II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Studi Terdahulu tentang Analisis Usahatani Padi
Penelitian mengenai Analisis Sistem Usahatani Padi Organik (Suatu studi perbandingan, Kasus: Desa Segaran, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah) yang dilakukan oleh Rohmani (2000) bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari praktek-praktek usahatani padi organik dan mengetahui besarnya pendapatan yang diperoleh petani organik dan anorganik. Penetapan sampel secara acak terkelompok (cluster random sampling) yang terdiri atas 10 petani padi organik dan 20 petani padi anorganik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan mendasar antara praktek- praktek usahatani padi organik dan anorganik adalah tidak digunakannya masukan dari luar yang bersifat kimia, baik itu pestisida maupun pupuk kimia. Sebagai gantinya, pestisida dan pupuk kimia digantikan dengan pupuk organik, yaitu pupuk kandang dan pestisida botani yang dibuat dari bahan-bahan alami.
Pendapatan yang diperoleh petani organik lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh petani anorganik/konvensional setempat pada masa tanam tersebut untuk karakteristik petani yang sama. Usahatani padi organik di Desa Segaran dihadapkan pada beberapa kendala, seperti terbatasnya persediaan pupuk kandang, kesulitan permodalan dan berbagai masalah teknis lainnya.
Nainggolan (2001) melakukan penelitian mengenai Analisis Usahatani Padi Organik dan Anorganik di Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari sistem usahatani padi organik (tanpa pestisida kimia) serta mengetahui tingkat pendapatan petani padi organik dan anorganik/konvensional. Jumlah responden yang digunakan adalah 30 orang, terdiri dari 15 orang petani padi organik dan 15
orang petani padi anorganik. Alat analisis yang digunakan adalah pendapatan usahatani serta penerimaan dan biaya.
Berdasarkan analisis pendapatan usahatani, dapat dilihat bahwa pendapatan kotor dan bersih petani organik lebih besar jika dibandingkan dengan petani anorganik. Nilai rasio R/C usahatani padi organik atas biaya tunai dan biaya total juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan usahatani padi anorganik.
Meskipun usahatani padi organik lebih menguntungkan daripada usahatani padi anorganik, namun para petani khususnya di Kecamatan Tempuran tidak banyak yang mau menerapkannya. Hal ini disebabkan kebiasaan mereka yang turun temurun selalu menggunakan pestisida kimia dan penggunaan tenaga kerja yang diperlukan untuk pertanian organik lebih besar. Selain itu, tidak ada perbedaan harga antara padi yang menggunakan pestisida kimia maupun yang tidak menggunakan dan biasanya tengkulak lebih memilih padi yang menggunakan pestisida kimia karena secara fisik lebih bagus.
Penelitian mengenai Analisis Pendapatan Usahatani Padi Petani SLPHT dan Non SLPHT di Desa Cisalak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dilakukan oleh Sumiati (2003). Salah satu tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mempelajari sistem usahatani padi petani SLPHT dan non SLPHT serta menganalisis tingkat pendapatan kedua usahatani tersebut. Pemilihan sampel dilakukan secara acak berdasarkan strata (stratified random sampling) status kepemilikan lahan. Petani SLPHT yang diambil sebagai sampel sebanyak 15 orang dari 25 orang petani yang mengikuti program SLPHT. Sampel petani non SLPHT diambil sebanyak 30 orang. Analisis yang digunakan adalah deskriptif tabulasi, pendapatan usahatani serta imbangan penerimaan dan biaya.
Berdasarkan hasil penelitian, pendapatan kotor petani SLPHT Rp 4 535 103.66/ha sedangkan pendapatan kotor petani non SLPHT hanya Rp 4 284 052.85/ha. Pendapatan bersih petani SLPHT mencapai Rp 1 361 753.87/ha dan pendapatan bersih petani non SLPHT mencapai Rp 882 723.92/ha.
Nilai rasio R/C terhadap biaya tunai petani SLPHT 2.87 dan rasio R/C terhadap biaya tunai petani non SLPHT 2.54. Hal tersebut menunjukkan bahwa usahatani petani SLPHT lebih menguntungkan daripada usahatani petani non SLPHT.
Meskipun usahatani padi SLPHT lebih menguntungkan, namun belum banyak petani yang mengikuti kegiatan SLPHT. Petani juga tidak begitu berminat untuk tidak menggunakan pestisida kimia karena harga jual produksi yang diterima relatif sama. Secara fisik bulir padi yang menggunakan pestisida kimia lebih bagus bila dibandingkan dengan bulir padi yang tidak menggunakan pestisida kimia. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada usahatani padi anorganik lebih besar daripada padi organik.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa dalam pertanian organik atau dengan menggunakan konsep PHT, petani tidak menggunakan masukan dari luar yang bersifat kimia, baik itu pestisida maupun pupuk kimia. Sebagai gantinya, pestisida dan pupuk kimia digantikan dengan pupuk organik, yaitu pupuk kandang dan pestisida botani yang dibuat dari bahan-bahan alami.
Usahatani padi orga nik lebih menguntungkan daripada usahatani padi anorganik/konvensional. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis pendapatan dan nilai rasio R/C untuk pertanian organik lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertanian anorganik/konvensional. Namun, masih banyak petani yang enggan
menerapkannya. Hal ini dikarenakan kebiasaan mereka yang turun temurun selalu menggunakan pestisida kimia, tidak adanya perbedaan harga antara padi yang menggunakan pestisida kimia dan non pestisida kimia. Tengkulak lebih memilih padi yang menggunakan pestisida kimia karena secara fisik lebih bagus.
Terdapat perbedaan hasil penelitian antara Nainggolan (2001) dan Sumiati (2003) mengenai jumlah tenaga kerja usahatani padi organik. Nainggolan (2001) menyebutkan bahwa jumlah tenaga kerja usahatani padi organik lebih besar daripada usahatani padi anorganik. Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Sumiati (2003).
Rosantiningrum (2004) melakukan penelitian mengenai Analisis Produksi dan Pemasaran Usahatani Bawang Merah (Studi kasus: Desa Banjaranyar, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Propinsi Jawa Tengah). Salah satu tujuan penelitian ini adalah menganalisis sistem produksi dan mengetahui efisiensi produksi usahatani bawang merah di Desa Banjaranyar. Penarikan sampel dalam analisis produksi menggunakan stratified random sampling.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa model fungsi produksi yang digunakan adalah model Cobb-Douglas terestriksi. Pengujian tersebut menghasilkan bahwa usahatani bawang merah di Desa Banjaranyar berada pada kondisi constant return to scale, artinya bila semua input dinaikkan sebesar 10 persen, maka tingkat produksi naik sebesar proporsi yang sama, yaitu 10 persen.
Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi adalah luas lahan (X1) nyata pada taraf a 15 persen, jumlah tenaga kerja (X3) nyata pada
taraf a 10 persen, pupuk P (X5) nyata pada taraf a 15 persen, pupuk K (X6) nyata
Peubah yang tidak berpengaruh nyata adalah jumlah bibit (X2), pupuk N (X4),
nilai pestisida (X7) dan dummy pendidikan (D4). Nilai elastisitas terbesar terdapat
pada faktor produksi luas lahan sebesar 0.2766, artinya bahwa peningkatan satu persen luas lahan akan meningkatkan produksi sebesar 0.2766 persen (ceteris paribus) sedangkan nilai elastisitas terkecil adalah faktor produksi pestisida sebesar 0.01251.
Analisis yang digunakan oleh Rohmani (2000), Nainggolan (2001) dan Sumiati (2003) adalah pendapatan usahatani serta nilai imbangan penerimaan dan biaya (rasio R/C). Dalam penelitian ini, penulis juga menggunakan analisis lain sebagai tambahan, yaitu analisis nilai imbangan penerimaan untuk tiap pekerja. Penulis, seperti halnya Rosantiningrum (2004), juga menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi.