Konsep Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development) dan pembangunan berwawasan lingkungan sebagai tujuan dalam pengelolaan lingkungan hidup menunjukan kedua konsep tersebut merupakan bagian dari konsep pengelolaan lingkungan hidup107. Ada 6 (enam) instrumen hukum administrasi lingkungan yang dapat digunakan dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan hidup berbasis Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development) yaitu108 :
a. Baku mutu lingkungan;
b. Mekanisme perizinan pengelolaan lingkungan hidup;
c. Analisis mengenai dampak lingkungan;
d. Audit lingkungan dalam pengelolaan lingkungan hidup;
e. Penegakan sanksi administrasi dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Menurut Berg menguraikan tentang penegakan hukum adminstrasi, adalah meliputi Pengawasan dan Penerapan sanksi109. Pembangunan Berkelanjutan mensyaratkan keseimbangan ekologi seperti menurut pendapat Johan Galtung yang mengemukakan bahwa pembangunan berkelanjutan (sustainable development) sebagai peoses memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan mempertahankan keseimbangan ekologis (the proces of meeting basic
105Muhammad Erwin, Hukum Lingkungan dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, Cetakan ke 2, Refika Aditama, Bandung, 2009, hlm. 151-152.
106Abdullah Marlang dan Rina Maryana, Hukum Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Mitra Wacana Media, Jakarta, 2015, hlm. 147-161.
107I Made Arya Utama, Hukum Lingkungan : Sistem Hukum Perijinan Berwawasan Lingkungan untuk Pembangunan Berkelanjutan, Pustaka Sutra, Bandung, 2007, hlm. 57.
108Sukanda Husien, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm.
93.
109Supriadi, Hukum Lingkungan di Indonesia, Sebuah Pengantar, Sinar Grafika , Jakarta, 2006, hlm. 273.
commit to user
human need while maintaining ecological balance)110. Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Pelaksanaan di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya. Konsep Pembangunan Berkelanjutan merupakan sintesa antara konsep ecocentris dan anthrocentris yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan berdasarkan pada fokus pendalamannya111. Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam pemahaman dan implementasinya berkembang berdasarkan kepentingan masing-masing pihak112. Terdapat 3 (tiga) pilar dalam Konsep Pembangunan Berkelanjutan yang disepakati oleh pihak-pihak yang berkepentingan yaitu, arti penting konservasi lingkungan, pertumbuhan ekonomi dan tata kehidupan sosial politik113. Generasi saat ini harus mewariskan kondisi yang baik untuk generasi masa depan, secara baik kondisi material seperti sumberdaya alam, teknologi serta kondisi institusional seperti tata hukum, sistem pendidikan dan mekanisme politik, ekonomi dan lainnya114.
Konsep Pembangunan Perkelanjutan (sustainable development) yaitu terdiri dari 5 (lima) prinsip utama115 yaitu
a. prinsip keadilan antar generasi (inter generation equity);
b. prinsip keadilan dalam satu generasi (intra generation equity) ; c. prinsip pencegahan dini (precautionary);
110Mukhlis dan Mustafa Lutfi. Hukum Adminisrasi Lingkungan Konteporer. Malang : Penerbit Setara Press, 2010, hlm.265.
111 Mukhlis dan Mustafa Lutfi, Ibid, hlm.263.
112 Jennifer A. Elliot, 2013, An Introduction to Sustainable Development, Fourth Edition, London-New Yorl, Routledge, 2013, hlm. 58.
113 Jeffrey D. Sachs, 2015, The Age of Sustainable Development, New York, Chichester, West Sussex : Columbia University Press, 2015, hlm.8.
114 Partha Dasgupta. 2007. The idea of sustainable development. Sustainability Science, 2 (1), 5–11
115FX Adji Samekto, Kapitalisme, Modernisasi, dan Kerusakan Lingkungan, Genta Press, Yogyakarta, 2008, hlm 101-103.
commit to user
d. prinsip perlindungan keaneragaman hayati (conservation of biological diversity);
e. prinsip internalisasi biaya lingkungan.
Pembangunan nasional mulai dari perencanaan harus komprehensif melibatkan semua unsur yang berkaitan dan terutama adalah perencanaan harus dikaitkan secara tegas dengan tata ruang116. Pembagunan Berkelanjutan terus alih bentuk menjadi Millinium Development Goals yang dideklarasikan pada September 2000 yang berisi 8 target yang terpecah menjadi 18 monitoring dan 48 indikator keberhasilan117. Tolak ukur Pembangunan Berkelanjutan secara sederhana menurut Otto Soemarwotto terdiri dari 6 (enam)118 yaitu antara lain :
a. Pro lingkungan hidup ; b. Pro rakyat miskin;
c. Pro kesetaraan jender;
d. Pro penciptaan lapangan kerja;
e. Pro dengan bentuk NKRI; dan
f. Harus anti korupsi, kolusi dan nepotisme.
Konsep Pembangunan Berkelanjutan terus alih bentuk yang semula terdiri dari 5 (lima) prinsip utama kemudian menjadi 17 (tujuh belas) Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals)119yang terdiri dari :
a) Tujuan 1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun;
b) Tujuan 2. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan;
116Supriadi, Hukum Kehutanan dan Hukum Perkebunan di Indonesia, Sinar Grafika , Jakarta, 2010, hlm 75.
117Wiliam Twining, General Yurisprudence, Understanding Law from a Global Prespective : Is Law Important? Law and The Millinium Development Goals, Cambridge University Press, 2009, halaman 348-349.
118 Badan Penelitian dan Pengebangan Kementerian Hukum dan HAM RI, dkk, Aplikasi Analisis Dampak HAM Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Selatan, PT.
Alumni, Bandung, 2013, hlm. 9.
119Report of the Inter-Agency and Expert Group on Sustainable Development Goal Indicators (E/CN.3/2016/2/Rev.1), Annex IV.
commit to user
c) Tujuan 3. Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia;
d) Tujuan 4. Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua;
e) Tujuan 5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan;
f) Tujuan 6. Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua;
g) Tujuan 7. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua;
h) Tujuan 8. Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua;
i) Tujuan 9. Membangun infrastruktur yang tangguh, mendukung industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dan membantu perkembangan inovasi
j) Tujuan 10. Mengurangi ketimpangan didalam dan antar negara;
k) Tujuan 11. Membangun kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan;
l) Tujuan 12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan;
m) Tujuan 13. Mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya;
n) Tujuan 14. Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya laut, samudra dan maritim untuk pembangunan yang berkelanjutan;
o) Tujuan 15. Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati ;
commit to user
p) Tujuan 16. Mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level;
q) Tujuan 17. Menguatkan ukuran implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Tujuan pembanguan berkelanjutan yang penulis gunakan adalah tujuan yang ke 6 (enam) yaitu Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua. Sehingga tujuan ini sebagai batasan penulis terkait pembahasan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).
Tujuan 6. Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua120.
a. 6.1 Pada tahun 2030, mencapai akses universal dan adil terhadap air minum yang aman dan terjangkau untuk semua
b. 6.2 Pada tahun 2030, mencapai akses terhadap sanitasi dan kebersihan yang layak dan adil untuk semua dan mengakhiri buang air di tempat terbuka, dengan memberikan perhatian khusus pada kebutuhan perempuan dan anak perempuan serta mereka yang berada dalam situasi rentan
c. 6.3 Pada tahun 2030, memperbaiki kualitas air dengan mengurangi polusi, menghapuskanpembuangan limbah dan meminimalisir pembuangan bahan kimia dan materi berbahaya, mengurangi separuh dari proporsi air limbah yang tidak diolah dan secara substansial meningkatkan daur ulang dan penggunaan ulang yang aman secara global
d. 6.4 Pada tahun 2030, secara substantif meningkatkan penggunaan air secara efisien di semua sektor dan memastikan pengambilan dan suplai air bersih yang berkelanjutan untuk mengatasi kelangkaan air dan secara substansial mengurangi jumlah orang yang mengalami kelangkaan air
120 International NGO Forum an Indonesain Development, Dokumen Hasil Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Outcome Document Transforming Our World : The 2030 Agenda For Sustainable Development), Jakarta, International NGO Forum an Indonesain Development, 2015, hlm. 18.
commit to user
e. 6.5 Pada tahun 2030, mengimplementasikan pengelolaan sumber air yang terintegrasi (IWRM) pada setiap level, termasuk melalui kerjasama antarbatas selayaknya
f. 6.6 Pada tahun 2030, melindungi dan memperbaiki ekosistemterkait air, termasuk pegunungan, hutan, rawa, sungai, resapan air dan danau
g. 6.a Pada tahun 2030, memperbanyak kerjasama internasional dan dukungan pengembangan kapasitas kepada negara-negara berkembang dalam aktivitas dan program terkait air dan sanitasi, termasuk water harvesting, desalinasi, efisiensi air, pengolahan air limbah, teknologi daur ulang dan penggunaan ulang
h. 6.b Mendukung dan menguuatkan partisipasi masyarakat lokal dalam memperbaiki pengelolaan air dan sanitasi
Konsep Pembagunan Berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia bukanlah yang baru melainkan sudah ada sejak zaman dahulu seperti masyarakat Sunda mempunyai konsep lain kumaha engke, tapi engke kumaha artinya bukan bagaimana nanti, tapi nanti bagaimana. Konsep ini memikirkan saat ini dan masa yang akan datang, ada juga konsep Tri Hita Karana dari masyarakat Bali serta masih banyak kosep-konsep yang serupa di berbagai masyarakat Baduy, Kampung Naga, Kampung Kuta, Talang Mamak dan masyarakat yang lainnya121. Pembangunan Berkelanjutan harus mempunyai fungsi sebagai sarana menjaga persatuan dan kesatuan nasional dalam rangka menjaga stabilitas nasional, maka menurut Oekan S. Abdoellah supaya Pembangunan Berkelanjutan berjalan di Indonesia122 yaitu :
1. Mengarusutamakan (mainstraming) pembangunan berkelanjutan, perlu komitmen politik dari seluruh pemangku kepentingan dalam penerapan pembangunan berkelanjutan;
2. Pembentukan Dewan Pembangunan Berkelanjutan sebagai lembaga yang bertugas untuk memetakan, merencanakan, membantu proses
121 Oto Soemarwoto, Pembangunan Berkelanjutan : antara Konsep dan Realita. Bandung.
Departemen Pendidikan Nasional- Universitas Padjadjaran, 2006, hlm.34-36.
122 Oekan S. Abdoellah, 2016, Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia : Di Persimpangan Jalan, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2016, hlm. 192-194.
commit to user
pelaksanaan, memantau dan mengevaluasi capaian tujuan pembangunan berkelanjutan secara terukur dan terstruktur;
3. Peningkatan pengawasan dan kontrol terhadap jalannya roda pemerintah terkait program-program pembangunan yang menjadi agenda pemerintah, serta melibatkan semua komponen masyarakat;
4. Penerapan model pembangunan berkelanjutan membutuhkan sinergi antarpemangku kepentingan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan;
5. Mengarusutamakan pembangunan berkelanjutan, Kementerian Lingkuagan Lidup dan Kehuatanan diharapkan dapat mengintegrasikan pentingnya aspek lingkungan dalam pembangunan.
Pembangunan berkelanjutan dapat berarti bekerja untuk meningkatkan daya produktif manusia tanpa merusak atau merusak masyarakat atau lingkungan, yaitu ; peningkatan sosial-ekonomi progresif tanpa tumbuh melampaui daya dukung ekologis: mencapai kesejahteraan manusia tanpa melebihi kapasitas Bumi untuk regenerasi sumber daya alam dan penyerapan limbah, model konseptual pembangunan berkelanjutan yang menggambarkan hubungan keseimbangan antara masalah ekonomi, ekologi, dan sosial yang menjadi perhatian dalam pengambilan keputusan123.
Gb.05 : Sustainability Model (RW. Flint, 2004)