dari 99% saham PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dan 1% sahamnya dimiliki Koperasi Pegawai Maritim (Kopegmar).
PT Rumah Sakit Pelabuhan (PT RSP)
Meski secara resmi masuk sebagai anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) pada bulan Mei 1999, sejarah PT RSP bisa dibilang sejalan beriringan dengan perusahaan induknya. Cikal bakal PT RSP adalah Port Health Center (PHC) yang didirikan pada 21 Agustus 1971. Pada 21 Maret 1972, PHC kemudian bergabung dengan Rumah Sakit Pelayaran dan berubah nama menjadi Rumah Sakit Pelabuhan pada 20 Mei 1978.
Perubahan status dari Perusahaan Umum (Perum) Pelabuhan menjadi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) membuat status Rumah Sakit Pelabuhan pun ikut berubah. Tahun 1999 secara resmi menjadi badan hukum berbentuk persero sekaligus menjadi anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). Komposisi kepemilikan Saham di PT RSP terbagi atas 99,52% milik PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dan 0,48% milik Koperasi Pegawai Maritim (Kopegmar).
Employees Cooperative (Kopegmar) holds the remaining 1 percent.
PT Rumah Sakit Pelabuhan(PT RSP)
Although PT RSP has been officially a subsidiary of PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) in May, 1999, its history went along with the parent company’s history. PT RSP’s embryo was Port Health Center (PHC) established on August 21, 1971. On March 21, 1972, PHC merged with Pelayaran Hospital with the name was furthered changed into Rumah Sakit Pelabuhan (Port Hospital) on May 20, 1978.
The status change from public corporation (Perum) Pelabuhan to limited liability company PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) made the status of Rumah Sakit Pelabuhan also changed. In 1999, the hospital officialy became a limited liability company (Persero) as well as a subsidiary of PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). As much as 99.52 percent shares in PT RSP is owned by PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), while the remaining 0.48 percent of the shares is owned by Maritime Employees Cooperative (Kopegmar).
PT RSP membawahi empat rumah sakit yaitu RSP Jakarta, RSP Cirebon, RSP Boom Baru Palembang dan RS Port Medical Center, Jakarta.
PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT)
PT JICT merupakan perusahaan afiliasi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang didirikan pada 1999. Komposisi kepemilikan sahamnya mayoritas dikuasai Hutchison Port Holding Group (HPH Group) dengan menguasai 51 % saham. Sisanya dimiliki PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dengan 48,9% dan Koperasi Pegawai Maritim 0,1%. Bisnis utama PT JICT adalah melaksanakan kegiatan pelayanan bongkar muat peti kemas baik ekspor maupun impor di Pelabuhan Tanjung Priok.
Pada awal berdirinya, PT JICT mampu menangani 1,8 juta TEUs dan meningkat hingga 2,4 juta TEUs pada akhir 2007. Dengan lingkup operasional dan kapasitas yang ada, PT JICT merupakan terminal peti kemas terbesar dan tersibuk di Indonesia. Dengan penambahan dermaga sepanjang 552 m dan lapangan penumpukan seluas 3,5 Ha, kini PT JICT mampu melayani arus peti kemas melalui Pelabuhan Tanjung Priok hingga 3 juta TEUs per tahun.
KSO Terminal Peti kemas Koja(TPK Koja)
TPK Koja merupakan kerjasama operasi antara PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dengan PT Ocean Terminal Peti kemas yang kemudian dialihkan ke Hutchison Ports Indonesia. Dalam KSO yang mulai beroperasi sejak 1998 ini, Pelabuhan Indonesia II (Persero) memiliki 52,12% kepemilikan saham.
PT RSP supervises four hospitals: RSP Jakarta, RSP Cirebon, RSP Boom Baru Palembang, and RS Port Medical Center, Jakarta.
PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT)
PT JICT, which was established in 1999, is an affiliation of PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). Hutchinson Ports Holding Group (HPH Group) holds a majority 51 percent shares in the company, while PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) holds 48.9 percent shares. The remaining 0.1 percent shares is owned by the Maritime Employees Cooperative (Kopegmar). PT JICT’s main business is providing container loading and unloading service both for export and import at the Tanjung Priok port.
In its early establishment, PT JICT could handle 1.8 million TEUs (twenty-foot equivalent units) containers. The capacity further increased to 2.4 million TEUs in late 2007. Based on the operational coverage and the existing capacity, PT JICT is the biggest and the busiest container terminal in Indonesia. With the additional berth length of 552 meters and container yard of 3.5 hectares, PT JICT can service containers passed through the Tanjung Priok port up to 3 million TEUs per year.
The joint operation Koja Container Terminal(TPK Koja)
TPK Koja is a joint operation between PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) and PT Ocean Terminal Petikemas. Whichis thentransferred to HutchisonPorts Indonesia. PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) owns 52.12 percent shares in the joint operation which started the operation in 1998.
Dengan areal yang tersedia, TPK Koja mampu menampung petikemas untuk impor hingga 7.500 TEUs dan untuk ekspor hingga 6.700 TEUs. Pada tahun 2003 dilakukan pemanjangan dermaga sejauh 200 m sekaligus penyediaan peralatan bongkar muat peti kemas demi meningkatkan pelayanan.
Tanjung Priok Car Terminal(TPT)
Mulai beroperasi sejak 28 November 2007. Terminal ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan terminal bongkar muat kendaraan yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Luas lahan yang dimiliki saat ini adalah 7,38 Ha, dengan fasilitas berupa lapangan penumpukan seluas 7,3 Ha, automatic car wash 3 unit dengan kapasitas 15 unit/jam, panjang dermaga 308 m, dan saat ini berkapasitas 350.000 kendaraan per tahun. Komposisi kepemilikan Tanjung Priok Car Terminal adalah sepenuhnya milik PT Pelabuhan Indonesia II (Persero).
Pusat PelatihanKepelabuhan(PPK)
Merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) sebagai wahana pembinaan dan pendidikan sumber daya manusia bidang kepelabuhanan. Didirikan tahun 1976 bagi tenaga kerja bongkar muat (dockworkers) dengan nama Indonesia Port Workers Training Centre (Pusat Latihan Tenaga Kerja Kepelabuhanan indonesia), dan terakhir berubah nama menjadi Pusat Pelatihan Kepelabuhanan.
Seiring perkembangan, misi lembaga ini meluas hingga mencakup usaha pengembangan pendidikan dan pelatihan di bidang pelabuhan kepada mitra usaha dan jasa konsultasi mengenai permasalahan pengembangan
sumber daya manusia kepelabuhanan melalui kerjasama penyelenggaraan pelatihan.
PPK merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang kepelabuhanan pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat ISO 9002. Dilengkapi berbagai fasilitas pembelajaran serta didukung oleh tenaga- tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu kepelabuhanan, PPK siap mendidik dan melatih calon-calon praktisi andal bagi komunitas yang terkait dengan pelabuhan.
With the existing area, TPK Koja can accommodate up to 7,500 TEUs containers for import and up to 6,700 TEUs containers for export. In 2003, the terminal’s berth was extended by 200 meters. More loading and unloading equipments were also added to increase the services.
Tanjung Priok Car Terminal (TPT)
The Tanjung Prion Car Terminal (TPI) started its operation since November 28, 2007. The terminal was built to fulfill vehicle loading and unloading terminal demand which continually to increase over the years. The company owns 7.38 hectares area with facilities include 7.3 hectares container yard; three units of automatic car wash with capacity of 15 units per hour, 308-meter length berth, and current capacity of 350,000 vehicles per year. The Tanjung Priok Car Terminal is fully owned by PT Pelabuhan Indonesia II (Persero).
Port Training Centre(PPK)
The Port Training Center is one of technical units (UPT) in PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). The unit functions as training and education centre for human resources working in port service sector. The centre was established in 1976 for dockworkers with the name Indonesia Port Worker Training Center. The unit’s name was later on changed into The Port Training Center.
The unit’s mission is later on expanded by providing port education and training for the company’s business partners and consultancy services for port human resources development through cooperation in training organization.
The Port Training Center is the first port training and education center obtaining ISO 9002 certificate in Indonesia. Equiped with various education facilities and experts from various educational backgrounds, the center is ready to train and teach port practitioners so that they can be reliable human resources for the port community.