BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.5. Suku Bunga dan Excess Reserve Bank
Menurut Nopirin (2000) suku bunga adalah biaya yang harus dibayar oleh peminjam atas pinjaman yang diterima dan merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya. Suku bunga mempengaruhi keputusan individu terhadap pilihan membelanjakan uang lebih banyak atau menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan. Suku bunga juga merupakan sebuah harga yang menghubungkan masa kini dengan masa depan, sebagaimana harga lainnya maka tingkat suku bunga ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran.
Suku bunga dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Suku Bunga Nominal. Suku bunga nominal adalah Rate yang dapat diamati pasar. (2) Suku Bunga Riil. Suku bunga riil adalah konsep yang mengukur tingkat bunga yang sesungguhnya setelah suku bunga nominal dikurangi dengan laju inflasi yang diharapkan.
Suku bunga yang tinggi di satu sisi, akan meningkatkan hasrat masyarakat untuk menabung sehingga jumlah dana perbankan akan meningkat (Pohan, 2008). Tingkat suku bunga juga digunakan pemerintah untuk mengendalikan tingkat harga. Ketika tingkat harga tinggi di mana jumlah uang yang beredar di masyarakat banyak
sehingga konsumsi masyarakat tinggi akan diantisipasi oleh pemerintah dengan menetapkan tingkat suku bunga yang tinggi. Dengan tingkat suku bunga tinggi yang diharapkan kemudian adalah berkurangnya jumlah uang beredar sehingga permintaan agregat pun akan berkurang dan kenaikan harga bisa diatasi.
Sebagaimana tercantum dalam UU No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral, salah satu tugas Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter adalah membantu pemerintah dalam mengatur, menjaga dan memelihara kestabilan nilai Rupiah. Dalam melaksanakan tugasnya, BI menggunakan beberapa piranti moneter yang terdiri dari Giro Wajib Minimum (Reserve Requirement), Fasilitas Diskonto, Himbauan Moral dan Operasi Pasar Terbuka. Sebagai contoh dalam Operasi Pasar Terbuka, BI dapat melakukan transaksi jual beli surat berharga termasuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Semakin tinggi tingkat suku bunga, keinginan untuk melakukan investasi juga makin kecil. Alasan ini bagi seorang pengusaha akan menambah pengeluaran investasinya apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi semakin besar dari tingkat bunga yang harus dia bayar untuk dana investasi tersebut yang merupakan ongkos-ongkos penggunaan dana (Cost of capital). Semakin rendah tingkat bunga, maka pengusaha akan lebih terdorong untuk melakukan investasi, sebab biaya penggunaan dana juga makin kecil. Tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan (tidak ada dorongan untuk naik atau turun) akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan keinginan pengusaha untuk melakukan investasi. Secara grafik keseimbangan tingkat bunga tersebut digambarkan sebagai berikut:
Tingkat Bunga Tabungan i1 I1 i0 I0 S0 S1 Loanable Fund
Gambar 2.2. Hubungan Tingkat Bunga dan Tabungan
Dari Gambar 2.2 dapat diketahui bahwa keseimbangan tingkat bunga (i) berada pada titik I
ïdi mana jumlah tabungan sama dengan investasi. Apabila tingkat bunga di atas i
ï maka jumlah tabungan melebihi keinginan pengusaha untuk melakukan investasi. Para penabung akan saling bersaing untuk meminjamkan dananya dan persaingan ini akan menekan tingkat bunga turun ke posisi i
ï, sebaliknya apabila tingkat bunga di bawah i
ï, para pengusaha akan saling bersaing untuk memperoleh dana yang jumlahnya relatif lebih kecil dan persaingan ini akan mendorong tingkat bunga naik lagi ke i
ï.
Kenaikan efisiensi produksi misalnya, akan mengakibatkan keuntungan yang diharapkan naik, sehingga pada tingkat bunga yang sama pengusaha bersedia meminjam dana lebih besar untuk membiayai investasinya atau untuk dana investasi yang sama jumlahnya, pengusaha bersedia membayar pada tingkat bunga yang lebih tinggi. Keadaan ini dapat dilihat pada gambar di atas, ditunjukkan dengan
bergesernya kurva permintaan investasi kekanan atas dan keseimbangan tingkat bunga yang baru pada titik Iý.
S (r) = I (r).
Tingkat bunga bank sentral penting untuk membentuk kebijakan moneter karena bank sentral dapat secara langsung mempengaruhi tingkat bunga. Operasi pasar terbuka dan pinjaman diskonto merupakan alat kebijakan utama bank sentral untuk mempengaruhi tingkat bunga bank sentral. Cadangan wajib merupakan alat ketiga, yaitu pengaturan lembaga deposit dan lembaga tabungan untuk menjaga cadangan wajib tertentu dari deposit sebagai cadangan sistem perbankan pada bank sentral.
Excess reserve bank adalah cadangan lebih Bank Umum setelah adanya cadangan wajib di Bank Indonesia. Cadangan Bank Umum dapat dipengaruhi Bank Indonesia, karena cadangan kemudian akan mempengaruhi tingkat bunga bank sentral, yaitu tingkat bunga pinjaman dari satu bank ke bank lainnya. Kurva permintaan cadangan dapat diturunkan dari perubahan tingkat bunga bank sentral, oleh sebab itu jumlah permintaan cadangan adalah jumlah cadangan wajib ditambah cadangan lebih atau excess reserve. Cadangan lebih merupakan asuransi terhadap penarikan deposit dan biaya dari cadangan lebih adalah biaya opportunitas, yaitu perolehan tingkat bunga sistem perbankan dari pinjaman yang ekuivalen dengan tingkat bunga bank sentral. Oleh sebab itu penurunan tingkat bunga bank sentral berarti penurunan biaya opportunitas dari cadangan lebih atau peningkatan permintaan cadangan [RD]. Kurva penawaran cadangan diturunkan dari pinjaman
diskonto. Peningkatan pinjaman diskonto berarti peningkatan penawaran cadangan terhadap sistem perbankan. Ketika bank meminjam dari bank sentral, manfaat utama dari pinjaman adalah pendapatan dari dana pinjaman. Jika tingkat bunga bank sentral naik, bank akan meminjam lebih banyak dari bank sentral dan akibatnya penawaran cadangan [RS] naik. Gambar 2.3 menunjukkan kurva permintaan dan penawaran cadangan sistem perbankan.
Tingkat Bunga Bank Sentral
R1S R2S R1CB E1 R2CB E2 RD R1 R2 Jumlah Cadangan
Gambar 2.3. Keseimbangan Pasar Cadangan: Perubahan Tingkat Bunga
Discount Loan
Bank sentral dapat mempengaruhi tingkat bunga melalui operasi pasar terbuka. Pembelian pada operasi pasar terbuka akan meningkatkan penawaran cadangan dari R1S ke R2S, akibatnya tingkat bunga bank sentral turun dari R1CB ke
R2CB, yang lainnya konstan. Sebaliknya penjualan pada operasi pasar terbuka akan
menurunkan penawaran cadangan dan meningkatkan tingkat bunga bank sentral. Bank sentral juga dapat mempengaruhi tingkat bunga bank sentral melalui pinjaman
diskonto. Peningkatan pinjaman diskonto dari bank sentral akan meningkatkan penawaran cadangan. Biaya pinjaman diskonto dari bank sentral adalah tingkat bunga yang dibebankan pada pinjaman, yaitu tingkat bunga diskonto. Penurunan tingkat bunga diskonto, pada kondisi tingkat bunga bank sentral konstan, akan meningkatkan penawaran cadangan dan akhirnya menurunkan tingkat bunga bank sentral. Jika bank sentral menurunkan tingkat bunga diskonto maka tingkat bunga bank sentral turun, sebaliknya jika tingkat bunga diskonto naik dan akhirnya meningkatkan tingkat bunga bank sentral. Tingkat bunga bank sentral juga berubah akibat perubahan tingkat giro wajib minimum. Peningkatan tingkat cadangan wajib akan meningkatkan cadangan wajib sehingga permintaan cadangan naik dari R1D ke R2D, pada kondisi
tingkat bunga tertentu.
Tingkat Bunga Bank Sentral RS R2CB E2 R1CB E1 R2D R1D R1 R2 Jumlah Cadangan
Gambar 2.4. Keseimbangan Pasar Cadangan: Perubahan Tingkat Giro Wajib Minimum
Peningkatan permintaan cadangan, pada kondisi yang lainnya konstan, akan meningkatkan tingkat bunga bank sentral dari R1CB ke R2CB, seperti ditunjukkan pada
Gambar 2.4. Dari penjelasan ini disimpulkan bahwa peningkatan tingkat giro wajib minimum akan meningkatkan tingkat bunga bank sentral, sebaliknya penurunan tingkat giro wajib minimum akan menurunkan tingkat bunga bank sentral.