BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
B. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subyek adalah siswa kelas V MI Al Islam Sutopati 3 Kec. Kajoran, Kab. Magelang pada mata
pelajaran IPA materi gaya. Jumlah siswa ada 26 orang, yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan dengan kolaboratornya guru kelas V yaitu bapak Ahmad Irkham S.HI. Peneliti dapat berkolaborasi dengan guru kelas V sehingga model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pelajaran IPA.
c. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai dari tanggal 30 Januari-15 Maret 2018 3. Langkah-langkah atau siklus Penelitian
Langkah-langkah pelaksanaan penelitian menurut Kemmis dan MCTaggart dalam Somadayo (2013: 27) terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan (plan), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Tahapan tersebut dapat ditampilkan pada gambar 1.1
Gambar 1.1. Bagan Rancangan PTK (Sumber: Somadayo (2013: 27) Perencanaan Pengamatan SIKLUS I SIKLUS II Pelaksanaan Pelaksanaan Pengamatan Refleksi Refleksi ? Perencanaan
a. Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan persiapan materi pembelajaran IPA, dengan materi gaya. Kegiatan ini meliputi:
1) Peneliti menetapkan cara-cara alternatif untuk meningkatkan keaktifan, perhatian, dan kerjasama siswa terhadap pembelajaran IPA materi gaya menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan alat peraga. 2) Peneliti mempersiapkan materi pembelajaran IPA dengan
mengembangkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
3) Membuat alat peraga. 4) Membuat lembar observasi. 5) Mendesain alat evaluasi. b. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan ini dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan oleh peneliti.
c. Observasi
Tahapan observasi dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Sehingga saling mendukung dalam memperoleh data yang akurat. Pada tahapan ini, peneliti mengamati kegiatan dan tingkah laku siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan fokus yang diamati yaitu perhatian, keaktifan, dan kerjasama siswa dalam menemukan
informasi yang terkandung dalam materi pelajaran. Selanjutnya yaitu membangun hubungan antara konsep dengan materi lain ataupun dengan pengalaman siswa sehingga siswa menemukan arti yang terkandung di dalam materi yang dipelajari. Sedangkan kegiatan atau aktifitas guru yang diamati antara lain cara berinteraksi dengan siswa, penggunaan pendekatan dan alat peraga yang digunakan, cara penyampaian materi, dan pengkondisian siswa.
d. Refleksi
Pada tahap ini data yang diperoleh dalam kegiatan observasi dikumpulkan. Kemudian, dilakukan sebuah analisis dengan maksud untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan telah mencapai tujuan yang diharapkan atau tidak. Berdasarkan hasil observasi tersebut, guru merefleksikan hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan sehingga dijadikan dasar untuk melakukan tindakan kelas pada siklus selanjutnya.
4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam penelitian. Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
a. Pedoman observasi
Pedoman observasi disusun untuk memantau situasi saat proses pembelajaran berlangsung dan untuk mengukur
perkembangan yang telah tercapai dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa.
1. Pedoman observasi untuk siswa
Tabel 1.1 Pedoman observasi untuk siswa
No Aktivitas Siswa yang diamati Skor
A B C D
1. Merespon apersepsi yang diberikan oleh guru
2. Aktif dan semangat selama proses pembelajaran
3. Berani bertanya dan menjawab pertanyaan
4. Berani mengungkapkan pendapat 5. Bertanggung jawab terhadap tugas
yang diberikan guru
6. Perhatian siswa saat pembelajaran
7. Keterlibatan siswa saat
pembelajaran
8. Keaktifan partisipasi dalam penggunaan alat peraga
9. Kerjasama siswa dalam kegiatan kelompok
dipelajari bersama Keterangan Skor Nilai A = 4 (sangat baik) B = 3 (baik) C = 2 (cukup) D = 1 (kurang)
2. Pedoman observasi untuk guru
Instrumen observasi untuk guru dalam penelitian ini menurut Rusman (2011: 99-100) mencakup beberapa aspek diantaranya:
Tabel 1.2 Pedoman observasi untuk guru
No. Aspek yang diamati Skor
Kemampuan Membuka Pelajaran A B C D
1. Memeriksa kesiapan siswa. 2. Memberikan motivasi siswa.
3. Memberikan apersepsi (sesuai dengan materi).
4. Menyampaikan tujuan pembelajaran. 5. Memberikan acuan bahan ajar yang akan
dipelajari.
Sikap Saat Proses Pembelajaran 6. Kejelasan artikulasi suara.
7. Variasi gerakan badan tidak menganggu perhatian siswa.
8. Kerapian dalam penampilan. 9. Posisi mengajar.
Penguasaan Bahan Ajar (Materi
Pelajaran)
10. Bahan ajar disampaikan sesuai dengan langkah-langkah yang dibuat dalam RPP. 11. Kejelasan saat menyampaikan bahan ajar. 12. Memiliki wawasan yang luas saat
menyampaikan bahan ajar.
Kegiatan Belajar Mengajar (Proses Pembelajaran)
13. Penyajian bahan ajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
14. Memiliki keterampilan dalam
menanggapi pertanyaan siswa.
15. Ketepatan dalam penggunaan alokasi waktu.
Pemanfaatan Alat Peraga
16. Menggunakan alat peraga secara efektif dan efesien.
peraga.
Evaluasi Pembelajaran
18. Penilaian sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
19. Penilaian sesuai dengan RPP.
Kemampuan Menutup Kegiatan
Pembelajaran
20. Meninjau kembali materi yang telah diajarkan.
21. Memberikan kesempatan untuk bertanya hal-hal yang belum dipahami.
22. Menyampaikan kesimpulan pembelajaran yang telah dilakukan.
Tindak lanjut/Follow up
23. Memberikan tugas kepada siswa.
24. Menginformasikan materi pelajaran yang akan dipelajari selanjutnya.
25. Memberikan motivasi kepada siswa. Jumlah
Total Kategori
Keterangan :
Skor nilai
A= 4 (sangat baik), apabila memperoleh skor 76-100
B= 3 (baik), apabila memperoleh skor 51-75
C= 2 (cukup), apabila memperoleh skor 26-50
D= 1 (kurang), apabila memperoleh skor 0-25 b. Tes
Tes digunakan untuk memperoleh nilai dari siswa sebagai hasil belajar IPA materi gaya. Bentuk tes yang digunakan oleh peneliti adalah pilihan ganda.
c. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk merekam pada saat kegiatan pembelajaran penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan alat peraga pada materi gaya.
5. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
a. Observasi
Observasi adalah suatu pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan selama pelaksanaan tindakan berlangsung untuk
dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Selain itu, peneliti melakukan pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario pembelajaran dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa.
b. Tes
Tes adalah suatu teknik pengumpulan data yang berisi serangkaian pertanyaan yang digunakan untuk mengukur pengetahuan dan kemampuan siswa yang harus dihawab atau diselesaikan oleh siswa.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang dapat membantu peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Instrumen yang akan peneliti kumpulkan dalam teknik dokumentasi adalah RPP, nilai siswa sebelum penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan alat peraga serta foto selama proses belajar mengajar berlangsung sebagai tanda bukti konkret dalam pelaksanaan penelitian.
6. Analisis Data
Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan membandingkan antara skor nilai tiap siklus dengan KKM yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu sebesar 75. Oleh karena itu, setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya atau mencapai KKM 75 jika nilai yang
belajarnya atau belum mencapai KKM jika nilai yang diperoleh siswa < 75.
Menurut Depdikbud dalam Trianto (2009: 241) suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam kelas
tersebut terdapat ≥ 85% siswa yang telah tuntas belajarnya.
Untuk menentukan ketuntasan belajar siswa (individual) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
a. Menghitung nilai rata-rata kelas M = ∑
Dimana: M = Mean
∑ = Jumlah nilai semua siswa N = jumlah siswa
b. Menghitung ketuntasan belajar siswa (individual) KB = T × 100%
Tt
Dimana:
KB = ketuntasan belajar
T = jumlah skor yang diperoleh siswa Tt = jumlah skor total (Trianto, 2009: 241)
c. Menghitung ketuntasan belajar klasikal P = × 100%
Dimana:
F = Frekuensi siswa tuntas KKM
N = jumlah keseluruhan (Trianto, 2009: 241) H. Kajian Penelitian Terdahulu
Dari judul diatas, penulis dapat kaitkan beberapa karya ilmiah yang relevan. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan sekarang serta untuk menghindari penjiplakan. Berikut ini skripsi yang memiliki tema hampir mirip dengan tema skripsi ini, antara lain:
1. Wahib Kamal, dengan judul “Upaya Peningkatan Prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Pokok BahasanAlat Pencernaan Makanan Pada Manusia dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas V di MI Salafiyah Kendal Kec. Ampel Kab. Boyolali Tahun Pelajaran 2013/2014” Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, STAIN Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan prestasi belajar IPA pada siswa kelas V di MI Salafiyah Kendal Kec. Ampel Kab. Boyolali Tahun Pelajaran 2013/2014. Hal ini terlihat dari hasil setiap siklusnya yang menunjukkan ada peningkatan dalam prestasi belajar yang dibuktikan semakin meningkat setiap siklus yaitu pada siklus I dari 22 siswa baru 15 siswa (68,2%) termasuk dalam kriteria tuntas, pada siklus II tercatat 18 siswa (81,88%) termasuk dalam kriteria tuntas, dan pada siklus III tercatat 22 (100%) sudah tercapai ketuntasan maksimal, hal tersebut
menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa sudah mencapai ketuntasan ideal kelas yaitu 85%.
2. Indri Hastuti, dengan judul “Peningkatan Prestasi Belajar Materi Volume Bangun Ruang Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas V SDN Tingkir Tengah 01 Salatiga Tahun Pelajaran 2014/2015”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan prestasi belajar materi volume bangun ruang. Prestasi siswa pada siklus I 71,42% sebesar 20 siswa, siklus II 89,28% sebesar 25 siswa, dan siklus III 96,42% sebesar 27 siswa yang memenuhi KKM dengan nilai 75.
3. Muhammad Saalikuddii, dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Pelapukan Batuan dengan Metode Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas V Semester 2 MI Pabelan Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2015/2016” Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang mencapai tuntas KKM pada pra siklus yaitu 9 %. Pada siklus 1 mencapai 41 %. Pada siklus 2 mencapai 68,1 %. Pada siklus 3 mencapai 86,3 %. Nilai rata-rata siswa pada pra siklus adalah 48,1, pada siklus 1 adalah 68,1, pada siklus 2 adalah 78,1, dan pada siklus 3 nilai rata-rata mencapai 86,3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan
hasil belajar IPA materi pelapukan batuan pada siswa kelas V Semester 2 MI Pabelan Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2015/2016.
4. Najmul Laila, dengan judul “Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Materi Uang melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas III MI Tukangan Kec. Ampel Kab. Boyolali Tahun 2016/2017” Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Salatiga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan pendekatan CTL pada pokok materi uang pada siklus I ketuntasan belajar baru mencapai rata-rata 52 dan pada siklus II nilai rata-rata adalah 68 terdapat kenaikan sebesar 16%. Pada siklus II nilai rata-rata 68 dan pada siklus III nilai rata-rata adalah 88 terdapat kenaikan nilai sebesar 20 atau (100%). Penggunaan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
I. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam pembahasan penelitian ini, sistematika yang digunakan penulis adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Berisi : rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis tindakan dan indikator keberhasilan, manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian, kajian penelitian terdahulu dan sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Berisi : uraian kajian pustaka tentang teori yang terkait dengan penelitian.
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
Berisi : gambaran umum lokasi penelitian dan subjek penelitian, deskripsi pelaksanaan siklus I, deskripsi pelaksanaan siklus II, dan deskripsi pelaksanaan siklus III.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berisi : hasil penelitian dan pembahasan.
BAB V PENUTUP
Berisi : kesimpulan hasil penelitian dan saran terhadap hasil penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hasil Belajar IPA 1. Konsep Belajar
a. Pengertian Belajar
Menurut Rusyan (1989: 9) belajar adalah suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu.
Menurut Asmani (2009: 19) belajar adalah proses mencari ilmu untuk mengubah diri dengan baik, sesuai dengan tingkat keilmuan yang dicapai. Ilmu disini bermakna keseluruhan, baik ilmu agama maupun umum. Proses mencari ilmu tidak dibatasi oleh sekat apapun, bahkan oleh sekolah sekalipun. Proses mencari ilmu bisa dengan banyak cara: membaca, mengikuti berbagai diskusi, menulis, dan lain-lain.
Menurut Winkel dalam Riyanto (2009: 5) belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas.
Menurut Sam’s (2010: 31) belajar adalah proses perubahan
Dalam arti luas mencakup pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan sebagainya.
Dari pengertian dan pendapat para tokoh di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia secara sadar melalui pengalaman atau latihan yang mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku. Baik itu dari segi pengetahuan, sikap, ataupun keterampilan.
b. Tujuan Belajar
Seseorang yang ingin belajar pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan belajar. Berikut ini merupakan tujuan dari belajar yaitu:
1) Menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu. 2) Meningkatkan keterampilan atau kecakapan.
3) Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik dari berpikir yang bersifat convergen (hanya menerima dan mengingat) menjadi berpikir divergen (lebih terbuka luas, kreatif, inovatif, mencipta).
4) Mengadakan perubahan di dalam diri antara lain tingkah laku. 5) Mengubah kebiasaan dari yang buruk menjadi baik.
6) Mengubah sikap dari negatif menjadi positif.
7) Mengubah pola pikir dari pola pikir negatif dan tidak produktif menjadi pola pikir positif, kreatif, dan produktif.
8) Merubah sikap mental yang pesimis, mudah putus asa, suka mengeluh menjadi orang yang bersikap optimis, ulet, tekun tanpa mengeluh.
9) Mengubah, membangun, dan mengembangkan kepribadian, watak, dan karakter yang merugikan dirinya menjadi kepribadian, watak, dan karakter yang mempunyai multi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain (Khairani: 2017: 18-21).
c. Ciri-Ciri Belajar
Adapun ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut:
1) Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change of behaviour). Ini berarti bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dan lain sebagianya. Tanpa pengamatan dari tingkah laku hasil belajar orang tidak dapat mengetahui ada tidaknya hasil belajar. Karena perubahan hasil belajar hendaknya dinyatakan dalam bentuk yang diamati.
2) Perubahan perilaku relatif permanen. Ini diartikan bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-berubah, akan tetapi dilain pihak tingkah laku tersebut tidak akan terpancang seumur hidup. 3) Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat
bersifat potensial. Artinya hasil belajar tidak selalu serta merta terlihat segera setelah selesai belajar. Hasil belajar dapat terus berproses setelah kegiatan belajar selesai.
4) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman. Artinya belajar itu harus dilakukan secara aktif, sengaja, terencana, bukan karena peristiwa insendental.
5) Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku (Khairani, 2017: 11-12).
d. Prinsip-Prinsip Belajar
Seorang guru pada saat melaksanakan tugasnya dalam proses belajar mengajar perlu memperhatikan prinsip-prinsip belajar sebagaimana disebutkan oleh Soekamto dan Winataputra sebagai berikut:
1) Apapun yang dipelajari peserta didik dialah yang harus belajar bukan orang lain. Untuk itu peserta didiklah yang harus bertindak aktif.
2) Setiap peserta didik belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya. 3) Peserta didik akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.
4) Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan peserta didik akan membuat proses belajar lebih berarti.
6) Peserta didik akan lebih meningkat motivasinya untuk belajar apabila ia diberi tanggung jawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya (Khairani, 2017: 13-14).
e. Unsur-unsur Belajar
Menurut Cronbach ada tujuh unsur utama dalam proses belajar yaitu: 1) Tujuan
Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu muncul untuk memenuhi sesuatu kebutuhan. Perbuatan belajar diarahkan kepada pencapaian sesuatu tujuan dan untuk memenuhi sesuatu kebutuhan. Sesuatu perbuatan belajar akan efisien apabila terarah kepada tujuan yang jelas dan berarti bagi individu.
2) Kesiapan
Untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik anak atau individu perlu memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik dan psikis, kesiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan.
3) Situasi
Kegiatan belajar berlangsung dalam suatu situasi belajar. Dalam situasi belajar ini terlibat tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan yang dipelajari, orang-orang yang turut tersangkut dalam kegiatan belajar serta kondisi siswa yang belajar.
4) Interpretasi
Dalam menghadapi situasi, individu mengadakan interpretasi yaitu melihat hubungan di antara komponen-komponen situasi belajar, melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian tujuan. Berdasarkan interpretasi tersebut mungkin individu sampai kepada kesimpulan dapat atau tidak dapat mencapai tujuan.
5) Respons
Berpegang kepada hasil dari interpretasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, maka ia memberikan respons. Respons ini mungkin berupa suatu usaha coba-coba (trial and error), atau usaha yang penuh perhitungan dan perencanaan ataupun ia menghentikan usahanya untuk mencapai tujuan tersebut.
6) Konsekuensi
Setiap usaha akan membawa hasil, akibat atau konsekuensi entah itu keberhasilan ataupun kegagalan, demikian juga dengan respons atau usaha belajar siswa. Apabila siswa berhasil dalam belajarnya ia akan merasa senang, puas, dan akan lebih meningkatkan semangatnya untuk melakukan usaha-usaha belajar berikutnya.
7) Reaksi terhadap kegagalan.
Selain keberhasilan, kemungkinan lain yang diperoleh siswa dalam belajar adalah kegagalan. Peristiwa ini akan menimbulkan perasaan sedih dan kecewa. Reaksi siswa terhadap kegagalan dalam belajar bisa bermacam-macam. Kegagalan bisa menurunkan semangat, dan memperkecil usaha-usaha belajar selanjutnya, tetapi bisa juga sebaliknya kegagalan membangkitkan semangat yang berlipat ganda untuk menebus dan menutupi kegagalan tersebut (Sukmadinata, 2003: 157-158).
f. Jenis-jenis Belajar
1) Belajar bagian (part learning)
Umumnya belajar bagian dilakukan oleh seseorang bila ia dihadapkan pada materi belajar yang bersifat luas atau ekstensif. Dalam hal ini individu memecah seluruh materi pelajaran menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri sendiri.
2) Belajar dengan wawasan (learning by insight)
Menurut Gestalt teori wawasan merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan.
3) Belajar diskriminatif (discriminatif learning)
Belajar diskriminatif diartikan sebagai suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi/stimulus dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
4) Belajar global/keseluruhan (global whole learning)
Belajar global diartikan sebagai mempelajari bahan pelajaran secara keseluruhan dan berulang hingga pelajar menguasainya. 5) Belajar insidental (incidental learning)
Konsep ini bertentangan dengan anggapan bahwa belajar itu selalu berarah-tujuan (intensional). Sebab dalam belajar insidental pada individu tidak ada sama sekali kehendak untuk belajar. Belajar disebut insidental bila tidak ada instruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu mengenai materi belajar yang akan diujikan kelak.
6) Belajar instrumental (instrumental learning)
Salah satu bentuk belajar instrumental adalah pembentukan tingkah laku. Disini individu diberi hadiah apabila ia bertingkah laku sesuai dengan tingkah laku yang dikehendaki dan sebaliknya ia dihukum bila memperlihatkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki. Sehingga akhirnya akan terbentuk tingkah laku tertentu.
7) Belajar intensional (intentional learning)
Belajar dalam arah tujuan, merupakan lawan dari belajar insidental. Belajar intensional pada individu ada sama kehendak untuk belajar. Belajar disebut intensional bila ada instruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu mengenai materi belajar yang akan diujikan kelak.
8) Belajar laten (latent learning)
Dalam belajar laten, perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat tidak terjadi secara segera, dan oleh karena itu disebut laten. (Slameto, 1996: 5-7).
2. Konsep Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Susanto (2013: 5) hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas dipertegas lagi oleh Nawawi dalam K. Ibrahim yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
Menurut Rosma Hartiny Sams (2010: 33) hasil belajar adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat dari latihan atau pengalaman yang diperoleh.
Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional (Susanto, 2013: 5).
Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dapat diketahui melalui evaluasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sunal bahwa evaluasi merupakan proses penggunaan informasi untuk membuat pertimbangan seberapa efektif suatu program telah memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu, dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian ini dapat dijadikan feedback atau tindak lanjut, atau bahkan cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian, penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari disekolah, baik itu menyangkut
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada siswa.
Jadi bisa disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil belajar