• Tidak ada hasil yang ditemukan

Telaah Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala

Dalam dokumen PEMERINTAH KABUPATEN AGAM (Halaman 104-0)

BAB III PERMASALAHAN DAN ISU STRAEGIS

3.2 Telaah Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala

Tabel 14

Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan OPD Terhadap Pencapaian Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan wakil

Kepala Daerah

Visi : Mewujudkan Kabupaten Agam Maju, Masyarakat Sejahtera, Menuju Agam Mandiri, Berprestasi Yang Madani

No

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 105 Visi : Mewujudkan Kabupaten Agam Maju, Masyarakat Sejahtera, Menuju Agam Mandiri, Berprestasi Yang Madani

No

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 106 Visi : Mewujudkan Kabupaten Agam Maju, Masyarakat Sejahtera, Menuju Agam Mandiri, Berprestasi Yang Madani

No

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 107 Visi : Mewujudkan Kabupaten Agam Maju, Masyarakat Sejahtera, Menuju Agam Mandiri, Berprestasi Yang Madani

No

Dari uraian tabel diatas dapat dilihat berbagai aspek pendorong dan penghambat dalam mencapai visi misi Bupati yang disinkronkan dengan permasalahan tugas dan fungsi pelayanan Dinas Kesehatan .

3.3 Telaah Renstra K/L dan Renstra OPD Tabel 15

Telaah Renstra K/L dan Renstra OPD

No

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 108

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 109

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 110 No

Sasaran jangka Menegah Renstra Kementerian

Kesehatan

Permasalahan Pelayanan OPD

Faktor

Pendorong Penghambat

pelayanan pada penderita Diabetes Melitus 59.4%

17. Masih

rendahnya

pelayanan pada penderita ODGJ 64.6%.

Telaah Renstra Kementerian terhadap Renstra Dinas Kesehatan tentunya Renstra Dinas berpedoman pada Renstra Kementerian vertical yang tugas dan fungsinya sejalan. Dalam hal ini Renstra Dinas Kesehatan harus berkorelasi erat dengan Renstra Kementerian Kesehatan.

3.4 Telaah Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Penyusunan Rentra Dinas Kesehatan harus sejalan berbagai pola dan struktur tata ruang yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Agam Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Agam Tahun 2010-2030, sebagai acuan untuk mengarahkan lokasi kegiatan dan menyusun program pembangunan yang berkaitan pemanfaatan ruang kawasan.

Penelaahan rencana tata ruang bertujuan untuk melihat kerangka pemanfaatan ruang daerah dalam 5 (lima) tahun mendatang yang asumsi-asumsinya, meliputi:

1. Struktur ruang dalam susunan pusat- pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 111 2. Distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang

meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budidaya

3. Pemanfaatan ruang melalui program yang disusun dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang yang bersifat indikatif, melalui sinkronisasi program sektoral dan kewilayahan baik di pusat maupun di daerah secara terpadu.

Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) merupakan rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. KLHS merupakan serangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa kaidah pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan pedoman dalam menyusun rencana pembangunan. KLHS dilaksanakan dengan mekanisme:

1. Pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah;

2. Perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program; dan;

3. Rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan kebijakan, rencana, dan/atau program yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kajian lingkungan hidup yang menjadi titik fokus kesehatan adalah :

1. Jasa Ekosistem Penyediaan

Kabupaten Agam memiliki daya dukung jasa penyediaan pangan yang cukup besar. Sebesar lebih kurang 37% dari total luas lahan Kabupaten Agam memberikan daya dukung yang sangat tinggi dan tinggi atas jasa pangan. Wilayah Agam bagian Barat dan Timur yang masuk kategori sangat tinggi dalam

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 112 menyediakan jasa ekosistem penyediaan pangan adalah wilayah dengan kemiringangan yang rendah dan tutupan lahan yang sebagian besar adalah pertanian sawah dan hortikultura.

Ketersedian pangan berkolerasi positif terhadap intake pangan masyarakat terutama dalam mengatasi masalah stunting pada balita.

Sementara itu, kabupaten Agam memiliki daya dukung yang sebagian besar adalah rendah untuk jasa penyediaan air bersih.

Daya dukung sangat tinggi dan tinggi untuk jasa air bersih hanya 29,74% dari total luas wilayah kabupaten Agam. Daya dukung sangat tinggi dan tinggi untuk jasa penyediaan air bersih tersebut berlokasi pada semua kecamatan, namun yang terluas disumbangkan oleh kecamatan Lubuk Basung, Ampek Nagari, Tanjung Mutiara, Tanjung Raya dan Palembayan. Penyedian air bersih merupakan salah satu pilar STBM di tengah masyarakat, melalui program Pamsimas diharapkan kedepan akses air bersih masyarakat semakin baik.

2. Jasa Ekosistem Pengaturan

Ada delapan jenis jasa yang masuk kelompok jasa pengaturan yakni jasa pengaturan iklim, jasa pengaturan tata aliran air dan banjir, jasa pengaturan pencegahan dan perlindungan dari bencana, jasa pengaturan pemurnian air, jasa pengaturan pengolahan dan penguraian limbah, jasa pengaturan pemeliharaan kualitas udara, jasa pengaturan penyerbukan alami, dan jasa pengaturan pengendalian hama dan penyakit.

Jasa pengaturan pengolahan dan penguraian limbah di kabupaten Agam sebagian besar juga tergolong rendah dan sangat rendah, 51,2%lahan. Jasa pengaturan kualitas udara, sebesar 37,3% yang masuk kategori tinggi dan sangat tinggi daya tampungnya yang tersebar hampir merata pada semua kecamatan, namun Kecamatan Palupuh, Palembayan dan Ampek Nagari berkontribusi besar.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 113 Ekosistem pengaturan ini lebih dititikberatkan bagaimana pengaturan dan penataan terhadap penaggulangan bencana di Kecamatan dan penanganan limbah di Puskesmas dan RSUD.

Penagganan limbah harus sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No P.56/MenLHK-setsen/2015.

3. Jasa Ekosistem Kultural

Kabupaten Agam memiliki daya dukung yang sebagian besar rendah dan Sangat Rendah atas jasa tempat tinggal dan ruang hidup, 49,35%. Daya dukung sangat tinggi dan tinggi hanya 27,13% yang menyebar pada hampir semua kecamatan, kecuali Kecamatan Tanjung Raya. Ini memperlihatkan hanya sebagian kecil dari wilayah dalam Kabupaten ini yang sebaiknya dapat dikembangkan menjadi kawasan perumahan dan pemukiman.

Pertambahan jumlah penduduk terkadang memaksa masyarakat membuat perumahan dan pemukiman yang wilayah yang daya dukungnya rendah. Kawasan perumahan dan pemukiman harus memperhatikan kesehatan lingkungan.

Untuk jasa rekreasi dan ekoturisme, Kabupaten Agam memiliki daya dukung yang sebagian besar sangat tinggi dan tinggi, sekitar 47,33% dari total lahan. Ekoregion kerucut dan lereng gunung api, kaki gunung api, dan tubuh air memberikan bentangan alam yang indah sehingga bernilai tinggi bagi kepariwisataan. Sebagian besar daya dukung tinggi dan sangat tinggi ini berada pada bagian Barat kabupaten ini. Kabupaten Agam memiliki daya dukung yang juga cukup tinggi untuk jasa budaya estetika, yakni 48,51% lahan. Daya dukung sangat tinggi dan tinggi sebagian besar berada di Kecamatan Tanjung Raya, Palembayan, Ampek Nagari dan Lubuk Basung. Kawasan pariwisata harus tetap menjawab pariwisata sehat bagi masyarakat.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 114 4. Rawan Bencana

Secara administratif, wilayah Kabupaten Agam terdiri atas 16 kecamatan. Masing-masing kecamatan tersebut, memiliki karakteristik dan topografi yang berbeda. Hal ini terlihat dari beberapa kecamatan yang berada di pesisir pantai, wilayah pegunungan, lembah, sungai dan danau. Kondisi ini menyebabkan Kabupaten Agam memiliki banyak potensi bencana.

Berdasarkan data tata ruang, ± 700 hektar kawasan Kabupaten Agam merupakan kawasan rawan bencana.

Berdasarkan data trend series frekuensi kejadian bencana di Kabupaten Agam selama tahun 2015-2019, terjadi kecenderungan peningkatan kejadian bencana setiap tahunnya. Untuk kejadian longsor, meningkat sebesar 48% dan kejadian angin kencang dan pohon tumbang meningkat sebesar 68%. Frekuensi kejadian banjir juga terjadi rata-rata 55-69 kali per tahun.

Tabel 16

Frekuensi Kejadian Bencana di Kabupaten Agam berdasarkan Jenis Bencana Tahun 2015-2019 No Jenis Bencana Tahun

2015 2016 2017 2018 2019

1 Banjir 69 11 4 64 55

2 Longsor 36 48 18 60 70

3 Angin Kencang 18 30 3 41 57

4 Pohon Tumbang 18 30 3 41 57

5 Gempa Bumi 0 0 0 0 0

Sumber : Badan PenanggulanganBencana Daerah KabupatenAgam, 2020

Mempedomani dokumen “Pengurangan Resiko Bencana Kabupaten Agam (2016) yang memuat sejarah frekuensi terjadinya bencana di Kabupaten Agam, bencana longsor dan banjir merupakan kejadian bencana yang mendominasi di Kabupaten Agam sejak tahun 1815-2012. Jika dibandingkan dengan sejarah frekuensi kejadian bencana Kabupaten Agam, selama kurun waktu 1815-2012 jumlah kejadian bencana banjir 14 kali dan bencana longsor sebanyak 15

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 115 kali. Berdasarkan data tersebut, terjadi peningkatan frekuensi bencana banjir dan longsor sebesar ±400 % pada tahun 2015-2019.

Kondisi ini harus menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan perencanaan daerah, termasuk kebijakan bidang kesehatan terkait penagganan dan penaggulangan bencana, dalam hal ini terkait penyedian obat dan bahan habis pakai.

Rincian prediksi bencana per Kecamatan yang ada di Kabupaten Agam sebagai berikut:

1. Kecamatan Lubuk Basung

Kecamatan Lubuk Basung berpotensi banjir terjadi tiap tahun dan banjir bandang

2. Kecamatan Tanjung Mutiara

Kecamatan Tanjung Mutiara berpotensi tsunami, memiliki garis pantai sepanjang 43 KM, abrasi Pantai, minimal terrjadi 1 kali setahun, gempa Tektonik, (patahan semangko terjadi 6 Maret 2007 dan pergeseran lempeng bumi 30 September 2009), banjir yang terjadi tiap tahun, Banjir Bandang.

3. Kecamatan Ampek Nagari

Kecamatan Ampek Nagari berpotensi longsor dan banjir, terjadi hampir tiap tahun, banjir Bandang, terjadi hampir tiap tahun, gempa tektonik, (patahan semangko terjadi 6 Maret 2007 dan pergeseran lempeng bumi 30 September 2009)

4. Kecamatan Palembayan

Kecamatan Palembayan berpotensi bencana longsor, terjadi hampir tiap tahun, gempa tektonik, (patahan semangko terjadi 6 Maret 2007 dan pergeseran lempeng bumi 30 September 2009).

5. Kecamatan Tanjung Raya

Kecamatan Tanjung Raya berpotensi longsor, disekitar perbukitan yang tanahnya labil dan rapuh, banjir, terjadi hampir tiap tahun, banjir bandang, sekitar perbukitan yang

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 116 tanahnya labil dan rapuh, gempa tektonik, (patahan semangko terjadi 6 Maret 2007 dan pergeseran lempeng bumi 30 September 2009) dan Gempa Vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek), tubo belerang yang terjadi secara periodik 2 kali pertahun.

6. Kecamatan Matur

Kecamatan Matur longsor, disekitar perbukitan yang tanahnya labil dan rapuh, angin puting beliung

7. Kecamatan Malalak

Kecamatan Malalak berpotensi longsor, disepanjang ruas jalan strategis Nasional Koto Mambang – Balingka di perbukitan yang tanahnya labil dan rapuh, banjir bandang terjadi hampir tiap tahun, gempa tektonik, (patahan semangko terjadi 6 Maret 2007 dan pergeseran lempeng bumi 30 September 2009) dan Gempa Vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek)

8. Kecamatan IV Koto

Kecamatan IV Koto berpotensi banjir bandang, terjdi hampir tiap tahun gempa vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek), longsor, angin puting beliung, kebakaran.

9. Kecamatan Banuhampu

Kecamatan gempa vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek), letusan Gunung Marapi, kebakaran

10. Kecamatan Sungai Puar

Kecamatan Sungai Puar berpotensig gempa vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek), letusan Gunung Marapi, dimana gunung tersebut pada saat ini aktif dan sering terjadi letusan

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 117 11. Kecamatan Candung

Kecamatan Candung berpotensi gempa vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek), letusan Gunung Marapi, dimana gunung tersebut pada saat ini aktif dan sering terjadi letusan, banjir bandang, yang terjadi secara periodik

12. Kecamatan IV Angkat

Kecamatan IV Angkek berpotensi gempa vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek), letusan Gunung Marapi, dimana gunung tersebut pada saat ini aktif dan sering terjadi letusan, angin puting beliung, banjir bandang, yang terjadi secara periodik, kebakaran

13. Kecamatan Baso

Kecamatan Baso berpotensi gempa vulkanik (Gunung Merapi dan Gunung Tandikek), letusan Gunung Marapi, dimana gunung tersebut pada saat ini aktif dan sering terjadi letusan, longsor dan banjir Bandang, yang terjadi secara periodik, angin puting beliung

14. Kecamatan Tilatang Kamang

Kecamatan Tilatang Kamang berpotensi angin badai, angin puting beliung, kebakaran

15. Kecamatan Kamang Magek

Kecamatan Kamang Magek berpotensi angin badai, angin puting beliung, kebakaran.

16. Kecamatan Palupuh

Kecamatan Palupuh berpotensi longsor dan banjir bandang terjadi hampir tiap tahun

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 118 3.5 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup

Indeks kualitas lingkungan hidup dibentuk oleh 5 komponen yaitu Indeks Kualitas Udara (IKU), Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Tutupan Lahan yang terdiri dari Indeks Kualitas Lahan dan Indeks Kualitas Ekosistem Gambut, serta Indeks Kualitas Air Laut (IKAL).

Tabel 17

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kabupaten Agam Tahun 2015-2019

No Indikator 2015 2016 2017 2018 2019 1 Indek

pencemaran Air 36,67 65,63 68,75 75 65

2

Indek

pencemaran udara

45,86 88,79 93,72 89,93 90,67

3 Indek tutupan

lahan 86,35 54,1 54,2 47,76 47,56

4 IKLH 52,09 0,6799 0,7044 0,6857 0,6572 Sumber : Dinas lingkungan Hidup Kab. Agam, 2020

Berdasarkan trend indeks kualitas lingkungan hidup Kabupaten Agam Tahun 2015-2019, terdapat fluktuasi nilai indeks tersebut. Indeks kualitas lingkungan hidup pada tahun 2015 merupakan indeks paling rendah. Hal ini disebabkan karena berbagai faktor yaitu:

a. Adanya perbedaan obyek sungai yang dipantau dalam rangka perhitungan indeks pencemaran air dengan obyek sungai pada tahun 2016;

b. Adanya perbedaan obyek kualitas udara yang dipantau dalam rangka perhitungan indeks pencemaran udara dengan obyek kualitas udara pada tahun 2016;

c. Nilai indeks tutupan hutan merupakan nilai yang dihitung secara manual, sedangkan pada tahun 2017-2019, indeks tutupan hutan bersifat given yang

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 119 bersumber dari citra satelit Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI;

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 nilainya mengalami penurunan sebesar 6.7 point. Kontribusi penurunan terbesar adalah dari indeks pencemaran air dan indeks tutupan lahan. Hal inidisebabkan oleh belum terkelolanya limbah dan sampah dari sektor domestik, sektor kesehatan dan sektor pertanian serta usaha kecil dan menengah.

Saat ini salah satu sumber daya air yang vital, Danau Maninjau status trofiknya berada pada hipereutrofik. Demikian juga dengan beberapa sungai yang kualitas airnya mengalami penurunan beberapa tahun terakhir. Belum optimalnya pengelolaan limbah B3 juga mengakibatkan potensi pencemaran air, udara dan tanah juga meningkat.

Tabel 18

Pelayanan OPD Kabupaten berdasarkan Telaahan RTRW dan Analisis KLHS beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan

Penanganannya yang berbasis mitigasi bencana serta konservasi dalam rangka pengurangan resiko bencana;

Pengembangan sektor ekonomi sekunder dan tersier berbasis agro, pariwisata dan kelautan sesuai keunggulan kawasan

1.Terdapat 6

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 120

yang bernilai ekonomi tinggi yang dikelola secara berhasil wilayah melalui intensifikasi lahan dan modernisasi pertanian serta pengelolaan kegiatan ekonomi yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan;

Peningkatan dan pemulihan fungsi kawasan lindung yang budidaya untuk mendukung pemantapan sistem

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 121 berbasis pertanian dan

pariwisata dengan tetap mempertimbangkan dan mengindahkan kondisi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; dan

Pengembangan kawasan dan objek wisata yang ramah lingkungan dan bersesuaian dengan budaya lokal.

Analisis KLHS:

Pengelolaan sistem pusat kegiatan

a. Pengelolaan sistem perkotaan.

Pengelolaan Sistem Jaringan Prasarana

a. Pengelolaan Sistem Jaringan Transportasi b. Pengelolaan Sistem

Jaringan Energi

c. Pengelolaan Sistem Jaringan Telekomunikasi d. Pengelolaan Sistem Jaringan Sumber Daya Air

e. Pengelolaan Sistem Jaringan Pengelolaan Lingkungan

f. Pengelolaan Sistem Jaringan Prasarana

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 122 Dari berbagai permasalahan yang berkaitan dengan indicator yang berkaitan KLHS untuk mengetahui Pembangunan Sumber Daya Kesehatan yang harus disinkronkan dengan indicator program/kegiatan di Dinas Kesehatan adalah:

1. Prevalensi anemia pada ibu hamil

2. Pesentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI ekslusif

3. Persentase merokok pada penduduk umur ≤ 18 tahun 4. Prevalensi kekurangan gizi (underweight)

5. Prevalensi malnutrisi (berat badan/tinggi badan) anak pada usia kurang dari 5 tahun

6. Prevalensi anemia pada ibu hamil

7. Persentase stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak dibawah dua tahun/baduta

3.6. Penentuan Isu- Isu Strategis Tabel 19

Kriteria Penentuan Isu-Isu Strategis

No Kriteria Bobot

1 Memiliki pengaruh yang besar/signifikan terhadap pencapaian sasaran Renstra K/L atau Renstra

Propinsi dan Renstra Kab. Agam 20

2 Dampak yang ditimbulkannya terhadap public 20 3 Prioritas janji politik yang perlu diwujudkan 25 4 Memiliki daya ungkit untuk pembangunan daerah 10 5 Merupakan tugas dan tanggung jawab Dinas

Kesehatan 10

6 Kemungkinan atau kemudahanya untuk ditangani 15

TOTAL 100

Penentuan criteria isu isu strategis semakin besar bobot akan menunjukan isu strategis tersebut membutuhkan sumber daya lebih utama dalam penanganan masalah tersebut. Begitupun sebaliknya semakin rendah nilai bobot masalah, menyatakan masalah tersebut bukan focus utama untuk pemecahan masalah.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 123 Tabel 20

Penilaian Isu Strategis

NO Isu Strategis Nilai Skala Kriteria ke- Total Skor

3 Terdapat kekurangan tenaga

kesehatan 652 orang 15 15 15 10 10 15 80

4

Terdapat 22 sarana jaringan Puskesmas yang belum

memiliki bidan desa 15 15 15 10 10 15 80

5

Masih terdapat 23,2 % tenaga kesehatan dengan tingkat pendidikan dibawah diploma

tiga 15 15 15 10 10 15 80

6

Dari 634 orangTenaga fungsional, baru 250 org mengikuti diklat fungsional

dan UKOM 15 15 15 10 10 15 80

Masih tinggi angka gizi buruk

4% 20 20 25 10 10 15

100

9 Tidak dilaksanakan operasi

katarak 20 20 20 10 10 15 95

10

Masih rendahnya pelayanan

balita 56.1% 20 20 20 10 10 15 95

11 Masih rendahnya pelayanan

anak usia sekolah 55.9% 20 20 20 10 10 15 95 12

Masih rendahnya pelayanan

usia produktif 19.7% 20 20 20 10 10 15 95

13 Masih rendahnya pelayanan

usia lansia 79.3% 20 20 20 10 10 15 95 14

Masih rendahnya pelayanan

penderita hipertensi 48,6% 20 20 20 10 10 15 95

15

Masih rendahnya pelayanan pada penderita Diabetes

Melitus 59.4% 20 20 20 10 10 15 95

16 Masih rendahnya pelayanan

pada penderita ODGJ 64.6% 20 20 20 10 10 15 95

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 124 Dari tabel penilaian isu startegis diatas dapat diketahui bahwa penialai tertinggi untuk permasalahan kematian ibu dan balita gizi buruk, selanjutnya masalah pelayanan kesehatan penyakit menular dan tidak menular terhadap semua sasaran pelayanan kesehatan.

Tabel 21

Rata-Rata Skor Isu-Isu Strategis

NO Isu Strategis Total

Skor

Rata-Rata Skor 1 Terdapat 17.4% Puskesmas yang belum

sesuai standar 80 13.3

2 Terdapat 46.09% Pustu yang perlu rehab 80 13.3 3

Terdapat kekurangan tenaga kesehatan 440

orang 80

13.3

4 Terdapat 22 sarana jaringan Puskesmas

yang belum memiliki bidan desa 80 13.3

5

Masih terdapat 23,2 % tenaga kesehatan dengan tingkat pendidikan dibawah diploma

tiga 80

13.3

6 Dari 634 orangTenaga fungsional, baru 250

org mengikuti diklat fungsional dan UKOM 80 13.3 7 Angka kematian ibu yang masih tinggi 127

per 100.000 KH 100 16.6

8 Masih tinggi angka gizi buruk 4% 100 16.6 9 Masih tinggi angka stunting 8.8%% 100 16.6 10 Tidak dilaksanakan operasi katarak 95 15.8 11 Masih rendahnya pelayanan balita 56.1% 95 15.8 12 Masih rendahnya pelayanan anak usia

sekolah 55.9% 95 15.8

13

Masih rendahnya pelayanan usia produktif 19.7%

95 15.8

14 Masih rendahnya pelayanan usia lansia

79.3% 95 15.8

15

Masih rendahnya pelayanan penderita hipertensi 48,6%

95 15.8

16 Masih rendahnya pelayanan pada penderita Diabetes Melitus 59.4%

95 15.8

17

Masih rendahnya pelayanan pada penderita ODGJ 64.6%

100 15.8

Rata-rata skor isu strategis yang mendominasi adalah masalah kematian ibu dan balita gizi buruk yang secara kronis menuju

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 125 stunting pada balita. Selanjutnya yang mendapatkan bobot tinggi adalah pelayanan kesehatan pada masyarakat pada semua sasaran pelayanan kesehatan. Terakhir adalah masalah sarana dan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 126 BAB IV

TUJUAN DAN SASARAN

4.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Perangkat Daerah

Tujuan adalah pernyataan-pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi, melaksanakan misi dengan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembangunan daerah. Rumusan tujuan dan sasaran merupakan dasar dalam menyusun pilihan-pilihan strategi pembangunan dan sarana untuk mengevaluasi

pilihan tersebut. Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai, rasional, untuk dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan. Adapun Tujuan dan sasaran Dinas Kesehatan Kab. Agam adalah sebagai berikut:

Tujuan 1 : Meningkatkan Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan Publik

Indikator : Indeks Survey Kepuasan Masyarakat Sasaran :

a. Meningkatnya kepuasan masyarakat pada layanan kesehatan

Tujuan 2 : Meningkatnya pelayanan kesehatan yang berkualitas Indikator : Angka Harapan Hidup

Sasaran :

1. Meningkatnya mutu layanan kesehatan

2. Meningkatnya kompetensi tenaga kesehatan sesuai standar

3. Meningkatnya Mutu Kefarmasian 4. Meningkatnya budaya hidup sehat

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 127 Tabel 22

Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Perangkat Daerah

N

o Tujuan

Indikator

Tujuan Sasaran Indikator Sasaran

Awal Target Kinerja Sasaran Pada Tahun Ke- 2021 2022 2023 2024 2025 2026

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 128 BAB V

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

5.1 Strategi

Strategi adalah langkah berisikan program-program sebagai prioritas pembangunan daerah/perangkat daerah untuk mencapai sasaran. Berbagai rumusan strategi yang disusun menunjukkan kemantapan pemerintah daerah dalam memegang prinsipnya sebagai pelayan masyarakat. Perencanaan yang dilaksanakan secara efektif dan efisien sebagai pola strategis pembangunan akan memberikan nilai tambah (value added) pada pencapaian pembangunan daerah dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Sebagai salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah, rumusan strategi akan mengimplementasikan bagaimana sasaran pembangunan akan dicapai dengan serangkaian arah kebijakan dari pemangku kepentingan.

Metode yang digunakan sebagai alat bantu dalam merumuskan strategi Renstra Dinas Kesehatan yaitu analisis Logic Model. Logic model adalah alat yang menyampaikan skema, program, atau proyek singkat, format yang visual. Logic model ini menjelaskan tindakan yang direncanakan dan hasil yang diharapkan. Logic model adalah gambaran ringkas yang menjelaskan hubungan antara masukan, kegiatan, keluaran, dan hasil serta kebutuhan masyarakat dan/atau pemangku kepentingan yang terlibat dan terdampak.

Pada Penentuan strategi dan arah kebijakan yang akan menjadi panduan Dinas Kesehatan dalam mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan, dirumuskan dengan memformulasikan short term outcome untuk strategi dan intermediate term outcome untuk arah kebijakan dan menjadi dasar bagi penentuan program priorotas. Melalui penerapan instrumen ini dapat dilihat kehandalan suatu program untuk mewujudkan sasaran daerah yang telah direncanakan. perumusan strategi berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Logic Model.

Rencana Strategis Dinas Kesehatan Tahun 2021-2026 129 Tabel 23

Analisa Strategi

Faktor Internal Eksternal

Positif

Kekuatan Peluang

1 Ketersedian tenaga kesehatan di fasyankes 1

Surat Kemenkes no.

PR.01.01/1.3/2145/2020 penyedian tenaga kesehatan dengan perjanjian kerja sumber dana DAK

2

Ketersedian sarana dan prasarana di fasyankes 2

Usulan peningkatan sarana dan prasarana dengan sumber dana DAK

3

Dukungan pemda dalam pelaksanaan standar pelayanan kesehatan minimal terhadap

masyarakat 3

Peraturan Pemerintah no 2

Peraturan Pemerintah no 2

Dalam dokumen PEMERINTAH KABUPATEN AGAM (Halaman 104-0)

Dokumen terkait