• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber: Hyan dan Elfred (2001)

Gambar 2.1: Kerangka Konseptual

Kepuasan Kerja Karyawan

(Y) ETIKA ORGANISASI

Dorongan Manajer untuk Berperilaku Etis

(X 1)

Iklim Etika Organisasi (X2)

Hubungan Antara Perilaku Etis dan Kesuksesan Karir

2.5 Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah: ”Etika organisasi yang terdiri dari dorongan manajer untuk berperilaku etis, iklim etika organisasi, hubungan antara perilaku etis dan kesuksesan karir berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan PT. Lafarge Cement Indonesia Medan”.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam melakukan pekerjaannya manusia selalu didasarkan pada aturan dan etika organisasi yang ditetapkan dan disepakati secara bersama-sama. Etika organiasi sangat perlu ditegakkan dalam kerja. Etika organisasi adalah suatu perilaku manusia dala suatu organisasi yang lebih kepada penentuan mengenai benar dan salah (Dalimunthe, 2005: 305). Etika organisasi dapat membantu orang mendekati masalah moral dalam bisnis secara lebih sistematis dan dapat memberikan argumentasi untuk menunjukkan bahwa suatu praktek organisasi ataupun bisnis tidak bermoral. Praktek-praktek dalam organisasi dan bisnis yang tidak etis dapat sangat berpengaruh tidak baik pada nilai organisasi ataupun perusahaan. Keputusan yang tidak etis biasanya timbul jika pengambil keputusan membuat keputusan dan dimaksudkan untuk menguntungkan diri sendiri daripada para pemegang kepentingan.

Tetapi akhir- akhir ini garis yang membedakan aturan yang benar dan yang salah telah menjadi kabur. Sebagian bukti dapat dilihat bahwa banyak karyawan yang tidak berperilaku yang benar dan banyak pula pejabat yang melakukan korupsi dan menerima uang suap dalam memperlancar urusan seseorang. Organisasi menanggapi masalah ini dengan menulis kode etik sebagai panduan karyawan dalam mengatasi perilaku yang tidak etis bahkan banyak manajer yang menawarkan agar karyawan mengikuti seminar-seminar lokakarya, dan pelatihan-pelatihan untuk mencoba memperbaiki perilaku yang tidak etis.

Situasi etika di dalam bisnis dewasa ini berkembang menjadi lebih komplek, dimana di dalamnya termasuk issu seperti harapan masyarakat, persaingan yang wajar, perlindungan dan hak, dan tanggung jawab masyarakat luas. Etika juga mempunyai mempunyai konsekwensi terhadap konsumen, karyawan, pesaing, dan publik secara keseluruhan. Apalagi adanya persaingan yang ketat dewasa ini, tidaklah mengherankan bahwa banyak karyawan merasa tertekan sehingga mengambil jalan pintas , melanggar aturan, dan sebagainya. Hal ini merupakan dilemma bagi karyawan dan ternyata makin banyak anggota organisasi yang menyadarinya sehingga mereka menghadapi dilemma etis (ethical

dilemmas) yaitu suatu situasi dimana karyawan dituntut untuk mendefinisikan

tingkah laku yang benar atau salah.

Menurut Hyan dan Elfred (2001:317) ” etika organisasi memiliki tiga

tolok ukur, yaitu dorongan manajer untuk berperilaku etis, iklim etika organisasi, dan hubungan antara perilaku etis dan kesuksesan karir yang meiliki pengaruh

dengan kepuasan kerja ”

PT Lafarge Cement Indonesia sebagai salah satu industri semen dengan kantornya yang berkedudukan di Jalan Imam Bonjol no 42 A Medan memiliki 65 orang karyawan tetap.Perusahaan ini berdiri sejak 11 April 1980, ditandai dengan dimulainya pembangunan pabrik semen terpadu di Lhoknga – Aceh Besar dan resmi beroperasi pada 2 Agustus 1983.

Pihak manajemen PT. Lafarge Cement Indonesia melihat bahwa untuk meningkatkan kinerja perusahaan, salah satu permasalahan yang dihadapi adalah masalah kepuasan kerja. Dari hasil wawancara pendahuluan dengan pihak

karyawan maupun pihak manajemen, diperoleh indikasi bahwa perlu diteliti lebih lanjut masalah kepuasan kerja di perusahaan tersebut dikaitkan dengan etika organisasi yang ada karena pada umumnya, dari hasil wawancara, keluhan yang dirasakan karyawan antara lain ialah merasa kurangnya dukungan manajemen terhadap pekerjaan mereka, dan lingkungan kerja yang kurang menyenangkan. Sebagai contoh, tingkat senioritas di perusahaan ini masih tinggi, sehingga bawahan sulit untuk menolak pekerjaan yang diberikan kepadanya. Contoh lain, di Departemen Pembelian, ada beberapa kerjasama dengan perusahaan lain yang tidak menggunakan kontrak perjanjian kerjasama, ini jelas melanggar kode etik berorganisasi dalam suatu perusahaan. Ada beberapa kegiatan yang dirasa melanggar SOP (Standard Operational Procedure), seperti pengajuan cash advance

yaitu pengambilan uang yang digunakan untuk kegiatan perusahaan yang seharusnya diajukan 2 minggu sebelumnya, diajukan menjadi 4 hari sebelumnya.Ini juga melanggar kode etika berorganisasi di perusahaan.

Dukungan yang dapat diperoleh dari pihak manajemen terhadap perilaku etis dalam organisasi dapat berupa pemberian seminar-seminar, program pelatihan untuk mencoba memperbaiki perilaku etis, serta adanya sanksi-sanksi yang mengikat. Program pelatihan tersebut seperti terlihat PT. Lafarge Cement Indonesia mengadakan training untuk karyawan dengan tema ” Time Management” yang bermanfaat bagi karyawan untuk memanfaatkan waktu kerja yang tersedia secara efisien. Selain itu pula, perusahaan ini pernah mengadakan training dengan tema Problem Solving and Decision Making” , yaitu etika bagaimana cara seseorang dalam mengambil keputusan yang tepat dalam suatu permasalahan sehingga

keputusan yang diambil tersebut tidak menyimpang dari etika dan peratuaran –

peraturan yang ada. Untuk meningkatkan etika di antara kontraktor dan perusahaan dalam menjalin kerjasama, maka PT. Lafarge Cement Indonesia mengadakan trainining CSM (Contractor Safety Management).

Dari hasil wawancara dengan beberapa karyawan PT. Lafarge Cement Indonesia mengenai keterkaitan antara perilaku etis dengan kesuksesan karir, mereka juga berkeyakinan bahwa, bila nilai etika mereka dihargai oleh organisasi maka kepuasan kerja mereka juga akan meningkat yang secara tidak langsung akan menunjang kesuksesan karir mereka.

Secara umum masalah kepuasan kerja selalu dikaitkan dengan kemangkiran. Absen atau kemangkiran dalam perusahaan merupakan masalah karena kemangkiran berarti kerugian akibat terhambatnya penyelesaian pekerjaan, penurunan efisiensi, produktivitas, dan lain sebagainya Tingkat kemangkiran karyawan PT. Lafarge Cement Indonesia, selama bulan Juni, Juli, dan Agustus 2011 dapat dilihat pada Tabel 1.1 :

Tabel. 1.1

Jumlah karyawan tetap yang tidak masuk kerja selama bulan Juni, Juli dan Agustus 2011

Sumber : Bagian administrasi kepegawaian PT. Lafarge Cement Indonesia

Bagian Juni Juli Agustus Jumlah

ketidakhadiran I S A ∑ I S A ∑ I S A ∑ Sales 1 0 3 4 2 0 2 4 0 1 3 4 15 HR 2 1 2 5 0 1 3 4 0 0 3 3 10 Finance 3 0 3 6 2 1 4 7 3 0 2 5 18 Purchasing 1 0 1 2 0 0 1 1 0 0 0 0 7 Marketing 2 1 2 5 1 1 1 3 2 0 2 4 10 Legal 1 1 1 3 0 1 1 2 1 0 2 3 5 Total 10 3 12 25 5 4 12 21 6 1 12 19 65

Keterangan :

I = izin S = sakit

A = tanpa keterangan ∑ = jumlah

Dari Tabel 1.1 diatas dapat dilihat tingkat ketidakhadiran kryawan tetap

yang bekerja mencapai 1,69 % untuk bulan Juni, 1,42 % untuk bulan Juli, dan 1,29 % untuk bulan Agustus Kemangkiran karyawan yang terjadi menunjukkan bahwa tingkat kepuasan kerja karyawan masih rendah. Walaupun tingkat ketidakhadiran karyawan PT. Lafarge Cement Indonesia masih rendah, tetapi hal ini tetap melanggar etika organisasi di perusahaan sebab :

1. Dari table 1.1 terlihat bahwa jumlah karyawan yang tidak hadir tanpa keterangan bulan Juni, Juli dan Agustus masih tinggi. Seharusnya

karyawan memberitahukan alasan ketidakhadiran kepada Departement HRD.

2. Perusahaan mengalami kerugian akibat terhambatnya penyelesaian pekerjaan, penurunan efisiensi, produktivitas, dan lain sebagainya

berdasarkan uraian diatas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Etika Organisasi Terhadap Kepuasaan Kerja Karyawan

Pada PT. Lafarge Cement Indonesia Medan “.

1.2 Perumusan Masalah

Perumusan masalah penelitian ini adalah: ”Apakah etika organisasi yang

terdiri dari dorongan manajer untuk berperilaku etis, iklim etika organisasi, hubungan antara perilaku etis dan kesuksesan karir berpengaruh secara positif dan

signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan PT. Lafarge Cement Indonesia

Medan ?”.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah : ”Untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh etika organisasi yang terdiri dari dorongan manajer untuk berperilaku etis, iklim etika organisasi, hubungan antara perilaku etis dan kesuksesan karir terhadap kepuasan kerja karyawan PT. Lafarge

Cement Indonesia Medan”.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:

a. Bagi PT. Lafarge Cement Indonesia

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada perusahaan dalam menyusun kebijakan yang berkaitan dengan etika organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan.

b. Bagi Peneliti

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah kontribusi bagi pemikiran guna memperluas cakrawala wawasan peneliti dalam bidang manajemen sumber daya manusia khususnya mengenai etika organisasi dan kepuasan kerja karyawan.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya di bidang yang sama,yakni mengenai etika organisasi dan kepuasan kerja karyawan.

ABSTRAK

PENGARUH ETIKA ORGANISASI TERHADAP KEPUASAN

Dokumen terkait