• Tidak ada hasil yang ditemukan

o! V£i; oirJi tJK

B. Sumbangan dalam Pendidikan

Nilai kemanusiaan banyak ditentukan oleh sefcerapa besar kita dapat memberi manfaat kepada sesama. Seperti apa yang telah diajarkan Nabi

63

kepada umatnya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat kepada orang lain. Hal tersebut tercapai karena adanya seorang pendidik; bisa orang tua, guru, teman dan masyarakat melalui suatu keteladanan.

Kaitannya dalam pendidikan, kesalehan sosial yang terdapat dalam surat Al-Ma’aun merupakan hal penting yang perlu diperjuangkan dan dipertahankan. Sedangkan amal saleh adalah refleksi dari iman serta merupakan ibadali dalam arti yang lebih luas meskipun secara eksklusif pengertian ibadah cenderung berdimensi vertikal yang syarat atau ketentuannya langsur g dari Allah dan Rasul-Nya dan lebih bersifat ritual, namun dalam pengertian luas terdapat korelasi antara tujuan penciptaan manusia (untuk beribadah) yang berwujud pengabdian kepada Allah dengan lungsi sebagai (Khal i f ah Fil Ardhi) untuk menguasai, mengelola. memakmurkan dan mensejahterakan sehingga dapat mewujudkan suatu masyarakat yang diridhoi Allah SWT.

Orang tua (keluarga) menempati posisi terpenting perihal pembinaan kepribadian dan sosial anak, karena merekalah pendidik pertama ketika seorang anak terlahir di dunia. Dari merekalah seorang anak menyerap nilai- nilai kepribadian dan pengalaman seiring pertumbuhan dan perkembangannya, sosok orang tua bagi mereka adalah figur yang patut dicontoh. Untuk itu kita sebagai orang tua hendaknya bisa menjadi tauladan yang baik bagi anak-anak kita, baik ucapan maupun perbuatan; semisal kita sebagai orang tua suka membantu, menolong tetangga yang butuh bantuan, memberi kepada yang

64

tidak mampu, dan lain sebagainya. Hal tersebut secara tidak langsung dikatakan sebagai usaha mcndidik anaknya agar bisa oerperilaku seperti apa yang orang tuanya lakukan. Dari situlah kesalehan sosial bisa ditanamkan kepada anak sejak dini.

Dalam suatu lembaga pendidikan (formal), kesalehan sosial dapat diterapkan melalui suatu keharusan yang dapat menimbulkan keterbiasaan. Sebagai contoh; sekolah mengadakan program baksos (bakti sosial) setiap satu bulan sekali, pengadaan infak setiap hari Jum’at, kegiatan donor darah dan lain sebagainya. Hal tersebut pada awalnya merupakan suatu keharusan bagi siswa, guru dan karyawan. Seiring berjalannya waktu, hal tersebut menjadi suatu kebiasaan yang sangat mulia dilakukan, seperti lialnya ZIS (Zakat, Infaq, dan Shodaqoh) yang marak dijadikan program khusus oleh banyak lembaga pendidikan, yang mana salah satu programnya yaitu memberikan bea siswa pendidikan bagi siswa bcrprestasi dan yang kurang mampu. Seperti halnya yang dilakukan pemerintah saat ini, pengadaan sekolah gratis untuk tingkat dasar dan menengah pertama. Hal tersebut semata-mata dilakukan karena kepedulian mereka kepada kaum lemah.

Setiap ibadah yang sering kita kerjakan setidak-tidaknya harus mengadung empat dimensi pokok, yakni dimensi teologikal, ritual, educational, dan sosial.14 Yang dimaksud dimensi teologikal di sini adalah dimensi yang kaitannya dengan keimanan seseorang terhadap suatu kebenaran (tauhid) mengakui ke-Esaan Allah, oleh karena itu setiap kita melakukan

65

amalan ibadah hendaknya didasari dengan keyakinan yang kuat. Dimensi rilual adaluh dimensi yang menyangkut tata eara melakukan ibadah dengan baik dan benar. Sedangkan dimensi educational dan sosial adalah dimana seseorang yang melakukan suatu ibadah mempunyai fungsi ganda untuk dirinya sendiri dan untuk kepentingan sosial.

Kaitannya dengan Qur’an surat Al-Ma’aun, ibadah salat mengandung dua makna yang sangat lekat. Yang pertaina, makna intrinsik yaitu sebagai tujuan pada dirinya sendiri yang diawali dengan takbirratul al-ihram yang mengandung arti takbir yang mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan salat sebagai peristiwa menghadap Tuhan. Seakan suatu pernyataan formal seseorang membuka hubungan diri dengan Tuhan dan menyampaikan urusan yang lain sementara, khususnya pada saat ruku’ dan sujud. Yang kedua, makna instrumental. Salat disebut memiliki makna instrumental karena ia dapat dipandang sebagai sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri. Kekhusyu’an dalam beribadah salat mempunyai dampak positif pada tingkah laku dan praktiknya. Jadi, ditegaskan bahwa salat seharusnya menghasilkan rasa kemanusiaan dan kesetiakawanan sosial yang dalam firman itu sendiri dicontohkan dalam sikap penuh santun kepada anak yatim dan kesungguhan dalam memperjuangkan nasib orang miskin.

Ilasil dan tujuan salat sebagai sarana pendidikan budi luhur dan perikemanusiaan itu dilambangkan dalam ucapan salam, yang mana ucapan salam tersebut tidak lain adalah doa untuk keselamatan, kesejahteraan dan

6 6

kesentosaan orang banyak. Dengan bcgitu makna salat diawali dengan takbir

(Allah) dan diakhiri dengan pernyataan hubungan dengan sesama manusia (ucapan salam).b

Maka secara tegas, hal yang membawa mereka (orang-orang yang mendustakan agama) ke dalam neraka, adalah orang yang tidak pernah melaksanakan salat yang mampu menanamkan dalam diri mereka kesadaran akan makna akhir hidup dan yang mendidik mereka untuk melaksanakan tanggung jaw ab sosial. Jika dikemukakan dalam bahasa kontemporer, salat selain menanamkan kesadaran akan makna dan tujuan juga mendidik dan mendorong kita untuk mewujudkan cita-cita luhur menuju terbentuknya suatu masyarakat yang penuh kedamaian, keadilan.

Makna pendidikan sosial dalam ibadah dapat kita jumpai di saat kita melakukan salat berjamaah, bisa juga pada peringatan hari besar agama; misalnya diwaktu salat jamaah selain kita niat dalam hati untuk menyembah Allah, di sisi lain tanpa kita sadari terdapat unsur sosial yang begitu kental, mulai dari berbaris, mengikuti imam dalam gerakan salat, bersalam-salaman ketika selesai dan dzikir bcrsama dipimpin langsung oleh sang imam, seakan mereka adalah satu, tanpa memperdulikan perbedaan status sosial. Salat jamaah di samping besar pahalanya (27 derajat) juga mengandung pelajaran

dan pendidikan bagi kehidupan muslim. Firman Allah SWT :

11 N u r C h o l i s M a d j i d , K o n le k s tu a lis a s i D o k lr in Is la m d a la m S ejarah, P a r a m a d i n a , J a k a r t a , 1 9 9 5 , h i m . 4 0 6 .

67

Artinya : Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orangyang ruku'. (Q.S. Al-Baqarah : 43).16

Dalam salat terkandung hikmah atau manfaat agama dan dunia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah sendiri. Diantara hikmahnya adalah bisa menciptakan ukhuwah di kalangan kaum muslimin. Sebuah masjid misalnya, bisa menampung penduduk dan jamaah dari seluruh pelosok perkampungan setiap hari lima kali. Dalam salat itu, seluruh kaum muslimin saling berdekatan, berkenalan, bersalaman, saling menjaga lisan dan mempersatukan hati. Mereka bertemu dalam satu tujuan dan satu sarana, mereka salat bersama di belakang seorang imam, menyeru satu Tuhan yang sama Allah SWT, membaca kitab yang sama; Al-Qur'an, menghadap kiblat yang satu yaitu Ka’bah di Masjidil Haram dan melakukan ritual ibadah dari berdiri, ruku’ dan sujud secara bersamaan dan harmonis.

Kesatuan kaum muslimin di sini adalah kesatuan yang langsung menembus sisi dan tidak sebatas kulitnya, kesatuan dalam hal pandangan dan pikiran, kesatuan dalam tujuan dan arah, ucapan dan perbuatan serta kesatuan orang-orang mukmin sebagai saudara.

Di dalam masjid tidak ada perbedaan kedudukan, kekayaan, suku, warna kulit dan lainnya. Akan tetapi yang terlihat adalah suasana yang penuh kcdamaian, pcrsaudaraan, pcrsamaan dan kasih sayang dan hal itu merupakan anugrah dari Allah yang sangat besar agar kita selalu menjalankan salat lima waktu, karena ukhuwah islamiyah ini merupakan ekspresi diri yang nyata dari kehidupan.

63

Selain salat berjamaah, pendidikan sosial juga bisa kita temui pada bulan Ramadhan yang disusul dengan Mari Raya Idul Fitri yang mana pada bulan-bulan tersebut seluruh umat Islam menjalankan ibadah puasa, menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Allah SWT telah mcwajibkan puasa kepada seluruh muslim bukan sebagian atau satu orang muslim saja agar mereka merasa ada dalam satu persaudaraan dan kebersamaan, bersama-sama berfastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam berbuat baik). Pada bulan itu kebaikan dan berkah bertebaran., kemungkaran tersumbat, rasa malu menyclimuti maksiat. Mereka yang kaya bisa mcrasakan lemah karena (tidak makan dan minum), tumbuh sifat dan perasaan ingin memberi, bersedekah serta membantu kaum fakir, yang miskin dituntut unluk lebih sabar, ikhtiar dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Kemudian saat-saat alchir Ramadhan, setiap umat muslim diharuskan membayar zakat fitrah guna mensucikan jiw a dan merupakan sarana terbesar di dalam mengaplikasikan rasa kebersamaan dan solidaritas moril dan materiil antara umat Islam yang mana zakat tersebut akan disalurkan kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat), yaitu fakir, miskin, amil, gharim, mualaf, fisabilillah, ibnu sabil dan riqab sebagai bukti penyatuan hati dan jiwa, menyebarkan benih-benih kasih sayang dan memperkuat tali persaudaraan dan wujud rasa kepedulian terhadap sesama.

Zakat bisa menumbuhkan ruh sosial diantara masyarakat, dapat mengikis rasa iri hati orang-orang fakir dan mensucikan hati mereka dari sifat

69

dengki, dendam dan benci kepada orang-orang yang lebih tinggi

kedudukannya. Bahkan mcndorong mcreka untuk mcndoakan orang-orang kaya agar hartanya diberi keberkahan.

Pendidikan sosial juga dapat ditemui pada peringatan Hari Raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha dan Hari Tasyrik, dimana masyarakat muslim menyembelih binatang qurban untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan saudara-saudara yang kurang mampu, sehingga mereka juga bisa merasakan makanan yang enak yang jarang mereka makan. Realisasi semangat qurban tidak hanya sebatas menyembelih hewan qurban dan membagikannya kepada yang berhak melainkan hams diteruskan dalam bentuk penyantunan sosial lainnya yang bersifat kesinambungan, karena hakikat ibadah qurban adalah sebagai wahana mendidik agar kita peka terhadap realitas sosial yang ada.

Semangat berqurban juga dapat diaktualisasikan dalam bentuk pengentasan kemiskinan yang dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya pemberian bekal makanan.

Artinya : Dan mereka memberikan makanan ya n g disukainya kepada orang miskin, anakyatim dan orang yang ditawan. (Q.S. Al-Insaan : 8).17 Yang selanjutnya memberikan modal kerja agar mereka bisa mengembangkan hidup dan kehidupannya.

70

i _ / / x / i / / 9-4Jw4

Artinya : Daw apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (Q.S. An-Nisa' : 8).18

Islam adalah agama universal dan abadi, ia tidak memutuskan sesuatu kecuali mengandung kemaslahatan bagi seluruh manusia dalam urusan agama maupun dunia. Jadi nilai kemanusiaan dapat ditentukan oleh seberapa besar kita dapat memberi manfaat kepada sesama. Dari situlah kesalehan sosial dapat terlaksana tanpa lepas tangan dari adanya pendidikan sebagai mediatornya.

B A B Y PENUTUP

A. Kcsimpulan

Setelah penulis menguraikan mengenai konsep kesalehan sosial dalam Al-Qur'an surat Al-Ma’un (Implementasinya dalam Pendidikan), maka dapat mengambil kesimpulan sebagai b erik u t:

1. Konsep kesalehan sosial dalam Q.S. Al-Ma’un ayat 1 - 7 adalah suatu bentuk tindakan yang mengarah keapda kebaikan, dan kepedulian dalam bermasyarakat sesuai dengan ajaran Islam khususnya ayat tersebut, yang mana terdapat unsur-unsur pendidikan sosial berupa anjuran-anjuran yang harus kita lakukan dalam bcrsikap kepada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Seperti menyantuni anak yatim, menganjurkan orang lain untuk memberi makan fakir miskin. Setelah itu terlaksana, kita dianjurkan agar khusyu’ dalam melaksanakan salat, sehingga kekhusu’an salat tersebut dapat membekas kebaikan ke dalam perilaku seseorang yang menjadikannya tidak sombong dan riya’ serta tumbuh kesadaran untuk menolong orang lain sebagai makhluk pribadi dan sosial yang selalu butuh dan dibutuhkan orang lain.

2. Kesalehan sosial dalam Q.S. Al-Ma’un dapat diimplementasikan dalam pendidikan, karena pada dasarnya dalam Q.S. Al-Ma’un sendiri terdapat unsur-unsur pendidikan sosial yang mana dapat diterapkan bagi diri pribadi maupun kelompok masyarakat. Dengan motivasi ajaran Islam,

u

ibadah harus mengandung empat dimensi pokok yaitu dimensi teologikal, ritual, educational dan sosial, dimana educational sosial seseorang melakukan suatu ibadah memiliki fungsi ganda untuk dirinya sendiri dan orang lain. Hal tersebut bisa kita liliat dalam salat berjamaah, ibadah puasa Ramadhan yang diakhiri dengan zakat fitrah, ibadah qurban, dan ibadah- ibadah sosial lainnya yang juga diterapkan di lembaga pendidikan seperti Baksos, ZIZ, dan sebagainya. •

B. Saran-saran

Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, penulis memberikan sedikit saran yang mungkin dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka meningkatkan kepedulian kita kepada kaum lemah yang membutuhkan uluran tangan kita berupa kasih sayang, dorongan moril maupun matriil guna menuju kesalehan sosial yang sebenamya. Adapun saran-saran tersebut adalah:

1. Kepada kaum muslimin yang merasa dirinya beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya beserta apa yang diturunkan kepadanya mau melihat dirinya dengan membandingkan antara makna yang terdapat dalam (Q.S. Al-M a’un dan yang lainny) dengan amal yang sudah dikerjakan untuk mengetahui sejauh mana kita percaya atau yakin kepada agama.

2. Kepada orang tua, sebagai figur yang patut dicontoh harus siap mcnanamkan bibit-bibit kesalehan sosial dalam diri anak sejak dini dengan saling berbagi dan mengasihi melalui suatu keteladanan, yang

73

mana keteladanan tersebut secara lidak langsung dapat mempengaruhi pcrilaku anak menjadi lebih baik.

3. Kepada praktisi pendidikan, sudah sewajarnya kita sebagai orang yang bergerak dalam bidang pendidikan harus mengajarkan dan memberi teladan serta menanamkan nilai-nilai sosial, baik dalam diri sendiri dan kepada orang lain.

C. Penutup

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa memberikan petunjuk, kelancaran, dan kecerahan pikiran serta nikmat yang tak terkira sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tiada daya upaya melainkan dengan pertolongan-Nya.

Alam yang sangat luas ini ibarat kitab, syair, lukisan dan bangunan dengan tekstur yang amat indah. Tentu ilmu dan nikmat yang disediakan Allah pada alam dan kita tidak terbatas.

Penulis berharap apabila dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini belum memenuhi syarat, atas nama pribadi penulis minta m aaf yang sebesar- besarnya. Karena penulis sendiri menyadari kita sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan dan tak luput dari salah dan lupa. Untuk pembaca hendaknya berkenan memberikan kritik dan saran yang membangun menuju perbaikan. Dengan saran tersebut semoga mampu memberikan semangat bagi penulis untuk mcmperbaiki karya-karya selanjutnya.

74

Akhirnya, hanya ucapan terima kasih yang dapat penulis haturkan kepada scmua pihak yang ikut membantu, memberi motivasi dengan segala kerendahan hati schingga dapat tcrselesaikannya skripsi ini Jazzakumullah Khaira Ja zza' teriring doa dan salam, semoga skripsi ini memberi manfaai kepada kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi. 1984. Ilmu Pendidikan Sv.atu Pengantar. Salatiga : CV. Saudara.

Al-Farmawi, Abd. Al-Hayy. 1996. Metode Tafsir M aw dhu’iy. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Al-Hammah, Ali, Hablu Minanas. 2006. Seratus Cara Sukses Dalam Hubungan Sosial. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Al-Hasyimi, M. Ali. 2003. Muslim Ideal Yogyakarta : Mitra Pustaka.

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1993. Tafsir Al-Maraghi, Semarang : Thoha Putra.

Bisri, Mustofa. 2007/03. Membimbing Arti Kesalehan Sosial dalam Islam. Blogspot.com.

Departemen Agama Rl. 2005. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Bandung : Syamil Cipta Media.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jak arta: Balai Pustaka.

Husna, KhotimatuL 2006. 40 Hadits Sahih Pedoman Membangun Toleransi. Y ogyakarta: Pustaka Pesantren.

Kaelany. 2000. Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan. Jakarta : Bumi Karya. Khalafallah, Muh. Ahmad. 2008. Masyarakat Muslim Ideal. Yogyakarta : Insan

Madani.

Madjid, Nur Cholis. 1995. Konlekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta: Paramndina.

Mintarja, Rndang .2006. Politik Berbasis Agama. Yogyarkarta : Pustaka Pelajar. Shaleh, Qomarudin. 1996. Asbabun Nuzul. Bandung : Diponegoro.

Shihab, Quraish. 1997. Tafsir Al-Qur'an. Bandung: Pustaka Hidavah Sholihin. 2008. Kedermawanan. Yogyakarta : Insan Madani.

Sobary, Mohammad. 2007. Kesalehan Sosial. Yogyakarta : LkiS. Suryani, Budiyana. 2004. Bimbingan Berdo ’a. Jakarta : Barns.

Syukur, Amin. 2004. Tasawuf Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Theria, Alif. 2005. Harmnoni Kehidupan Beragama : Problem, Praktik dan Pendidikan. Yogyakarla : Oasis Publisher.

Winarno. 1998. Pengantar Ilmiah Dasar Metode Teknik. Bandung : Tarsito.

Zul Fajri, EM., Ratu Aprilia Senja. t,t. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Dita Publiser.

Dokumen terkait