TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Agribisnis Umum
2.1.5. Supply dan Demand Terhadap Daging Sapi
penerimaan tiba, dengan melakukan pengecekan tanggal kadaluwarsa, memastikan bungkus atau kemasan tahan air dan kedap udara, menolak bahan pangan yang terdapat tanda-tanda kerusakan, mengecek suhu bahan pangan yang direfrigerasi atau beku, memperhatikan kerusakan isi dan infestasi serangga serta menolak produk yang dikirim tergeletak dalam
crates yang kotor.
c. Penyimpanan
Secara umum, terdapat empat kemungkinan cara untuk menyimpan makanan yaitu dalam unit penyimpanan kering untuk menyimpan lebih lama item-item yang tidak mudah rusak, dalam refrigerator untuk menyimpan jangka pendek dari item yang perishable, dalam unit yang dirancang khusus untuk periode singkat, dan dalam satu freezer untuk menyimpan pangan mudah rusak untuk jangka lebih panjang.
2.1.5. Supply dan Demand Terhadap Daging Sapi
Permintaan dan penawaran terhadap daging sapi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, peningkatan tersebut ditandai dengan terjadinya peningkatan produksi terhadap daging sapi,berdasarkan data dari outlook daging sapi (2019:16) dijelaskan bahwa produksi daging sapi di Indonesia tahun 1984-2019 secara umum menunjukkan peningkatan dengan rata-rata 2,34% per tahun. Perkembangan produksi nasional selama sepuluh tahun terakhir (2010-2019) cenderung meningkat sedikit lebih rendah, yaitu rata-rata sebesar 1,41% per tahun.
27
Selama periode tersebut di Jawa meningkat lebih rendah dibanding luar Jawa, peningkatan di Jawa sebesar 1,00% per tahun, sedangkan luar Jawa naik sebesar 2,11% per tahun. Produksi daging sapi Indonesia tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 2,40% dibanding tahun 2017, atau pada tahun 2017 produksi daging sebesar 486,32 ribu ton naik menjadi 497,97 ribu ton di tahun 2018. Angka sementara tahun 2019 menunjukkan bahwa produksi daging sedikit turun, menjadi sebesar 490,42 ribu ton atau turun sebesar 1,52%.
Perbandingan angka populasi sapi potong dan produksi daging sapi di Jawa dan luar Jawa menunjukkan bahwa produksi daging sapi di Jawa lebih banyak dibandingkan dengan luar Jawa. Selama ini populasi sapi di Luar Jawa selain untuk memenuhi kebutuhan di wilayah sendiri juga menopang kebutuhan sapi bakalan potong di Jawa, terutama dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tengara Barat. Disamping itu angka produksi sangat dipengaruhi oleh konsumsi per kapita daging sapi, oleh karena jumlah penduduk di Jawa lebih tinggi dari luar Jawa, maka produksi daging di Jawa juga lebih tinggi (Outlook Daging Sapi, 2019:17).
Perkembangan terhadap jumlah konsumsi masyarakat terhadap daging sapi selama sepuluh tahun terakhir (2010-2019) juga terjadi, konsumsi dari tahun 2010 hingga tahun 2019 berfluktuasi dan cenderung meningkat rata-rata sebesar 2,04% per tahun. Pada periode ini puncak konsumsi tertinggi di tahun 2012 naik sebesar 8,32% yaitu dari 2,428 kg/kap/tahun tahun 2011 menjadi 2,630 kg/kap/tahun tahun 2012. Namun juga mengalami penurunan konsumsi cukup signifikan di tahun 2013 sebesar 18,51% yaitu dari 2,630 kg/kap/tahun
28
tahun 2012 menjadi 2,143 kg/kap/tahun di tahun 2013. Hal ini merupakan dampak dari terjadinya lonjakan harga daging sapi di tingkat konsumen pada periode yang sama sebesar 17,52%, yaitu menjadi Rp. 90.401/kg dari tahun sebelumnya Rp. 76.925/kg. Selama sepuluh tahun terakhir (2008-2017) konsumsi daging sapi rumah tangga meningkat 6,76% per tahun, atau lebih tinggi dari kenaikan daging sapi total. Konsumsi total daging sapi segar tahun 2019 sebesar 2,56 kg/kap/tahun, naik 2,40% dari tahun 2018 sebesar 2,50 kg/kapita/tahun (Outlook Daging Sapi, 2019:20)
Perbandingan konsumsi rumah tangga daging sapi dibandingkan dengan konsumsi total setara daging adalah 16%, hal ini berarti daging yang dimasak di rumah hanya sekitar 16%, sisanya 84% daging banyak dikonsumsi sebagai daging olahan atau daging siap saji. Konsumsi daging sapi tahun 2018 dan tahun 2019, cenderung meningkat hal ini karena harga daging sapi cenderung turun, dari Rp 91.946,- per kilogram, menjadi Rp 80.155,- per kilogram (Outlook Daging Sapi, 2019:21).
Perkembangan jumlah konsumsi juga diikuti oleh perkembangan harga daging sapi, sejak tahun 2010 hingga tahun 2019 cenderung terus meningkat, rata-rata sebesar 3,93% per tahun. Peningkatan tertinggi tahun 2013 sebesar 17,52% menjadi Rp. 90.401/kg dari tahun 2012 sebesar Rp. 76.925,-/kg. Harga daging sapi pada 2 tahun terakhir (2018-2019) cenderung stabil, dari harga Rp 114.781,-/kg hingga Rp 116.670,-/kg dengan peningkatan sebesar 1,65% per tahun. Fenomena terjadinya lonjakan harga biasanya dikarenakan konsumsi
30
air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman (PP No.17 Tahun 2015).
Konsumsi pangan merupakan kebutuhan pokok setiap individu, sehingga menjadi penting untuk memenuhinya. Kualitas dan kuantitas konsumsi pangan dapat mempengaruhi ketahanan pangan (Kusumawati, Triastuti Dewi, Sri Marwanti dan Susi Wuri Ani, 2014:10). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.17 Tahun 2015 ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan suatu negara hingga ke perseorangan yang ditandai dengan tersedianya pangan yang cukup, baik dari kuantitas maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.
Terdapat empat pilar ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan,akses pangan, pemanfaatan pangan dan stabilitas pangan ( Hapsari, I.N. dan Iwan Rudiarto,2017:128). Ketersediaan pangan merupakan salah satu pilar dan indikator keberhasilan ketahanan pangan. Ketersediaan pangan dapat diperoleh dari hasil produksi dalam negeri, cadangan pangan nasional serta impor apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan.
Menurut Ariesa,Yeni dan Khairani Rafida (2019:15-16), ketahanan pangan merupakan suatu tantangan yang harus dijadikan prioritas untuk
31
mendapatkan kesejahteraan bangsa. Upaya yang dapat dilakukan dalam mewujudkan ketahanan pangan adalah dengan mengoptimalkan sumber daya lokal yang beragam yang berasal dari beberapa daerah. Selain itu, langkah strategis lain yang dapat dilakukan adalah dengan terus menjaga ketersediaan pangan. Menurut Badan Pengkajian Dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (2014) untuk tetap menjaga ketersediaan pangan ,hal yang perlu diperhatikan adalah supply chain meliputi aspek pasokan dan distribusi baik secara konvensional maupun rantai dingin (cold chain) .