• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strukturalisme dan Poststrukturalisme

Dalam dokumen 2. LANDASAN TEORI Asal Mula Tipografi (Halaman 37-40)

2.4.4. Latar Belakang Munculnya Paham Dekonstruksi

2.4.4.2 Strukturalisme dan Poststrukturalisme

Paham dekonstruksi muncul setelah strukturalisme dan post-strukturalisme. Tokoh-tokoh strukturalisme beberapa diantaranya yaitu Claude

Lévi-Strauss (seorang antropolog Prancis), Ferdinand de Saussure. Pada

strukturalisme, teks muncul pada format (pattern) tertentu, sistem dan struktur-struktur. Menurut kaum strukturalis, teks adalah fungsi dari sistem, bukan individual. Maksudnya adalah arti sebuah tanda datang hanya dari relasinya ke tanda-tanda lain dari sistem. Contohnya seperti sebuah kata yang satu selalu berkaitan dengan kaya yang lain. Salah satu ide mereka yaitu “Language speaks

us, rather than we speak languange” atau bahasa membicarakan kita, lebih

daripada kita membiacarakan bahasa. Sehingga setiap teks dan setiap kalimat yang dibicarakan dibuat seolah-olah ‘sudah tertulis’. Dengan pemikiran yang seperti itu, kaum strukturalis susah untuk berkembang.

Kaum strukturalis mempresentasikan pengalaman utamanya yang sekarang dikenal sebagai ‘humanis liberal’ tradisi pada kritik sastra. Model strukturalisme berpendapat bahwa segala sesuatu sudah ada strukturnya, dan memproduksi kenyataan (reality), (Klages, 2003:online).

Dalam bicara strukturalisme, bahasa dapat ada karena adanya sistem perbedaan (system of difference) dan inti dari sistem perbedaan ini adalah oposisi biner (binary opposition) (Muzir, 2002: 9). Oposisi biner ini merupakan inti dari pemikiran Saussurean, yaitu oposisi antara penanda/petanda, tuturan/tulisan,

baik/buruk, benar/salah, jiwa/badan, dan sebagainya. Filsafat Barat menganggap bahwa istilah pertama lebih unggul atau superior, dari istilah yang kedua.

Bagi Saussure (Ritzer, 2003: 53), bahasa merupakan sistem yang tertutup (a close stystem) di saat semua bagian terinterelasi (Marks dan de Courtivron, 1981: 3). Maksudnya, dalam oposisi biner yang terpenting adalah hubungan perbedaan (difference). Jadi contoh kata hot (panas) bukan berasal dari sifat intrinsik dunia ‘nyata’ namun berasal dari hubungan kata itu dengan oposisi binernya, yaitu cold (dingin).

Piliang, 2004 mengartikan strukturalisme adalah sebagai gerakan intelektual yang berkaitan dengan penyingkapan struktur berbagai pemikiran dan tingkah laku manusia, yang prinsipnya adalah bahwa satu totalitas yang kompleks hanya dapat dipahami sebagai satu perangkat unsur-unsur yang saling berkaitan.

Strukturalisme dapat dipahami sebagai usaha untuk menemukan struktur umum yang terdapat dalam aktifitas manusia. Melihat dari sudut pandang ini, suatu struktur dapat didefinisikan sebagai:

sebuah unit yang tersusun dari beberapa elemen dan selalu ditemukan pada hubungan yang sama dalam suatu ‘aktivitas’ yang tergambar. Unit ini tidak apat dipecah dalam elemen-elemen tunggal, bagi kesatuan struktur tidak terlalu dipahami oleh sifat elemen yang substantif sebagaimana ia tidak terlalu dipahami oleh hubungannya.

(Spivak, 1974: iv)

Setelah strukturalisme, munculah kaum poststrukturalisme yang menentang strukturalisme. Tokoh-tokoh poststruktualisme diantaranya adalah

Michael Foucault dan Jean Baudrillard. Asumsi strukturalis bahwa bahasa

adalah suatu sistem tanda yang terdiri dari keseimbangan antara the signifier/ penanda (referent, yaitu suatu jejak perwakilan visual atau audio) dan the

signified/ petanda (konsep, yaitu arti yang disebabkan oleh tanda). Contohnya

yaitu perbedaan antara ‘style’ dan ‘attitude’. Jika ‘style’ meupakan pembuatan format yang diasosiasikan dengan sebuah sejarah khusus dan kondisi budaya, mungkin ‘attitude’ tidak diartikulasikan, hanya keluar dari latar belakang fokus untuk menspesifikasikan gaya (Ellen Lupton & J. Abott Miller, 1994). Poststrukturalisme menganggap tanda-tanda mempunyai arti ganda dan berubah-ubah, maka sifat penanda lebih menonjol daripada petanda.

Yasyaf Amir Piliang (2004), mengartikan poststrukturalisme

(post-structuralism) sebagai gerakan filsafat yang merupakan reaksi terhadap

strukturalisme, yang membongkar setiap klaim akan oposisi pasangan, hierarkhi dan validitas kebenaran universal; sebaliknya menjunjung tinggi permainan bebas tanda serta ketidakstabilan makna dan kategorisasi intelektual.

Strategi-strategi poststrukturalisme berlaku sebagai metodologi untuk debat pada praktek tipografi kontemporer karena pengertian bahasa dan artinya mencerminkan perubahan-perubahan sosial budaya yang lebih lebar yang dipengaruhi oleh teknologi digital elektronik. Menurut kaum poststrukturalis, suatu teks adalah segala sesuatu yang mengandung tanda-tanda dan menghasilkan arti, sehingga penting untuk mengklarifikasi apa yang dimaksud oleh anggapan dalam suatu teks.

2.4.4.3 Logosentrisme

Dalam metode Saussure dalam menyelidiki bahasa, ada oposisi biner (binary opposition) yang dalam budaya filsafat Barat, menganaktirikan istilah kedua dengan menganggap bahwa istilah pertama lebih unggul. Maka menurut

Derrida, istilah-istilah tersebut adalah milik ‘Logos’ yaitu ‘kebenaran dari

kebenaran’. Sedangkan istilah yang kedua merupakan representasi palsu dari yang pertama (Norris, 2003: 10). Tradisi yang demikian ini dinamakan logosentrissme dan dipergunakan untuk menerangkan asumsi adanya hak istimewa yang disandang istilah pertama dan ‘pelecehan’ terhadap istilah kedua.

Logosentrisme (Logocentrism) berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘Logos’ yang berarti ‘word’ (kata), ‘reason’ (alasan) atau ‘plan’ (rencana). Dalam bahasa Inggris penggunaan kata ‘word’ dalam huruf kecil diartikan sebagai ‘kata’, tetapi ‘Word’ dengan huruf besar di awal dapat diartikan sebagai ‘Firman’. Filsafat Barat mempelajari ‘Logos’ dari Alkitab St.John (Glusberg, 1991: 48) yaitu: “pada mulanya adalah ‘Word’, dan ‘Word’ itu ada bersama dengan Tuhan, dan ‘Word’ itu adalah Tuhan. Jadi, “Logos” sebagai ‘Word’ berarti Tuhan (kebenaran). Jadi logosentrisme merupakan ‘kebenaran dari kebenaran’ atau ‘kebenaran mutlak’.

Menurut Ellis, 1989; logosentrisme mengandung:

1) Suatu kepercayaan bahwa sesuatu ada dalam ‘realitas’.

2) ‘Realitas’ merujuk pada petanda dengan pesan transedental dari makna ‘the Logos’ yang berdiri sendiri dari apapun bahasa manusia.

3) ‘The Logos’ adalah pondasi semua hal-hal positif yang mungkin dan sebuah makna.

4) Dalam logosentrisme, macam-macam petanda mengelompokkan mereka sendiri secara alami ke dalam kategori-kategori yang jelas, tidak ambigu dan tidak berubah.

5) Kata-kata bahasa spesifik adalah penanda yang simple untuk petanda-petanda ini, termasuk di dalamnya ‘the Logos’

6) Penanda-penanda bahasa memudahkan kita untuk mengekstrak petanda keluar dari ‘the Logos’ dan membawa mereka keluar dari pikiran kita.

7) Berbicara memberikan kita jalan langsung kepada pikiran pembicara, yang memberikan kita akses langsung juga kepada petanda sebagai eksistensi mereka didalam, ‘the Logos’.

Ellis (1989) berpendapat bahwa logosentrisme adalah ilusi dimana sebuah

makna kata mempunyai struktur realitas yang asli dan membuat kebenaran tentang struktur yang langsung ditujukan kepada pikiran.

Kembali kepada pemikiran Derrida (Glusberg, 1991: 30), ia mengatakan bahwa logosentrisme hanyalah merupakan suatu kepercayaan bahwa akan semua eksistensi, ada ‘kebenaran’ abstrak yang tertata dalam kategori-kategori absolut dan tak terhindari. Hal ini eksis hanya dalam ‘Pikiran dan Firman’ Tuhan, tetapi semua hal-hal yang ‘nyata’ dibentuk dari mereka. Hal ini dapat ditembus hanya dalam penggunaan bahasa.

Dalam dokumen 2. LANDASAN TEORI Asal Mula Tipografi (Halaman 37-40)

Dokumen terkait