih ada anggota tercatat. 2. Pada status Pengawasan
Petugas Tugas Otoritas Waktu
: Seluruh Pengurus Koordinator Komisariat. : - Melaksanakan rekruitmen anggota.
- Membekukan Komisariat jika dipandang perlu.
: Penuh atas nama Komisariat, sepengetahuan Ketua Umum Komisariat.
: 2 periode kepengurusan Komisariat. 3. Pada status Pembinaan
Petugas Tugas Otoritas Waktu
: Tim Asistensi Khusus (Ketua Tim tidak boleh rangkap jabatan).
: Melakukan pendampingan dengan memberi bantuan teknis. : Otoritas penuh tapi Komisariat dapat memveto kebijakan
tim.
4. Pada status Sehat Petugas
Tugas Otoritas Waktu
: 1 orang konsultan dapat ditambah tim asistensi saat tertentu.
: - Memberi konsultasi
- Memberi bantuan teknis jika diminta : Terbatas pada permintaan Komisariat saja. : selama masih berstatus sehat.
5. Pada status Kuat Petugas
Tugas Otoritas Waktu
: 1 orang Pemantau
: Memberi motivasi kultural
: Terbatas pada permintaan Pengurus Cabang saja. : selama masih berstatus kuat.
6. Pada status Mapan Petugas
Tugas Otoritas Waktu
: Seluruh Pengurus Cabang
: menjadikan Komisariat sebagai model bagi Komisariat lainnya : tidak ada.
: selama masih berstatus mapan. G. Lembaga Khusus
Keberadaan Lembaga Khusus tidak lain untuk melaksanakan tugas-tugas kewajiban dalam bidang khusus yang tidak dapat tertampung pada struktur lainnya. Lembaga ini juga bersifat Semi Otonom dari Struktur Pimpinan, artinya: a. Lembaga Khusus melalui Musyawarah Lembaga diberi hak untuk menentukan calon pimpinannya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Besar untuk tingkat Pusat dan pengurus Cabang pada tingkat cabang.
b.
c.
Pimpinan Lembaga Khusus diberi hak untuk membentuk struktur dan mengangkat staf kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut memiliki status yang sama (Pengurus Besar untuk tingkat pusat dan Pengurus Cabang untuk tingkat Cabang).
Lembaga Khusus diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya diluar forum rapat penentuan agenda kerja Struktur Pimpinan.
e.
f.
disetujui oleh Ketua Umum Pengurus Besar.
Ketua Umum Pengurus Besar berhak memveto seluruh bagian yang dilahirkan oleh Lembaga Khusus. Ketua Umum Pengurus Besar juga berhak memberhentikan dan menggantikan posisi pimpinan Lembaga Khusus atas persetujuan Rapat Pleno Pengurus Besar. Catatannya, pengganti yang ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain Pimpinan Lembaga Khusus terpilih) yang diajukan oleh Musyawarah Lembaga Khusus terakhir dan untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
Ketua Lembaga Khusus tetap bertanggungjawab atas segala aktifitasnya kepada Ketua Umum Pengurus Besar.
Keberadaan Lembaga Khsusus tidak wajib pada tiap struktur Pimpinan. Keberadaannya tergantung atas kebutuhan yang ada. Bentuknyapun disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan wilayah masing-masing. Lembaga khusus dapat bekerjasama dengan pihak eksternal dengan diketahui Ketua Pengurus Besar atau Pengurus Cabang. Contoh dari Lembaga Khusus antara lain, Kohati, Korps Pengader Cabang, Pusat Arsip dan lainnya. Lembaga ini dapat memiliki pedoman operasionalnya sendiri.
g. Pimpinan Lembaga Khusus juga diwajibkan membuat sebuah Laporan Pelaksanaan Tugas pada Musyawarah Lembaga Khusus. Laporan Pelaksanaan Tugas pada dasarnya sama dengan pertanggungjawaban. Perbedaannya terletak pada forum dan bentuk pelaksanaannya. Laporan Pelaksanaan Tugas merupakan proses evaluasi yang dilaksanakan di musyawarah Lembaga khusus dimana prosesnya dilakukan tanpa ada tahapan penilaian. Oleh sebab itu forum ini hanya berupa forum pengumuman pelaksanaan tugas dengan tanya jawab tanpa proses penilaian.
H. Lembaga kekaryaan
Lembaga kekaryaan hadir untuk melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban dalam meningkatkan dan mengembangkan keahlian dan profesionalisme anggota dibidang tertentu. Lembaga Kekaryaan juga memiliki sifat Semi Otonom dari Struktur pimpinan. Semi Otonom artinya:
a. Lembaga kekaryaan melalui Musyawarah Lembaga diberi hak untuk menentukan calon pimpinannya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Besar.
b.
c. d. e.
f.
Pimpinan Lembaga Kekaryaan diberi hak untuk membentuk struktur dan