Pancasila adalah identitas bangsa kita. Kita tidak dapat memikirkan Indonesia tanpa juga berpikir tentang Pancasila. Bahkan tidak salah untuk mengatakan, Indonesia adalah Pancasila, dan Pancasila adalah Indonesia. Namun demikian, pandangan tentang identitas ini bisa sangat statis, tertutup untuk pada akhirnya tidak bermakna apapun. Ia bisa merupakan slogan kosong yang dihafalkan tanpa penghayatan.
Pertanyaan yang dihadapi adalah, apakah nilai-nilai Pancasila sungguh-sungguh memberi makna kepada kehidupan nyata bukan saja bagi bangsa kita melainkan juga bagi umat manusia pada umumnya? Dalam tahun-tahun terakhir ini orang banyak berbicara tentang Pancasila sebagai sebuah ideologi terbuka. Ini bisa diartikan apapun. Saya mengartikannya sebagai ideologi yang dinamis, yang mampu memfilter berbagai nilai yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia, dan sekaligus tidak tabu terhadap kemajuan-kemajuan yang dicapai umat manusia di dalam memperkembangkan peradabannya.
Dr. Eka Darmaputera, salah seorang pemikir Kristen terkemuka di Indonesia meringkaskan pertanyaan ini dalam dua kata yang mestinya difahami secara dialektis:
“identitas” dan “modernisasi”.31 Dengan ini dia mau mengatakan, betul Pancasila adalah identitas bangsa, namun tidak boleh dibiarkan beku. Pancasila harus terus diperkembangkan secara kreatif dan dinamis. Ini dimaksudkan agar Pancasila dapat menjawab tantangan-tantangan zaman yang terus berubah dan bertambah maju.
Pancasila dilihatnya sebagai pilihan terbaik satu-satunya yang tersedia bagi bangsa kita.
Ia telah memampukan masyarakat Indonesia untuk memelihara tradisi kultural masa lampaunya yang kaya. Ia juga dengan efektip telah mampu mengatasi berbagai masalah pokok yang dihadapi bangsa kita. Bahkan Pancasila telah berhasil memberikan kepada bangsa kita suatu kerangka nasional yang di dalamnya cita-cita bersama bagi masa depan dapat diperjuangkan secara bersama-sama pula.32
Inilah keunggulan Pancasila. Semua lapisan masyarakat Indonesia, siapapun dia, dari golongan dan kelompok manapun melihat diri mereka tercermin di dalam Pancasila. Semua
31 Eka Darmaputera, Pancasila, Identitas dan Modernitas, Jakarta, 2017 (cetakan ke-6).
32 Ibid., h.167
lapisan budaya, termasuk budaya modern melihat dirinya ada di dalam Pancasila. Pancasila memberikan ruang bagi semua, tanpa memandang mayoritas dan minoritas untuk bukan saja mempertahankan identitas masing-masing tetapi juga memungkinkan masing-masing menyumbangkan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya bagi kepentingan seluruh masyarakat dan bangsa sesuai dengan identitas masing-masing. Pancasila memberikan semacam “aturan main”, di mana perbedaan-perbedaan tidak ditindas, tetapi juga tidak dibiarkan begitu saja sehingga menjadi sepenuhnya antagonistis satu sama lain. Sebagai demikian dapatlah disimpulkan, sampai dengan batas tertentu Pancasila telah berhasil menjawab persoalan pokok yang dihadapi bangsa kita. Pancasila telah memberikan suatu identitas yang mampu menjawab tantangan-tantangan kontemporer dan sekaligus bermuara pada warisan tradisi budaya Indonesia masa lalu. Sedangkan masa depan tetap dibiarkan terbuka untuk ditentukan dan dibangun secara bersama-sama oleh semua anggota masyarakat Indonesia. Maka secara dialektis Pancasila mempertahankan baik kemajemukan mau pun kesatuan bangsa.
Pada pihak lain, tentu juga harus diakui keterbatasan Pancasila. Pancasila bukan Tuhan.
Kita tidak usah juga berpretensi bahwa di dalam Pancasila segala sesuatu menjadi beres. Kita harus membuka diri kepada kekurangan-kekurangan. Tetapi justru dengan itu ada peluang untuk melakukan koreksi diri. Bagaimana Pancasila menjawab berbagai perkembangan yang dihadapi bangsa ini yang disimpulkan di dalam kata “modernitas”? Sampai sejauh mana Pancasila, yang mencerminkan nilai-nilai tradisional Indonesia itu mampu menjadi dasar yang memadai mencapai modernitas. Maka dapatlah dikatakan, baik identitas maupun modernitas, adalah persoalan pokok Indonesia, yaitu bagaimana membangun masyarakat modern Indonesia yang tetap berkepribadian, atau, bagaimana membangun suatu masyarakat yang berkepribadian, namun mampu untuk menjadi modern?33
Dewasa ini kita berada dalam era Revolusi Industri 4.0. Para ahli mentipekan revolusi ini dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang lambat atau cepat akan menggantikan hampir semua peranan manusia di segala bidang. Tantangan yang dihadapi Pancasila adalah, mampukah ia (Pancasila) menjadi filter sehingga masyarakat Indonesia yang diperlihatkan nanti tetap berwajah manusiawi? Di sinilah kreativitas manusia Indonesia ditantang untuk menginterpretasi secara baru nilai-nilai Pancasila di dalam perkembangan yang serba cepat itu. Sebagai bangsa kita pun akan segera memasuki usia 100 tahun pada 2045 mendatang.
Wajah Indonesia yang bagaimanakah diharapkan pada tahun itu nanti?
Revolusi Industri 4.0 yang segera berkembang menjadi revolusi industri 5.0 dan seterusnya dengan segera menempatkan umat manusia dalam suatu kesatuan global di mana batas-batas geografis menjadi cair. Pengalaman kita dengan maraknya pandemi Corvid-19 ini memperlihatkan bahwa kerjasama antar-bangsa tidak terhindarkan. Nilai-nilai apakah yang disumbangkan oleh Pancasila dalam keadaan dunia seperti ini? Kita teringat akan pidato Bung Karno di depan Sidang Umum ke-15 PBB pada 30 September 1960 di mana beliau mengucapkan pidato To Build the World Anew. Di situ beliau menawarkan Pancasila kepada dunia guna membangun kembali peradaban dunia, mengatasi pertentangan ideologi yang keras waktu itu (Timur versus Barat). Jelas di tengah-tengah polarisasi dunia yang dikuasai oleh Perang Dingin, Bung Karno menawarkan Pancasila. Salah satu sumbangan berharga yang dapat diberikan Pancasila kepada masyarakat dunia, adalah pendekatannya yang bersifat inklusif terhadap kenyataan. Inilah juga cara berpikir Timur pada umumnya yang berbeda dengan cara berpikir Barat yang eksklusip. Apa yang dimaksudkan dengan ini sudah tentu membutuhkan elaborasi lebih jauh.
33 Ibid., h.170
Kesimpulan
Tulisan ini memperlihatkan dengan jelas bagaimana umat Kristen Indonesia menyikapi Pancasila dan sedapat mungkin berperilaku pancasilais. Sikap ini mengindikasikan bahwa umat Kristen Indonesia adalah bahagian integral dari bangsa ini. Maka perilaku inklusif, toleran, rukun, dan moderat di tengah-tengah kemajemukan bangsa ini adalah sesuatu yang imperatif. Kita tetap memperkembangkan berbagai cara hidup yang tidak mengucilkan sesama anak bangsa apapun suku, agama, ras, dan etnisnya seraya secara bersama-sama memberikan sumbangan positif bagi kelestarian negara dan bangsa.
Kepustakaan
Bellah, Robert N., Beyond Belief on Religion in the Post-Traditional World, New York, 1970.
Bellah, Robert N. & Hammond, Phillip E., Varieties of Civil Religion, San Fransisco, 1980.
BPIP, Pancasila, Dialektika dan Masa Depan Bangsa, Jakarta, 2019.
Darmaputera, Eka., Pancasila, Identitas & Modernitas, Jakarta, 2017 (cetakan ke-6).
Dhakidae, Daniel, ‘Lima Bulan Yang Mengguncang Dunia’, Prisma, Jurnal Pemikiran Sosial-Ekonomi, LP3ES, Vol.37, 2018.
Kueng, Hans, The Beginning of All Things, Grand Rapids, Cambridge, 2007.
Kuyper, Abraham, Ons Program, Amsterdam, 1880.
Mahkamah Konstitusi RI, UUD Negara Republik Indonesia, Jakarta, 2011.
PGI, Dokumen Keesaan Gereja, Jakarta, 2010.
Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 (Lahirnya Pancasila).
Pidato Bung Karno 17 Juni 1954.
Simatupang, T.B., Harapan, Keprihatinaan dan Tekad, Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya, Jakarta, 1986.
Titaley, John, Religiositas di Alinea Tiga, Pluralisme, Nasionalisme dan Transformasi Agama-agama, Salatiga, 2013.