BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Remaja
Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa.41Masa remaja disebut pula sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi-fungsi seksual.42
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescare yang artinya ―tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan‖. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode
40Eliza dkk, Pendidikan kesehatan Gigi, h. 35
41Santrock dkk, Perkembangan Remaja, (Surakarta: Jakarta: Erlangga
42Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan),(Bandung: Mandar Maju)
lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi43
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun44. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda. Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat defenisi tentang remaja yaitu:
1) Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefenisikan remaja adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun dan umur 12-20 tahun anak laki- laki.
2) Menurut undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah.
3) Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal.
43Ali dkk, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012). h. 20
44Notoatmodjo S, Promosi Kesehatah Dan ilmu Perilaku, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007)
4) Menurut undang-undang perkawinan No.1 tahun 1979, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak-anak laki-laki.
5) Menurut dinas kesehatan anak dianggap sudah remaja apabila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah.
6) Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18 tahun45. Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap perkembangan remaja:
a) Remaja awal (early adolescent)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan para remaja awal ini sulit dimengerti dan dimengerti orang dewasa.
b) . Remaja madya (middle adolescent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang
45Soetjiningsih, Buku Ajar: Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahnnya. (Jakarta:
Sagung Seto, 2004)
sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimistis atau pesimistis, idealis atau materialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari oedipus complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak-anak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan.
c) Remaja akhir (late adolescent)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu46:
1. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
2. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman- pengalaman baru
3. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
4. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
5. Tumbuh ‖dinding‖ yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum47
Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap yaitu:
46Sarwono, Ilmu kebidanan, (Jakarta: PT. Bina Pustaka), 2010
47Sarwono, Ilmu Kebidanan, ( Jakarta: PT. Bina Pustaka), 2010
d. Masa remaja awal (10-12 tahun)
(1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya (2) Tampak dan merasa ingin bebas
(3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir khayal (abstrak)
e. Masa remaja akhir (16-19 tahun)
(1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri (2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif
(3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya (4) Dapat mewujudkan perasaan cinta
(5) Memilki kemampuan berpikir khayal atau abstrak48
48Widyastuti, Y. dkk, Kesehatan Reproduksi, ( Yogyakarta: Fitrimaya, 2009
29 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan dan lebih mudah bila berhadapan dengan kenyataan ganda metode yang menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara penelitian dan respon lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak 10 penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola ini yang dihadapi49.
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, di gunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah. Filsafat postpositivisme juga di sebut paradigma interperatif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai suatu yang holistic/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif.50
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana suatu penelittian di laksanakan di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali tepatnya di provinsi Sulawesi Tengah, maka peneliti mengambil objek penelitian remaja.
49Moleong, Lexy J, Metedologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosadakarya), 2001
50Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2002), hal. 14-15
C. Fokus Penelitian
Peran da‘i dalam perbaikan perilaku remaja di Desa kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah meliputi:
1. Perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah
2. Program dakwah da‘i di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah
3. Faktor pendukung dan penghambat dalam perbaikan perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah
D. Deskripsi Fokus
Peran adalah suatu rangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisi sosial, baik secara formal maupun informal.
Ketika seseorang dapat melaksanakan kewajiban dan mendapatkan haknya maka orang tersebut telah menjalankan sebuah peran. Da‘i adalah sebutan dalam islam bagi orang yag bertugas mengajak, mendorong orang lain untuk mengikuti dan mengamalkan ajaran islam.
Seorang da‘i terlibat dalam dakwah atau aktivitas menyiarkan, menyeru dan mengajak orang lain dalam ketaatan pada Allah. Pengertian dari perbaikan itu sendiri adalah usaha untuk mengembalikan kondisi dan fungsi dari suatu benda atau alat yang rusak akibat pemakaian alat tersebut pada kondisi semula. Proses perbaikan tidak menuntut
penyamaan sesuai kondis awal, yang diutamakan adalah alat tersebut bisa berfungsi normal kembali. Perilaku merupakan tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas mengenai kehidupan sehari-harinya. sedangkan menurut Skinner perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau ransangan dari luar. Adapun remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, sedangkan menurut Zakaria Darajat remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Program merupakan acara atau rencana yang dibuat oleh seseorang untuk dikerjakan sedangkan faktor merupakan keadaan atau peristiwa yang dapat mempengaruhi terjadinya sesuatu.
E. Sumber Data
Sumber data adalah subyek darimana data bisa diperoleh 51 Ada dua macam sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada obyek sebagai sumber informasi yang dicari 52.
51Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelititan Suatu Pendekatan, (Jakarta: Rineka Cipta), 1998
52Azwar. Metode Penelitian jilid 1 (Yogyakarta: Pustaka Belajar;1997),h. 91
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh dari peneliti dari subyek penelitian 53. Data ini diperoleh dari dokumen-dokumen atau laporan yang telah tersedia
F. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini di butuhkan manusia sebagai peneliti karena manusia dapat menyusuaikan sesuai dengan keadaan lingkungan.
Adapun instrumen yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Panduan observasi
Pedoman observasi berupa kolom check-list yag telah dipersiapkan sebelum turun ke lokasi penelitian.
2. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara yang berisi sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan program dan pelaksanaan da‘i terhadap anak remaja yang berada di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali.
3. Acuan Dokumentasi
Acuan Dokumentasi berupa catatan tambahan khususnya dokumentasi yang berkaitan dengan pelaksanaan dakwah oleh da‘i yang ada di Desa Kolono.
53Azwar, Metode Penelitian, h. 92
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Pada penelitian kali ini peneliti memilih jenis penelitian kualitatif maka data yang diperoleh haruslah mendalam, jelas dan spesifik. Pengumpulan data dapat diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan gabungan/triangulasi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, dokumentasi, dan wawancara54.
1. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung diKabupaten Morowali sebagai lokasi penelitian.
adapun yang di amati adalah peran Da‘i terhadap permasalahan yang di hadapi oleh para remaja yang ada di Morowali.
Sehingga peneliti dapat menentukan informan yang akan diteliti dan juga untuk mengetahui jabatan, tugas/kegiatan, alamat, nomor telepon dari calon informan sehingga mudah untuk mendapatkan informasi untuk kepentingan penelitian.
2. Wawancara
Dalam teknik pengumpulan menggunakan wawancara hampir sama dengan kuesioner. Dengan metode wawancara dan mengumpulkan
54Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan R&D,(Bandung: Alfabeta), 2009
data dan pertanyaan langsung kepada masyarakat Morowali mengenai peran Da‘i di Morowali dalam berdakwah terhadap remaja.
Untuk menghindari kehilangan informasi, maka peneliti meminta ijin kepada informan untuk menggunakan alat perekam. Sebelum dilangsungkan wawancara mendalam, peneliti menjelaskan atau memberikan sekilas gambaran dan latar belakang secara ringkas dan jelas mengenai topik penelitian.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen yang digunakan peneliti disini berupa foto atau gambar55. Bahan-bahan yang dijadikan dokumentasi pada penelitian ini berupa foto-foto pada saat berlangsungnya aktivitas penulis, remaja, orangtua remaja, Da‘i, ceramah Da‘i yang sedang berlangsung di Desa Kolono Kabupaten Morowali.
H. Teknik Analisis Data
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif yaitu penulis menganalisis data bentuk yang selanjutnya akan diinterprestasikan dalam bentuk konsep yang dapat mendukung pembahasan. Dalam menganalisis data tersebut, penulis menggunakan metode sebagai berikut:
55Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009),h. 240
1. Metode deduktif
Metode ini penulis menganalisis data dari yang umum ke yang khusus.
2. Metode Induktif
Yakni mengenalisis data dari yang bersifat khusus kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
3. Metode komparatif
Yakni setiap data yang diperoleh baik umum maupun yang bersifat khusus, selanjutnya dibandingkan kemudian ditarik satu kesimpulan
56
Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan metode komparatif dalam menganalisis data yang diperoleh dengan membandingkan data khusus maupun umum kemudian ditarik kesimpulan.
56Sutrisno Hadi, Metodologi Research, hal. 42
36 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Kabupaten Morowali 1. Letak geografis Kabupaten Morowali
Morowali adalah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Morowali merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Poso. Ibu kota Kabupaten Morowali yang terletak di Bungku Tengah, dan salah satu daerah yang dilahirkan pasca reformasi. Nama Morowali sendiri diambil dari nama sebuah cagar budaya tempat berdiamnya suku To Wana yang merupakan suku pedalaman asli di Kabupaten Morowali.
Morowali yang berarti ― gemuruh air ―.57
Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah yang dilahirkan pasca reformasi. Mekar sebagai daerah otonom yang terbentuk secara bersamaan dengan dua kabupaten lainnya, berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 51 tahun 1999 tentang pembentukan kabupaten Buol, Banggai Kepulauan, dan Morowali. Dinamika perjuangan untuk melahirkan kabupaten Morowali sudah lama tumbuh dan menggelora di hati masyarakat. Aspirasi tersebut terus berkembang yang kemudian sampai pada tingkat lahirnya kemampuan politik dari wakil-wakil rakyat di lembaga DPRD dengan di cetuskannya Resolusi DPRD-GR Provinsi Sulawesi Tengah nomor : 1/DPRD/1966 yang isinya meminta kepada
57Observasi 27 Desember 2018
pemerintah pusat agar provinsi Sulawesi Tengah dimekarkan menjadi 11 daerah otonom tingkat II, yaitu 2 kotamadya dan 9 kabupaten, salah satu diantaranya adalah kabupaten Morowali (pada saat itu masih disebut Mori Bungku). Sebelumnya, Morowali merupakan bagian dari wilayah kabupaten Poso yang membentang dari arah tenggara ke barat dan melebar ke bagian timur. Pada tanggal 3 november 1999 daerah ini resmi berpisah dari kabupaten Poso dan membentuk wilayah administrasi sendiri dengan nama kabupaten Morowali, dengan ibu kota di Bungku.
Terbentuknya Kabupaten Morowali saat ini merupakan hasil dari dinamika politik dan perkembangan sejarah yang dilatarbelakangi oleh beberapa hal yaitu :
a. Perang antara suku dan kerajaan di mana kedudukan antara To Mori dan To Bungku yang sering mendapat serangan dari suku-suku terdekat dan kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Luwu menguatkan dorongan solidaritas di antara keduanya. Kerajaan Mori sering mengirim bantuan pada kerajaan Bungku, sebaliknya kerajaan Mori dan Bungku seringkali terlibat dalam praktek perdagangan tingkat longkal misalnya, To Bungku yang datang melakukan pertukaran barang dagangan berupa hasil ladang, ternak, dan pangan di pasar masyarakat Mori.
b. Penyatuan dalam satu pemerintahan terjadi melalui serangan tentara Belanda ke pemukiman masyarakat pedalaman yang tinggal di daerah-daerah pesisir, seperti yang terjadi terhadap masyarakat Taa Wana
Posangke yang di pindahkan dari pedalaman ke daerah pesisir meliputi
Taronggo dan Lemo yang sekarang disebut kecamatan Bungku Utara.
Serangan Belanda ini telah berperan besar dalam membagi daratan Morowali dalam penyebaran tiga suku besar yaitu To Bungku, yang banyak mendiami wilayah Bungku Tengah, Bumi Raya, hingga Bungku Selatan. Dalam sebuah dokumen, menjelaskan bahwa leluhur masyarakat asli Bungku hidup pada abad 16, yakni tahun 1597 Masehi ketika raja Bungku pertama dijabat Sangia Kinambuka. Zaman itu seangkatan dengan sultan Babullah di Ternate, Maluku Utara (1570-1585). Sementara To Mori terdapat di bagian Petasia hingga Mori Atas.
Pada bagian utara wilayah pegunungan Mamosalato hingga Baturube dihuni oleh suku asli Tau Taa Wana. Selain tiga suku besar ini, terdapat juga suku pendatang yang sudah turun temurun mendiami wilayah Morowali, yaitu Buton, Ternate, Bugis, Toraja, yang disusul kemudian masyarakat transmigrasi Jawa, Lombok, dan Bali. Di seputar teluk Tolo banyak dihuni oleh suku Bajo, yang kehidupannya akrab dengan laut.
c. Konflik perebutan ibu kota dimana penempatan sementara waktu ibu kota Morowali di Kolonodale telah mendorong demonstrasi besar-besaran masyarakat Bungku pada bulan september tahun 2001 yang mendesak Pemerintah Kabupaten untuk merealisasikan salah satu amanat Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 yakni penempatan ibu kota di Bungku. Sebaliknya, kelompok yang ingin mempertahankan ibu Kota di Kolonedale tampil berjuang agar ibu kota tetap di sana. Polemik
perebutan ibu kota ini mendorong lahirnya wacana pemekaran kabupaten baru.
Saat proses pemindahan, inisiatif pemekaran akhirnya dilakukan dengan menggunakan sentimen pembagian wilayah berdasarkan sejarah teritori kesukuan antara Mori dan Bungku. Akhirnya pada tahun 2013, DPR RI mengesahkan usulan pemekaran itu melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013 tentang pembentukan Kabupaten Morowali Utara.
Kemudian, Kabupaten Morowali resmi di mekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Morowali dan Kabupaten Morowali Utara.
Kabupaten Morowali memiliki luas 5472 kilometer pesegi, dengan jumlah penduduk 113.132 jiwa. Morowali adalah kabupaten terluas ke -10, terpadat ke-9, dan memiliki populasi terbanyak ke-12 di Sulawesi Tengah.
Dan dalam kehidupan sehari-harinya masyarakat Kabupaten Morowali mempunyai pekerjaan beraneka ragam. Namun pekerjaan yang dominan yaitu petani dan nelayan.
Kabupaten Morowali memiliki wilayah berupa daratan, pegunungan, lembah, dan juga berupa pulau-pulau kecil yang memiliki batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan wilayah Morowali Utara 2. Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Sulawesi Selatan 3. Sebelah Barat Daya berbatasan dengan Wilayah Sulawesi
Selatan
4. Sebelah Timur Laut berbatasan dengan wilayah Sulawesi Tenggara
Secara administratif Kabupaten Morowali terbagi menjadi 9 Kecamatan, 126 Kelurahan, dan 7 desa . Kecamatan-kecamatan tersebut terdiri dari :
1. Kecamatan Menui Kepulauan 2. Kecamatan Bungku Selatan 3. Kecamatan Bungku Pesisir 4. Kecamatan Bahodopi 5. Kecamatan Bungku Timur 6. Kecamatan Bungku Tengah 7. Kecamatan Bungku Barat 8. Kecamatan Witaponda 9. Kecamatan Bumi Raya
Keadaan keagamaan Morowali bisa dilihat dari mayoritas penduduk di Morowali 90% pemeluk agama Islam, yang dimana 10% pemeluk agama Nasrani itu bukan penduduk asli Morowali.
2. Potensi Unggulan Morowali
Secara topografi, wilayah kabupaten Morowali yang terdiri atas pegunungan, daratan, dan perairan menjadikan wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dikelola. Sumber daya alam yang dimiliki oleh kabupaten Morowali terdiri dari beberapa sektor di antaranya adalah :
a. Pertanian dan Perkebunan
Sektor pertanian dan perkebunan merupakan sektor andalan di Kabupaten Morowali karena sebagian penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sektor pertanian didominasi tanaman pangan dan holtikultura seperti padi, palawija serta buah-buahan.
Pertanian menjadi salah satu lokomotif andalan di kabupaten Morowali, pemerintah daerah memberi perhatian yang besar terhadap peningkatan produksi padi sawah. Berbagai regulasi lunak diciptakan untuk mendorong upaya ini, pelatihan dan pengembangan kemampuan petani serta penerapan teknologi tepat guna juga dilaksanakan. Pada sektor pertanian kontribusi utamanya terletak pada tanaman pangan khususnya produksi padi di kabupaten Morowali cukup tinggi. Pada tahun 2009 total produksi adalah 51.071 ton dengan tingkat produktivitas 40,08 kw/ha dengan luas panen sebesar 12.700 Ha. Produksi ini meliputi padi sawah dengan jumlah produksi sebesar 49.442 ton dengan produktivitas 40,07 kw/ha dan padi ladang sebesar 1.457 ton dengan
produktivitas 25,84 ton. Di sektor perkebunan, Morowali memiliki komiditi utama nasional, yaitu kelapa sawit, kakao, kelapa, cengkeh, kopi, pala, kemiri, dan jambu mente. Untuk kelapa sawit luas daerah yang ada mencapai 17 ribu hektar. Pada tahun 2009 jumlah produksi kelapa sawit mencapai 117.340 ton dengan luas areal tanam 6.114 Ha, produksi kakao mencapai 698 ton dengan luas areal tanam 1.638 Ha dan produksi jambu mente mencapai 258 ton dengan luas areal tanam 1.417 Ha.
b. Kelautan dan Perikanan
Garis pantai kabupaten Morowali kurang lebih 500 kilometer, dengan luas perairan laut sekitar 29.962,88 kilometer persegi memiliki potensi biotik yang jenis dan jumlahnya cukup banyak.
Terdiri dari berbagai jenis ikan, kepiting, cumi-cumi, gurita, rumput laut, dan kerang mutiara. Sedangkan untuk perikanan budidaya antara lain tambak dan kolam dengan jenis potensi udang windu,, bandeng, ikan mas, nila, dan udang gajah. Selama ini jenis ikan pelagis ekonomis rendah seperti kembung, teri, dan layang yang banyak ditangkap nelayan. Hasil tangkapan dalam bentuk segar dan kering umumnya untuk konsumsi lokal atau luar daerah. Pada tahun 2009 produksi perikanan tangkap laut dan umum mencapai 6.741,46 ton. Produksi perikanan tambak mencapai 3.703,10 ton, produksi perikanan budidaya laut mencapai 216.960 ton, dan produksi perikanan jaring apung mencapai 90,50 ton. Potensi
budidaya rumput laut juga menjadi primadona di Morowali, dalam pengelolaan budidaya rumput laut, pemerintah daerah telah menyediakan dana bagi kelompok petani dan saat ini telah ada 200 kelompok petani budidaya rumput laut. Area pengembangan rumput laut terbesar terdapat di kecamatan Menui Kepulauan dan Bungku Selatan dengan luas 3 ribu hektar. Selain itu terdapat pula potensi budidaya teripang dengan lahan yang tersedia 189 hektar yang siap di manfaatkan dan tersebar di kecamatan Bungku Selatan, Bungku Tengah, dan Menui Kepulauan.
c. Pertambangan
Di sektor pertambangan, kabupaten Morowali menyimpan deposit tambang yang cukup besar. Seperti minyak bumi, nikel, besi, dan chromit. Untuk nikel Morowali memiliki luas areal 150.000 Ha, lokasinya menyebar hampir disebagian wilayah Morowali dengan cadangan diperkirakan akan sampai 8 juta WMT. Untuk chromit yang merupakan bahan galian yang banyak digunakan dalam industri baja dan industri bahan kimia, cadangannya diperkirakan mencapai 1 juta ton terdapat di kecamatan Bungku Tengah dan kecamatan Bungku Barat. Begitu juga dengan batu gamping yang cadangannya mencapai 30 juta meter kubik dengan luas area 25 Ha yang berada di kecamatan Bungku Selatan. Saat ini tercatat sekitar 21
perusahaan baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN) telah memperoleh izin eksplorasi tambang di kabupaten Morowali.58
Potensi Pertambangan dan Energi Kabupaten Morowali yang telah Dikelola, jenis Bahan Tambang/ GalianLuas Area (Ha)Lokasi Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam—Nikel.
d. Hutan dan Cagar Alam
Kabupaten Morowali juga memiliki potensi sumber daya hutan yang cukup besar. Pada tahun 2009 kabupaten Morowali memiliki hutan seluas 1.158.846 Ha, terdiri dari hutan lindung seluas 436.756
Kabupaten Morowali juga memiliki potensi sumber daya hutan yang cukup besar. Pada tahun 2009 kabupaten Morowali memiliki hutan seluas 1.158.846 Ha, terdiri dari hutan lindung seluas 436.756