1. Bila ada Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan infeksi lain, maka suplementasi vitamin A diberikan pada :
Seluruh balita yang ada di wilayah tersebut diberi 1 (satu) kapsul Vitamin A dengan dosis sesuai umurnya.
Balita yang telah menerima kapsul Vitamin A dalam jangka waktu kurang dari 30 hari (sebulan) pada saat KLB, maka balita tersebut tidak dianjurkan lagi untuk diberi kapsul.
Catatan :
Pemberian vitamin A pada anak balita dalam situasi KLB campak dikoordinasikan dengan penanggung jawab surveilans di puskesmas.
2. Untuk pengobatan xeroftalmia, campak dan gizi buruk Bila ditemukan kasus xeroftalmia, campak dan gizi buruk (marasmus, kwashiorkor dan marasmik kwashiorkor), pemberian Vitamin A mengikuti aturan sebagai berikut :
Saat ditemukan
Berikan 1 (satu) kapsul Vitamin A merah atau biru sesuai umur Hari berikutnyaanak
Berikan lagi 1 (satu) kapsul Vitamin A merah atau biru sesuai umur anak
Dua minggu berikutnya
Berikan 1 (satu) kapsul Vitamin A merah atau biru sesuai umur anak.
Catatan :
Diharapkan pelaksanaannya terintegrasi dengan litas program terkait baik dalam hal logistik, pelayanan dan pencatatan.
Untuk kasus gizi buruk berat,
pemberian suplementasi Vitamin A mengikuti petunjuk Tatalaksana Gizi Buruk yang ada di Puskesmas atau Rumah Sakit
BAB III
MANAJEMEN KEGIATAN SUPLEMENTASI VITAMIN A
Manajemen Suplementasi Vitamin A merupakan komponen penting dalam kegiatan suplementasi vitamin A. Kegiatan ini meliputi : perencanaan kebutuhan kapsul, penyimpanan, pendistribusian serta pencatatan dan pelaporan.
A. PERENCANAAN KEBUTUHAN KAPSUL VITAMIN A
Kebutuhan kapsul vitamin A perlu dihitung secara seksama karena akan mempengaruhi dalam proses pengadaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses perencanaan ini adalah:
I. Kebutuhan Kapsul Vitamin A a. Perhitungan jumlah sasaran
Sasaran kegiatan suplementasi vitamin A adalah bayi usia 6-11 bulan, anak balita dan ibu nifas yang jumlahnya harus diketahui secara tepat. Hal ini sangat diperlukan dalam perencanaan untuk mencegah terjadinya kekurangan atau sebaliknya kelebihan jumlah kapsul yang disediakan. Untuk mengetahui jumlah sasaran dapat dilakukan melalui perhitungan menurut konsep wilayah kerja, yaitu:
Puskesmas
- Data sasaran bayi, anak balita dan ibu nifas merupakan sasaran riil di tingkat desa/kelurahan;
- Data sasaran bayi, anak balita dan ibu nifas di tingkat puskesmas merupakan rekapitulasi data desa/kelurahan;
- Data jumlah sasaran tersebut sebaiknya disepakati oleh bagian KIA, gizi dan imunisasi;
- Data sasaran riil digunakan untuk mengajukan kebutuhan kapsul vitamin A ke kabupaten/kota dan pelayanan pemberian kapsul vitamin A.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
- Melakukan penghitungan kelompok sasaran menggunakan data proyeksi yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi atau kabupaten/kota yang disepakati oleh KIA, gizi dan imunisasi. Data ini digunakan untuk perencanaan pengadaan kapsul vitamin A
- Untuk kabupaten/kota yang tidak memiliki data CBR, perhitungan sasaran dapat menggunakan CBR provinsi.
b. Perhitungan kebutuhan
Untuk menghitung kebutuhan suplementasi vitamin A untuk bayi, anak balita dan ibu nifas sebaiknya berdasarkan sasaran riil dari data tahun lalu, tetapi jika tidak ada data dapat menggunakan CBR dan untuk perlu menghitung jumlah sasaran terlebih dahulu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
b.1. Perhitungan sasaran dan kebutuhan kapsul vitamin A untuk bayi 6-11 bulan
Catatan :
1. CBR diambil dari data BPS masing-masing propinsi 2. Untuk kabupaten/kota yang sudah mempunyai CBR dapat
digunakan untuk melakukan perhitungan sasaran diatas Contoh:
2. Perhitungan kebutuhan kapsul vitamin A biru untuk bayi dalam 1 tahun Jumlah kebutuhan kapsul
1 tahun (2 periode pemberian pada bulan Februari dan Agustus):
9.300 bayi x 1 kapsul x 2 periode = 18.600 kapsul
Kebutuhan tidak terduga: 10% x 18.600 kapsul = 1.860 kapsul (+) Jumlah = 20.460 kapsul Stok yang ada (misalnya
tersedia 350 kapsul) = 350 kapsul (-)
Jadi jumlah kebutuhan kapsul Vitamin A untuk bayi = 20.110 kapsul Crude Birth Rate (CBR) x Jumlah penduduk
2
1. Perhitungan sasaran bayi (6-11 bulan)
Jumlah Penduduk 1.000.000 jiwa
CBR
Jumlah bayi (6-11 bulan) dalam 1 tahun 1.86% x 1.000.000 = 9.300 bayi 2
1.86%
b.2. Perhitungan sasaran dan kebutuhan kapsul vitamin A untuk balita 12-59 bulan
Jumlah balita 0-59 bulan = proporsi balita x jumlah penduduk Jumlah bayi 0-11 bulan = CBR x jumlah penduduk Jumlah anak balita 12-59 bulan = jumlah balita - jumlah bayi
Contoh:
Catatan :
1. CBR dan proporsi balita diambil dari data BPS masing-masing propinsi 2. Untuk kabupaten/kota yang sudah mempunyai CBR dan proporsi balita dapat
digunakan untuk perhitungan sasaran diatas
1. Perhitungan jumlah sasaran anak balita 12-59 bulan Jumlah penduduk 1 tahun 1.000.000 jiwa
Proporsi balita 9,8 %
CBR 1,86 %
Jumlah balita 0-59 bulan 9,8% x 1.000.000 = 98.000 balita Jumlah bayi 0-11 bulan 1,86% x 1.000.000 = 18.600 bayi Jumlah anak balita 12-59
bulan 98.000 - 18.600 = 79.400 balita
2. Perhitungan kebutuhan kapsul vitamin A merah untuk anak balita dalam 1 tahun adalah:
79.400 x 2 kapsul = 158.800 kapsul Kebutuhan kapsul dalam
1 tahun
10% x 158.800 = 15.880 kapsul (+) Kebutuhan tak terduga 10%
= 174.680 kapsul Jumlah kebutuhan kapsul merah untuk
anak balita (Sebelum dikurangi stok)
b.3. Perhitungan kebutuhan suplementasi vitamin A untuk Ibu nifas
Menghitung jumlah sasaran ibu nifas (0-42 hari setelah melahirkan):
1.05 x Crude Birth Rate x jumlah penduduk
Catatan :
1. CBR diambil dari data BPS masing-masing propinsi
2. Untuk kab/kota yang sudah mempunyai CBR dapat digunakan untuk perhitungan sasaran diatas
Contoh:
1. Perhitungan jumlah sasaran ibu nifas
Jumlah penduduk 1.000.000 jiwa CBR 1.86%
Jumlah sasaran ibu nifas 1.05 x 1.86% x 1.000.000 = 19.530 ibu
2. Perhitungan jumlah kapsul Vitamin A merah yang dibutuhkan ibu nifas dalam 1 tahun adalah
Jumlah kebutuhan
kapsul dalam 1 tahun 19.530 x 2 kapsul = 39.060 kapsul
10% x 39.060 = 3.906 kapsul(+) Kebutuhan tak terduga 10%
Kapsul Vitamin A merah yang di butuhkan
untuk ibu nifas (Sebelum dikurangi stok) = 42.966 kapsul
Catatan:
Propinsi/Kabupaten dapat juga menggunakan jumlah sasaran (tanpa angka proporsi) yang diberikan oleh BPS setempat.
1. Kapsul Biru Untuk bayi 6-11 bulan 20.110 kapsul
2. Kapsul Merah 217.146 kapsul
Anak Balita 12-59 bulan 174.680 kapsul Ibu nifas 42.966 kapsul (+) Kebutuhan Kapsul Merah dengan rincian
Jumlah 217.646 kapsul Sisa stok (31 Desember) 500 kapsul (-)
Jadi kebutuhan 217.146 kapsul
II. Mekanisme Penyediaan Kapsul Vitamin A
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kegiatan distribusi vitamin A dilaksanakan yaitu:
a. Puskesmas
Kapsul Vitamin A harus sudah tersedia di puskesmas minimal 1 bulan sebelum pelaksanaan bulan vitamin A
Permintaan kapsul vitamin A menggunakan formulir khusus (lampiran 6)
Petugas gizi puskesmas mengambil kapsul vitamin A ke kabupaten/kota
b. Kabupaten/Kota
Pengadaan kapsul vitamin A di kabupaten/kota diharapkan dapat memenuhi kebutuhan 100% sasaran. Pengadaan kapsul vitamin A dilakukan oleh Tim Pengadaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (menggunakan Dana APBD)
Kapsul Vitamin A harus sudah tersedia di kabupaten/kota 2 bulan sebelum pelaksanaan bulan Vitamin A
Pengelola program gizi membuat rencana distribusi kapsul Vitamin A untuk puskesmas dan disampaikan ke pengelola Gudang Farmasi Kabupaten/kota atau Instalasi Farmasi Kabupaten/kota (GFK/IFK).
b.4. Total jumlah kapsul vitamin A yang dibutuhkan dalam 1 tahun untuk kegiatan suplementasi vitamin A
c. Provinsi
Kapsul Vitamin A harus sudah tersedia di propinsi 4 bulan sebelum pelaksanaan bulan Vitamin A.
Pengelola program gizi membuat rencana distribusi kapsul Vitamin A untuk kabupaten/kota dan disampaikan ke pengelola gudang farmasi provinsi atau Instalasi Farmasi provinsi.
Pengadaan kapsul vitamin A di provinsi dilaksanakan untuk kebutuhan buffer stock
B. PENYIMPANAN DAN PENDISTRIBUSIAN 1. Penyimpanan kapsul Vitamin A
Kapsul Vitamin A termasuk dalam katagori obat yang lebih stabil dari vaksin. Penyimpanan kapsul Vitamin A sebaiknya menghindari tempat yang panas dan sinar matahari langsung karena dapat merusak kandungan vitamin A dalam kapsul.
Kapsul vitamin A disimpan di gudang farmasi dengan prosedur yang telah ditetapkan. Cara penyimpanan kapsul vitamin A yang benar adalah :
a. Jauhkan dari sinar matahari langsung
b. Simpan ditempat sejuk, kering dan tidak lembab
c. Vitamin A tidak perlu disimpan dalam lemari es/freezer d. Tutup rapat botol kemasan. Vitamin A dalam botol kemasan
yang belum dibuka dapat bertahan selama 2 tahun. Bila kemasan sudah dibuka, kapsul di dalamnya harus digunakan paling tidak dalam jangka waktu 1 tahun.
Permintaan dan pengeluaran vitamin A dari gudang farmasi sesuai dengan prosedur pengeluaran/permintaan obat lainnya.
Penanggung jawab penyimpanan dan distribusi kapsul Vitamin A yaitu Pengelola gudang farmasi dan Pengelola program gizi kabupaten/kota melakukan hal- hal sebagai berikut :
a. Semua permintaan kapsul tercatat dengan baik di buku ekspedisi yang dipegang oleh petugas bagian gudang farmasi dan gizi (lampiran 7). Informasi yang harus ada dalam buku ekspedisi: Tanggal permintaan, Jumlah yang diminta (botol atau kapsul), Jenis atau warna kapsul (biru atau merah), Nama, instansi dan tanda tangan pemohon, Nama dan tanda tangan petugas (bagian farmasi dan bagian gizi)
b. Petugas gudang farmasi dan petugas gizi harus mempunyai data jumlah setiap sasaran per wilayah, yang akan digunakan untuk klarifikasi bila permintaan kapsul melebihi jumlah sasaran. Jika menerima dan mendistribusikan kapsul, hal yang harus dilakukan adalah cek label kemasan untuk memastikan dosis suplementasi, dan cek tanggal kadaluarsa yang tertera dalam kemasan.
2. Distribusi Kapsul Vitamin A
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan pembagian kapsul vitamin A dari puskesmas ke kelompok sasaran dengan tepat jumlah dan dosisnya. Kegiatan distribusi kapsul dilakukan sebagai berikut :
a. Bulan Februari dan Agustus yang merupakan bulan Kapsul vitamin A untuk bayi dan anak balita. Pada bulan kapsul ini, semua bayi dan anak balita serentak mendapat kapsul Vitamin A di posyandu di sarana pelayanan kesehatan lain, atau di sekolah Taman Kanak-kanak dan kelompok bermain. Kegiatan ini diikuti dan digerakkan oleh semua unsur masyarakat.
Untuk meningkatkankan cakupan kapsul vitamin A dapat berintegrasi dengan kegiatan kampanye imunisasi dan kegiatan pelayanan kesehatan lainnya.
b. Khususnya daerah yang terpencil dan kepulauan mekanisme distribusi mengikuti sistem pelayanan kesehatan yang ada, yang harus diperhatikan adalah mempersiapkan dan melakukan pengiriman kapsul vitamin A lebih awal.
C. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pencatatan dan pelaporan merupakan bagian penting dari kegiatan pemantuan dan evaluasi. Pencatatan dan pelaporan cakupan suplementasi vitamin A pada bayi, anak balita dan ibu nifas dilakukan secara berjenjang mulai dari Posyandu sampai dengan provinsi.
1. Data Utama yang harus dicantumkan
Data utama yang harus dicantumkan adalah data jumlah sasaran program, data jumlah yang menerima kapsul vitamin A, dan cakupan kapsul vitamin A
a. Data jumlah sasaran program, adalah:
Data tentang jumlah bayi, anak balita dan ibu nifas yang seharusnya menerima suplementasi vitamin A dengan dosis sesuai umur. Jumlah sasaran yang ada:
Di Kabupaten menggunakan data proyeksi sasaran program kesehatan dari data BPS;
Di Puskesmas jumlah sasaran menggunakan data sasaran riil (hasil rekapitulasi sasaran per desa)
b. Data sasaran yang menerima suplementasi vitamin A, adalah:
Data tentang jumlah bayi, anak balita dan ibu nifas yang menerima kapsul vitamin A baik dari posyandu, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta (klinik-klinik bidan/dokter atau rumah sakit), atau tempat lainnya seperti TK dan PAUD (kelompok bermain).
Data penerima vitamin A balita dan bayi di tingkat posyandu di dicatat di KMS, buku KIA dan dicatat kembali dalam buku register balita.
Data penerima vitamin A balita dan bayi yang menerima kapsul vitamin A di fasilitas pelayanan kesehatan dicatat di buku kohort balita dan buku kohort bayi
Data ibu nifas yang menerima kapsul vitamin A dicatat pada buku KIA dan dicatat kembali dalam buku kohort ibu c. Data sisa pemakaian Kapsul Vitamin A
Sisa pemakaian kapsul Vitamin A dari tempat seluruh pelayanan di catat dalam formulir pencatatan (lampiran 4 dan 5)
2. Perhitungan Cakupan Suplementasi Vitamin A
Cara menghitung cakupan suplementasi Vitamin A merupakan hasil pembagian antara jumlah bayi, anak balita dan ibu nifas yang menerima kapsul dengan jumlah seluruh sasaran dan dikalikan 100%. Cara menghitung cakupan sebagai berikut:
Laporan cakupan kapsul vitamin A anak balita mendapat 2 kapsul dalam 1 tahun dan pilih
a. Cakupan Vitamin A Bayi (6-11 bulan) :
Jumlah bayi yang menerima kapsul vitamin A (6-11 bulan) x 100%
Jumlah seluruh Bayi umur 6-11 bulan b. Cakupan Vitamin A Anak Balita (12-59 bulan) :
Jumlah anak balita yang menerima kapsul vitamin A (12-59 bulan) x 100%
Jumlah seluruh Anak Balita umur 12-59 bulan c. Cakupan Vitamin A ibu Nifas :
Jumlah ibu nifas yang menerima kapsul vitamin A x 100%
Jumlah seluruh ibu nifas
III. Mekanisme Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan dilakukan di semua tingkatan, data yang dilaporkan adalah sebagai berikut:
a. Posyandu
Setiap posyandu melakukan registrasi semua bayi umur 6-11 bulan dan anak balita umur 12-59 bulan, hasilnya dicatat pada buku register yang ada seperti Register Penimbangan Balita atau Sistem Informasi Posyandu (SIP) .
Setiap pemberian kapsul vitamin A dicatat pada KMS, buku KIA dan direkapitulasi dalam buku bantu .
Setiap pemberian kapsul vitamin A yang dilakukan melalui sweeping juga harus dicatat pada buku pencatatan kegiatan yang ada.
Pencatatan di semua posyandu dan diluar posyandu seperti di TK, PAUD dll direkapitulasi untuk memperoleh cakupan tingkat desa;
Hasil rekapitulasi pemberian Vitamin A setiap desa dilaporkan ke puskesmas.
b. Puskesmas
Pemberian kapsul vitamin A ibu nifas dicatat di kohort ibu, termasuk pemberian vitamin A yang dilakukan pada pelayanan praktek swasta.
Pemberian kapsul vitamin A bayi dan anak balita yang dilaksanakan di di klinik bidan/dokter, rumah sakit, dan lain-lain harus dicatat dan dilaporkan oleh puskesmas.
Pemberian kapsul vitamin A yang dilaksanakan di posyandu dan tempat lainnya seperti TK, Pos PAUD direkapitulasi di tingkat desa dan dilaporkan menjadi laporan tingkat puskesmas.
Hasil rekapitulasi tingkat puskesmas dilaporkan ke kabupaten/kota oleh pengelola program gizi setelah berkoordinasi dengan pengelola program KIA.
Catatan:
Laporan pelayanan kapsul vitamin A pada situasi khusus (KLB) dan untuk pengobatan dilaporkan dalam laporan khusus (mengikuti prosedur pelaporan yang ada).
c. Kabupaten/Kota
Laporan pemberian kapsul vitamin A ibu nifas tingkat Kabupaten/Kota mencakup kegiatan pemberian vitamin A yang dilakukan oleh puskesmas dan pemberian Vitamin A nifas yang dilakukan di Rumah Sakit Pemerintah maupun swasta, dan dilaporkan setiap bulan.
Hasil rekapitulasi tingkat Kabupaten/Kota dilaporkan ke Propinsi oleh pengelola program gizi setelah berkoordinasi dengan pengelola program KIA, tiga bulan sekali
Laporan pemberian kapsul vitamin A anak balita dari seluruh puskesmas dikirim ke Kabupaten/Kota pada bulan Maret untuk kegiatan distribusi bulan Februari dan bulan September untuk kegiatan distribusi Vitamin A bulan Agustus.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengirim laporan distribusi Vitamin A balita ke Propinsi 2 kali setahun untuk kegiatan distribusi bulan Februari dan Agustus dan mengumpan balikkan ke puskesmas.
Penanggung jawab program gizi Provinsi merekap hasil cakupan Vitamin A Bayi dan Cakupan Vitamin A ibu Nifas tiap
Kabupaten/Kota dan melaporkan ke Pusat setahun sekali.
d. Provinsi
Laporan hasil pemberian kapsul vitamin A bayi dan anak balita dari seluruh kabupaten /kota paling lambat diterima di propinsi pada awal bulan April dan Oktober. Petugas gizi propinsi mancatat hasil cakupan tiap kabupaten/kota dan
merekapitulasi untuk mendapatkan cakupan tingkat propinsi Laporan pemberian kapsul vitamin A ibu nifas yang dibuat
oleh pengelola program gizi harus berkoordinasi dengan pengelola program KIA
Melakukan analisa data cakupan pada setiap periode (Februari dan Agustus) dan melakukan umpan balik kesetiap kabupaten Pencatatan laporan ini dilaporkan ke Pusat
BAB IV
SOSIALISASI SUPLEMENTASI VITAMIN A
Sosialisasi merupakan bagian yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi memberikan kontribusi yang penting untuk terciptanya mobilisasi dan partisipasi yang efektif dalam masyarakat.
Penyebarluasan informasi khususnya tentang vitamin A dan program suplementasi vitamin A perlu dilakukan sebelum bulan Kapsul (Februari dan Agustus), dengan tujuan untuk meningkatkan cakupan pemberian kapsul Vitamin A yang melibatkan unsur masyarakat termasuk ibu balita dan ibu nifas.
Beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan sosialisasi suplementasi vitamin A adalah sebagai berikut:
1. Mengapa perlu dilakukan kegiatan sosialisasi suplementasi vitamin A?
Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat Menggalang kemitraan yang intensif dengan media massa dan
kelompok potensial
Menggalang kepedulian petugas
Memperoleh dukungan dari berbagai sektor, organisasi kemasyarakatan dan organisasi profesi
2. Apa tujuan yang ingin dicapai dalam sosialisasi?
a. Agar masyarakat berubah:
Dari tidak tahu menjadi tahu Dari tahu menjadi mau
Dari mau menjadi tergerak dan ikut melaksanakan b. Diharapkan masyarakat dapat:
Meningkatkan demand (kebutuhan) terhadap kapsul vitamin A
Meningkatkan penggerakan masyarakat (Social Mobilization) Meningkatkan cakupan suplementasi Vitamin A
3. Siapa sasaran, dimana dan kegiatan apa yang dapat digunakan dalam sosialisasi suplementasi vitamin A?
a. Sasaran sosialisasi Sasaran langsung:
ibu yang mempunyai balita usia 6 bulan sampai 59 bulan, dan ibu nifas
Sasaran tidak langsung:
1. Tokoh agama, tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat 2. Pemegang kebijakan (bupati/walikota, camat, kepala
desa/lurah) dan legislatif 3. Petugas kesehatan.
b. Sarana pelayanan dan organisasi yang dapat digunakan untuk sosialisasi
Pelayanan kesehatan: Posyandu, puskesmas, polindes, poskesdes, praktek swasta, balai pengobatan, dan sarana kesehatan lain.
Organisasi: PKK, Karang Taruna, Organisasi Wanita, Organisasi Keagamaan, dll
c. Kegiatan
Acara kemasyarakatan yang melibatkan beberapa atau banyak orang misalnya perkumpulan keagamaan (pengajian, kebaktian dll), arisan, rapat RW/RT, acara karang taruna dan kegiatan lain. Salah satu contoh kegiatan yang dilakukan oleh organisasi karang taruna berupa pembuatan Spanduk Vitamin A.
4. Kapan sosialisasi suplementasi vitamin A dilakukan?
a. Sosialisasi yang bersifat rutin atau berkala Kegiatan :
Penyebaran informasi secara formal dan informal, seperti:
seminar, pelatihan, penyuluhan secara rutin atau berkala (tergantung sumber daya yang ada seperti dana, sumber daya manusia, dan lain-lain).
Penyebaran stiker, poster, leaflet dan media lain.
Penyebaran informasi dengan cara menyisipkan pada kegiatan-kegiatan lain
Melibatkan organisasi masyarakat untuk ikut berpartisipasi b. Sosialisasi yang bersifat periodik:
Sosialisasi 1 bulan menjelang bulan vitamin A (bulan Januari dan Juli)
Contoh kegiatan:
- Pemasangan spanduk/umbul- umbul di beberapa tempat strategis.
- Penyebaran informasi melalui media televisi (tingkat pusat dan propinsi).
- Penyebaran informasi melalui media radio lokal (propinsi dan kabupaten/kota).
- Pertemuan dengan aparat pemerintahan pada tingkat desa (dengan melibatkan beberapa unsur desa) untuk
membicarakan persiapan pelaksanaan bulan vitamin A.
- Penyebarluasan informasi diberbagai
kesempatan/acara/kegiatan baik formal dan informal.
- Pemberitahuan di tempat-tempat yang mendistribusikan suplementasi vitamin A, misalnya pada sarana pelayanan kesehatan (posyandu, pustu, polindes, balai pengobatan, dan tempat lain), dan sarana lain (TK, dan Kelompok Bermain).
Sosialisasi pada beberapa hari menjelang bulan vitamin A Contoh kegiatan :
- Pemasangan spanduk/umbul-umbul di berbagai tempat strategis
- Penyebaran informasi melalui media televisi dan radio lokal - Penyebarluasan informasi di berbagai
kesempatan/acara/kegiatan baik formal dan informal - Memberdayakan peran serta aktif masyarakat terutama
ibu-ibu untuk saling mengingatkan sesama tetangga . - Penyebarluasan informasi ke wilayah-wilayah yang sulit
terjangkau posyandu atau wilayah dimana media komunikasinya terbatas, yang dapat dilakukan dengan memberi informasi kepada kepala dusun atau tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.
Sosialisasi mobilisasi 1 hari menjelang hari posyandu/
pendistribusian vitamin A Contoh kegiatan :
- Memberdayakan peran serta aktif masyarakat terutama para ibu untuk saling mengingatkan sesama tetangga untuk datang pada hari pembagian suplementasi vitamin A.
- Pengumuman secara massal melalui media komunikasi lokal yang dimiliki desa dan dapat menjangkau masyarakat banyak, misalnya dengan menggunakan pengeras suara di masjid, gereja atau tempat ibadah lainnya, mobil puskesmas keliling, dan sarana lain.
Sosialisasi mobilisasi pada hari H pemberian kapsul Vitamin A
Contoh kegiatan :
- Memberdayakan peran serta aktif masyarakat terutama ibu-ibu untuk saling mengingatkan dan mengajak tetangga sekitar rumah yang memiliki balita untuk mendapatkan suplementasi vitamin A.
- Pengumuman secara massal yang dapat menjangkau masyarakat banyak misalnya mengumumkan dengan
menggunakan pengeras suara di masjid, gereja atau tempat ibadah lainnya, mobil puskesmas keliling dan sarana lain.
5. Media komunikasi apa yang dapat digunakan?
Media cetak, seperti: leaflet, spanduk, booklet, poster, banner, stiker
Media elektronik, seperti: TV dan radio, dan media lain
Media komunikasi lainnya, seperti: seni tradisional dan kegiatan lain.
6. Siapa yang bertanggung jawab melakukan sosialisasi?
Di tingkat kabupaten/kota: pengelola program Promkes dan Gizi Di tingkat puskesmas: penanggung jawab Promkes dan Gizi 7. Siapa yang berperan dalam melakukan sosialisasi
Aparat desa, kader, Tokoh masyarakat, Tokoh agama, guru, anak sekolah
BAB V Kegiatan pemantauan dan evaluasi dilakukan di posyandu sampai
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Hasilnya dilaporkan secara berjenjang dan disertai umpan balik. Kegiatan ini dibutuhkan untuk mengatur kegiatan suplementaasi vitamin A agar berjalan sesuai dengan rencana, sehingga bila ada masalah dapat ditemukan dan ditangani sejak dini.
Indikator yang digunakan dalam evaluasi adalah:
1. Input :
Logistik (jumlah dan ketersediaan kapsul vitamin A di setiap tempat pelayanan dan formulir pencatatan-pelaporan) SDM (Petugas kesehatan dan kader)
Dana operasional Sarana dan prasarana 2. Proses
Jumlah sasaran yang datang dan menerima Ketepatan sasaran menerima dosis yang sesuai Ketepatan pencatatan
Ketepatan pelaporan
Ketepatan jadwal sosialisasi
Koordinasi dalam pencatatan, pelaporan, dan umpan balik (PWS KIA-Gizi)
3. Output
Cakupan suplementasi kapsul Vitamin A sesuai sasaran pemberian kapsul.
EVALUASI
BAB VI
LAMPIRAN
HUBUNGAN PERMINTAAN DAN DISTRIBUSI SUPLEMENTASI VITAMIN A Hal-hal yang diperhatikan
Pusat
- Ada Koordinasi antara Direktorat Bina Gizi Masyarakat dan Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes dalam hal perencanaan kebutuhan kapsul vitamin A - Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes bertugas
melaksanakan pengadaan kapsul vitamin A dan mendistribusikan ke daerah
- Pusat menerima surat permintaan dari Dinas Kesehatan Propinsi
dan pusat hanya menyediakan buffer stock kapsul - Pengiriman kapsul vitamin A melalui 1 pintu yaitu
Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.
PUSAT
Surat Permintaan dari Propinsi ke Pusat
Surat Permintaan dari Kabupaten/Kota
Formulir Permintaan menggunakan formulir obat yang lainnya dari
puskesmas ke kabupaten/kota
Keterangan :
- Ada koordinasi antara seksi gizi dengan farmasi dalam hal perencaan alokasi dan distribusi kebutuhan untuk masing-masing Kabupaten/Kota - Propinsi diharapkan untuk menyediakan buffer
stock suplementasi vitamin A, dan mengusulkan ke Pusat bila terdapat kekurangan.
Kabupaten/Kota
- Pengelolaan kapsul vitamin A melalui 1 pintu.
- Penanngung jawab program gizi Dinkes kab/Kota membuat perencanaan kebutuhan Vitamin A, berkoordinasi dengan penanngung jawab pengadaan obat .
- Usulan pengadaan kapsul vitamin A harus
- Usulan pengadaan kapsul vitamin A harus