menggantungkan harapan kepada-Nya, Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas rampungnya tulisan ini. Salam serta shalawat penulis curahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, manusia termulia yang menjadi panutan terbaik sepanjang masa. Shalawat serta salam juga penulis curahkan kepada keluarga-keluarga beliau, istri-istri beliau, sahabat-sahabat serta shahabiyah, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang senantiasa istiqomah dijalan yang haq ini hingga takdir Allah berlaku atas diri-diri mereka.
Penulis sadari tulisan ini tentu sangatlah jauh dari kata sempurna, namun inilah usaha terbaik yang telah penulis lakukan. Dibalik baiknya tulisan ini, tentulah ada sederetan nama yang berjasa.
Untuk ibundaku tersayang, ibu Kartini Dampala yang selalu bersabar dalam menyemangatiku. Jazaakillah khairan, kesabaranmu membuatku lebih mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Kemudian untuk laki-laki tangguh yang selalu menyemangatiku, ayahku tersayang bapak Moh. Tasbik Husen, yang tidak pernah menampakkan lelah dan letihnya menghidupi keluarga terutama penulis. Jazaakallah khairan, semangatmu menyadarkan penulis akan arti sebuah perjuangan. Dan tak lupa pada suamiku tercinta Moh. Arlan Subuh, yang setia mendampingiku dan sangat paham akan menuntut ilmu. Beliau adalah ayah dari anak kami Muzayyinatul Hayaah.
jazaakallahu khairan katsiran untuk mu suamiku. Kepada kedua mertua ku tersayang yang selalu mendoakan ku Bapak Abuding ibu Laela, tidak pernah lelah untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Jazaakumullah khairan katsiran kebaikan kalian tak bisa ku balas dengan apapun.
2. Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I, selaku dekan Fakultas Agama Islam.
4. Dr. H. Abbas Baco Miro, Lc.,MA., selaku ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam.
5. Dr. Dahlan Lama Bawa, M.Ag selaku pembimbing satu penulis.
6. Wiwik Laela Mukromin, S.Ag.,M.pd.I selaku pembimbing dua penulis.
7. Segenap dosen Universitas Muhammadiyah Makassar, khususnya pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, tentunya masih terdapat begitu banyak kesalahan dan kekurangan dalam penulisan ini. Sehingga penulis mengarapkan kritik dan saran yang membangun dari pembimbing dan dari berbagai pihak. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis pribadi.
Makassar, 10 Rabi’ul Awwal 1442 H 27 Oktober 2020 M
Nur Fitriah Ningsi
NIM : 05270014015
vi
Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah.
Generasi muda adalah masa yang tidak bisa dihindari di masyarakat manapun, kehadiran remaja untuk meneruskan apa yang di harapkan dari generasi sebelumnya dan diharapkan dapat mengatasi persoalan-persoalan yang akan datang demi kemakmuran masyarakat dan negara, untuk itu persiapan yang matang, pembinaan terus menurus terhadap remaja dalam hal ini khususnya masalah agama sangatlah penting sehingga alih generasi nanti akan berjalan dengan apa yang diharapkan generasi sebelumnya. Banyak sekali fakta yang menunjukkan banyaknya kenakalan dikalangan remaja.
Kenyataan tersebut akan menghambat usaha pembinaan remaja khususnya bagi remaja islam.
Rumusan masalah yang dibahas dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1) Bagaimana perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur, 2) Bagaimana program dakwah da'i dalam perbaikan perilaku di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur, 3) Apa faktor pendukung dan penghambat da'i dalam perbaikan perilaku di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan pengumpulan datanya melalui metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini data kualitatif, data yang dapat diukur secara tidak langsung.
Kesimpulan yang dapat di ambil dari pembahasan skripsi ini adalah bahwa pendidikan dikalangan remaja Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur masih sangat rendah, disebabkan kurang adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan agama bagi dirinya sebagai bekal hidup dimasa sekarang dan yang akan datang. Dengan kurangnya pengetahuan agama remaja Desa Kolono maka konsekuensi dalam menjalani ajaran agama isfam berkurang akibatnya kurang adanya kendali dan pegangan dalam setiap menentukam langkah perbuatannya.
Dalam mengatasi masalah yang dilakuka remaja maka da'i bekerja sama dengan tokoh masyarakat berupaya untuk mengatasi dengan cara memberikan ceramah, nasehat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan materi agama.
vi
viii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
BERITA ACARA MUNAQASYAH ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
ABSTRAK ... vi
SURAT PERNYATAAN ... v
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN. ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. Da’i Sebagai Subjek ... 6
B. Dakwah Islam ... 14
C. Perilaku ... 22
D. Remaja ... 24
BAB III METODE PENELITIAN ... 29
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 29
B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 29
C. Fokus Penelitian ... 30
D. Deskriptif Fokus Penelitian ... 30
E. Sumber Data Penelitian ... 31
F. Instrument Penelitian... 32
G. Teknik Pengumpulan Data ... 33
viii
C. Pembahasan ... 56
BAB V PENUTUP ... 60
A. Kesimpulan ... 60
B. Saran... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 62
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 64
RIWAYAT HIDUP ... 65
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masalah remaja merupakan masalah yang menarik untuk di bicarakan, lebih pada akhir-akhir ini, telah timbul akibat negatif yang sangat mencemaskan sehingga akan membawa kehancuran bagi remaja itu sendiri dan masyarakat pada umumnya. Masa remaja adalah masa yang menunjukkan sebuah periode peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa yang dimulai dengan timbulnya tanda-tanda pubertas yang pertama dan berakhir pada waktu remaja mencapai kematangan fisik dan mental.1
Masa remaja merupakan rentang usia antara 12-22 tahun yang diliputi oleh ketidakstabilan jiwa anak. Masa remaja adalah suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dari tidak mantap. Di samping itu, ,asa remaja adalah masa yang rawan oleh pengaruh-pengaruh negatif. Namun, masa remaja juga merupakan masa remaja yang amat baik untuk mengembangka segala potensi positif yang mereka miliki seperti bakat, kemampuan dan minat. Selain itu, masa ini adalah masa pencarian nilai- nilai hidup.
Namun dewasa ini, oleh karena kemajuan teknologi yang semakin canggih dan adanya asimilasi berbagai kebudayaan negara, maka tidak
1Kartini Kartono, Psikologi Remaja (Bandung :Offset Alumni, 1986), h. 149
jarang pula para remaja dari berbagai negara mengalami kerusakan sikap dan mental. Sehingga sering terjadi kegaduhan yang pelakunya adalah para remaja yang diharapkan sebagai penerus perjuangan bangsa. Hal ini lazim juga disebut kenakalan remaja.
Kenakalan remaja ini biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang ridak terselesaikan denga baik pada masa kanak-kanak maupun remaja pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri. Seperti yang dialami oleh beberapa remaja di Desa Kolono Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah, berbagai macam perilaku yang menyimpang dalam pergaulan mereka.
Perilaku remaja saat ini sudah sangat menyebar luas, baik dalam frekuensi , maupun dalam keseriusannnya kualitas kejahatannya. Hal ini dapat dilihat dari perilaku remaja yang ada di Desa Kolono Kabupaten Morowali. Remaja di Desa Kolono banyak terpngaruh oleh pergaulan luar, pergaulan bebas antara remaja putri dan remaja putra, berpacaran, membolos sekolah, merokok dan obat-obat terlarang.
Lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat yang kurang kondusif bagi perkembangannya, maka akibatnya remaja akan justru membahayakan apa yang sedang remaja cari jati dirinya. Dalam kondisi diatas sangat wajar jika dalam situasi kebingungan remaja justru cenderung melakukan kompensasi ke suasana yang justru lebih menawarkan nilai-nilai negatif bagi pross identifikasi dirinya.2
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, penulis tertarik mengangkat sebuah judul penelitian sebagai berikut: ―Peran Da’i Dalam Perbaikan Perilaku Remaja Di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan sebelumnya, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat di rumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana Perilaku Remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah?
2. Bagaimana Program Dakwah Da‘i Dalam Perbaikan Perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah?
2Elfi Mu’awanah Bimbingan Konseling Islam: Memahami Fenomena kenakalan Remaja dan memilih upaya Pendekatannya Dalam Konseling Islam (Yogyakarta: Tesas, 2012), h. 3
3. Apa Yang Menjadi Faktor Pendukung dan Penghambat Da‘i dalam Perbaikan Perilaku Remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah?
2. Untuk mengetahui program Da‘i dalam perbaikan perilaku di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah?
3. Untuk mengetahui faktor apa yang pendukung dan penghambat Da‘i dalam perbaikan perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah?
D. Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini : 1. Manfaat Teoritis
Bagi penulis merupakan suatu pelajaran yang berharga, karena dengan penelitian ini kita dapat mengetahui peran Da‘i dalam perbaikan perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini di harapkan dapat berguna dan menjadi bahan referensi bersama untuk melihat bagaimana peran Da‘i dan sekaligus merupakan sumbangan pemikiran dan evaluasi bagi Desa
Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali dalam perbaikan perilaku remaja, agar menjadi generasi Rabbani yang memegang teguh nilai-nilai Islam.
6 BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Da’i Sebagai Subjek 1. Pengertian Da’i
Dai merupakan kata bahasa arab yang diambil dari bentuk mashdar
ةيعاد
yang berubah menjadi failيعاد
yang mempunyai arti yang berdakwah3. Dalam pengertian yang khusus (pengertian islam), dai adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung dengan kata – kata, perbuatan atau tingkah laku ke arah kondisi yang baik atau lebih baik menurut syariat Al quran dan sunnah. Berdasarkan pengertian khusus tersebut da‘i identik dengan orang yang melakukan amar makhruf nahi mungkar4.Secara garis besar da‘i menganduan pengertian :
a) Secara umum adalah setiap muslim atau muslimat yang berdakwah sebagai kewajiban yang melekat dalam diri sebagai realisasi perintah Rasulullah saw. Untuk menyampaikan islam kepada semua walaupun hanya satu ayat dan tidak terpisahkan dari misinya sebagai penganut islam , serta sesuai dengan hadits nabi.
3 Munawwir AF,kamus Al Bisri :Arab – Indonesia (Surabaya ; Pustaka Progresif ,1999 ),h,198
4 Samsul Munir Amin , Ilmu Dakwah (Cet II,Jakarta ; Amzah ,2013 ),h,68
b) Secara khusus adalah muslim yang telah mengambil spesialisasi di bidang agama islam, yaitu ulama dan sebagainya .5
Menurut Budiharjo , subyek dakwah (dai) adalah yang melakukan dakwah kepada seluruh umat agar menyembah kepada Allah swt, agar melaksanakan ajaran – ajaran islam .6
Berdasarkan definisi di atas , dai adalah orang yang melaksanakan dakwah . Tetapi tentu tidak semua orang muslim dapat berdakwah dengan baik dan sempurna, karena pengetahuan dan kesungguhan mereka berbeda – beda. Dai adalah pelopor perubahan perubahan sekaligus menjadi teladan umat .hal –hal yang yang semula menyimpang dari Al quran dan hadis di luruskan agar sesuai dengan ajarn islam baik aqidah ,muamalah dan aspek – aspek kehidupan lainnya. Olehnya itu, dai harus memenuhi kualifikasi dan syarat – syarat tertentu agar proses dakwahnya sesuai dengan target yang ingin dicapai yaitu;
a. Dai harus mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang islam.
Menjadi keharusan bagi dai untuk mendalami pengetahuan agama baik masalah aqidah, fiqih, muamalah dan berbagai aspek disiplin keagamaan lainnya.
b. Da‘i harus terlebih dahulu mengetahui seluk beluk islam sebelum terjun ke lapangan untuk berdakwah, sehingga dai mampu
5Muhammad Bin Ismail Abu Abdullah Al Bukhari, Shahih Al Bukhari (Vol. IV, no 3461, Saudi Arabia: Daar Thuwaiq an Najah, 1422 H), h. 170
memberikan pemahaman tentang kesempurnaan agama islam kepada masyarakat.
c. Dai harus menjadi teladan yang baik bagi umat, aktivitas, akhlak, perkataan dan perbuatan dai memiliki pengaruh yang signifikan terhadap umat.
d. Dai harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik.
Banyak orang mempunyai pesan atau nasehat bagus tetapi dalam menyampaikan atau di berkomunikasinya kurang lancar dan tepat sehingga nilai dari pesan atau nasehat tersebut menjadi berkurang.
Olehnya itu kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar adalah syarat yang tidak boleh di abaikan oleh parah dai.
e. Pengetahuan psikologi, manusia adalah makhluk unik yang tidak bisa di prediksi kepribadiannya, dai di tuntut memahami ilmu psikologi kepribadian dan perkembangan. Dengan mengetahui kondisi kejiwaan masyarakat dai akan lebih mudah memberikan solusi yang sesuai dengan masalah yang di hadapi maka materi dakwah akan di mudah diterima di oleh masyarakat7.
Selain itu,pembentukan kepribadian seorang dai merupakan bekal asasi dalam mengemban tugas dakwah. Iman, ikhlas, berani, sabar, dan optimisme merupakan prinsip utama dalam membentuk kepribadian, menurut Imam Ahmad Mustafa Al Maraghi ada empat sifat yang harus dimiliki oleh da‘i antara lain:
7Najamudin, metode dakwah menurut Al-Qur’an (Yogyakarta;Pustaka Insan Madani), hal.
23)
a. Hendaklah alim (mengetahui) dalam bidang Al quran, sunnah dan sejarah kehidupan Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin ra.
b. Hendaklah pandai membaca situasi ummat yang diberi dakwah baik dalam urusan bakat, watak, dan akhlak mereka atau ringkasnya megetahui kehidupan mereka.
c. hendaklah mengetahui bahasa ummat yang dituju oleh dakwahnya.
Rasulullah saw sendiri memerintahkan sebagian sahabatnya agar mengetahui bahasa Ibrani, karena beliaupun perlu berdialog dengan Yahudi yang menjadi tetangga beliau dan untuk mengetahui hakikat keadaan mereka
d. Mengetahui agama, aliran dan madzhab ummat dan dengan demikian akan memudahkan juru dakwah mengetahui kebatilan- kebatilan yang terkandung padanya dan tidak akan sulit baginya memenuhi ajakan kebenaran dan di dengungkan oleh orang lain sekalipun orang tersebut telah mengajaknya.8
Menurut Prof. Mahmud Yunus ada empat belas sifat yang harus dimiliki oleh seorag dai antara lain:
1. Mengetahui Al quran dan sunnah 2. Mengamalkan ilmunya
3. Penyantun dan lapang dada
4. Berani menerangkan kebenaran agama 5. Menjaga kehormatan diri
8 Syihata Abdullah, Dakwah Islamiya. ( Jakarta: Departemen Agama RI. 1978), h.
80
6. Mengetahui ilmu masyarakat, sejarah ilmu bumi, jiwa akhlak perbandingan agama dan ilmu bahasa
7. Mempunyai keimanan yang kuat dan kepercayaan yang kokoh kepada Allah SWT tentang janjinya yang benar
8. Menerangkan mengajarkan ilmu yang diketahui dan janganlah menyembunyikan ilmu
9. Tawadhu dan rendah hati
10. Tenang bersikap sopan tertib dan bersungguh-sungguh 11. Mempunyai cita-cita tinggi dan jiwa yang besar
12. Sabar dan tabah dalam melaksanakan seruan Allah swt 13. Takwa, jujur dan terpercaya
14. Ikhlas9
2. Metode dan Upaya Dai dalam Dakwah
a .Metode Dakwah
Secara etimologi dalam Masdar Helmi,metode dakwah adalah dari bahasa Yunani metodos yang artinya cara atau jalan. Metode dakwah cara untuk mencapai tujuan dakwah yang dilaksanakan secara efektif dan efisien10.
9Masdar Helmy, Dakwah Dalam Alam Pembangunan,(Jilid;1,Semarang; CV Toha Putra,1973),h.21
10Masdar Helmy,Dakwah Dalam Alam Pembangunan, 1973
Berdasarkan uraian di atas terdapat metode dakwah yang akurat, kerangka dasar tentang metode dakwah yaitu:
a. Bil al-Hikmah
Hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi yang dilaksanakan atas dasar persuasif. Karena dakwah bertumpu pada human oriented maka konsekuensinya logisnya adalah pengajuan
dan penghargaan pada hak-hak yang bersifat demokratis, agar fungsi dakwah yang utama (bersifat informatif)11.
b. Mau‘izah Hasanah
Mau‘izah Hasanah atau nasehat yang baik adalah memberikan nasehat kepada orang lain dengan cara baik, yaitu petunjuk- petunjuk kearah kebaikan dengan bahasa yang baik, dapat diterima, berkenan dihati, menyentuh perasaan, lurus dipikiran, menghindari sikap kasar dan tidak mencari atau menyebut kesalahan objek dakwah dengan rela hati dan atas kesadarannya dapat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh pihak subjek dakwah12.
c. Mujadalah
Mujadalah adalah berdiskusi dengan cara yang baik dari cara-cara berdiskusi yang ada. Mujadalah merupakan cara terakhir yang digunakan untuk berdakwah yang digunakan untuk orang yang
11Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, h. 98
12 Siti Muriah, Metode Dakwah kontemporer,(Yogyakarta; Mitra pustaka, 2000), h. 44
taraf berfikirnya cukup maju dan kritis seperti ahli kitab yang memang telah memiliki bekal keagamaan dari utusan sebelumnya13.
Ditinjau dari sudut pandang lain, dakwah dapat dilakukan dengan metode yang lazim dilakukan dalam pelaksanaan dakwah, yaitu:
a. Metode ceramah, adalah metode yang dilakukan dengan maksud untuk menyampaikan keterangan, petunjuk, pengertian dan penjelasan tentang sesuatu kepada pendengar dengan menggunakan lisan14.
b. Metode tanya jawab, adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan tanya jawab untuk mengetahui sampai sejauh mana ingatan atau pikiran seorang dalam memahami atau menguasai materi dakwah dan untuk merangsang perhatian penerima dakwah15.
c. Metode diskusi, dimaksudkan sebagai pertukaran pikiran (gagasan, pendapat dan sebagainya) antara sejumlah orang secara lisan membahas suatu masalah tertentu yang dilaksanakan dengan teratur dan bertujuan untuk memperoleh kebenaran
13Siti Muriah, Metode Dakwah Kontemporer, 2000
14Dzikron Abdullah, Metodologi Dakwah, Diktat Kuliah (Semarang; Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, 1988), h. 45
15A. Kadir Munsyi, Metode Diskusi dalam Dakwah, (Surabaya; Al Ikhlas, 1978) h. 31
d. Metode propaganda (di’ayah), yaitu upaya untuk menyiarkan islam dengan cara mempengaruhi dan membujuk massa secara massal, persuasif dan bersifat otoritatif (paksaan)16.
b. Pendekatan Dakwah
Menurut Ali Mustafa Yakub, pendekatan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw ada enam yaitu :
1. Pendekatan personal (Manhaj As Sirri) 2. Pendekatan Pendidikan (Manhaj At Taklim) 3. Pendekatan Penawaran (Manhaj Al Ardh) 4. Pendekatan missi (Manhaj Al Bi‘tsah)
5. Pendekatan korespondensi (Manhaj al Mukatabah) 6. Pendekatan diskusi (Manhaj Al Mujadalah)
Strategi pendekatan dakwah yang lain adalah:
a) Pendekatan struktural, yaitu pengembangan dakwah melalui jalur struktural formal, misalnya melalui pemerintahan
b) Pendekatan kultural, yaitu pengembangan dakwah melalui alur cultural non formal, misalnya melalui pengembangan masyarakat, kebudayaan, sosial dan bentuk non formal lainnya17.
16A. Kadir Munsyi, Metode Diskusi Dalam Dakwah, 1978
17Arief Afandi, Islam Demokrasi Atas Bawah Polemik Strategi Perjuangan Umat Model GusDur dan Amin Rais, (Cet. III Yogyakarta; Pustaka Pelajar 1997), h. 20
B. Dakwah Islam
Dakwah Islamiyah terdiri dari dua kata yaitu Dakwah dan Islamiyah.
Dakwah menurut etimologi (bahasa) berasal dari kata bahasa Arab : -ي – َةوعدْ وعد َدَ اع yang berarti mengajak, menyeru, dan memanggil seruan, permohonan, dan permintaan.18
Dalam pengertian lain menyebutkan dakwah merupakann bahasa Arab, berasal dari kata da‘wah, yang bersumber pada kata: – َةوعدْ دَ دَ اع-وع ي) da‘a, yad‘u, da‘watan) yang bermakna seruan, panggilan, undangan atau do‟a.
Dalam pengertian lain, al-Qur‘an juga menyebutkan kata yang memiliki pengertian yang hampir sama dengan ―dakwah‖, yakni kata ‖tabligh‖yang berarti penyampaian, dan ―bayan‖ yang berarti penjelasan.19
Menurut Asmuni Syukir istilah dakwah dapat di artikan dari dua segi atau dua sudut pandang, yakni pengertian yang bersifat pembinaan dan pengertian dakwah yang bersifat pengembangan. Pembinaan artinya suatu kegiatan untuk mempertahankan dan menyempurnakan suatu hal yang telah ada sebelumnya. Sedangkan pengembangan berarti suatu kegiatan yang mengarah kepada pembaharuan atau mengadakan sesuatu hal yang belum ada.
Dengan demikian pengertian dakwah yang bersifat pembinaan adalah suatu usaha mempertahankan, melestarikan dan
18Tata Sukayat, Quantum Dakwah,(Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 1
19Pimay dkk, Metodologi Dakwah, (Semarang: Rasail), h. 2
menyempurnakan ummat manusia agar mereka tetap beriman kepada Allah, dengan menjalankan syariat-Nya sehingga mereka menjadi manusia yang hidup bahagia di dunia maupun di akhirat.sedangkan pengembangan dakwah yang bersifat pengembangan adalah usaha mengajak ummat manusia yang belum beriman kepada Allah Subhanahu Wata‘ala, agar mentaati syariat islam (memeluk Agama Islam) supaya nantinya dapat hidup bahagia dan sejahtera di dunia maupun di akhirat.20
Dengan memperhatikan ayat-ayat al-Qur;an dan hadits, serta defenisi para ulama, adapun melalui kacamata komunikasi, istilah dakwah islamiah dapat diartikan sebagai mengkomonikasikan ajaran islam, dalam arti mengajak dan memanggil umat manusia agar menganut ajaran islam, memberi informasi mengenai amal makruf dan nahi mungkar, agar tercapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.21
Hakikat Dakwah :
Apabila kita memperhatikan al-Qur‘an dan as-Sunnah maka kita akan mengetahui, sesungguhnya dakwah menduduki tempat dan posisi utama, sentral, strategis, dan menentukan. Keindahan dan kesesuaian islam dengan perkembangan zaman, baik dalam sejarah maupu
20Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, ( Surabaya: Al Ikhlas, 1983), hal 20
21Kustadi Suhandang, Ilmu Dakwah, (Bandung.PT Remaja Rosdakarya. Cet. 1, 2013) , hal. 12
praktiknya, sangat ditentukan oleh kegiatan dakwah yang yang dilakukan ummatnya22.
Berbicara tentang hakikat adalah berbicara tentang sesuatu yang mendasar,dakwah bukan hanya dengan kata-kata, tetapi ajakan psikologis yang bersumber dari jiwa Da‘i. Hakikat dakwah bisa dilihat dari sang Da‘i, bisa juga dari makna yang dipersepsi oleh masyarakat yang menerima dakwah.
1. Dakwah Sebagai Tabligh.
Tabligh artinya menyampaikan, orangnya disebut mubaligh.
Dakwah sebagai tabligh wujudnya adalah mubalig menyampaikan materi dakwah (ceramah) kepada masyarakat. Materi dakwah bisa berupa keterangan, informasi, ajaran, seruan, atau gagasan.
2. Dakwah Sebagai Ajakan.
Orang akan tertarik kepada ajakan jika tujuannya menarik. Oleh karena itu, Da‘i harus merumuskan tujuan ke mana masyarakat akan diajak.
3. Dakwah sebagai pekerjaan menanam.
Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai islam. Mendidik adalah pekerjaan menanam nilai-nilai kedalam jiwa manusia. Nila-nilai yang ditanamkan dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati, dan nilai akhlak mulia lainnya.
22Didin Hafihuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta. Gema Insani Press, Cet.1, 1998), hal.67
4. Dakwah berupa pekerjaan membangun.
Secara makro dakwah juga dakwah juga bermakna membangun, membangun apa? Sebagaimana dicontohkan dalam sejarah, dakwah juga bisa membangun tata dunia islam (daulah islamiyah), lebih kecil lagi membangun negara islam, lebih kecil lagi membangun masyarakat islam atau islami, dan lebih kecil lagi membangun komunitas islami.23
Jika ditinjau dari segi bahasa dakwah ialah mengajak, mengajak orang lain pada kebaikan yang diridhoi Allah Subhaanahu Wata‘ala.
Dakwah adalah pekerjaan para Rasul, pekerjaan Shalafussaleh, dan pekerjaan para mujahid. Karena itu, dakwah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan memperhatikan kondisi objektif dari sasaran dakwah (mad‘u), materi, sarana dan prasarana (wasilah) dan juga pelaku (da‘i). Dakwah tidak boleh dilakukan asal-asalan, tanpa memperhatikan unsur-unsur dakwah.24
a. Lakukan dakwah dengan hikmah, cara yang baik, nasihat yang menyentuh hati, dan argumentasi dari dalil-dalil yang jelas.
b. Lakukan dakwah dengan materi yang sesuai dengan kemampuan masyarakat sasaran dakwah.
c. Lakukan dakwah secara bertahap dan berkesinambungan, sampai terjadi perubahan perilaku dari sasaran dakwah.
23Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta ,kencana, Cet.2, 2009) hal. xii
24Didin Hafihuddin, Islam Implikatif, (Jakarta. Gema Insani. Cet.2 2004) hal. 93-94
d. Dakwah hendaknya tidak sekedar dengan lisan, tetapi juga dengan tulisan, bahkan dengan perbuatan yang merupakan contoh dan suri teladan.25
Pada hakikatnya dakwah islam merupakan aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia, pada dataran kenyataan individual dan sosial kultural, dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran islam dalam semua segi kehidupan manusia.26
5. Dakwah Sebagai Proses Komunikasi Dan Ilmu Pengetahuan
Setiap orang memiliki hasrat untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, dan memperoleh informasi. Proses yang mendasar dalam komunikasi adalah penggunaan bersama atau dengan kata lain ada yang memberi informasi (mengirim) dan ada yang menerima informasi.
Pengguna bersama di sini tidak harus yang memberi dan yang menerima harus saling berhadapan secara langsung, tetapi bisa melalui media lain, seperti tulisan, isyarat, maupun yang berupa kode-kode tertentu yang bisa dipahami.27
25Didin Hafihuddin, Islam Implikatif, (Jakarta. Gema Insani. Cet.2 2004), hal. 98-99
26Didin Hafihuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta. Gema Insani Press. Cet 1. 1998), hal. 67- 68
27Wahyu Ilahi,.Komunikasi Dakwah (Bandung.PT Remaja Rosdakarya. Cet.1 2010) , hal.
121-122
Dari nukilan ayat-ayat Al-Qur‘an dan penjelasannya, dapat disimak bahwa dakwah islamiah tiada lain merupakan kegiatan mengkomunikasikan ajaran Allah yang terkandung dalam Al-Qur‘an dan as-Sunnah, agar manusia mengambilnya menjadi jalan hidupnya. Adapun pelaksanaannya harus dilakukan melalui sifat-sifat komunikasi dengan cara selalu berhubungan dengan Allah dan persaudaraan dengan sesama umat.28
Dalil QS Ali- Imran:122
َِّاللَّ ىَلَع َو ۗ اَمُهُّيِل َو ُ َّاللَّ َو َلََشْفَت ْنَأ ْمُكْنِم ِناَتَفِئاَط ْتَّمَه ْذِإ نىُنِم ْؤُمْلا ِلَّك َىَتَيْلَف
( 211 )
Terjemahan:
ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal‖29
Hal ini artinya dalam pelaksanaan dakwah islamiah kita harus menggunakan dua jenis komunikasi yaitu komunikasi antara Allah dengan umat-Nya atau sebaliknya, dan komunikasi antara umat itu sendiri.
Mengingat kedudukannya, baik derajat maupun fungsinya, kiranya dapat dikatakan bahwa komunikasi antar Allah dengan umat manusia atau sebaliknya adalah komunikasi vertikal, sedangkan komunikasi antar sesama umat manusia adalah komunikasi horizontal.30
28Kustadi Suhandang., Strategi Dakwah (Bandung. Remaja Rosdakarya. Cet.1 2014), hal.
3
29Al Quran dan terjemahan Ar Rahman, Mikraj Khazanah Ilmu
30Kustadi Suhandang. Ilmu Dakwah (Bandung. Rosda Karya. Cet. 1 2013), hal. 13
Demikian pula keilmiahan proses dakwah tersirat dalam ayat tersebut, bahwa landasan pokok dakwah adalah iman dan amal saleh yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sedangkan dasar pelaksanaannya adalah penglihatan, logika, dan kebenaran, selain menggambarkan proses dakwah yang berkaitan dengan filsafat dan pendidikan, serta mengingatkan bahwa Al-Qur‘an mewajibkan menggunakan akal. Ini berarti dakwah islamiah bermakna dakwah sebagai ilmu pengetahuan serta dakwah sebagai proses kerja.31
Iman dan amal saleh adalah syi‘ar dakwah islam, iman kepada Allah di jadikan syi‘ar yang pertama dalam dakwah islam. Orang yang beriman karena iman itulah mereka menjadi kuat kendatipun jumlah mereka sedikit, karena hati mereka disinari iman. Iman inilah yang mendorong mereka mati syahid, tetap berada dalam kebenaran, bersedia menjadi korban karena membela prinsipnya dan bersedia mengorbankan apa saja dalam mengsukseskan dakwahnya.32
Sedangkan amal saleh adalah syi‘ar dakwah yang kedua setelah iman. Amal saleh merupakan upaya yang terus menerus yang tidak mengenal bosan dalam mengsukseskan dakwah dan memperbaiki keadaan masyarakat, sehingga masyarakat menjadi maju dan berkembang. Dakwah bukan hanya dengan mengemukakan teori-teori yang kosong dan mandul. Karena itulah merupakan syi‘ar dakwah islam
31Kustadi Suhandang. Strategi Dakwah, (Bandung. Remaja Rosdakarya. Cet.1 2014), hal.
4
32Muhamad Mustafa Atha. Sejarah Dakwah Islam. (Surabaya. PT Bina Ilmu. Cet.1 1982), hal.88
mengajak manusia agar bekerja dan beramal, bekerja dan beramal adalah menjadi sifat seorang muslim yang besar. Iman yang selalu dikaitkan dengan amal saleh, iman akan kurang artinya kalau tidak diisi dengan amal saleh.33
Kata Islam berasal dari bahasa Arab di angkat dari asal kata
―salima‖ yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu di bentuk kata
―aslama‖ yang artinya untuk patuh, taat dan memelihara diri. Pengertian Islam secara khusus adalah segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‗alaihi wasallam, sebagaimana yang di turunkan Allah dalam Al Qur‘an dan di sampaikan oleh Nabi Muhammad dalam sunnahnya yang shahih atau benar, berupa perintah-perintah, larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagian manusia di dunia dan kesejahteraan di hari kemudian atau akhirat.34
Secara umum, pengertian Islam adalah segala apa yang diisyaratkan oleh Allah dengan perantara para Nabi dan Rasul yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk itu untuk kebahagiaan manusia di dunia dan kesejahteraan di hari kemudian atau akhirat.35 Berdasarkan para hadits Nabi sebagai jawaban terhadap pertanyaan seorang Badawi kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‗alaihi wasallam, pengertian Islam adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan
33Muhamad Mustafa Atha. Sejarah Dakwah Islam. (Surabaya. PT Bina Ilmu. Cet.1 1982) hal.90
34M. Alwi Nawawi, Pengantar Hukum Agama Islam, (Makassar: Universitas Muslim Indonesia, 1988), hal. 3
35M. Alwi Nawawi, Pengantar Hukum Agama Islam,1988
melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat dan memberi zakat, berpuasa pada bulan ramadhan, serta pergi haji ke Baitullah jika engkau sanggup melaksanakannya. 36 Kepatuhan dan ketaatan serta mengikat diri dengan sukarela kepada Allah. Dalam pengertian Islam ini terdapat syarat sukarela atau ikatan, karena kepatuhan yang di paksakan itu sepanjang mengenai eksistensinya adalah umum bagi semua makhluk hingga tidak ada pahala melainkan hanyalah hukuman. Pengertian Islam dari sistem adalah suatu sistem peraturan-peraturan undang-undang yang meliputi peraturan-peraturan hidup manusia dan tata cara tingkah laku bagi manusia, yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‗alaihi wasallam dari Tuhan-nya, yang diperintahkan kepadanya untuk menyampaikan kepada seluruh umat manusia dengan akibat pahala bagi mentaatinya dan hukuman bagi yang mengingkarinya.37
C. Perilaku
Perilaku atau yang disebut behavior adalah semua aktivitas yang dilakukan manusia pada umumnya. Perilaku atau yang biasa disebut sikap mengandung makna yang luas, Allport menunjukkan bahwa sikap itu tidak muncul seketika atau di bawa lahir, tetapi disusun dan dibentuk
36Ahamad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1988), hal. 23
37Abdullah Ahmadan-Na’im, Islam dan Negara Sekuler, (Bandung: Mizan Media Utama, 2007), hal. 26
melalui pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang.38
Perilaku manusia (human behavior) merupakan sesuatu yang penting dan perlu di pahami secara baik.hal ini di sebabkan perilaku manusia terdapat dalam aspek kehidupan manusia. Perilaku manusia tidak berdiri sendiri. Perilaku manusia mencakup dua komponen, yaitu sikap atau mental dan tingkah laku. Sikap atau mental merupakan sesuatu yang melekat pada diri manusia. Mental di artikan sebagai reaksi manusia terhadap sesuatu keadaan atau peristiwa, sedangkan tingkah laku merupakan perbuatan tertentu dari manusia sebagai reaksi terhadap keadaan atau situasi yang dihadapi. Perbuatan tertentu ini dapat bersifat positif dapat pula negatif.39 Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah perbuatan tertentu dari manusia sebagai reaksi terhadap keadaan atau peristiwa yang dihadapi.
Setiap orang mempunyai sifat yang berbeda sehingga perilakunya berbeda-beda. Dalam kenyataannya, banyak kita jumpai orang-orang yang bersifat terbuka dan tertutup, ada yang berdaya juang besar dan ada yang lemah, ada yang tegar dan ada yang tidak tegar, ada yang emosional dan ada yang sabar. Perilaku yang bebeda antara orang satu dengan yang lainnya di sebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi diri seseorang.
38Djali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 114
39Eliza, Herijulianti, et al. Pendidikan Kesehatan Gigi, (Jakarta:Buku Kedokteran EGC, 2001), hal. 35
Faktor yang mempengaruhi manusia adalah sebagai berikut:
a. Genetika
b. Sikap, yaitu suatu ukuran tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu.
c. Norma sosial, yaitu kepercaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku.
Perlu pula di tekan kan bahwa individu dalam merespons atau menanggapi suatu peristiwa atau keadaan selain di pengaruhi oleh situasi yang dihadapi juga di pengaruhi lingkungan ataupun kondisi pada saat itu.40
D. Remaja
Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa.41Masa remaja disebut pula sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi- fungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual.42
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescare yang artinya ―tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan‖. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode
40Eliza dkk, Pendidikan kesehatan Gigi, h. 35
41Santrock dkk, Perkembangan Remaja, (Surakarta: Jakarta: Erlangga
42Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan),(Bandung: Mandar Maju)
lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi43
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun44. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang dewasa muda. Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat defenisi tentang remaja yaitu:
1) Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefenisikan remaja adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun dan umur 12-20 tahun anak laki- laki.
2) Menurut undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah.
3) Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal.
43Ali dkk, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012). h. 20
44Notoatmodjo S, Promosi Kesehatah Dan ilmu Perilaku, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007)
4) Menurut undang-undang perkawinan No.1 tahun 1979, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak-anak laki-laki.
5) Menurut dinas kesehatan anak dianggap sudah remaja apabila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah.
6) Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18 tahun45. Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap perkembangan remaja:
a) Remaja awal (early adolescent)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan- dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan para remaja awal ini sulit dimengerti dan dimengerti orang dewasa.
b) . Remaja madya (middle adolescent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang
45Soetjiningsih, Buku Ajar: Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahnnya. (Jakarta:
Sagung Seto, 2004)
sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimistis atau pesimistis, idealis atau materialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari oedipus complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak-anak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan.
c) Remaja akhir (late adolescent)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu46:
1. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
2. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman- pengalaman baru
3. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
4. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
5. Tumbuh ‖dinding‖ yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum47
Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap yaitu:
46Sarwono, Ilmu kebidanan, (Jakarta: PT. Bina Pustaka), 2010
47Sarwono, Ilmu Kebidanan, ( Jakarta: PT. Bina Pustaka), 2010
d. Masa remaja awal (10-12 tahun)
(1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya (2) Tampak dan merasa ingin bebas
(3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir khayal (abstrak)
e. Masa remaja akhir (16-19 tahun)
(1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri (2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif
(3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya (4) Dapat mewujudkan perasaan cinta
(5) Memilki kemampuan berpikir khayal atau abstrak48
48Widyastuti, Y. dkk, Kesehatan Reproduksi, ( Yogyakarta: Fitrimaya, 2009
29 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan dan lebih mudah bila berhadapan dengan kenyataan ganda metode yang menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara penelitian dan respon lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak 10 penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola ini yang dihadapi49.
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, di gunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah. Filsafat postpositivisme juga di sebut paradigma interperatif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai suatu yang holistic/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif.50
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana suatu penelittian di laksanakan di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali tepatnya di provinsi Sulawesi Tengah, maka peneliti mengambil objek penelitian remaja.
49Moleong, Lexy J, Metedologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosadakarya), 2001
50Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2002), hal. 14-15
C. Fokus Penelitian
Peran da‘i dalam perbaikan perilaku remaja di Desa kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah meliputi:
1. Perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah
2. Program dakwah da‘i di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah
3. Faktor pendukung dan penghambat dalam perbaikan perilaku remaja di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah
D. Deskripsi Fokus
Peran adalah suatu rangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisi sosial, baik secara formal maupun informal.
Ketika seseorang dapat melaksanakan kewajiban dan mendapatkan haknya maka orang tersebut telah menjalankan sebuah peran. Da‘i adalah sebutan dalam islam bagi orang yag bertugas mengajak, mendorong orang lain untuk mengikuti dan mengamalkan ajaran islam.
Seorang da‘i terlibat dalam dakwah atau aktivitas menyiarkan, menyeru dan mengajak orang lain dalam ketaatan pada Allah. Pengertian dari perbaikan itu sendiri adalah usaha untuk mengembalikan kondisi dan fungsi dari suatu benda atau alat yang rusak akibat pemakaian alat tersebut pada kondisi semula. Proses perbaikan tidak menuntut
penyamaan sesuai kondis awal, yang diutamakan adalah alat tersebut bisa berfungsi normal kembali. Perilaku merupakan tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas mengenai kehidupan sehari-harinya. sedangkan menurut Skinner perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau ransangan dari luar. Adapun remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, sedangkan menurut Zakaria Darajat remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional. Program merupakan acara atau rencana yang dibuat oleh seseorang untuk dikerjakan sedangkan faktor merupakan keadaan atau peristiwa yang dapat mempengaruhi terjadinya sesuatu.
E. Sumber Data
Sumber data adalah subyek darimana data bisa diperoleh 51 Ada dua macam sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada obyek sebagai sumber informasi yang dicari 52.
51Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelititan Suatu Pendekatan, (Jakarta: Rineka Cipta), 1998
52Azwar. Metode Penelitian jilid 1 (Yogyakarta: Pustaka Belajar;1997),h. 91
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh dari peneliti dari subyek penelitian 53. Data ini diperoleh dari dokumen-dokumen atau laporan yang telah tersedia
F. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini di butuhkan manusia sebagai peneliti karena manusia dapat menyusuaikan sesuai dengan keadaan lingkungan.
Adapun instrumen yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Panduan observasi
Pedoman observasi berupa kolom check-list yag telah dipersiapkan sebelum turun ke lokasi penelitian.
2. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara yang berisi sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan program dan pelaksanaan da‘i terhadap anak remaja yang berada di Desa Kolono Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali.
3. Acuan Dokumentasi
Acuan Dokumentasi berupa catatan tambahan khususnya dokumentasi yang berkaitan dengan pelaksanaan dakwah oleh da‘i yang ada di Desa Kolono.
53Azwar, Metode Penelitian, h. 92
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Pada penelitian kali ini peneliti memilih jenis penelitian kualitatif maka data yang diperoleh haruslah mendalam, jelas dan spesifik. Pengumpulan data dapat diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan gabungan/triangulasi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, dokumentasi, dan wawancara54.
1. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung diKabupaten Morowali sebagai lokasi penelitian.
adapun yang di amati adalah peran Da‘i terhadap permasalahan yang di hadapi oleh para remaja yang ada di Morowali.
Sehingga peneliti dapat menentukan informan yang akan diteliti dan juga untuk mengetahui jabatan, tugas/kegiatan, alamat, nomor telepon dari calon informan sehingga mudah untuk mendapatkan informasi untuk kepentingan penelitian.
2. Wawancara
Dalam teknik pengumpulan menggunakan wawancara hampir sama dengan kuesioner. Dengan metode wawancara dan mengumpulkan
54Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan R&D,(Bandung: Alfabeta), 2009
data dan pertanyaan langsung kepada masyarakat Morowali mengenai peran Da‘i di Morowali dalam berdakwah terhadap remaja.
Untuk menghindari kehilangan informasi, maka peneliti meminta ijin kepada informan untuk menggunakan alat perekam. Sebelum dilangsungkan wawancara mendalam, peneliti menjelaskan atau memberikan sekilas gambaran dan latar belakang secara ringkas dan jelas mengenai topik penelitian.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen yang digunakan peneliti disini berupa foto atau gambar55. Bahan-bahan yang dijadikan dokumentasi pada penelitian ini berupa foto- foto pada saat berlangsungnya aktivitas penulis, remaja, orangtua remaja, Da‘i, ceramah Da‘i yang sedang berlangsung di Desa Kolono Kabupaten Morowali.
H. Teknik Analisis Data
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif yaitu penulis menganalisis data bentuk yang selanjutnya akan diinterprestasikan dalam bentuk konsep yang dapat mendukung pembahasan. Dalam menganalisis data tersebut, penulis menggunakan metode sebagai berikut:
55Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009),h. 240
1. Metode deduktif
Metode ini penulis menganalisis data dari yang umum ke yang khusus.
2. Metode Induktif
Yakni mengenalisis data dari yang bersifat khusus kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
3. Metode komparatif
Yakni setiap data yang diperoleh baik umum maupun yang bersifat khusus, selanjutnya dibandingkan kemudian ditarik satu kesimpulan
56
Dalam Penelitian ini peneliti menggunakan metode komparatif dalam menganalisis data yang diperoleh dengan membandingkan data khusus maupun umum kemudian ditarik kesimpulan.
56Sutrisno Hadi, Metodologi Research, hal. 42
36 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Kabupaten Morowali 1. Letak geografis Kabupaten Morowali
Morowali adalah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Morowali merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Poso. Ibu kota Kabupaten Morowali yang terletak di Bungku Tengah, dan salah satu daerah yang dilahirkan pasca reformasi. Nama Morowali sendiri diambil dari nama sebuah cagar budaya tempat berdiamnya suku To Wana yang merupakan suku pedalaman asli di Kabupaten Morowali.
Morowali yang berarti ― gemuruh air ―.57
Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah yang dilahirkan pasca reformasi. Mekar sebagai daerah otonom yang terbentuk secara bersamaan dengan dua kabupaten lainnya, berdasarkan amanat Undang- Undang Nomor 51 tahun 1999 tentang pembentukan kabupaten Buol, Banggai Kepulauan, dan Morowali. Dinamika perjuangan untuk melahirkan kabupaten Morowali sudah lama tumbuh dan menggelora di hati masyarakat. Aspirasi tersebut terus berkembang yang kemudian sampai pada tingkat lahirnya kemampuan politik dari wakil-wakil rakyat di lembaga DPRD dengan di cetuskannya Resolusi DPRD-GR Provinsi Sulawesi Tengah nomor : 1/DPRD/1966 yang isinya meminta kepada
57Observasi 27 Desember 2018
pemerintah pusat agar provinsi Sulawesi Tengah dimekarkan menjadi 11 daerah otonom tingkat II, yaitu 2 kotamadya dan 9 kabupaten, salah satu diantaranya adalah kabupaten Morowali (pada saat itu masih disebut Mori Bungku). Sebelumnya, Morowali merupakan bagian dari wilayah kabupaten Poso yang membentang dari arah tenggara ke barat dan melebar ke bagian timur. Pada tanggal 3 november 1999 daerah ini resmi berpisah dari kabupaten Poso dan membentuk wilayah administrasi sendiri dengan nama kabupaten Morowali, dengan ibu kota di Bungku.
Terbentuknya Kabupaten Morowali saat ini merupakan hasil dari dinamika politik dan perkembangan sejarah yang dilatarbelakangi oleh beberapa hal yaitu :
a. Perang antara suku dan kerajaan di mana kedudukan antara To Mori dan To Bungku yang sering mendapat serangan dari suku-suku terdekat dan kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Luwu menguatkan dorongan solidaritas di antara keduanya. Kerajaan Mori sering mengirim bantuan pada kerajaan Bungku, sebaliknya kerajaan Mori dan Bungku seringkali terlibat dalam praktek perdagangan tingkat longkal misalnya, To Bungku yang datang melakukan pertukaran barang dagangan berupa hasil ladang, ternak, dan pangan di pasar masyarakat Mori.
b. Penyatuan dalam satu pemerintahan terjadi melalui serangan tentara Belanda ke pemukiman masyarakat pedalaman yang tinggal di daerah- daerah pesisir, seperti yang terjadi terhadap masyarakat Taa Wana
Posangke yang di pindahkan dari pedalaman ke daerah pesisir meliputi
Taronggo dan Lemo yang sekarang disebut kecamatan Bungku Utara.
Serangan Belanda ini telah berperan besar dalam membagi daratan Morowali dalam penyebaran tiga suku besar yaitu To Bungku, yang banyak mendiami wilayah Bungku Tengah, Bumi Raya, hingga Bungku Selatan. Dalam sebuah dokumen, menjelaskan bahwa leluhur masyarakat asli Bungku hidup pada abad 16, yakni tahun 1597 Masehi ketika raja Bungku pertama dijabat Sangia Kinambuka. Zaman itu seangkatan dengan sultan Babullah di Ternate, Maluku Utara (1570- 1585). Sementara To Mori terdapat di bagian Petasia hingga Mori Atas.
Pada bagian utara wilayah pegunungan Mamosalato hingga Baturube dihuni oleh suku asli Tau Taa Wana. Selain tiga suku besar ini, terdapat juga suku pendatang yang sudah turun temurun mendiami wilayah Morowali, yaitu Buton, Ternate, Bugis, Toraja, yang disusul kemudian masyarakat transmigrasi Jawa, Lombok, dan Bali. Di seputar teluk Tolo banyak dihuni oleh suku Bajo, yang kehidupannya akrab dengan laut.
c. Konflik perebutan ibu kota dimana penempatan sementara waktu ibu kota Morowali di Kolonodale telah mendorong demonstrasi besar- besaran masyarakat Bungku pada bulan september tahun 2001 yang mendesak Pemerintah Kabupaten untuk merealisasikan salah satu amanat Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 yakni penempatan ibu kota di Bungku. Sebaliknya, kelompok yang ingin mempertahankan ibu Kota di Kolonedale tampil berjuang agar ibu kota tetap di sana. Polemik
perebutan ibu kota ini mendorong lahirnya wacana pemekaran kabupaten baru.
Saat proses pemindahan, inisiatif pemekaran akhirnya dilakukan dengan menggunakan sentimen pembagian wilayah berdasarkan sejarah teritori kesukuan antara Mori dan Bungku. Akhirnya pada tahun 2013, DPR RI mengesahkan usulan pemekaran itu melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013 tentang pembentukan Kabupaten Morowali Utara.
Kemudian, Kabupaten Morowali resmi di mekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Morowali dan Kabupaten Morowali Utara.
Kabupaten Morowali memiliki luas 5472 kilometer pesegi, dengan jumlah penduduk 113.132 jiwa. Morowali adalah kabupaten terluas ke -10, terpadat ke-9, dan memiliki populasi terbanyak ke-12 di Sulawesi Tengah.
Dan dalam kehidupan sehari-harinya masyarakat Kabupaten Morowali mempunyai pekerjaan beraneka ragam. Namun pekerjaan yang dominan yaitu petani dan nelayan.
Kabupaten Morowali memiliki wilayah berupa daratan, pegunungan, lembah, dan juga berupa pulau-pulau kecil yang memiliki batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan wilayah Morowali Utara 2. Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Sulawesi Selatan 3. Sebelah Barat Daya berbatasan dengan Wilayah Sulawesi
Selatan
4. Sebelah Timur Laut berbatasan dengan wilayah Sulawesi Tenggara
Secara administratif Kabupaten Morowali terbagi menjadi 9 Kecamatan, 126 Kelurahan, dan 7 desa . Kecamatan-kecamatan tersebut terdiri dari :
1. Kecamatan Menui Kepulauan 2. Kecamatan Bungku Selatan 3. Kecamatan Bungku Pesisir 4. Kecamatan Bahodopi 5. Kecamatan Bungku Timur 6. Kecamatan Bungku Tengah 7. Kecamatan Bungku Barat 8. Kecamatan Witaponda 9. Kecamatan Bumi Raya
Keadaan keagamaan Morowali bisa dilihat dari mayoritas penduduk di Morowali 90% pemeluk agama Islam, yang dimana 10% pemeluk agama Nasrani itu bukan penduduk asli Morowali.
2. Potensi Unggulan Morowali
Secara topografi, wilayah kabupaten Morowali yang terdiri atas pegunungan, daratan, dan perairan menjadikan wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dikelola. Sumber daya alam yang dimiliki oleh kabupaten Morowali terdiri dari beberapa sektor di antaranya adalah :
a. Pertanian dan Perkebunan
Sektor pertanian dan perkebunan merupakan sektor andalan di Kabupaten Morowali karena sebagian penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sektor pertanian didominasi tanaman pangan dan holtikultura seperti padi, palawija serta buah-buahan.
Pertanian menjadi salah satu lokomotif andalan di kabupaten Morowali, pemerintah daerah memberi perhatian yang besar terhadap peningkatan produksi padi sawah. Berbagai regulasi lunak diciptakan untuk mendorong upaya ini, pelatihan dan pengembangan kemampuan petani serta penerapan teknologi tepat guna juga dilaksanakan. Pada sektor pertanian kontribusi utamanya terletak pada tanaman pangan khususnya produksi padi di kabupaten Morowali cukup tinggi. Pada tahun 2009 total produksi adalah 51.071 ton dengan tingkat produktivitas 40,08 kw/ha dengan luas panen sebesar 12.700 Ha. Produksi ini meliputi padi sawah dengan jumlah produksi sebesar 49.442 ton dengan produktivitas 40,07 kw/ha dan padi ladang sebesar 1.457 ton dengan
produktivitas 25,84 ton. Di sektor perkebunan, Morowali memiliki komiditi utama nasional, yaitu kelapa sawit, kakao, kelapa, cengkeh, kopi, pala, kemiri, dan jambu mente. Untuk kelapa sawit luas daerah yang ada mencapai 17 ribu hektar. Pada tahun 2009 jumlah produksi kelapa sawit mencapai 117.340 ton dengan luas areal tanam 6.114 Ha, produksi kakao mencapai 698 ton dengan luas areal tanam 1.638 Ha dan produksi jambu mente mencapai 258 ton dengan luas areal tanam 1.417 Ha.
b. Kelautan dan Perikanan
Garis pantai kabupaten Morowali kurang lebih 500 kilometer, dengan luas perairan laut sekitar 29.962,88 kilometer persegi memiliki potensi biotik yang jenis dan jumlahnya cukup banyak.
Terdiri dari berbagai jenis ikan, kepiting, cumi-cumi, gurita, rumput laut, dan kerang mutiara. Sedangkan untuk perikanan budidaya antara lain tambak dan kolam dengan jenis potensi udang windu,, bandeng, ikan mas, nila, dan udang gajah. Selama ini jenis ikan pelagis ekonomis rendah seperti kembung, teri, dan layang yang banyak ditangkap nelayan. Hasil tangkapan dalam bentuk segar dan kering umumnya untuk konsumsi lokal atau luar daerah. Pada tahun 2009 produksi perikanan tangkap laut dan umum mencapai 6.741,46 ton. Produksi perikanan tambak mencapai 3.703,10 ton, produksi perikanan budidaya laut mencapai 216.960 ton, dan produksi perikanan jaring apung mencapai 90,50 ton. Potensi
budidaya rumput laut juga menjadi primadona di Morowali, dalam pengelolaan budidaya rumput laut, pemerintah daerah telah menyediakan dana bagi kelompok petani dan saat ini telah ada 200 kelompok petani budidaya rumput laut. Area pengembangan rumput laut terbesar terdapat di kecamatan Menui Kepulauan dan Bungku Selatan dengan luas 3 ribu hektar. Selain itu terdapat pula potensi budidaya teripang dengan lahan yang tersedia 189 hektar yang siap di manfaatkan dan tersebar di kecamatan Bungku Selatan, Bungku Tengah, dan Menui Kepulauan.
c. Pertambangan
Di sektor pertambangan, kabupaten Morowali menyimpan deposit tambang yang cukup besar. Seperti minyak bumi, nikel, besi, dan chromit. Untuk nikel Morowali memiliki luas areal 150.000 Ha, lokasinya menyebar hampir disebagian wilayah Morowali dengan cadangan diperkirakan akan sampai 8 juta WMT. Untuk chromit yang merupakan bahan galian yang banyak digunakan dalam industri baja dan industri bahan kimia, cadangannya diperkirakan mencapai 1 juta ton terdapat di kecamatan Bungku Tengah dan kecamatan Bungku Barat. Begitu juga dengan batu gamping yang cadangannya mencapai 30 juta meter kubik dengan luas area 25 Ha yang berada di kecamatan Bungku Selatan. Saat ini tercatat sekitar 21
perusahaan baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN) telah memperoleh izin eksplorasi tambang di kabupaten Morowali.58
Potensi Pertambangan dan Energi Kabupaten Morowali yang telah Dikelola, jenis Bahan Tambang/ GalianLuas Area (Ha)Lokasi Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam—Nikel.
d. Hutan dan Cagar Alam
Kabupaten Morowali juga memiliki potensi sumber daya hutan yang cukup besar. Pada tahun 2009 kabupaten Morowali memiliki hutan seluas 1.158.846 Ha, terdiri dari hutan lindung seluas 436.756 Ha, hutan produksi biasa tetap seluas 181.366 Ha, hutan produksi terbatas seluas 238.177 Ha, hutan yang dapat di konversi seluas 61.216 Ha dan hutan suaka alam serta hutan wisata 241.331 Ha.
Hasil hutan non kayu, kulit dan daun mencapai 29.777,185 ton dan hasil perbaruan (madu) 23.604 liter. Cagar alam di kabupaten Morowali memiliki luas 225.000 Ha. Kawasan ini merupakan wilayah konservasi terluas kedua di provinsi Sulawesi Tengah. Berbagai flora dan fauna dilindungi ada di kawasan ini seperti anoa, babi rusa, musang coklat, dan burung maleo.
e. Peternakan
Pengembangan potensi ternak di kabupaten Morowali memiliki prospek yang cukup baik. Populasi ternak besar dan ternak kecil
58Observasi 29 Desember 2018 Pukul: 14.17
relatif cukup memadai dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, maupun untuk keperluan perdagangan antar daerah. Pada tahun 2009 jumlah populasi sapi sebanyak 17.568 ekor dengan produksi daging mencapai 357,09 ton, populasi kerbau sebanyak 794 ekor dengan nilai produksi daging mencapai 3,04 ton, dan populasi kambing sebanyak 4.215 ekor dengan nilai produksi daging sebesar 287,36 ton. Sedangkan populasi ayam kampung sebanyak 214.245 ekor dengan nilai produksi telur mencapai 127,38 ton, populasi ayam ras pedagang sebanyak 58.000 ekor, dan populasi itik sebanyak 9.334 ekor dengan nilai produksi telur mencapai 108,61 ton.59
f. Pariwisata
Kabupaten Morowali memiliki potensi pariwisata yang beragam, mulai dari wisata alam, wisata bahari sampai dengan wisata budaya yang cukup beragam. Pariwisata di kabupaten Morowali lebih diarahkan untuk pengembangan pariwisata dalam rangka peningkatan pertumbuhan ekonomi, sehingga dapat membuka lapangan kerja dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat serta pendapatan asli daerah. Di kabupaten Morowali terdapat beberapa jenis obyek wisata bahari seperti pantai pasir putih dan beberapa pulau (pulau sambori dan pulau koikoila) yang terdapat di kecamatan Menui Kepulauan. Kemudian, wisata budaya seperti peninggalan makam Raja Bungku yang terdapat di Kecamatan
59Observasi 29 Desember 2018