BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hubungan Kesinoniman Adjektiva Bersinonim Berdasarkan Analisis
4.2.1 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva
4.2.1.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Bau Tidak Sedap’
Untuk menentukan data pasangan sinonim yang telah terkumpul itu benar-benar
sinonim, data-data tersebut akan saling disubstitusikan. Jika suatu kata dapat diganti
dengan kata yang lain dalam konteks yang sama dan makna konteks itu tidak berubah,
pasangan data tersebut dapat dikatakan bersinoim.
*apak
*banga
*basi
busôk
*ceungèh
hangèk
*hanggôi
*meuh’ong
hanyi
kh’eb
kh’ieng
*khie
kh’ob
khoih
phong
chueng
*reungie
*peungèt
Dari penyubstitusian itu, akan didapat konstruksi kalimat sebagai berikut.
(1) *That apakbèe ureueng nyan. ‘*Apak sekali bau orang itu.’
(2) *That banga bèe ureueng nyan. ‘*Bangar sekali bau orang itu.’
(3) *That basi bèe ureueng nyan. ‘*Basi sekali bau orang itu.’
(4) That busôk bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’
(5) *That ceungèh bèe ureueng nyan. ‘*Cengis sekali bau orang itu.’
(6) That hangèk bèe ureueng nyan. ‘Sangit sekali bau orang itu.’
(7) *That hanggôi bèe ureueng nyan. ‘*Celurut sekali bau orang itu.’
71
(8) *That meuh’ong bèe ureueng nyan. ‘*Maung sekali bau orang itu.’
(9) That hanyi bèe ureueng nyan. ‘Anyir sekali bau orang itu.’
(10) That kh’eb bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’
(11) That kh’ieng bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’
(12) *That khie bèe ureueng nyan. ‘*Tengik sekali bau orang itu.’
(13) That kh’ob bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’
(14) That khoih bèe ureueng nyan. ‘Apak sekali bau orang itu.’
(15) That phong bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’
(16) That chueng bèe ureueng nyan. ‘Pesing sekali bau orang itu.’
(17) *That reungie bèe ureueng nyan. ‘*Busuk sekali bau orang itu.’
(18) *That peungèt bèe ureueng nyan. ‘*Angit sekali bau orang itu.’
Secara gramatikal, penyubstitusian kedelapan belas leksem ke dalam kalimat itu
berterima. Kedelapan belas leksem itu menduduki fungsi predikat di dalam kalimat.
Namun, secara semantis tidak semua leksem itu dapat berterima. Leksem busôk,
hangèk, hanyi, kh’eb, kh’ieng, kh’ob, khoih, phong, dan chueng secara semantik dapat
saling menggantikan karena leksem tersebut diperuntukkan untuk bau yang disebabkan
dan dimiliki oleh manusia, sedangkan leksem apak, banga, basi, ceungèh, hanggôi,
meuh’ong, khie, reungie, peungèt adalah leksem yang diperuntukan untuk bau yang
dihasilkan oleh binatang, tumbuhan dan benda-benda tertentu.
Leksem busôk dan kh’ieng merupakan leksem yang biasanya digunakan untuk
menunjukkan bau busuk secara umum. Leksem ini tidak hanya dimiliki dan
diperuntukan untuk manusia, tetapi juga untuk bau selain dari manusia. Leksem
hangèk merupakan kata khusus yang mengacu pada bau badan yang dimiliki oleh
manusia dan hewan seperti bau pada kambing. Selain itu, bau khusus yang terdapat
pada kambing ini juga dapat dinyatakan dengan leksem hanggôi. Leksem hanyi hanya
mengacu pada bau amis yang terkadang terdapat pada manusia yang disebabakan oleh
perbuatan manusia. Selain itu bau ini juga mengacu pada bau yang berasal dari binatang
seperti bau ikan, telur, dan bau yang darah.
Leksem kh’eb dan kh’ob merupakan bau yang berasal dari manusia, meskipun
terkadang kedua leksem ini juga digunakan untuk mengidentifikasikan bau busuk yang
berasal dari benda-benda yang sudah disimpan lama seperti telur busuk. Kedua bau ini
biasanya dihasilkan oleh manusia karena perilaku yang tidak sehat seperti bau yang bau
mulut. Hanya saja, ada perbedaan gradasi pada kedua kata ini. Leksem kh’ob memiliki
gradasi lebih tinggi dari kh’eb karena leksem kh’eb ini kurang kuat dibandingkan
leksem kh’ob.
Leksem khoih dan apak sama-sama memiliki pengertian sebagai bau apak yang
disebabkan karena terlalu lama disimpan atau juaga karena lama tidak terkena sinar
matahari. Leksem khoih bisa juga diperuntukan untuk mengacu pada bau badan
manusia yang jarang mandi, sedangkan bau apak biasanya digunakan untuk bau pada
benda-benada tertentu karena isiman terlalu lama. Selanjutnya, leksem phong dan
chueng merupakan leksem yang biasanya berhubungan dengan bau yang dihasilkan
oleh kotoran manusia berupa air seni. Leksem phong juga digunakan untuk menyatakan
bau yang terdapat pada benda yang sudah disimpan terlalu lama seperti halnya bau
khoih dan apak, sedangkan leksem chueng biasanya hanya menyatakan bau pesing.
Leksem banga merupakan bau yang biasanya ditujukan pada bau air yang sudah
busuk. Bau ini bisa terjadi karena perbuatan manusia dan bisa juga merupakan bau asli
dari benda tersebut. Bau ceungèh merupakan bau yang berasal dari binatang seperti
walang sangit dan juga bau yang berasal dari benda yang terbakar seperti bau tanduk
73
yang terbakar. Leksem meuh’ong biasanya ditujukan untuk mengidentifikasi bau yang
berasal dari kunyit dan bau yang dihasilkan oleh hasil pengolahan makanan yang
banyak menggunakan kunyit.
Leksem khie biasanya digunakan untuk menyatakan bau yang dihasilkan atau
berasal dari minyak kelapa yang sudah lama disimpan atau minyak kelapa yang sedang
dimasak. Leksem reungie digunakan untuk menyatakan menyatakan bau busuk yang
dihasilkan karena perbuatan manusia seperti bau pada pakaian yang tidak hilang
meskipun sudah dicuci bersih, sedangkan bau peungèt merupakan bau angit yang
biasanya mengacu pada bau hangus yang disebabkan kelalaian manusia seperti bau
hangus pada nasi.
Dari uraian dapat dikatakan bahwa busôk dan kh’ieng merupakan pasangan
sinonim yang dapat saling menggantikan karena keduanya merupakan kata umum yang
mengacu pada semua bau busuk. leksem hangèk dan hanggôi juga dapat dikatakan
bersinonim selama objek yang dimaksudkan itu adalah hewan (bau kambing), tetapi
hanggôi tidak dapat digunakan untuk mengacu pada bau sangit yang dihasilkan oleh
manusia. Leksem hanyi merupakan bau amis yang berasal dari ikan, telur, dan darah.
Leksem kh’eb dan kh’ob merupakan pasangan sinonim yang dapat saling
menggantikan, perbedaannya hanya terletak pada kekuatan nilai rasa yang dihasilkan
oleh kedua leksem pada referen yang dimaksud. Leksem khoih dan apak merupakan
pasangan sinonim yang dapat saling menggantikan untuk menyatakan bau yang
terdapat pada benda, tetapai leksem apak tidak dapat digunakan untuk menyatakan bau
yang terdapat pada manusia seperti halnya bau khoih. Leksem phong dan chueng
merupakan pasangan sinonim yang dapat saling menggantikan pada referen yang
berwujud kotoran manusia (air seni), tetapi makna leksem phong ini lebih luas karena
leksem ini juga dapat digunakan untk menyatakan bau busuk yang tedapat pada benda
yang sudah disimpan lama seperi bau khoih dan apak. Leksem banga hanya
diperuntukkan pada bau air yang sudah bususk. Leksem ceungèh merupakan leksem
yang biasanya digunakan untuk menyatakan bau yang terdapat pada hewan dan pada
benda yang baunya dihasilakan oleh perbuatan manusia. Leksem meuh’ong hanya
digunakan untuk menyatakan bau kunyit. Leksem khie hanya terdapat pada bau minyak
kelapa, leksem reungie menyatakan bau bususk yang dihasilkan pada benda karena
perbuatan manusia, dan bau peungèt merupakan bau angit/hangus yang biasanya
terdapat pada nasi.
Berdasarkan perbedaan makna yang dimiliki oleh tiap-tiap leksem tersebut,
terlihat leksem-leksem tersebut digunakan pada situasi dan referen yang berbeda
meskipun menunjukkan medan makna yang sama. Hal ini juga berlaku dalam leksem
yang menyatakan ‘bau tidak sedap’ dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia,
leksem yang menyatakan bau tidak sedap tidak sebanyak leksem dalam bahasa aceh.
Bau yang digunakan adalah bau busuk, maung, cengis, gosong, angit,dan apak. Bau
busuk digunakan secara umum untuk semua bau busuk yang dimiliki oleh benda, bau
maung untuk bau kunyit, bau angit dan gosong untuk makanan yang terlalu lama
dimasak/hangus, dan bau apak untuk benda yang tidak terkena matahari atau lama
direndam dalam air. Perhatikan contoh berikut!
75
(1a) Mulutmu baubusuk!
Dalam bahasa Aceh, mulut yang bau itu dapat dikatakan dengan leksem yang berbeda
karena hal itu menunjukkan seberapa keras dan tinggi gradasi pada bau mulut tersebut,
meskipun terkadang juga dimaksudkan untuk menghina. Perbedaan tersebut dapat
dilihat pada contoh-contoh berikut.
(1b) Babah kah khieng that! ‘Mulutmu sangat bau!’
(1c) Babah kah kh’eb that! ‘Mulutmu sangat bau!’
(1d) Babah kah kh’ob that! ‘Mulutmu sangat bau!’
Kalimat (1a), (1b), (1c), dan (1d) di atas memiliki makna dan referen yang sama
yaitu bau busuk pada mulut. Kalimat (1a) merupakan leksem umum yang digunakan
dalam bahasa Indonesia, sedangkan dalam bahasa Aceh, keadaan bau mulut ini dapat
dikatakan dalam tiga leksem. Kalimat (1b) merupakan leksem umum yang digunakan
dalam bahasa Aceh, (1c) merupakan leksem khusus yang memiliki gradasi lebih tinggi
dari khieng, dan (1d) merupakan leksem khusus yang memiliki gradasi paling tinggi
dari khieng dan kh’eb.
4.2.2 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kuat’
Dalam dokumen
adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh
(Halaman 87-92)