Pendahuluan
Penetapan kawasan konservasi perairan memang sering menimbulkan konflik dalam jangka pendek, sehingga perlu mekanisme untuk meyakinkan bahwa KKP menguntungkan masyarakat baik dalam jangka pendek maupun panjang. Hal yang paling penting dilakukan adalah justifikasi mengenai dampak dari KKP, yaitu selain dampak biologi berupa pertambahan stok ikan sebagai dampak dari spill over pada kawasan yang dilindungi dan limpahannya yang akan mengalir ke wilayah di luar kawasan, juga dampak positif terhadap kondisi sosio- ekonomi masyarakat sekitarnya (Haryani et al. 2008).
Prinsip KKP adalah spill over effect atau dampak limpahan, dimana pada kawasan yang dilindungi, stok ikan akan tumbuh dengan baik, dan limpahan dari pertumbuhan ini akan mengalir ke wilayah di luar kawasan, yang kemudian dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa mengurangi sumber pertumbuhan di daerah yang dilindungi. KKP memiliki banyak manfaat signifikan yang akan membantu pengelolaan sumber daya ikan dalam jangka panjang. Li (2000) diacu dalam Fauzi dan Anna (2005) menyatakan bahwa manfaat KKP yaitu manfaat biogeografi, keanekaragaman hayati, perlindungan terhadap spesies endemik dan spesies langka, pengurangan mortalitas akibat penangkapan, peningkatan produksi pada wilayah yang berdekatan, perlindungan pemijahan, manfaat penelitian, ekoturisme, pembatasan hasil samping ikan-ikan juvenil dan peningkatan produktivitas perairan (productivity enchancement).
Karakteristik pemanfaatan sumber daya ikan didekati melalui analisis aspek produksi dan produktivitas penangkapan. Produktivitas penangkapan yaitu kemampuan produksi suatu jenis alat tangkap dalam ukuran waktu, volume, maupun luas daerah penangkapan. Produktivitas alat tangkap diukur dengan menghitung nilai Catch Per Unit Effort (CPUE). Perhitungan CPUE akan memudahkan dalam membandingkan produktivitas suatu alat tangkap. CPUE disebut juga tingkat usaha penangkapan, sering digunakan sebagai satu-satunya indeks yang paling berguna untuk pemantauan jangka panjang dari kondisi perikanan. Penurunan CPUE dapat berarti bahwa populasi ikan tidak dapat mendukung tingkat usaha penangkapan. Peningkatan CPUE dapat berarti bahwa stok ikan sudah mulai pulih dan usaha penangkapan ikan lebih dapat diterapkan (FAO 2002). Kondisi pemanfaatan sumber daya ikan sejak ditetapkannya KKP dapat mengambarkan interaksi yang terjadi apakah KKP berdampak positif bagi nelayan melalui peningkatan produktivitas penangkapan ikan.
Rendahnya produktivitas nelayan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah jenis dan teknologi penangkapan yang dimiliki nelayan. Pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan pada zona perikanan berkelanjutan dapat diwujudkan jika teknologi penangkapan yang digunakan bersifat ekonomis, efisien dan tentunya sesuai dengan kondisi sumber daya hayati laut setempat serta tidak merusak kelestarian sumber daya perikanan (Wisudo et al. 1994).
Hingga saat ini, alat tangkap yang tidak ramah lingkungan masih digunakan oleh sebagian nelayan di KKP. Penggunaan teknik atau alat tangkap untuk menangkap ikan yang bersifat merusak sumber daya hayati laut, bukan saja merusak biota ikan yang menjadi sasaran namun juga mempengaruhi komponen ekosistem lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung (Ihsan 2000).
Pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat juga belum optimal sesuai potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang dimiliki Kabupaten Ciamis yang cukup besar. Diperlukan upaya pemanfaatan potensi tersebut secara optimal baik melalui pengaturan jumlah unit penangkapan sesuai dengan daya dukung dan penggunaan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan merupakan upaya terbaik untuk meningkatkan kondisi ekonomi pelaku perikanan tangkap, namun tetap mempertahankan kelestarian sumber daya ikan yang ada.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis karakteristik pemanfaatan sumber daya ikan dan teknologi penangkapan ikan di KKP. Diharapkan dari hasil penelitian ini, khususnya dinas perikanan setempat mampu melakukan rencana pengelolaan perikanan tangkap pada kawasan konservasi perairan secara berkelanjutan.
Metode Penelitian
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk menganalisis karakteristik sumber daya ikan di KKP adalah metode dokumenter, sedangkan untuk menganalisis teknologi penangkapan ikan menggunakan metode survey. Data sekunder yang dibutuhkan berupa kondisi perikanan tangkap secara umum yaitu data statistik perikanan tangkap Kabupaten Ciamis mulai tahun 2008 sampai 2012 dan data pendukung lainnya. Data terdiri dari: (1) data perkembangan alat tangkap, (2) armada, (3) produksi dan nilai produksi ikan, (4) potensi sumber daya ikan, (5) jumlah tenaga kerja, (6) kebutuhan dan alokasi BBM. Data primer yang diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner terhadap responden, ditetapkan secara purposif dan disesuaikan dengan jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan.Data yang dikumpulkan dari responden adalah: (1) informasi sumber daya manusia yang terlibat, (2) spesifikasi unit penangkapan, (3) aspek sumber daya ikan, (4) metode penangkapan ikan.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, maka pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan asumsi bahwa unit-unit penangkapan ikan yang dianalisis mempunyai tingkat homogenitas yang tinggi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Wisudo et al. (1994), apabila unit-unit penangkapan ikan yang dianalisis mempunyai tingkat homogenitas yang tinggi, maka empat sampai enam responden dari setiap jenis penangkapan ikan dianggap telah mewakili masing- masing unit penangkapan ikan tersebut.
Sampel diambil 3% dari jumlah populasi tiap jenis alat penangkapan ikan pada tahun 2012, kecuali pukat pantai dan bagan tancap sebesar 15% karena jumlah populasinya kecil. Jumlah sampel menurut jenis alat tangkap disajikan pada Tabel 2.
19
Data produksi dianalisis secara statistik deskriptif, sedangkan produktivitas penangkapan dianalisis dengan menghitung Cacth per Unit Effort (CPUE). Perhitungan dengan CPUE akan memudahkan dalam membandingkan produktivitas suatu alat tangkap, karena produktivitas alat tangkap ikan dapat dicerminkan oleh nilai CPUE. Nilai CPUE dapat digunakan untuk mengetahui indeks kelimpahan dan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan yang diperoleh dari perbandingan total cacth terhadap total effort. Rumus yang digunakan untuk menghitung CPUE adalah (Gulland 1983):
CPUEi = Catchi/Efforti i = 1,2,3, ...n
Tabel 2 Jumlah sampel alat tangkap yang diambil Jenis alat
tangkap Pangandaran Parigi Cijulang Cimerak Kalipucang
Jumlah Sampel Gillnet 6 4 4 4 2 20 Trammel net 4 4 2 10 Rawai tetap 7 2 2 2 2 15 Dogol 4 2 6 Pukat pantai 3 1 4 Bagan tancap 4 4
Data mentah diolah dan ditampilkan sesuai dengan informasi yang ingin disampaikan, di antaranya dalam bentuk tabel, grafik dan gambar. Bahan dan alat yang digunakan adalah kuisioner, komputer dari jenis laptop, perangkat lunak (software) Microsoft Word 2007, Microsoft Excel 2007 (menggunakan sistem operasi Windows 7), perangkat lunak (software) LINDO. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2012 di kawasan konsevasi perairan Kabupaten Ciamis.
Pemilihan jenis teknologi alat tangkap yang digunakan pada kawasan konservasi perairan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif, yaitu mengkaji karakteristik dari suatu alat tangkap menurut kriteria ramah lingkungan (Monintja 2000) untuk memanfaatkan komoditas ikan unggulan yang kemudian ditabulasikan, sedangkan untuk menentukan jumlah alokasi optimum unit penangkapan ikan dianalisis dengan menggunakan metode Linear Goal Programming.
Menurut Nachrowi dan Usman (2005) linier programming adalah suatu model matematik/teknik matematik yang digunakan untuk mencari cara terbaik dalam mengalokasikan sumber daya (resources) yang terbatas pada kegiatan- kegiatan yang saling berkompetisi dengan menggunakan model linier, agar kegiatan perikanan tangkap dapat berjalan efisien, lestari dan berkelanjutan maka diperlukan pengalokasian yang optimum unit penangkapan ikan yang dipilih. Terdapat 4 (empat) tujuan utama yang hendak dicapai dalam pengalokasian ini, yaitu: (1) mengoptimumkan pemanfaatan komoditi ikan unggulan; (2) mengoptimumkan penyerapan tenaga kerja setempat dengan target 4500 orang; (3) mengoptimumkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang ada dan (4) mengoptimumkan luasan fishing ground yang ada.
Variabel keputusannya adalah 3 jenis alat tangkap yang dipilih, yaitu: unit penangkapan pancing rawai tetap (X1), gillnet (X2) dan trammel net (X3). Secara
umum, tujuan utama yang hendak dicapai dan sekaligus juga merupakan batasan/kendala yang harus dipenuhi dalam mengoptimumkan alokasi unit penangkapan ikan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Fungsi Tujuan: Fungsi kendala: + +….+ +DB1 –DA1= b1 + +….+ +DB2 –DA2= b2 . . + +….+ +DBm –DAm= bm dimana :
Z = Fungsi tujuan (total deviasi) yang akan diminimumkan. Total deviasi merupakan penjumlahan dari deviasi fungsi kendala ke-1 sampai ke-m. Bila total deviasi rendah, berarti deviasi atau simpangan fungsi kendala dari yang diinginkan juga rendah, dan hal ini lebih diinginkan.
DBi = Deviasi bawah kendala ke-i DAi = Deviasi atas kendala ke-i
bi = kapasitas/ketersediaan kendala ke-i
aij = koefisien parameter fungsi kendala ke-i pada variabel keputusan ke- j
kendala ke-i = Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB), penyerapan tenaga kerja dan penggunaan BBM dan luasan fishing ground
Xj = variabel putusan ke-j (unit penangkapan ikan) Xj, DAi dan DBi > 0, untuk i = 1, 2,...., m dan j = 1, 2...., n
Jumlah dari setiap jenis unit penangkapan ikan ditentukan untuk memanfaatkan sumber daya ikan dan faktor-faktor input lainnya seoptimal mungkin. Jenis unit penangkapan ikan yang dimaksud adalah yang terpilih yaitu pancing rawai tetap (X1), gillnet (X2) dan trammel net (X3). Nilai koefisien dari setiap parameter fungsi kendala diperoleh berdasarkan data statistik perikanan tangkap Kabupaten Ciamis dan informasi dari nelayan setempat.
Potensi sumber daya ikan merupakan kendala terhadap produksi perikanan. Nilai b1 mempertimbangkan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) untuk 5 jenis komoditas unggulan (Lampiran 3). Nilai b2 ditentukan berdasarkan kecenderungan jumlah tenaga kerja yang ingin diserap. Nilai b3 ditentukan berdasarkan jumlah ketersediaan bahan bakar (BBM). Nilai b4 ditentukan berdasarkan luasan fishing ground ketiga alat tangkap yang dipilih. Sebagai faktor pembatas untuk pengelolaan perikanan tangkap 5 komoditas unggulan (lobster, tenggiri, kakap merah, bawal putih dan udang jerbung) digunakan dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian (precautionary approach) yaitu nilai batasan sebesar 80% dari MSY yang ada. Analisis LGP akan menghasilkan jumlah masing-masing dari ketiga jenis unit penangkapan ikan yang optimum, yaitu X1, X2, X3 dengan deviasi tujuan (Z) yang minimum.
m i DAi DBi Z 1 ) (21
Hasil Penelitian
Jenis alat tangkap yang umum digunakan oleh nelayan di pesisir Kabupaten Ciamis seperti dogol/jogol, pukat pantai, gillnet, bagan tancap, pancing rawai tetap dan trammel net. Jumlah alat tangkap menurut jenisnya di KKP Kabupaten Ciamis tahun 2008 sampai 2012 dapat lihat pada Lampiran 4. Jumlah alat tangkap yang ada tidak mengalami perubahan selama 2008-2012 dan tidak terdapat introduksi jenis alat tangkap yang baru. Jumlah rata-rata dan prosentase alat tangkap dalam periode 2008-2012 yang beroperasi di pesisir Kabupaten Ciamis disajikan pada Gambar 9. Gambar 9 terlihat bahwa alat tangkap terbanyak adalah gillnet sebanyak 638 unit (38.5%), pancing rawai tetap 469 unit (28.3%), trammel net 303 unit (18.3%), dogol 201 unit (12.1%), pukat pantai 27 unit (1.6%) dan bagan tancap 20 unit (1.2%).
Gambar 9 Jumlah alat tangkap (unit) dan prosentase (%) alat tangkap periode 2008 - 2012
Armada penangkapan ikan masih sangat minim. Mayoritas armada penangkap ikan menggunakan kapal motor tempel dengan ukuran 1 GT yang terbuat dari fibre glass dan menggunakan jenis mesin tempel berkekuatan 7 PK. Perahu tersebut mempunyai ukuran dimensi panjang total (LOA) 7,0-11,5 meter,
lebar (B) 0,8-1,2 meter dan dalam (D) 0,7 meter dan tidak terdapat penambahan unit armada motor tempel dalam kurun waktu 2008-2012.
Potensi perikanan tangkap di Ciamis diperkirakan mencapai 15486 ton/tahun meliputi berbagai jenis ikan pelagis, demersal dan ikan/udang karang. Sampai dengan tahun 2012 produksi ikan laut mencapai 1482.1 ton atau sekitar 10% dari potensi yang diperkirakan (Gambar 10).
0 20 40 60 80 100 0 200 400 600 800 1000 1200 2008 2009 2010 2011 2012 Persentase (%)
Jumlah Alat Tangkap (Unit)
T
ah
u
n
Bagan Dogol Pancing Rawai Tetap
Jenis ikan yang didaratkan beraneka ragam (Lampiran 5). Ikan yang didaratkan selama tahun 2008-2012 memiliki komposisi jenis yang sama, hanya terdapat 32 jenis ikan dengan ikan dominan diantaranya adalah layur, kembung, tenggiri, tongkol, bawal putih, ekor kuning dan udang lobster. Bila dikelompokkan menjadi 3 kelompok ikan yaitu pelagis, demersal, dan ikan karang, maka fluktuasi dari ketiga kelompok ikan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.
Kelompok ikan pelagis antara lain cucut, tenggiri, tuna, cakalang, tongkol, lemadang, layaran, selar. Ikan demersal meliputi bawal hitam, bawal putih, manyung, kuwe, gulamah/tigawaja, petek, kuro/senangin dan ikan lainnya. Sedangkan kelompok ikan karang meliputi ekor kuning/pisang-pisang, lobster, kakap dan kerapu.
Gambar 10 Pemanfaatan sumber daya ikan di Kabupaten Ciamis
Produksi ikan tertinggi dihasilkan dari jenis kelompok ikan demersal dengan rata-rata jumlah produksi 887.24 ton atau sebesar 61.78% (Tabel 3). Hal ini dapat disebabkan alat tangkap yang digunakan oleh nelayan lebih banyak dioperasikan dekat dengan perairan pantai dan ditujukan untuk ikan demersal seperti gillnet yang dioperasikan pada dasar perairan dan ditambah dengan pola ruaya ikan demersal yang tidak terlalu jauh dan selalu membentuk gerombolan besar (schooling).
Tabel 3 Produksi per kelompok ikan laut Kabupaten Ciamis
Tahun
Pelagis Demersal Ikan Karang Jumlah
Total (ton) Jumlah (ton) % Jumlah (ton) % Jumlah (ton) % 2008 528.73 26.47 1363.51 68.27 104.87 5.25 1997.11 2009 447.92 36.36 716.26 58.14 67.71 5.50 1231.88 2010 145.24 32.88 247.57 56.04 48.96 11.08 441.77 2011 315.68 41.58 363.05 47.82 80.51 10.60 759.23 2012 395.72 17.83 1745.80 78.64 78.33 3.53 2219.85 Rata-rata 366.66 31.02 887.24 61.78 76.08 7.19 0 10 20 30 40 50 2008 2009 2010 2011 2012 P emanf aa tan (%) Tahun
23
Hasil tangkapan dominan yang menjadi komoditas unggulan terdiri dari 9 jenis ikan, namun baik dari jumlah produksi maupun dari nilai produksi untuk kelompok udang adalah udang karang/lobster, untuk kelompok ikan pelagis didominasi ikan tenggiri, untuk kelompok ikan demersal didominasi bawal putih, sedangkan untuk kelompok ikan karang didominasi kakap merah. Produksi dan nilai produksi komoditas unggulan perikanan laut Kabupaten Ciamis tahun 2008- 2012 disajikan pada Gambar 11. Prosentase produksi dan nilai produksi komoditas unggulan terbesar diperoleh dari jenis udang karang/lobster, ikan tenggiri, bawal putih dan kakap merah (Lampiran 6 dan 7). Kualitas ikan/udang yang didaratkan oleh nelayan berpengaruh terhadap harga jual.
Gambar 11 Produksi dan nilai produksi dari pemanfaatan sumber daya ikan di Kabupaten Ciamis
Produktivitas penangkapan ikan di kawasan konservasi perairan Kabupaten Ciamis dijelaskan dengan menghitung CPUE (catch per unit effort) dengan pendekatan alat penangkap ikan (Gambar 12). Secara umum produktivitas alat tangkap yang digunakan mempunyai pola yang sama dengan penurunan CPUE sampai pada tahun 2010, kemudian cenderung mengalami peningkatan pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2012. Kemampuan dogol menangkap ikan terbaik pada tahun 2008 mencapai 14.83 kg/unit/trip dan pukat pantai sebesar 16.92 kg/unit/trip, namun pada tahun 2010 tidak tersedia data hasil tangkapan pukat pantai dikarenakan berdasarkan hasil wawancara dengan petugas TPI, nelayan menjual langsung hasil tangkapannya dan tidak melalui TPI.
Rp- Rp1000. Rp2000. Rp3000. Rp4000. Rp5000. Rp6000. Rp7000. 0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 2008 2009 2010 2011 2012 Nilai Tangkapan
Jumlah Tangkapan (Ton)
T
ahun
Kakap merah Bawal putih
Udang karang/lobster Udang jerbung
Jaring insang (gillnet) merupakan alat yang paling banyak digunakan oleh nelayan dan memiliki nilai produktivitas yang paling tinggi diantara alat tangkap lainnya. Produktivitas gillnet hanyut cenderung menurun dan mencapai titik terendah tahun 2010 dengan nilai 5.92 kg/unit/trip dan kemudian meningkat sampai dengan tahun 2012 mencapai 30.92 kg/unit/trip. Sedangkan trammel net dengan CPUE tertinggi pada tahun 2008 mencapai 6.65 kg/unit/trip.
Bagan tancap tidak begitu berkembang di kawasan konservasi, keberadaanya masih kontroversi dan sempat menimbulkan konflik sosial antar nelayan sehingga keberadaannya diatur sesuai kesepakatan bersama antar nelayan dan DKP-KC bahwa tidak diperbolehkan menambah jumlah bagan tancap yang ada sebanyak 20 unit (DKP-KC 2012).
Gambar 12 Produktivitas per alat tangkap di KKP
Rawai tetap merupakan alat tangkap yang termasuk kedalam kategori pancing. Produktivitas alat tangkap ini mengalami fluktuasi dengan CPUE tertinggi sebesar 30.47 kg/unit/trip. Dari seluruh alat penangkapan ikan yang dioperasikan, gillnet memiliki nilai rata-rata CPUE tertinggi dalam kurun waktu 2008-2102 dengan nilai rata-rata 24.23 kg/unit/trip, kemudian pancing rawai tetap dengan 7.46 kg/unit/trip. Hasil output analisis CPUE secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 8.
Alat tangkap ikan adalah suatu sarana atau fasilitas yang merupakan perlengkapan dalam suatu operasi penangkapan ikan. Alat tangkap yang digunakan pada umumnya ada 6 jenis alat tangkap diantaranya pancing rawai tetap, gillnet (jaring sirang), trammel net (ciker), pukat pantai, dogol (jogol), dan bagan tancap.
(1) Pancing rawai tetap
Pancing rawai terdiri atas tali utama (main line), tali cabang (branch line), mata pancing, umpan, pelampung, pemberat, dan bendera sebagai tanda. Nelayan pancing rawai berangkat dari fishing base menuju daerah penangkapan ikan menjelang siang sekitar jam 10.00 WIB. Pada saat perjalanan, nelayan memasang umpan segar berupa kepala ikan bilis pada seluruh mata pancing.
0 10 20 30 40 50 60 2008 2009 2010 2011 2012 C P UE ( kg /uni t/ trip) Tahun
Dogol Pukat pantai Gillnet
25
Nelayan melakukan penurunan alat tangkap setelah sampai di fishing ground dengan terlebih dahulu mematikan mesin perahu. Penurunan alat tangkap diawali dengan menurunkan pelampung tanda dan pemberat pada ujung tali utama (main line), setelah itu dilanjutkan dengan mengulurkan main line dan melempar tali cabang atau mata pancing yang telah dilengkapi dengan umpan. Hal itu dilakukan sampai tali cabang yang terakhir, kemudian pelampung tanda dan pemberat pada ujung bagian akhir dilempar. Setelah penurunan alat tangkap selesai, kemudian jangkar perahu diturunkan agar perahu berhenti. Setting dilakukan sekitar 2-3 jam.
Tabel 4 Spesifikasi unit penangkapan pancing rawai
Parameter yang diamati Keterangan
Ukuran Panjang : 1500 meter
Jarak antar pancing : 7 meter Panjang tali cabang : 4-5 meter Bahan tali utama : Nilon No.300 Bahan tali cabang : PE No. 300 Ukuran mata pancing : No. 8 – 10 Jumlah mata pancing : 500 – 700
Jenis perahu Perahu motor tempel 1 GT
Jumlah nelayan 3 orang
Waktu operasi Siang hari
Sumber : Wawancara dengan nelayan (2013).
Gambar 13 Sketsa alat tangkap pancing rawai
Hauling dilakukan setelah waktu berselang 2-3 jam. Penarikan atau pengangkatan alat tangkap diawali dengan penarikan pelampung tanda dan pemberat bagian ujung main line, setelah itu satu persatu tali cabang ditarik. Hasil tangkapan yang didapat disimpan di bagian dasar perahu. Tali utama dan tali cabang yang diangkat diatur kembali untuk memudahkan pemasangan umpan berikutnya pada saat akan diturunkan kembali. Biasanya nelayan melakukan 1-2 kali proses setting dan hauling. Hasil tangkapan yang dominan ditangkap adalah
ikan layur, kuwe, manyung, cucut, tongkol, kakap, kurau, kerapu dan pari dengan komoditi unggulannya adalah ikan layur, kakap dan kerapu.
(2) Jaring insang (gillnet)
Jaring insang merupakan alat penangkapan ikan yang terbuat dari bahan jaring berbentuk empat persegi panjang yang pada bagian atasnya terdapat pelampung dan tali ris atas dan pada bagian bawahnya terdapat tali ris bawah dan pemberat, sehingga jaring dapat terentang seperti dinding di dalam air. Alat tangkap gillnet termasuk ke dalam alat tangkap pasif karena metode penangkapannya yaitu menunggu ikan yang melalui alat tangkap tersebut. Berdasarkan bahan jaring yang digunakan alat tangkap gillnet dibagi kedalam dua jenis yaitu gillnet monofilament dan gillnet multifilament.
Tabel 5 Spesifikasi unit penangkapan gillnet monofilament
Parameter yang diamati Keterangan
Ukuran jarring Jumlah pieces : 15- 20 pieces Panjang tiap pieces : 30-50 meter Tinggi : 2-4 meter
Mesh size : 5-15 cm
Panjang total : 450-1000 meter Bahan jaring : PA monofilament Jenis perahu Perahu motor tempel 1 GT
Jumlah nelayan 2 orang
Waktu operasi Pagi hari pukul 04.00-10.00
Sumber : Wawancara dengan nelayan (2013).
Biasanya operasi penangkapan ikan dilakukan pada dini hari. Tahap pengoperasian gillnet monofilament terdiri dari tiga tahap yaitu penurunan jaring (setting), perendaman, dan penarikan jaring (hauling). Penurunan jaring dilakukan sekitar pukul 04.00 WIB dini hari yang diawali dengan penurunan pelampung tanda kemudian pemberat dilanjutkan dengan penurunan pelampung yang diikuti dengan penurunan badan jaring gillnet monofilament dan pemberat, proses ini dilakukan sampai semua badan jaring diturunkan kemudian diakhiri dengan penurunan pemberat ujung dan pelampung tanda. Setelah proses setting selesai, kemudian mesin perahu dimatikan dan dilanjutkan dengan proses perendaman alat tangkap selama 4-5 jam.
Setelah waktu perendaman selesai, dilanjutkan dengan proses penarikan jaring (hauling) yang diawali dengan pengangkatan pemberat dan pelampung tanda, kemudian dilakukan pengangkatan pelampung, badan jaring dan pemberat. Proses ini dihentikan sejenak pada saat terdapat ikan yang terjerat pada badan jaring untuk mengambil hasil tangkapan. Hal ini dilakukan sampai penarikan bagian akhir dari pelampung, badan jaring, dan pemberat jaring yang kemudian diakhiri dengan penarikan pelampung tanda dan pemberat. Setelah proses hauling berakhir kemudian nelayan membereskan jaring dan hasil tangkapan selanjutnya persiapan menuju pulang.
Proses operasi alat tangkap gillnet monofilament dimulai dengan persiapan yang dilakukan pada waktu pagi hari. Sama halnya dengan gillnet multifilament, alat tangkap ini pengoperasiannya terdiri dari tiga tahap yaitu penurunan jaring (setting), perendaman (soaking), dan penarikan jaring (hauling). Penurunan jaring
27
dimulai sekitar pukul 06.00 WIB pagi diawali dengan penurunan pelampung tanda dan pemberat pertama, kemudian dilanjutkan dengan penurunan jaring sampai dengan jaring bagian akhir. Setelah itu kemudian penurunan pelampung tanda dan pemberat terakhir. Setelah proses setting selesai, kemudian mesin kapal dimatikan dan dilanjutkan dengan proses drifting selama 4-5 jam. Hasil tangkapan yang dominan ditangkap adalah lobster, rajungan, layur, bawal hitam, bawal putih dan petek dengan komoditi unggulannya lobster, layur, bawal hitam dan bawal putih.
Gambar 14 Sketsa alat tangkap gillnet monofilament
Setelah waktu perendaman selesai, dilanjutkan dengan proses penarikan jaring (hauling) yang diawali dengan pengangkatan pemberat dan pelampung tanda, kemudian dilakukan pengangkatan pelampung, badan jaring dan pemberat. Proses ini dihentikan sejenak pada saat terdapat ikan yang terjerat pada badan jaring untuk mengambil hasil tangkapan. Hal ini dilakukan sampai penarikan bagian akhir dari pelampung, badan jaring, dan pemberat jaring yang kemudian diakhiri dengan penarikan pelampung tanda dan pemberat. Setelah proses hauling berakhir kemudian nelayan membereskan jaring dan hasil tangkapan selanjutnya persiapan menuju pulang.
Proses operasi alat tangkap gillnet multifilament dimulai dengan persiapan yang dilakukan pada waktu pagi hari. Sama halnya dengan gillnet monofilament, alat tangkap ini pengoperasiannya terdiri dari tiga tahap yaitu penurunan jaring (setting), perendaman (soaking), dan penarikan jaring (hauling). Penurunan jaring dimulai pukul 6 pagi diawali dengan penurunan pelampung tanda dan pemberat pertama, kemudian dilanjutkan dengan penurunan jaring sampai dengan jarring bagian akhir. Setelah itu kemudian penurunan pelampung tanda dan pemberat terakhir. Setelah proses setting selesai, kemudian mesin kapal dimatikan dan dilanjutkan dengan proses drifting selama 4-5 jam.
Setelah dilakukan perendaman selama 4-5 jam, kemudian dilanjutkan dengan proses pengangkatan atau penarikan jaring (hauling). Proses ini diawali dengan penarikan pelampung tanda dan pemberat kemudian penarikan badan