BAB II SUPERHERO DAN PERKEMBANGANNYA
4. Superhero Indonesia
Mendefinisikan superhero di Indonesia cukup sulit karena cerita-cerita kepahlawanan yang ada sangat beragam. Ada cerita-cerita yang jelas superhero seperti yang dibayangkan di luar negeri, entah itu dari segi plot, kostumnya, dan lain-lain, seperti Gundala atau Godam. Akan tetapi ada pula cerita-cerita “silat” yang biasanya tokohnya memiliki kesaktian tertentu, semacam Si Buta dari Goa Hantu atau Wiro Sableng. Bila mengacu pada pengertian yang dibuat oleh Danny Fingeroth dan Roz Kaveney seperti di awal bab (individu dengan kekuatan fantastis melebihi orang biasa, yang digunakan untuk membela kebenaran, dan seterusnya), maka seharusnya tokoh- tokoh seperti itu juga dapat digolongkan superhero, walaupun di Indonesia lebih lazim disebut pendekar daripada superhero.
Istilah yang problematis ini juga dibahas oleh Paul Heru Wibowo. Menurutnya, tokoh yang dianggap memiliki beberapa keahlian khusus seperti ilmu silat dan kekuatan gaib disebut sebagai jagoan, jawara, atau pendekar (Wibowo, 2012: 55-56). Meski demikian, kendala istilah ini seharusnya tidak menghalangi usaha membaca dan menafsirkan superhero. Konsep ini adalah sesuatu yang luas dan saling berhubungan, jadi tidak harus berhenti pada definisi sempit bahwa superhero itu hanyalah tokoh-tokoh
yang dibuat oleh DC Comics dan Marvel Comics, karena kedua perusahaan tersebut telah mendaftarkan istilah superhero sebagaitrademarkmereka pada tahun 2005.
Komik superhero yang muncul pertama kali di Indonesia adalah Sri Asih. Tokoh ini diciptakan oleh R.A. Kosasih pada tahun 1954. Paul Heru Wibowo mengatakan bahwa tokoh ini merupakan sebuah “penggabungan yang bersifat hibrida,…Sri Asih digambarkan bisa cepat melesat ke angkasa seperti Superman, gagah berani bagai Wonder Woman, dan cantik serta lembut tutur katanya bak para putri kraton nan anggun” (2012: 282). Ini juga merupakan ciri tokoh superhero Indonesia, yaitu bersifat hibrid, menggabungkan berbagai arketipe dari luar negeri dan dalam negeri. Sri Asih digambarkan sebagai tokoh yang memiliki kekuatan seperti Superman, namun juga mirip dengan tokoh pewayangan Srikandi. Akan tetapi, tidak bisa diketahui secara pasti sejauh mana pengarang cerita superhero lokal “meniru” jenis superhero semacam itu. Pembaca hanya dapat melihat kemiripan di antara mereka.
Sifat hibrid itu juga dapat dilihat dalam tokoh-tokoh superhero Indonesia yang lain. Tokoh Godam misalnya berkostum dan berkekuatan mirip Superman atau Captain Marvel, namun ceritanya lebih berhubungan dengan budaya mistik Jawa. Gundala, yang berkostum mirip tokoh The Flash dari DC Comics, kadang juga bercerita tentang mitologi lokal atau cerita rakyat di Indonesia.
Selain superhero “modern” yang kostum dan ceritanya dipengaruhi oleh cerita luar negeri, ada juga hero-hero lokal yang kekuatannya berdasarkan ilmu bela diri dan mistik. Jenis hero seperti ini memang tidak terlalu mirip dengan gambaran superhero modern yang lengkap dengan kostumnya semacam Spider-Man atau Batman, namun bila mengacu pada definisi dari Roz Kaveney dan Danny Fingeroth mereka masih bisa
diklasifikasikan ke dalamnya. Menurut Paul Heru Wibowo ada empat ciri untuk menggambarkan kisah-kisah superhero Indonesia:
1. Para hero tersebut hidup di zaman praindustrial (bisa pada masa feodalisme dan kolonialisme), berlatar tempat agraris dan maritim, ingin merepresentasikan dunia yangchaotic.
2. Menggunakan kemahiran ilmu silat dan penguasaan ilmu mistik atau sihir.
3. Ada banyak gambaran cerita rakyat dan mitologi lokal untuk membentuk narasi.
4. Struktur naratifnya terpengaruh struktur cerita silat dari dataran Cina dan film-film western produksi Italia (spaghetti western) (Wibowo, 2012: 289-293).
Contoh tokoh-tokohnya adalah Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, dan Wiro Sableng.
5. Konteks Perfilman Amerika Serikat dan Indonesia 5.1. Amerika dan Hollywood
Sinema Hollywood bisa dibagi menjadi tiga periode, yaitu klasik (classical Hollywood), pascaperang (postwar Hollywood), dan kontemporer (contemporary Hollywood). Masa Hollywood klasik adalah dari ketika industri film mulai muncul sampai Perang Dunia II, Hollywood pascaperang adalah setelah Perang Dunia II sampai 1960-an, dan masa kontemporer adalah dari 1960-an sampai sekarang.
Menurut Timothy Corrigan dan Patricia White dalam buku The Film Experience: An Introduction, sinema Hollywood dari masa klasik ditandai dengan ciri khas: standardisasi produksi film, pengembangan feature film (film dengan durasi panjang, biasanya lebih dari 40 menit), dan ekspansi film secara kultural dan ekonomis ke masyarakat (Corrigan dan White, 2004: 359). Sebenarnya ciri khas Hollywood klasik ini pun masih berlangsung hingga sekarang, namun pada masa kontemporer ada
Industri film Hollywood pada masa kontemporer banyak dipengaruhi oleh dominasi penonton muda, film-film seni Eropa, globalisasi, dan perkembangan inovasi seperti video rumahan (VHS, DVD, Bluray). Corrigan dan White juga menyebutkan
tentang tren film kontemporer, yaitu “(1) the elevation of image spectacles and special effects, and (2) the fragmentation and reflexivity of narrative constructions” (Corrigan dan White, 2004:370). Banyak film menonjolkan tontonan atau pertunjukan visual yang besar dan adanya fragmentasi dan refleksivitas (reflexivity) konstruksi naratif. Konteks produksi film Hollywood yang di antaranya bertujuan komersial, ditonton banyak orang muda, dan disebarkan secara global seperti itu harus dipertimbangkan ketika menganalisis film Hollywood.
5.2. Perfilman Indonesia Pasca Orde Baru
Hooker dan Dick dalam pengantar buku Culture and Society in New Order Indonesia seperti dikutip oleh Marshall Clark dalam tulisan Indonesian Cinema: Exploring cultures of Masculinity, Censorship, and Violencemengatakan bahwa seni para pembuat film hanya dapat berarti apabila bisa mengekspresikan dan berekspresi
dan berkomunikasi dengan perasaan masyarakat. “As a result, during the New Order era in particular, Indonesian artists worked hard to communicate directly with their audience, creatively engaging with issues of social and political significance (Clark dalam Heryanto, 2008: 43). Contohnya dalam hal seksualitas remaja dan kekerasan rumah tangga (Virgin, 2005), narkotika (Gerbang 13, 2005), geng kriminal (9 Naga, 2006), korupsi (Kejar Jakarta, 2006), dan homoseksualitas (Arisan, 2003).
Sinema Indonesia dibatasi oleh sensor, apalagi setelah munculnya wacana untuk mengesahkan Undang-Undang Anti Pornografi tahun 2006. Selain itu, ada juga risiko
mengundang kelompok-kelompok Islam radikal bila mengeluarkan film yang menampakkan erotisme dan homoseksualitas. Film 3 Hari Untuk Selamanya (2007) pernah merasakan gunting sensor tersebut. Akan tetapi, anehnya ada juga film yang lolos sensor walau menampakkan adegan homoerotis, seperti Kuldesak (1998) dan Arisan. Keberadaan kelompok-kelompok radikal itu menyebabkan bioskop dan studio film tidak ingin ambil resiko. Clark menulis:
For instance, no cinema chain wants to risk its cinemas being trashed by mobs of rampaging Islamic radicals enraged by the cinematic depiction of erotic or homosexual behaviour. Similarly, no film studio will want to see their latest cinematic investment fail to return a sizeable profit, due to poor ticket sales associated with negative publicity and court cases (Clark dalam Heryanto, 2008: 45).
Marshall Clark mengamati bahwa ada kecenderungan film-film Indonesia pasca Orde Baru mengarah pada tema maskulinitas dan kekerasan, yang bisa diamati misalnya dalam film Mengejar Matahari (2004) dan 9 Naga. Clark mengacu pada tulisan Tom
Boellstorff yang berjudul “The Emergence of Political Homophobia in Indonesia: Masculinity and National Belonging”. Boellstorff misalnya menyebut pada tahun 2000
pernah ada acara pertunjukan yang dilakukan oleh 350 homoseksual dan transgender
yang didatangi dan dirusak oleh Gerakan Pemuda Ka’bah. Clark mencatat:
Directed against public events where homosexual men are attempting to
stake a claim to Indonesian’s civil society, Boellstorff views these kinds of violent acts as a ‘masculine’ response to a homosexual threat... This pattern
of state-sanctioned homophobia, according to Boelstorff, indicates that
Indonesia may be gaining ‘a new masculine cast’, where male-to-male sexuality is not only a threat to normative masculinity, but indeed also to the nation itself(Clark dalam Heryanto, 2008: 46).
Loncatan dari ancaman terhadap maskulinitas menjadi bangsa terebut diamati Clark sebagai akibat indoktrinasi Orde Baru tentang keluarga ideal, yang mendukung ideologi heteroseksual dan posisi perempuan yang lebih rendah dari laki-laki. Undang–
Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi menjadi salah satu jalan untuk membatasi film- film yang mengusung tema LGBT. Film-film yang mengembalikan maskulinitas dan kekerasan juga menjadi penanda kemunculan kelompok-kelompok radikal yang ingin
mengembalikan ‘identitas bangsa’ yang terancam.