• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.2. Pertumbuhan Ekonomi

2.2.2.2. Sumber-sumber Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber dari pertumbuhan pada sisi permintaan agregat (AD) atau / dan sisi penawaran agregat (AS). Seperti yang diilustrasikan pada gambar dibawah, titik perpotongan antara kurva AD dengan kurva AS adalah titik keseimbangan ekonomi yang menghasilkan suatu jumlah output agregat (PDB) tertentu dengan tingkat harga umum tertentu. Output agregat yang dihasilkan di dalam suatu ekonomi (atau negara) selanjutnya membentuk PN. Apabila pada periode awal (t = 0) output adalah Y0, maka yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah apabila pada periode berikutnya output = Y1, yang mana Y1 > Y0. Melalui analisis gambar ini bisa dilihat bahwa pertumbuhan

ekonomi bisa disebabkan oleh pergeseran kurva penawaran (AS1)

sepanjang kurva permintaan (bagian A) atau pergeseran kurva permintaan (AD1), sepanjang kurva penawaran (bagian B).

a. Sisi Permintaan Agregat

Gambar. 1. Permintaan Agregat di dalam Posisi Ekonomi Makro Yang Seimbang

P

AD0 AS0

P AS1

O Y0 Y1 Y

Sumber : Tulus Tambunan, 2003, Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, hal. 43.

Dari sisi AD, pergeseran kurvanya ke kanan yang mencerminkan peningkatan permintaan di dalam ekonomi bisa terjadi karena PN, yang terdiri dari permintaan masyarakat (konsumen), perusahaan, dan pemerintah, meningkat. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, sisi AD (penggunaan PDB) terdiri dari empat komponen: konsumsi rumah tangga, investasi (termasuk perubahan stok), konsumsi/pengeluaran pemerintah, dan ekspor neto (ekspor barang dan jasa minus impor barang dan jasa). Sisi AD di dalam suatu ekonomi bisa digambarkan dalam suatu model ekonomi makro sederhana sebagai berikut:

Y = C + I + G + X – M (2.8')

G = Cy + Ca (2.9)

I = -ir + Ia (2.10)

(2.11)

X = Xa (2.12)

M = m

r politik) di luar modal tersebu

Y + Ma (2.13)

Persamaan (2.8) menggambarkan keseimbangan antara AS (total output / PDB) dan AD yang terdiri dari empat komponen tersebut. Persamaan (2.9) adalah besarnya konsumsi rumah tangga yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan faktor otonom (tidak tergantung pada tingkat/perubahan pendapatan), ‘c’ adalah koefisien konsumsi (Marginal Propensity to Consume ; MPC) dengan nilai positif antara 0 dan 1, yang artinya, semakin tinggi pendapatan semakin besar pengeluaran konsumsi rumah tangga. Persamaan (2.10) menunjukkan nilai atau jumlah investasi (misalnya dalam jumlah proyek) sangat ditentukan oleh tingkat suku bunga (i) di dalam negeri, selain juga oleh sejumlah faktor-faktor lain yang bersifat otonom (Ia). Semakin tinggi i, dengan asumsi faktor-faktor lain tetap (tidak berubah), semakin mahal biaya alternatif dari investasi, semakin kecil jumlah investasi di dalam ekonomi yang dicerminkan oleh tanda negatif di depan koefisien ‘r’. Persamaan (2.11) adalah pengeluaran pemerintah yang sifatnya otonom: besar-kecilnya pengeluaran pemerintah ditentukan oleh faktor-faktor lain (diantaranya fakto

t. Demikian juga dengan persamaan (2.12).

Karena Indonesia adalah negara kecil, dilihat dari pangsa perdagangan negerinya di dalam jumlah volume perdagangan dunia, maka pertumbuhan ekspor Indonesia lebih ditentukan oleh faktor-faktor

eksternal di luar pengaruh Indonesia seperti permintaan di negara-negara tujuan ekspor. Persamaan (2.13) menggambarkan bahwa impor ditentukan oleh tingkat pendapatan di dalam negeri, selain juga oleh faktor otonom. Semakin tinggi pendapatan masyarakat Indonesia, semakin besar permintaan pasar dalam negeri terhadap impor, yang terdiri dari barang dan jasa untuk keperluan konsumsi dan kegiatan proses produksi di dalam

b.

waran Agregat di dalam Posisi Ekonomi Makro im

AD AD

Sumber : 03, Perekonomian Indonesia, Ghalia

tor negeri.

Sisi Penawaran Agregat Gambar. 2. Pena Yang Se bang. P 1 AS0 0 P O Y0 Y1 Y Tulus Tambunan, 20 Indonesia, hal. 43.

Dari sisi AS, pertumbuhan output bisa disebabkan oleh

peningkatan volume dari faktor-faktor produksi yang digunakan, seperti tenaga kerja (L), modal (K), dan tanah (Tn). Faktor produksi terakhir ini khususnya penting bagi sektor pertanian dan energi (E). Pertumbuhan output juga bisa didorong oleh peningkatan produktivitas dari faktor-faktor tersebut. Jadi, relasi atau output dengan faktor-fak

produksi dapat ditulis dalam suatu fungsi sederhana sebagai berikut:

Q = f (X1, X2, X3, ……… Xn) (2.14)

+ + + +

adalah positif: jika jumlah X1 meningkat, output juga meningkat.

2.2.2.3. Teori

umbuhan

1. Teori p

Dimana Q mewakili volume output dan X1, X2, …… Xn adalah volume dari faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan

output tersebut. Tanda-tanda positif di bawah setiap X menandakan hubungan antara setiap faktor produksi tersebut dengan output

Pertumbuhan Ekonomi

Teori pertumbuhan ekonomi ini menjelaskan pembangunan ekonomi daerah secara komprehensif. Namun demikian, ada beberapa teori yang secara parsial dapat membantu bagaimana memahami arti penting pembangunan ekonomi daerah. Pada hakikatnya inti dari teori-teori tersebut berkisar pada dua hal, yaitu pembahasan yang berkisar tentang metode dalam menganalisis perekonomian suatu daerah dan teori-teori yang membahas tentang faktor-faktor yang menentukan pert

ekonomi suatu daerah tertentu (Arsyad, 1999 : 114).

ertumbuhan ekonomi menurut “Schumpeter”

Teori ini mengemukakan tentang peranan pengusaha dalam pembangunan, yaitu dengan menggabungkan faktor-faktor produksi untuk menciptakan barang yang diperlukan masyarakat dan mengadakan pembaharuan dalam perekonomian

pembaharuan-pembaharuan yang diciptakan dalam beberapa bentuk, yaitu : memperkenalkan suatu barang baru, penggunaan cara dalam memproduksi suatu barang baru, memperluas pasar suatu barang kedaerah-daerah yang baru, mengembangkan sumber bahan mentah yang b

si dengan

keadaan tidak

2. Teori p

aru, mengadakan reorganisasi dalam suatu industri.

Schumpeter dalam teorinya menitikberatkan pada pentingnya peran pengusaha didalam mewujudkan suatu pertumbuhan ekonomi. Dalam teori itu ditunjukan bahwa para pengusaha merupakan golongan yang akan terus-menerus membuat suatu pembaharuan atau inovasi dalam kegiatan ekonomi. Inovasi itu biasanya merupakan : memproduksi produk-produk baru yang belum ada dipasar saat ini, mempertinggi efisiensi produksi dalam menghasilkan suatu barang, memperluas pasar suatu barang ke pasaran-pasaran yang benar-benar baru, mengembangkan sumber bahan baku atau bahan mentah yang baru dan juga mengadakan perubahan-perubahan dalam organisa

tujuan untuk mempertinggi keefisienan kegiatan perusahaan. Menurut Schumpeter semakin tinggi tingkat kemajuan suatu perekonomian maka semakin terbatas kemungkinan untuk mengadakan inovasi. Maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi bertambah lambat jalannya. Yang pada akhirnya nanti akan tercapai tingkat

berimbang atau “stationary state” (Sukirno, 2004 : 434).

ertumbuhan ekonomi menurut Harrod – Domar

berdasarkan pada pertumbuhan ekonomi dinegara-nagara maju, teori itu merupakan perkembangan langsung teori ekonomi makro. Keynes yang merupakan teori jangka pendek yang kemudian menjadi teori jangka panjang. Pada model Harrod-Domar peranan investasi sangat penting. Dalam jangka panjang investasi mempnyai pengaruh gand. Disatu sisi investasi mempengaruhi permintaan agregat di sisi lain ivestasi juga mempengaruhi kapasitas produksi nasional dengan menambahkan stok modal

seimbangan ekonomi tersebut sebagai keseim ngan yang tidak stabil.

yang tersedia.

Teori Harrod-Domar menyimpulkan agar ekonomi nasional selalu tumbuh dengan kapasitas produksi penuh yang disebutnya sebagai pertumbuhan ekonomi yang mantap (Steady-state Growth), efek permintaan yang timbulkan dari penambahan investasi harus selalu diimbangi oleh efek penawarannya tanpa terkecuali. Tetapi investasi dilakukan oleh pengusaha yang mempunyai pengharapan yang tidak selalu sama dari waktu ke waktu, karena itu keseimbangan ekonomi jangka panjang yang mantap hanya dapat dicapai secara mantap pula apabila pengharapan para pengusaha stabil dan kemungkinan terjadinya hal itu sangat kecil, seperti yang dikemukakan oleh Joan Robinson

(Golden Age). Harrod-Domar juga mengemukakan bahwa sekali keseimbangan itu terganggu,maka gangguan itu akan mendorong ekonomi nasional menuju ke arah depresi atau inflasi. Karena itu Harrod-Domar melambangkan ke

Teori pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar tetap mempertahankan pendapat dari ahli-ahli ekonomi yang terdahulu menekankan tentang peranaan pembentukan modal dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Tetapi perbeda dengan pandangan kaum klasik dan keynes, yang memberikan perhatian pada satu aspek saja dari pembentukan modal, teori Harrod-Domar menekankan kedua aspek dari penggunaan alat-alat modal yang tesedia haruslah pertambahan dalam tingkat penanaman modal berkembang selalu selaju dengan

bar. 3. Teori Pertumbuhan Ekonomi Harrod-Domar

S 1+

0 Ys0=Y0 Ys1 Y

Sumber :

naan, Penerbit LPFE dan

3. Teori p produktifikasi modal. Gam S,1 1 1 1 S0

Sukirno, Sadono, 1985, Ekonomi Pembangunan Proses,

Masalah Dan Dasar Kebijaksa

Bima Grafika, Jakarta, hal. 128.

ertumbuhan ekonomi menurut “W.W.Rostow”

Teori “W.W.Rostow” yaitu teori ini sangat populer dan paling banyak mendapatkan komentar dari para ahli. Teori ini pada mulanya

merupakan artikel Rostow yang dimuat dalam (Economics) dan kemudian dikembangkan. Dan menurut pengklasifikasian Todaro, teori Rostow ini dikelompokkan kedalam model jenjang linier (Linier Stages Model)

roses pembangunan ekonomi bisa di bedakan

berdaya masyarakat dalam struktur social

2. Prasyarat Untuk Tinggal Landas (The Preconditions For

Take-.

Menurut Rostow, p dalam lima tahap yaitu :

1. Masyarakat Tradisional (The Traditional Society).

Pada tahap ini masyarakat yang fungsinya produksinya terbatas yang ditandai oleh cara prodiksi relative masih primitive (yang didasarkan pada ilmu dan teknologi pra-Newton). Dan cara hidupnya masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang rasional, tetapi kebiasaan tersebut telah turun-menurun. Dan tingkat produktifikasi perpekerja masih rendah oleh karena itu sebagian besar sum

kemungkinan kecil. Tahap

Off).

Tahap ini merupakan suatu proses yang menyebabkan perubahan karekteristik penting suatu masyarakat, misalnya perubahan keadaan sistem politik, struktur social, sytem nilai dalam masyarakat dan struktur ekonominya. Jika perubahan seperti itu terjadi, maka pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan sudah terjadi. Suatu masyarakat yang sudah mencapai proses pertumbuhan yang

demikian sifatnya, dimana pertumbuhan ekonomi sudah sering terjadi, boleh dianggap sudah berada pada tahap prasyarat tinggal

t.

at yang telah mencapai menuju kedewasaan sebagai

a.

enting dan menggantikan

b. n

landas.

3. Tinggal Landas (The Take-Off).

Pada tahap ini pertumbuhan ekonomi selalu terjadi, pada awalnya tahap ini terjadi perubahan yang drasis dalam masyarakat antara lain prubahan kerangka dasar politik, sosial dan kelembagaan, terbukanya pasar baru sebagai akibat dari perubahan secara teratur sehingga akan tercipta inovasi dan peningkatan investasi. Perkembangan investasi dari produk nasional bersih akan mempercepat pertumbuhan sektor industri modern dan laju pertumbuhan nasional melebihi tingkat pertumbuhan penduduk, berarti pendapatan perkapita semakin meningka

4. Menuju Kedewasaan (The Drive To Maturity).

Diartikan sebagai masa dimana masyarakat sudah efektif menggunakan teknologi modern pada hampir semua kegiatan produksi. Mengungkapkan karakteristik non ekonomi dari masyarak

berikut:

Sifat kepemimpinan perusahaan mengalami perubahan peran manajer proposional semakin p

kedudukan pemilik atau pengusaha.

sektor industri dengan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. Kritik-kritik industrialis

c. asi mulai munculnya sebagai akibat

lagi kepada produksi. Dan

a.

yang lebih merata melalui system pajak yang

b.

derungan ini bisah berakhir penjajahan terhadap bangsa

c.

konsumsi tahap lama dan barang mewah (Arsyad, 1997 : 43-50).

2.2.2.4. Teori P

eori-teori yang sangat terkait adanya industrialisasi.

5. Masa Konsumsi Tinggi (The Age Of Higt Mass-Consumtion).

Masa konsumsi tinggi ini merupakan tahap terakhir dari teori pembangunan Rostow. Pada ini perhatian masyarakat telah lebih menekankan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat bukan

tahap ini ada tiga macam tujuan yaitu :

Menciptakan kemakmuran yang lebih merata kepada penduduknya dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan

progresif.

Memperbesar kekuasaan dan pengaruh luar negeri atau kecen

lain.

Meningkatnya konsumsi masyarakat dari kebutuhan pokok (papan, sandang dan pangan) menjadi barang-barang

ertumbuhan Ekonomi Regional

Ada beberapa teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi regional yang akan disajikan khususnya t

dengan penelitian ini, diantarannya yaitu : 1. Teori P

. Maka sektor-sektor kait dan mendukung.

2. Teori B

ini kegiatan ekonomi suatu daerah

a.

ertumbuhan Jalur Cepat

Teori pertumbuhan ini menekankan bahwa setiap daerah perlu mengetahui sektor ataupun komoditi apa yang telah memiliki potensibesar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik dikarenakan potensi alam maupun karena sektor itu memiliki Competitive Advantage untuk dikembangkan. Artinya, dengan kebutuhan modal yang sama sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu relatif singkat dan sumbangan untuk perekonomian juga cukup besar. Agar perkembangan sektor tersebut akan mendorong sektor lain turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh

tersebut membuat saling ter asis dan Non Basis

Teori ini dikembangkan berdasarkan teori perdagangan komparatif dari David Ricardo dan John Stuart Mill dalam Aziz (1999). Dari studi empiric yang dilakukan oleh Pfouts dalam rangka memisah misalkan sektor sektor basis dari yang bukan basis daerah perkotaan ternyata dapat dipergunakan sebagai sarana memperjelas struktur daerah tersebut, dalam hubungan

dibagi dalam dua golongan yaitu :

Kegiatan ekonomi industri yang melayani kebutuhan akan barang-barang dan jasa di daerah itu sendiri / daerah swasembada maupun

mengekspornya ke tempat-tempat diluar batas-batas perekonomian daerah tersebut. Daerah yang demikian disebut sebagai daerah basis

b.

dalam perekonomian regional. (Glason dalam Aziz,

3. Model

persamaan enjadi sebagai berikut :

Yi = Ci + Ii + Gi + Xi – Mi atau daerah surplus.

Kegiatan ekonomi atau industri yang hanya melayani kebutuhan barang-barang dan jasa bagi masyarakat yang bertempat tinggal didalam batas-batas perekonomian daerah tersebut bahkan masih harus mendatangkan barang kebutuhan tersebut dari tempat/daerah lain karena masih kekurangan daerah yang demikian ini disebut sebagai daerah non basis atau daerah minus. Untuk menentukan suatu daerah kedalam salah satu dari kedua golongan tersebut

digunakan metode Locatin Quotien (LQ) yaitu dengan jalan

membandingkan peranan industri tersebut dengan peranan industri yang sama

1999 : 63).

Pertumbuhan Interregional

Model ini adalah suatu model pertumbuhan interregional yang memasuki dampak dari daerah tetangga, itulah sebabnya model ini dinamakan model interregional. Dalam model ini, pengeluaran pemerintah dan investasi termasuk variabel bersifat eksogen sebagai variabel ekspor. Dengan memanipulasi persamaan pendapatan yang pertama kali ditulis oleh Keynes, oleh Richardson

Dimana :

n

Expenditure

ort 4. Teori K

knya dapat didefinisikan sebagai

a. Yi = Regional Income Ci = Regional Consumptio Ii = Regional Investment Gi = Regional Government Xi = Regional Exports Mi = Regional Imp utub Pertumbuhan

Teori ini dikembangkan berdasarkan teori tempat sentral Christaller. Konsep-konsep dasar dan penyempurnaan serta pengembangan teori ini dilakukan oleh Perroux,’f, Boudenville, Hanssen, Hermansen, Hirchman dan Myrdal. Dari berbagai tulisan para ahli mengenai kutub pertumbuhan tersebut, konsep-konsep ekonomi dasar dan perkembangan geogradi

berikut (Sukirno, 2001 : 59) yaitu :

Konsep Leading Industries dan perusahaan-perusahaan propulsip, menyatakan pada pusat kutub pertumbuhan terdapat perusahaan propulsip yang besar, yang termasuk dalam Leading Industries yang mendominasi unit-unit ekonomi lainnya, ada kemungkinan bahwa sesuatu komplek industri hanya terdiri dari satu atau segelintir perusahaan propulsip yang dominan. Lokasi yang geografik dari industri-industri seperti itu pada titik-titik local tertentu dalam suatu

daerah mungkin disebabkan oleh beberapa faktor lokasi sumber daya alam, lokasi kemanfaatan-kemanfaatan buatan manusia / komunikasi atau tempat-tempat sentral berlandaskan kegiatan jasa yang sudah ada, dimana terdapat keuntungan-keuntungan karena prasarana dan

b.

ang dengan baik karena adanya

keuntungan-c.

tenaga kerja atau barangkali hanya bersifat kebetulan saja.

Konsep polarisasi menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat dari “Leading Industries” mendorong polarisasi dari unit-unit ekonomi lainnya kedalam kutub pertumbuhan implisit dalam proses polarisasi ini adalah berbagai macam keuntungan aglomerasi (keuntungan ekstern dan intern dari skala). Polarisasi ekonomi ini pasti menimbulkan polarisasi geografik dengan mengalirnya sumber daya dan konsentrasi ekonomi pada pusat-pusat yang jumlahnya terbatas didalam suatu daerah bahkan kendalapun lokasi seperti tersebut seringkali tetap berkemb

keuntungan aglomerasi.

Konsep “Spread Effect” menyatakan bahwa pada waktunya, kualitas propulsip dinamik dari kutub pertumbuhan akan memancar keluar dan memasuki uang disekitarnya. “Trickling Down” atau Spread Effect ini sangat menarik bagi perencanaan regional dan telah memberikan sumbangan besar bagi kepopuleran teori ini pada waktu belakangan ini sebagai saran kebijaksanaan. Dari konsep ini maka dapatlah disimpulkan sebagai suatu kerangka untuk memahami anatomi regional, teori ini memberikan suatu pelengkap dinamik

yang sangat bermanfaat kepada teori tempat sentral dan walaupun mempunyai keterbatasan sangat berguna bagi perencanaan regional. Teori ini menampilkan banyak konsep yang berorientasi perencanaan. Menekankan kemanfaatan-kemanfaatan komplek industri, “leading industies”, pertumbuhan yang berkutub dan

keuntungan-keuntungan aglomerasi dan “Spread Effect” yang

ditimbulkan. Model ini cukup jelas dalam menerangkan pertumbuhan hierarki kota yang menekankan interdependensi antara pusat kota dan daerah disekitarnya. Dari kondisi ini mungkin akan timbul persaingan antar daerah pelayanan masing-masing menurut

(Glasson,1997 : 154 – 156).

Dokumen terkait