• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Profil Subjek Penelitian

1. Subjek 1

a. Deskripsi Subjek 1

Subjek penelitian merupakan remaja putri yang berusia 16 tahun, seorang pelajar kelas 1 SMA swasta di Magelang. Subjek aktif mengikuti beberapa kegiatan di sekolahnya, antara lain kepengurusan OSIS, PSK (Persatuan Siswa Kristen) dan kelas vokal. Selain aktif di kegiatan sekolah, subjek juga aktif mengikuti kegiatan pelayanan di gereja.

Berdasarkan wawancara, diketahui bahwa subjek merupakan anak terakhir dari dua bersaudara. Subjek memiliki satu orang kakak perempuan, yang saat ini sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak laki-laki. Bapak subjek merupakan seorang karyawan di sebuah hotel. Saat ini subjek tinggal bersama bapak dan neneknya yang sudah lansia, sementara kakaknya tinggal di Semarang bersama suami dan anaknya.

b. Deskripsi Singkat Terkait Kematian Ibu dari Subjek 1

Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa ibu subjek meninggal di usia 48 tahun ketika subjek duduk di bangku SD. Almarhum ibu meninggal dikarenakan sakit darah tinggi, hingga menyebabkan pembuluh darah pecah dan masuk ke otak. Hal tersebut mengakibatkan almarhum koma selama 2 hari kemudian meninggal.

c. Pelaksanaan Wawancara Subjek 1

Tabel 3.1. Pelaksanaan Wawancara Subjek 1

Hari, tanggal Tempat Waktu

Senin, 18 Mei 2015 Rumah C Pukul 16.15-17.30 WIB

Kamis, 30 Juli 2015 Rumah C Pukul 15.30-16.10 WIB

d. Analisis Subjek 1 1). Penerimaan Diri

Berdasarkan hasil wawancara, subjek merupakan pribadi yang pemalas di sekolah dan kemampuannya di pelajaran tergolong biasa saja. Selain itu, subjek juga menyadari bahwa dirinya merupakan pribadi yang aktif, yang harus melakukan kegiatan. Ketika wawancara, subjek berkata demikian:

“Emm…aku tu males kalau di sekolah. Ya biasa aja sih kemampuanku . Aku tipe orangnya yang gak bisa diem, harus ada yang bisa dilakukan.

(Subjek 1, 403-404, 437 dan 934-936) Di saat ibu meninggal, awalnya subjek menunjukan reaksi marah terhadap bapak sebagai bentuk protes atas kenyataan yang harus dihadapi.Namun beberapa hari setelah kematian ibu, subjek mulai bisa menerima keadaan bahwa kematian yang terjadi pada ibunya merupakan yang terbaik. Pada saat wawancara, subjek berkata demikian:

“Kayak dulu kan sempet marah sama bapak…Tapi ya trus hari-hari setelah ibu meninggal malah, biasane kan kalau orang-orang tu pada sedih. Kalau aku tu malah lebih seneng, lebih plong. Oh ibu udah nggak sakit. Soale pas sakit tu, sini selang sini selang. Banyak selang. Trus kalau pas aku kesana, aku nyanyi berdoa gitu tu ibu bisa nangis. Nah trus aku mikirnya, kok kayak gini to ya di Rumah Sakit tapi mbok melek to. Tapi, ya nggak bisa to wong disini selang (hidung), disini selang (mulut). Padahal ibu tu seumur-umur belum pernah masuk Rumah Sakit njuk mondok gitu tu belum pernah. Njuk pas lihat seperti itu tu kasian. Njuk ibu meninggal tu njuk, yo

wis lah.”

(Subjek 1, 1201-1216 dan 1218-1237) Beberapa waktu kemudian, subjek menunjukkan perubahan perilaku dalam dirinya. Subjek yang dulu sering datang ke makam untuk curhat dengan ibu, kini mencoba untuk cerita ke kakak karena menyadari bahwa perilakunya tersebut tidak tepat. Subjek menyatakan demikan:

“Tapi dulu pertama-tama sebelum nyoba sama mbak, ke itu ke makam. Trus curhat ma ibu. Ya kayak orang ngomong sendiri, kayak gitu. “Buk, aku tu suka sama dia.” Kayak gitu. Tapi,lama-lama njuk wah cerita sama ibu kok ya disitu (=makam). Trus yaitu pelan-pelan mulai cerita sama mbak.”

(Subjek 1, 1360-1369)

Sementara itu, saat ini subjek merasa sedih dan seolah-olah menyalahkan keadaan ketika teman-teman di sekolah saling menceritakan ibunya masing-masing sementara hanya subjek yang tidak memiliki ibu. Hal tersebut dapat dilihat dalam pernyataan berikut ini:

“Kayak apa ya, ah kok aku tok ya yang kayak gini. Temen di sekolah tu nggak ada yang kayak aku. Trus kayak misal apa

gitu kan trus kayak nyrempet-nyrempet tentang mamahe mereka. Trus kayak, ah males banget kok yang dibahas itu lo. Njuk rasanya tu trus kayak, nggak mau inget. Nggak mau trus sedih gitu to. Tapi, kan ya kebawa juga to. Tapi trus mereka cerita-cerita gitu to. Njukmaku, kok ya tinggal aku yang nggak punya gitu lo, sedangkan yang lain masih punya gitu lo.”

(Subjek 1, 1301-1315) Subjek merasa sedih karena belum sempat merasakan kenyamanan ketika bisa cerita dengan ibu, seperti yang dikatakan kakaknya. Saat ini ketika subjek sudah SMA tetapi ibu sudah tak ada lagi, sehingga subjek tidak bisa merasakan hal tersebut. Subjek mengatakan demikian:

“Emm..pernah kan mbak tu bilang waktu ibu masih ada, “Kamu to nek cerita apa-apa, nek misal kamu suka sama orang atau ada apa-apa tu cerita sama ibu. Enak wis to pokoke. Enak pokoke. Ya besuk nek kamu udah SMA nek cerita-cerita ma ibu kan enak.” Ya tapi sekarang ibu udah nggak ada, jadi nggak bisa tahu rasane. Ya agak sedih sih kenapa belum sempet merasakan malah ibu udah nggak ada. Ya pengene cerita-cerita ma ibu.”

(Subjek 1, 1345-1358) Subjek pernah ada masalah dengan nenek, karena nenek mengaitkan almarhum ibu ketika memarahinya. Subjek mengatakan demikian:

“Kayak dulu juga pernah ada konflik. Soale sampai embah bawa-bawa ibu. Embah bilang, “Lha yo kamu tu sithik-sithik ibu, sithik-sithik ibu. Wong udah nggak ada, mbok ya udah.” Trus aku kan bilang, “Lha yo wong kan inget to. Gitu sih, pasti jengkel kalau nyangkut pautin ibu.”

Selain itu, terkadang subjek ingat dengan almarhum ibu ketika belajar yang kemudian membuat semangat belajarnya menurun. Subjek merasa kehilangan semangat untuk menjalani hari-harinya ketika ia ingat dengan almarhum ibu. Oleh sebab itu, subjek selalu berusaha untuk menyibukkan diri. Subjek mengatakan demikian:

“Kadang ya pas belajar gitu jadi sok inget ibu, nanti kalau udah pikirane kesana trus jadi agak males-malesan le belajar wong trus jadi inget.…Soalnya nanti nek keinget tu trus jadi kayak apa-apa males. Emoh ah. Nggarap ini nggo opo. Buat besuk yo ngge apa. Njuk kayak, eh emoh. Ya itu tadi suka menyibukkan diri”

(Subjek 1, 541-545 dan 1416-1426)

Di sisi lain, subjek bisa mensyukuri hidupnya saat ini yang tinggal memiliki bapak. Subjek merasa bangga memiliki bapak yang bisa berperan sebagai bapak dan juga ibu. Subjek mengatakan demikian:

“Terus ibu nggak ada tu, wah tinggal bapak. Njuk kayak, wah ho’o ya bapak tu nggak kayak bapak yang lain. Bisa jadi kayak ibu juga.Bangga.Bisa kek deket sama bapak tu juga habis ibu meninggal. Kalau dulu cuma sekedar ada bapak, ya. Kayak bapak-bapak yang biasa, gitu lo.”

(Subjek 1, 1148-1156)

2). Relasi Positif dengan Orang Lain

Subjek merupakan pribadi yang senang bekerja di organisasi karena bisa untuk menambah relasi pertemanan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan subjek ketika wawancara:

“Bisa nambah temen. Kayak cepet gitu lo. Aku liat anak-anak yang nggak ikut, pasti dia tu kayak yang kenal kakak kelas ya cuma yang itu-itu. Terus, cepet gitu lo. Baru berapa bulan di SMA udah aku tahu dia, tahu dia, tahu dia kayak gitu.”

(Subjek 1, 235-242) Selain itu, subjek juga memiliki hubungan yang baik dengan guru-guru di sekolahnya. Subjek suka bercanda dengan beberapa gurunya karena merasa nyambung dan nyaman. Akan tetapi, subjek memiliki hubungan yang biasa saja dengan guru-guru yang tidak disenangi, bahkan subjek merasa malas untuk bertanya. Hal ini tampak dari perkataan subjek saat wawancara yang demikian:

“Ya suka guyon-guyon sih, beberapa tapi. Pernah bilang apa trus kayak, eh kok aku bilang gitu. Hahaha. Gurunya tu malah ketawa malah, “Napa C?” “Nggak papa kok pak. Hahaha,” kayak gitu. Cuman trus yaudah nggak papa. Karena udah nyaman, udah klop (=cocok). Terus kayak, “Eh keceplosan”. Ya itu kalau sama guru-guru yang nggak suka, ya nggak deket lah. Kepengen tanya pun males.”

(Subjek 1, 610-619 dan 570-573) Subjek menganggap kedekatannya dengan semua teman-temannya sama, seperti yang dikatakan saat wawancara:

“Deket, banyak sih. Nggak ada yang terus aku paling deket sama ini. Aku tu dari dulu nggak pernah yang terus paling deket tu sama ini. Apa-apa cerita sama dia, terus dia cerita sama aku tu nggak pernah.

(Subjek 1, 687-716) Subjek sering menjadi tempat curhat oleh teman-temannya. Ketika teman-teman curhat dengannya, subjek akan berusaha untuk menjadi pendengar yang baik dan akan memberi pendapat jika

diminta. Selain itu, subjek juga akan berusaha untuk menjaga kepercayaan yang teman-teman berikan untuknya. Ketika wawancara, subjek mengatakan demikian:

“Ho’o sering pada curhat gitu. Ya, aku tu orangnya gampangan tu lo mbak. Jadi kalau temen-temen cerita, ya aku ya, ya, ya gitu aja. Kan ada tu kalau diceritain malah banyak komentar lah, males lah apa marah gitu-gitu kan. Nah kalau aku tu ya teko ya gitu aja. Kalau lagi ada temen cerita ya tak dengerin. Nanti kalau ditanyain pendapat, ya aku baru ngomong, gini, gini, gini. Kayak gitu sih. Jadi mungkin pada mikirnya aku tu gampangan. Diajak cerita ya cukup ya, ya, ya gitu doang. Jadi mungkin pada nilainya aku enak buat jadi tempat cerita. Cuma mereka, ya rahasia mereka aku tahu njuk mereka bilang aku jangan bilang sapa-sapa. Ya nggak tak bilangin sapa-sapa wong aku emang sama mereka semua tak anggep ya deket gitu lah”

(Subjek 1, 724, 653-668, 734-740) Di sisi lain, subjek justru tidak pernah curhat ke teman-temannya. Subjek lebih memilih kakak sebagai tempat bercerita. Hal ini tampak dari pernyataan subjek ketika wawancara yang demikian:

“Padahal kalau aku ada apa gitu, pasti tu ceritanya sama mbak. Cerita apa pun sama mbak. Kayak aku tu punya apa pun di sini, tu tak certain ke mbak. Nggak yang terus ke satu orang yang menurutku deket gitu tu nggak..Cuma mereka, ya rahasia mereka aku tahu njuk mereka bilang aku jangan bilang sapa-sapa. Ya nggak tak bilangin sapa-sapa wong aku emang sama mereka semua tak anggep ya deket gitu lah. Ya aku sering jadi tempat curhat, tapi aku nggak pernah curhat ke mereka. Lebih nyaman ke mbak. Ya itu deket. Malah banyak cerita ke kakak, kalau sama temen malah nggak pernah cerita apa-apa.Ya cerita, misalnya di sekolah “Mbak aku kok gini-gini.”

Ketika bertemu dengan orang baru, subjek akan mendahului untuk bertanya terlebih dahulu untuk membuka percakapan seperti yang dikatakan saat wawancara demikian:

“Aku tu orangnya tu kalau, emm.. sebenere biasanya tak tanya dulu sih kalau mereka yang nanya dulu tu jarang. Kadang tu nggak ada yang njuk. Kayak kemarin tu MOS (=Masa Orientasi Siswa) aku nyoba, diem aja gitu to. Terus juga ada yang nanya tapi mungkin belum deket gitu tu. Terus aku yang nanya, dari sekolah mana?. Setelah itu baru mau cerita, baru mau apa.”

(Subjek 1, 775-786) Sementara itu, subjek tidak terlalu dengat dengan tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Hanya ada komunikasi di saat-saat tertentu saja. Akan tetapi, subjek memiliki kedekatan yang lebih dengan tetangga yang tinggal di depan rumah, karena sejak kecil subjek sering dititipkan dengan tetangga depan rumahnya tersebut. Ketika wawancara, subjek mengatakan demikian:

“Lumayan sih. Kadang itu ibu-ibu PKK suka, “Ayo mbak Cristin besuk 17 Agustus nyanyi.” Kayak gitu. Ya cuma gitu-gitu tok. Omong-omongan ya cuma kalau misal di warung, “Beli apa, beli apa? terus, pulang sore mbak?” “Iya buk”. Gitu tok. Jadi ya cuma seperlunya aja. Kalau yang depan rumah ini nggak saudara tapi deket. Soale dulu bapak ibu misal pulang kerja jam 10, aku masih SD kan nggak berani di rumah sendiri. Njuk Mbah masih di rumah, masih punya rumah sendiri. Nah aku kan sendiri. Mbak itu di Semarang. Nah aku kan masih kecil gitu. Aku tu pasti suruh kesana soale malem daripada sendiri. Terus disana sampai malem, sampai bapak ibu pulang kerja baru nanti dijemput. Jadi hubungannya ya deket. Pagi-pagi masak apa gitu, kadang diantar kesini.”

Sebelum ibu meninggal, subjek merupakan anak yang sangat dekat dengan almarhum ibunya. Ibu merupakan tempat untuk subjek menceritakan banyak hal. Sebaliknya, subjek justru memiliki hubungan yang biasa saja dengan kakak dan bapaknya. Subjek merupakan pribadi yang sangat tertutup dengan kakaknya. Kedekatan dengan kakak mulai terjalin setelah kematian ibu. Subjek mulai bisa terbuka dengan kakaknya karena menyadari sudah tidak ada ibu yang biasanya menjadi tempat untuk bercerita. Meskipun saat ini kakaknya telah menikah, akan tetapi situasi tersebut tidak merubah kedekatan subjek dengan kakaknya. Bahkan subjek juga dekat dengan kakak iparnya. Hal ini tampak pada pernyataan yang subjek utarakan saat wawancara:

Njuk ibu nggak ada, wah njuk cerita sama siapa nggak ada ibu to. Njuk cerita sama sapa ini. Njuk coba ngomong mbak. Nggak sih dari dulu sebelum mbak nikah sampai sekarang tetep aja deket. Soalnya sama suaminya mbak juga deket.” (Subjek 1, 954-958 dan 1026-1029)

Relasi positif dengan orang lain juga tampak dari kedekatan subjek dengan bapak, yang juga baru mulai terbangun setelah ibu meninggal. Awalnya, subjek membutuhkan penyesuaian untuk beraktifitas sehari-hari dengan bapak. Subjek merasa aneh karena sebelumnya subjek banyak melakukan aktifitas bersama almarhum ibunya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu subjek mulai

terbiasa untuk beraktiftas bersama dengan bapak. Subjek berangkat dan pulang sekolah pun bersama bapak, bahkan subjek juga sering tidur bersama bapaknya. Hal ini tampak dari hasil wawancara dengan subjek:

“Akhire yo trus nggak papa sih, njuk sama bapak. Soale dulu apa-apa sama ibu, kemana-mana nganter apa-apa sama ibu. Nggak ada ibu, terus kan sama bapak kan piye gitu kan kalau sama bapak. Terus sama mbak juga nggak bisa, terus berjalannya waktu sama bapak njuk bisa. Terus apa-apa sama bapak gitu. Ya, kadang juga kalau lagi males bobok di kamar ya bobok sama bapak, ndeketi bapak. Dianter kemana-mana juga ma bapak. Berangkat sekolah, pulang sekolah juga ma bapak.”

(Subjek 1, 1044-1054 dan 1159-1164)

Ketika menghadapi masalah, subjek lebih terbuka untuk bercerita dengan kakak bukan ke bapak. Dengan bapak, subjek hanya terbuka untuk menceritakan tentang kegiatan sekolah. Subjek mengatakan demikian:

“Menceritakan hal yang memang subjek tidak dapat menyelesaikan sendiri ke mbak, tidak pernah ke bapak (1061-1068). Kalau sama bapak paling cerita apa gitu sing cuma di sekolah gitu tak certain. Cuma nggak kayak cerita sama mbak gitu. Kayak masih kayak anak kecil yang sering cerita ke bapak ibu gitu itu. Di sekolah gini-gini tu masih tak certain ke bapak. Tiap hari itu. “Mosok to, tadi gini-gini.”

(Subjek 1, 1061-1068 dan 1086-1094) Selain itu, subjek juga sangat dekat dengan keponakannya yang berusia 2,5 tahun. Berikut pernyataan subjek:

“Emm, keponakan usia 2,5 tahun, cowok. Deket banget. Telepon-teleponan juga dia tahu suaraku. Manggil aku tu

nggak mau tante, tapi “Crist” gitu. Belum bisa ‘r’, jadi terus “Cis’. Nek kesini juga kayak udah lupa kalau punya mamah gitu. Mesti apa-apa sama aku.”

(Subjek 1, 1071-1079)

Subjek sering menjdi tempat bercerita neneknya tentang anak-anaknya yang tinggal di luar kota. Subjek sering membantu neneknya untuk menghubungi saudara-sudaranya yang tinggal jauh. Berikut pernyataan subjek ketika wawancara:

“Sama mbah ya cuma biasa aja, cuma ngomong-ngomong biasa. Cuma mbah suka, “Om yang di surabaya tu gini, gini, gini. Om yang di Jakarta tu gini, gini, gini. Kok nggak pernah telepon ya?”. Kayak gitu. Embah yang lebih banyak cerita. Kalau sama mbah nggak pernah yang cerita-cerita. Kalau sama embah ya itu cuma nyeritake saudara-saudara yang di luar. Suka tak teleponin, “Ni mbah nek meh ngomong sama tante yang di Surabaya.” Nek misal mbah diceritain sama tante yang di Surabaya atau apa, misal apa gitu nanti ceritain ke aku.”

(Subjek 1, 1116-1132)

3). Otonomi

Berdasarkan hasil wawancara, dimensi otonomi tampak dari sikap subjek dalam mengatasi kesulitan mengatur waktudi kegiatan-kegiatan yang diikuti. Beberapa kegiatan-kegiatan yang subjek ikuti, waktunya sering bersamaan. Oleh sebab itu, subjek selalu mendahulukan kegiatan yang waktunya lebih mendesak. Subjek mengatakan demikian:

“Hambatan-hambatan tu kalau tabrakan sama acara gereja. Kan aku juga seksi apresiasi seni, paling banyak acara sih. Ada pentas seni, ada apa gitu. Nanti terus, “Kok kamu ini kan tin ketua apresiasi seni kok malah nggak datang?”. Aku juga mentingin yang lebih dulu, soale misal besuk minggu tampil

vocal grup. Terus itu hari Jumat. Sedangkan acara buat di OSIS tu masih kamis, atau apa. Kan aku ndahuluin yang lebih dulu gitu lo. Aku juga dah ijin. Cuma nanti biasa, “Kok nggak dateng to kamu ki”. Jadi, aku mendahulukan yang lebih mendekati dulu.”

(Subjek 1, 135-152)

Ketika merasa bingung dengan banyaknya kegiatan yang diikuti, subjek mencoba untuk bercerita dengan orang lain. Meskipun subjek mendapatkan masukan-masukan, namun pada akhirnya subjek tetap memutuskan keputusannya sendiri. Subjek mengatakan demikian:

“Aku pernah cerita aku tu kok gini-gini ya. Udah di gereja jadi koordinator, terus vocal grup, di sekolah masih OSIS gini, gini, gini. Aku tu pulang juga kadang jam 5 terus masih ke gereja, masih apa-apa. Terus ini piye gitu. Terus pernah tanya juga sama yang lain kok aku, po aku keluar ya dari OSIS. Soalnya, kalau keluar dari gereja kan udah dilantik sama yang Gembala paling tinggi to. Udah panggilan, di gereja. Wong ya udah pelayanan juga. Po keluar dari OSIS ya. Terus malah dibilangi, kalau kita udah dikasih kayak gitu, itu tu bukan karena gimana-gimana. Itu tu karna kita bisa. Terus aku kayak mikir-mikir gitu lo. Oh berarti bukan karna apa-apa tapi karna aku bisa. Oh berarti aku bisa ya. Oh berarti mbok mau sekayak apa pun tu aku bisa. Ya wis trus aku memutuskan lanjut semua”

(Subjek 1, 174-199)

4). Penguasaan Lingkungan

Subjek merupakan siswa yang aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Selain tanggung jawabnya sebagai pelajar untuk belajar, subjek juga aktif dalam mengikuti beberapa kegiatan, yakni di OSIS, PSK dan grup vokal. Subjek memiliki peran untuk mengelola

setiap organisasi yang diikuti. Hal ini tampak dari keaktifan subjek dalam menjalankan tanggung jawabnya di organisasi, seperti yang dikatakannya ketika wawancara seperti ini:

“Kegiatan di sekolah sih apa ya, belajar biasa, belajar kayak biasa gitu. Terus OSIS aktif juga. Terus biasanya kalau nanti OSIS ada deadline event yang udah H- berapa gitu, pasti kita pulang sampai jam 4 jam 5. Terus kalau biasanya ada kelas vocal, biasanya jam 4 baru selesai. OSIS, terus pengurus PSK (=Persekutuan Siswa Kristen) juga, terus itu kelas vocal. Tapi kelas vocal juga kadang kalau pas ada, kalau nggak ya nggak.

(Subjek 1, 4-19)

Subjek senang terlibat di organisasi karena bisa ikut berperan untuk memperbaiki kekurangan, seperti yang dikatakannya demikian:

“Itu sih kayak misal, kita liat terus kok kayak gini to. Nanti kalau nggak bisa ikut, nggak bisa benerin. Misal liat apa gitu, terus cuma liat. Ah, kok gitu to. Nah, sedangkan kalau kita ikut, terus didalemnya kita bisa ngasih mbok gini, mbok gini, mbok gini. Jadi, nanti tampilane kayak yang kita pengen. Kayak

gitu”

(Subjek 1, 220-229)

Di OSIS, subjek berani menegur ketua ketika bersikap tidak benar. Subjek mengatakan demikian:

“Kan ketuanya cowok. Suaranya bagus, dia juga dari SMP tu emang dia udah seni banget lah hidupnya. Terus, dia ngambekan kadang. Emang tertib, dia suka ngasih tau, “Kamu tu mbok kerja, kamu tu udah dipilih guru, mbok ayo!. Nah dia itu, kalau udah nggak suka, yo wis nggak suka gitu lo kak. Makanya aku to, “Mbok ayo itu diajak!” Aku bilang gitu sama ketua. Terus nanti, “Emoh dia nggak mau kerja kok.” Ya kan kamu ketua, Ayo diajak!”

Selain itu, penguasaan lingkungan juga tampak dari keterlibatan subjek dalam mengelola organisasi PSK yang diikuti. Subjek mampu mampu menjalankan tanggung jawab yang diberikan kepadanya sebagai bendahara, meskipun rekan kerjanya tidak ikut serta menjalankan tugas. Ketika wawancara, subjek mengatakan demikian:

Dokumen terkait