• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Profil Subjek Penelitian

2. Subjek 2

a. Deskripsi Subjek 2

Subjek kedua dalam penelitian ini merupakan remaja putri berusia 19 tahun, yang merupakan lulusan SMA dan saat ini menjadi karyawan koperasi di bagian perekapan. Subjek merasa tidak nyaman di lingkungan kerjanya saat ini dikarenakan sikap yang tidak baik dari manager dan kasir yang kebetulan suami istri. Subjek sering mendapatkan perkataan-perkataan yang tidak baik tentang dirinya.

Akan tetapi, subjek tetap berusaha untuk bertahan di tempat kerjanya karena kebutuhan.

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa subjek merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Subjek tinggal bersama dengan bapak, nenek dan kakak sepupunya. Sementara kakak lelakinya sudah hidup mandiri karena bekerja di luar kota.

b. Deskripsi Singkat Terkait Kematian Ibu dari Subjek 2

Menurut pengakuan subjek dalam wawancara, almarhum ibu meninggal ketika subjek TK. Penyebab ibu meninggal bukan karena sakit, akan tetapi karena dampak dari usaha untuk menggugurkan bayi yang ada di dalam kandungan.

c. Pelaksanaan Wawancara Subjek 2

Tabel 3.2 Pelaksanaan Wawancara Subjek 2

Hari, tanggal Tempat Waktu

Rabu, 22 Juli 2015 Rumah M Pukul 14.30-16.00 WIB

Rabu, 12 Agustus 2015 Rumah M Pukul 10.20-10.50 WIB

d. Analisis Subjek 2 1). Penerimaan Diri

Berdasarkan hasil wawancara, terkadang subjek bisa lupa jika ibunya sudah meninggal akan tetapi tak jarang ingatan akan almarhum ibu masih sering muncul. Hal tersebut membuat subjek

merasa sedih dan belum dapat menerima keadaan tersebut sepenuhnya. Subjek mengatakan demikian:

“Yo maksute piye yo, yo teko jalani wae lah. Soale kadang aku ki mikire, yo kadang teko sok merasa lali barang kadang yoan lo mbak. La kan wis terbiasa ibu nggak ada. Ya njuk kadang lali lah. Tapi yo kadang nek pas inget yo, kok kenapa ning aku gitu lo, sedih lah. Maksute le ibu e nggak ada, kenapa kok ibuku gitu lo.”

(Subjek 2, 514-523) Subjek merasa kehilangan kasih sayang dan kehilangan sosok yang menjadi tempat curhat. Subjek sering berandai-andai jika ibu masih ada, maka dirinya akan lebih baik dari saat ini. Meskipun subjek mengaku dirinya sudah ‘pasrah’, tapi tetap saja perasaan menyesali keadaan yang sudah terjadi masih sering muncul. Hal tersebut sesuai dengan perkataan subjek saat wawancara:

Yo kadang nek misal ada apa-apa, hanya mikire paling nek ada ibu aku nggak bakal kayak gini. Ngono lo mbak. Yo maksute untuk hidupku saat ini. Yo ming mikire, ngopo to kok malah ra ono. Maksute sing tak ajak aku curhat. Mesti mikire yo ming, seandainya ada ibu pasti aku bakal cerita apa-apa nang ibu. Yo mikire pasti nek ada ibu, aku bisa menjadi lebih baik lah. Yo sok kangen-kangen juga. Kadang nek bengi-bengi gitu sok kangen juga. Yach, maksute ya kasih sayange ki baru aja, belum penuh. Yo aku sih njuk teko sok pasrah gitu lo. Yo kadang njuk teko sok nggetuni (=menyesali) ngono lo. Wah

aku yo belum merasakan kasih sayang ibu sepenuhnya.” . (Subjek 2, 566-580 dan 1049-1053)

Selain itu, subjek sering merasa iri ketika melihat kedekatan antara seorang anak dengan ibu dan ketika teman-teman

menceritakan tentang ibunya masing-masing. Dalam wawancara, subjek berkata demikian:

“...Yo njuk mulai kerasa banget disitu. Eh kok yo pada akrab banget e ma ibu. Sedangkan aku ming bapak. Yo maksute ma bapak yo deket, tapi kan nggak ada ibu njuk nggak ada sing tak ceritake. Yo gitu itu lah mbak. Yo kadang kalau pas kumpul ma temen-temen di sekolah dulu, pada cerita-cerita tentang ibu . Njuk nek sekarang ini misal ada acara-acara, misal kumpul kelurga apa kondangan gitu sok pada duduk-duduk ro ibu e. Yo irine ya karna hal-hal kayak gitu lah mbak. Kok do karo ibu, sedangkan aku tidak gitu lo.”

(Subjek 2, 1026-1046) Menurut subjek keadaan ekonomi keluarganya pasti akan lebih baik apabila ibu masih ada, karena ibu bisa membantu bapak bekerja. Subjek mengatakan demikian:

“Kan bapak sendirian, otomatis kebutuhan keluarga kan ya cuma dari penghasilane bapak. Nek misal masih ada ibu kan ya setidaknya bisa membantu, kan pasti juga bisa bantu bapak kerja.”

(Subjek 2, 840-845)

Subjek juga merasa dirimya akan lebih baik di agama jika ibu masih ada, karena ibu akan membimbingnya untuk mempelajari agama. Berikut pernyataan subjek saat wawancara:

“.. Jane nek ada ibu mesti kan iso pengajian bareng, yo di ajar-ajari ngono lah. La tapi nek sekarang kan kabeh-kabeh kudu dewe. Ya punya keinginan, tapi le melakukan kui lo. Nek misal masih ada ibu kan terus ada yang memotivasi.”

Subjek menyadari akan kesalahannya yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, karena malas dan sudah lelah dengan pekerjaan di kantor. Subjek mengatakan demikian:

“Ya bagi-bagi. Ya pengene mbakku sih mungkin aku suruh nyapu sik sebelum kerja. Tapi kan aku ra ono waktu kan mbak. Ya meskipun kerja gak banyak kerjaan, tapi kan yo kesel kan mbak. Yo aku yo salah juga sih. Cuma kan yo kesel. Yo janne yo iso sih, aku le bangun rodo gasik njuk iso nyapu-nyapu sik. Yo tapi piye ya, aku ki sok males juga sih mbak. Maksute orange wegahan mbak. Soale ya wis kesel kui.”

(Subjek 2, 779-785 dan 803-804)

Meskipun demikian, subjek masih bisa mensyukuri dengan hidupnya saat ini karena memiliki bapak yang dapat berperan sebagai bapak sekaligus ibu. Hal tersebut yang membuat subjek merasa bangga dengan bapak, seperti yang dikatakan saat wawancara demikian:

Yo segalanya, bangga lah. Yo bapak kan berperan sebagai bapak yo ibu.”

(Subjek 2, 681-691)

2). Relasi Positif dengan Orang Lain

Berdasarkan hasil wawancara, subjek memiliki hubungan baik dengan teman kantor yang menjabat sebagai kasir. Subjek sering menjadi tempat cerita oleh teman kantornya tersebut. Subjek banyak mendengarkan ketika menjadi tempat untuk cerita dan hanya memberi tanggapan seperlunya. Di sisi lain, subjek merupakan pribadi yang pendiam dan tidak terbuka dengan

teman-teman kantor. Begitu pun dengan atasan, subjek hanya berbicara seperlunya saja. Subjek mengatakan demikian:

“Ya mbak kasir itu sok cerita tentang suamine. Tapi aku ra tau, nggak pernah cerita tentang pribadiku nang mbak’e kui. Dadi aku ra terbuka wonge mbak. Yo apik sih sebenere nek sama kasire yang istrine manager itu. Nek deknen cerita, yo wis cerita. Yo tak tanggepi seperlunya aja, yo lebih banyak ndengerin sih mbak. aku yo nggak pernah cerita apa-apa malahan. Yo nek nang kerjaan yo ming meneng kok mbak. Aku nek misal ra dipanggil gitu yo nggak ngomong, males kok. Nek ro bosku ya nek ngomong-ngomong yo hanya seperlunya.” (Subjek 2,18-26, 240-241, 356-357, 370-371 dan 293-295)

Subjek juga cukup akrab dengan semua teman kantornya. Tidak ada konflik antara subjek dengan teman-teman di kantornya. Berikut pernyataannya saat wawancara:

“Yo akrab sih, penak kok mbak. Yo nek keluar-keluar rumah ngono yo nggak pernah kok mbak. Yo nggak pernah sih dolan ro temen-temen kantor. Pernah sih tapi ming ro sak temen tok, kui ya cuma nang kos’e tok. Belum pernah ada konflik juga.”

(Subjek 2, 276-282)

Selain itu, subjek juga memiliki hubungan baik dengan teman-teman lamanya saat SMA. Diantara subjek dengan teman-teman-teman-temannya tersebut saling terbuka satu sama lain. Meskipun saat ini jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, akan tetapi hubungan masih tetap terjaga dengan menjaga komunikasi lewat handphone. Subjek mengatakan demikian:

“Yo bagus sih. Tapi yo nggak pernah main. Yo ada sih temen deket SMA, tapi kan saiki wis pada sibuk dewe-dewe semenjak lulus itu lo mbak, dan do semenjak kerja. Kui trus nggak pernah ketemu. Yo kadang, dia sok kesini datang ke rumahku.

Tapi ya itu, nek nggak perlu banget yo ora. Yo nek apa-apa dikandani mbak. yo misal ada info temen nikah, punya anak gitu itu. Yo komunikasi lewat HP. Tapi yoo nek penting, nek ra penting yo ora kok mbak. Jarang lah. Sebenere apik-apik ro temen-temen sih. Cuma nek ra penting banget yo do ra sms kok. Yo suka curhat. Ya maksute yo pada terbuka sih. Cuma yo emang jarang ketemu. Tapi yo ada sih, nek misal ada waktu yo

teko kesini. Yo ming teko curhat-curhat gitu mbak.” (Subjek 2, 386-407)

Subjek juga memiliki hubungan baik dengan teman di lingkungan rumah. Berikut pernyataannya ketika wawancara:

“Ya paling ming ro si T. Dia pun jarang, kan kuliah. Ya aku sih paling akrabnya ming sama T kok. Kan rumahe ndelalah yo deket to, ming depan belakang Trus yang agak jauh disana paling ming 2 anak. Wis ming itu. Laine do ra akrab. Apalagi

sing rumahe jauh-jauh sana.”

(Subjek 2, 412-420)

Subjek selalu berusaha untuk menjaga hubungan pertemanannya dengan saling mengerti, mengalah dan tidak saling menyakiti. Hal tersebut dilakukan agar hubungan subjek dengan teman-teman tetap baik. Subjek mengatakan demikian:

“Kalau dengan teman-teman dekatku sih nggak pernah. Ya pokoke harus bisa saling ngerti, ngalah, gak menyakiti, ya gitu sih ben hubungane tetep apik. “

(Subjek 2, 425-429)

Pacar menjadi tempat untuk cerita ketika subjek kangen dengan ibu dan subjek mendapat dukungan kekuatan dari ibu pacarnya tersebut. Selain itu, subjek juga terbuka dengan pacar dengan masalah yang sedang dihadapi. Subjek mengatakan:

“Ya aku kadang kan cerita sama pacarku nek kangen. Dia juga cerita ro ibuke. Yo mungkin ibunya bisa mengerti, wong ya digemateni. Wong ya wis nggak punya ibu, kasian. Untungnya ibu e ki ngono, jadi aku kan yo seneng kan mbak.Malah cerita ke pacar. Yo Alhamdulilahe wae bisa ngerteni lah.”

(Subjek 2, 549-555 dan 584-586) Sementara itu, subjek tidak pernah menceritakan masalah yang sedang dialaminya ke bapak, karena khawatir akan membebani bapak. Begitu pula dengan kakak, subjek juga tertutup dengan masalah yang sedang dialaminya. Ketika wawancara, subjek mengatakan:

“Yo kan misal aku cerita ro orangtuaku kan yo nggak mungkin, nanti malah kepikiran to.Iya dong mbak. Kasihan to wong tinggal punya bapak. Kasihan nek trus malah melu mikir. Kan aku ra terbuka mbak kalau sama bapakku. Maksute kalau ada apa-apa, aku jarang cerita ro bapak sama masku yo nggak pernah. Nek masalah pribadi aku nggak pernah cerita ro bapak. Nek masalah kerjaan aku yo nggak pernah cerita. Yo biasa kok mbak. Akrab sih. Tapi nek masalah pribadi, masalah kerjaan ra tak ceritake. Yo kadang yo ming ngobrol-ngobrol

biasa.” . . (Subjek 2, 170-178, 580-584, 669-675)

Kedekatan subjek tampak dari perhatian yang subjek berikan untuk bapak ketika memberi ijin untuk bapak menikah lagi. Meskipun pada akhirnya bapak tidak mau untuk menikah lagi. Hal tersebut dilakukan karena subjek memikirkan kehidupan masa tuanya bapak. Subjek mengatakan demikian:

“Yo piye yo mbak, kan aku terbiasa apa-apa dengan bapak. Jadi yo cedak. Ya maksute, nek minta opo-opo kan trus cuma ma bapak to. Bapakku tu ya, maksute piye ya.Dulu kan pernah tak tawarkan, ya nek misal meh nikah maksute ki nggak popo.

Yo aku SMP SMA lah mbak aku ngomong ngono ke bapak. Tapi yo bapak emang nggak mau kok. Ya kan, masa tuane tu lo mbak. Ya maksute kan aku besok-besok juga punya suami. La trus, bapak meh dengan siapa. Trus yang ngurusi bapak siapa gitu to. Gitu kui sih mbak. Kepikiran masa tuane. Tapi, bapak emoh kok yo wis. Kan aku juga nggak mungkin maksa to mbak.”

(Subjek 2, 681-691 dan 726-734) Sementara itu, hubungan subjek dengan kakak sepupumya sering tidak baik dikarenakan pekerjaan rumah. Subjek tidak mengerjakan pekerjaan rumah karena bekerja, sedangkan kakak sepupu ingin subjek meluangkan waktu untuk ikut mengerjakan pekerjaan rumah. Berikut pernyataan subjek saat wawancara:

“Yo biasanya sama mbak sepupu, sik anake budhe kui lo. Kan maksute nek soal kerjaan rumah sok jarang megange lah. Nek ra minggu maksute. La soale kan yo wektune, berangkat yo jam segitu. Yo ming sok ngomong,”Kok ra pernah ndemek gawean ngomah to?” Yo piye ya, la aku yo kerja e mbak. Aku nek misal iso yo tak kerjakan sendiri. Yo ming masalah kerjaan rumah sih. Aku yo seringnya ro mbakku itu, nek ro bapak malah ra tau. Yo sering ngono kui mbak. Ya piye ya, orange ki emang akeh omonge, banyak bicara mbak. Yo nek di rumah yo ming masalah kerjaan rumah tok.”

(Subjek 2, 739-756)

Subjek mendapatkan perhatian dari neneknya dengan menyiapkan makan untuk subjek. Meskipun demikian, subjek sering menegur supaya istirahat karena neneknya sudah tua seperti yang subjek katakan saat wawancara:

“Mbah ki usia meh 100 tahun mbak. Yo wis sepuh lah. Kadang nek mbah bangun gasik, kadang sok nanak nasi mbak. Perhatian ro aku mbak. Sok ngliwetke nggo aku, buat sarapan. Kadang kan aku kan, wis lah mbok yo istirahat wae kan aku

nek makan gampang iso beli lah. Tapi ki kadang yo tetep kui nanakke nasi kui juga. Yo kui, gemati (=perhatian) banget.”

(Subjek 2, 822-832)

Subjek menjaga hubungan dengan saudara-saudara yang tinggalnya jauh dengan menjaga komunikasi dan saling member informasi. Subjek mengatakan demikian:

“Cuma yo nek ada hal yang penting baru ngabari. Nek misal nggak ada, yo ora mbak. Nek sepupu yo jarang mbak, jauh to soale. Yo jarang sih mbak. Tepi nek sama anaknya pakdhe sok kontak-kontakan. Kan ada yang kerja nang Bandung, Bogor. Ya hanya sekedar kontak-kontakan biasa, komunikasi lah ben gak keputus.”

(Subjek 2, 986-977) Sementara itu, subjek memiliki hubungan yang tidak baik dengan keluarga besar almarhum ibunya. Subjek merasa tidak cocok karena kondisi ekonomi yang berbeda dengan dirinya. Selain itu, subjek merasa sakit hati karena pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik sehingga hubungannya menjadi tidak harmonis. Subjek menceritakan dalam wawancara demikian:

“Nek ibu ki soale kan wong ndue (=berkecukupan) kan mbak. Jadi aku tu kalau dengan saudara-saudara ibu tu nggak terlalu deket, soale kan mereka kaya-kaya. Yo agak sombong sih mbak. Soale dulu ki pernah konflik dengan masku soal apa gitu waktu aku kecil. Jadi masku ki tersinggung sama pakdheku ki ngomong apa gitu kan njuk mas nggak mau kesana lagi. Ya aku kan orange isinan, dadi nek kon kesana dewe kan emoh gitu lo, yo isinan banget. Malah pernah ngomong nek nggak mau diajak saudaraan, ngono. Semenjak ibu nggak ada, gitu lo maksute. Ya bapak sih sok bilang mbok kesana sendiri. La tapi ki jarang nek kesana juga gitu lo mbak bapak ki. Yo jadi yo nggak deket lah mbak semenjak ibu meninggal. Njuk dulu ki pernah ada omongan kalau mas kesana tu cuma mau minta

duit. Dadi ki nek misal aku kesana, pasti pikirane oh arep minta duit. Padahal aku ki yo ora mbak. Nek misal dikasih ya makasih, nek misal enggak yo wis nggak papa. Yo wis njuk ra pernah rono juga. Yo males juga to mbak wis pernah digituin

to.”

(Subjek 2, 980-110)

3). Otonomi

Subjek merupakan pribadi yang tetap bertahan pada keputusannya sendiri, yakni tetap bekerja di tempat kerjanya saat ini, meskipun pacar memintanya untuk keluar. Hal tersebut sesuai dengan perkataan subjek ketika wawancara yang mengatakan demikain:

“Yo trus biasane cerita karo pacar. Yo trus kasih solusi, suruh keluar to. La tapi aku kan butuh. Jadi yo nggak mau keluar

tetepan.”

(Subjek 3, 179-182) Di sisi lain, subjek memiliki kekhawatiran untuk hidupannya kelak ketika dirinya menikah. Subjek merasa khawatir ketika besuk menikah lalu memiliki anak, tetapi dirinya tidak memiliki sosok ibu yang bisa membantu dan tidak memilik tempat untuk bertanya. Ketika wawancara, subjek berkata demikian:

“Trus kadang yo, wah besok pas aku nikah nggak ada ibu. Maksute terus nek misal aku ada apa-apa trus dengan siapa. Setidaknya, besuk nek misal aku wis punya anak. Maksute sosok ibu kan biasane trus bantu-bantu momong. Maksute ya trus njuk aku besok dengan siapa nek nggak dewe ngono lo. Iyo. Yo kayak njuk piye yo mbak. Antara sedih ro takut tu lo. Kan trus pas nikah wah ibu nggak ada, njuk nggak liat aku nikah. Njuk aku punya anak, ibu yo nggak ngerti. Nggak iso bantu-bantu juga. Yo ngono kui lah mbak. Trus piye gitu lo.

Biasane do takon-takon nang ibu. La aku wis nggak punya ibu. Ngono kui lo mbak.”

(Subjek 2, 523-544)

4). Penguasaan Lingkungan

Berdasarkan wawancara, subjek merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerjanya saat ini. Hal ini dikarenakan, subjek sering menjadi sasaran kemarahan teman kerjanya. Akan tetapi, subjek tidak berani untuk melawan. Subjek memilih untuk mengalah dan menerima seperti yang dikatakan saat wawancara:

“Nek nang kerjaan ki ya piye ya mbak. Yo penak nggak penak, nyaman gak nyaman sih mbak. Kan nang kerjaanku kan cewek e ming 2. Nah posisine ki aku dan kasir yang cewek. Nah kasirnya itu ki istri managerku. Nah trus kadang sok marah-marah nang kantor kae lo. Aku sering jadi sasaran marahe. Yo, aku sih ming meneng wae mbak. Nggak berani to nek ngelawan apa komentar gitu. Ya teko ngalah, teko tak trimani wae”

(Subjek 2, 3-12 dan 14-18)

Begitu pula ketika atasan bersikap mendiamkan subjek karena kesalahan yang dilakukannya, subjek tidak berani untuk menanyakan kesalahannya. Subjek sebenarnya merasa sakit hati ketika mendapat perkatakan tidak baik dari manajernya, namun subjek tetap diam tidak berani berkomentar. Subjek menyatakan demikian:

“Tur misal masalah pekerjaanku, misal aku ada kesalahan. Tapi ki ra langsung diutarakan secara langsung ki ora, yo teko meneng kae lo mbak. La trus piye nek kayak gitu taunya. La aku yo nggak ngerti opo-opo to. Yo aku yo bingung sok’an. Yo kayake ki tidak membuat kesalahan, tapi kok njuk teko sok

menengke aku gitu lo mbak. Meh tanya yo nggak berani. Kadang tu suka disindir kayak gini, “Nek uwong kerja nang koperasi ora bidange ki nggo opo? malah gawe rekoso!” Ngono kui lo mbak. Padahal kan ono aku disitu. Kan yo sakit to mbak nek digituke. Yo aku teko diem wae.”

(Subjek 2, dan 35-46 dan 69-75) Subjek berusaha untuk berusaha bekerja sebaik mungkin untuk menghindari perkataan-perkataan tidak baik dari managernya. Berikut pernyataan subjek ketika wawancara:

“Yo ngono sih mbak. Yo berusaha kerja sebaik mungkin aja, ben nggak dapet sindiran-sindiran lagi.”

(Subjek 2, 158-160)

Saat di rumah, subjek menyadari kewajibannya untuk mengerjakan tugas-tugas rumah ketika ada waktu. Subjek menyatakan demikian:

“Nek misal aku selo, yo tak kerjakan. Yo tetep resik-resik rumah. Ra mungkin kan ora mbak. Wong ya omahe dewe. Nek misal aku pas libur, aku disuruh masak yo aku masak.”

(Subjek 2, 787-792)

5). Tujuan Hidup

Berdasarkan hasil wawancara, yang menjadi tujuan hidup subjek saat ini adalah keinginannya untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus meminta ke bapak seperti yang dikatakan subjek demikian:

“…Ya pengennya tercukupi lah. Yo aku we gajian, tapi yo masih sok minta orangtua kok mbak, kadang. Kan bensin ngono-ngono yo jih njaluk. Kan yo pengen gajine lebih ngono

kui. Pengene ya punya gaji lebih to, dadi iso setidaknya mencukupi kebutuhanku dewe ngono lo. Gak minta-minta bapak meneh ngono lo.”

(Subjek 2, 857-866)

6). Pertumbuhan Pribadi

Berdasarkan hasil wawancara, subjek menerima kemampuannya saat ini tanpa memiliki keinginan untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Hal ini tampak dari perkataannya ketika wawancara yang mengatakann demikian:

Tapi kan kemampuanku ming semono kan mbak. Yo ming isone koyo ngono kui. Ya nggak bisa ngapa-ngapa mbak. La kan kemampuanku cuma segini, ya mungkin emang segitu yang bisa tak dapet dengan kemampuan segini. Ya paling cuma nunggu keajaiban kalau ada kenaikan gaji. Haha.”

(Subjek 2, 867-869 dan 872-878)

Dokumen terkait