• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. ANALISIS LINGKUNGAN PERDESAAN

6.1. Analisis Lingkungan Internal

6.1.1. Sumber Daya Manusia (Human Asset)

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Saat ini hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai pengembangan SDM di perdesaan dimana perdesaan merupakan penopang ekonomi perkotaan.

Jika SDM di perdesaan dibangun dan diorganisasi serta diberi pendidikan dan pelatihan yang baik, bukan tidak mungkin akan berkembang seperti SDM yang berada di perkotaan dimana mereka dapat menguasai teknologi. Sehingga diharapkan

jika SDM baik di perkotaan maupun perdesaan dapat berkembang dengan pesat dan baik, maka Negara Indonesia yang termasuk dalam lima besar negara berpenduduk terbesar di dunia akan maju dan menjadi negara yang makmur dan sejahtera. Saat ini tingkat SDM di kedua desa yaitu Desa Tangkil dan Hambalang dapat dikatakan rendah karena disebabkan tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah. Ketermapilan yang dimiliki oleh masyarakat di kedua desa mayoritas di bidang agribisnis yaitu di bidang pertanian dan peternakan.

Rendahnya kualitas SDM di Desa Hambalang dapat dilihat dari masih banyaknya masyarakat desa yang tuna aksara dan masyarakat yang pendidikannya hanya tamat SD. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pendidikan menjadi faktor utama rendahnya SDM di Desa Hambalang, terutama bagi kaum wanita yang tingkat pendidikannya lebih rendah dari pria. Rendahnya kualitas angkatan kerja di Desa Hambalang dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Tingkat Kualitas Angkatan Kerja Desa Hambalang Tahun 2011

ANGKATAN KERJA PRIA

(orang)

WANITA (orang) Penduduk usia 18-56 tahun yang buta aksara dan

huruf / angka latin 88 135

Penduduk usia 18 – 56 tahun yang tidak tamat SD 399 614 Penduduk usia 18 – 56 tahun yang tamat SD 1.714 1.728

Penduduk usia 18 – 56 tahun yang tamat SLTP 895 604

Penduduk usia 18 – 56 tahun yang tamat SLTA 298 217

Penduduk usia 18 – 56 tahun yang tamat Perguruan

Tinggi 104 31

Jumlah 3.540 3.329

Sumber : Profil dan Potensi Desa Hambalang, 2011

Untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat desa berbagai upaya dilakukan oleh berbagai pihak, upaya-upaya tersebut antara lain adanya pelatihan membuat tas dari daur ulang plastik, pelatihan budidaya jamur, pelatihan menjahit helem, pelatihan dan pendampingan usaha produksi keset, dan berbagai pelatihan lainnya. Merurut pihak perangkat desa kandala dari adanya berbagai pelatihan yaitu peserta yang tidak bisa hadir secara konsisten untuk mengikuti

pelatihan dikarenakan harus mencari nafkah untuk kebutuhan konsumsi keluarganya segari-hari.

Dalam hal bidang pendidikan di Desa Tangkil, sekolah tidak ada sama sekali bahkan untuk ukuran Sekolah Dasar (SD) sekalipun tidak ada dan untuk bidang kesehatan, tidak ada puskesmas di desa ini yang ada hanya Posyandu. Banyak anak di desa ini yang putus sekolah dan tidak melanjutkan kembali ke SMP atau SMA dan hanya sampai SD saja. Hal ini karena memang mereka tidak lulus atau karena ongkos yang mahal karena jarak sekolah yang jauh.

Saat ini di Desa Tangkil sudah memiliki 1 PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan 1 MI (Madrasah Iftidaiyah) dan keduanya tidak membebankan biaya pada muridnya. Namun hal ini menyebabkan tidak ada dana untuk menggaji guru yang bekerja disana. Selain itu, untuk pengadaan buku pelajaran maka dilakukan dengan cara swadaya.

6.1.2. Keuangan (Financial Asset)

Keuangan merupakan aspek penting yang harus diperhatikan dalam setiap usaha, begitu juga bagi para pelaku usaha agribisnis di Desa Tangkil dan Hambalang. Modal awal bagi para pelaku usaha agribisnis di kedua desa sebagian besar berasal dari modal sendiri, program ekonomi bergulir dari PNPM, tengkulak dan ada juga yang berasal dari rentenir. Modal awal yang digunakan oleh pada pelaku usaha agribisnis cukup bervariatif, namun dari hasil wawancara modal awal yang digunakan rata-rata berkisar di antara Rp. 500.000 sampai Rp. 5.000.000. Dengan modal awal tersebut para pelaku usaha dapat membeli kebutuhan awal untuk memulai melakukan usaha.

Dalam perkembangannya, modal yang digunakan untuk usaha di kedua desa dapat cukup berkembang dan semakin maju dengan semangat berusaha yang baik. Kondisi tersebut mendorong para pengusaha untuk menambah modal usahanya. Untuk itu, para pelaku membutuhkan bantuan modal untuk mengembangkan usahanya. Modal tambahan tersebut dibelikan kelengkapan sarana dan prasarana

produksi. Pada sistem keuangannya, para pelaku usaha di kedua desa rata-rata masih menggunakan sistem keuangan yang sederhana.

Hambatan dalam hal keuangan dan permodalan yaitu pengembalian dana dari pinjaman yang agak susah karena banyak yang digunakan untuk hal lain seperti duganakan untuk konsumsi sehari-hari atau biaya pendidikan anak. Selain itu, mereka juga tidak mempunyai pekerjaan dan usaha yang tetap. Hal ini mayoritas terjadi pada masyarakat yang baru ingin memulai usaha atau para pelaku usaha dengan skala yang sangat kecil dan tergolong sebagai masyarakat miskin. Tidak adanya lembaga keuangan seperti koperasi juga cukup menghambat perkembangan usaha para pelaku agribisnis di kedua desa.

6.1.3. Infrastruktur Perdesaan (Phisycal Asset)

Infrastruktur di Desa Tangkil dan Hambalang kondisinya kurang memadai, terutama kondisi infrastruktur jalan utama yang merupakan akses masuk menuju kedua desa dalam keadaan rusak. Di sepanjang perjalanan menuju Desa Tangkil dan Hambalang terdapat aktivitas pembangunan markas komando Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Tentara Nasional Indonesia (PMPP TNI). Pembangunan pada lahan seluas 259 hektare di Desa Tangkil dan Desa Sukahati inilah yang menyebabkan rusaknya jalan karena sering dilalui kendaraan proyek. Rusaknya jalan cukup menghambat masyarakat untuk melakukan aktivitas terutama aktivitas perekonomian. Berikut ini data sarana dan kondisi jalan kabupaten di wilayah Kecamatan Citereup pada Tabel 14.

Tabel 14. Data Sarana dan Kondisi Jalan Kabupaten di Wilayah Kecamatan Citereup Tahun 2010

No. Nama Ruas Jalan

Panjang Jalan (meter)

Baik Sedang Rusak

Ringan Rusak Berat

PJ % PJ % PJ % PJ % 1 Jl. Lingkar Pusapanegara 1.000 - - 1.000 100 - - - - 2 Jl. Lingkar Citereup 800 - - - - 800 100 - - 3 Citereup - Citaringgul 9.400 - - 7.000 74,47 - - 2.400 25,53 4 Citereup – Tajur 4.600 2.600 56,52 2.000 43,48 - - - - 5 Tajur – Leuwibilik 4.475 - - 3.475 77,65 1.000 22,35 - - 6 Tajur – Hambalang 3.000 - - 1.000 33,33 - - 2.000 66,67 7 Leuwinutug- Tangkil – Hambalang 8.400 5.500 65,48 - - 1.000 11,90 1,900 22,62 8 Krg. Asem Barat – Sentul 6.750 - - 4.250 62,96 2.500 37,04 - - 9 Tarikolot – Gunungsari 2.100 - - - 2.100 100 10 Jl. Lingkar Pasar Citereup 600 400 66,67 - - 200 33,33 - - 11 Tarikolot - Sukahati 1.650 - - 600 36,36 - - 1.050 63,64 Total 42.775 6.500 17,16 19.325 38,93 5.500 18,80 9.450 25,31

Sumber: Data Sarana Jalan UPTD Teknik Jalan dan Jembatan Wilayah Cileungsi

Dari data di atas dapat dilihat bahwa jalan raya Tajur-Hambalang dan Leuwinutug-Tangkil-Hambalang hampir 70% nya dalam keadaan rusak berat sehingga para pelaksana proyek pembangunan di kedua Desa sebaiknya segera memperbaiki kondisi jalan agar dapat dalalui oleh masyarakat di kedua desa dengan nyaman. Di sektor pendidikan infrastruktur yang masih kurang memadai yaitu sekolah setara Sekolah Menengah Atas (SMA), yang telah ada saat ini hanya Madrasah Aliyah (MA) di Desa Hambalang dan masih dirasa kurang memadai. Berikut ini data infrastruktur pendidikan di Desa Tangkil dan Hambalang yang terdapat pada Tabel 15.

Tabel 15. Infrastruktur Pendidikan Di Desa Tangkil dan Hambalang Tahun 2011

Nama Jumlah Status Jumlah Tenaga

Pengajar Jumlah Siswa PAUD 3 Terdaftar 10 100 SD/MI /MD 12 Terakreditasi 60 1.415 SMP/TSANAWIYAH 2 Terakreditasi 28 378 SMA/ALIYAH 1 Terdaftar 6 87 PTN - - - -

Sumber : Profil dan Potensi Desa Tangkil dan Hambalang, 2011 (diolah)

6.1.4. Sumber Daya Alam (Natural Asset)

Pada umumnya, Sumber Daya Alam berdasarkan sifatnya dapat digolongkan menjadi SDA yang dapat diperbaharui dan SDA tak dapat diperbaharui. SDA yang dapat diperbaharui adalah kekayaan alam yang dapat terus ada selama penggunaannya tidak diekspliotasi berlebihan. Tumbuhan, hewan, mikroorganisme, sinar matahari, angin, dan air adalah beberapa contoh SDA terbaharukan. Walaupun jumlahnya sangat berlimpah di alam, penggunannya harus tetap dibatasi dan dijaga untuk dapat terus berkelanjutan.

Sebagian besar kondisi tanah di Desa Tangkil dan Desa Hambalang berwarna merah dengan tekstur tanah lempung. Tingkat kemiringan tanah mencapai 65° dengan lahan kritis dan terlantar sekitar 400 ha. Tingkat erosi tanah di kedua desa sekitar 80 ha untuk erosi ringan dan 20 ha untuk erosi berat dan luas tanah yang tidak ada ancaman erosi sekitar 2.140 ha. Berikut ini terdapat data luasan lahan di Desa Hambalang berdasarkan peruntukannya yang terdapat pada Tabel 16.

Tabel 16. Luas Lahan Berdasarkan Peruntukannya di Desa Hambalang Tahun 2011

Lahan Peruntukan Luas Lahan

Pemukiman 495 ha/m2 Persawahan 399,5 ha/m2 Perkebunan 1.315 ha/m2 Kuburan 10 ha/m2 Pekarangan 120 ha/m2 Taman 105 ha/m2 Perkantoran 0,5 ha/m2

Prasarana Umum Lainnya 40 ha/m2

Total luas 2.474,42 ha/m2

Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi manusia. Kegunaan air di Desa Tangkil dan Hambalang meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi, dan aktivitas lingkungan lainnya. Pengelolaan sumber daya air di kedua desa semakin hari semakin dihadapkan ke berbagai permasalahan. Permasalahan umum dalam pengelolaan sumber daya air di kedua desa yaitu saluran air bersih ke rumah warga yang belum tertata dengan baik, pengelolaan air ke rumah tangga sebagian besar masih menggunakan selang yang rentan kebocoran. Berikut ini data potensi sumber daya air di Desa Tangkil dan Hambalang yang terdapat pada Tabel 17.

Tabel 17. Potensi Sumber Daya Air

Jenis Jumlah (Unit) Pemanfaat (KK) Kondisi Baik/Rusak

Mata air 18 1.500 Baik

Sumur gali 713 900 Baik

Sumur pompa 520 600 Baik

Sumber : Profil dan Potensi Desa Tangkil dan Desa Hambalang, 2011

6.1.5. Modal Sosial (Social Asset)

Modal sosial adalah bagian-bagian dari organisasi sosial seperti kepercayaan, norma dan jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan-tindakan yang terkoordinasi. Modal sosial juga didefinisikan sebagai kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat atau bagian-bagian tertentu dari masyarakat tersebut. Selain itu, konsep ini juga diartikan sebagai serangkaian nilai atau norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama.

Modal sosial yang terdapat di Desa Tangkil dan Hambalang yaitu modal dasar dari adanya ikatan sosial yang kuat dengan adanya kerjasama di antara anggota masyarakat dalam suatu kelompok atau organisasi. Dalam hal ini komunitas perdesaan dengan ikatan sosial akan terbanguan dengan kerjasama di antara semua warga masyarakat. Nilai-nilai modal sosial yang terdapat di kedua desa yaitu nilai- nilai seperti gotong-royong antar masyarakat, toleransi antar umat beragama dan kepercayaan dan dukungan terhadap pemerintah desa.