• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus : Panjang Jalan Nasional 1 Pendahuluan

Dalam dokumen SERIAL REKAYASA KESELAMATAN JALAN (Halaman 131-136)

2. Masalah Umum Keselamatan Jalan

Sebuah Jalan Nasional sepanjang 49 km akan direhabilitasi. Manajer Proyek telah minta untuk dilakukan audit terhadap kondisi yang ada sehingga perbaikan berkeselamatan dapat dirancang kedalam paket perbaikan jalan.

Jalan Nasional merupakan jalan 2 lajur 2 arah. Jalan itu melalui area perdesaan dan beberapa kota kecil dan desa. Jalan raya itu datar, tidak ada tikungan vertikal dan hanya sejumlah kecil tikungan dengan radius horizontal yang lebar.

Ada persentase besar truk dan sejumlah sepeda motor dalam arus lalu lintas. Mobil dan bus bercampur dengan kelompok pemakai jalan ini. Di dalam campuran itu juga terdapat pejalan kaki (berjalan sepanjang dan menyeberangi jalan itu), sepeda, becak (kendaraan penumpang bertenaga sepeda), ojek (sepeda motor yang digunakan untuk penumpang), delman (kuda), dan beberapa gerobak.

Kecepatan tampak lebih didikte oleh jumlah lalu lintas dibanding keinginan apa pun untuk memenuhi pembatasan kecepatan. Pada malam hari, persentase truk yang tinggi tampak semakin bertambah; pada tengah malam diperkirakan 75% dari kendaraan adalah truk. Kecepatan dari truk ini tinggi (beberapa mencapai 80 km/jam) karena pengemudi tampak ditentukan untuk berjalan di jalan raya dengan kecepatan setinggi mungkin. Saling melewati menjadi hal biasa, terkadang di dalam situasi yang tidak berkeselamatan, dan terkadang sepanjang tiga buah kendaraan.

Tercatat sejumlah besar truk yang diparkir di beberapa lokasi jalan, di siang dan malam hari. Truk yang diparkir di sisi jalan pada malam hari sering kali tidak kelihatan dan membawa risiko tabrakan depan belakang.

-

Pembatasan kecepatan yang ada sudah jelas.

-

Ada beberapa wilayah perkotaan yang membutuhkan lalu lintas yang tenang melalui reduksi kecepatan kendaraan dan untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki dan pemakai jalan yang rentan.

-

Jembatan yang sempit berada di lokasi berisiko tinggi.

-

Patok pengarah dari beton merupakan hazard sisi jalan yang secara serius membuat cedera pengendara motor jika ditrabrak. Ada banyak opsi lain yang lebih berkeselamatan dan murah yang tersedia dan harus digunakan di jalan raya Indonesia.

-

Ada banyak hazard sisi jalan di zona bebas jalan yang ada – gambar ini tidak berbicara apa mengenai perbaikannya.

-

Delineasi sepanjang jalan (khususnya malam hari) sangat kurang. Banyak potongan marka garis yang hilang. Harus diambil tindakan segera untuk memasang garis pusat, garis lajur (bila diperlukan), dan garis tepi.

Masalah keselamatan terkait dengan jalan nasional

Ada sejumlah jembatan sempit sepanjang jalan raya ini. Orang yang berjalan sepanjang bahu jalan yang ditutup “tidak memiliki tepat berlindung” apabila saat itu kendaraan melewati kendaraan lain. Delapan jembatan baru-baru ini diduplikasi dan sekarang menunjukkan sebuah panjang kecil dari jalan raya yang dibelah, dengan lintas potongan yang lebar. Akan tetapi, sebagian besar jembatan belum diperlebar, sehingga jembatan yang lebar ini merupakan pengecualian alih-alih aturan. Jembatan yang sempit akan menimbulkan lokasi berisiko tinggi bagi berbagai kemungkinan jenis tabrakan.

1.1

SANGAT TINGGI

Jalan raya yang ada merupakan jalan 2 lajur 2 arah meliputi sebagian besar proyek sepanjang 49 km ini. Usulan menunjukkan bahwa bahu jalan ditutup bersama dengan sedikit perbaikan. Jalan raya ini melalui wilayah perkotaan (dalam foto ini) dan pedesaan.

Jalan raya ini melewati sejumlah kota/desa – seperti Rembang, Lasam, Sluke, Sarang, dan Bulu. Manajemen kecepatan saat ini belum ada. Dibutuhkan lalu lintas yang tenang bagi wilayah perkotaan apabila ingin memperbaiki keselamatan bagi populasi lokal.

1.2

TINGGI

No. MASALAH KESELAMATAN RISIKO REKOMENDASI TANGGAPANKLIEN

-

Mempertimbangkan kembali untuk tidak memperlebar struktur ini. Meperlebar jembatan untuk memberikan lintas lintas potongan yang memiliki jalan lebar yang penuh ditambah bahu jalan melintas di setiap sruktur jembatan.

-

Jika hal ini tidak memungkinkan, yakinkan bahwa garis tepi yang kuat untuk menegaskan kesempitannya. Hal ini harus di(tapered) sepanjang jarak yang panjang (diusulkan 100 m) di setiap pendekat dan penjauh.

-

Menjamin juga bahwa papan marka hazard yang memantul dipasang di setiap tonggak ujung jembatan.

Jalur jalan yang ada memiliki marka garis hanya di sebagian panjang jalan (tidak ada sama sekali di sisanya). Bila jalan ini untuk menampung volume lalu lintas yang besar (siang dan malam hari) jalan itu harus memiliki delineasi yang bagus demi keselamatan. Marka garis harus berlanjut sepanjang kedua jalur jalan.

- Menjamin bahwa marka jalan diterapkan secara konsisten dan benar sepanjang kedua jalur jalan.

Ada banyak pejalan kaki menggunakan jalan raya, khususnya dalam potongan perkotaan. Rencana itu tidak memberikan informasi apa-apa yang akan membantu pejalan kaki untuk menyeberangi jalan raya.

· Menjamin bahwa lalu lintas yang tenang mencakup perlindungan pejalan kaki (kemungkinan sepanjang 10-15 m dengan marka yang tegas dilukiskan bergabung dengan perlindungan fisik ini) di dalam wilayah perkotaan.

1.4

SEDANG

Jalan raya yang ada merupakan jalan 2 lajur 2 arah meliputi sebagian besar proyek sepanjang 49 km ini. Usulan menunjukkan bahwa bahu jalan ditutup bersama dengan sedikit perbaikan. Jalan raya ini melalui wilayah perkotaan (dalam foto ini) dan perdesaan.

Jalan raya ini melewati sejumlah kota/desa – seperti Rembang, Lasam, Sluke, Sarang, dan Bulu. Manajemen kecepatan saat ini belum ada. Dibutuhkan lalu lintas yang tenang bagi wilayah perkotaan apabila ingin memperbaiki keselamatan bagi populasi lokal.

Titik akhir jembatan baru tidak ditutup dengan guardrail. Ada celah antara kedua struktur jembatan, dan jembatan baru mempunyai jalur jalan kaki ditinggikan yang tidak perlu sepanjang sisi median. Jalur jalan kaki yang ditinggikan ini jika ditabrak akan menjatuhkan pengendara motor. Salah satu patok akhir jembatan sudah diseruduk dan rusak parah, indikator yang buruk bagi lokasi ini.

- Menjamin bahwa marka garis yang kuat dipasang di setiap pendekat. Hal ini akan memberikan area merekah yang luas di kedua pendekat.

- Menempatkan marka hazard yang memantul di kedua patok jembatan di setiap pendekat. Tekankan kehadiran patok akhir jembatan untuk arah perjalanan, bukan di arah sebaliknya

1.5

TINGGI

Ada sangat sedikit rambu pembatasan kecepatan sepanjang jalan raya ini. Tak satu pun diusulkan dalam gambar. Hal ini membawa pada situasi tidak berkeselamatan di mana pengemudi/pengendara tidak tahu kecepatan maksimal yang legal. Juga, Polisi tidak perlu menjalankan aturan.

· Memasang rambu pembatasan kecepatan (sepasang) sepanjang jalan raya di lokasi setiap 2 km.

- Apabila zona kecepatan berubah, yakinkan bahwa ada 2 set rambu dipasang di dalam 500 m pertama dari zona kecepatan yang baru.

1.3

TINGGI

Dinding parapet sisi kiri yang muncul sebagai dampak serius. Ini merupakan indikasi risiko yang ada di sejumlah jembatan sepanjang jalan raya. Jembatan ini telah diduplikasi dan memiliki satu perempatan yang lebih lebar.

Menggunakan jembatan duplikat berarti bahwa ada dua dinding ujung yang menjadi hazard sisi jalan. Ini juga berarti bahwa kendaraan kecil seperti sepeda motor dapat jatuh kedalam air di bawahnya.

Jembatan di atas sungai terbesar hanya memiliki 2 lajur, namun di setiap pendekatn ada 4 lajur. Taper dari 4 lajur ke 2 lajur muncul setelah jarak hanya 50 m – pangaturan ini meningkatkan risiko tabrakan samping dan/atau tabrakan depan depan di jembatan.

- Memperlebar jembatan untuk membuat empat lajur ditambah bahu jalan yang diaspal sepanjang jembatan.

- Rambu peringatan harus diduplikasi (di kedua sisi jalan). Rambu itu harus memperingatkan lajur yang turun 100 m sebelum awal dari lajur yang turun, dan jembatan yang sempit sekitar 50 m sebelum jembatan.

- Memasang garis tepi termoplastik sepanjang kedua sisi jalan raya untuk menegaskan tepi lajur di pendekat, (taper), dan melewati jembatan.

- Memasang papan marka hazard reflektif di kedua ujung kedua patok ujung jembatan.

1.6

SANGAT TINGGI

Dalam dokumen SERIAL REKAYASA KESELAMATAN JALAN (Halaman 131-136)