• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PROFIL LOKASI PENELITIAN

2.2. Keadaan Sumber Daya Alam

2.2.1. Sumber Daya Laut (SDL)

Kondisi ekosistem laut, akan mempengaruhi keberadaan habitat ikan, cumi maupun habitat laut yang lain. Ekosistem laut diantaranya meliputi terumbu karang, padang lamun dan mangrove. Keberadaan ketiga ekosistem tersebut jika dalam kondisi baik akan sangat bermanfaat dan berkontribusi dari sisi ekonomis. Kemudian bagaimana kondisi ekosistem di terumbu karang, padang lamun dan mangrove di Nias Utara?

Kondisi terumbu karang dipengaruhi juga oleh kondisi aktivitas tektonik. Adanya gempa bumi tahun 2004 merubah kondisi terumbu karang. Kemudian hasil pencadangan KKPD Tahun 2007 atau sekitar 3 tahun setelah gempa dan tsunami, terjadi perubahan habitat laut dangkal diikuti dengan suksesi ekosistem sehingga terbentuk polah habitat baru dengan dinamika populasinya. Habitat terumbu karang dan padang lamun berada dalam perairan yang lebih dangkal dan beradaptasi untuk pulih kembali (DKP Nias Utara, 2014:32).

Untuk melihat kembali bagaimana perkembangan kondisi terumbu karang maka diadakan pemetaan pada tahun 2014. Hasil pemetaan Tahun 2014, sebaran habitat terumbu karang terkosentrasi di sepanjang pesisir Lahewa dan pulau-pulau kecil dan sedikit terdapat di pesisir Sawonamun dengan kondisi yang kurang baik (DKP Nias Utara, 2014:33). Hal ini menjadi warning bagi semua stakesholder untuk melakukan langkah-langkah pelestarian terumbu karang. Kemudian untuk ekosistem padang lamun dan mangrove tersebar dan lebih terkosenterasi di pesisir Sawo terutama Teluk Bengkuang serta pesisir Lahewa dan Lahewa Timur, sedangkan kedua habitat tersebut tidak ditemukan di pulau-pulau kecil (DKP Nias Utara, 2014:33).

Kabupaten Nias Utara merupakan daerah kepulauan dengan 15 pulau di utara perairan Kabupaten Nias Utara. Adanya sebaran pulau-pulau tersebut mengindikasikan bahwa sektor perikanan merupakan salah satu sektor penting di Kabupaten Nias Utara. Namun demikian luas perairan di Kabupaten Nias Utara belum mampu seutuhnya dimanfaatkan oleh nelayan setempat. Hal ini dikarenakan sebagian besar nelayan di Nias Utara merupakan nelayan tradisional (BPS Kabupaten Nias, 2014:186). Nelayan tradisional yang bekerja bersifat harian. Di samping itu sebagian kecil nelayan merupakan nelayan modern dengan lama tangkapan bersifat mingguan dengan wilayah penangkapan yang luas mencapai pulau-pulau di Aceh dan Sibolga bahkan hingga sampai ke ke perbatasan India. Namun demikian nelayan yang mampu mencapai perairan yang jauh masih sedikit dibandingkan dengan nelayan harian.

Laut yang demikian luas menyimpan sumber daya laut yang kaya. Di perairan Nias Utarajenis ikan yang ditemukan antara lain ikan Kakap Putih, Gurapu, Tuna, Lobster, Udang danberbagai jenis ikan lainnya yangmemenuhi kriteria ekspor. Namun sayang potensi perikanan tersebut belum mampu dimaksimalkan. Data BPS mencatat selama tahun 2013 produksi ikanterbanyak adalah berasal dari perairanlaut sebesar 11.037 ton sedangkan perairan darat 129.42 ton (BPS Kabupaten Nias, 2014:186). Kemudian jenis–jenis lain dan jumlah produksi serta harga jual disajikan dalam Tabel 2.2.1.

Tabel 2.2.1.

Jumlah Produksi Perikanan Laut Menurut Komoditi Tahun 2012-2013 Uraian Komoditi 2012 2013 Produksi (ton) Harga Jual Nelayan (Rp/ton) Produksi (ton) Harga Jual Nelayan (Rp/ton) Manyung 169,7 3.733.847 174,00 3.479.151 Cendro 112,1 2.017.116 105,60 1.899.943 Ikan Sebelah 86,2 1.551.874 60,50 1.089.472 Ekor Kuning/Pisang-Pisang 127,4 2.547.680 122,10 3.053.540 Lolosi Biru 48,6 1.068.505 30,50 702.512 Selar 143,8 2.588.911 117,80 2.590.799 Kuwe 239,9 3.598.332 443,80 11.981.871 Laying 115,5 2.079.025 118,10 2.362.000 Sunglir 127,2 2.288.795 120,10 2.402.568 Tetengkek 51,6 774.527 53,40 854.010

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Berbagai jenis ikan produksi Kabupaten Nias Utara menjadi peluang untuk menjadi komoditas ekspor. Jenis ikan tuna, bawal merah, manyung, tongkol merupakan komoditas ekspor. Berbagai jenis ikan tersebut memiliki jenis alat tangkap tersendiri, selain itu jarak tangkapan juga berbeda-beda. Kemudian perkembangan hasil tangkapan ikan di Kabupaten Nias Utara dalam kurun waktu 2010-2013 mengalami perkembangan yang cukup tinggi, dengan persentase lebih dari 80 persen dari 5.686 ton menjadi 11.497,20 ton.

Tabel 2.2.2.

Perkembangan Jumlah Produksi Ikan Tahun 2010 - 2013 (Ton)

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014) Tahun Produksi (Ton)

Ikan Laut Jumlah

2010 5.686 5.776

2011 8.960 9.089

2012 10.452 10.580

Meningkatnya produksi perikanan laut seyogyanya diikuti dengan perluasan pangsa pasar. Adanya perluasan pangsa pasar maka diharapkan harga ikan tidak jatuh saat musim ikan tiba. Di samping adanya perluasan pangsa pasar maka diharapkan akan mampu menyerap hasil perikanan Nias Utara. Produksi ikan yang melimpah memberikan berkah bagai nelayan. Kemudian jika dilihat persebaran produksi ikan di Kabupaten Nias Utara terpusat di Kecamatan Lahewa. Kecamatan Lahewa merupakan penyumbang produksi terbesar dengan jumlah produksi pada tahun 2013 mencapai 2.529 ton.

Tabel 2.2.3.

Jumlah Produksi Ikan Menurut Kecamatan Tahun 2013(Ton)

Kecamatan Produksi (Ton) Ikan Laut Jumlah

Tugala Oyo 102 102 Alasa 128 150 Alasa Talumuzoi 0 0 Namohalu Esiwa 0 30 Sitolu Ori 230 230 Tuhemberua 2.414 2.416 Sawo 2.069 2.113 Lotu 1.265 1.272 Lahewa Timur 1.150 1.150 Afulu 1.610 1.611 Lahewa 2.529 2.552 Jumlah 11.037 11.166

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Lahewa sebagai pusat perikanan di Nias Utara didukung oleh bentang alam berupa adanya teluk yang cocok untuk sandaran kapal. Di samping itu fasilitas pelabuhan di Lahewa merupakan terbesar di Nias Utara. Adanya fasilitas tersebut maka menunjang nelayan di Lahewa untuk meningkatkan produksi ikan. Di samping itu keuntungan adanya sebaran pulau yang mencapai 15 buah di sekitar perairan Lahewa juga mempengaruhi keberadaan nelayan di Lahewa. Nelayan

tidak begitu terpengaruh dengan adanya gelombang besar. Karena adanya pulau-pulau kecil diperairan Lahewa sebagai benteng alam bagi nelayan setempat.

Jumlah produksi ikan di Lahewa juga didukung dengan adanya pasar Lahewa yang begitu ramai. Oleh karena itu produksi ikan Lahewa langsung dapat diserap oleh konsumen. Disisi lain perkembangan jumlah nelayan di Kabupaten Nias Utara bersifat fluktuatif. Fluktuatifnya jumlah nelayan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, selain juga dipengaruhi oleh program pemerintah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa meningkatnya jumlah nelayan tidak seutuhnya menunjukkan kemampuan nelayan dalam berproduksi.

Tabel 2.2.4.

Perkembangan Jumlah Nelayan Menurut Kecamatan Tahun 2010 – 2013 Kecamatan Tahun 2010 2011 2012 2013 Tugala Oyo 0 0 0 28 Alasa 0 0 0 30 Alasa Talumuzoi 0 0 0 0 Namohalu Esiwa 0 0 0 0 Sitolu Ori 0 0 0 35 Tuhemberua 672 454 840 524 Sawo 477 363 561 510 Lotu 52 145 61 143 Lahewa Timur 82 109 96 178 Afulu 113 199 133 593 Lahewa 277 545 326 235 Jumlah 1.673 1.815 2.017 2.276

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Data BPS menunjukkan perkembangan jumlah nelayan di Kabupaten Nias Utara mengalami perkembangan meskipun hanya sedikit. Tahun 2010 jumlah nelayan adalah 1.673 orang dan Tahun 2013 berjumlah 2.276 orang. Tahun 2013 jumlah produksi perikanan berpusat di Lahewa, namun untuk jumlah nelayan Kecamatan Afulu merupakan

kecamatan yang memiliki jumlah nelayan terbanyak dengan jumlah nelayan 593 orang. Kemudian ada 2 kecamatan yang sama sekali tidak ada penduduk yang bekerja sebagai nelayan yaitu di Kecamatan Alasa Talumuzoi dan Namohalu Esiwa. Tidak adanya nelayan di kedua kecamatan dipengaruhi oleh kondisi geografis di kedua wilayah yang tidak memiliki perairan laut.

Jika melihat data dalam tabel 2.2.4, perkembangan persebaran jumlah nelayan cukup fluktuatif. Meskipun ada secara umum mengalami sedikit kenaikan. Keadaan ini diduga karena berkaitan dengan program pemerintah. Ketika program pemerintah tertuju kepada nelayan maka, sebagian penduduk akan beralih profesi menjadi nelayan agar mendapatkan program tersebut. Oleh karena itu tidak mengherankan jika di beberapa tempat seorang nelayan memiliki nafkah ganda berupa nelayan dan pekebun. Hal ini ditemukan di lokasi penelitian yaitu di Desa Balefadorotuho dan Teluk Bengkuang. Desa Teluk Bengkuang dan Seriwau di Kecamatan Sawo merupakan salah satu desa yang memiliki potensi sumber daya laut yang cukup besar. Namun demikian potensi perikanan laut seperti cumi, ikan tuna, teripang belum mampu dimaksimalkan produksinya. Selain memiliki potensi laut, di lokasi penelitian juga memiliki potensi wisata yang dapat di kembangkan.

Di Kecamatan Lahewa ada beberapa pantai yang menjadi lokasi wisata yaitu Pantai Turegaloko dan Pantai Tureloto berada di Desa Balefadoro Tuho. Pantai Tureloto memiliki batu karang yang bentuknya seperti otak (BPS Kabupaten Nias, 2014). Di lokasi penelitian lainnya potensi ikan cukup besar. Di Kecamatan Lahewa merupakan pusat perikanan laut di Nias Utara. Di bagian tulisan lain telah dijelaskan mengenai potensi Kecamatan Lahewa sebagai pusat maritim di Nias Utara.

Dokumen terkait