BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Profil Subjek Penelitian
3. Subjek 3
a. Deskripsi Subjek 3
Subjek merupakan seorang mahasiswi berusia 19 tahun. Saat ini, subjek sedang menempuh kuliah semester 1 di jurusan Sastra Inggris di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Selain sibuk di perkuliahan, subjek juga aktif mengikuti beberapa kegiatan di kampus antara lain UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) bahasa asing, HIMA (Himpunan Mahasiswa) dan bergabung di komunitas debat.
Subjek merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Subjek memiliki empat kakak dan dua orang adik laki-laki yang kembar.
Keempat kakaknya sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya masing-masing, sementara subjek tinggal bersama dengan bapak dan kedua adiknya.
b. Deskripsi Singkat Terkait Kematian Ibu dari Subjek 3
Berdasarkan hasil wawancara, kematian ibu terjadi ketika subjek SD. Ibu meninggal dikarenakan sakit komplikasi yang sudah di diderita cukup lama.
c. Pelaksanaan Wawancara Subjek 3
Tabel 3.3. Pelaksanaan Wawancara Subjek 3
Hari, tanggal Tempat Waktu
Jumat, 7 Agustus 2015 Rumah A Pukul 11.15-12.30 WIB Minggu, 30 Agustus 2015 Rumah A Pukul 15.30-16.05 WIB
d. Analisis Subjek 3 1). Penerimaan Diri
Berdasarkan hasil wawancara, subjek cukup dapat menerima keadaan akan kematian yang terjadi pada ibunya. Subjek selalu meyakinkan pada dirinya sendiri, bahwa kematian ibu adalah kenyataan yang harus diterima. Ketiadaan ibu dalam hidupnya tidak menjadi penghalang untuk subjek melanjutkan kehidupannya. Ketika wawancara, subjek mengatakan demikian:
“E..ya kalau misalnya sekarang kan kita juga maksutnya harus menerima lah emang ibu udah nggak ada. Ya sampai sekarang aku selalu kayak apa ya, e terus menyadarkan kayak nyadarin diri sendiri, iya ibu udah nggak ada, ya itu kenyataan yang harus diterima..sekarang itu kayak lebih apa ya mempercayakan diri lah. Meskipun nggak ada ibu, kamu tu harus bisa, jangan sampai apa yang sudah terplanningkan dulu sekarang malah jadi hancur cuma gara-gara nggak ada ibu, kayak gitu.”
(Subjek 3, 740-747 dan 1225-1231) Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang rasa sedih dan tertekan masih bisa muncul ketika teman-temannya ada komunikasi dengan ibunya masing-masing. Akan tetapi, subjek menyadari bahwa ini proses dan ia tetap terus belajar untuk beradaptasi. Subjek mengatakan demikian:
“Kayak yang misalkan sama temen-temen ada yang bilang, “Ah aku diSMS nih sama ibu, kenapa nggak pulang.” Oh aku udah enggak diSMS lagi. Ya sedih sih. Ya gitu itu lah. Yaudah lah, nggak papa. Ya masih terus proses beradaptasi. Sama kayak lebih tertekan aja sih. Dulunya sih yang kebiasa kayak yang tiap hari harus cerita nih. Aku ada ini, ada ini, ada ini. Sekarang udah nggak ada lagi. Ya disimpan sendiri.Padahal kalau kayak sekarang-sekarang ini kan aku lagi banyak-banyaknya cerita untuk bisa diceritakan. Gitu sih.”
(Subjek 3, 773-778)
Subjek merupakan pribadi yang banyak bicara, seperti yang dikatakannya demikian:
“aku cerewet, suka ngomong ceplas-ceplos kayak gitu. Nah padahal sometimes kalau ngomong ini, ya Allah ternyata aku omongannya kayak gitu, gitu lo.”
2). Relasi Positif dengan Orang Lain
Subjek memiliki hubungan yang baik dengan teman-temannya di kampus, seperti yang dikatakannya saat wawancara:
“maksutnya hubungan antar temen juga udah terjalin dengan baik. Mereka udah tau gimana kitanya, kita juga udah tau gimana kayak me mentreatment mereka gitu lah. Kayak gitu kalau dikampus.”
(Subjek 3, 153-158)
Begitu pun di dalam keluarga, subjek memiliki hubungan yang baik dengan adik-adiknya. Subjek peduli terhadap adik-adiknya dengan selalu membagikan pengalamannya untuk membimbing dalam menjalani hidup. Subjek mengatakan demikian:
“Jadinya sekarang kan, dirumah tu kayak orang yang ya lebih tua lah daripada adik-adikku 2 gitu kan. Jadinya aku tuh kayak yang masih dik kamu tu harus kayak gini, mendingan kayak gini, kayak gini. Kan ya bukannya gimana-gimana. Aku tu merasa kayak aku udah duluan tahu, gimana kehidupan itu. Jadi mendingan tu kayak gini. Besok tu kamu kayak gini, kayak gini lo. Nah kayak gini, ya kayak gitu, kayak gitu sih.”
(Subjek 3, 408-421)
Selain itu, subjek juga memiliki hubungan yang baik dengan kakak-kakaknya meskipun sudah hidup terpisah. Subjek mematuhi nasehat-nasehat yang diberikan kakak-kakak untuk dirinya. Meskipun terpisah jarak dengan kakak-kakak, namun subjek selalu menjaga hubungannya agar tetap baik dengan tetap menjalin komunikasi. Subjek menjaga komunikasi setiap hari dengan semua
kakak dan keponakan. Ketika wawancara, subjek mengatakan demikian:
“Kalau sama mas-mas sih, kayak aku tu lebih manut gitu lo. Soalnya kan, mas-masnya kan jaraknya juga udah jauh-jauh juga dan dia udah yang berkeluarga. Udah yang kayak misal ngasih tau, ngasih tau kayak gitu. Tapi kan untuk mas yang nomer 4 kan jaraknya nggak jauh juga, cuma 3 tahun. Kalau aku sih masih, masih mendingan gimana to mas. Kayak masih yang merengek-rengek, minta-minta gitu lo. Kalau sama mbak sih, ohya, ya tinggal manut-manut aja. Kalau caranya sih, sekarang sih lebih ke anak-anaknya gitu lo. Anak-anaknya mbak-mbakku gitu lo. Kan kayak akunya kayak pendekatan. Sebenernya pendekatan-pendekatannya tu lebih ke ponakan-ponakan gitu lo. Mungkin ini, lebih tanya ke misalnya bapak lagi ngapain, ibu lagi ngapain. Kayak gitu, kayak gitu. Oh ini, ini lo ditanyain sama bulek, misalnya kayak gitu. Nah lebih kayak gitu sih, lebih deketin ke anak-anaknya kalau enggak ya mungkin kalau sama mas mbaknya cuma kayak cerita. Lagian kan kayak jauh juga kan dari sini. Kayak gimana kabar sana, gimana kabar sini. Tapi tiap hari sih tetep SMS atau telepon, kayak gitu”
(Subjek 3, 501-514 dan 523-542) Setelah ibu meninggal, subjek sering curhat dengan kakak perempuannya ketika menghadapi masalah. Subjek tidak ingin menceritakannya ke bapak. Akan tetapi, kedekatan subjek dengan kakak mulai berbeda ketika kakaknya menikah. Subjek dapat memahami kondisi kakak yang harus lebih memperhatikan keluarganya. Subjek mengatakan demikian:
“Dan sekarang ibu udah nggak ada, ya jadi jarang cerita ke bapak. Lebih ke mbak. Biasanya e sama embak juga kadang curhat. Sama embak, misal duh kalau misalnya sekiranya permasalahan yang maksutnya kayak yang nggak sampai aku cerita ke orangtua, ya aku ceritanya sama mbak, gitu. Mbak gimana nih, aku di kampus kayak gini, hidupku kayak gini.
Misal kayak gitu, aku juga kayak sering cerita sih. Dan misalnya feedbacknya dari dia juga, ya kamu tu harusnya kayak gini, kayak gini. Jangan terlalu membuat, misalnya jangan terlalu membebankan orangtua. Misal kalau lagi ada masalah atau apa, kayak gitu sih. Seperti itu sih. Ya sering dikasih nasehat-nasehat gitu aja. Sebenarnya ada perbedaan juga iya sih. Kayak dulu sebelum berkeluarga itu, kayak kita tu kayak deket gitu lo. Masih, mbak aku ini ini ni, gimana ni, gimana. Sekarang kalau pun sekarang kan, ya aku udah tau dia kan udah berkeluarga. Jadi kayak mau ngomong yang terlalu ini sensi gitu juga nggak berani. Toh dia juga udah kayak punya keluarga sendiri yang harus diutamakan. Jadi kayak aku, aku ceritanya kayak yang masalah-masalah biasa aja yang nggak terlalu seintim dulu gitu lo. Gitu.”
(Subjek 3,648-650, 543-562, 568-583) Subjek memiliki hubungan yang dekat dengan teman-temannya. Terlebih saat ini subjek jauh dari keluarga, subjek lebih mengutamakan teman sebagai tempat untuk berbagi cerita. Subjek selalu berusaha untuk dapat menjadi pendengar yang baik untuk teman-temannya. Selain itu, subjek juga berusaha untuk dapat mengenali karakter masing-masing temannya. Demikian pernyataan subjek saat wawancara:
“E kalau sekarang sih, e apa ya aku kayak lebih mengutamakan temen gitu lo. Kayak lebih, disaat aku jauh dari keluarga sekarang ini, yang aku punya kan cuma temen. Yaudah, aku kayak share problematikku tu sama temen-temen. Tapi, kayak aku juga punya batesan-batesan sih. Dimana yang aku bisa share ke temen dan dimana aku harus menyimpannya sendiri yang itu kayak masalah pribadi. Tapi, toh disini aku juga kayak apa ya, kan deket sama temen-temen juga. Kayak misal aku bersama temen-temen-temen-temenku, aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik tapi aku juga meminta ke temen-temenku. Tolong dong aku punya kayak gini, kayak gini. Semua temen, aku berusaha buat ngenali semua temenku, satu-satu gitu lah. Kamu itu tipenya orang
kayak gimana, gimana gitu lah.”
(Subjek 3, 889-908 dan 952-955) Subjek merupakan pribadi yang ingin memiliki banyak teman. Salah satu tujuan subjek mengikuti organisasi adalah untuk menambah pertemanan, seperti yang dikatakannya:
“Kalau relasi, aku adalah typical orang yang pengennya banyak temen, kayak gitu lo. Jadi, salah satu tujuannya kayak organisasi atau apa itu kan nambah temen. Aku sih e temennya ya gimana ya, temennya banyak, aku kesana kesini.”
(Subjek 3, 943-950)
Untuk menjaga hubungan dengan teman-temannya, subjek selalu meminta maaf ketika ada salah. Subjek dapat memahami dan menghargai kesibukan dari masing-masing teman-temannya. Selain itu, subjek memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menjaga komunikasi dengan teman-temannya. Saat wawancara, subjek mengatakan demikian:
“Ya paling minta maaf, minta maaf kayak gitu, udah nyambung lagi. Besok kalau ada cekcok-cekcok lagi, marah-marah lagi, ya kayak gitu sih. Kalau untuk yang kayak nyatuin jadwal misal buat ketemuan gitu, kita sekarang harus lebih yang kita udah gedhe udah tau. Dia punya kegiatan sendiri. Kayak kita tu harus ngalah dulu lah. Biarkan dia sendiri yang mendahulukan yang mana. Ya lebih menghargai gitu lah ya. Kalau menjaga hubungan sih sekarang tetep kayak kontak-kontakan gitu sih. Tetep masih kontak-kontakan meskipun kayak kita beda kota, beda univ kayak gitu. Sekarang sih masih yang kontak-kontakan, tapi yang frekuensi untuk kayak ketemu ngumpul-ngumpul bareng gitu kan otomatis kurang. Tapi, toh lebih mengoptimalkan kayak di sosial media, atau apalah kayak gitu sih."
Sementara itu, subjek memiliki hubungan yang biasa saja dengan para tetangga di sekitar rumahnya. Subjek merasa tidak nyaman dengan lingkungan rumah karena adanya perbedaan cara pandang antara subjek dengan tetangga-tetangganya. Teman-teman seusianya di rumah sudah bekerja, menikah dan punya anak. Sedangkan subjek masih kuliah dan masih ingin belajar. Ketika ada waktu luang, subjek lebih memilih untuk pergi dengan teman-temannya daripada di sekitar rumah. Hal tersebut sesuai dengann pernyataannya ketika wawancara:
“Kalau di rumah, itu tu sebenarnya ya itu sebenarnya kalau aku di sekolah di kampus tu yang lebih cerewet. Tapi kalau, kalau aku rasa sih kalau di rumah itu biasa-biasa aja. Sama tetangga-tetangga juga yang biasa-biasa aja. Enggak yang terus say hai, gimana buk ada apa,ada apa. Kayak gitu tu enggak. Aku typical orang yang kalau misalnya ada waktu pun, enggak yang main di tetangga-tetangga gitu. Enggak yang menyambangi temen-temen sepantaran gitu enggak sih. Soalnya aku kayak ngerasa, beda sih feel ku di rumah sama di sekolah. Lagian temen-temen sepantaranku tu beda juga tu lo orientasinya. Kalau aku tu, ya gimana ya kayak mikir inilah gimana gimana gitu. Kalau sini kan kayak, ya bukannya gimana-gimana. Cuma menurutku lingkungannya tu beda sama kayak aku di sekolah gitu lo. Misalpun ada waktu luang, aku lebih milih main ke luar sama temen-temen gitu. Kalau di rumah malah jarang.”
(Subjek 3, 1113-1116)
3). Otonomi
Berdasarkan hasil wawancara, subjek sering merasa kesulitan untuk membagi waktu di kegiatan-kegiatan yang diikutinya. Untuk mengatasi kesulitannya tersebut, subjek mencoba membuat jadwal
kegiatan. Kemudian, subjek akan mendahulukan kegiatan yang lebih mendesak dan penting terlebih dahulu seperti yang dikatakannya berikut ini:
“Pertama sih, udah coba buat kayak jadwal gitu. Apa sih deadline-deadline yang harus didahulukan. Bikin jadwal dulu. Misalnya besok harus kuliah dari jam ini sampai jam ini, nanti acara ini ini ini. Tapi, meskipun buat jadwal kayak gitu sih, juga kayak sering tabrakan gitu lo. Misalnya sore ada jadwal ngerjain ini, tapi disini juga ada kumpul. Nah, misalnya kayak gitu kayak gitu. Jadi, tetep harus mikir-mikir juga sih mana yang harus didahulukan, mau deadlinenya kuliah dulu atau mau yang kumpul-kumpul dulu, gitu.”
(Subjek 3, 24-39)
Subjek menentukan sendiri kemauannya tanpa ada paksaandari siapa pun. Seperti pada saat subjek memilih universitas dan jurusan yang saat ini diambil. Subjek mempertimbangkan sendiri pilihannya-pilihannya tersebut sebelum membuat keputusan. Subjek menjadikan pendapat teman hanya sebagai pertimbangan saja, sementara keputusan tetap ada dalam dirinya sendiri. Subjek mengatakan demikian:
“E..kalau dulunya aku memilih Sasing, pertama emang aku suka bahasa inggris sih dari dulu. Terus suka bahasa Inggris kan choosenya ada 2, pendidikan bahasa inggris apa sastra inggris. Terus ekenapa aku nggak memilih pendidikan. Karena menurutku pendidikan itu kayak, dulu kan juga pernah ada sedikit pengalaman buat kayak ngajar anak-anak kecil kayak gitu, kayak gitu. Nah, aku pengen kayak sesuatu yang beda gitu lo. Aku pengen menggali lebih jauh tentang bahasa Inggris. Kalau menurutku pendidikan kan kayak, ya bukannya gimana-gimana ya sih kayak kita tu separo-separo. Separo diajarkan gimana mengajar dan separo kayak bawa bahasa inggrisnya. Kalau di Sasing, aku lebih pengen tau gimana sih
seluk beluknya bahasa inggris. Kayak gitu kan kita juga diajari kayak culturenya, terus gimana bahasa Inggris yang lebih mendalam. Kayak gitu. Tapi ya sebagaimana mungkin tetep aku, e gimana ya ikuti apa yang udah ada dulu lah. Temen tu kayak sebagai e pertimbangan gitu aja lah. Nggak usah terlalu manut sama mereka, tapi di depan kita kan pilihan kita kan ini. Yaudah ini, gini aja. Kayak gitu.”
(Subjek 3, 207-232 dan 332-340)
Selain itu, kemandirian subjek juga tampak ketika subjek mengatur dirinya untuk menjalankan semua kegiatannya. Subjek selalu mendahulukan kegiatan yang lebih penting dari beberapa kegiatan yang diikuti. Berikut pernyataan subjek ketika wawancara:
“Pertama sih, udah coba buat kayak jadwal gitu. Apa sih deadline-deadline yang harus didahulukan. Bikin jadwal dulu. Misalnya besok harus kuliah dari jam ini sampai jam ini, nanti acara ini ini ini. Tapi, meskipun buat jadwal kayak gitu sih, juga kayak sering tabrakan gitu lo. Misalnya sore ada jadwal ngerjain ini, tapi disini juga ada kumpul. Nah, misalnya kayak gitu kayak gitu. Jadi, tetep harus mikir-mikir juga sih mana yang harus didahulukan, mau deadlinenya kuliah dulu atau mau yang kumpul-kumpul dulu, gitu....Karena sekarang sih aku mikirnya, kuliah dulu lah no 1 untuk yang masih kumpul-kumpul masih bisa dipending dulu. Nanti e kalau enggak, yang maksutnyatugasnya dulu nanti ngumpulnya bisa nyusul atau bahkan ijin-ijin dulu lah. Kalau sekarang lebih kayak gitu.”
(Subjek 3, 24-39 dan 42-53)
4). Penguasaan Lingkungan
Selain sibuk di perkuliahan, subjek juga aktif mengikuti beberapa kegiatan kemahasiswaan seperti UKM bahasa asing, HIMA dan komunitas debat. Seperti yang dikatakan subjek dalam wawancara:
“Ya, e kalau kesibukan di kampus sih sebenarnya kan dari jadwal apa ya, dari jadwal yang udah dikasih itu kan kayak udah banyak banget. Terus diluar pembelajaran kampus juga aku tuh juga suka ikut kayak ada beberapa kegiatan. Aku ikutnya UKM 1, e komunitasnya 1, HIMAnya 1. Nah, komunitas itu, aku kan ikut kayak komunitas debat kayak gitu itu.”
(Subjek 3, 4-10, 74-82 dan 89-91) Subjek selalu mengingatkan adik-adiknya di rumah ketika melakukan hal yang menurut subjek tidak baik. Selain itu, subjek juga sudah berani untuk menyampaikan pendapatnya ke orangtua. Berikut pernyataan subjek ketika wawancara:
“Kalau dalam keluarga, kayak gimana ya, ya banyak sih. Soalnya, saya juga bukan typical orang yang kayak diem gitu lo. Kalau apa-apa tu harus yang ini harus kayak gini, harus kayak gini, harus kayak gini, gitu. Jadi, kayak misal ada adik atau ada siapa gitu. Bukannya salah sih. Atau mungkin, menurut pendapatku itu nggak harusnya kayak gini. Aku tetep, nggak boleh kayak gini. Kamu tu harusnya kayak gini, kayak gini, kayak gini. Terus kalau misalpun orangtua atau apa, kayak aku tuh udah, udah gimana ya, udah berani gitu. Mendingan gimana kalau kayak gini, kayak gini, kayak gini. Seperti itu.”
(Subjek 3, 378-396)
Subjek menyadari bahwa saat ini dirinya berperan sebagai kakak tertua untuk adik-adiknya, karena semua kakaknya sudah bekerja. Oleh sebab itu, di kelurga subjek berperan untuk membimbing adik-adiknya seperti yang dikatakannya saat wawancara:
“E mas-mas dan mbak-mbakku udah kerja semua dan aku sama adik. Jadinya sekarang kan, dirumah tu kayak orang yang ya lebih tua lah daripada adik-adikku 2 gitu kan. Jadinya
aku tuh kayak yang masih dik kamu tu harus kayak gini, mendingan kayak gini, kayak gini. Kan ya bukannya gimana-gimana. Aku tu merasa kayak aku udah duluan tahu, gimana kehidupan itu. Jadi mendingan tu kayak gini. Besok tu kamu kayak gini, kayak gini lo. Nah kayak gini, ya kayak gitu, kayak gitu sih.”
(Subjek 3, 406-421)
Ketika sedang di rumah, subjek punya peran untuk memelihara keadaan rumah dengan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah mengganti peran almarhum ibu. Dalam wawancara, subjek mengatakan demikian:
“Sekarang lebih kayak menggantikan apa yang dulu dikerjain sama ibu kalau pas di rumah. Sekarang lebih yang mengalih semua pekerjaan sih kayak misal harus pekerjaan-pekerjaan rumah gitu kan harus e aku mikirnya aku yang harus turun tangan untuk mengerjakan ini. Kan, enggak etis juga kan kalau misalkan bapak, adik-adikku ngelakuin itu gitu lo.”
(Subjek 3, 912-915 dan 930-937) Subjek sudah mulai terbiasa dengan kehidupan anak kos yang harus mandiri dan pandai mengatur keuangan. Berikut pernyataannya ketika dalam wawancara:
“Kalau awalnya sih kaget. Semuanya harus sendiri. Tapi ya udah mulai bisa sekarang. Kalau dulu di rumah ya belum nyuci, toh nanti ada yang nyelesain. Nah kalau sekarang mau kamu nggak nyuci mau apa, tetep aja disitu. Nah kan harus nyuci sendiri, kayak gitu. Sebenarnya sih kan, dulu pertamanya sih kaget oh ternyata kehidupan anak kos tu kayak gini. Dan kehidupannya tu kayak, kan dulu Magelang sama Jogja kan beda banget nih. Kayak Jogja tu kayak hedon, kayak ya harus jajan sana, jajan sini. Terus ya sekarang sih lebih harus manage uang juga. Perbanyak buat nanya mbak-mbak kos aja, mbak enaknya gimana ya gini, gini, gini. E kayak yang apa ya, ya itu sih beda banget antara Magelang sama Jogja tu.
Kalau Jogja tu yang, ya udah beli aja disini. Kalau dulu Magelang kan lebih tahu juga daerahnya. Kalau sana kan, ya kalau mau kesana gimana ya. Terus ini jalan mana, jalan mana, kayak gitu. Kalau di Magelang kan, oh ya tempatnya sini nanti ya ngerti lah kayak gitu. Sekarang tu kalau di Jogja tu lebih, oh ya habis ini ya harus ini. Kayak apa ya, semua tu preparenya banyak gitu lo daripada disini. Dan juga kalau kehidupan anak kos tu, yang lebih harus irit. Tapi gimana ya di sisi lain tu, ah aku juga pengen. Temen-temenku udah kesini-kesini, kok aku belum. Ya kayak gitu sih. Gitu, harus bisa manage uang gitu juga sih.”
(Subjek 3, 1033-1074)
5). Tujuan Hidup
Berdasarkan hasil wawancara, subjek memiliki keinginan dalam wakttu dekat bisa menjadi guru les private supaya memiliki penghasilan sendiri. Selain itu, subjek juga ingin kegiatan di organisasi lancar dan dirinya bisa naik jabatan. Di perkuliahan, subjek menginginkan adanya peningkatan nilai IP, karena dengan begitu dapat membawa nama baik keluarga. Hal ini seperti yang subjek katakan ketika wawancara:
“Harapannya besok ke depan sih, dalam waktu terdekat ini bisa ngelesi private dulu lah. Biar bisa dapat duit dulu. Trus kalau udah kayak gitu, semua lancar lah, organisasi lancar, jabatannya trus naik bisa jadi apalah gitu. Pengennya sih pengen jadi kayak ketua departemen gitu lo. Kalau udah kan, jadi ketua departemen mungkin nanti bisa jadi presiden UKM, amin. Kalau yang untuk kuliah sih, IPnya naik lagi, terus bisa enggak jangan ada yang remidi-remidi. E.. klo target deket-deket ini sih kayak gitu itu. Semua lancar-lancar seperti yang aku inginkan. Rumah juga lancar-lancar aja. Semua bisa berjalan dengan baik sih. Untuk ke depannya sih kayak yang