PADA USAHA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KELUARGA SEJAHTERA (UPPKS) BALLA RATEA DESA TAENG
KECAMATAN PALLANGGA KABUPATEN GOWA
KASMIATI 105720372312
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2017
i
KABUPATEN GOWA
KASMIATI 105720372312
Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Jurusan Manajemen
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR 2017
iv
Tradisional “Sarabba Instan’ Dalam Meningkatkan Penjualan Pada Usaha Peningkatan Produktivitas Keluarga Sejahtera Balla Ratea Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Dibimbing oleh ABD RAHMAN RAHIM dan MUCHRIANA MUCHRAM.
Masalah Penelitian ini tentang pembuatan sarabba instan dan untuk mengetahui hasil penjualan di UPPKS Balla Ratea Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa.
Tujuan Penentuan informan dalam penelitian ini diambil dari semua pekerja UPPKS sebanyak 12 karyawan. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Metode penelitian menunjukkan bahwa bauran pemasaran pada UPPKS Balla Ratea Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa Menunjukan bahwa Sarabba instan memiliki kualitas yang bernutu tinggi bagi setiap konsumen yang mengkomsumsinya selain dari pada itu minuman tradisional ini digemari oleh seluruh masyarakat khususnya di Kabupaten Gowa.
Hasil yang di peroleh dari UPPKS Balla Ratea Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa yaitu memperoleh hasil yang meningkat. Tentang bauran pemasaran dan penerapan – penerapan dalam sebuah perusahaan, baik perusahaan besar maupun industri kecil.
Dengan ini saya dapat mengetahui proses pembuatan Sarabba instan dan bagaimana bauran pemasarannya keperusahaan perusahaan lainnya.
Kata kunci : Bauran Pemasaran Minuman Tradisional, Peningkatan Penjualan Pada UPPKS Balla Ratea.
v
Yang Senantiasa Memberi Hamba Kekuatan Serta Keimanan Yang Lebih Kuat Dan Keiklasan Hati Dalam Menjalankan Semua Perintahnya.
vi
rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya.
Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penerapan Bauran Pemasaran Minuman Tradisional “Sarabba Instan” Dalam Meningkatkan Penjualan Pada Usaha Peningktan Produktivitas Keluarga Sejahtera (UPPKS) Balla Ratea Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. H. Abd.Rahman.Rahim, SE,MM. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar dan selaku pembimbing I dan Muchriana Muchram, SE,M.Si,Ak. selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi dapat diselesaikan
vii
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Kedua orangtua Ayahanda Bonro Daeng Tompo dan Ibunda Minasa Daeng Kenna dan adik-adikku tercinta Agustriani, Hartiningsih, Nurfadli dan segenap keluarga yang senantiasa memberikan bantuan, baik moril maupun material sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5. Seluruh Dosen Jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali segudang ilmu kepada penulis.
6. Kepada pihak pemerintah Kabupaten Gowa dan khususnya kepada Ibu Dra. Hajira pemilik usaha yang telah mengisinkan penulis untuk melakukan penelitian di Usaha tersebut.
7. Semua pihak yang telah membantu penyusun skripsi dari awal hingga akhir yang penulis tidak dapat disebut satu persatu.
Akhir kata penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan skripsi ini, semoga karya tulis ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan. Semoga kristak-kristal Allah senantiasa tercurah kepadanya. Amin.
Makassar 30 Juni 2016.
viii
Halaman
HALAMAN JUDUL ...i
HALAMAN PERSETUJUAN ...ii
ABSTRAK ………iii
MOTTO……….iv
KATA PENGANTAR ...v
DAFTAR ISI ...vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ...viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Pengertian Bauran Pemasaran ... 7
B. Harga Penjualan ……….15
C. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle Atau PLC) ... 16
ix
B. Pendekatan Penelitian ... 22
C. Jenis Data ... 22
D. Teknik Pengambilan Data ... 23
E. Teknik Analisis Data ... 23
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 24
A. Deskripsi Perusahaan Uppks Balla Ratea ... 24
B. Visi Dan Misi Terbentuknya Uppks Balla Ratea ... 27
C. Sumber Daya Lahan Dan Bangunan……….…...33
D. Sumber Daya Manusia (Sdm)... 35
E. Sumber Daya Peralatan………..37
F. Sumber Daya Finansial……….…..42
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 45
A. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) ………..……....45
B. Proses Pengadaan Bahan Baku……….……...48
C. Proses Produksi ……….…...51
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 65
A. Kesimpulan………65
B. Saran………...…65
DAFTAR PUSTAK
LAMPIRAN
x
Sarabba 2012 ... 16
2. Rumah Tangga Yang Bergabung Dengan UPPKS Balla Rate 2012... 26
3. Program Kerja UPPKS Balla Ratea 2012 ... 29
4. Sumber Daya Manusia Pada UPPKS Balla Ratea 2012... 35
5. Jumlah Dan Harga Peralatan Dapur Pada UPPKS Balla Ratea 2012 ... 38
6. Jumlah Dan Harga Peralatan Kantor Pada UPPKS Balla Ratea 2012 ... 41
7. Jumlah Produksi Sarabba Instan UPPKS Balla Ratea 2012... 47
8. Biaya Tetap Dan Bahan Baku Yang Digunakan Dalam Kegiatan Produksi UPPKS Balla Ratea 2012... 50
xi
2. Gambar 2. Struktur Organisasi ... 32 3. Gambar 3. Lay Out Perusahaan...33 4. Gambar 4. Pola Jalur Distribusi...61
1 A. Latar Belakang
Sarabba merupakan salah satu jenis minuman khas Makassar Sulawesi Selatan, yang terbuat dari Jahe Zingiber officinale dengan campuran gula aren dan santan air kelapa. Minuman ini sangat digemari oleh masyarakat Makassar mulai dari anak-anak sampai pada orang tua, karena rasanya yang khas (manis dan agak pedas). Selain itu minuman ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Makassar khususnya di Desa-Desa yang masih melakukan kebiasaan- kebiasaan yang sejak dari zaman dahulu hingga sekarang.
Campuran gula merah dan santan membuat sarabba menjadi lebih kental dan memberikan tampilan yang unik. Selain itu rasa hangat dan pedasnya, tidak hanya berasal dari jahe, tetapi juga dari merica yang menjadi bahan rahasianya. Minuman ini sangat laris terutama dimusim penghujan dan sangat pas menjadi teman hidangan gorengan seperti pisang goreng, singkong goreng, sukun goreng dan sebagainya. Jenis minuman ini sangat mudah ditemui di mana saja di pelosok kota Makassar, mulai dari warung kaki lima hingga restoran berkelas juga menyukai minuman ini.
Salah satu perusahaan yang mengembangkan minuman ini adalah UPPKS (Usaha Peningkatan Produktivitas Keluarga Sejahtera) Balla Ratea.
UPPKS Balla Ratea merupakan perusahaan mikro yang bergerak di bidang industri makanan dan minuman tradisional. Perusahaan ini mulai didirikan
oleh ibu Dra. Hajirah pada tahun 2007 dengan nama “Mawar” dan nomor surat izin tempat usaha yaitu No. 503/60/SITU/IIIA/2009, Sertifikat produksi pangan UPPKS dengan nomor P-UPPKS No. 213710602113, dan No.
Sertifikat halal No. 06120003260210, dengan jumlah anggota 15 orang dengan menggunakan modal awal sebesar Rp. 150.000. Pada awal tahun 2008 UPPKS “Mawar” diganti dengan nama kelompok yang baru, yaitu UPPKS “Balla Ratea”.
Sejak itu kelompok ini dikenal sebagai industri rumah tangga (IRT) yang tidak hanya memproduksi minuman tradisional saja, tetapi juga memproduksi makanan tradisional (diversifikasi usaha). Makanan khas Makassar yang diproduksi oleh UPPKS Balla Ratea seperti kue kering dan kue basah, kripik bawang merah, kripik bawang putih, dan sambel atau saos yang terbuat dari tomat segar selain itu pemerintah juga sudah mulai melirik usaha ini. Namun di antara semua produk yang diproduksinya, yang paling terkenal dan yang paling laku di pasaran adalah sarabba instan.
Jumlah produk sarabba instan UPPKS Balla Ratea yang berhasil dijual pada bulan November 2009 sampai pada bulan Oktober 2010 adalah sebanyak 13.000 botol dengan bermacam-macam harga Rp. 22.000,- per botol untuk ukuran 330 ml. Produk ini diproduksi setiap bulannya dengan jumlah 1000 –1200 botol/bulan. Bila melihat situasi dan kondisi di pasaran sebenarnya UPPKS Balla Ratea bisa menjual produknya dalam jumlah yang lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah produk yang berhasil dijualnya pada tahun tersebut, mengingat sarabba instan ini merupakan salah satu
jenis minuman tradisional yang sangat digemari oleh masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Ditambah lagi dengan jumlah permintaan dari café, rumah makan, warkop serta pusat ole-ole yang semakin hari semakin meningkat.
Awalnya jumlah permintaannya ada yang hanya 5 botol/bulan, 10 botol/bulan dan satu lusin (12 botol)/bulan, namun pada bulan Desember 2010 sudah ada yang meminta sampai 2 lusin (24 botol)/bulan. Akan tetapi penjualan produk sarabba instan sepertinya belum maksimal pada waktu itu.
Melihat hal tersebut maka timbul pertanyaan, apakah mungkin hal ini disebabkan oleh manajemen pada UPPKS Balla Ratea belum terlalu bagus utamanya dalam hal penerapan bauran pemasarannya yang dikenal dengan empat (4 P), yaitu Product (Produk), Price (Harga), Promotion (Promosi),
Place (Tempat)
Di mana bauran pemasaran (marketing mix) merupakan penghubung antara produsen dengan konsumen. Hal ini sesuai dengan pendapat Sofjan Ansauri (1987), bahwa bauran pemasaran merupakan variable atau kombinasi kegiatan yang inti dari suatu sistem pemasaran dan kegiatan ini dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi reaksi para pembeli atau konsumen.
Dalam bauran pemasaran yang pertama dilakukan adalah menentukan produk seperti yang dilakukan oleh UPPKS Balla Ratea yaitu mereka memproduksi sarabba instan, kemudian menentukan ukuran dan harga setiap
produknya. Setelah itu menentukan sasaran pasar dan melakukan kegiatan promosi serta pemasaran.
Salah satu hal yang bisa mempengaruhi produk suatu perusahaan adalah kualitasnya serta cara penyajiannya, di mana masyarakat atau konsumen saat ini lebih suka mengkonsumsi makanan dan minuman yang berkualitas namun cepat saji dan untuk mendapatkan kualitas yang bagus, maka sudah pasti makanan dan minuman tersebut harus bersumber dari bahan baku yang berkualitas pula, seperti halnya sarabba instan yang terbuat dari bahan baku yang termasuk dalam komoditi biofarmaka yaitu jahe merah yang mempunyai manfaat sebagai obat pereda batuk (melegakan tenggorokan), menghangatkan tubuh serta dapat meningkatkan stamina.
Untuk menentukan harga suatu produk, maka hal yang perlu diperhatikan adalah biaya variable, biaya tetap, keuntungan yang diharapkan, resiko kerugi serta sasaran pasar yang akan dituju, karena tingkat ekonomi masyarakat atau calon konsumen berbeda-beda. Dalam kegiatan promosi, yang perlu diperhatikan adalah sasaran pasar yang akan dituju, serta kemampuan produksi perusahaan, karena jangan sampai promosi yang dilakukan oleh pihak perusahaan sudah meluas dan permintaan semakin meningkat sementara produsen belum bisa memenuhi semua permintaan konsumennya. Selain itu, dalam pemasaran atau proses penyaluran produk kepada konsumen yang perlu diperhatikan adalah tempatnya,
Apakah tempat pemasarannya strategis atau tidak. Karena salah satu yang menjadi pertimbangan seorang konsumen selain kualitas, harga dan
manfaat dari suatu produk adalah tempat pemasarannya. Walaupun harga jual produk yang dijual di pasar-pasar tradisional lebih murah dibandingkan harga jual yang ditawarkan di supermarket dan sebagainya, namun karena tempatnya yang lebih mudah didapat dan juga lebih bagus, sehingga banyak konsumen yang lebih senang berbelanja ke sana.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di atas, maka masalah pokok yang menarik untuk diteliti adalah:
1. Bagaimana penerapan bauran pemasaran pada UPPKS Balla Ratea Desa Taeng Kec Pallangga Kab Gowa?
2. Apakah ada hambatan dalam penerapan bauran pemasaran dalam meningkatkan penjualan?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui penerapan bauran pemasaran pada UPPKS Balla Ratea.
2. Untuk Mengetahui hambatan dalam penerapan bauran pemasaran.
Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bahan informasi mengenai bauran pemasaran dalam sebuah perusahaan, baik perusahaan besar maupun industri kecil.
Masukan atau sumber informasi bagi pemerintah terhadap
pengolahan hasil pertanian yang diproduksi menjadi minuman tradisional.
2. Bahan informasi atau referensi bagi peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan bauran pemasaran.
7 A. Pengertian Bauran Pemasaran
Menurut Kotler, (2013), bahwa marketing mix merupakan kombinasi dari empat variabel yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan seefektif mungkin, marketing mix harus selalu dapat bersifat dinamis, selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternal maupun internal. Faktor eksternal yaitu faktor di luar jangkauan perusahaan antara lain terdiri dari pesaing, teknologi, peraturan pemerintah, keadaan perekonomian, dan lingkungan sosial budaya.
Sedangkan faktor internal adalah variabel-variabel yang terdapat dalam marketing mix , yakni : product (produk), price (harga), place (tempat atau distribusi), dan promotion (promosi).
a. Product (Produk)
Produk adalah sesuatu yang bisa ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, pembelian, pemakaian, atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan, (Philip Kotler, 2013). Sedangkan menurut Ali Hasan (2012), bahwa produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memuaskan need (kebutuhan) atau want (keinginan) target pasar. Menurut Soekartawi (2012), bahwa konsep perencanaan penawaran
produk ada lima, yaitu:
1. Produk inti ( core benefit ), adalah manfaat yang sesungguhnya dibutuhkan dan akan dikonsumsi oleh konsumen dari setiap produk.
2. Produk generik adalah produk dasar yang mampu memenuhi fungsi produk yang paling dasar (rancangan produk minimal dapat berfungsi).
3. Produk harapan ( expected product ), adalah produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan kondisinya secara normal (layak) diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
a. Produk pelengkap (augmented product )
Yakni berbagai atribut produk yang dilengkapi atau ditambahi berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan tambahan kepuasan dan bisa dibedakan dengan produk pesaing.
b. Produk potensial
Yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin di kembangkan untuk suatu produk di masa mendatang. Menurut Almasdi Syahza (2013), berdasarkan sifatnya produk terbagi atas dua yaitu barang dan jasa, dimana barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba/disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan dan semacamnya. Ditinjau dari aspek daya tahannya barang dibagi atas dua macam, yaitu barang yang tidak tahan lama, yaitu barang yang berwujud yang biasanya habis
dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian.
Dengan kata lain umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun, seperti minuman, makanan ringan, gula, garam dan sebagainya, dan barang tahan lama merupakan barang yang umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun atau lebih, seperti TV, mobil, motor dan sebagainya. Sedangkan produk yang kedua yaitu jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual, seperti bengkel, salon kecantikan, lembaga pendidikan dan sebagainya, (Anonim, 2014a).
Menurut Sudiyono Armand (2012), berdasarkan klasifikasinya, maka produk dibagi atas dua yaitu barang konsumsi dan barang industri. Di mana barang konsumsi adalah barang produk yang didasarkan pada kebiasaan dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga). Sedangkan barang industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh industriawan (konsumen antara atau konsumen bisnis) untuk keperluan selain untuk digunakan secara langsung, juga untuk diubah (untuk diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual kembali oleh produsen dan untuk dijual kembali oleh pedagang tanpa dilakukan transformasi fisik (proses produksi), seperti kapas, kayu, rotan dan hasil-hasil pertanian lainnya.
Dilihat dari segi bentuk fisik produk agroindustri ada yang berbentuk padat dan adapula yang berbentuk cair. Kedua bentuk ini bila dikaitkan dengan tempat penyimpanan, maka ada produk yang dapat disimpan di mana saja dan ada pula produk yang cocoknya disimpan pada tempat
tertentu, serta memiliki daya simpan yang berbeda-beda, begitupun juga dengan waktu beredarnya di pasar. S elain itu kemasannya juga bervariasi, ada yang dikemas seperti produk minuman yang berisi 350 ml; 600 ml; 1000 ml dan adapula produk yang dikemas dengan ukuran seperti pupuk, dengan ukuran 25 kg, 50 kg, industri makanan ada yang berukuran 10 gram; 20 gram;
50 gram dan sebagainya, (Soekartawi, 2011).
b. Price (Harga)
Menurut Philip Kotler (2013), bahwa harga adalah sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hak milik produk.
Secara lebih luas, harga adalah keseluruhan nilai yang ditukarkan konsumen untuk mendapatkan keuntungan dari kepemilikan terhadap sebuah produk atau jasa. Harga merupakan elemen dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, dimana suatu saat harga akan stabil dalam waktu tertentu tetapi dalam seketika harga dapat juga meningkat atau menurun dan juga merupakan satu- satunya elemen yang menghasilkan pendapatan dari penjualan, (Almasdi Syahza, 2013). Secara umum, penetapan harga bertujuan untuk mencari laba agar perusahaan dapat berjalan.
Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, tujuan mencari laba secara maksimal dalam praktiknya akan sulit dicapai. Oleh karena itu, manajemen dapat menetapkan tujuan lain, misalnya tujuan berorientasi pada volume (harga ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target volume penjualan) sebagai strategi mengalahkan atau mengatasi persaingan, tujuan stabilisasi harga didasarkan pada strategi menghadapi atau memenuhi
tuntutan persaingan, demikian juga tujuan berorientasi pada citra melalui program diferensiasi produk.
Pada hakikatnya, baik penetapan harga tinggi maupun rendah bertujuan untuk meningkatkan persepsi konsumen terhadap keseluruhan bauran produk yang ditawarkan, (Anonim, 2014a). Menurut Soekartawi (2012), penetapan harga produk per unit perlu disesuaikan dengan segmentasi pasar yang ada.
produk yang berharga mahal tentu bukan untuk konsumen yang berpendapatan rendah dan begitupula sebaliknya. Selain itu harga juga harus disesuaikan dengan ukuran kualitas, daya tahan, kemasan dan sebagainya.
Selain itu, perusahaan juga dapat menetapkan suatu harga dengan melakukan pendekatan penetapan harga secara umum yang meliputi beberapa pertimbangan. Dimana pertimbangan-pertimbangan tersebut ada tiga perangkat, yaitu:
1. Cost-Based Pricing (penetapan harga berdasarkan biaya), Cost-Plus- Pricing (penetapan harga biaya plus). Metode ini merupakan metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up terhadap biaya produk, (Anonim, 2014b).
2. Value-Based Pricing (penetapan harga berdasarkan nilai). Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga, (Ali Hasan, 2012).
3. Competition-Based Pricing (penetapan harga berdasarkan persaingan)
a. Going-rate Pricing
(penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku). Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dari pesaing utamanya.
b. Scaled-Bid Pricing (penetapan harga penawaran tertutup).
Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan, (Anonim. 2011b).
c. Promotion (Promosi)
Menurut Cravens (2010), bahwa promosi adalah fungsi pemasaran yang fokus untuk mengkomunikasikan program-program pemasaran secara persuasif kepada target audience (pelanggan – calon pelanggan) untuk mendorong terciptanyan transaksi – pertukaran antara perusahaan dan audience. Inti dari kegiatan promosi adalah suatu bentuk kegiatan komunikasi pemasaran yang berusaha untuk menyebarkan informasi, mempengaruhi, mengingatkan pasar sasaran agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Kegiatan promosi perlu dilakukan secara intensif, karena persaingan yang begitu ketat.
Menurut Soekartawi (2013), bahwa kegiatan promosi yang lebih efektif adalah melakukan komunikasi, baik dengan cara berkunjung ke rumah-rumah calon konsumen atau ke instansi, melalui media elektronik (iklan), melalui media massa (koran dan majalah) atau dengan cara lain.
Menurut Sofjan Ansauri (2012), kegiatan promosi dapat dilakukan melalui 4 cara, yaitu: pertama, personal selling (penjualan personal), merupakan bentuk presentasi secara lisan dengan satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan penjualan. Kedua, sales promotion (promosi penjualan) merupakan kegiatan dan komunikasi yang dirancang untuk mempromosikan sebuah produk atau jasa ke target sasaran (calon pelanggan). Sales promotion ini, sangat efektif dalam hal menciptakan tanggapan yang lebih kuat dan lebih cepat, mendramatisasi penawaran produk dan mendorong penjualan yang sedang lesu, akan tetapi pengaruhnya hanya akan bersifat jangka pendek dan tidak efektif dalam membangun preferensi merek jangka panjang. (Anonim, 2013b). Ketiga, public relation (hubungan masyarakat) merupakan usaha untuk menstimulasi permintaan sebuah produk atau jasa dengan cara menyampaikan 36.000.000,- dan bangunan yang dimilikinya adalah senilai Rp. 50.000.000,-, jadi total harga lahan dan bangunannya adalah Rp. 86.000.000,-Serta akumulasi penyusutan peralatan produksi dan kantor sebesar Rp. 54.000.000,- /tahun. Dan Passiva (utang lancar) yang dimiliki oleh perusahaan adalah sebesar Rp. 22.571.378,-, yang terdiri dari biaya gaji karyawan sebesar Rp.
11.725.000,-/bulan, di mana gaji untuk pimpinan sebesar Rp. 1.000.000,- /bulan, untuk sekretaris dan bendahara sebesar Rp. 900.000,-/bulan dan untuk karyawan lainnya masing-masing sebesar Rp. 525.000,-/bulan, dan biaya bahan baku sebesar Rp. 9.190.378,-/bulan dan utang lancar, yaitu sebesar Rp.
1.656.000,-
d. Place (Tempat Industri)
Karena dalam segmentasi pasar, ada yang dikenal sebagai segmentasi berdasarkan lokasi. Salah satu contohnya adalah, sayur yang sama ada yang dijual di pasar dan adapula yang dijual di supermarket. Harga produk yang dijual di supermarket tiga kali lipat bila dibandingkan dengan harga pasar, namun konsumen tetap membeli di supermarket, karena lokasinya yang strategis (convenience to buy), (Soekartawi, 2013). Sebagai salah satu variabel marketing mix, place/distribusi mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu perusahaan memastikan produknya, karena tujuan dari distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen pada waktu dan tempat yang tepat, (Anonim, 2011a).
Karena menurut Muhammad Firdaus (2013) saluran distribusi (cara untuk menyalurkan produk kita agar sampai ke konsumen) antara barang konsumsi dengan barang industri sedikit berbeda, hal ini disebabkan oleh jenis barangnya yang berbeda.
Menurut Ali Hasan (2014), bahwa saluran distribusi barang konsumsi ada sembilan, yaitu: produsen - konsumen, produsen – pesanan melalui pos – konsumen, produsen – toko sendiri – konsumen, produsen – pengecer – dengan mobil – konsumen, produsen – pengecer – konsumen, produsen – pedagang besar – pengecer – konsumen, produsen – agen – pedagang besar- pengecer – konsumen, produsen – cabang pabrik – pedagang besar – pengecer – konsumen,
dan produsen – cabang pabrik (dimiliki oleh pabrik langsung) – pedagang besar – pengecer – konsumen.
Sedangkan saluran distribusi barang industri menggunakan empat saluran untuk mencapai pemakai industri (konsumen), yaitu: produsen – pemakai industri, pabrik – agen – pemakai industri, produsen – distributor industri – pemakai industri, produsen – agen – distributor industri – pemakai industri, (Muhammad Firdaus 2012).
B. Harga Penjualan
Jumlah produksi sarabba instan 1000 botol/bulan dan produksi maksimal 1200 botol/bulan. Harga jual setiap ukuran berbeda-beda, ukuran 330 ml harga jualnya Rp. 22.500,-/botol, ukuran 500 ml Rp. 27.500,-/botol dan 630 ml harga sebesar Rp. 37.000,-botol. Promosi yang digunakan perusahaan terdiri dari personal selling dan public relation. Tempat pemasaran sarabba instan belum merata, khususnya di wilayah Makassar sendiri. Bahan baku sarabba instan terbatas, akibatnya jumlah produksi tidak stabil dan kegiatan produksi tidak kontinyu. Keterbatasan bahan baku menyebabkan harga jual mahal. Hasil produksi yang tidak stabil menjadi alasan pihak perusahaan belum bisa melakukan promosi secara besar-besaran dan harus membatasi penyaluran sarabba instan ke setiap pasar sasaran dulu harganya masih rendah pada ukuran 330 ml hanya seharga 27.000 waktu masih pemerintah yang biayai tetapi sekarang sudah ibu hajirah ini sudah merubah usahanya dan menjadi usaha pribadinya sendiri dengan harga /botol ukuran 330 ml itu seharga sekarang 35.000 sekarang harga jualnya sudah berbeda-beda tergantung dari ukuran botolnya masing-
masing. Harga jual tahun lalu masih rendah dibandingkan dengan harga jual sekarang .
Tabel 1 . Jumlah Penerimaan Penjualan Konsumen Perantara dalam Setiap Ukuran Sarabba Instan (untuk Harga Rp. 8.000/Gelas)
Ukuran (ml)
Jumlah penjualan
(gelas)
Harga jual gelas (rp)
Jumlah penerimaan
330 7 8.000 56.000
500 15 8.000 80.000
630 20 8.000 160.000
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2012
C. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle atau PLC)
Hasil penjualan produk dan laba yang didapatkan oleh sebuah perusahaan dari pemasaran suatu produk berubah-ubah pada waktu yang berbeda-beda.
Perkembangan hasil penjualan dan laba suatu produk yang dikaitkan dengan perkembangan waktu, dapat dianalisis dalam siklus usaha produk. Dengan mempelajari siklus hidup produk dapat diperkirakan permasalahan yang dihadapi dalam pemasaran suatu produk, sehingga dapat dirumuskan rencana pemasaran produk tersebut secara lebih baik, (Almasdi Syahza, 2013).
Siklus hidup produk terbagi atas lima tahap, yaitu tahap pengembangan, tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap pematangan dan tahap penurunan, (Anonim, 2010a).
a. Tahap Perkembangan
Tahap pengembangan adalah periode pelaksanaan analisis pasar. Pada fase ini strategi produk serta strategi pasar sama-sama dikembangkan. Tidak ada pendapatan yang dihasilkan, tetapi banyak pengeluaran untuk mengembangkan produk dan pasar. Misalnya dalam periode ini makanan ikan yang baru diteliti diformulasi dan diuji sambil mengadakan perencanaan untuk memperkenalkannya di pasar, (Anonim, 2011b).
b. Tahap Perkenalan
Menurut Philip Kotler (2013), bahwa tahap perkenalan adalah periode peluncuran pertama produk baru di pasar. Produk sama sekali belum dikenal pasar, sehingga diperlukan waktu untuk menyebarkan produk ke beberapa pasar dan mengisi saluran penjual. Hal yang perlu dilakukan produsen sehubungan dengan produk barunya adalah melakukan promosi dengan cara menginformasikan kepada pembeli potensial akan adanya produk baru dan belum dikenal, membujuk calon konsumen untuk mencoba produk tersebut dan mengamankan distribusi ke pedagang pengecer.
c. Tahap Pertumbuhan
Tahap pertumbuhan adalah periode perkembangan/ekspansi secara cepat.
Tahap ini ditandai dengan peningkatan yang cepat dalam penjualan. Pemakai awal menyukai produk tersebut dan konsumen mayoritas mulai membeli produk itu, sehingga penjualan dapat meningkat dengan cepat, (Muhammad Firdaus, 2010).
Menurut Ali Hasan (2012), bahwa pada posisi ini harga dan laba cenderung bertahan atau naik sedikit, karena perusahaan masih berusaha memikat pelanggan.
Setelah distribusi diperluas, pasar produk makin luas dan laba meningkat cepat karena biaya tetap per unit makin kecil. Kenaikan harga tersebut dapat mengundang pesaing baru. Ia tertarik untuk memasuki pasar, karena tertarik dengan kesempatan produksi dan laba yang diperoleh. Mereka juga ikut memperkenalkan produk baru dan memperluas toko distribusi. Oleh karena itu, keterbatasan pasar dan kehadiran produk baru akan memperlambat pertumbuhan dan memperkecil tingkat kenaikan laba.
d. Tahap Pematangan
Tahap pematangan ditandai dengan pertumbuhan penjualan yang lambat atau mungkin agak menurun karena pasar mulai jenuh. Kemunduran tingkat penjualan mengakibatkan kelebihan kapasitas dalam industri. Kelebihan industry ini mendorong semakin ketatnya persaingan. Mereka sering terlibat dalam penurunan harga dan penetapan harga di luar daftar. Pada akhirnya, industri terdiri atas pesaing yang kokoh dengan dorongan dasar untuk memperoleh keuntungan kompetitif, (Almasdi Syahza, 2013).
Banyak kegiatan pemasaran dirancang untuk memperpanjang tahap pematangan dengan mempertahankan volume penjualan dan jumlah laba.
Persaingan ketat karena para pesaing memperebutkan pangsa pasar (market share), biasanya dengan menggunakan harga sebagai senjata. Perusahaan berusaha meningkatkan mutu produk dengan mengubah rancangan, menambah unsur-unsurnya, iklan baru, mengembangkan reklame, dan insentif promosi. Tahap ini diakhiri dengan penurunan laba perusahaan yang cukup besar, (Anonim 2015).
e. Tahap Penurunan
Menurut Philip Kotler (2011), bahwa tahap ini ditandai dengan penurunan penjualan, baik secara lambat atau cepat atau bahkan penjualan nol. Penjualan menurun karena perkembangan teknologi, perubahan selera konsumen, pengembangan produk pengganti baru, atau meningkatnya persaingan, sehingga memicu terjadinya perang harga. Penurunan penjualan yang terus menerus dapat mempercepat kematian produk yang bersangkutan.
Beberapa perusahaan mungkin menarik diri dari pasar, sedangkan yang masih bertahan mengurangi biaya pemasaran sampai pada akhirnya produk mungkin akan hilang dari peredaran, (James dan Charles, 2013).
D. Kerangka Pikir
Setiap perusahan, baik itu perusahaan besar maupun perusahaan kecil pasti diharapkan agar tetap bertahan dan dapat memberikan profit yang banyak kepada pemiliknya. Oleh karena itu, dalam hal ini yang paling penting adalah perencanaan. Perencanaan sangat diperlukan untuk mengikuti perkembangan dan menghadapi persaingan yang semakin ketat dimasa yang akan datang. Tanpa perencanaan, sebuah organisasi mungkin akan melakukan cara-cara yang ekstrem untuk menghindari kerugian atau mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perencanaan yang baik akan membimbing kegiatan dalam setiap tahapan yang seharusnya dilakukan oleh manajer atau produsen dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar sasaran, hal ini sesuai dengan pendapat Ali Hasan (2012), bahwa dengan perencanaan pemasaran yang tepat,
seorang manajer akan mampu memperpanjang nilai bagi seumur hidup pelanggan, agar mereka menjadi setia (loyal customer lifetime value).
Seperti juga halnya pada perusahaan UPPKS Balla Ratea yang masih berskala industry mikro, supaya perusahaan ini dikenal oleh lapisan masyarakat atau konsumen serta dapat bertahan hidup, maka salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah penerapan bauran pemasaran. Di dalam bauran pemasaran, sebelum produk kita sampai ditangan konsumen, ada empat variable yang harus kita perhatikan, yaitu pertama, kita harus menentukan produk apa yang dibutuhkan oleh konsumen; kedua, menetapkan harga produk;
ketiga, melakukan kegiatan promosi; dan yang keempat, adalah kita harus mengetahui di mana, siapa dan kapan produk tersebut dibutuhkan oleh konsumen. Dan untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Gambar 1 yang ada dibawah.
Berdasarkan tinjauan teoritis, maka kerangka fikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar : Kerangka Pikir UPPKS Balla Ratea
Penerapan Bauran Pemasaran Sarabba Instan
Promosi
Produk Harga Lokasi
Penjualan
Hasil Konsumen
22 A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada UPPKS Balla Ratea, yang bertempat di Jl. Pelita No.74 Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, yang dimulai pada bulan pada tanggal 30 Juni sampai pada tanggal 30 Juli 2016.
B. Pendekatan Penelitian
Rapid Rural Appraisal (RRA), yaitu suatu pendekatan partisipatif untuk mendapatkan data/informasi dan penilaian (assesment ) secara umum di lapangan dalam waktu yang relatif pendek. Pengumpulan informasi dan data dilakukan secara FGD (Fokus Group Discussion) yaitu memusatkan kepada diskusi atau wawancara mendalam dan wawancara biasa dengan kata lain tidak terikat secara kaku dengan kuisioner.
C. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu:
a. Data primer,
Merupakan data yang didapat dari hasil wawancara dengan pihak perusahaan, baik itu dengan manajernya maupun dengan karyawan- karyawannya.
b. Data sekunder
data yang telah diolah lebih disajikan oleh pihak perusahaan, yaitu sejarah berdirinya UPPKS Balla Ratea.
D. Teknik Pengambilan Data
Metode pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan dua cara, yaitu penggunaan data primer dengan cara observasi dan wawancara (kepada manajer perusahaan serta karyawan) dan melakukan penelusuran berbagai kepustakaan yang relevan dengan tujuan penelitian, serta penggunaan data sekunder, yaitu data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain, dalam bentuk tabel, diagram dan sebagainya.
E. Analisis Data
Analisis data deskriptif hasil dari analisis ini akan memberikan gambaran secara deskriptif tentang bauran pemasaran yang digunakan oleh perusahaan tersebut, serta hambatan-hambatan yang ada pada setiap penetapan bauran pemasaran (Husein Umar, 2012). Namun khusus untuk kegiatan promosi, maka analisis yang digunakan adalah analisis AIDCA (Aware (sadar) – Interest (tertarik) – Desire (berhasrat) – Conviction (sangat yakin) – Action (aksi konsumen)), (Hadari dan Martini, 2013).
24 A. Deskripsi Perusahaan UPPKS Balla Ratea
Usaha Peningkatan Produktivitas Keluarga Sejahtera (UPPKS) berdiri pada bulan Januari Tahun 2007 dengan nama “Mawar”. UPPKS Mawar ini didirikan oleh Dra. Hajirah dengan jumlah anggota 18 orang, dengan dilandasi keinginan untuk berpartisipasi / dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat Gowa khususnya bagi perempuan dalam rangka pengembangan Industri Rumah Tangga (IRT) yang pengelolaannya sangat sederhana.
Dan untuk mendapatkan perhatian pemerintah yang mengharuskan usaha dalam bentuk kelompok. Pada produksi pertamanya, kelompok ini hanya memproduksi sebanyak 5 botol dengan ukuran 330 ml dan produknya dipasarkan di lingkungan sendiri dan masih dalam tahap perkenalan. Selain memproduksi sarabba kelompok UPPKS Balla Ratea juga memproduksi makanan khas Makassar lainnya, Kue Basah dan Kering, Kripik Bawang Merah Dan Kripik Bawang Putih. Pada awal tahun 2008 UPPKS
“Mawar” diganti dengan nama kelompok yang baru, yaitu ‘’Jira “.
Balla Ratea ini merupakan bahasa Makassar yang artinya “Rumah Atas”. Nama ini dipilih dengan alasan bahwa nama “Mawar” sudah banyak yang gunakan , sementara balla ratea atau Jira sangat cocok untuk dijadikan nama penggantinya, karena sesuai dengan usaha yang dijalankan yaitu minuman
tradisional yang diproduksi di sebuah rumah panggung (rumah atas) di Desa yang masih sangat kental adat dan rasa persaudaraannya, yaitu Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa.
Dalam rangka pengembangan usaha, pemerintah memberikan bantuan melalui Dinas Koperasi, Pemberdayaan Perempuan dan BKKBN, berupa insentif untuk membeli botol dan label produk, sehingga “Sarabba Instan”
dijual dengan menggunakan botol dan label, meskipun labelnya belum paten. Pertengahan tahun 2008 kemasan dan lebelnya sudah mulai diperbaiki.
Tahun 2009 UPPKS Balla Ratea sudah mendapatkan izin produksi dengan nomor izin 503/60/SITU/IIIA/2009 dan sertifikat produksi pangan UPPKS dengan nomor P-UPPKS No. 213710602113, serta sertifikat halal dengan No.
06120003260210.
Sejak itu, kemasannya sudah mulai dilengkapi dengan hiasan yang terbuat dari anyaman daun lontar. Pada tahun 2010 jumlah produksinya juga sama dengan tahun 2011 dan 2012, yaitu sebanyak 1.000 sampai 1.200 botol.
Hasil produksinya tidak mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hambatan, salah satu di antarannya adalah bahan baku yang kurang. Produk sarabba instan dipasarkan di pusat ole-ole Makassar, warkop- warkop, café, dan sebagainya.
Selain itu juga di pasarkan ke luar Sulawesi Selatan, seperti Jawa, Bali, Ambon, Jakarta, Palu, Kendari, Surabaya dan sekitarnya. Modal yang digunakan Rp. 22.571.378,-/bulan dan penjualan mencapai Rp.
30.000.000/bulan. Dari hasil penjualan tersebut, sebagian besarnya
perusahaan berikan sebagai kontribusi kepada ibu-ibu rumah tangga yang bergabung untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya. Di mana sesuai dengan visi berdirinya UPPKS Balla Ratea, yaitu meningkatkan kualitas dan taraf hidup masyarakat Gowa khususnya bagi kaum perempuan, maka setelah UPPKS Balla Ratea berproduksi, perusahaan ini memang betul-betul menyediakan lapangan kerja serta membantu karyawannya dalam hal meningkatkan kesejahteraannya. Di mana kontribusi yang diberikan UPPKS Balla Ratea kepada seluruh karyawannya dapat dilihat pada.
Tabel 2. Rumah Tangga yang Bergabung dengan UPPKS Balla Ratea Berdasarkan Umur dan Tanggungan Keluarga 2012 table?
No Nama Umur (tahun) Jumlah tanggungan
keluarga (orang)
Kontribusi (%)
1 Dra. Hajirah 37 1 5,51
2 Kasturi 30 3 5,51
3 Widiyawati 32 2 5,51
4 Hasniah 30 3 4,96
5 Yusmi taha 29 2 4,96
6 Hatijah 37 4 4,96
7 Nuraeni 30 3 4,96
8 Hasnah 29 4 4,96
9 Halimah 31 3 4,96
10 Rahmatiah 32 3 4,96
11 Hamsinah 31 3 4,96
12 Radiah 34 3 4,96
13 Ratna rahim 30 3 4,96
14 Pida 36 5 4,96
15 Dg ti’no 36 4 4,96
16 Dg rannu 33 3 4,96
17 Dg jintu 35 5 4,96
18 Supiana 29 3 4,96
Jumlah 581 57 100.00
Sumber : Data Sekunder UPPKS Balla Ratea, 2012
Tabel 2 menunjukkan jumlah keluarga yang bergabung pada UPPKS Balla Ratea. Di mana yang bergabung adalah sebanyak 18 keluarga dengan jumlah tanggungan keluarga secara keseluruhan adalah sebanyak 63 orang.
Serta menunjukkan jumlah kontribusi yang diberikan kepada karyawan UPPKS Balla Ratea, dimana kontribusi tersebut dapat mempengaruhi kesejahteraan keluarga dari setiap karyawannya.
Karena ada beberapa karyawannya yang sebelum bergabung hanya mendapatkan sebesar Rp. 250.000,- sampai Rp. 400.000,-/bulan, bahkan ada 2 orang karyawannya yang sebelum bergabung memang belum mempunyai pekerjaan sama sekali. Namun setelah mereka bergabung di UPPKS Balla Ratea, pendapatan mereka jadi lebih meningkat.
Ketua kelompok atau manejer serta sekretaris dan bendahara masing- masing menerima kontribusi sebesar Rp. 900.000,-/bulan sedangkan karyawan lainnya menerima kontribusi masing-masing sebesar Rp. 525.000,-/bulan.
Berdasarkan Tabel 1 juga dapat diketahui, bahwa jumlah pendapatan keluarga wanita yang paling tinggi dalam setiap bulannya adalah rata-rata mendapatkan 8,51%/bulan dan yang paling rendah adalah 4,96%/bulan.
B. Visi dan Misi Terbentuknya UPPKS Balla Ratea
Visi merupakan sebuah pandangan ke depan yang hendak dicapai. Visi ini merupakan cara pandang jauh ke depan, ke mana pribadi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Selain itu, visi juga dikatakan sebagai suatu gamabaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan oleh suatu organisasi, (Anonim, 2010).
Misi merupakan pernyataan yang menetapkan tujuan suatu organisasi dan sasaran yang ingin dicapai. Pernyataan misi membawa organisasi kepada suatu fokus. Misi menjelaskan mengapa organisasi itu ada, apa yang dilakukannya dan bagaimana melakukannya. Misi adalah suatu yang harus dilaksanakan oleh organisasi, agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Dengan pernyataan misi tersebut, diharapkan seluruh pegawai dan pihak yang berkepentingan dapat mengenal organisasi dan mengetahui peran dan program-programnya, serta hasil yang akan diperoleh di masa mendatang, (Anonim, 2010).
Adapun visi dari terbentuknya kelompok UPPKS Balla Ratea adalah:
1. Meningkatkan kualitas/taraf hidup masyarakat Gowa khususnya perempuan dalam rangka pengembangan industri rumah tangga yang pengelolaannya sangat sederhana.
2. Melihat semua makanan dan minuman khas Sulawesi khususnya sarabba menjadi makanan dan minuman sehari-hari (membudayakan makanan dan minuman khas Sulawesi).
Adapun misi dari perusahaan UPPKS Balla Ratea, adalah sebagai berikut:
1. Menigkatkan kualitas dan kuantitas produk, sehingga konsumen tetap menyukai produk tersebut.
2. Mengubah alat yang digunakan dalam pengolahannya dari manual menjadi modern supaya proses produksinya cepat.
3. Menyiapkan kedai mobil yang dapat mengambil produk-produk yang tidak bisa dipasarkan oleh pengusahanya disetiap kantor-kantor khususnya di Makassar.
4. Menambah jumlah tenaga kerja dan meningkatkan kerja profesional, supaya usaha tetap berjalan dengan lancar.
Tabel 3. Program Kerja UPPKS Balla Ratea di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa Periode 2012.
No Jenis Kegiatan Lokasi Penanggung
Jawab
Keterangan 1 Produksi Sarabba Rumah Ketua
& Anggota
Ketua Kelompok 2 Penjualan Produksi Pesanan &
Jajanan
Pengurus Anggota 3 Rapat Pengurus Rumah Ketua
Kelompok
Ketua Kelompok 4 Pembinaan
Kelompok
Rumah Anggota Kelompok
Pembina Kelompok
5 Pembinaan Adminitrasi
Rumah Ketua Kelompok
Pengurus 6 Pembentukan
Arisan
BPM Ketua Kelompok
7 Pengajian Triwulan BPM Ketua Kelompok 8 Penyuluhan
Pertemuan
Rumah Ketua Kelompok
Instansi Terkait
9 Mengikuti Pameran BPM Ketua kelompok Disesuaikan 10 Pengembangan
Produksi
BPM Ketua kelompok Disesuaikan 11 Perayaan
Peringatan Hari Raya
BPM Ketua kelompok
& anggota
Tujuan pada setiap bagian (bidang) dalam perusahaan perlu ditetapkan agar dapat dijadikan sebagai pedoman untuk beraktivitas demi mencapai tujuan perusahaan secara maksimal. Adapun misi dari setiap bidang perusahaan adalah sebagai berikut: Pimpinan perusahaan merupakan ahli strategi yang memastikan bahwa sasaran organisasi akan dapat tercapai. Dalam hal ini perubahan sosial, inovasi teknologi dan meningkatnya kompetisi merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh setiap pemimpin. Oleh karena itu, sangat dituntut bahwa pemimpin hendaknya memiliki talenta yang tinggi.
Misi dari pimpinan perusahaan di sini yaitu “mengatur semua sumber daya perusahaan dalam mencapai keuntungan, sehingga dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan”. Pengadaan produksi ini sangat penting dalam perusahaan, karena dengan adanya bagian ini, maka semua bahan baku yang dibutuhkan dalam suatu perusahaan dapat diperoleh. Adapun misi dari bagian pengadaan bahan baku, yaitu “mengatur pasokan bahan baku agar selalu lancar, demi kelancaran kegiatan
produksi”.
Produksi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Apabila produksi dalam perusahaan ini terhenti, maka otomatis kegiatan dalam perusahaan tersebut akan terhenti pula. Misi dari bagian produksi ini, yaitu “ memproduksi “Sarabba Instan” dengan kualitas dan kuantitas yang baik agar dapat memenuhi keinginan konsumen”. Hasil produksi
“Sarabba Instan” selanjutnya dipasarakan. Kepuasan pelanggan dalam
kegiatan pemasaran ini sangatlah diperhatikan dengan harapa bahwa konsumen akan tertarik untuk tetap membeli produk yang dihasilkan, sehingga perusahaan akan memperoleh laba. Adapun misi dari bagian pemasaran ini, yaitu “meningkatkan volume penjualan dan memperluas wilayah pemasaran”.
Namun semua itu tidak akan terlaksana apabila tidak ditunjang dengan promosi, karena pada dasarnya kegiatan promosi adalah merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan pemasaran, karena adanya kegiatan inilah sehingga konsumen jadi tahu bahwa ternyata sekarang sudah ada sarabba instan yang bukan hanya berbentuk bubuk saja, tetapi sudah ada yang berbentuk cair.
Selain dari pada itu, hal yang sangat penting adalah struktur organisasi untuk menunjukkan kedudukan, tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda pada setiap tenaga kerja yang terlibat dalam perusahaan untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Struktur organisasi yang dikembangkan kiranya dapat membantu
perusahaan mencapai tujuan tersebut.
Adapun struktur organisasi pada UPPKS Balla Ratea dapat dilihat pada Gambar 2.
Ketua Umum Dra.Hajirah
Sekretaris
Muliana Bendahara
Widiyawati.SPt
Manager Produksi Nurhaedah
Manager Pemasaran Karmila
Anggota
Gambar 2 dapat dilihat bahwa struktur organisasi di perusahaan UPPKS Balla Ratea, terdiri dari pimpinan perusahaan yang dipegang oleh Dra. Hajira.
Selain sebagai pemimpin perusahaan, ibu Hajira juga ikut serta merangkap dalam semua bagian yaitu bagian pengadaan bahan baku, bagian produksi, promosi dan bagian pemasaran. Hal ini terjadi, karena kurangnya tenaga kerja yang ada dalam perusahaan tersebut, serta masih minimnya pengetahuan tenaga kerjanya tentang kriteria bahan baku yang dibutuhkan dalam usaha tersebut.
C. Sumber Daya Lahan dan Bangunan
Menurut Sitorus, (2011) dalam Wawan (2010), sumber daya lahan dan bangunan merupakan sumber daya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian, daerah industri, daerah pemukiman, jalan untuk daerah taransportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. Sumber daya lahan (Land Resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim, tanah, air serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Berikut dapat dilihat lay out dari UPPKS Balla Ratea
Gambar 3. Lay Out Perusahaan UPPKS Balla Ratea di Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa 2012.
Luas lahan yang dimiliki oleh UPPKS Balla Ratea adalah 98 m². Lahan tersebut terdiri atas beberapa bangunan. Bangunan tersebut berupa ruang produksi dengan luas 4 x 5 m². Tempat produksi dibuat sengaja lebih luas dibandingkan dengan ruangan lainnya, agar para karyawan lebih bebas untuk bergerak dan membuat produk. Selain ruang produksi, terdapat ruangan yang letaknya berdampingan dengan ruang produksi yaitu ruang pencucian dengan luas 3 x 3 m² dan juga terdapat toilet yang memiliki luas 2 x 3 m², tempat pengemasan memiliki luas 3 x 5 m² dan tempat penyimpanan letaknya berdampingan dengan ruang pengemasan memiliki luas 3 x 3 m², ruang pimpinan terletak di dalam kantor dengan luas 3 x 3 m² dan kantor memiliki luas 5 x 6 m². Kantor sengaja dibuat
RUANG PRODUKSI
( 4X5 M ) Ruang Pencucian
( 3x3 m ) Toilet ( 2x3 m )
Ruang Pengemasan (3x5 m)
9 (
Ruang Pimpinan (3x3 m) Kantor (5 x 6
m)
Ruang Penyimpanan (3x3 m)
lebih luas karena kantor juga digunakan untuk menemui pelanggan dan sebagai tempat bertransaksi. Harapan yang diinginkan ibu Hajira ke depannya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya, menambah luas area produksinya serta memperluas jaringan kerjanya supaya pemasaran “Sarabba Instan” dapat mencapai taraf internasional.
D. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia merupakan komponen penting dalam organisasi yang memegang peranan yang sangat besar sebagai salah satu sumber keunggulan kompetitif dan elemen kunci untuk meraih kesuksesan dalam bersaing dan mencapai tujuan organisasi, karena tanpa adanya sumber daya manusia, maka kegiatan tidak akan terlaksana.
Tabel 4. Sumber Daya Manusia pada UPPKS Balla Ratea di Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, 2012
N0 Jabatan Status Pendidikan Jumlah(Orang)
1 Pimpinan Tetap SI 1
2 Sekretaris Tetap SMA 1
3 Bendahara Tetap SI 1
4 Bagian Pengadaan Bahan Baku
Tetap SMA 2
5 Bagian Produksi Tetap SMP 9
6 Bagian Pengemasan Tetap SMA 2
7 Labeling Tetap SMA 2
8 Bagian Promosi Tetap SI 1
9 Bagian Pemasaran Tetap SI 1
Total 28
Sumber Data Sekunder UPPKS Balla Ratea 2012.
Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat bahwa dalam UPPKS Balla Ratea ini, memiliki sumber daya manusia yang terdiri dari pimpinan 1 orang, bagian pengadaan bahan baku 2 orang, bagian produksi 9 orang, bagian pengemasan 2 orang, bagian labeling 2 orang dan bagian promosi 1 orang karyawan tetap, begitupun juga dengan yang berada di bagian pemasaran, 1 orang karyawan tetap.
Selain karyawan tetap terdapat pula 4 orang karyawan atau tenaga kerja lepas yang bertugas untuk melakukan kegiatan promosi sekaligus memasarkan sarabba instan. Tenaga kerja lepas tersebut tidak digaji oleh perusahaan, tetapi mereka mendapatkan potongan dari hasil penjualannya sebesar 5 % sampai 10 % / botol. Jadi karyawan lepas memperoleh pendapatan dari diskon hasil penjualan, besarnya pendapatan yang diperoleh tergantung dari jumlah sarabba yang terjual.
Dalam merekrut tenaga kerja, perusahaan ini tidak menggunakan tes secara formal, tetapi hanya melihat kemampuan atau keahlian dari pelamar, yaitu mampu bekerja dan terampil dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Karyawan yang bekerja pada UPPKS Balla Ratea terkadang bekerja 5-7 jam/hari.
Karyawan mulai bekerja pada pukul 10.00 WITA dan biasanya selesai pada pukul 17.00 WITA. Lamanya waktu kerja juga tergantung dengan banyaknya pesanan. Semakin banyak pesanan, maka waktu kerja mereka semakin lama. Menurut karyawan di perusahaan tersebut, bahwa mereka mulai bekerja saat semua pekerjaan rumahnya selesai, utamanya dalam mengurus anak- anak mereka dan juga suami-suami mereka yang akan pergi mencari nafkah untuk keluarganya. Pada dasarnya gaji karyawan pada UPPKS Balla Ratea tidak menentu setiap bulannya. Karena sampai saat ini bahan bakunya belum bisa
memenuhi kebutuhan produksi perusahaan, maka kegiatan produksi di perusahaan tersebut tidak kontinyu. Sehingga pihak perusahaan memberikan gaji kepada karyawannya sebesar Rp. 5000,-/jam/orang.
E. Sumber Daya Peralatan
Sumber daya peralatan adalah alat dan mesin yang dimiliki oleh perusahaan untuk menjalankan kegiatan produksi-produksi maupun distribusi.
Peralatan tersebut mencakup peralatan operasional maupun peralatan produksi. Di mana jenis, jumlah dab harga alat tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah dan Harga Peralatan Dapur pada UPPKS Balla Ratea di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, 2012
No Nama Alat Jumlah Alat
(Buah/Unit)
Harga Satuan (Rp)
Nilai (Rp)
1 Kompor gas 3 240.000 720.000
2 Tabung gas 3 250.000 750.000
3 Baskom 7 30.000 210.000
4 Panic 4 70.000 280.000
5 Ember 3 30.000 90.000
6 Pisau 12 3.000 36.000
7 Sendok kecil 12 2.000 24.000
8 Sendok
pengaduk
4 4.000 16.000
9 Saringan 3 7.000 21.000
10 Gelas ukur 6 38.000 228.000
11 Cerek 3 25.000 75.000
12 Timbangan 2 120.000 240.000
13 Sikat cuci 5 3.000 15.000
14 Blender 3 375.000 112.5000
15 Blender (kap.20 kg/jam)
1 8.000.000 8.000.000
16 Kompor biogas 1 19.500.000 19.500.000
17 Panci ukuran 20 L
1 2.000.000 2.000.000
18 Mesin pemotong bahan baku
1 12.500.000 12.500.000
19 Selang gas 3 15.000 45.000
20 Regulator 3 50.000 150.000
Jumlah 80 43.262.000 46.025.000
Sumber : Data Sekunder UPPKS Balla Ratea, 2012
Tabel 5 menggambarkan sarana dan prasarana yang ada pada UPPKS Balla Ratea Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Adapun penjelasan dari peralatan-peralatan tersebut di atas adalah sebagai
berikut:Kompor gas merupakan alat yang digunakan untuk memasak dengan menggunakan tabung gas sebagai penghasil api. Kompor gas yang dimiliki perusahaan UPPKS Balla Ratea sebanyak 3 buah. Kompor gas ini digunakan untuk memasak semua bahan baku yang telah dicampur guna membuat
“Sarabba Instan”. Baskom ini digunakan untuk mencuci bahan baku sebelum memasak bahan baku tersebut.
Baskom yang dimiliki oleh perusahaan UPPKS Balla Ratea sebanyak 7 buah. Panci adalah alat untuk memasak atau merebus. Panci tersebut terbuat dari besi aluminium maupun stain less. Panci yang digunakan oleh UPPKS Balla Ratea sebanyak 4 buah. Panci ini digunakan untuk merebus atau memasak semua bahan baku pembuatan “Sarabba Instan”. Pisau yang dimiliki oleh perusahaan UPPKS Balla Ratea berjumlah 24 buah, pisau ini digunakan untuk memotong atau mengupas bahan baku, yaitu jahe.
Tabung gas merupakan alat yang dipakai untuk menyimpan gas yang dibutuhkan dalam pemakaian kompor gas. Adapun jumlah tabung gas yang dimiliki oleh perusahaan UPPKS Balla Ratea sebanyak 3 buah. Selang gas merupakan alat yang dipakai untuk menghubungkan antara kompor gas dengan tabung gas, sehingga gas yang berada dalam tabung gas dapat tersalur sampai ke kompor gas.
Adapun jumlah selang yang dimiliki oleh UPPKS Balla Ratea adalah 3 buah. Regulator merupakan alat yang digunakan bersama dengan kompor gas, selang gas dan tabung gas. Alat ini berfungsi untuk menyambungkan antara gas dengan selang gas serta berfungsi untuk mengatur gas yang
masuk ke kompor gas. Regulator yang dimiliki UPPKS Balla Ratea adalah sebanyak 3 buah. Ember merupakan alat yang digunakan untuk mencuci bahan baku dan digunakan bersama dengan baskom, dengan jumlah alat ini sebanyak 3 buah. Sikat cuci merupakan alat yang digunakan untuk menyikat jahe, supaya kotoran-kotoran yang menempel hilang.
Sikat cuci ini berjumlah 5 buah. Sendok pengaduk yang dimiliki oleh perusahaan UPPKS Balla Ratea sebanyak 4 buah. Sendok pengaduk ini terbuat dari batang kelapa dan digunakan untuk mengaduk bahan baku yang dimasak dalam pembuatan “Sarabba Instan”, agar campuran adonannya rata.
Saringan yang dimiliki perusahaan Balla Ratea sebanyak 3 buah, saringan ini digunakan pada saat sarabba selesai dimasak untuk menyaring sisa-sisa ampas dari jahe, supaya sarabba bebas dari ampas.
Timbangan digunakan untuk melakukan pengukuran massa dari bahan baku yang digunakan untuk membuat “Sarabba Instan”. Timbangan ini berjumlah 2 buah. Gelas ukur digunakan untuk mengukur santan yang akan dicampur dengan jahe dan gula merah. Selain itu, gelas ukur ini juga digunakan untuk mengukur berapa banyak sarabba yang akan dimasukkan ke dalam kemasan (botol plastik).
Gelas p engukur ini berjumlah 6 buah. Sendok digunakan untuk mengukur sarabba, sendok ini berjumlah 12 buah atau 1 lusin. Cerek merupakan tempat air minum, cerek ini digunakan untuk memasukkan sarabba ke dalam kemasan botol plastik, supaya proses pengemasannya lebih mudah dilakukan.
Cerek ini berjumlah 3 buah. Blender (mesin penggiling) digunakan untuk
menggiling jahe yang t elah dibersihkan. Penggilingan ini dilakukan supaya memudahkan dalam penyaringan, alat ini berjumlah 3 buah. Ada 4 buah alat baru yang belum pernah digunakan dan baru akan digunakan setelah pabriknya selesai, yaitu blender dengan kapasitas 20kg/jam, tabung biogas, panci ukuran 20 liter dan mesin pemotong bahan baku. Untuk mengetahui jumlah peralatan kantor yang ada pada UPPKS Balla Ratea, maka dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah dan Harga Peralatan Kantor pada UPPKS Balla Ratea di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, 2012.
No Nama
Alat
Jumlah Alat (Buah/Unit)
Harga Satuan
(Rp)
Nilai (Rp)
1 Computer 1 4.500.000 4.500.000
2 Printer 1 1.200.000 1.200.000
3 Meja
Kantor
1 800.000 800.000
4 Kursi 1 200.000 200.000
5 Rak Buku 1 325.000 325.000
6 Telepon 1 500.000 500.000
7 Lemari
Produk
1 450.000 450.000
Jumlah 7 7.975.000 7.975.000
Sumber : Data Sekunder UPPKS Balla Ratea, 2012
Tabel 6 menggambarkan sarana peralatan kantor yang ada pada UPPKS Balla Ratea Desa Taeng Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Adapun penjelasan dari peralata-peralatan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
Komputer yang dimiliki oleh perusahaan UPPKS Balla Ratea sebanyak 1 unit,
komputer ini digunakan untuk mengolah dan menyimpan data-data pengeluaran dan pemasukan perusahaan. Printer yang ada diperusahaan UPPKS Balla Ratea berjumlah 1 unit, printer ini berfungsi untuk mencetak file atau data-data yang ada dalam komputer.
Meja kantor yang dimiliki oleh perusahaan UPPKS Balla Ratea sebanyak 1 unit, meja ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan komputer. Kursi kantor yang ada diperusahaan ini sebanyak 1 buah, kursi ini digunakan oleh karyawan yang ada di perusahaan tersebut. Perusahaan UPPKS Balla Ratea memiliki lemari atau rak buku sebanyak 1 buah, lemari ini digunakan untuk menyimpan semua buku dan arsip-arsip yang berhubungan dengan perusahaan. Dan lemari produk yang dimiliki oleh perusahaan sebanyak 1 buah, lemari ini berfungsi untuk menyimpan semua produk yang siap dipasarkan. Telepon yang dimiliki oleh perusahaan UPPKS berjumlah 1 unit, telepon ini berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi yang digunakan oleh karyawan dengan pelanggangnya atau rekan kerjanya.
F. Sumber Daya Finansial
Keberadaan sumber daya finansial cukup berpengaruh terhadap kelancaran suatu usaha. Sumber daya inilah yang dapat menunjang ketersediaan berbagai sumber daya lain yang diperlukan dalam proses produksi dan kegiatan operasional lainnya. Sumber daya finansial merupakan segala sesuatu yang dimiliki perusahaan baik berupa uang tunai maupun harta benda lainnya yang sewaktu-waktu dapat diuangkan guna mendukung aktivitas perusahaan dalam
pengembangan usaha yang dikelolah, (Syam dkk, 2006: dalam Reski Amelia dkk, 2010).
Dari uraian di atas, kita dapat memperoleh gambaran mengenai pentingnya upaya untuk memanfaatkan sumber daya finansial seefisien mungkin dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat. Fungsi utama dari sumber daya finansial yaitu untuk mengadakan sumber daya lainnya yang diperlukan oleh perusahaan, agar kebijakan manajemen tidak salah arah, maka sumber daya finansial harus disusun berdasarkan perhitungan yang rill dapat berfungsi sebagai pedoman kerja yang memberikan arah dan target-target tertentu yang harus dilakukan oleh perusahaan.
Aktiva adalah sarana atau sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh suatu kesatuan usaha atau perusahaan yang perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif. Aktiva lancar (current assets), yang terdiri dari: kas, piutang, persediaan. Aktiva tetap ( fixed assets) yang terdiri dari: peralatan, gedung, tanah. Sedangkan passiva adalah pengorbanan ekonomis yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan pada masa yang akan datang.
Pengorbanan untuk masa yang akan datang ini terjadi akibat kegiatan usaha, kewajiban ini dibedakan menjadi utang lancar dan utang jangka panjang.
Utang (liabilities) merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan yang dapat digolongkan: utang lancar (current liabilities) antara lain: utang dagang dan utang wesel dan utang jangka panjang (long term debt) antar lain utang bank, utang obligasi dan utang hipotek. Modal (capital) merupakan hak milik perusahaan atas total harta (aktiva) yang ada dalam perusahaan.
Besarnya hak milik tersebut sama dengan aktiva bersih perusahaan, yaitu sisa aktiva setelah dikurangi total utang. Contohnya modal: modal sendiri, modal persekutuan, modal saham, (Tata, 2008; dalam Hartini dkk, 2010). Aktiva (harta tetap) yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 140.000.000,- yang terdiri dari lahan yang dimiliki oleh perusahaan seluas 16 m x 9 m = 144 m² dengan harga 250.000/m², jadi harga lahannya adalah sebesar Rp 36.000.000,- dan bangunan yang dimilikinya adalah senilai Rp. 50.000.000,-, jadi total harga lahan dan bangunannya adalah Rp. 86.000.000,-. Serta akumulasi penyusutan peralatan produksi dan kantor sebesar Rp. 54.000.000,-/tahun.
Dan Passiva (utang lancar) yang dimiliki oleh perusahaan adalah sebesar Rp. 22.571.378,-, yang terdiri dari biaya gaji karyawan sebesar Rp. 11.725.000,- /bulan, di mana gaji untuk pimpinan sebesar Rp. 1.000.000,-/bulan, untuk sekretaris dan bendahara sebesar Rp. 900.000,-/bulan dan untuk karyawan lainnya masing-masing sebesar Rp. 525.000,-/bulan, dan biaya bahan baku sebesar Rp.
9.190.378,-/bulan dan utang lancar, yaitu sebesar Rp. 1.656.000,-.
45 A. Bauran Pemasaran (marketing mix)
Merupakan kombinasi dari empat variabel yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan seefektif mungkin yakni : product (produk), price (harga), place (tempat atau distribusi), dan promotion (promosi).
1. Product ( Produk )
Produk utama yang dimiliki oleh UPPKS Balla Ratea adalah “Sarabba Instan”. Sarabba instan merupakan minuman tradisional khas Makassar yang dikembangkan dengan tujuan agar minuman tradisional tersebut dapat dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya di Makassar dan juga masyarakat yang ada di luar Indonesia. Sarabba ini berbeda dengan sarabba- sarabba yang diproduksi oleh perusahaan lain yang berbentuk bubuk dan minuman dengan kemasan kotak.
Dilihat dari segi bentuk fisiknya, maka sarabba instan yang diproduksi oleh UPPKS Balla Ratea tersebut merupakan produk yang berbentuk cair dan kental yang dikemas dengan menggunakan botol plastik dan dilengkapi dengan anyaman dari daun lontar atau dengan nama lain menggunakan keranjang khas buatan orang Makassar, sebagai ciri khas dari produk tersebut.
Sarabba instan dapat bertahan sampai ± 6 bulan, namun produk yang diambil oleh konsumen perantara bisaanya maksimal hanya sampai ± 2 bulan
produknya sudah habis terjual. Selain itu, produk ini cocok disimpan di tempat yang dingin seperti freezer . Dilihat dari segi ukuran, maka sarabba instan yang diproduksinya ada tiga jenis ukuran, yaitu ukuran yang pertama 330 ml (terkecil), ukuran yang kedua 500 ml (sedang) dan ukuran yang ketiga adalah 630 ml (besar).
Di antara ketiga jenis ukuran produk tersebut, maka ukuran yang digunakan oleh perusahaan pada saat pertama kali melakukan produksi atau membuat sarabba instan adalah ukuran 330 ml. Pada tahun 2008 jumlah produksinya sudah mulai meningkat yaitu sampai maksimal 500 botol, sehingga ukurannya ditambah dua yaitu ukuran 500 ml dan 630 ml dengan pertimbangan bahwa ukuran produk yang hanya satu jenis akan sulit dipasarkan karena kebutuhan konsumen yang berbeda-beda serta permintaan sasaran pasar yang membutuhkan ukuran yang lebih besar lagi, seperti rumah makan, café, warkop dan sebagainya.
Walaupun ukuran produknya berbeda-beda, namun kemasannya tetap satu jenis, yaitu menggunakan botol aqua plastik. Dengan adanya kemasan botol plastik ini, maka sarabba instan, selain menjadi produk inti maka ia juga sudah mampu menjadi produk generik. Dan untuk menjadi produk harapan, maka perusahaan juga sudah mendapatkan surat izin dari pemerintah yang bersangkutan tentang izin mendirikan usaha industri tanaman pangan dan sertifikat yang menunjukkan bahwa produknya halal dikonsumsi.
Untuk menjadi produk pelengkap, maka sejak tahun 2008/2009 perusahaan sudah menggunakan label dan juga hiasan kemasan produk yang
terbuat dari anyaman daun lontar yang sekaligus menjadi ciri khas dari kemasan produk perusahaan tersebut. Pada awal tahun 2010 yaitu bulan Januari jumlah produksinya meningkat lagi yaitu sebanyak 1000 sampai 1200 botol/bulan.
Dan masih berlangsung sampai tahun ini yaitu tahun 2012. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 7. Jumlah Produksi Sarabba Instan UPPKS Balla Ratea di Kecmatan Pallangga Kabupaten Gowa, 2012
Ukuran Kemasan
Produksi Botol
Januari Februari Maret April Mei
330 ml 300 300 300 300 450
500 ml 360 360 360 360 410
600 ml 240 240 240 240 240
Jumlah prroduksi
1.000 1.000 1.000 1.000 1.200
Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah produksi sarabba pada bulan Januari sampai bulan April adalah masing-masing sebanyak 1.000 botol dan pada bulan Mei jumlah produksinya sebanyak 1.200 botol. Hal ini disebabkan karena bulan Mei ibu Jirah mengikuti pameran di Surabaya, sehingga UPPKS Balla Ratea mengusahakan jumlah produksinya lebih dari 1.000 botol dengan tetap menggunakan tiga jenis ukuran kemasan yang berbeda, yaitu 330 ml, 500 ml dan 630 ml. Tabel 6 juga menunjukkan, bahwa untuk sarabba yang berukuran 330 ml produksinya rata-rata 300 botol/bulan, kecuali pada bulan Mei, produksinya