• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Daya Dinas Kesehatan

Dalam dokumen PEMERINTAH KABUPATEN AGAM (Halaman 37-0)

BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS KESEHATAN

2.2 Sumber Daya Dinas Kesehatan

Sarana Prasarana merupakan salah satu sumber daya penunjang dalam mencapai tujuan dan sasaran Dinas Kesehatan.

Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dan berdaya guna akan memudahkan SDM Dinas Kesehatan dalam melaksanakan setiap kegiatan dan program yang telah ditetapkan.

Inventarisasi sarana dan prasarana di lingkungan Dinas Kesehatan dapat digambarkan sebagai berikut:

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 | 38 Tabel 1

Jenis Sarana dan Prasarana Kesehatan di Kabupaten Agam No Jenis Sarana dan Prasarana Kesehatan Jumlah 1 Rumah Sakit

Rumah Sakit Umum Daerah 1

Rumah Sakit Ibu dan Anak 1

2 Puskesmas dengan kategori :

a. Puskesmas Perkotaan 2

b.Puskesmas Perdesaan 16

c.Puskesmas Terpencil 5

3 Puskesmas dengan Status Pelayanan Poned 18 4 Puskesmas dengan pelayanan laboratorium 23 5 Puskesmas dengan klinik perawatan gizi buruk 1

6 Pustu 141

7 Polindes/Poskesri 55/44

8 Mobil Puskesmas Keliling/Ambulan 49

9 Posyandu 868

10 Posbindu 319

Analisa Ketersedian Sarana dan Prasarana serta Alat Kesehatan Kesehatan

1. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit).

Rumah sakit dapat didirikan dan diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta. Sedangkan menurut pelayanan yang diberikan, rumah sakit terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Basung merupakan rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Agam Type C, dengan luas area 22.871 m2. Sarana yang dibutuhkan adalah Gedung UTDRS (unit transfusi darah rumah sakit), Instalasi Farmasi, Medical Record,

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 | 39 Kantor, Rawat Inap Paru. Perlunya penambahan IPL, ambulan UTD, SIMRS dan generator set. Ketersedian alat kesehatan Rumah Sakit saat ini sekitar 32.07%.

Kondisi bangunan seperti Kantor, Rawat Inap Ruang Bedah, Rawat Inap Ruang Paru, Laboratorium, Radiologi, Instalasi Gizi, IPSRS, dan Rumah Dokter Spesialis sudah berdiri sejak 1986.

Dari semua gedung tersebut, sudah terbangun 6 Gedung Baru seperti Rawat Inap Bedah, Laboratorium, Radiologi, Instalasi Gizi, Gedung VIP, Poliklinik Baru. Jika diamati masih terdapat beberapa gedung yang perlu diperbaiki/dibangun ulang seperti Rawat Inap Paru, Gedung Administrasi,UTDRS, MR, Farmasi, dan Kamar Jenazah. Proses pengelolaan sarana dan prasarana unit rawat inap, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan tempat tidur pasien. Persentase tempat tidur sesuai kelasnya adalah Kelas III 28%, Kelas II 18,66%, Kelas I 10% dan ICU 2,66%. Dari data tersebut, tempat tidur Kelas III belum memenuhi standar persentase yakni 30 %.

Adapun Rumah Sakit Riski Bunda merupakan rumah sakit khusus milik swasta yang melakukan pelayanan kesehatan spesifik pada sasaran ibu dan anak.

2. Puskesmas harus didirikan pada setiap kecamatan. Kondisi tertentu di satu kecamatan bisa dibangun 2 Puskesmas, dengan pertimbangan kebutuhan pelayanan, jumlah penduduk, dan aksesibilitas. Puskesmas harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, peralatan, ketenagaan, kefarmasian, dan laboratorium, klinik. Dari 23 Puskesmas yang ada di Kabupaten Agam masih terdapat 4 Puskesmas yang belum sesuai standar Permenkes No 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas yaitu Puskesmas Manggopoh, Koto Alam, Padang Lua, Padang Tarok, Maninjau dan Bawan.

Dalam rangka pemenuhan Pelayanan Kesehatan yang didasarkan pada kebutuhan dan kondisi masyarakat, Puskesmas dapat dikategorikan berdasarkan karakteristik wilayah kerja yaitu:

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 | 40 a. Puskesmas dengan kriteria Puskesmas Perkotaan untuk

Puskesmas Manggopoh dan Lubuk Basung

b. Puskesmas dengan kriteria Perdesaan untuk Puskesmas Biaro, Baso, Padang Tarok, Kapau, Pakan kamis, Magek, Padang Lua, Sungai Pua, IV Koto, Matur, Maninjau, Pasar Ahad, Bawan, Batu Kambing, Tiku, Lasi

c. Puskesmas dengan kriteria terpencil untuk Puskesmas Muaro Putuih, Palembayan, Koto Alam, Malalak, Palupuh 3. Puskesmas dengan status pelayanan Poned yaitu

Puskesmas Baso, Pakan Kamis, Matur, Maninjau, Lubuk Basung, Bawan, Tiku, Palembayan, Palupuh, Koto Alam, Muaro Putuih, Sungai Pua, Biaro, Pasar Ahad, Magek, IV Koto, Kapau, Lasi

4. Puskesmas dengan pelayanan laboratorium

Terdapat 23 Puskesmas di Kabupaten yang melaksanakan pelayanan laboratorium. Masing- masing Puskesmas telah memiliki tenaga analis kesehatan.

5. Puskesmas dengan klinik perawatan gizi buruk

Puskesmas dengan klinik perawatan gizi buruk terdapat di Puskesmas Pakan Kamis. TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) atau PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) adalah pusat pemulihan gizi buruk dengan perawatan serta pemberian makanan anak secara intensif dan adekuat sesuai usia dan kondisinya, dengan melibatkan peran serta orang tua (ibu) agar dapat mandiri ketika kembali ke rumah.

6. Pustu

Puskesmas pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memberikan pelayanan kesehatan secara permanen di suatu lokasi dalam wilayah kerja Puskesmas. Puskesmas pembantu memberikan pelayanan kesehatan secara permanen disuatu lokasi dalam wilayah kerja Puskesmas.

Puskesmas Pembantu didirikan dengan perbandingan 1 (satu) Puskesmas Pembantu untuk melayani 2 (dua) sampai 3 (tiga) desa/kelurahan. Penanggungjawab Puskesmas

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 | 41 Pembantu adalah seorang perawat atau Bidan, yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan atas usulan Kepala Puskesmas. Tenaga minimal di Puskesmas Pembantu terdiri dari 1 (satu) orang perawat dan 1 (satu) orang bidan.

Pendirian Puskesmas Pembantu harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, peralatan kesehatan dan ketenagaan. Bangunan, prasarana dan peralatan kesehatan di Puskesmas Pembantu harus dilakukan pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan secara berkala agar tetap laik fungsi. Kondisi Puskesmas Pembantu (Pustu) menurut kondisi fisik bangunannya sebagai berikut:

a. Baik; apabila bangunan (pustu) yang bersangkutan dalam kondisi baik atau tidak mengalami kerusakan.

b. Rusak Ringan; apabila bangunan (pustu) yang bersangkutan terjadi kerusakan pada komponen pintu, jendela, kaca, penggantung, pengunci, cat, dan sebagainya.

c. Rusak Sedang; apabila bangunan (pustu) yang bersangkutan terjadi kerusakan pada komponen pokok dari bangunan seperti pilar, pondasi, sloope, ring balk.

d. Rusak Berat; apabila bangunan (pustu) yang

bersangkutan sudah tidak dapat

digunakan/dimanfaatkan lagi.

7. Polindes/Puskesri

Polindes/pondok bersalin desa/nagari adalah suatu tempat unit kegiatan bersama masyarakat (UKBM) yang didirikan oleh masyarakat atas dasar musyawarah sebagai kelengkapan dari pembangunan kesehatan masyarakat untuk memberikan pelayanan KIA dan KB dikelola bidan desa. Bidan desa yang bertugas di Polindes dan Poskesri merupakan bidan yang memiliki Surat Izin Praktik Bidan (SIPB) di Puskesmas, dan bertempat tinggal serta mendapatkan penugasan untuk melaksanakan praktik kebidanan dari Pemerintah Daerah pada satu desa/kelurahan dalam wilayah kerja Puskesmas yang bersangkutan.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 | 42 8. Mobil Puskesling dan Ambulan

Puskesmas keliling adalah sarana pelayanan memberikan pelayanan kesehatan yang sifatnya bergerak (mobile), untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan bagi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas yang belum terjangkau oleh pelayanan dalam gedung Puskesmas. Mobil Puskesmas Keliling dan Ambulan di Kabupaten Agam sebanyak 49 unit, dimana terdapat 1 unit mobil dalam kondisi rusak berat di Puskesmas Palupuh, 5 rusak sedang (di Puskesmas IV Koto, Malalak, Matur, Pelembayan dan Manggopoh), 6 rusak ringan (di Puskesmas Baso, Padang Tarok, Magek, Padang Luar, Sungai Puar, Pasar Ahad).

9. Posyandu

Terdapat 868 unit Posyandu yang tersebar di 16 Kecamatan di Kabupaten Agam, Strata Posyandu pratama 0, Madya 204 unit, Purnama 436 unit dan mandiri 228 unit.

10. Posbindu

Posbindu 319 unit yang tersebar di 16 Kecamatan di Kabupaten Agam.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 | 43 Tabel 2

Pemetaan Tenaga di Lingkungan Dinas Kesehatan

N0 Jenis Tenaga Tenaga Saat

ini PNS Kontrak Kebutuhan Kekurangan

1 Dokter Umum 60 49 11 87 27

2 Dokter Gigi 26 22 4 31 5

3 Perawat 118 102 16 187 69

4 Bidan 159 143 16 202 43

5 Tenaga Kesehatan Masyarakat 14 13 1 63 49

6 Sanitasi Lingkungan 19 18 1 35 16

7 Ahli Teknologi Laboratorium Medik 26 25 1 40 14

8 Nutrisionis 26 22 4 46 20

9 Apoteker 5 4 1 23 18

10 Tenaga Teknis Kefarmasian 25 21 4 39 14

11 Pekarya 14 14 0 0 0

12 Bidan Pustu+ Polindes+Puskesri 218 179 39 240 22

13 Rekam Medis 6 5 1 42 36

14 Terapis Gigi & Mulut 30 30 0 38 8

15 Elektromedis 0 0 0 1 1

16 Asisten Tenaga Kesehatan 15 13 2 15 0

17 Sopir ambulan 29 17 12 43 14

18 Satpam Puskesmas 26 11 15 45 19

19 Pramu saji makanan Puskesmas 15 0 15 22 7

20 K3 Puskesmas 22 4 17 42 20

21 Tenaga Dinas Kesehatan 74 66 8 112 38

22 Tenaga Rumah Sakit 375 227 148 587 212

TOTAL 1.347 985 316 1.940 652

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 44 Perhitungan kebutuhan ketenagaan ideal terhadap jumlah dan jenjang jabatan dokter dan/atau dokter layanan primer, dokter gigi, dan masing-masing jenis Tenaga Kesehatan lainnya serta tenaga non kesehatan dilakukan melalui analisis beban kerja dengan mempertimbangkan jumlah pelayanan yang diselenggarakan, rasio terhadap jumlah penduduk dan persebarannya, luas dan karakteristik wilayah kerja, ketersediaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah kerja, dan pembagian waktu kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Standar ketenagaan sebagaimana tersebut di atas:

a. Merupakan kondisi minimal yang diharapkan agar Rumah Sakit dan Puskesmas dapat terselenggara dengan baik.

b. Belum termasuk tenaga di Puskesmas Pembantu /Poskesri/Polindes

c. Jumlah dan jenis kebutuhan ideal tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan analisis beban kerja.

Dari perhitungan kebutuhan tenaga menurut analisa beban kerja yang telah dilakukan perhitungan oleh Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Umum Daerah dan Puskesmas terdapat kekurangan tenaga sekitar 652 orang.

Jika kekurangan tenaga kesehatan kita lihat berdasarkan jumlah sarana jejaring di Puskesmas, masih terdapat Pustu/Polindes/Puskesri yang belum memiliki tenaga sebagai mana rincian dibawah ini:

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 45 Tabel 3

Kondisi Sarana dan Prasarana Kesehatan

Kecamatan Puskesmas Jlh

Pustu

Kondisi Pustu Jumlah

Polindes Jumlah

Poskesri Jumlah Jejaring

Jumlah Bidan

Kekosongan bidan

Baik Rusak Ringan Rusak Sedang Rusak Berat PNS Kontrak

Tilatang

Kamang Pakan Kamis 5 1 1 3 0 5 2 12 8 0 4

Kapau 1 0 1 0 0 1 4 6 5 0 1

Kamang Magek Magek 7 6 0 1 0 5 2 14 9 2 3

Palupuh Palupuh 6 1 1 2 2 1 5 12 9 3 0

Baso Padang Tarok 3 1 1 1 0 5 0 8 6 0 2

Baso 5 2 3 0 0 4 1 10 10 0 0

IV Angkek Biaro 9 5 4 0 0 4 2 15 11 4 0

Candung Lasi 6 0 3 3 0 3 5 14 11 2 1

Sungai Pua Sungai Pua 6 4 0 2 0 1 5 12 12 0 0

Banuhampa Padang Lua 8 4 3 1 0 3 3 14 12 1 1

IV Koto IV Koto 8 4 3 0 0 4 4 16 10 2 4

Malalak Malalak 2 2 0 0 0 4 1 7 6 0 1

Matur Matur 8 3 1 4 0 1 0 9 7 1 1

Palembayan Palembayan 11 8 2 0 0 0 0 11 7 4 0

Koto Alam 6 1 1 3 1 1 2 9 6 2 1

Tanjung Raya Maninjau 8 7 0 0 1 1 1 10 7 3 0

Pasar Ahad 9 9 0 0 0 2 0 11 9 2 0

Lubuk Basung Lubuk Basung 5 3 0 2 0 3 1 9 9 0 0

Manggopoh 9 5 2 2 0 3 1 13 12 1 0

IV Nagari Batu kambing 3 2 1 0 0 0 1 4 4 0 0

Bawan 6 3 1 2 0 1 4 11 5 4 2

Tajung Mutiara Tiku 5 2 0 2 1 1 0 6 3 2 1

Muaro Putuih 5 3 0 2 0 2 0 7 1 6 0

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 46 Salah satu program pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah adalah meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Termasuk dalam mencapai tujuan tersebut adalah penempatan bidan desa yang hampir merata diseluruh tanah air. Baik penempatan oleh pemerintah pusat dalam bentuk Nusantara Sehat maupun penempatan yang lakukan oleh pemerintah daerah dalam bentuk tenaga kontrak daerah atau sebutan lain.

Bidan desa adalah bidan yang ditempatkan dan bertempat tinggal pada satu desa dalam wilayah kerja Puskesmas sebagai jaringan pelayanan Puskesmas.

Penempatan bidan desa diutamakan dalam upaya percepatan peningkatan kesehatan ibu dan anak, disamping itu juga untuk memacu peningkatan status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Wilayah kerja bidan desa desa meliputi 1 (satu) desa, namun dapat pula diperbantukan untuk desa yang tidak memiliki atau tidak terdapat bidan yang bertugas di desa tersebut. Penugasan bidan desa untukk diperbantukan pada suatu desa sebagaimana tersebut diatas dilakukan oleh Kepala Puskesmas.

Tugas Bidan Desa adalah : 1. Pelayanan KIA-KB

Pelayanan yang diberikan meliputi pelayanan PUS, WUS, ibu hamil, persalinan, ibu nifas, bayi, balita dan pelayanan keluarga berencana

2. Pelayanan promotif, preventif dan pembergadayaan masyarakat

Jenis pelayanan ini meliputi upaya untuk kesehatan masyarakat termasuk mendampingi kader kesehatan dalam melakukan tugas-tugas kesehatan di desa seperti pelaksanaan SMD, MMD dan berbagai upaya pemberdayaan lainnya

3. Deteksi dini dan pengobatan awal terkait kesehatan ibu dan anak termasuk gizi.

Dalam melaksanakan tugas, seorang bidan harus tanggap terhadap berbagai kejadian penyakit yang ada di desa tempat tugasnya dan melakukan pertolongan awal pada

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 47 kejadian penyakit termasuk masalah gizi yang ada di desa binaannya.

Kekurangan bidan desa diwilayah kerja Puskesmas, dapat berimbas pada akses layanan kesehatan yang diterima masyarakat.

Berdasarkan Permenkes Nomor 41 Tahun 2016 tentang Program percepatan peningkatan kualifikasi pendidikan tenaga kesehatan, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalaui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis terntentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Dari segi kualifikasi tenaga kesehatan diatas D3 yang tersebar di 23 Puskesmas dan di Dinas Kesehatan hanya berkisar 76,8 % sehingga perlunya program akselerasi dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kualifikasi pendidikan tenaga kesehatan terutama tenaga kesehatan dengan jenjang pendidikan di bawah DIII. Tujuan program akserelasi peningkatan kualitas pendidikan tenga kesehatan adalah:

1. Mendorong tenaga kesehatan lulusan pendidikan dibawah Diploma Tiga untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan sampai Diploma Tiga

2. Meningkatkan kompetensi dan kualifikasi tenga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pelaynan kesehatan

3. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui peningkatan mutu tenaga kesehatan

Adapun profil tingkat pendidikan tenaga kesehatan yang mengabdi di Kabupaten Agam sebagai berikut:

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 48

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 49

Tabel 4

Distribusi Golongan, Pendidikan dan Diklat PIM Tenaga di Lingkungan Kesehatan

GOLONGAN JK PENDIDIKAN DIKLAT PIM ESELON

NO UNIT KERJA JML I II III IV LK Pr SD SLTP SMA DI DII DIII S1 S2 IV III II II III IV

L P L P L P L P L P L P L P L P L P L P L P L P L P L P L P

1 Dinas Kesehatan 81 0 0 5 8 11 29 3 9 24 57 0 0 1 0 9 4 1 3 0 0 0 17 12 24 4 6 1 2 3 3 11

2 Puskesmas Tiku 42 0 0 2 3 4 25 0 0 10 32 0 0 2 0 5 3 0 2 0 0 2 18 1 9 0 0 1

3 Puskesmas Muaro

Putuih 38 0 0 2 3 3 5 1 0 10 28 1 3 3 2 15 2 11 1

4 Puskesmas

Manggopoh 45 1 0 2 11 4 22 0 1 8 37 2 3 0 2 22 2 14 1

5

Puskesmas Lubuk

Basung 69 0 0 0 9 2 42 0 2 9 60 6 10 2 1 32 2 16

6 Puskesmas Bawan 40 0 0 0 6 1 11 0 0 6 34 0 0 2 0 2 5 0 0 0 0 1 23 1 6 0 0

7 Puskesmas Batu

Kambing 23 0 0 2 6 2 10 0 0 6 17 0 0 0 0 2 2 1 0 12 6 0 1

8 Puskesmas Koto

Alam 39 0 0 2 5 0 17 0 1 4 35 1 3 1 3 24 7 1

9

Puskesmas

Palembayan 46 0 0 3 14 4 8 0 0 10 36 10 1 1 26 2 6

10 Puskesmas Pasar

Ahad 32 0 0 1 8 2 21 0 0 2 30 1 3 1 0 0 0 22 4 1 1

11 Puskesmas Maninjua 33 0 0 3 10 2 18 0 0 5 28 2 0 1 4 12 1 12 1 1

12 Puskesmas Matur 46 0 0 2 9 2 22 0 1 7 39 4 6 3 22 11

13 Puskesmas Malalak 29 0 0 0 11 0 15 0 0 10 19 1 3 3 1 12 6 3

14 Puskesmas IV Koto 42 1 0 1 5 3 27 0 1 5 37 3 4 1 2 21 1 10 1

15

Puskesmas Padang

Luar 37 0 0 3 1 3 28 1 1 7 30 4 2 1 21 2 7

16 Puskesmas Sungai

Pua 44 0 0 2 7 2 24 0 2 7 37 2 3 6 2 1 22 1 7

17 Puskesmas Lasi 41 0 0 0 10 2 21 0 1 6 35 2 1 5 1 24 1 7

18 Puskesmas Biaro 56 0 0 2 5 1 40 0 2 5 51 3 7 2 23 2 17 2

19 Puskesmas Baso 50 0 0 1 6 1 31 0 2 5 45 0 0 2 0 3 6 0 4 0 0 3 20 3 9 1

20

Puskesmas Padang

Tarok 31 0 0 2 8 4 14 0 0 7 24 3 6 2 1 13 3 3 1

21 Puskesmas Magek 40 0 0 1 8 2 18 1 0 8 32 5 6 2 21 2 4 1

22 Puskesmas Kapau 23 1 0 1 3 2 13 0 3 4 19 1 4 2 9 7 1

23

Puskesmas Pakan

Kamis 48 0 0 1 8 2 35 0 2 3 45 1 4 1 26 2 14

24 Puskesmas Palupuh 47 1 2 14 4 14 1 0 11 36 1 5 6 1 2 27 3 2

JUMLAH 1022 4 0 40 178 63 510 7 28 179 843 2 1 19 7 79 99 3 27 0 0 21 484 60 205 7 8 0 0 0 1 0 2 3 9 16

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 50 2.3 Aset Dinas Kesehatan

Barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Penggolongan dan kodefikasi barang milik daerah sesuai dengan permengadri no 108 Tahun 2016 menunjukkan kode kelompok yang terdiri dari:

a. Aset lancar, yaitu aset yang diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan.

b. Aset tetap, yaitu aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakandalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum;

c. Aset lainnya, yaitu Aset lainnya adalah kelompok aset yang tidak termasuk dalam kategori aset lancar dan aset tetap.

Tabel 5 Besaran Aset Tetap

NO. KODE

BARANG SUB BIDANG BARANG PERMEN 108 TAHUN

2016 SALDO AWAL TAHUN 2020 SALDO AKHIR (NERACA) 2020

1 1.3.1. TANAH 7,764,144,989.00 7,774,924,989.00

1.3.1.01. TANAH 7,764,144,989.00 7,774,924,989.00

2 1.3.2. PERALATAN DAN MESIN 49,881,764,314.61 59,069,493,105.60

1.3.2.01. ALAT BESAR 917,958,751.00 1,624,899,479.00

1.3.2.02. ALAT ANGKUTAN 11,096,740,861.00 14,134,574,861.00

1.3.2.03. ALAT BENGKEL DAN ALAT UKUR 244,523,229.50 244,523,229.50

1.3.2.04. ALAT PERTANIAN - 950,000.00

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 51

NO. KODE

BARANG SUB BIDANG BARANG PERMEN 108 TAHUN

2016 SALDO AWAL TAHUN 2020 SALDO AKHIR (NERACA) 2020

1.3.2.05. ALAT KANTOR DAN RUMAH TANGGA 10,547,897,871.20 11,695,524,563.20

1.3.2.06. ALAT STUDIO, KOMUNIKASI DAN PEMANCAR 190,339,531.00 196,339,531.00

1.3.2.07. ALAT KEDOKTERAN DAN KESEHATAN 17,055,814,435.82 20,315,914,334.81

1.3.2.08. ALAT LABORATORIUM 5,431,056,185.89 5,979,558,380.89

1.3.2.09. ALAT PERSENJATAAN - -

1.3.2.10. KOMPUTER 4,177,745,066.00 4,648,280,343.00

1.3.2.11. ALAT EKSPLORASI - -

1.3.2.12. ALAT PENGEBORAN - -

1.3.2.13. ALAT PRODUKSI, PENGOLAHAN DAN

PEMURNIAN - -

1.3.2.14. ALAT BANTU EKSPLORASI - -

1.3.2.15. ALAT KESELAMATAN KERJA - 3,850,000.00

1.3.2.16. ALAT PERAGA - -

1.3.2.17. PERALATAN PROSES/PRODUKSI - -

1.3.2.18. RAMBU – RAMBU - 5,390,000.00

1.3.2.19. PERALATAN OLAH RAGA 219,688,383.20 219,688,383.20

3 1.3.3.. GEDUNG DAN BANGUNAN 107,245,498,377.20 117,349,872,134.20

1.3.3.01. BANGUNAN GEDUNG 106,446,474,627.20 116,550,848,384.20

1.3.3.02. MONUMEN - -

1.3.3.03. BANGUNAN MENARA - -

1.3.3.04. TUGU TITIK KONTROL/PASTI 733,219,000.00 733,219,000.00

1.3.3.05. BANGUNAN LAINNYA 65,804,750.00 65,804,750.00

4 1.3.4.. JALAN, JARINGAN DAN IRIGASI 1,775,194,180.00 3,359,423,380.00

1.3.4.01. JALAN DAN JEMBATAN - -

1.3.4.02. BANGUNAN AIR - 1,530,000.00

1.3.4.03. INSTALASI 1,775,194,180.00 3,357,893,380.00

1.3.4.04. JARINGAN - -

5 1.3.5.. ASET TETAP LAINNYA - -

1.3.5.01. BAHAN PERPUSTAKAAN - -

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 52

NO. KODE

BARANG SUB BIDANG BARANG PERMEN 108 TAHUN

2016 SALDO AWAL TAHUN 2020 SALDO AKHIR (NERACA) 2020

1.3.5.02. BARANG BERCORAK

KESENIAN/KEBUDAYAAN/OLAHRAGA - -

1.3.5.03. HEWAN - -

1.3.5.04. BIOTA PERAIRAN - -

1.3.5.05. TANAMAN - -

1.3.5.06. BARANG KOLEKSI NON BUDAYA - -

1.3.5.07. ASET TETAP DALAM RENOVASI - -

6 1.3.6.. KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN - 562,989,790.00

1.3.6.01. KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN - 562,989,790.00

T O T A L 166,666,601,860.81 188,116,703,398.80

Dari Tabel datas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan asset Dinas Kesehatan dari saldo awal Tahun 2020 sebesar 166.666.601.860,81 menjadi 188.116.703.398,80 di akhit tahun. Asset tetap perlu dilakukan pemeliharaan. Merunut anjuran WHO, biaya pemeliharaan dibutuhkan sekitar 3-6%.

Tabel 6

Besaran Aset Lainnya Dinkes Tahun 2020

N O

. NAMA SKPD SALDO AWAL

TAHUN 2020

MUTASI SELAMA TAHUN ANGGARAN 2020

SALDO AKHIR (NERACA) BERKURANG

MENAMBAH HASIL

VERIFIKASI PENGHAPUSAN KOREKSI PENCATATAN

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 53

Dari tabel diatas dapat diketahui besaran asset lainnya mengalami mutasi selama tahun anggaran 2020 sebesar 5.772. 591.065,85.

Tabel 7

Besaran Bukan Kategori Aset Dinkes Tahun 2020

NO. NAMA SKPD SALDO AWAL

TAHUN 2020

MUTASI SELAMA TAHUN ANGGARAN 2021

SALDO AKHIR

VERIFIKASI PENGHAPUSAN KOREKSI PENCATATAN

Dari tabel besaran bukan kategori asset Dinas Kesehatan mengalami mutasi selama tahun anggaran 2021 sebesar 3.980.397.715,68.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 54 Tabel 8

Besaran Persedian Dinkes Tahun 2020

NO. NAMA SKPD SALDO AWAL

TAHUN 2020

MUTASI SELAMA TAHUN ANGGARAN 2020

SALDO AKHIR (NERACA)

BERKURANG

MENAMBAH HASIL

VERIFIKASI PENGHAPUS AN

KOREKSI PENCATATA N

1 2 6 (3+4-5) 7 8 10 11 (6-7-8-9+10)

1

Belanja Aset akan diserahkan ke Propinsi yang direklas ke Persedian

- -

2

Belanja yang akan di

serahkan ke

masyarakat yang direklas ke Persedian

11,109,850.00

11,109,850.00

TOTAL

11,109,850.00

-

- -

11,109,850.00

Dari Tabel diatas dapat diketahui besaran persedian Dinas Kesehatan mengalami mutasi selama tahun anggaran 2020 yaitu Rp.

11.109.850,-

2.4.Kinerja Pelayanan

Kinerja pelayanan yang ada di Dinas Kesehatan dirangkum atas kinerja pelayanan yang menjadi indikator utama (IKU)/ indikator kunci (IKI) dan indikator program/kegiatan

a. Capaian level indikator makro (impak/dampak)

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 55

Tabel 9

Evaluasi Capaian Indikator Kinerja Renstra

No Indiktor Kinerja

Target IKU

Target IKK

Target SPM

Target Renstra Tahun ke- Realisasi Capaian Tahun ke- Rasio Capaian Tahun

ke-1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

1 Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 KH

80 110 105 100 90 80 93.4 133.5 167.4 93.6 127 115 72.8 32.6 96 41.25

2 Angka kematian bayi per 1000 KH

<12 <16 <15 <14 <13 <12 11.2 8.5 9.6 10.03 9.7 130 143 131 122 119

3 Jumlah Puskesmas yang telah teraktreditasi madya

23 4 16 23 23 23 4 16 22 23 23 100.0% 100.0% 95.7% 100.0% 100.0%

4 Menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita

<13 <13 <12.5 <12 <11.5 <11 13.2 15.4 10.27 8.8 7.17 98.46 76.80 114 123.4 134.8

Prevalensi balita gizi buruk

0.11 0.06 0.14 0.13 0.12 0.11 0.06 0.35 0.48 0.47 0.4 100% 50% 1.69% 1.91% 1.63%

5 Persentase rumah tangga ber-PHBS

70 70 70 70 70 70 67.7 77 80.6 81 78.9 96.7% 110.0% 115.1% 115.7% 112.7%

6

Persentase penderita penyakit menular berobat sesuai standar

100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100% 100% 100% 100% 100%

7 Persentase penderita penyakit tidak menular berobat sesuai

standar 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100% 100% 100% 100% 100%

8 Persentase penduduk yang memiliki jaminan kesehatan

masyarakat 80 67.5 72 75 78 80 68.7 72.6 82.9 84 83.8 101.8% 100.8% 110.5% 107.7% 104.8%

9 Jumlah mata yang mendapatkan layanan operasi katarak pada

penduduk miskin 1 16 16 18 18 20 41 8 8 18 0 256.3% 50.0% 44.4% 100.0% 0.0%

10

Terlaksananya pemulihan pasca bencana 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100% 100% 100% 100% 100%

11 Persentase rumah yang memenuhi syarat kesehatan

90 80 82 86 89 90 84.4 88 89 90 90.5 105.5% 107.3% 103.5% 101.1% 100.6%

12 Persentase TPU (Tempat Pelayanan Umum) yang memenuhi syarat

kesehatan 79 75 76 77 78 79 83.1 85.3 86 87 87 110.8% 112.2% 111.7% 111.5% 110.1%

13 Persentase TPM (Tempat Pengolahan Makanan) yang memenuhi

syarat kesehatan 79 75 76 77 78 79 80.5 83.1 84 85 85.5 107.3% 109.3% 109.1% 109.0% 108.2%

14

Persentase ibu hamil mendapatkan pelayanan ibu hamil 100 100 100 100 100 100 78 78.2 94.3 76.9 97.11 78.0% 78.2% 94.3% 76.9% 97.1%

15

Persentase ibu bersalin mendapatkan pelayanan persalinan 100 100 100 100 100 100 99.78 73.5 75.9 99.9 99.97 99.8% 73.5% 75.9% 99.9% 100.0%

16 Persentase bayi baru lahir mendapatkan pelayanan kesehatan

bayi baru lahir 100 100 100 100 100 100 74.27 73.8 74.06 92.93 97.71 74.3% 73.8% 74.1% 92.9% 97.7%

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 56

17

Persentase anak usia 0-59 bulan yang mendapatkan pelayanan

kesehatan sesuai standar/imunisasi dasar lengkap 100 100 100 100 100 100 64.22 51.56 52.36 99.77 56.06 64.2% 51.6% 52.4% 99.8% 56.1%

18 Persentase anak usia pendidikan dasar yang mendapatkan

skrining kesehatan sesuai standar 100 100 100 100 100 100 94.53 91.36 94.52 96 55.85 94.5% 91.4% 94.5% 96.0% 55.9%

19 Persentase warga negara usia 15-59 tahun mendapatkan skrining

kesehatan sesuai standar 100 100 100 100 100 100 n/a 15 44.87 65 19.7 n/a 15.0% 44.9% 65.0% 19.7%

20

Persentase warga negara warga negara usia 60 tahun keatas

mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar 100 100 100 100 100 100 41.78 43.48 27.8 83.7 79.33 41.8% 43.5% 27.8% 83.7% 79.3%

21 Persentase penderita hipertensi mendapatkan pelayanan

kesehatan sesuai standar 100 100 100 100 100 100 15.88 7.1 2.3 90 48.55 15.9% 7.1% 2.3% 90.0% 48.6%

22 Persentase penyandang DM yang mendapatkan pelayanan

kesehatan sesuai standar 100 100 100 100 100 100 7.1 100 29 91 59.38 7.1% 100.0% 29.0% 91.0% 59.4%

23 Persentase ODGJ berat yang mendapatkan pelayanan kesehatan

jiwa sesuai standar 100 100 100 100 100 100 n/a 66.1 100 100 64.58 n/a 66.1% 100.0% 100.0% 64.6%

24 Persentase orang dengan TB mendapatkan pelayanan TB sesuai

standar 100 100 100 100 100 100 33.3 36.6 36.4 100 100 33.3% 36.6% 36.4% 100.0% 100.0%

25 Pesentase orang beresiko terinfeksi HIV mendapatkan

pemeriksaan HIV sesuai standar 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 57 Analisa permasalahan evaluasi capaian indikator kinerja Renstra 2016-2020 adalah sebagai berikut:

1. Angka kematian ibu (AKI) per 100.000 KH

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. AKI adalah rasio kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau insidental di setiap 100.000 kelahiran hidup.

Selain untuk menilai program kesehatan ibu, indikator ini juga mampu menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas.

Dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), target AKI adalah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Determinan dekat yang berhubungan langsung dengan kematian ibu merupakan gangguan obstetrik seperti pendarahan, preeklamsi/eklamsi, dan infeksi atau penyakit yang diderita ibu sebelum atau selama kehamilan yang dapat memperburuk kondisi kehamilan seperti penyakit jantung, malaria, tuberkulosis, ginjal, dan acquired immunodeficiency syndrome.

Determinan dekat secara langsung dipengaruhi oleh determinan antara yang berhubungan dengan faktor kesehatan, seperti status kesehatan ibu, status reproduksi, akses terhadap pelayanan kesehatan, dan perilaku penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Determinan jauh berhubungan dengan faktor demografi dan sosiokultural. Kesadaran masyarakat yang rendah tentang kesehatan ibu hamil, pemberdayaan perempuan yang tidak baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, serta kebijakan secara tidak langsung diduga ikut berperan dalam meningkatkan kematian ibu. Adapun tren angka kematian ibu per 100.000 KH dalam lima tahun sebagai berikut:

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 58 Dalam gambar diatas dapat dilihat terjadinya tren yang masih zik zak, meningkat pada tahun 3. Hal ini belum terdapat konsistensi keberhasilan pelaksanaan program dalam penangganan angka kematian ibu. Upaya percepatan penurunan AKI dilakukan dengan menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil,pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan pelayanan keluarga berencana termasuk KB pasca persalinan.

Gambaran upaya kesehatan ibu secara sistematis terdiri dari:

a. Pelayanan kesehatan ibu hamil,

b. Pelayanan imunisasi Tetanus bagi wanita usia subur dan ibu hamil,

c. Pemberian tablet tambah darah, d. Pelayanan kesehatan ibu bersalin, e. Pelayanan kesehatan ibu nifas,

f. Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan Program

f. Puskesmas melaksanakan kelas ibu hamil dan Program

Dalam dokumen PEMERINTAH KABUPATEN AGAM (Halaman 37-0)

Dokumen terkait