• Tidak ada hasil yang ditemukan

adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh"

Copied!
208
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

diajukan untuk melengkapi ugas-tugas

dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan

oleh

Anggi Ariska

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

DARUSSALAM, BANDA ACEH

(2)
(3)
(4)
(5)

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha mulia

Yang mengajar manusia dengan pena

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al-’Alaq: 1-5)

Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman

diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat “.

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Alhamdulillahirrabil’alamin

Sebuah penantian telah berakhir

Satu asa telah kuraih

sebuah senyuman telah teukir

Namun…

Itu bukanlah akhir dari perjuangan

Melainkan awal sebuah keberhasilan

Kupersembahkan karya kecil ini dengan ketulusan hati, bersama keridhaan-Mu

ya Allah, untuk cahaya hidup, yang senantiasa ada saat suka maupun duka,

selalu setia mendampingi saat kulemah tak berdaya, kepada kedua insan mulia

yang telah menghembuskan nafasku ke dunia.

Ayahanda tercinta yang tetap berjuang meski didera rasa sakit, yang tetap

mengayomi meski diri telah lemah, yang tetap tersenyum meski terkadang

kulakukan sebuah kekhilafan.

Ibunda tercinta yang selalu memanjatkan doa untuk putri tercinta dalam setiap

sujudnya, yang selalu mencurahkan rasa cinta saat kubutuhkan, yang

senantiasa setia mendengar keluh kesahku.

(6)

Teristimewa untuk para punggawa ilmu yang telah mendidikku menjadi

seseorang, dimulai sejak kududuk di bangku dasar hingga perguruan tinggi.

Kepada guru-guru dan para dosen hebat yang pernah kukenal yang tak pernah

lelah mengajari, mengayomi, menasihati, dan mendidik hingga terkadang

mengomeliku… Aku pasti akan merindukan semua hal tersebut.

Untuk tulusnya persahabatan yang telah terjalin, dua sahabatku yang kukenal

ketika menempuh studi di Teknik Arisitektur, Sri Mellina dan Elisa. Terima

kasih untuk waktu, tawa, candaan , dan tulusnya persahabatan selama enam

tahun perkenalan kita. Untuk sahabatku di PBSI, Nyakshe, Rina, Ijal, Husnul,

serta kakak dan adik letingku yang tak mungkin semuanya kusebutkan satu per

satu.

Dan... buat yang tiba-tiba datang dalam hidupku dan langsung menghiasi

hari-hariku, kekasih terpilih, Syukri Efendi, yang juga terus memberikanku semangat

untuk meraih gelar sarjanaku, yang tak pernah berhenti menjitak kepalaku jika

aku mulai putus asa. Terima kasihku untuk perhatian, pengertian, kesabaran,

dan pokoknya semua especially for you,

sekarang dan selamanya. Amiin...

Tuhan hanya memberikan yang terbaik, meski kadang tak sesuai keinginan.

Tapi percayalah, Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah

Teruslah belajar, berusaha, dan berdoa untuk menggapainya.

Jatuh berdiri lagi. Kalah mencoba lagi. Gagal Bangkit lagi.

Sampai Allah SWT berkata “waktunya pulang”

(7)

v

nikmat yang dikaruniakan-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Kemudian, salawat dan salam penulis sampaikan kepada baginda Rasulullah saw. beserta para sahabat beliau yang memperjuangkan nikmat Islam sehingga kita dapat menikmati cahaya dunia dengan ilmu pengetahuan.

Skripsi berjudul “Adjektiva Bersinonim dalam Bahasa Aceh” ini merupakan tugas akhir guna memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala. Skripsi ini berisi pembahasan adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh dan hubungan kesinoniman pasangan adjektiva bersinonim berdasarkan analisis komponen makna dan teknik substitusi. Penelitian skripsi ini dikhususkan pada kajian semantik bahasa Aceh (sinonim) yang hingga saat ini masih belum banyak mendapat sorotan sebagai objek penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu gerbang yang menjembatani penelitian lain yang berhubungan dengan bidang semantik bahasa Aceh.

(8)

vi

saudaraku atas doa, motivasi, dan dukungan dalam segala hal.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberi manfaat kepada para pembaca, khususnya kepada mereka yang berminat melakukan penelitian semantik bahasa Aceh. Selain itu, demi kesempurnaan skripsi ini penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca.

Banda Aceh, April 2013 Penulis

(9)

vii

(10)

viii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMBANG ... xii

DAFTAR SINGKATAN ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 7

1.3Tujuan Penelitian ... 7

1.4Manfaat Penelitian ... 8

BAB II LANDASAN TEORETIS ... 9

2.1 Adjektiva ... 9

2.1.1 Pengertian Adjektiva ... 9

2.1.2 Ciri-Ciri Adjektiva ... 10

2.1.3 Pembagian Adjektiva ... 12

2.1.4 Gradasi Adjektiva ... 15

2.2 Sinonim ... 18

2.2.1 Pengertian Sinonim ... 18

2.2.2 Batasan Sinonim ... 19

2.2.3 Faktor Munculnya Sinonim ... 20

2.2.4 Cara Menentukan Sinonim ... 21

2.3 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi ... 23

2.3.1 Pengertian Medan Makna dan Komponen Makna ... 23

2.3.2 Langkah-Langkah Menganalisis Komponen Makna ... 26

2.3.3 Manfaat Analisis Komponen ... 28

2.3.4 Teknik Substitusi ... 28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30

3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 30

(11)

ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35

4.1 Adjektiva Bersinonim dalam Bahasa Aceh ... 35

4.1.1 Korpus Data Adjektiva Bersinonim dalam Bahasa Aceh ... 35

4.1.2 Pengelompokan Pasangan Sinonim Berdasarkan Tipe Adjektiva ... 41

4.2 Hubungan Kesinoniman Adjektiva Bersinonim Berdasarkan Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi ... 65

4.2.1 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Bau Tidak Sedap’ ... 66

4.2.1.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Bau Tidak Sedap’ ... 66

4.2.1.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Bau Tidak Sedap’ ... 70

4.2.2 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kuat’ 76 4.2.2.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Kuat’ ... 76

4.2.2.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kuat’ ... 77

4.2.3 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kecantikan Fisik’ ... 81

4.2.3.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Kecantikan Fisik’ ... 81

4.2.3.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kecantikan Fisik’ ... 85

4.2.4 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Tuli’.. 88

4.2.4.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Tuli’ ... 88

4.2.4.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Tuli’ ... 90

4.2.5 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kecil’... 92

4.2.5.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Kecil’ ... 92

4.2.5.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Kecil’ ... 93

4.2.6 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Hamil’ ... 96

4.2.6.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Hamil’ ... 96

4.2.6.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Hamil’ ... 97

4.2.7 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Sangat Masak’ ... 100

4.2.7.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Sangat Masak’ ... 100

(12)

x

‘Malu’ ... 107

4.2.9.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Malu’ ... 107

4.2.1.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Malu’ ... 108

4.2.10 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Bulat’ ... 110

4.2.10.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Bulat’ ... 110

4.2.10.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Bulat’ ... 111

4.2.11 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi Leksem Adjektiva ‘Hitam’ ... 113

4.2.11.1 Analisis Komponen Makna Leksem Adjektiva ‘Hitam’……… ... 113

4.2.11.2 Substitusi Leksem Adjektiva ‘Hitam’ ... 114

BAB V PENUTUP ... 117

5.1 Simpulan ... 117

5.2 Saran ... 118

(13)

xi

Tabel 4.2 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Sikap, Tabiat, atau Perilaku

Batin Manusia ... 41

Tabel 4.3 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Keadaan Bentuk ... 46

Tabel 4.4 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Ukuran ... 48

Tabel 4.5 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Waktu dan Usia ... 51

Tabel 4.6 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Warna... 52

Tabel 4.7 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Jarak ... 52

Tabel 4.8Tipe Adjektiva yang Menyatakan Kuasa Tenaga ... 53

Tabel 4.9 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Kesan atau Penilaian Indera ... 54

Tabel 4.10 Tipe Adjektiva Pemeri Sifat yang Memerikan Kualitas dan Intensitas yang Bercorak Fisik atau Mental ... 57

Tabel 4.11 Tipe Adjektiva Tidak Bertaraf ... 63

Tabel 4.12 Analisis Komponen Makna ‘Bau Tidak Sedap’ ... 68

Tabel 4.13 Analisis Komponen Makna ‘Kuat’ ... 77

Tabel 4.14 Analisis Komponen Makna ‘Kecantikan Fisik’ ... 83

Tabel 4.15 Analisis Komponen Makna ‘Tuli’ ... 89

Tabel 4.16 Analisis Komponen Makna ‘Kecil’ ... 92

Tabel 4.17 Analisis Komponen Makna ‘Hamil’ ... 96

Tabel 4.18 Analisis Komponen Makna ‘Sangat Masak’ ... 100

Tabel 4.19 Analisis Komponen Makna ‘Mengkal’ ... 104

Tabel 4.20 Analisis Komponen Makna ‘Malu’ ... 107

Tabel 4.21 Analisis Komponen Makna ‘Bulat’ ... 111

Tabel 4.22 Analisis Komponen Makna ‘Hitam’ ... 114

(14)

xii

(15)

xiii BA = bahasa Aceh

dlm = dalam dng = dengan

dsb. = dan sebagainya hik = hikayat

KBAI = kamus bahasa Aceh-Indonesia ki = kiasan

(16)

xiv

(17)

1

1.1Latar Belakang

Aceh merupakan provinsi yang memiliki keragaman bahasa daerah. Wildan (2002:1) menyebutkan bahwa ada sembilan bahasa daerah yang terdapat di Aceh. Sembilan bahasa daerah tersebut adalah bahasa Aceh, bahasa Gayo, bahasa Jamèe, bahasa Kluet, bahasa Alas, bahasa Tamiang, bahasa Simeulu, bahasa Haloban, dan bahasa Singkil. Di antara semua bahasa tersebut, bahasa Aceh (BA) merupakan bahasa daerah sekaligus bahasa ibu yang paling banyak pemakainya. Pemakai bahasa ini tersebar di seluruh wilayah Aceh, terutama di Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Jaya, dan Kota Sabang.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, BA memiliki lima fungsi, yaitu (1) sebagai lambang kebanggan daerah, (2) lambang identitas daerah (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat, (4) sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia, dan (5) pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia (Wildan, 2002:2). Melalui fungsi dan kedudukan terhormat tersebut, hingga saat ini BA masih digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dalam berbagai situasi komunikasi masyarakat baik situasi formal maupun nonformal.

(18)

dengan kalimat serta pola pembentukannya, dan semantik berkaitan dengan aspek makna. Khusus untuk penelitian ini, kajian hanya difokuskan pada aspek semantik. Chaer (2002:2) menjelaskan pengetian semantik sebagai berikut.

Semantik adalah studi kebahasaan yang mempelajari makna sebuah kata. Secara teoretis, semantik adalah tataran dalam bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dan hal-hal yang ditandainya. Tanda-tanda linguistik itu terdiri atas (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama. Kedua komponen tersebut merupakan tanda atau lambang; sedangkan yang ditandai adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang disebut referen. Hal ini berarti setiap kata memiliki makna sebagai komponen dari kata itu.

Sebagai alat komunikasi, kegiatan berbahasa menjadi kegiatan yang penting dalam menjelaskan hubungan antara sesuatu yang dibicarakan dengan apa yang dimaksudkan. Hal ini disebabkan kegiatan berbahasa sebenarnya adalah kegiatan mengekspresikan lambang-lambang bahasa agar makna yang ada pada suatu lambang dapat disampaikan kepada lawan bicara dalam komunikasi lisan atau kepada pembaca dalam komunikasi tulis. Oleh karena itu, Zurriyati (2009:5) mengemukakan pengetahuan tentang adanya hubungan makna antara lambang dan makna sangat diperlukan dalam komunikasi.

(19)

leksikal memperhatikan makna yang terdapat di dalam kata sebagai satuan mandiri. Ha ini juga diperkuat oleh Chaer (2007a:68) yang menjelaskan bahwa kajian makna leksikal adalah makna butir leksikal yang secara inheren ada di dalam leksikal tersebut. Makna leksikal ini mencakup masalah kesamaan makna, kebalikan makna, ketercakupan makna, dan keberlainan makna.

Kata yang dihasilkan dalam setiap bahasa akan memiliki makna dan akan menjadi kesepakatan umum dalam mengidentifikasi referen yang dimaksud. Chaer (2006:382) menuliskan secara umum kata dibedakan menjadi dua macam, yaitu

(1) kata-kata yang mengandung makna, konsep atau pengertian; (2) kata-kata yang tidak mengandung makna, tetapi hanya memiliki fungsi gramatikal. Jenis kata yang pertama jumlahnya relatif banyak; mempunyai kemungkinan untuk bertambah terus sesuai dengan perkembangan kebudayaan dan masyarakat, termasuk verba, nomina, dan adjektiva. Berbeda dengan jenis kata yang pertama, jenis kata yang kedua relatif terbatas; tidak atau kecil kemungkinan untuk bertambah lagi, seperti konjungsi, preposisi, artikula, dan adverbial.

Saussure dalam Chaer (2007b:118) menegaskan bahwa setiap kata tentu memiliki makna sebagai komponen dari kata itu. Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri atas sejumlah komponen makna. Chaer (2002:114) mendefinisikan “komponen makna atau komponen semantik mengajarkan bahwa setiap kata atau unsur leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsur yang bersama-sama membentuk makna kata atau makna unsur leksikal”.

(20)

indah dalam bahasa Indonesia yang diartikan ‘bagus untuk penampilan fisik’, atau

leksem kh’ieng dan kh’ob dalam BA yang diartikan ‘berbau busuk’. Leksem-leksem tersebut sebenarnya tidak bermakna sama karena leksem-leksem tersebut tidak dapat dipertukarkan secara bebas. Leksem ayu mengandung komponen makna di antaranya adalah subjeknya manusia, nilai rasa netral, dan merupakan kata khusus (untuk wajah perempuan). Leksem indah mengandung komponen makna subjeknya adalah benda/manusia, nilai rasa netral, dan merupakan kata umum. Perhatikan contoh berikut!

(1)Wanita itu berparas ayu. (2)Wanita itu berparas indah.

Kedua kalimat tersebut masih dapat diterima dalam konteks. Namun, bila kita bandingkan dengan kalimat berikut.

(3)Tulisan tanganmu *ayu.

(4)Tulisan tanganmu indah.

Terlihat jelas bahwa kata ayu dalam kalimat (3) tidak dapat berterima. Hal ini membuktikan meskipun dianggap sama, kedua kata yang dianggap memiliki makna yang sama itu tidak selamanya bisa saling disubstitusikan.

(21)

(6)That kh’ieng eungkôt nyoe. ‘Ikan ini bau sekali’. Bandingkan dengan contoh berikut!

(7)Kh’ob that bèe droeneuh! ‘Anda bau sekali’!

(8)Èk nyoe bèe *kh’ob. ‘Tahi ini berbau *busuk’.

Leksem pada (5), (6), dan (7) merupakan contoh penggunaan leksem yang masih dapat diterima dalam konteks. Akan tetapi, leksem pada (8) terlihat rancu dan kurang cocok direferenkan dengan subjeknya karena lesem kh’ob biasanya digunakan untuk menyatkan bau pada telur, daging, atau bangkai yang telah busuk.

Secara sederhana, dapat dikatakan contoh leksem itu bermakna sama. Akan tetapi, dalam teori semantik, kedua leksem itu tidaklah identik sama. Dengan kata lain, terdapat perbedaan makna pada kata-kata tersebut. Gejala kesamaan leksem ini dinamakan dengan sinonim. Chaer (2006:388) menjelaskan bahwa sinonim merupakan dua buah kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama. Dikatakan “kurang lebih sama” artinya tidak akan ada dua buah kata berlainan yang maknanya persis sama. Pernyataan ini diperkuat oleh Verhaar dalam Pateda (2001:223) yang mengemukakan bahwa sinonim adalah ungkapan (biasanya kata, tetapi dapat pula berupa frasa atau kalimat) yang kurang lebih sama maknanya dengan suatu ungkapan lain.

(22)

makna dan informasi itu sama dikarenakan terdapatnya hubungan medan makna dalam setiap pasangan kata yang bersinonim. Sebagai contoh kata tarie dan lagak dalam BA yang bermakna ‘cantik atau indah’. Infomasi pada kedua kata tersebut adalah kecantikan fisik yang dimiliki seseorang. Komponen makna dalam kata tersebut bercirikan pada subjeknya adalah manusia–bisa ditujukan untuk perempuan dan laki-laki–dan merupakan kata umum.

Sinonim kata tersebut hampir terjadi dalam semua kelas kata mandiri dalam bahasa. Objek penelitian ini, BA, juga memiliki kesinoniman tersebut. Kesinoniman tersebut tidak hanya terjadi pada leksem dasarnya saja, tetapi juga terjadi pada leksem yang berupa leksem reduplikasi yang menyatakan referen berupa onomatope. Bagi peneliti, ini merupakan sebuah keunikan yang jarang terdapat dalam bahasa lain. Kesinoniman hanya difokuskan pada pasangan adjektiva dasar yang bersinonim. Penelitian mengkaji sinonim secara leksikal, tidak pada frasa atau kalimat secara gramatikal.

Penelitian mengenai BA sudah banyak dilakukan. Beberapa penelitian itu adalah Rizqi (2006) mengenai Kata Tugas Bahasa Aceh, Sugiarto (2003) tentang

Frasa dalam Bahasa Aceh, Santoso, dkk (2006) tentang Negasi dalam Bahasa Aceh,

Sulaiman, dkk (1986) tentang MorfologiNomina Bahasa Aceh, Armia dan Azwardi (2005) tentang Pronomina Persona Bahasa Aceh, dan Djunaidi, dkk (2003) tentang

Fonologi Bahasa Aceh. Untuk kajian semantik sendiri sudah pernah dilakukan

(23)

menginterpretasi referen yang dimaksud sehingga terkadang sering menyamakan maksud yang diinginkan. Selain itu, terbatasnya kosakata yang diketahui penutur bahasa juga cenderung membuat penutur bahasa menyebutkan kata-kata yang bersinonim untuk referen yang sama, padahal makna dan informasi yang dikandung bisa saja berbeda. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat membantu penutur BA mengetahui perbedaan dan hubungan kesinoniman tersebut dan mengetahui makna leksikal yang sebenarnya sehingga dapat menggunakan leksem yang tepat sesuai situasi dan kondisi.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.

(1) Bagaimanakah adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh?

(2) Bagaimanakah hubungan kesinoniman adjektiva bersinonim tersebut berdasarkan analisis komponen makna dan teknik substitusi?

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

(1) mendeskripsikan adjektiva bersinonim dalam bahasa Aceh;

(24)
(25)

9

2.1.1 Pengertian Adjektiva

Adjektiva, seperti halnya verba dan nomina, merupakan kelompok kelas kata terbuka yang keanggotaannya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan sosial budaya dalam suatu masyarakat. Secara umum adjektiva diartikan sebagai kata sifat. Namun, beberapa ahli bahasa memberikan definisi yang lebih konkret dan lengkap berkaitan dengan kelas kata tersebut. Finoza

(2002:64) menerangkan bahwa adjektiva adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat seseorang, binatang, atau suatu benda. Selanjutnya, Alwi (2003:171) menjelaskan bahwa adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Lebih detail, Chaer (2002:161) mengemukakan pengertian adjektiva secara semantik adalah leksem yang menerangkan keadaan suatu nomina atau menyifati nomina itu dan secara secara sintaktik adalah leksem yang dapat diawali kata ingkar tidak, dapat diawali kata pembanding paling, dan dapat direduplikasikan serta diberi imbuhan

se-nya.

Berkaitan dengan pengertian adjektiva, Kridalaksana (2007:59) menuliskan sebagai berikut.

(26)

Selain itu, secara lebih spesifik, Muslich (2008:110) telah merangkum definisi adjektiva dari beberapa ahli bahasa sebagai berikut.

(1) Versi tradisional yang dikemukakan oleh Alisyahbana (1954) bahwa adjektiva adalah kata yang menyatakan sifat atau hal keadaan sebuah benda/sesuatu. Misalnya baru, tebal, tinggi, rendah, baik, buruk, mahal, dan sebagainya; (2) Versi Keraf, adjektiva adalah segala kata yang dapat mengambil bentuk “se- + reduplikasi + -nya”, serta dapat diperluas dengan:

paling, lebih, sekali. Misalnya sekuat-kuatnya dan paling sempurna; (3) Versi Ramlan, adjektiva adalah semua kata yang tidak dapat menduduki tempat objek dan yang dinegatifkan dengan kata tidak. Kata golongan ini dapat juga dinegatifkan dengan kata bukan apabila dipertentangkan dengan keadaan lain; (4) Versi Samsuri: 1) adjektiva dasar: (1) “sederhana” misalnya cabul, cepat,

gembur; (2) “rumit”, misalnya terharu, terbata-bata, tertegun. 2) adjektiva turunan (1)” ber- + nomina”, misalnya berjasa, berharga, berbahaya; (2) “ter- + verba” misalnya tergencet, terbuka, terlarang; (3) {meN- + -kan}, misalnya membosankan, mencemaskan, dan menakutkan.

Dalam bahasa Aceh, Wildan (2002:43) mengemukakan bahwa adjektiva adalah semua kata yang menyatakan sifat atau keadaan suatu benda seperti beutoi ‘betul’,

göt ‘bagus’, jeumot ‘rajin’, putéh ‘putih’ dan meuh’ai ‘mahal’. Jadi, berdasarkan

beberapa pendapat di atas, dapat dirangkum pengertian bahwa adjektiva adalah kelas kata yang menerangkan sifat atau keadaan dari suatu objek.

2.1.2 Ciri-Ciri Adjektiva

(27)

sebagai subkelas atau sebagai kelas dalam superkelas, sedangkan dalam bahasa sintetik adjektiva mempunyai kategori gramatikal nominal;

(2) berdasarkan volume semantik, kata-kata asli kategori adjektiva menyatakan ciri-ciri kualitas;

(3) berdasarkan distribusi, adjektiva berangkaian dengan kata sangkal tidak, dengan kata relatif yang, dengan penegas kualitas dan tingkat kualitas dan perbandingan, dan jarang dengan penegas waktu dan modalitas.

Berkaitan dengan ciri-ciri spesifik adjektiva, Parera (1994:10) menjelaskan ciri-ciri adjektiva sebagai berikut.

Calon kelas kata sifat bahasa Inggris pada umumnya dapat dicirikan dengan leksem very dan most, dapat bersufiks dengan -er, -est, -st untuk menyatakan tingkat perbandingan dan dengan bentuk sufiks seperti –ish, sedangkan untuk bahasa Indonesia sendiri, dapat dicirikan dengan kata

amat/sangat, paling, dan lebih. Selain itu, secara morfologis dapat berproses dengan bentuk se- + R + -nya.

Sama halnya dengan Parera, menurut Chaer (2002:168), ciri-ciri adjektiva itu dapat diketahui dari pendamping adjektiva yang antara lain menyatakan (1) pengingkaran yang menggunakan kata tidak dan bukan; (2) kualitas yang menggunakan leksem

sangat, agak, cukup, paling, sekali, maha, dan serba.

(28)

(2002:64) yang memaparkan ciri-ciri adjektiva sebagai berikut: (1) bisa diberi keterangan pembanding lebih, kurang, paling; (2) dapat diberi keterangan penguat

sangat, sekali, benar, terlalu; (3) dapat diingkari dengan tidak; (4) dapat diulang

dengan {se-nya}, (5) pada kata tertentu berakhir dengan –er, -(w)i-, iah, -if, -al, dan –ikan. Dalam bahasa Aceh, ciri-ciri kata sifat itu juga sama dengan bahasa Indonesia seperti yang diterangkan oleh Wildan (2002:43) sebagai berikut.

(1) Dapat didahului oleh kata leubèh ‘lebih’, misalnya:

Beutôi ‘ betul’ leubèhbeutôi ‘lebih betul’.

(2) Dapat didahului oleh kata paléng ‘paling’.

(3) Dapat didahului atau diakhiri oleh kata that ‘sangat’

Fungsi adjektiva di dalam kalimat adalah memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina. Keterangan atau atribut tersebut dapat berupa deskripsi mengenai kualitas atau keanggotaan. Selain itu adjektiva dapat berfungsi predikatif ataupun adverbial. Fungsi predikatif dan adverbial itu dapat mengacu ke suatu keadaan (Arifin dan Junaiyah, 2009:106).

2.1.3 Pembagian Adjektiva

(29)

Kridalaksana (2007:59) membagi adjektiva dasar berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut: (1) yang dapat diuji dengan kata sangat dan lebih; (2) yang tidak dapat di uji dengan kata sangat dan lebih.

(2) Abdul Chaer

Chaer (2002:162) secara semantik membagi adjektiva ke dalam delapan tipe. Tipe-tipe adjektiva tersebut adalah sebagai berikut.

1) Tipe I adalah leksem yang menyatakan sikap, tabiat, atau perilaku batin manusia (termasuk yang dipersonifikasikan) seperti ramah, galak, baik, berani, takut, dll.

2) Tipe II adalah leksem adjektiva yang menyatakan keadaaan bentuk seperti bundar, bulat, lengkung, lurus, dan miring.

3) Tipe III adalah leksem adjektiva yang menyatakan ukuran seperti panjang, pendek, tinggi, lebar, luas, ringan, dll.

4) Tipe IV adalah leksem yang menyatakan waktu dan usia seperti lama, baru, dan tua.

5) Tipe V adalah leksem yang menyatakan warna seperti merah, kuning, dll. 6) Tipe VI adalah leksem yang menyatakan jarak seperti jauh, dekat, dan

sedang.

7) Tipe VII adaah leksem yang menyatakan kuasa tenaga seperti kuat, lemah, segar, letih, dan lesu.

(30)

Alwi (2003:172) membagi adjektiva sebagai berikut.

(1) Adjektiva dari perilaku semantis. Adjektiva ini terdiri atas adjektiva bertaraf dan tidak bertaraf.

a. Adjektiva bertaraf

a) Adjektiva pemeri sifat yang memerikan kualitas dan intensitas yang bercorak fisik atau mental seperti leksem aman, bersih, cocok, ganas, latah, panas, dan dingin.

b) Adjektiva ukuran yang mengacu ke kualitas yang dapat diukur dengan ukuran yang sifatnya kuantitatif seperti berat, pendek, kecil, besar, tebal, tipis, lapang, sempit, tinggi.

c) Adjektiva warna mengacu ke berbagai warna seperti leksem merah, kuning, hijau, hitam, lembayung, dll.

d) Adjektiva waktu yang mengacu ke masa proses, perbuatan, atau keadaaan berada atau berlagsung sebagai pewatas seperti leksem lama, segera, jarang, sering, lambat, cepat, mendadak, dan singkat. e) Adjektiva jarak mengacu ke ruang antara dua benda, tempat, atau

maujud sebagai pewatas nomina seperti leksem jauh, dekat, lebat, suntuk, rapat, renggang, dan akrab.

f) Adjektiva sikap batin yang berkaitan dengan pengacuan suasana hati atau perasaan seperti leksem bahagia, bangga, benci, berahi, berani, sakit, risau, dan sayang.

(31)

(b) pendengaran: bising, garau, jelas, merdu, nyaring, serak; (c) penciuman: anyir, busuk, hancing, harum, semerbak, wangi; (d) perabaan: basah, halus, kasar, kesat, lembab, lembut, licin, tajam (e) pencitrasaan: asam, enak, kelat, lezat, lemak, manism pahit, sedap,

tawar.

b. Adjektiva tidak bertaraf menempatkan acuan yang diwatasinya di dalam kelompok atau golongan tertentu. Kehadirannya tidak dapat bertaraf-taraf. Misanya, abadi, buntu, gaib, ganda, genap, gasal, sah, tentu, tunggal, termasuk di dalam kelompok ini adjektiva bentuk seperti bundar, bengkok, bulat, lonjong, dan lurus.

(4) Wildan

Wildan (2002:44) menjelaskan berdasarkan bentuknya, kata sifat dalam bahasa Aceh dibagi atas dua macam.

(1) Kata sifat dasar yang belum mendapat imbuhan, ulangan, atau majemukan. (2) Kata sifat turunan adalah kata sifat yang diturunkan dari jenis kata lain. Jenis kata

yang dapat diturunkan menjadi kata sifat adalah kata benda dan kata kerja. Penurunan itu dilakukan dengan menggunakan imbuhan meu-,… -eun-, dan teu.

2.1.4 Gradasi Adjektiva

(32)

Perealisasian kategori tata tingkat ini dinyatakan pula secara morfemis. Bahasa Inggris merealisasikan kategori ini sebagian dengan proses morfemis, misalnya dengan sufiks –er untuk komparataif dan sufiks –st untuk superlatif. Bahasa Indonesia belum mengenal realisasi kategori secara morfemis walaupun akhir-akhir ini proses itu mulai tampak. Misalnya sufiks –an untuk komparatif dan ke-an untuk superlatif. Bahasa Indonesia juga mengenal kategori gramatikal adjektiva superlatif dengan ter-.

Secara lebih spesifik, Alwi (2003:180) mengemukakan “pertarafan adjektiva dapat menunjukkan berbagai tingkat kualitas atau intensitas dan berbagai bentuk tingkat bandingan. Pembedaan tingkat kualitas atau intensitas dinyatakan dengan pewatas seperti benar, sangat, terlalu, agak, dan makin. Pembedaan tingkat bandingan dinyatakan dengan pewatas seperti lebih, kurang, dan paling”. Alwi membagi gradasi adjektiva tersebut sebagai berikut.

(1) Tingkat kualitas

Tingkat kualitas secara relatif menunjukkan tingkat intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah. Tingkat kualitas ini terbagi atas enam tingkat sebagai berikut. 1) Tingkat positif merincikan kualitas atau intensitas yang diterangkan oleh

adjektiva tanpa pewatas. Ketiadaan kualitas dinyatakan dengan pemakaian

tidak atau tak.

2) Tingkat intensif memerikan kadar kualitas atau intensitas dengan memakai pewatas benar, betul, atau sungguh.

(33)

sekali.

4) Tingkat eksesif menekankan kadar kualiats atau intensitas yang terlebih, atau yang melampaui batas kewajaran dan dinyatakan dengan pewatas

terlalu, terlampauI, dan kelewat.

5) Tingkat argumentatif menggambarkan naik atau bertambahnya tingkat kualitas atau intensitas dinyatakan dengan pewatas makin…, makin …

makin…, atau semakin.

6) tingkat atenuatif memerikan penurunan kadar kualitas atau pelemahan intensitas dinyatakan dengan pewatas agak atau sedikit.

(2) Tingkat bandingan

Pada tingkat bandingan ini, kualitas adjektiva terbagi atas tingkat yang intensitasnya dapat setara dan tidak setara. Tingkat setara disebut tingkat ekuatif; tingkat yang tidak setara dibagi dua: tingkat komparatif dan tingkat superlatif.

1) Tingkat ekuatif menngacu pada kadar kualitas atau intensitas yang sama atau hampir sama. Penanda yang digunakan adalah bentuk klitik se- yang diletakkan di depan adjektiva. Tingkat ini juga dapat dinyatakan dengan pemakaian sama + adjektiva + -nya diantara dua nomina atau sama +

adjektiva + -nya dibelakang dua nomina yang dibandingkan.

2) Tingkat komparatif mengacu pada kadar kualitas atau intensitas yang lebih atau kurang. Pewatas yang dipakai adalah lebih … (daripada) …, kurang …

(34)

tinggi di antara semua acuan adjektiva yang dibandingkan. Penanda yang digunakan afiks ter- dan pewatas paling di muka adjektiva. Adjektiva superlatif dapat diikuti frasa yang berpreposisi dari, di antara, dari antara beserta nomina yang dibandingkan.

Selain pertarafan bentuk kualitas dan perbandingan tersebut, gradasi adjektiva juga ditentukan oleh nilai rasa kata yang digunakan. Chaer (2007:151) mengemukakan “nilai rasa berkaitan erat dengan norma-norma keagamaan, kepercayaan, sosial, budaya, dan pandangan hidup yang berlaku dalam suau masyarakat. Ada nilai rasa yang bisa digunakan secara bebas karena mengandung nilai netral, ada kata yang sebaiknya tidak digunakan karena bernilai rasa negatif, dan ada juga kata yang sangat baik digunakan karena mengandung nilai rasa positif”.

2.2 Sinonim

2.2.1 Pengertian Sinonim

Beberapa kata yang berbeda mempunyai arti yang sama. Dengan kata lain beberapa kata mengacu pada satu unit semantik yang sama. Relasi ini dinamakan sinonim (Alwasilah, 1993:164). Secara etimologi kata sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’ dan syn yang berarti ‘dengan’. Secara harfiah sinonim berarti nama lain untuk benda atau hal yang sama (Pateda, 2001:222). Umpamanya buruk dan jelek adalah dua kata yang bersinonim; bunga,

kembang, dan puspa adalah tiga kata yang bersinonim. Berkaitan dengan hal itu,

(35)

sinonim hanyalah kata-kata saja.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Djajasudarma (1993:36) yang mengatakan sinonim digunakan untuk menyatakan sameness of meaning ‘kesamaan arti’. Jika dua kata atau lebih memiliki makna yang sama, maka perangkat kata itu disebut sinonim. Lebih lanjut Chaer (2003:297 dan 2002:82) menerangkan sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Relasi sinonim ini bersifat dua arah. Maksudnya, kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B, satuan ujaran B itu bersinonim dengan satuan ujaran A. Misalnya kata bunga bersinonim dengan kata kembang, maka kata kembang juga besinonim dengan kata bunga.

2.2.2 Batasan Sinonim

(36)

menurut teori analisis komponen makna yang sama adalah bagan atau unsur tertentu saja.

Djajasudarma (1993:42) dan Pateda (2001:222) menjelaskan ada tiga batasan untuk sinonim, yakni:

(1) kata-kata dengan referen ekstra linguistik yang sama, misalnya kata mati dan

mampus;

(2) kata-kata yang memiliki makna yang sama, misalnya memerintahkan dan kata

menyampaikan;

(3) kata yang dapat disulih dalam konteks yang sama, misalnya “Kami berusaha dengan giat, Kami berupaya dengan giat”.

2.2.3 Faktor Munculnya Sinonim

(37)

sinonim muncul karena kolokasi.

Webster (1973) dalam Geoffrey (2003:67) juga menjelaskan perbedaan antarmakna yang bersinonim sebagai berikut.

(1) Perbedaan makna sinonim diakibatkan oleh perbedaan implikasi. Sebagai contoh adalah kata remeh dan sepele yang merujuk kepada ‘hal atau sesuatu yag tidak penting’. Makna sepele mengarah kepada implikasi positif, sedangakan remeh bermplikasi negatif; (2) Perbedaan makna sinonim diakibatkan oleh perbedaan aplikasi. Sebagai contoh kata

nikmat, lezat, dan enak. Kata nikmat dikenakan pada makanan, minuman, kehidupan, dan semua yang dapat memberikan kesenangan, perasaan puas, sedangkan enak dan lezat hanya dikenakan pada makanan dan minuman; (3) Perbedaan antara makna sinonim didasarkan pada kelebihluasan cakupan makna yang satu dari yang lain. Dalam bahasa Indonesia dikenal kata

memahami dan mengerti. Perbedaan ini dapat diuji bahwa seseorang dapat mengerti perkataan orang lain, tetapi belum tentu dia memahami. Akan tetapi, seseorang yang memahami perkataan orang lain sudah tentu mengerti akan perkataan orang lain itu; (4) Perbedaan makna sinonim didasarkan pada asosiasi yang bersifat konotasi. Ciri perbedaan antara dua atau lebih kata yag bersinonim yang didasarkan pada asosiasi konotatif teletak pada ciri konotasi positif dan negatif. Makna kata rekam, merekam, rekaman dan

sadap, menyadap, sadapan (pengambilan suara atau bunyi dengan bantuan pita adan alat elektronik) terletak pada konotasi positif dan negatif. Rekam,

merekam, dan rekaman bersifat positif karena lebih netral, sedangkan sadap,

menyadap, dan sadapan cenderung bersifat negatif; (5) Perbedaan sinonim berdasarkan sudut pandang. Pada masa tertentu di Indonesia makna kata bui,

penjara dan lembaga pemasyarakatan dibedakan berdasarkan sudut pandang. Makna penjara dan bui dpandang dari sudut pandang hukuman, sedangkan lembaga pemasyarakatan dipandang dari sudut pandang tujuan “tujuan untuk merehabilitasi, memperbaiki sikap dan sifat terpidana agar dapat masuk ke masyarakat yang baik dan benar.

2.2.5 Cara Menentukan Sinonim

(38)

analitik bertujuan mencari makna dengan cara menguraikannya atas segmen-segmen utama (menggunakan analisis komponen makna), sedangkan pendekatan operasional ingin mempelajari kata dalam penggunaannya (menggunakan teknik substitusi). Mendukung pendapat Pateda, Parera (1994:110) menjelaskan satu teknik untuk mengelompokkan ialah dengan analisis komponen. Analisis komponen adalah pemecahan atas komponen-komponen makna kata sampai kepada komponen makna yang berkontras atau bertentangan.

Lebih lanjut, Djajasudarma (1993:38) menjelaskan analisis komponen makna juga diperlukan untuk menentukan kesinoniman, meskipun kata tersebut sudah ditempatkan dalam konteks. Selain itu, secara lebih detail, Djajasudarma (1993:36) mengatakan kesamaan makna itu dapat ditentukan dengan tiga cara.

(1) Substitusi (penyulihan) yang dapat terjadi bila kata dalam konteks tertentu dapat disulih dengan kata yang lain dan makna konteks tidak berubah, maka kedua kata itu sinonim.

(2) Pertentangan yang memungkinkan sebuah kata dapat dipertentangkan dengan sejumlah kata lain. Misal kata berat bertentangan dengan ringan dan enteng dalam bahasa Indonesia, maka ringan dan enteng adalah sinonim.

(39)

menuliskan bahwa untuk mengetahui bahwa dua kata atau lebih merupakan sinonim dapat digunakan cara (1) substitusi dan (2) menentukan antonin anggota pasangan sinonim (opposites). Substitusi adalah teknik yang digunakan dengan cara menggunakan kata-kata yang dianggap sinonim dalam konteks yang sama. Khusus penelitian ini, akan digunakan teknik analisis komponen makna dan teknik substitusi.

2.3 Analisis Komponen Makna dan Teknik Substitusi 2.3.1 Pengertian Medan Makna Komponen Makna

Istilah teori medan makna atau theory of semantic field adalah teori yang mengemukakan bahwa perbendaharaan kata dalam bahasa memiliki medan struktur, baik secara leksikal maupun konseptual yang dapat dianalisis secara sinkronis, diakronis, maupun secara paradigmatik (Aminudin, 2003:108). Teori medan makna tersebut memiliki hubungan erat dengan kebenaran konseptualisasi, penyimpulan, dan penghubungan. Lebih lanjut, Harimurti dalam Chaer (2002:110) menyatakan bahwa medan makna adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan.

(40)

kata terdiri atas sejumlah elemen yang antara elemen yang satu dengan yang lain memiliki ciri yang berbeda-beda. Komponen makna tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan dan pengalaman serta intuisi seseorang.

Moentaha (2006:153) mengungkapkan dalam literatur ilmu linguistik kontemporer, “Analisis komponen (componentional analysist) disebut sebagai cara menganalisis teks yang diarahkan pada pemisahan bagia-bagian integral makna kata, yaitu komponen semantik atau sem (semantic component, seme) dan juga pada penjelasan prinsip-prinsisp penggabungannya serta organisasi strukturalnya”. Analisis ini memberi kemungkinan untuk lebih tepat dan lebih mendalam menganalisis struktur makna kata, mengungkapkan hubungan antara beberapa maknanya dan menentukan ciri-ciri yang dijadikan dasar kata-kata untuk bergabung ke kelompok sinonim. Lebih lanjut, Nida dalam Pateda (1994:96) menyebutkan suatu kata dapat dianalisis berdasarkan komponen maknanya yang berdasarkan atas: (1) fungsi dari kata yang dianalisis; (2) bahan yang membentuk kata yang dianalisis; (3) keadaan kata yang dianalisis; (4) Komponen-komponen yang ada pada kata itu.

Menurut Leech (2003:123), analisis makna kata adalah suatu proses memilah-milahkan pengertian suatu kata ke dalam ciri-ciri khusus minimalnya yaitu kedalam komponen yang kontras dengan komponen lain. Misalnya kata-kata seperti

man, woman, girl, dalam bahasa Inggris. Kata-kata ini semua termasuk dalam bidang

semantik ‘ras manusia’. Makna kata-kata itu secara individual dapat dilukiskan dengan gabungan ciri-ciri tersebut:

(41)

boy : +HUMAN - ADULT + MALE girl : +HUMAN - ADULT -MALE

Chaer (2002:114) menjelaskan komponen makna atau komponen semantik (semantic feature, semantic property, atau semantic marker) mengajarkan bahwa setiap kata atau unsur leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsur yang bersama-sama membentuk makna kata atau makna unsur leksikal tersebut. Misalnya kata ayah mengandung komponen makna atau unsur makna: +insan, +jantan, dan +kawin; ibu mengandung komponen makna: +insan, +dewasa, - jantan, dan +kawin. Bagannya adalah sebagai berikut:

Komponen Makna Ayah Ibu

1. insan 2. dewasa 3. jantan 4. kawin

+ + + +

+ + - +

Ket: tanda (+) berarti mempunyai komponen makna tersebut, dan tanda (–) berarti tidak mempunyai komponen makna tersebut

(42)

2.3.2 Langkah-Langkah Menganalisis Komponen Makna

Poedjosoedarmo (2003:126) menyebutkan bahwa unit-unit kebahasaan seperti fonem dan unit semantik sebetulnya terdiri dari features (fitur-fitur, raut-raut). Yang dimaksud dengan features adalah kesatuan-kesatuan detail terkecil yan membentuk unit itu. Raut-raut ini bisa dinamai dengan semantic features atau sense

features atau raut makna atau komponen makna atau komponen semantik.

Semua kelas kata memiliki raut sematik. Untuk jenis kata sifat, jumlah raut semantik adalah paling sedikit sejumlah frasa sifatnya yang ada di dalam bahasa. Misalnya, adjektiva harus mempunyai raut-raut semantik sebagai berikut: (1) yang berhubungan dengan perbandingan; (2) yang berhubungan dengan isi atau komponen sifat; (3) yang berhubungan dengan bercampurnya dua atau tiga sifat sekaligus; (4) yang berhubungan dengan proses terjadinya sifat; (5) yang berhubungan dengan proses terjadinya sesuatu sifat. Dalam penelitian ini, akan digunakan raut komponen makna (1) bernyawa/tidak bernyawa (manusia, hewan, tumbuhan, dan benda); (2) Nilai rasa (netral, halus, dan kasar), (3) ragam bahasa (kata umum kata khusus, dan klasik); (4) gradasi (positif, komparatif, dan superlatif); (5) asosiasi konotasi (konotasi positif dan konotasi negatif); (6) posisi/keadaan objek.

Parera (2004:159) menjelaskan untuk menemukan komposisi unsur-unsur kandungan makna kata, kita perlu mengikuti prosedur sebagai berikut:

(43)

tadi.

Pateda (2001:270) juga memaparkan langkah- langkah menganalisis komponen makna dengan cara sebagai berikut.

(1) Memilih untuk sementara makna yang muncul dari sejumlah komponen yang umum dengan pengertian, makna yang dipilih masih berada dalam medan makna tersebut. Misalnya untuk kata marah terdapat kata; memaki, mendongkol, menggerutu, mengoceh.

(2) Mendaftarkan semua ciri spesifik yang dimiliki acuan.

(3) Meneliti kebermacaman makna seperti yang direfleksikan oleh acuan, lalu menentukan sifat mana yang sesuai yang tentu saja tidak benar untuk semuanya. (4) Mendaftarkan fitur pembeda makna pada setiap kata.

(5) Mengecek pada data seperti yang dikerjakan pada langkah pertama. (6) Mendeskripsikan komponen diagnostiknya.

(44)

Parera (2004:161) memaparkan bahwa manfaat formal analisis komponen makna adalah (1) analisis komponen makna dapat memberi jawaban mengapa beberapa kalimat benar, mengapa beberapa kalimat tidak benar, dan mengapa beberapa kalimat bersifat anomali (2) dengan analisis komponen atau komposisi makna kata, kita meramal hubungan antara makna yang dibedakan atas empat tipe, yakni kesinoniman, keantoniman, keberbalikan, kehiponiman.

Lebih senjut, Chaer (2003:320) menjelaskan bahwa ada dua manfaat yang diperoleh dari menganalisis komponen makna: (1) dapat digunakan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim; (2) untuk membuat prediksi makna-makna gramatika afiksasi, reduplikasi dan komposisi dalam bahasa Indonesia. Selain itu, Aminuddin (2003:128) juga menjelaskan manfaat analisis komponen adalah: (1) untuk memahami fitur semantik suatu kata sehubungan dengan ciri referen, pemberian abstraksi, maupun konseptualisasinya; (2) bermanfaat dalam usaha memahami berbagai kemungkinan makna suatu kata dan ciri relasi kata-kata dalam bacaan.

2.3.4 Teknik Substitusi

(45)

dengan kata yang lain dan makna konteks tidak berubah, kedua kata itu sinonim. Lebih lanjut, Bloomfield (1995:237) menjelaskan substitusi adalah bentuk bahasa yang dalam keadaan konvensional tertentu menggantikan salah satu kelas bentuk bahasa.

Hal yang sama juga diterangkan oleh Pateda (2001:86) yang menggunakan tes substitusi untuk menentukan tepat tidaknya makna sebuah kata sebagai berikut.

Ia sakit karena karena mandi hujan. Ia sakit sebab mandi hujan.

Contoh dalam bahasa Inggris dapat dilihat dalam Alwasilah (164:1993) 1. My old man has kicked the bucked.

2. My father has died.

3. My dear father has passed away.

4. My beloved parent has joined the heavenly choir.

(46)

30

3.1Ruang Lingkup Penelitian

Sesuai dengan latar belakang, dalam penelitian ini ditetapkan bahwa pasangan sinonim yang dianalisis dibatasi pada pasangan sinonim yang termasuk

dalam kelas kata adjektiva. Penelitian ini akan mengklasifikasikan bentuk pasangan adjektiva berupa kata dasar yang bersinonim dalam bahasa Aceh dan mendeskripsikan hubungan kesinoniman pasangan adjektiva yang bersinonim tersebut berdasarkan analisis komponen makna dan teknik substitusi. Selanjutnya, pasangan sinonim adjektiva yang dianalisis dibatasi lagi hanya pada kata-kata yang memiliki makna denotatifnya saja, bukan makna kiasan, dan bukan pula makna dalam konteksnya.

3.2Sumber Data

(47)

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yang menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Metode ini mencatat secara teliti segala gejala kebahasaan yang dapat dilihat dengan menyimak langsung data yang terdapat dalam sumber data. Gejala kebahasaan yang disimak dalam sumber data tentu saja adalah adjektiva yang memiliki pasangan sinonim dalam bahasa Aceh. Uraian penelitian tersebut akan ditulis secara deskriptif yang disajikan dalam bentuk kualitatif.

Metode kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian terhadap suatu masalah yang tidak didesain menggunakan prosedur-prosedur statistik (Subroto, 1992:5). Metode ini digunakan sebagai usaha menganalisis objek penelitian dari fenomena-fenomena, peristiwa-perstiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya. Hal ini disebabkan gejala kebahasaan yang diteliti tersebut murni merupakan gejala kebahasaan yang langsung bersumber pada data-data dalam kondisi ilmiah sehingga penyajian data penelitian tidak akan digambarkan menurut angka-angka, tetapi berupa deskripsi atau gambaran konkret dari fenomena kebahasaan tersebut.

(48)

sebelumnya.

3.4Metode dan Teknik Penyediaan Data

Metode dan teknik penyediaan data yang digunakan adalah metode simakdan metode introspeksi. Peneliti menggunakan metode simak ini dengan mempertimbangkan wujud sumber data yang berupa data tulisan. Dalam hal ini, peneliti akan menyimak penggunaan bahasa untuk memperoleh data tulisan yang dimaksud (Mahsun, 2005:90). Penyimakan penggunaan bahasa tersebut akan menggunakan teknik dasar yang disebut teknik sadap. Artinya, peneliti akan mendapatkan data dengan menyadap penggunaan bahasa, dalam hal ini penggunaan

bahasa secara tertulis berupa data kamus (Mahsun, 2005:91).

Penyediaan data akan dilakukan dengan teknik dan prosedur berikut: (1)mencari secara teliti objek data dalam sumber data yang telah ditentukan; (2)menandai dan memilah referen yang diperlukan sesuai dengan masalah

penelitian;

(3) mencatat entri referen dalam bentuk korpus data.

Penelitian ini juga menggunakan metode instrospeksi. Peneliti menggunakan metode ini sebagai pertimbangan bahwa peneliti sendiri adalah penutur bahasa asli yang diteliti. Peneliti akan menggunakan intuisi kebahasaan peneliti dalam menyediakan bahkan juga mengolah data penelitian. Hal ini tentu saja dibenarkan

(49)

oleh peneliti sebagai salah satu cara dalam menyediakan data dengan memanfaatkan intuisi kebahasaan peneliti sendiri sebagai penutur asli bahasa yang diteliti (Mahsun, 2005:102).

3.5Metode dan Teknik Analisis Data

Metode dan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah metode analisis komponen makna dan teknik substitusi. Kedua teknik ini adalah teknik yang lazim digunakan dalam menganalisis hubungan kesinoniman setiap pasangan leksem (Djajasudarma, 1993:38 dan Parera, 1994:110). Sebelum dianalisis, data yang telah dikumpulkan perlu diseleksi dan diklasifikasikan sebagai berikut.

(1) Seleksi data dilakukan untuk memilih dan menjaring data sehingga akhirnya diperoleh data yang benar-benar sahih dan akurat.

(50)
(51)

35

4.1 Adjektiva Bersinonim dalam Bahasa Aceh

4.1.1 Korpus Data Adjektiva Bersinonim dalam Bahasa Aceh

Berdasarkan sumber data, peneliti telah mendata 124 medan makna leksem

adjektiva yang memiliki pasangan sinonim ke dalam korpus data. Leksem-leksem

tersebut dipisahkan berdasarkan komponen makna yang terkandung dalam setiap

adjektiva. Setelah itu, pasangan sinonim tersebut dikelompokkan lagi berdasarkan

tipe-tipe adjektiva. Ke-124 medan makna tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 4.1 Korpus Data

Adjektiva Bersinonim dalam Bahasa Aceh

No.

Medan Makna

Pasangan Sinonim

1.

akhir

(1)

tulôt

; (2)

akhe

; (3)

bungsu

; (4)

seuleusoe

; (5)

tamam

;

(6)

tamat

2.

asam

(1)

asam

; (2)

masam

3.

banci

(1)

dare

; (2)

kônsa

; (3)

ulaya

4.

banyak

(1)

samuek

; (2)

meuseuè

; (3)

seurenga

; (4)

balak

; (5)

bôh

-bah

; (6)

damoh

; (7)

meukajun

-

kajun

; (8)

meukeuba

-

keuba

;

(9)

le

; (10)

m’ue

; (11)

reughak

5.

bau harum

(1)

meuhipaih

-

hipaih

; (2)

hireut

; (3)

hirôm

; (4)

hiru

-

biru

;

(5)

mupaih

; (6)

seubôk

; (7)

seungam

; (8)

bangoe

; (9)

meudrô

-

drô

6.

bau tak sedap

(1)

apak

; (2)

banga

; (3)

basi

; (4)

busôk

; (5)

ceungèh

; (6)

hangèk

; (7)

hanggôi

; (8)

meuh’ong

; (9)

hanyi

; (10)

kh’eb

;

(11)

kh’ieng

; (12)

khie

; (13)

kh’ob

; (14)

khoih

; (15)

phong

;

(16)

chueng

; (17)

reungie

; (18)

peungèt

(52)
(53)
(54)

55.

kotor

(1)

cèh

-mèh; (2)

ceuma

; (3)

jeurumeuih

; (4)

kulubana

; (5)

kuluténg

; (6)

lutôk

; (7)

keuta’in

; (8)

kulutok

; (9)

kuto

; (10)

leuta

; (11)

meukulup’ieh

; (12)

luteng

; (13)

seumak

; (14)

jeunabat

; (15)

hadaih

(55)
(56)
(57)

useueng

; (6)

utok

123.

tuli

(1)

tuloe

; (2)

beungkak

; (3)

klo

; (4)

peukak

124.

tumpul

(1)

suoe

; (2)

loe

; (3)

majai

; (4)

malap

; (5)

ong

; (6)

tumpôi

;

(7)

bugam

; (8)

gabai

4.1.2 Pengelompokan Pasangan Sinonim Berdasarkan Tipe Adjektiva

Tabel 4.2 Tipe Adjektiva

yang Menyatakan Sikap, Tabiat, atau Perilaku Batin Manusia

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

1.

12

berani

(1)

beuhe

(7)

‘tidak takut pada apapun’

(58)

Urut

Data

Makna

(3)

rukheuek

(3)

‘boros’ ‘royal’

4.

31

gila

(1)

seudèe

(1)

‘kurang waras’ ‘gila’

(2)

‘gila’

(4)

‘jahat’ (dalam hikayat)

(5)

‘jahat’ ‘buruk’

(2)

‘girang kepada laki-laki

atau kepada wanita’

(1)

‘lebih dari kenyang’

(2)

‘kenyang’

(59)

Urut

(2)

‘manja’ (dalam hikayat)

(3)

‘manja’

(6)

‘marah’ ‘geram’ ‘jengkel’

(7)

‘marah’ ‘geram’ ‘murka’

(8)

‘mudah marah’ ‘mudah

tersinggung’

(9)

‘marah’

(10)

‘berang’ (dalam hikayat)

(11)

‘mudah merajuk’

(12)

‘amarah’

(13)

‘pemarah’

‘bermuka

masam’

(22)

‘murka’ ‘sakit hati’

(23)

‘jengkel’

(60)

Urut

(7)

‘mementingkan miliknya

sendiri’

(1)

‘pitam’ ‘pusing’ ‘pingsan’

(2)

‘pusing’

(3)

‘pusing’ ‘pening’

(4)

‘pusing’ ‘pening’

(5)

‘pusing’

(6)

‘pening’ ‘pitam jika

berada di atas ketinggian

(1)

‘sakit yang

mencucuk-cucuk’

(2)

‘selalu sakit-sakitan’

‘merana’

(3)

‘sakit yang

berdenyut-denyut’

(61)

Urut

(1)

‘senang hati’ ‘suka cita’

(2)

‘senang hati’ ‘gembira’

(3)

‘senang hati’

(4)

‘senang hati’

(5)

‘senang’ ‘gembira’ ‘riang’

(6)

‘girang’ ‘riang’

(7)

‘riang’

(8)

‘ria’ ‘riang’ ‘gembira’

(9)

‘gembira’ ‘riang sekali’

(10)

‘ria’ (dalam hikayat)

21.

110

setia

(1)

seutia

(62)

Urut

(1)

‘takut’ (dalam hikayat)

(2)

‘takut’

(1)

‘tertawa terbahak-bahak’

(2)

‘tertawa terbahak-bahak’

(3)

‘terkekeh-kekeh’

(4)

‘suka tertawa tanpa sebab’

(5)

‘tertawa

secara

tidak

(3)

‘tidak enak badan’

(4)

‘merasa agak demam’

Tabel 4.3 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Keadaaan Bentuk

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

1.

20

bulat

(1)

bulat

(5)

‘bulat’ ‘gemuk dan pendek’

2.

28

gembung

(1)

leukeub

(2)

pusông

(3)

kumbéb

(1)

‘gembung’ ‘bengkak’

(2)

‘busung’ ‘gembung karena

(63)

Urut

(6)

‘cembung’ ‘gembung pipi’

(7)

‘menggembung’

‘membengkak’

(8)

‘benjol’ ‘membengkak’

(9)

‘gembung’

(13)

‘bengkak’ ‘sembab’

(14)

‘bengkak karena gigitan

serangga’

(7)

‘miring ke suatu arah’

(8)

‘miring’ ‘curam’

(9)

‘miring’

(10)

‘landai’ ‘miring sedikit’

(11)

‘miring’

(12)

‘miring’

(13)

‘agak miring’

(14)

‘miring sekali ke bawah’

(15)

‘miring’

(16)

‘miring’

(17)

‘miring ke atas’

(18)

‘sedikit miring’

(19)

‘miring’ ‘terurai sendi

karena terpeleset’

(20)

‘serong’

(64)

Urut

(3)

‘bungkuk’ ‘bengkok’

‘melengkung’

(8)

‘melengkung atau bengkok

ke

atas

dan

bertemu

sesamanya’

(9)

‘lentik’

(10)

‘bengkok atau bungkuk

disebabkan usia’

Tabel 4.4 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Ukuran

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

1.

4

banyak

(1)

samuek

(6)

‘banyak’ (dalam hikayat)

(7)

‘sangat banyak’ (dalam

hikayat)

(8)

‘sangat banyak’ (dalam

hikayat)

(9)

‘banyak’

(65)

Urut

Data

Makna

(11)

reughak

(11)

‘banyak sekali’

2.

7

bawah

(1)

yub

(5)

‘akbar’ ‘maha besar’

4.

22

dangkal

(1)

deue

(1)

‘lapang’ ‘sangat luas’

(2)

‘luas’ ‘lapang’ ‘lebar’

(3)

‘sangat luas’

(3)

‘panjang dan ramping’

(4)

‘sangat panjang’

(5)

‘panjang’

(6)

‘jangkung’ ‘panjang kaki’

(7)

‘capang’

(8)

‘panjang dan besar’

8.

87

pendek

(1)

èt

(3)

‘pendek dan kokoh’

(4)

‘pendek dan kekar’

(5)

‘pendek’ ‘rendah’

(6)

‘pendek’ ‘kecil’

(7)

‘rendah’ ‘pendek kecil’

(8)

‘pendek

dan

tumpul’

(66)

Urut

(10)

‘pendek dan lebar’

(11)

‘singkat’ ‘pendek sekali’

(12)

‘kecil’ ‘katai’

(13)

‘cebol’ ‘tidak mau tumbuh’

(14)

‘kerdil’

(67)

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

1.

21

cepat

(1)

leugat

(3)

‘cepat’ ‘lekas’ ‘segera’

(4)

‘segera’ ‘cepat’

(5)

‘segera’ ‘cepat’

(6)

‘cepat’ ‘deras’

(7)

‘cepat’ ‘segera’ ‘lekas’

(8)

‘sangat cepat’

(1)

‘mengkal’ ‘setengah masak’

(2)

‘setengah masak’

(1)

‘sedang’ ‘muda’ ‘belia’

(2)

‘baru’ ‘muda’ ‘belia’

(68)

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

1.

9

belang

(1)

plang

-

plang

(1)

‘hitam sekali’ ‘hitam ‘lebam’

(2)

‘hitam keling’

(3)

‘hitam legam’

(4)

‘hitam’ ‘gelap’

3.

90

pucat

(1)

pucat

(2)

biliek

(1)

pucat’ ‘pudar’ ‘lesu’

(2)

pucat

Tipe 4.7 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Jarak

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

1.

19

bosan

(1)

leugeu

(1)

‘jemu’ ‘jenuh’ ‘bosan’

(2)

‘jemu’ ‘muak’

(6)

‘dekat’ ‘karib’ (dalam

hikayat)

(69)

Urut

(1)

‘lebat’ ‘penuh’ ‘tebal’

(2)

‘tebal’ ‘lebat’ ‘padat’

(3)

‘lebat’ ‘rapat’

(1)

‘renggang’ ‘tidak rapat’

(2)

‘renggang’

(3)

‘longgar’

(4)

‘longgar’ ‘kendur’

Tabel 4.8 Tipe adjektiva yang Menyatakan Kuasa Tenaga

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

(70)

Urut

(3)

‘letih’ ‘lelah’ ‘penat’

(4)

‘lelah sekali’

(2)

‘lasa’ ‘lumpuh’ ‘lemah’

(3)

‘lemah’ ‘tidak berdaya’

(4)

‘lemah’

(5)

‘lemah’ ‘lembek’

(6)

‘teruk’ ‘lemah sekali’

(7)

‘lemah’ ‘terasa lemah’

(8)

‘lemah’

(3)

‘apung’ enteng’ ‘ringan’

(4)

‘ringan’ ‘enteng’

Tabel 4.9 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Kesan atau Penilaian Indera

No.

Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

1.

2

asam

(1)

asam

(2)

‘selalu berair’ ‘lembab’

(3)

‘berair’

(71)

Urut

(5)

‘bau cengis’ ‘bau sangit’

(6)

‘bau sangit’

(72)

Urut

(8)

‘cantik dan pintar’

(9)

‘cantik’ ‘gagah’ ‘tampan’

(10)

‘cantik dalam

berpakaian’

(11)

‘cantik’ ‘gagah’

(12)

‘indah’ ‘cantik’ ‘bagus’

(13)

‘cantik’ ‘jelita’

(1)

‘tegang’ ‘keras’ ‘kaku’

(2)

‘keras’

(1)

‘lembut jika dipegang’

(2)

‘lembut dan mudah

menyayat’

(3)

‘lembut sekali’

(73)

Urut

Data

Makna

(3)

leukiet

(3)

‘likat’ ‘sangat manis’

14.

80

pahit

(1)

reuhang

(2)

phét

(1)

‘sepat’ ‘kelat’ ‘pahit’

(2)

‘pahit’

15.

85

pedas

(1)

seu

-

uem

(2)

peudaih

(3)

tajam

(4)

keu

-

eueng

(1)

‘pedas atau panas di lidah’

(2)

‘pedas’

(3)

‘pedas’ (untuk lada)

(4)

‘pedas’

(1)

‘samar-samar’ ‘berkabut’

(2)

‘samar-samar’

Tabel 4.10 Tipe Adjektiva Pemeri Sifat yang Memerikan Kualitas dan

Intensitas yang Bercorak Fisik atau Mental

No.

Urut

No.

Korpus

Data

Medan Makna

Pasangan Sinonim

Makna Leksikal

(74)

Urut

(3)

‘suci’ ‘murni’ ‘bersih’

(4)

‘kudus’ ‘suci’

(4)

‘bodoh’ ‘kurang pikir’

(5)

‘bodoh’ ‘tolol’

(6)

‘gelap gulita’ (dalam

hikayat)

(6)

‘gemetar’ ‘gemeletuk’

Gambar

Tabel 4.1 Korpus Data Adjektiva Bersinonim dalam Bahasa Aceh
Tabel 4.2 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Sikap, Tabiat, atau Perilaku  Batin Manusia
Tabel 4.3 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Keadaaan Bentuk
Tabel 4.4 Tipe Adjektiva yang Menyatakan Ukuran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Suryadi : Makna Ideasional Dalam Bahasa Siaran Radio Non-Berita Di Medan, 2002 USU Repository © 2008... Suryadi : Makna Ideasional Dalam Bahasa Siaran Radio Non-Berita Di Medan, 2002

Dalam semantik, makna yang dikaji adalah makna sebagai satuan lingual tertentu terpisah dari situasi dan penutur , sedangkan makna yang dikaji dalam pragmatik adalah makna

Hal ini seperti yang diuatarakan oleh Kearns (2000:3) bahwa makna leksikal sebagai makna dari kata itu sendiri sedangkan bidang yang meneliti semantik leksikal menurut

Berdasarkan penjelasan istilah yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa Medan Makna Verba Menyentuh dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas adalah sistem

Berdasarkan penjelasan istilah yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa Medan Makna Verba Menyentuh dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas adalah sistem

Dengan kata lain, bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa (Chaer, 2002:2).. Kemudian menurut Parera (2004:44) semantik ialah satu studi dan

Menurut pendapat Chaer 2020:110 “Kamus bilingual adalah kamus yang berisi daftar kosakata dan penjelasan makna dari dua bahasa yang berbeda, yang digunakan untuk membantu pemahaman dan

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari 114 idiom berleksikon tangan atau te dalam kamus Goo Jiten, terdapat 14 idiom berleksikon tangan atau te yang memiliki makna konotasi