BAB III Deskripsi Lokasi Penelitian
3.2 Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kota Medan
3.2.4 Sumber Daya
a. Sumber Daya Manusia
KEPALA DINAS KESEHATAN
SEKRETARIS SUB.BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN SUB.BAGIAN PENYUSUN PROGRAM SUB BAGIAN UMUM BIDANG PENGEMBANGAN SDM KESEHATAN BIDANG KEFARMASIAN JAMINAN DAN SARANA
KESEHATAN SEKSI PERANCANGAN DAN PENDAYAGUNAAN SEKSI KEFARMASIAN SEKSI JAMINAN KESEHATAN SEKSI SARANA PERALATAN KESEHATAN SEKSI PENDIDIKAN DAN KEPELATIHAN SEKSI REGISTRASI DAN AKREDITAS UPT BIDANG PENGENDALIAN MASALAH KESEHATAN BIDANG BINA PELAYANAN KESEHATAN KELOMPOK FUNGSIONAL SEKSI PENGENDALIAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT SEKSI WABAH DAN BENCANA SEKSI KESEHATAN LINGKUNGAN SEKSI KESEHATAN DASAR SEKSI KESEHATAN RUJUKAN SEKSI KESEHATAN KHUSUS
Jumlah SDM per 31 Desember 2011 untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kota Medan adalah sebanyak 1746orang
b. Sumber Daya Lainnya
Sumber daya lainnya termasuk didalamnya Sarana dan Prasarana untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Kota Medan adalah sebagai berikut:
c. Bangunan Kantor
Bangunan gedung kantor Dinas Kesehatan Kota Medan adalah bangunan permanen yang kondisinya baik.
1. Kendaraan Dinas Kesehatan(Roda 4 dan Roda 2)
Kendaraan Roda empat berjumlah 65 (enampuluh lima) unit dengan rincian sebagai berikut Ambulance 7 (tujuh) unit, puskesmas keliling 39 (tiga puluh sembilan) unit, mobil operasional gudang farmasi 1 (satu ) unit, mobil operasional Dinas 7 (tujuh) unit, Mobil operasionil DBD 4 (empat ) unit, mobil dinas 1 (satu) unit, mobil emergensi 3 (tiga) unit, mobil operasional fogging 1 (satu) unit. mobil sarana pendistribusian farmasi 2 (dua) unit. Sedangkan kendaraan Roda 2 berjumlah : 215 (dua ratus lima belas) unit.
Kendaraan ini dipergunakan untuk memperlancar dan menunjang tugas untuk mencapai visi dan misi Dinas Kesehatan Kota Medan.
2. Fasilitas Lainnya
Komputer, printer, fax, internet dan lainnya. Fasilitas ini sangat menunjang pekerjaan. Terlebih dengan sudah berjalannya fasilitas internet, sistem informasi dari Dinas ke Puskesmas atau sebaliknya sudah dapat berjalan lebih baik.
BAB IV
PENYAJIAN DATA
Setelah melakukan penelitian dan pengumpulan data di lapangan melalui wawancara dan observasi atau pengamatan secara langsung, maka diperoleh data responden dalam kaitannya dengan implementasi Perda No.4 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota di Dinas Kesehatan Kota Medan.
Adapun data-data yang disajikan terdiri dari dua bagian, yaitu data identitas responden dan data variabel penelitian. Penyajian data identittas responden adalah untuk mengetahui spesifikasi (ciri-ciri khusus) yang dimiliki oleh responden, yaitu meliputi jenis kelamin, usia, dan pendidikan terakhir. Sedangkan penyajian data tentang variabel penelitian adalah untuk menjawab permasalahan penelitian. Data-data tersebut disajikan sebagai berikut :
4.1Identitas Responden
Tabel 4.1 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1 Laki-Laki 3 75%
2 Perempuan 1 25%
Jumlah 4 100%
Sumber : wawancara 2014
Dari tabel diatas dapat dilihat identitas responden berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki 3 orang, dan perempuan 1 orang.
No. Pendidikan Frekuensi Persentase 1 SD - 0% 2 SLTP - 0% 3 SLTA 1 25% 4 Diploma/Sarjana 3 75% Jumlah 4 100% Sumber : Wawancara 2014
Dari Tabel Diatas dapat dilihat bahwa identitas responden berdasarkan pendidikan terakhir yaitu Tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) tidak ada, sedangkan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebanyak satu orang dan pada tingkat Diploma/Sarjana sebanyak 3 orang.
4.2 Hasil Wawancara
Wawancara merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi dari informan kunci tentang implementasi Perda No.4 Tentang Sistem Kesehatan Kota di Dinas Kesehatan Kota Medan melalui koordinasi dan kerjasama lintas sektor.
Sesuai dengan rancangan penelitian, telah ditetapkan jumlah informan kunci sebanyak 1 (satu) orang. Orang yang ditetapkan sebagai informan kunci dalam penelitian ini adalah orang yang dianggap dapat menjawab segala sesuatu yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini, yaitu yang berhubungan dengan proses implementasi Sistem Kesehatan Kota Medan. Yang menjadiinforman kunci dalam penelitian ini yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan.Sedangkan yang menjadi informan utama dalam penelitian ini sebanyak satu orang,
yaituKepala Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, yang bertanggung jawab menangani Sistem Kesehatan Kota Medan. Dalam penelitian ini juga terdapat informan tambahan yaitu masyarakat.
Tipe wawancara yang dipilih oleh penulis yaitu tipe wawancara berstruktur, dimana sebelum memulai wawancara terlebih dahulu penulis menyusun daftar pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun jelas berhubungan dengan proses implementasi Sistem Kesehatan Kota Medan tersebut. Namun didalam prosesnya sendiri, penulis tidak menutup kemungkinan akan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru yang dapat menggali informasi lebih dalam dari para informan.
Dilihat dari Indikator Implementasi Kebijakan, antara lain :
1. Komunikasi
Keberhasilan implementasi kebijakan masyarakat adalah implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransisikan kepada kelompok sasaran sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok- sasaran, maka kemugkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran. Maka peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Bagian Bina Pelayanan Kesehatan, yaitu dr. Iman Surya, dengan pertanyaan :
1. Siapakah yang menginisiasi lahirnya Peraturan Daerah ini? (Sejarah lahirnya Peraturan Daerah)
Jawab : Usulan Rancangan Peraturan Daerah ini dimulai oleh Dinas Kesehatan Kota Medan dikarenakan adanya aturan lebih tinggi, yaitu Peraturan Menteri Kesehatan bahwa masing-masing daerah diarahkan untuk menyusun sistem kesehatannya sendiri, atas dasar itu Pemerintah Daerah Kota Medan melalui Dinas Kesehatan Kota Medan mulai merancang
Sistem Kesehatan Kota Medan. Proses pembuatan Sistem Kesehatan ini dimulai pada tahun 2007, yang masih berupa naskah akademis dengan melibatkan lintas sektoral dalam pembahasannya, seperti tokoh-tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerhati kesehatan. Kemudian berlanjut kembali pada tahun 2009 yaitu dilakukan studi banding oleh dinas kesehatan dan anggota DPRD Kota Medan ke Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Serang, dikarenakan Provinsi Jawa Tengah telah mengeluarkan Peraturan Gubernur tentang Sistem Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Serang juga telah mengeluarkan Peraturan Daerah tentang Sistem Kesehatan Kabupaten. Setelah melakukan studi banding Dinas Kesehatan berkonsultasi dengan DPRD, dan kemudian diputuskan bahwa akan dibuat Peraturan Daerah Tentang Sistem Kesehatan Kota.
Tetapi pada tahun 2010 pengerjaannya terhenti sementara, kemudian pada tahun 2011 Dinas Kesehatan mulai mengajukan ke DPRD untuk dilakukan pembahasan, dan pada Febuari tahun 2012 selesailah pembahasan dan ditetapkan sebagai Peraturan Daerah Kota Medan Tentang Sistem Kesehatan Kota. Namun dalam implementasimya hingga tahun 2014, Peraturan Daerah tentang Sistem Kesehatan Kota Medan ini belum bisa berjalan dikarenakan beberapa hal.
2. Bentuk dan sosialisasi seperti apa yang telah dilakukan dalam mensosialisasikan Sistem Kesehatan Kota kepada masyarakat?
Jawab : Sosialisasi saat ini belum dilakukan ke masyarakat, masih sosialisasi di internal Dinas Kesehatan Kota Medan.
3. Apa yang menjadi penghambat tidak terlaksananya sosialisasi Sistem Kesehatan Kota ke masyarakat?
Jawab : Hal yang menjadi penghambat dalam mensosialisasikan ke masyarakat adalah pertama, karena adanya perubahan struktur di dalam internal dinas kesehatan dan pergantian pimpinan setelah pengesahan Peraturan Daerah tersebut, sehingga pembahasan Sistem Kesehatan Kota Medan ini tidak sampai kepada pembahasan yang lebih teknis, yaitu sampai kepada Pembuatan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan Sistem Kesehatan Kota, sehingga Sistem Kesehatan Kota ini seperti terlupakan untuk dilaksanakan. Kedua, karena permasalahan anggaran yang kurang untuk pelaksanaan Peraturan daerah tersebut yang membuat segala bentuk aktivitas yang sudah direncanakan terbatasi untuk dilaksanakan.
4. Bagaimana bentuk sosialisasi kepada instansi-instansi yang berperan dalam pelaksanaan teknis dilapangan, seperti Rumah sakit dan Puskesmas, terkait dengan Sistem Kota Medan tersebut?
Jawab : belum ada dilakukan sosialisasi kepada instansi-instansi kesehatan seperti, Puskesmas, maupun Rumah Sakit terkait Sistem Kesehatan Kota yang telah disahkan melalui Peraturan Daerah. Sosialisasi masih dilakukan di internal Dinas Kesehatan Kota Medan. 5. Apa yang menjadi penyebab tidak terlaksananya Sosialisasi kepada pelaksana teknis, yaitu
Rumah Sakit dan Puskesmas?
Jawab : Kembali lagi, ruang gerak Dinas Kesehatan terbatasi oleh anggaran yang minim dalam memberikan sosialisasi kepada Rumah sakit dan Puskesmas dan belum ada Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang dapat dijadikan acuan kerja.
6. Koordinasi seperti apa yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan dengan kesemua sektor yang terdapat didalam Peraturan Daerah (BAB XIV) dalam melaksanakan Peraturan Daerah tentang Sistem Kesehatan Kota tersebut? Apakah sudah berjalan kesemua sektor?
Jawab : belum ada koordinasi yang dilakukan ke sektor manapun bila terkait Sistem Kesehatan ini, dikarenakan Sistem Kesehatan ini belum bisa berjalan sampai sekarang, dikarenakan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang belum ada dan belum dibuat. Namun apabila terkait dengan Tugaspokok dan fungsi Dinas Kesehatan, koordinasi dan kerjasamalintassektor telah dilakukan, contohnya saja untuk penanggulangan Demam Berdarah (DBD), Dinas Kesehatan telah melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pihak Kecamatan, Kelurahan, dan Lingkungan melalui Puskesmas untuk pemberantasan sarang nyamuk. Kemudian dalam menjalankan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Dinas Kesehatan telah melakukan koordinasi dan kerjasama dengan sekolah-sekolah melalui Dinas Pendidikan, dan dalam menangani Gizi Buruk Dinas Kesehatan telah berkooordinasi dengan Badan Ketahanan Pangan, serta program Posyandu Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dan bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat, dan banyak lagi sektor-sektor lain bila dikaitkan dengan Tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan.
7. Sebagai masyarakat kota Medan apakah anda tahu mengenai Kebijakan Perda tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan? (Peneliti mewawancarai seorang masyarakat bernama Joko Sunaryo)
Jawab : saya tidak mengetahui ada program atau kebijakan Perda No.4 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan, dan saya belum pernah mendengar dalam bentuk sosialisasi apapun.
Pertanyaan yang sama juga saya tanyakan kepada seorang masyarakat yang bergerak di Lembaga Studi dan Advokasi Kebijakan (ELSAKA), yaitu Frans Sofian Silaen)
Jawab : saya tahu mengenai kebijakan perda no.4 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan ini, dan saya senang melihat Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan amanah Undang-Undang atau aturan lebih tinggi, yaitu agar Pemerintah Daerah mempunyai pedomannya sendiri dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan di daerahnya masing-masing, akan tetapi saya tidak melihat realisasinya dilapangan dan menembus lapisan masyarakat terbawah. Sistem Kesehatan Kota Medan seharusnya menjadi suatu pedoman bagi Dinas Kesehatan Kota Medan untuk menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang layak, adil, dan terjangkau bagi masyarakat kota Medan secara khusus. Namun hal tersebut belum terealisasi melihat pertimbangan banyaknya permasalahan-permasalahan kesehatan yang muncul di tengah-tengah masyarakat Kota Medan.
2. Sumber Daya
walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementator kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, implementasitidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor dan sumber daya financial.
1. Bagaimana pembagian Tugas dan wewenang dalam proses implementasi?
Jawab : Sebenarnya sewaktu proses pembuatan Peraturan Daerah tentang Sistem Kesehatan, sudah ada pembagian tugas dan wewenang yang akan bertanggung jawab dan yang nantinya juga akan fokus merancang serta mengimplementasikan Sistem Kesehatan ini, yaitu dibawah naungan Subdinas Bina Program, akan tetapi dikarenakan adanya perubahan struktur dan pergantian pemimpin di tahun 2009, segala sesuatu yang telah direncanakan tidak terlaksana dan menjadi lebur, jadi kebanyakan Sumber Daya Manusia yang ada
didalam Subdinas Bina Program ini bertukar Tupoksinya, dan Subdinas Bina Program ini telah dihapus dan bergabung menjadi Bagian Kesekretariatan, sehingga samapai pada tahun 2012 Perda ini disahkan, tugas dan wewenang yang khusus menangani Sistem Kesehatan ini belum ada samapai sekarang.
2. Apakah sudah dilakukan pelatihan dan pendidikan khusus bagi Sumberdaya Manusia Dinas Kesehatan dalam mengimplementasikan Sistem Kesehatan Kota?
Jawab : Belum ada, karena pada waktu Subdinas Bina Program masih ada dan bertanggung jawab terhadap Sistem Kesehatan Kota belum sempat dilakukan pelatihan dan pendidikan khusus bagi Sumber Daya Manusianya.
3. Dari mana dana yang diperoleh untuk melaksanakan Sistem Kesehatan Kota?
Jawab : Jika melihat rencana Program Sistem Kesehatan Kota ini nantinya akan dilaksanakan melalui dana APBD dan Bantuan-bantuan Swasta melalui program Coorperate Social Responsibility (CSR), seperti program-program Dinas Kesehatan sebelumnya, perusahaan swasta sudah mulai mendekatkan diri kepada Dinas Kesehatan melalui penyokongan dana yang bersifat membantu pelaksanaan program-program tersebut melalui CSR
3. Disposisi
merupakan watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor, seperti komitmen, kejujuran, dan sifat demokratis.
1. Apakah ada kriteria/seleksi khusus bagi implementor Sistem Kesehatan Kota nantinya, jika ada, kriteria/seleksi seperti apa?
Jawab : Jadi nantinya Dinas Kesehatan akan mempunyai kriteria-kriteria tertentu bagi SDM Dinas Kesehatan untuk melaksanakan Sistem Kesehatan Kota, yaitu orang-orang yang mempunyai kompetensi dalam melakukan penyuluhan-penyuluhan ke masyarakat, mampu dalam pembuatan tata naskah, dan juga mungkin orang yang mempunyai latar belakang Ilmu Hukum untuk menyusun Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) Sistem Kesehatan Kota.
2. Berdasarkan Pasal 6 Dinas Kesehatan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bertahap, apakah pembangunan kesehatan yang telah dirancang Dinas Kesehatan berjalan tepat waktu?
Jawab : Dinas Kesehatan mempunyai Rencana Strategi (Renstra) yang berjangka waktu selama lima tahun, yang menjadi pedoman dan acuan Dinas Kesehatan dalam melaksanakan pembangunan kesehatan. Dalam prosesnya tidak semua hal berjalan tepat waktu sesuai dengan Renstra tersebut.
3. Apa yang menjadi faktor penghambat dan pendukung dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang bertahap?
Jawab : salah satu faktor penghambat adalah anggaran yang terkadang tidak mencukupi, dan kemudian faktor pendukungnya adalah banyak peran serta masyarakat dan swasta dalam mendukung, seperti perusahaan Bank Mandiri yang membantu dengan cara memberikan CSR kepada Dinas Kesehatan, institusi pendidikan, seperti Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, dan lain-lain.
4. Adakah penghargaan/reward dan sanksi/punishment bagi implementor yang berprestasi dan melakukan pelanggaran?
Jawab : Ada, Kalau Punishment adalah berupa sanksi administratif, teguran, dan sampai kepada pemecatan atau penutupan. Kalau Reward juga ada, contohnya saja Rumah Sakit yang membantu program pemerintah, dengan membantu masyarakat yang tidak mampu dan sakit dengan pelayanan dan perawatan yang responsif, tanpa harus menunggu pembiayaan.
4. Struktur Organisasi
merupakan yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengatuh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan.
1. Adakah bidang/seksi didalam Dinas Kesehatan yang secara khusus menangani Sistem Kesehatan kota nantinya?
Jawab : Karena belum ada pembagiantugas dan wewenang bidang/seksi khusus yang menangani Sistem Kesehatan ini maka yang bertanggung jawab sebagai leading sector untuk mengendalikan Sistem Kesehatan nantinya adalah bidang Sekretariat, dan masing-masing bidang seperti Pelayanan Kesehatan akan mengerjakan di bagian Pelayanan kesehatan, Bagian Farmasi akan mengerjakan di bagian kefarmasian, dan lain-lain sesuai tugas pokok dan fungsi bidangnya dalam melaksanakan Sistem Kesehatan kota tersebut.
BAB V
ANALISIS DATA
Dalam bab V ini akan dipaparkan tentang penganalisaan dari seluruh data yang diperoleh selama penelitian, baik melalui studi kepustakaan, wawanacara maupun melihat dengan langsung fenomena yang terkait dengan Implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota di Dinas Kesehatan Kota Medan, maka akan dilakukan analisa terhadap setiap data yang ada dan fakta yang didapat berdasarkan variabel operasional penelitian, dan penguraian masalah-masalah yang terjadi yaitu :
5.1Komunikasi
Sebelum sebuah kebijakan diimplementasikan, pelaksana kebijakan harus menyadari bahwa suatu keputusan yang telah dibuat dan perintah untuk melaksanakannya telah dikeluarkan, sehingga mereka bekerja dengan memiliki wewenang masing-masing. Disini peran komunikasi sangat penting untuk mensinergikan setiap aktifitas. Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi yang akurat, jelas, konsisten, menyeluruh serta koordinasi antara instansi-instansi terkait dalam proses implementasi dan bentuk koordinasi yang dilakukan apakah koordinasi horizontal, vertikal, maupun diagonal.
Kemudian agar implementasi menjadi efektif, maka mereka yang bertanggung jawab untuk mengimplementasikan sebuah program harus tahu apa yang semestinya mereka kerjakan. Komunikasi dalam implementasi Sistem Kesehatan Kota ini meliputi komunikasi internal pelaksana dan komunikasi eksternal, dalam hal ini sosialisasi kepada masyarakat dan hubungan dengan dinas atau institusi lain.
Komunikasi antar pelaksana implementasi Sistem Kesehatan Kota ini dapat dilihat dari bagaimana koordinasi, kerja sama dan sosialisasi antar pelaksana,yaitu Dinas Kesehatan itu
sendiri. Secara umum komunikasi antar pelaksana dapat dikatakan sudah dilakukan dan berjalan cukuplancar.
Hal ini didukung dari hasil wawancara yang menyatakan bahwa sosialisasi mengenai Peraturan Daerah tentang Sistem Kesehatan ini sudah dilakukan di internal Dinas Kesehatan Kota Medan sebagai Implementor.
Sedangkan komunikasi eksternal yaitu koordinasi dan sosialisasi dengan masyarakat dan instansi-instansi lintas sektor diluar Dinas Kesehatan Kota Medan. Komunikasi eksternal yang dibangun antar para pelakasana dengan masyarakat belum ada dilaksanakan karena belum berjalannya Kebijakan ini. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya warga masyarakat yang belum mengetahui tentang program ini, apa yang menjadi tujuannya, bagaimana prosesnya serta manfaat yang akan mereka alami.
Pernyataan ini juga didukung oleh hasil wawancara dengan kepala Bidang Pelayanan Kesehatan yang menyatakan bahwa sosialisasi yang dilakukan untuk masyarakat belum bisa berjalan.
Komunikasi eksternal lainnya adalah koordinasi yang dijalin dengan dinas dan sektor-sektor lain. Koordinasi dan kerjasama lintas sektor-sektor belum bisa berjalan hingga saat ini, bila dikaitkandengan implementasi Sistem Kesehatan Kota. Hal tersebut dikarenakan belum dibuatnya Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis)yang menjadi pedoman teknis Dinas Kesehatan. Namun bila terkait Tupoksi dari Dinas Kesehatan, koordinasi dan kerjasama telah dilaksanakan dengan beberapa sektor, seperti hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti.
Dari hasil pengamatan penulis dari proses sosialisasi dan berbagai koordinasi yang dilakukan maka dapat disimpulkan komunikasi secara internal sudah dilakukan, akan tetapi
secara eksternal belum ada sama sekali. Hal tersebut menunjukan bahwa Dinas Kesehatan mempunyai Pekerjaan Rumah untuk menyelesaikan Juklak dan Juknis agar bisa melakukan komunikasi eksternal dengan lintas sektor sesuai pedoman yang ada.
5.2Sumber Daya
Di samping Komunikasi dalam implementasi Sistem Kesehatan Kota Medan, yang perlu mendapat perhatian dalam proses implementasi adalah masalah sumber daya. Karena sumber daya merupakan salah satu faktor utama dalam melaksanakan dan merealisasikan jalannya suatu program. Tak terkecuali dengan dana yang dibutuhkan, peralatan yang akan digunakan selama proses implementasi hingga sumber daya manusia yang tergolong mampu dan cakap dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Hal ini didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan penulis serta melihat kenyataan yang ada di lapangan maka dapat dinyatakan bahwa sumber daya, terkhusus Sumber Daya Manusia di Dinas Kesehatan yang ada belum bisa difokuskan untuk mengimplementasikan Sistem Kesehatan kota ini, karena belum adanya pembagian tugas dan wewenang Sumber Daya Manusia yang jelas.
Begitu juga dengan Sumber Daya Keuangan/financial yang belum ada bila dikaitkan dengan Sistem kesehatan Kota, karena kebijakan yang belum berjalan. Namun bila dikaitkan dengan program lain Dinas Kesehatan, banyak pos-pos yang dapat menjadi sumber daya keuangan, seperti APBD dan dana-dana CSR dari perusahaan-perusahaan swasta yang bekerjasama dengan Dinas KesehatanKota Medan.
5.3Disposisi
Watak dan karakteristik dari para pelaksana program dalam menyikapisuatu kebijakan merupakan faktor yang tidak dapat dikesampingkan. Jika parapelaksana program setuju dengan isi suatu kebijakan, dan dalam hal ini berartiadanya dukungan, kemungkinan besar mereka akan melaksanakannyasebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat kebijakan. Disposisiimplementor dapat dilihat dari tanggung jawab pegawai melaksanakantugas pokok dan fungsi dalam menyelesaikan Sistem Kesehatan Kota sampai kepada pembuatan petunjuk pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis). Bila dilihat dari kronologis proses pembuatan Peraturan Daerah ini dari tahun 2007 dan baru tahun 2012 bisa terselesaikan, serta beberapa kemacatan-kemacatan yang terjadi dan Juklak dan Juknis yang belum dibuat, menunjukan bahwa pelaksana kebijakan ini, yaitu Sumber Daya Manusia Dinas Kesehatan tidak responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan tidak memiliki keinginan yang kuat untuk menyelesaikan Sistem Kesehatan Kota Medan tersebut sampai pembuatan Juklak dan Juknis. Sebab bila dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan doleh peneliti bahwa salah satu alasan kenapa Sistem Kesehatan ini belum bisa diaplikasikan adalah karena Juklak dan Juknis yang belum ada.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Dinas Kesehatan sebagai pelaksana kebijakan ini belum memiliki tanggung jawab terhadap tugas pokok dan fungsinya sebagai aparat pemerintah yang seharusnya responsif terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat.
5.4Struktur Organisasi
merupakan yang bertugas mengimplementasikan kebijakan dan yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Dinas Kesehatan sebagai institusi merupakan
salah satu dinas dibawah naungan Pemerintah Kota Medan yang fokus kerjanya adalah pemeliharaan Kesehatan masyarakat Kota Medan. Di dalam dinas itu sendiri terdapat struktur yang masing-masing seksi/bidang mempunyai tugas dan wewenangnya sendiri.
Oleh karena itu terkait dengan Kebijakan Peraturan Daerah tentang Sistem Kesehatan Kota Medan, Dinas Kesehatan sebagai implementor mempunyai struktur yang mengatur tugas dan wewenang dalam melaksanakannya, yaitu Bagian Kesekretariatan sebagai leading sector. Namun sebenarnya sebelum ada pergantian Struktur dan kepemimpinan di internal Dinas Kesehatan, tugas dan wewenang implementasi Sistem Kesehatan Kota ini ada di bawah bagian Sub Dinas Program. Berdasarkan Wawancara yang dilakukan oleh Peneliti dengan Pegawai Dinas Kesehatan, penyebab lain belum dibuatnya Petunjuk Pelaksanaan (juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) Sistem Kesehatan Kota adalah Pergantian Kepemimpinan di Internal Dinas Kesehatan Kota Medan, dimana Sumber Daya Manusia Sub Dinas Program yang semula bertugas melaksanakan Sistem Kesehatan Kota dipecah kedalam beberapa Bagian/seksi dan