HASI PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Peneliti
1. Sumber Isu
Sebelum masuk kedalam agenda kebijakan isu tersebut menjadi masalah terlebih dahulu. Masalah–masalah yang muncul dalam masyarakat disebut juga isu atau masalah kebijakan. Anderson (Wahab 2012:96) menjelaskan bahwa masalah kebijakan yaitu suatu kondisi atau situasi yang menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat sehingga membutuhkan solusi yang segera.
Sesuai dengan yang diungkapkan Anderson (Widodo 2013:53) bahwa penyusunan agenda kebijakan diawali dari suatu masalah yang muncul di masyarakat. Masalah ini dapat diungkapkan oleh seseorang sebagai masalah pribadi. Masalah pribadi merupakan masalah-masalah yang mempunyai akibat terbatas atau hanya menyangkut sedikit atau sebagian kecil orang yang terlibat langsung. Kemudian mengalami perkembangan yang lebih lanjut sehingga menjadi masalah publik yang mengalir menjadi suatu isu.
Masalah pribadi pada penelitian ini berawal ketika masyarakat merasa bahwa pemerintah tidak memberikan perlindungan dan pelayanan khusus bagi penyandang disabilitas. Tidak adanya persamaan hak yang dirasakan oleh penyandang disabilitas sehingga menimbulkan perasaan pesimis dalam
lxxxv
menjalani kehidupannya. Masalah tersebut menjadi masalah publik ketika sudah melibatkan Organisasi PPDI, masyarakat dan penyandang disabilitas pada khususnya. Kemudia masalah tersebut menjadi masalah publik bila penyandang disabilitas merasa pesimis merasa tidak semangat dalam mejalani hidup dikarenakan merasa tidak bisa bergerak dan berekspresi sesui keinginannya ketika belum ada aturan yang melindungi. PPDI bersama masyarakat dan penyandnag disabilitas menguji cobamengakses segala fasilitas publikyang ada di kabupaten Bulukumba yang pada saat itu dilakukan uji coba di salah satu ikon kota bulukumba yaitu kantor Bupati dan Masjid Islamic Center. Hasil dari uji coba ini ternyata memang dari dua ikon ini sangat dan bahkan memang tidak bisa diakses oleh penyandang disabilitas. Dari hasil uji coba yang dilakukan ini akhirnya diliput oleh beberapa media yang dimuat kedalam Koran dan artikel dimedia sosial.
Hal itu menunjukan bahwa agenda kebijakan di awali dari suatu masalah yang muncul di kalangan masyarakat penyandang disabilitas yang tentunya disini adalah masalah mengenai penyandang disabilitas.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi pasca agenda setting, maka dapat diketahui bahwa sumber isu agenda setting Perda Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pelayanan Penyandang Disabilitas berasal dari berbagai sumber. Keluhan dari penyandang disabilitas dan PPDI itu sendiri yang mengeluhkan tidak adanya kebijakan yang dibuat untuk penyandang disabilitas.
membuat mereka mulai tergerak untuk merubah paradigma dalam persamaan hak dan pemberian perlindungan serta pelayanan bagi penyandang disabilitas. Masyarakat penyandang disabilitas mulai terbuka untuk mengungkapkan masalahnya ke publik salah satunya dengan cara membuat pengaduan PPDI dan Dinas Sosial yang kemudia disampaikan kepada DPRD sebagai penyambaung lidah masyarakat itu snediri. Setelah penilaian dari masyarakat mengenai uji coba kemarin bahwa masyarakat penyandang disabilitas memang membutuhkan suatu kebijakan yang dibentuk oleh Pemerintah daerah dengan tujuan pemberian perlindungan dan pelayanan kepada penyandang disabilitas yang ada.
Selain itu, sumber isu dalam Proses Perumusan Agenda Setting pada Perda Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pelayanan Penyandang Disabilitas ini adalah untuk mewujudkan Kabupaten/Kota Bulukumba menjadi Kabupaten/kota yang ramah disabilitas yang tertuang di dalam UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang disabilitas dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kelangsungan hidup setiap warga negara, termasuk para penyandang disabilitas yang mempunyai kedudukan hukum dan memiliki hak asasi manusia yang sama sebagai warga Negara Indonesia dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari warga negara dan masyarakat Indonesia merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, untuk hidup maju dan berkembang secara adil dan bermartabat.
2. Aktor-aktor yang terlibat
lxxxvii
harus terfokus pada aktor-aktor. Jika politik diartikan sebagai “siapa, melakukan apa, untuk memperoleh apa”, maka aktivitas yang terjadi dalam pelaksanaan kebijakan adalah satu bentuk kegiatan yang dilakukan aktor politik untuk memperoleh nilai nilai politik. Peran aktor-aktor sangat menentukan dalam merumuskan, melaksanakan, dan mempertimbangkan konsikuensi kebijakan yang dibuatnya
Agenda setting adalah bagian yang memperjelas tahapan kebijakan atau
program lainnya. Di dalam masalah kebijakan, agenda setting ini nantinya akan dapat diketahui ke arah mana kebijakan atau program tesebut. Oleh karena itu , aktor- aktor yang terlibat di dalam proses perumusan agenda setting tentang Perda Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pelayanan Penyandang Disabilitas ini meliputi; official actors yang terdiri dari Bupati Bulukumba, DPRD, Bagian Hukum dan HAM, Dinas Sosial; unofficial actors terdiri dari organisasi Persatuan Penyandang Disabilitas Indoesia (PPDI) Kabupaten Bulukumba, penyandang disabilitas, dan Partai Politik PKB.
Agenda setting Perda Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan
Pelayanan Penyandang Disabilitas ini pertama kali dicetuskan pada tahun 2016. Hal ini dilakukan agar penyandang disabilitas mendapatkan hak dan kesamaan dengan masyarakat yang non-disabilitas. PPDI telah melakukan berbagai upaya agar masalah ini dapat dilirik oleh pemerintah, PPDI melakukan sosialisasi dan uji publik dibeberapa ikon Bulukumba yang dilaksanakan sebelum Perda Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pelayanan Penyandang Disabilitas terbit.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa PPDI sebagai aktor pemeran tidak resmi yang memiliki peranan penting dalam proses perumusan Perda Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pelayanan Penyandang Disabilitas di Kabupaten Bulukumba, selain itu juga PPDI sebagai lembaga pemerhati Penyandang Disabilitas yang sejak awal mendorong pemerintah daerah Kabupaten Bulukumba untuk membuat kebijakan mengenai disabilitas, agar kabupaten Bulukumba bisa menjadi kabupaten atau kota yang ramah disabilitas.
lxxxix BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN