• Tidak ada hasil yang ditemukan

Substitusi Leksem Adjektiva ‘Bau Tidak Sedap’

Dalam dokumen adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh (Halaman 87-92)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hubungan Kesinoniman Adjektiva Bersinonim Berdasarkan Analisis

4.2.1 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva

4.2.1.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Bau Tidak Sedap’

Untuk menentukan data pasangan sinonim yang telah terkumpul itu benar-benar

sinonim, data-data tersebut akan saling disubstitusikan. Jika suatu kata dapat diganti

dengan kata yang lain dalam konteks yang sama dan makna konteks itu tidak berubah,

pasangan data tersebut dapat dikatakan bersinoim.

*apak

*banga

*basi

busôk

*ceungèh

hangèk

*hanggôi

*meuh’ong

hanyi

kh’eb

kh’ieng

*khie

kh’ob

khoih

phong

chueng

*reungie

*peungèt

Dari penyubstitusian itu, akan didapat konstruksi kalimat sebagai berikut.

(1) *That apakbèe ureueng nyan. ‘*Apak sekali bau orang itu.’

(2) *That banga bèe ureueng nyan. ‘*Bangar sekali bau orang itu.’

(3) *That basi bèe ureueng nyan. ‘*Basi sekali bau orang itu.’

(4) That busôk bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’

(5) *That ceungèh bèe ureueng nyan. ‘*Cengis sekali bau orang itu.’

(6) That hangèk bèe ureueng nyan. ‘Sangit sekali bau orang itu.’

(7) *That hanggôi bèe ureueng nyan. ‘*Celurut sekali bau orang itu.’

71

(8) *That meuh’ong bèe ureueng nyan. ‘*Maung sekali bau orang itu.’

(9) That hanyi bèe ureueng nyan. ‘Anyir sekali bau orang itu.’

(10) That kh’eb bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’

(11) That kh’ieng bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’

(12) *That khie bèe ureueng nyan. ‘*Tengik sekali bau orang itu.’

(13) That kh’ob bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’

(14) That khoih bèe ureueng nyan. ‘Apak sekali bau orang itu.’

(15) That phong bèe ureueng nyan. ‘Busuk sekali bau orang itu.’

(16) That chueng bèe ureueng nyan. ‘Pesing sekali bau orang itu.’

(17) *That reungie bèe ureueng nyan. ‘*Busuk sekali bau orang itu.’

(18) *That peungèt bèe ureueng nyan. ‘*Angit sekali bau orang itu.’

Secara gramatikal, penyubstitusian kedelapan belas leksem ke dalam kalimat itu

berterima. Kedelapan belas leksem itu menduduki fungsi predikat di dalam kalimat.

Namun, secara semantis tidak semua leksem itu dapat berterima. Leksem busôk,

hangèk, hanyi, kh’eb, kh’ieng, kh’ob, khoih, phong, dan chueng secara semantik dapat

saling menggantikan karena leksem tersebut diperuntukkan untuk bau yang disebabkan

dan dimiliki oleh manusia, sedangkan leksem apak, banga, basi, ceungèh, hanggôi,

meuh’ong, khie, reungie, peungèt adalah leksem yang diperuntukan untuk bau yang

dihasilkan oleh binatang, tumbuhan dan benda-benda tertentu.

Leksem busôk dan kh’ieng merupakan leksem yang biasanya digunakan untuk

menunjukkan bau busuk secara umum. Leksem ini tidak hanya dimiliki dan

diperuntukan untuk manusia, tetapi juga untuk bau selain dari manusia. Leksem

hangèk merupakan kata khusus yang mengacu pada bau badan yang dimiliki oleh

manusia dan hewan seperti bau pada kambing. Selain itu, bau khusus yang terdapat

pada kambing ini juga dapat dinyatakan dengan leksem hanggôi. Leksem hanyi hanya

mengacu pada bau amis yang terkadang terdapat pada manusia yang disebabakan oleh

perbuatan manusia. Selain itu bau ini juga mengacu pada bau yang berasal dari binatang

seperti bau ikan, telur, dan bau yang darah.

Leksem kh’eb dan kh’ob merupakan bau yang berasal dari manusia, meskipun

terkadang kedua leksem ini juga digunakan untuk mengidentifikasikan bau busuk yang

berasal dari benda-benda yang sudah disimpan lama seperti telur busuk. Kedua bau ini

biasanya dihasilkan oleh manusia karena perilaku yang tidak sehat seperti bau yang bau

mulut. Hanya saja, ada perbedaan gradasi pada kedua kata ini. Leksem kh’ob memiliki

gradasi lebih tinggi dari kh’eb karena leksem kh’eb ini kurang kuat dibandingkan

leksem kh’ob.

Leksem khoih dan apak sama-sama memiliki pengertian sebagai bau apak yang

disebabkan karena terlalu lama disimpan atau juaga karena lama tidak terkena sinar

matahari. Leksem khoih bisa juga diperuntukan untuk mengacu pada bau badan

manusia yang jarang mandi, sedangkan bau apak biasanya digunakan untuk bau pada

benda-benada tertentu karena isiman terlalu lama. Selanjutnya, leksem phong dan

chueng merupakan leksem yang biasanya berhubungan dengan bau yang dihasilkan

oleh kotoran manusia berupa air seni. Leksem phong juga digunakan untuk menyatakan

bau yang terdapat pada benda yang sudah disimpan terlalu lama seperti halnya bau

khoih dan apak, sedangkan leksem chueng biasanya hanya menyatakan bau pesing.

Leksem banga merupakan bau yang biasanya ditujukan pada bau air yang sudah

busuk. Bau ini bisa terjadi karena perbuatan manusia dan bisa juga merupakan bau asli

dari benda tersebut. Bau ceungèh merupakan bau yang berasal dari binatang seperti

walang sangit dan juga bau yang berasal dari benda yang terbakar seperti bau tanduk

73

yang terbakar. Leksem meuh’ong biasanya ditujukan untuk mengidentifikasi bau yang

berasal dari kunyit dan bau yang dihasilkan oleh hasil pengolahan makanan yang

banyak menggunakan kunyit.

Leksem khie biasanya digunakan untuk menyatakan bau yang dihasilkan atau

berasal dari minyak kelapa yang sudah lama disimpan atau minyak kelapa yang sedang

dimasak. Leksem reungie digunakan untuk menyatakan menyatakan bau busuk yang

dihasilkan karena perbuatan manusia seperti bau pada pakaian yang tidak hilang

meskipun sudah dicuci bersih, sedangkan bau peungèt merupakan bau angit yang

biasanya mengacu pada bau hangus yang disebabkan kelalaian manusia seperti bau

hangus pada nasi.

Dari uraian dapat dikatakan bahwa busôk dan kh’ieng merupakan pasangan

sinonim yang dapat saling menggantikan karena keduanya merupakan kata umum yang

mengacu pada semua bau busuk. leksem hangèk dan hanggôi juga dapat dikatakan

bersinonim selama objek yang dimaksudkan itu adalah hewan (bau kambing), tetapi

hanggôi tidak dapat digunakan untuk mengacu pada bau sangit yang dihasilkan oleh

manusia. Leksem hanyi merupakan bau amis yang berasal dari ikan, telur, dan darah.

Leksem kh’eb dan kh’ob merupakan pasangan sinonim yang dapat saling

menggantikan, perbedaannya hanya terletak pada kekuatan nilai rasa yang dihasilkan

oleh kedua leksem pada referen yang dimaksud. Leksem khoih dan apak merupakan

pasangan sinonim yang dapat saling menggantikan untuk menyatakan bau yang

terdapat pada benda, tetapai leksem apak tidak dapat digunakan untuk menyatakan bau

yang terdapat pada manusia seperti halnya bau khoih. Leksem phong dan chueng

merupakan pasangan sinonim yang dapat saling menggantikan pada referen yang

berwujud kotoran manusia (air seni), tetapi makna leksem phong ini lebih luas karena

leksem ini juga dapat digunakan untk menyatakan bau busuk yang tedapat pada benda

yang sudah disimpan lama seperi bau khoih dan apak. Leksem banga hanya

diperuntukkan pada bau air yang sudah bususk. Leksem ceungèh merupakan leksem

yang biasanya digunakan untuk menyatakan bau yang terdapat pada hewan dan pada

benda yang baunya dihasilakan oleh perbuatan manusia. Leksem meuh’ong hanya

digunakan untuk menyatakan bau kunyit. Leksem khie hanya terdapat pada bau minyak

kelapa, leksem reungie menyatakan bau bususk yang dihasilkan pada benda karena

perbuatan manusia, dan bau peungèt merupakan bau angit/hangus yang biasanya

terdapat pada nasi.

Berdasarkan perbedaan makna yang dimiliki oleh tiap-tiap leksem tersebut,

terlihat leksem-leksem tersebut digunakan pada situasi dan referen yang berbeda

meskipun menunjukkan medan makna yang sama. Hal ini juga berlaku dalam leksem

yang menyatakan ‘bau tidak sedap’ dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia,

leksem yang menyatakan bau tidak sedap tidak sebanyak leksem dalam bahasa aceh.

Bau yang digunakan adalah bau busuk, maung, cengis, gosong, angit,dan apak. Bau

busuk digunakan secara umum untuk semua bau busuk yang dimiliki oleh benda, bau

maung untuk bau kunyit, bau angit dan gosong untuk makanan yang terlalu lama

dimasak/hangus, dan bau apak untuk benda yang tidak terkena matahari atau lama

direndam dalam air. Perhatikan contoh berikut!

75

(1a) Mulutmu baubusuk!

Dalam bahasa Aceh, mulut yang bau itu dapat dikatakan dengan leksem yang berbeda

karena hal itu menunjukkan seberapa keras dan tinggi gradasi pada bau mulut tersebut,

meskipun terkadang juga dimaksudkan untuk menghina. Perbedaan tersebut dapat

dilihat pada contoh-contoh berikut.

(1b) Babah kah khieng that! ‘Mulutmu sangat bau!’

(1c) Babah kah kh’eb that! ‘Mulutmu sangat bau!’

(1d) Babah kah kh’ob that! ‘Mulutmu sangat bau!’

Kalimat (1a), (1b), (1c), dan (1d) di atas memiliki makna dan referen yang sama

yaitu bau busuk pada mulut. Kalimat (1a) merupakan leksem umum yang digunakan

dalam bahasa Indonesia, sedangkan dalam bahasa Aceh, keadaan bau mulut ini dapat

dikatakan dalam tiga leksem. Kalimat (1b) merupakan leksem umum yang digunakan

dalam bahasa Aceh, (1c) merupakan leksem khusus yang memiliki gradasi lebih tinggi

dari khieng, dan (1d) merupakan leksem khusus yang memiliki gradasi paling tinggi

dari khieng dan kh’eb.

4.2.2 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kuat’

Dalam dokumen adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh (Halaman 87-92)

Dokumen terkait