BAB II SUPERHERO DAN PERKEMBANGANNYA
2. Superhero Amerika
Tata kehidupan masyarakat pada abad 20 merupakan sebuah tantangan, ancaman, namun sekaligus harapan yang luar biasa. Kecemasan masyarakat ini akhirnya
7
http://tsdr.uspto.gov/#caseNumber=78356610&caseType=SERIAL_NO&searchType=statusSe arch(diakses pada 1 September 2014).
8
mengubah cara pandang mereka dalam memprediksi masa depan. Superhero merupakan simbol semangat Amerika dalam menghadapi ketidakpastian tersebut. Seperti yang dikatakan Paul Heru Wibowo dalam bukuMasa Depan Kemanusiaan:
Superhero yang ditampilkan oleh budaya media adalah simbolisme dari kekuatan penyeimbang antara ketakutan dan harapan manusia di abad yang baru itu. Apalagi pada waktu itu di kala negara-negara Eropa lumpuh karena Perang Dunia I yang memilukan, Amerika secara tiba-tiba melejit menjadisuper nation, sebuah negara dengan kekuatan ekonomi dan militer yang tangguh. Semua elemen masyarakat mau tidak mau diarahkan guna menyukseskan citra Amerika sebagai negarasuper powerbaru (Wibowo, 2012: 89).
Pada perkembangannya ada dua raksasa komik di Amerika Serikat yang banyak menghasilkan kisah-kisah superhero, yaitu DC Comics dan Marvel Comics. Banyaknya film-film superhero yang dihasilkan sampai sekarang juga sebagian besar merupakan hasil adaptasi cerita komik kedua penerbit tersebut, terutama dari Marvel Comics.
2.1 DC Comics
Penerbit ini berdiri pada tahun 1934, yang pada awalnya dirancang sebagai wadah berbagai perusahaan penerbitan. Pertama kali penerbit ini bernama National AlliedPublication, kemudian mengalami beberapa kali perubahan nama hingga menjadi DC Comics sampai sekarang. Namanya baru terangkat pada bulan Juni 1938 saat merilisAction Comics # 1yang memuat cerita Superman pertama kali. Cerita Superman ini tampaknya mampu mendongkrak penjualan buku komik. Tokoh Superman juga melejitkan nama kreatornya, Jerry Siegel dan Joe Shuster.
Kendati demikian, Superman sebenarnya bukan tokoh superhero pertama dalam komik. Pada tahun 1931, ada tokoh komik bernama The Shadow yang memiliki keahlian hipnotis. Lalu pada tahun 1934, muncul komik strip yang menampilkan tokoh penyihir bernama Mandrake. Kemudian pada tahun 1934, ada tokoh superhero
bertopeng dengan kostum ketat bernama The Phantom. Superman dianggap sebagai prototypesuperhero, puncak kristalisasi gagasan mengenai superhero.
Setelah menguasai pasar dengan Superman, DC Comics mulai memperkenalkan tokoh-tokoh superhero lain seperti Batman, Wonder Woman, The Flash, dan sebagainya. Tokoh Batman yang filmnya dibahas di tesis ini pertama kali dimunculkan oleh Bob Kane pada komik Detective Comics # 27 tahun 1939 (nama DC merupakan singkatan Detective Comics). Batman pada awal kemunculannya memiliki gayapulp fiction9, namun kemudian berkembang, salah satu penyebabnya karena adanya Comic Code Authority (CCA) yang membatasi jenis komik yang menampilkan kekerasan.
2.2 Marvel Comics
Marvel Comics pertama kali didirikan pada tahun 1939 dengan namaTimely Publications. Pada tahun berganti nama menjadi Atlas Comics, dan baru menggunakan namaMarvel Comics mulai tahun 1960 sampai sekarang.
Tokoh superhero mereka yang pertama adalah Human Torch dan Namor the Submariner. Akan tetapi, baru pada tahun 1941 Marvel memiliki tokoh superhero yang sukses. Tokoh itu adalah Captain America yang bertema patriotis dalam settingPerang Dunia II. Pada sampul depan edisi perdananya, tampak Captain America sedang meninju Adolf Hitler.
Superhero Marvel yang terkenal lainnya misalnya Spider-Man, Iron Man, The Hulk, Daredevil, dan The Fantastic Four. Kini Marvel Comics memiliki studio film sendiri yang memproduksi film-film superheronya. Studio film yang bernama Marvel Studios tersebut dimiliki oleh Walt Disney Studios di Burbank, California.
9
Batman pada tahun-tahun awal digambarkan tidak ragu untuk membunuh lawannya: "...Batman showing little remorse over killing or maiming criminals".
2.3 Periodisasi Komik Amerika
Kepopuleran DC dan Marvel dengan cerita-cerita superhero-nya tidak berlangsung lama. Setelah Perang Dunia II berakhir, komik-komik itu mulai ditinggalkan pembacanya. Tentang keadaan ini, Paul Heru Wibowo menulis dalam bukunya:
Depresi eksistensial yang menjerat kehidupan masyarakat pascaperang seolah- olah tidak lagi membutuhkan kehadiran ketiga tokoh tersebut. Sebaliknya, kondisi tersebut justru menjadi alasan berkembangnya budaya populer di Amerika. Industri film Hollywood semakin gencar menyuguhkan hiburan kepada masyarakat yang sedang berada dalam sikap pesimis terhadap kehidupan (Wibowo, 2012: 104).
Berkembangnya budaya popular di Amerika saat itu ternyata tidak sejalan dengan perkembangan industri komiknya. DC Comics dan Marvel Comics justru menghadapi kesulitan. Banyak orang (terutama politikus dan para orang tua) memandang komik sebagai sesuatu yang negatif.
Secara umum, periodisasi perkembangan komik di Amerika bisa dibagi menjadi empat, yaitu Golden Age,Silver Age, Bronze Age, dan Modern Age. Tidak jelas siapa yang pertama kali menggunakan istilah-istilah tersebut untuk periodisasi, namun akhirnya istilah-istilah itu digunakan secara umum sampai sekarang.
Golden Age adalah masa saat tokoh-tokoh superhero awal seperti Superman, Batman, Wonder Woman, dan Captain America muncul dan populer. Masa ini berlangsung dari tahun 1938 sampai sekitar tahun 1950. Era ini berakhir ketika popularitas komik superhero meredup setelah Perang Dunia II. Minat pembaca komik berganti menjadi cerita peperangan, western, science-fiction, romance, kriminal, dan horor. Komik-komik superhero pun banyak yang dihentikan penerbitannya. Berakhirnya era ini dimulai saat komik dituduh sebagai penyebab kenakalan remaja (juvenile
Seduction of the Innocent. Wertham sendiri sudah memerangi komik dari tahun 1948.
Pada tahun itu pula terjadi pembakaran komik di New York. Lalu pada “Desember
1949, razia komik telah mengalami titik kulminasi di berbagai tempat, pembakaran komik semakin meluas, dan gerakan anti komik itu semakin diminati oleh masyarakat”
(Wibowo, 2012: 94).
Memang genre yang banyak dikritik adalah horor dan kriminal, namun komik superhero pun tak lepas dari hujatan.US Senate Investigation akhirnya memperingatkan penerbit-penerbit komik agar mematuhi Comics Code Authority (CCA) yang dikeluarkan oleh Comics Magazine Association of America. Beberapa isinya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Kejahatan sama sekali tidak boleh disajikan sedemikian rupa sehingga menimbulkan simpati terhadap penjahat, tidak percaya terhadap badan pelaksana hokum dan pengadilan atau hal-hal yang mendorong untuk meniru kejahatannya.
2. Dalam komik, detail dan metode khusus suatu kejahatan tidak boleh disajikan secara terinci satu demi satu.
3. Bila kejahatan disajikan, maka harus digambarkan sebagai perbuatan yang rendah dan memualkan.
4. Kejahatan tidak boleh digambarkan sedemikian hingga kelihatan sebagai tindak kepahlawanan atau diberi posisi yang dapat menjadi alasan untuk ditiru.
5. Yang baik harus selalu menang terhadap yang jahat dan penjahat harus menerima hukumannya yang setimpal
(Wibowo, 2012: 96-97).
Silver Age berlangsung dari sekitar tahun 1956 sampai awal 1970-an. Karena adanya peraturan CCA itu, komik-komik superhero mulai dimunculkan kembali, dimulai dari The Flash yang muncul tahun 1956, untuk mengganti cerita-cerita kriminal dan horor yang banyak diprotes. Cerita-ceritanya menjadi agak berubah dan lebih menyentuh persoalan dunia nyata untuk lebih mendekatkan superhero ke dalam kehidupan sehari-hari pembacanya. “Pendekatan baru ini mau menekankan bahwa
manusia biasa yang memiliki sejumlah karakteristik yang beragam… Para superhero itu
bisa tertawa, mengeluh, marah, dan juga bertindak ceroboh” (Wibowo, 2012: 106).
Tidak ada batasan yang pasti tentang periodisasi komik tersebut, namun Bronze Agebisa disebut mulai tahun 1973 ketika musuh Spider-Man, Green Goblin, membunuh Gwen Stacy, kekasih Spider-Man. Karakteristik era ini ditandai dengan adanya tema- tema yang lebih kelam dalam cerita dan komentar atau kritik terhadap masyarakat, misalnya penggunaan obat-obatan terlarang.
Era yang terakhir disebut sebagai Modern Age, yaitu era yang mencakup pertengahan 1980-an sampai sekarang. Yang mengawali era ini misalnya komik Watchmen oleh Alan Moore dan Dave Gibbons, dan The Dark Knight Returns oleh Frank Miller. Pada era inilah tokoh-tokoh yang ada tidak lagi dipisahkan sebagai tokoh baik dan jahat secara hitam putih, namun lebih ambigu. Ada tokoh-tokoh yang disebut sebagaianti-hero, yaitu pahlawan yang tidak melulu digambarkan bersifat baik, namun kadang hampir tidak bisa dibedakan dengan musuhnya sendiri, contohnya tokoh John Constantine dari komik Hellblazer dan Wolverine dari X-Men. Musuh (atau supervillain) juga digambarkan dengan lebih kompleks, dengan motivasi yang lebih kuat dan tidak sedangkal periode sebelum-sebelumnya. Misalnya tokoh Magneto, tokoh antagonis dalam cerita X-Men, yang berjuang untuk orang-orang yang tertindas dengan caranya sendiri.