• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Daya Finansial

Dalam dokumen SKRIPSI KASMIATI (Halaman 54-60)

Keberadaan sumber daya finansial cukup berpengaruh terhadap kelancaran suatu usaha. Sumber daya inilah yang dapat menunjang ketersediaan berbagai sumber daya lain yang diperlukan dalam proses produksi dan kegiatan operasional lainnya. Sumber daya finansial merupakan segala sesuatu yang dimiliki perusahaan baik berupa uang tunai maupun harta benda lainnya yang sewaktu-waktu dapat diuangkan guna mendukung aktivitas perusahaan dalam

pengembangan usaha yang dikelolah, (Syam dkk, 2006: dalam Reski Amelia dkk, 2010).

Dari uraian di atas, kita dapat memperoleh gambaran mengenai pentingnya upaya untuk memanfaatkan sumber daya finansial seefisien mungkin dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat. Fungsi utama dari sumber daya finansial yaitu untuk mengadakan sumber daya lainnya yang diperlukan oleh perusahaan, agar kebijakan manajemen tidak salah arah, maka sumber daya finansial harus disusun berdasarkan perhitungan yang rill dapat berfungsi sebagai pedoman kerja yang memberikan arah dan target-target tertentu yang harus dilakukan oleh perusahaan.

Aktiva adalah sarana atau sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh suatu kesatuan usaha atau perusahaan yang perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif. Aktiva lancar (current assets), yang terdiri dari: kas, piutang, persediaan. Aktiva tetap ( fixed assets) yang terdiri dari: peralatan, gedung, tanah. Sedangkan passiva adalah pengorbanan ekonomis yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan pada masa yang akan datang.

Pengorbanan untuk masa yang akan datang ini terjadi akibat kegiatan usaha, kewajiban ini dibedakan menjadi utang lancar dan utang jangka panjang.

Utang (liabilities) merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan yang dapat digolongkan: utang lancar (current liabilities) antara lain: utang dagang dan utang wesel dan utang jangka panjang (long term debt) antar lain utang bank, utang obligasi dan utang hipotek. Modal (capital) merupakan hak milik perusahaan atas total harta (aktiva) yang ada dalam perusahaan.

Besarnya hak milik tersebut sama dengan aktiva bersih perusahaan, yaitu sisa aktiva setelah dikurangi total utang. Contohnya modal: modal sendiri, modal persekutuan, modal saham, (Tata, 2008; dalam Hartini dkk, 2010). Aktiva (harta tetap) yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 140.000.000,- yang terdiri dari lahan yang dimiliki oleh perusahaan seluas 16 m x 9 m = 144 m² dengan harga 250.000/m², jadi harga lahannya adalah sebesar Rp 36.000.000,- dan bangunan yang dimilikinya adalah senilai Rp. 50.000.000,-, jadi total harga lahan dan bangunannya adalah Rp. 86.000.000,-. Serta akumulasi penyusutan peralatan produksi dan kantor sebesar Rp. 54.000.000,-/tahun.

Dan Passiva (utang lancar) yang dimiliki oleh perusahaan adalah sebesar Rp. 22.571.378,-, yang terdiri dari biaya gaji karyawan sebesar Rp. 11.725.000,-/bulan, di mana gaji untuk pimpinan sebesar Rp. 1.000.000,-11.725.000,-/bulan, untuk sekretaris dan bendahara sebesar Rp. 900.000,-/bulan dan untuk karyawan lainnya masing-masing sebesar Rp. 525.000,-/bulan, dan biaya bahan baku sebesar Rp.

9.190.378,-/bulan dan utang lancar, yaitu sebesar Rp. 1.656.000,-.

45 A. Bauran Pemasaran (marketing mix)

Merupakan kombinasi dari empat variabel yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan seefektif mungkin yakni : product (produk), price (harga), place (tempat atau distribusi), dan promotion (promosi).

1. Product ( Produk )

Produk utama yang dimiliki oleh UPPKS Balla Ratea adalah “Sarabba Instan”. Sarabba instan merupakan minuman tradisional khas Makassar yang dikembangkan dengan tujuan agar minuman tradisional tersebut dapat dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya di Makassar dan juga masyarakat yang ada di luar Indonesia. Sarabba ini berbeda dengan sarabba-sarabba yang diproduksi oleh perusahaan lain yang berbentuk bubuk dan minuman dengan kemasan kotak.

Dilihat dari segi bentuk fisiknya, maka sarabba instan yang diproduksi oleh UPPKS Balla Ratea tersebut merupakan produk yang berbentuk cair dan kental yang dikemas dengan menggunakan botol plastik dan dilengkapi dengan anyaman dari daun lontar atau dengan nama lain menggunakan keranjang khas buatan orang Makassar, sebagai ciri khas dari produk tersebut.

Sarabba instan dapat bertahan sampai ± 6 bulan, namun produk yang diambil oleh konsumen perantara bisaanya maksimal hanya sampai ± 2 bulan

produknya sudah habis terjual. Selain itu, produk ini cocok disimpan di tempat yang dingin seperti freezer . Dilihat dari segi ukuran, maka sarabba instan yang diproduksinya ada tiga jenis ukuran, yaitu ukuran yang pertama 330 ml (terkecil), ukuran yang kedua 500 ml (sedang) dan ukuran yang ketiga adalah 630 ml (besar).

Di antara ketiga jenis ukuran produk tersebut, maka ukuran yang digunakan oleh perusahaan pada saat pertama kali melakukan produksi atau membuat sarabba instan adalah ukuran 330 ml. Pada tahun 2008 jumlah produksinya sudah mulai meningkat yaitu sampai maksimal 500 botol, sehingga ukurannya ditambah dua yaitu ukuran 500 ml dan 630 ml dengan pertimbangan bahwa ukuran produk yang hanya satu jenis akan sulit dipasarkan karena kebutuhan konsumen yang berbeda-beda serta permintaan sasaran pasar yang membutuhkan ukuran yang lebih besar lagi, seperti rumah makan, café, warkop dan sebagainya.

Walaupun ukuran produknya berbeda-beda, namun kemasannya tetap satu jenis, yaitu menggunakan botol aqua plastik. Dengan adanya kemasan botol plastik ini, maka sarabba instan, selain menjadi produk inti maka ia juga sudah mampu menjadi produk generik. Dan untuk menjadi produk harapan, maka perusahaan juga sudah mendapatkan surat izin dari pemerintah yang bersangkutan tentang izin mendirikan usaha industri tanaman pangan dan sertifikat yang menunjukkan bahwa produknya halal dikonsumsi.

Untuk menjadi produk pelengkap, maka sejak tahun 2008/2009 perusahaan sudah menggunakan label dan juga hiasan kemasan produk yang

terbuat dari anyaman daun lontar yang sekaligus menjadi ciri khas dari kemasan produk perusahaan tersebut. Pada awal tahun 2010 yaitu bulan Januari jumlah produksinya meningkat lagi yaitu sebanyak 1000 sampai 1200 botol/bulan.

Dan masih berlangsung sampai tahun ini yaitu tahun 2012. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 7. Jumlah Produksi Sarabba Instan UPPKS Balla Ratea di Kecmatan Pallangga Kabupaten Gowa, 2012

Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah produksi sarabba pada bulan Januari sampai bulan April adalah masing-masing sebanyak 1.000 botol dan pada bulan Mei jumlah produksinya sebanyak 1.200 botol. Hal ini disebabkan karena bulan Mei ibu Jirah mengikuti pameran di Surabaya, sehingga UPPKS Balla Ratea mengusahakan jumlah produksinya lebih dari 1.000 botol dengan tetap menggunakan tiga jenis ukuran kemasan yang berbeda, yaitu 330 ml, 500 ml dan 630 ml. Tabel 6 juga menunjukkan, bahwa untuk sarabba yang berukuran 330 ml produksinya rata-rata 300 botol/bulan, kecuali pada bulan Mei, produksinya

sampai 450 botol. Begitupun juga halnya dengan sarabba ukuran 500 ml, jumlah produksinya rata-rata 360 botol/bulan, kecuali pada bulan Mei, jumlah produksinya sampai 410 botol. Sedangkan sarabba yang berukuran 630 ml, jumlah produksinya mulai pada bulan Januari sampai bulan Mei tetap sama, yaitu 240 botol.

Hal tersebut disebabkan oleh bahan baku yang terbatas serta alat-alat produksi yang masih manual, karena pabriknya belum selesai, sehingga alat-alat produksi yang baru belum bisa digunakan. Setiap kali produksi, sarabba instan tersebut langsung dipasarkan atau disalurkan kepada pedagang (konsumen antara). Dan produk-produk tersebut biasanya hanya sampai 2 minggu saja sudah habis terjual, namun apabila dalam waktu 2 bulan sarabbanya belum habis terjual, maka pihak perusahaan akan menarik kembali dan mengganti produknya dengan yang baru. Sarabba instan tersebut diproduksi dengan menggunakan beberapa jenis bahan baku.

Dalam dokumen SKRIPSI KASMIATI (Halaman 54-60)

Dokumen terkait