• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila

Satu hal yang perlu digarisbawahi terlebih dahulu bahwa Studi Lintas Agama adalah scholarly works (telaah dan kerja kesarjanaan) berdasar data tekstual dan historis-empiris sekaligus dari agama-agama yang hidup di Indonesia. Studi ini bukan studi teologis yang hendak menyamaratakan dan menyamakan semua ajaran agama. Tidak ada pula dikandung maksud untuk melemahkan dan mendangkalkan akidah atau keimanan seseorang pada agamanya. Beriman dan beragama sesuai ajaran agama yang dipeluk secara matang, baik

dan utuh adalah syarat mutlak untuk mengikuti Studi Lintas Agama. Tidak pula bermaksud secara terselubung untuk melakukan konversi atau pindah agama, apalagi sampai memperbanding-bandingkan dengan maksud merendahkan atau memperolok-olokan agama dan keyakinan yang dianut oleh pengikut agama lain.

Tujuan pembelajaran, perkuliahan dan pendalaman materi agama pada aras teologi (agama Islam) melalui Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila pada jenjang sekolah dasar, menegah dan perguruan tinggi tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjelaskan dan memberi bekal kepada peserta didik dan mahasiswa tentang tujuan utama manusia beragama dalam masyarakat mejemuk dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan utama manusia beragama dalam perspektif Islam adalah untuk memperoleh kemaslahatan hidup di muka bumi (blessing for human kind) dan di akherat. 29 Agama-agama lain memiliki istilah dan terminologi lain yang pada dasarnya adalah sama atau mirip antara yang satu dan lainnya seperti the golden rules atau ten commandments.

Kemaslahatan yang menjadi pangkal tolak teori Maqasid al-Syari’ah (fundamental virtues; nilai-nilai utama yang sangat mendasar dalam Syariat Islam) sangat dikenal dalam doktrin ajaran Islam. Tujuan pendidikan agama Islam dan sekaligus Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila tidak dapat menjauh dari dan keluar dari rel itu. Kemaslahatan menekankan 2 hal pokok, yaitu 1) Pengembangan kapasitas dan potensi manusia (human development) dan 2) Kesejahteraan (well-being). Keduanya dapat dicapai dengan cara memberdayakan, memperkaya dan mengembangkan 5 (lima) unsur pokok kapasitas dan potensi yang dimiliki manusia sebagai ciptaan Tuhan di muka bumi.

Dalam literatur standar kajian Islam disebutkan dengan tegas bahwa ada lima hal pokok yang perlu dilindungi dan dikembangkan dalam diri manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kelima hal tersebut adalah 1) al-Nasl (Prosterity; Keturunan), 2. al-‘Aql (Intellect; akal pikiran), 3) Nafs/’Irdh (Human Self; human dignity; harkat dan martabat manusia), 4) al-Din (Religion; agama atau keberagamaan) dan 5) al-Maal (Wealth; ekonomi; harta benda atau kekayaan).

Dalam konteks perkembangan jaman, kemajuan sains dan teknologi, pengetahuan sosial (social sciences) dan kemanusiaan (humanities) terjadi pergeseran dan pengembangan makna kemaslahatan dalam paradigma pendidikan dan pembelajaran agama berbasis pada teori kemaslahatan. Gambaran pergeseran dan pengembangan teori dan makna maslahah atau kemaslahatan dari era klasik menuju teori kemaslahatan era moderen-kontemporer.

(gambar 1).

Poin pertama, menjaga dan melindungi keturunan (al-nasl). Dahulu hanya dimaknai secara terbatas sebagai perlunya perkawinan untuk melanjutkan keluarga dan keturunan yang baik, dengan pranata sosial yang mengatur sah tidaknya perkawinan. Sekarang dikembangkan menjadi “perlindungan terhadap institusi keluarga” baik terhadap istri (perempuan), suami (laki-laki) maupun anak (laki-laki dan atau perempuan). Kepedulian terhadap institusi keluarga pada era moderen cenderung melonggar dan memudar, bahkan ada yang dilanda krisis keluarga yang hebat seperti yang diekspresikan dengan apa yang sekarang dikenal dengan LGBT di sebagian negara-negara maju.

29 Jasser Auda, Maqasid al-Shari’ah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach, London and Washington, The International Institute of Islamic Thought, 2008, h. 21-25. Edisi terjemahan dalam bahasa Indonesia Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syariah: Pendekatan Sistem, Bandung: PT Mizan Pusataka, 2015, h. 56-59.

Gambar 2:

Nilai-Nilai Utama (Fundamental Virtues) dalam teori al-Maqasid (Tujuan Pokok) beragama Islam

Poin kedua, menjaga akal pikiran (al-‘aql). Umumnya, dalam masyarakat Muslim di seluruh dunia hanya dipahami secara terbatas melalui pelarangan atau pengharaman khamr dan hal-hal yang memabukkan. Hal tersebut masih berlaku, apalagi miras, narkoba dan minuman oplosan yang mematikan, namun sekarang perlu ditingkatkan dan dikembangkan lebih lanjut menjadi upaya yang sungguh-sungguh untuk melipatgandakan pola berpikir yang jernih, tidak bias kepentingan, pola pikir ilmiah berlandaskan hasil penelitian (research) yang akurat. Mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan.

Mengutamakan pola pikir yang terbuka, mendahulukan dialog, bukan tertutup (under a siege of mentality), bukan pemaksaan kehendak lewat tindakan anarkis dan kriminalitas kelompok; menghindari upaya-upaya yang meremehkan kerja otak manusia.

Poin ketiga, menjaga kehormatan atau menjaga jiwa (al-‘irdh). Sekarang dikembangkan menjadi menjaga dan melindungi harkat dan martabat manusia; bahkan melindungi hak-hak asasi manusia. Melindungi dan menghormati al-Karamah al-Insaniyyah (harkat dan martabat manusia) menjadi nilai kemanusiaan yang primer sekarang, lebih-lebih setelah disepakatinya undang-undang perlindungan hak-hak asasi manusia oleh Persyarikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan diratifikasi oleh negara-negara bangsa di dunia. Melindungi dan menjaga harkat dan martabat manusia menjadi hal utama, tanpa ada syarat pengecualian apapun yang menyertainya (non-derogable).

Poin keempat, menjaga agama (al-din). Dahulu penjagaan dan perlindungan dipahami dan difokuskan hanya pada agama yang dipeluknya saja dan tidak melindungi agama dan kepercayaan orang atau kelompok lain. Poin ini kemudian dikembangkan menjadi menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan kepercayaan manusia pada umumnya. Artinya, bukan lagi hanya agama sendiri saja yang wajib dilindungi, dijaga dan dikembangkan tetapi agama dan pengikut agama selain agama sendiri juga wajib dilindungi, dijaga dan dihormati. Semua agama dan kepercayaan mempunyai hak hidup yang sama.

Poin ke lima, menjaga harta (al-maal). Poin ini tidak lagi hanya terbatas pada harta sendiri dan keluarga terdekat yang dilindungi dan dijaga. Namun dikembangkan menjadi

lebih luas menjadi mengutamakan kepedulian sosial; menaruh perhatian pada pembangunan dan pengembangan ekonomi masyarakat luas; mendorong tercapainya kesejahteraan umat manusia baik dari segi sosial, ekonomi, kesehatan; semua usaha yang berupaya dan berusaha keras untuk mengurangi dan memperkecil jurang yang semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin.30

Gambar 3: Perbandingan Teori Maqasid Klasik dan Kontemporer No

Teori Maqasid /Kemaslahatan

Klasik Teori Maqasid /Kemaslahatan Kontemporer

1

Menjaga Keturunan (al-Nasl)

Teori yang berorientasi kepada perlindungan Keluarga;

Kepedulian yang lebih terhadap institusi Keluarga. Komunikasi yang kuat, ramah dan santun dalam kehidupan keluarga di tengah badai perubahan sosial yang dahsyat serta serbuan media sosial.

2 Menjaga Akal (al-‘Aql)

Melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah; mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan; menekan pola pikir dan tindakan yang mendahulukan emosi dan tindakan kriminalitas gerombolan; menghindari upaya-upaya untuk meremehkan kerja otak.

Menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan (karamah al-insaniyyah); menjaga dan melindungi hak-hak asasi manusia.

4 Menjaga agama (al-Diin)

Menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan berkepercayaan umat manusia pada umumnya; tidak hanya melindungi agamanya sendiri.

5 Menjaga harta (al-Maal)

Mengutamakan kepedulian sosial; menaruh perhatian pada pembangunan dan pengembangan ekonomi; mendorong kesejahteraan manusia; menghilangkan jurang yang kebar antara miskin dan kaya. Mencakup juga pelindungan terhadap lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan umat manusia.

Dasar argumen teori maslahah atau maqasid seperti terurai diatas ternyata sangat beririsan dan berhubungan kuat dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan dan Keadilan. Titik temu antara kedua nilai tersebut dapat dijadikan landasan paradigma dalam Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila. Hal demikian penting karena seiring dengan perkembangan jaman, nilai-nilai luhur Pancasila dan juga nilai-nilai utama maqasid semakin meleleh dan luntur karena masyarakat dalam perjalanan waktu semakin tersegmented (terkotak-kotak) dan terfragmented (terpisah-pisah). Sebagian anggota masyarakat ada yang hanya mau bergaul jika teman bergaulnya dari kelompok dan agama yang sama, enggan bergaul dan bekerjasama dengan etnis lain, di beberapa tempat mulai terdapat kluster perumahan dan sekolah yang dikhususkan untuk agama tertentu, bahkan pemakaman pun dipisah

30 Jasser Auda, Maqasid al-Syari’ah ..., h. 22-24.

berdasarkan agama. Sektarianisme dan primordialisme memang sedang menggerogoti dan membayang-bayangi perjalanan kehidupan berbangsa dan negara.31

Diawali dengan mencermati catatan dan masukan dari komisi 1 rapat kerja nasional (rakernas) pendidikan nasional tahun 2016, catatan FGD 2017 tentang praktik dan pelaksanaan mata kuliah agama di perguruan tinggi, pentingnya metode dan pendekatan dalam pembelajaran dan perkuliahan agama di perguruan tinggi, mencermati persamaan dan perbedaan antara rumpun ilmu agama, ilmu sosial, ilmu kemanusiaan dan ilmu alam serta tujuan pokok dari pendidikan dan pembelajaran agama (Islam) karena agama Islam adalah agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk Indonesia maka tibalah saatnya sekarang merumuskan dan menentukan Inti Dasar Capaian Pendidikan (Fundamental Educational Outcomes) Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila dalam rumpun ilmu agama di perguruan tinggi yang sekiranya dapat memberi inspirasi dan memandu kinerja para dosen agama di perguruan tinggi dan guru-guru agama pada level di bawahnya era sekarang dan kemudian disempurnakan, dikembangkan, diperkaya lebih lanjut oleh generasi yang datang berikutnya mengingat perubahan jaman dan pengalaman manusia terus akan berkembang tanpa kenal henti.

Inti Dasar Capaian Pendidikan Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila

Setidaknya ada 5 (lima) elemen fundamental yang saling terkait untuk meraih tujuan dan Inti Dasar Capaian Pendidikan (IDCP).32 Antara elemen yang satu dan lainnya tidak saling terpisah (intermingle), tidak terpotong-potong, tetapi saling terkait erat dan terajut dalam anyaman yang kuat (texture). Elemen yang satu dan lainnya tidak hanya saling mengisi dan melengkapi, namun juga saling mengecek, mengkritik dan memperbaiki. Kelima elemen dasar tersebut adalah (1) Knowledge (olah pikir; concept; idea); (2) Skill (olah cipta; from idea to action (3) Attitude (olah rasa; kehalusan akal budi menuju kematangan emosi) (4) Values (olah cita; visi dan nilai-nilai mendasar) (5) Spirituality (olah karsa; mission of life).33 Pada 2 (dua) elemen terakhir, yaitu pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai (Value) dan Spiritualitas, selain elemen Knowledge, Skill dan Attitude, dalam hidup sehari-hari bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah target utama dan inti dasar Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila.

Peran dosen, guru, guru besar dan pendidik pada umumnya menjadi sangat sentral disini. Aktifitas dan kerja dosen, guru dan pendidik tidak hanya tercurah dan terfokus pada kegiatan mengajar (learning; al-ta’lim) di kelas tetapi lebih dari itu, yaitu mendidik (educating; al-tarbiyah) dalam arti luas. Tugas “mendidik” adalah lebih fundamental karena melibatkan ke 5 (lima) elemen dasar diatas sekaligus, sedang tugas “mengajar” umumnya

31 Ahmad Najib Buhani, “Kebinekaan Kita”, Kompas, 29 Agustus 2020, h. 15.

32 Terjadi proses diskusi yang mendalam di lingkungan internal anggota Majelis Pendidikan tentang pemilihan kata “Learning Outcomes” ataukah “Educational Outcomes”. Berhubung undang-undang pendidikan No. 12 Tahun 2012 menyebut akhlak mulia, tidak hanya sains dan teknologi dan kebutuhan pasar (market), maka akhirnya diskusi menyepakati bahwa yang kedua yang digunakan, yakni “Educational Outcomes”.

33 Untuk perbandingan bacaan, Robert M. Gagne, “Learning Outcomes and Their Effects: Useful Categories of Human Performance”, The American Psychological Association, Inc., Vol. 39, No.4, April 1984, h. 377-385.

hanya terfokus pada aspek kognitif (knowledge). Lebih-lebih pada pendidikan agama, Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila dan Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) lainnya.

Mata Kuliah Wajib Umum adalah ibarat “nyawa” bagi seluruh mata kuliah dan mata pelajaran yang lain.

Dalam hal ini sangat penting peran guru, dosen, guru besar dan tenaga kependidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kemampuan, panggilan dari dalam, kesungguhan, passion, commitment dosen, guru, guru besar dan pendidik dalam mengolah dan mengemas materi, metode, pendekatan dalam pendidikan dan pembelajaran Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila secara bersamaan amat menentukan hasil yang akan dicapai.

Komitmen dan passion, selain pengetahuan, bacaan dan pengalaman yang luas, yang dimiliki guru dan dosen adalah melebihi segalanya. Kemampuan dosen dan guru untuk selalu mengupdate materi, cara, metode dan pendekatan, literatur silang (cross-references) yang digunakan tidak kalah penting. Metode penyampaian pendidikan dan pembelajaran yang menarik, memikat, komunikatif, dialogis, tidak menjemukan sangat penting. Outcomes atau hasil akhir pembelajaran dan pendidikan yang berujung pada pembentukan dan pembiasaan akhlak mulia dan kemampuan peserta didik dan mahasiswa peserta kuliah untuk mampu dan dapat “mengubah”, “memperbaiki”, “memperhalus budi”, “terbuka”,

“mendewasakan” sikap peserta didik amatlah sangat penting dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Managemen dan pengelolaan kelas dan perkuliahan, variasi metode dan pendekatan yang digunakan, corak interaksi guru dan peserta didik, dosen dengan mahasiswa, belum lagi koordinasi dengan pengajar mata kuliah lain serta kerjasama dengan tenaga kependidikan yang lain juga ikut menentukan berhasil tidaknya tujuan yang hendak dicapai oleh Inti Dasar Capaian Pendidikan (IDCP) Studi Lintas Agama. Bahkan sampai pula perlu berujung pada apakah mata kuliah yang diampu dapat menginspirasi dan mengantarkan mahasiswa mengaitkannya dengan tema penelitian yang diajukan dan pengabdian kepada masyarakat yang akan dilakukan.

Penutup

Bangsa Indonesia patut bersyukur dapat mencantumkan rumpun ilmu agama di dalam Undang-Undang Pendidikan Tinggi No. 12/2012. Tidak banyak negara di dunia yang secara tegas mencantumkan agama dalam undang-undang pendidikannya. Umumnya, negara-negara sekuler di dunia menghindarinya. Namun demikian, model, cara, motode dan pendekatan pendidikan agama seperti apa yang digunakan dan disampaikan kepada peserta didik dan mahasiswa adalah tugas para pendidik, ilmuan, scholars, akademisi bersama-sama para peneliti dan praktisi keagamaan untuk merumuskannya secara tepat sehingga sesuai dengan konteks masyarakat majemuk-multikultural dan sekaligus dapat bersinergi kuat dengan ideologi negara-bangsa Indonesia yang memiliki konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, juga menjadi tugas intelektual, scholars, tokoh pendidikan dan cerdik pandai pada umumnya untuk merumuskan dengan tepat dan jitu bagaimana hubungan yang sinergis antar 6 (enam) rumpun ilmu, yaitu rumpun ilmu agama, rumpun ilmu sosial, rumpun ilmu humaniora, rumpun ilmu alam, rumpun ilmu formal dan rumpun ilmu terapan.

Dengan modal sosial dan kultural yang menjadi pilar pokok kearifan lokal (local wisdom) bangsa Indonesia yang nilai-nilai dasarnya terhimpun dalam Pancasila, dalam kerjasamanya dengan pendekatan keilmuan kontemporer tentang studi agama-agama dan

Studi Lintas Agama, maka akan terjalin jalinan keilmuan dan keagamaan yang khas Indonesia yang selain akan bermanfaat untuk memperkokoh kohesi, solidaritas dan kegotongroyongan kehidupan sosial kemasyarakatan, kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap peradaban dunia. Peradaban dunia global-internasional yang semakin hari semakin gamang dalam memahami peran agama di ruang publik – bahkan ada yang mencampuradukkan dengan gerakan populisme yang muncul belakangan ini. Selain itu tidak jarang negara-negara maju di dunia yang hidup dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara namun gagap, resisten dan tidak ramah terhadap kehidupan masyarakat majemuk secara keagamaan dan kepercayaan, ras, etnis dalam berbagai seginya.

Upaya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk merintis dan mempelopori dibangun dan digunakannya pendekatan akademik-keilmuan (saintifik) terhadap Pancasila, selain pendekatan politik dan pendekatan hukum yang telah berjalan selama ini, perlu disambut baik, penuh semangat dan optimisme mengingat masalah yang dihadapi masyarakat majemuk dimanapun memang sangat kompleks. Pendekatan keilmuan akan melengkapi pendekatan politik dan hukum. Gagasan awal melalui Studi Lintas Agama Berparadigma Pancasila dalam upaya mengembangkan rumpun ilmu agama yang tercantum dalam undang-undang Pendidikan Tinggi no. 12/2012 serta hubungannya dengan ke lima rumpun ilmu yang lain, khususnya rumpun ilmu sosial dan humaniora sehingga membentuk jaringan pendekatan keilmuan yang bercorak inter-, multi-, trans- dan cross-disiplin34 di era baru pengelolaan pendidikan tinggi generasi ke 3 (tiga)35 adalah langkah awal yang perlu terus menerus disempurnakan oleh generasi yang akan datang demi tercapainya kemaslahatan dan kebahagiaan hidup bersama manusia Indonesia di tengah masyarakat majemuk-beragam keagamaan di tanah air, di tengah ketidak-pastian, gejolak dan dinamika masyarakat regional maupun global.