BAB IV LAPORAN PELAKSANAAN PROYEK YANG TELAH SELESAI
4.1. Support for Poor and Disadvantage Areas (SPADA) , 4788-IND Pinjaman Bank Dunia (PCR)
Dunia (PCR)
Gambaran Umum
Kode Proyek 4788-IND
Nama Proyek Support for Poor and Disadvantage Areas (SPADA)
Sumber Pembiayaan Bank Dunia
Instansi Penanggung Jawab Sekretariat Jenderal, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
Nilai Pinjaman USD 105,18 juta
Pinjaman Efektif 01 November 2005
Pinjaman Berakhir: 31 Desember 2012
Program Support for Poor and Disadvantage Areas (SPADA) atau Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) merupakan bagian dari PNPM Mandiri Inti dengan nama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Daerah Tertinggal dan Khusus (Program PNPM Mandiri DTK). SPADA merupakan program kerjasama Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia untuk mendukung percepatan pembangunan sosial-ekonomi di daerah tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan penguatan kapasitas pemerintah daerah. Dana yang disalurkan melalui SPADA, dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan yang menjadi prioritas utama dari masyarakat setempat yang pembahasan usulannya dilakukan melalui forum Musrenbang. Dengan demikian pemanfaatan dana ini dapat disinergikan secara optimal dengan program-program lain yang dananya berasal dari APBN dan APBD setempat.
Program SPADA dilaksanakan di 32 kabupaten tertinggal pada 8 provinsi di Indonesia yaitu Bengkulu, Lampung, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Timor Tengah Selatan yang mencakup 32 kabupaten dan 186 kecamatan. Secara umum kondisi-kondisi dari masing-masing daerah tertinggal mengalami keterisolasian wilayah, rendahnya tingkat ekonomi masyarakat, buruknya infrastruktur, pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai, serta lemahnya kapasitas aparatur daerah. Selain membangun PLTD, di Sulawesi Tengah, SPADA berkonstribusi juga antara lain dalam pembangunan Posyandu, pelatihan guru, jembatan gantung, tambatan perahu, dan pengembangan ekonomi lokal.
Tujuan spesifik dari Program SPADA antara lain (1) Peningkatan kapasitas pemerintah daerah, masyarakat dan lembaga sosial dalam perencanaan pembangunan partisipatif; (2) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas pelayanan dasar masyarakat, terutama pendidikan dan pelayanan kesehatan; (3) Mengembangkan kapasitas kelembagaan, lembaga ekonomi masyarakat dan pemerintah dalam mendukung penciptaan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pengembangan investasi swasta; dan (4) Memberdayakan masyarakat melalui penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur sosial dan ekonomi. Kegiatan yang dikembangkan oleh SPADA meliputi 5 (lima) bidang yaitu: (1) Bidang pengembangan masyarakat; (2) Bidang mediasi dan penguatan hukum masyarakat; (3) Pendidikan; (4) Kesehatan; dan (5) Bidang pengembangan sektor swasta. Capaian Penyelesaian Sub Proyek; Sejak Tahun 2007 sampai Mei 2012, telah tersalurkan dana DOK dan BLM Rp. 771.365.816.629,- untuk membiayai sebanyak 8.651 sub proyek/kegiatan. Dari total sub proyek tersebut sebanyak 2.123 (24,54%) sub proyek di Bidang Pendidikan, 1.608 (18,59%) sub proyek Bidang Kesehatan, dan yang terbanyak adalah 4.015 sub proyek (46,41%) di Bidang
Infrastruktur.Kegiatan-kegiatan tersebut telah memberikan manfaat bagi 4.771.900 orang atau sebesar 56,74% dari jumlah penduduk di 32 kabupaten sasaran. Dari seluruh pemanfaat tersebut, sebesar 25,37% adalah pemanfaat perempuan. Sementara dari sudut kelompok sasaran KK miskin, sebesar 42% KK miskin telah menjadi sasaran pemanfaat SPADA.
Pengembangan Sektor Swasta (PSS); Program PSS di wilayah SPADA Nasional dilaksanakan di 8 provinsi di 29 kabupaten. Tujuan program tersebut untuk membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam memulihkan dan membangkitkan kondisi investasi dan pelayanan usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Ada 5 strategi kegiatan PSS, yaitu: (1) Pengadaan dan perbaikan infrastruktur pendukung kegiatan usaha; (2) Pengembangan mekanisme dialog antara sektor swasta dan Pemerintah daerah dalam perumusan strategi pengembangan iklim usaha dan investasi; (3) Membangun jaringan kerjasama untuk pengembangan iklim usaha dan investasi; (4) Penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam perumusan regulasi/kebijakan daerah; dan (5) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui kerjasama dengan program pelatihan dari lembaga-lembaga yang kompeten.
Hasil yang sudah dicapai dalam program PSS ini antara lain: (1) Sejak tahun 2007 sampai 2010 sudah terdaftar 14.482 Usaha Baru; (2) Sudah terbentuk 27 Forum Sektor Swasta (FSS) di 27 kabupaten sebagai forum lintas pelaku antara para pelaku usaha dan pemerintah untuk mengembangkan kondisi investasi usaha di daerah; dan (3) Ada 2 kabupaten yang telah berinisiatif untuk mengembangkan Peraturan Daerah dalam rangka mendukung kegiatan pengembangan investasi usaha yang diinisiasi oleh PSS SPADA . Sementara itu kegiatan-kegiatan lain perlu didorong lebih lanjut antara lain penguatan jaringan kerja sama; kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas; dan penguatan regulasi lokal mengenai peningkatan kondisi investasi usaha.
Sustainabilitas Program SPADA; Sustainabilitas SPADA bisa diukur dari dua hal yaitu tingkat kemanfaatan dan keberlanjutan sub-sub proyek yang dibangun oleh SPADA, serta sejauh mana pelembagaan institusi-institusi mekanisme program yang sudah dikembangkan oleh SPADA. Hasil output study SPADA, khususnya sub-sub proyek infrastruktur, menunjukkan tingkat kemanfaatan dan keberlanjutan sebesar 63%. Alih kelola aset sub-sub proyek telah dilakukan untuk memperkuat tingkat keberlanjutan aset sub proyek yang dibangun SPADA, dengan melakukan Serah Terima Alih Kelola SPADA kepada para bupati kepala daerah. Seluruh kabupaten di wilayah SPADA (32 kabupaten), telah melakukan proses serah terima alih kelola tersebut, yang berarti bahwa inisiatif dan tanggung jawab pemeliharaan dan keberlanjutan sub-sub proyek selanjutnya berada di tangan pemerintah daerah.
Lesson Learned
Lessons Learned Positif SPADA untuk dipertahankan di masa mendatang:
1. Perencanaan pembangunan daerah yang lebih partisipatif telah dilaksanakan di 32 kabupaten sasaran SPADA. Kajian Teknis sebagai bagian dari model perencanaan SPADA tersebut telah menumbuhkan peningkatan kapasitas para pelaku SPADA, baik dari unsur masyarakat maupun dari unsur pemerintah, khususnya dalam hal memahami dan menganalisa permasalahan, kebutuhan dan merumuskan prioritas pembangunan di masyarakat.
2. Masyarakat sebagai salah satu kelompok pelaku SPADA sudah memahami mekanisme perencanaan partisipatif yang bersifat terbuka, sehingga semakin berani dan kritis dalam mengemukakan pendapat serta aspirasinya berkaitan dengan perencanaan maupun implementasi kegiatan.
3. Proyek-proyek yang dibangun SPADA baik di bidang infrastrukrur, pendidikan, dan kesehatan memberikan manfaat dan kepuasan yang baik kepada masyarakat. Angka EIRR sub-sub proyek infrastruktur di SPADA nasional adalah sebesar 31,56% di atas angka yang ditetapkan dalam KPI. Sebesar 83,50% masyarakat menyatakan kepuasannya terhadap kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan yang dikembangkan oleh SPADA di wilayah nasional. Sementara di bidang
pendidikan, masyarakat yang menyatakan puas mencapai 7 , 5%.
4. Penerapan safe-guard keuangan yang ketat, pemantauan tahapan sub-proyek melalui Forum-Forum Musyawarah Pertanggungjawaban kegiatan, serta peran BPKP dalam temuan-temuan kasus penyimpangan keuangan diprogram SPADA, telah mendorong ditegakkannya transparansi keuangan.
5. Mekanisme pembuatan Berita Acara Laporan Akhir Pelaksanaan SPADA dan Berita Acara Alih Kelola dan Serah Terima SPADA merupakan instrumen pengakhiran program yang positif dalam upaya mendorong pemerintah daerah lebih bertanggungjawab terhadap hasil program SPADA ke depan, meskipun dalam beberapa hal proses tersebut perlu perbaikan lebih lanjut.
6. Kelembagaan-kelembagaan mitra dan pelaku yang dibentuk oleh SPADA seperti Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat (TPKM), Komite Kesehatan, Pokja Pendidikan Tingkat Kecamatan, dan lain-lain telah ditingkatkan serta berperan positif melalui program SPADA, dalam memperkuat mekanisme perencanaan partisipatif yang akomodatif terhadap kebutuhan masyarakat.
Lessons Learned Negatif SPADA untuk diperbaiki di masa mendatang:
1. Ego-sektoral di jajaran instansi pemerintah daerah yang terkait dengan program SPADA masih dirasakan cukup dominan sehingga sinergisitas antarprogram belum optimal.
2. Masih banyak anggota legislatif dan aparatur di daerah yang kurang paham atas makna dan substansi perencanaan partisipatif. Fasilitasi peningakatan mengenai perencanaan partisipatif kepada anggota legislatif tersebut secara pendekatan kurang terperhatikan di dalam proses program SPADA.
3. Kurangnya pendekatan yang diterapkan SPADA daerah untuk mengembangkan/mendorong munculnya peraturan daerah guna memperkuat proses pelaksanaan dan hasil SPADA, seperti misalnya peratauran daerah terkait dengan perencanaan partisipatif, keberlanjutan pemeliharaan dan pengelolaan hasil program, dukungan pengembangan investasi usaha.
4.2. 4789-IND dan 4077-IND – Indonesia Managing Higher Education for
Relevance and Efficiency (I-MHERE) Pinjaman Bank Dunia (PCR)
Gambaran Umum
Kode Proyek 4789-IND
Nama Proyek Indonesia Managing Higer Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE)
Sumber Pembiayaan Bank Dunia
Instansi Penanggung Jawab Ditjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Nilai Pinjaman USD 80,50 juta
Pinjaman Efektif 10 Desember 2005
Kegiatan I-MHERE bertujuan menciptakan lingkungan bagi perkembangan lembaga perguruan tinggi yang otonom dan akuntabel, serta untuk mengembangkan mekanisme dukungan yang efektif bagi peningkatan kualitas, relevansi, efisiensi dan pemerataan pendidikan tinggi. Untuk mencapai tujuan tersebut, desain I-MHERE terdiri dari dua komponen kegiatan, yaitu (i) Higher education system reform and oversight; (ii) Grants to improve academic quality and institutional performance. Komponen pertama ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pendidikan tinggi di tingkat pusat termasuk pembenahan kerangka perundangan yang menjadi landasan operasional penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia. Komponen ini juga mencakup sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi melalui Badan Akreditasi Nasional (BAN PT) dan peningkatan mutu penyelenggaraan program pendidikan jarak jauh. Sementara itu, komponen kedua ditujukan untuk peningkatan kapasitas manajemen serta kualitas program akademik di perguruan tinggi. Komponen ini meliputi tiga kelompok hibah, yaitu:
a. Hibah peningkatan kualitas program;
b. Hibah peningkatan kapasitas manajemen di lingkungan perguruan tinggi; dan
c. Hibah yang didasari kontrak berbasis kinerja antara Ditjen Pendidikan Tinggi, Kemdikbud dengan Perguruan Tinggi.
Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan
Kegiatan I-MHERE secara keseluruhan telah mencapai target yang ditentukan sebagai berikut: a. Draft Undang-Undang Badan Hukum Perguruan Tinggi (BHP) selesai tahun 2010, sebagai dasar
struktur hukum dan kerangka regulasi untuk mendukung efektivitas otonomi lembaga.
b. Sistem Informasi Nasional untuk Pendidikan Tinggi (The National Information System for Higher Education/ NISHE) mengembangkan kemampuan untuk melakukan pelacakan alumni secara reguler pada tahun 2010, sebagai ukuran peningkatan kapasitas yang signifikan di Ditjen Pendidikan Tinggi dalam mengumpulkan, menganalisa dan melakukan diseminasi data.
c. 5% dari perguruan tinggi telah mendapatkan akreditasi institusi pada tahun 2010, sebagai ukuran pengembangan serta implementasi standar dan prosedur baru untuk akreditasi institusi oleh BAN-PT.
d. 5 perguruan tinggi negeri mendapatkan status audit keuangan wajar tanpa perkecualian (unqualified opinion), sebagai ukuran penguatan kapasitas pengelolaan dalam pelaksanaan otonomi secara efektif.
e. Evaluasi yang komprehensif terhadap mekanisme pendanaan dengan line-item, hibah kompetisi, dan kontrak kinerja selesai pada tahun 2010, sebagai ukuran dan dasar bagi pemerintah dalam membangun kebijakan mengenai mekanisme pembiayaan publik bagi pendidikan tinggi.
Lesson Learned
Selain keberhasilan dalam mencapai indikator-indikator kinerja tersebut, kegiatan I-MHERE juga telah memberikan pembelajaran bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi sebagai berikut:
(i) Pada tingkat pusat, adanya perbedaan pemahaman terhadap kerangka peraturan dasar yang digunakan sebagai dasar desain proyek yang menghambat efektivitas pencapaian tujuan kegiatan. Upaya-upaya yang perlu diperhatikan dan diperkuat antaranya adalah:
Perlunya diseminasi konsep otonomi perguruan tinggi yang tidak hanya terbatas mengenai sektor keuangan dan privatisasi perguruan tinggi saja. Diseminasi tersebut sangat diperlukan
untuk mempersiapkan masyarakat dengan peraturan dan kebijakan baru yang akan diimplementasikan di perguruan tinggi.
Pengumpulan data dan informasi, untuk memantau perencanaan dan pelaksanaan di perguruan tinggi. Analisis data dan informasi tersebut akan bermanfaat jika digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan baik di tingkat pusat maupun di institusi.
Penjaminan mutu dan akreditasi eksternal melalui BAN-PT merupakan aspek penting dalam meningkatkan kapasitas pemantauan Ditjen Pendidikan Tinggi. Namun, perlu kesamaan pemahaman bahwa penjaminan mutu merupakan tanggung jawab internal institusi untuk penguatan dan peningkatan kualitasnya.
Skema alokasi pendanaan berbasis kinerja belum sesuai untuk diimplementasikan di Indonesia, dikarenakan skema tersebut membutuhkan berbagai peraturan penunjang.
(ii) Pada tingkat institusi, terdapat permasalahan teknis meliputi fund channeling dan kapasitas institusi dalam melaksanakan pengadaan barang dan jasa menggunakan procurement guidelines Bank Dunia. Kegiatan I-MHERE juga memperkenalkan konsep penguatan pendidikan tinggi, seperti tracer study yang selama ini masih dipahami hanya sebagai persyaratan akreditasi. I-MHERE mengusulkan konsep kegiatan tracer study untuk dilembagakan di institusi, namun kegiatan tersebut gagal dikarenakan permasalahan teknis dalam alokasi pendanaan. I-MHERE juga memperkenalkan skema beasiswa untuk siswa yang kurang mampu, dan prosesnya dilakukan pada tingkat SMA, bukan pada calon mahasiswa yang telah mendaftar perguruan tinggi. Potensi skema ini kemudian menjadi masukan bagi pengembangan beasiswa Bidik Misi yang telah diimplementasikan oleh Dikti secara nasional. Namun, masih diperlukan penguatan kapasitas institusi dalam proses seleksi skema beasiswa baru tersebut.